Cumbu Sigil

Amiruddin, Kafka Itu Orang Cina!

Sebuah Catatan

2003

Aku baru saja selesai membaca cerpen Kafka “A Message from the Emperor” atau “Pesan Dari Sang Kaisar” yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia di koran Kompas. Penerjemah adalah kawan lamaku Amiruddin, seorang penulis dan penerjemah lepas asal Makassar. Ia mengirim SMS kepadaku pagi tadi, memintaku untuk membaca hasil terjemahannya di koran hari ini. Dia tahu aku pembaca koran. Yang tidak dia ketahui adalah aku tidak pernah membaca rubrik sastra di koran, dan aku sudah berhenti berlangganan koran sekitar dua bulan lalu. Aku harus membelinya lebih dulu di kios dekat Jl. Kemuning, sekitar tiga ratus meter dari tempat tinggalku, dan itu bukan pekerjaan mudah. Apa aku harus berusaha sejauh itu untuk sastra?

Terjemahan Amiruddin biasa saja. Atau luar biasa bagi yang lain. Dan aku yakin dia pun setuju. Dia tahu apa yang kusukai dan tidak kusukai. Barangkali itu alasannya mengapa dia memaksaku untuk membaca terjemahannya: Untuk membantu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memang adanya seorang penerjemah medioker dan seharusnya berhenti saja mencoba jadi penerjemah dan lebih baik kembali menjual es kelapa. Dia hanya perlu mendengarnya dari mulut kotorku sendiri, karena tidak ada orang di sekitarnya yang berani mengutarakan hal itu kepadanya. Kawan-kawanku sering melakukannya, memperlakukanku seperti mikro-organisme berbahaya, virus atau parasit, yang dalam paparan tertentu justru bisa membangun imun mereka. Implikasinya sebenarnya ada dua, antara mereka yang merasa disakiti, atau malah menjadi kebal dengan kenegatifanku. Mereka dengan penuh kesadaran menggunakanku untuk kepentingan mereka sendiri. Bajingan.

Tapi itu tidak penting. Yang lebih penting dari (minimnya) kualitas terjemahan Amiruddin menurutku adalah ia memilih cerpen Kafka ini, ketimbang yang lain—cerpen Kafka tentang Cina.

Kafka memang kuketahui selalu memiliki ketertarikan dengan budaya Cina. Ia penganut (atau setidaknya tertarik dengan) Taoisme, dan bahkan cerpen lainnya “The Great Wall of China”—”A Message from the Emperor” merupakan parabel dari cerpen tersebut—menceritakan tentang hubungan masyarakat Cina dan masa lalu mereka, dan kehadiran sosok Kaisar yang omnipoten dan tak terbantahkan.

Bagi banyak pembaca Kafka, “A Message from the Emperor” sekilas akan mengingatkan pada The Castle, tapi diringkas menjadi suatu parabel yang penuh teka-teki. Pesan dari seorang Kaisar yang sekarat, yang tidak pernah sampai, melalui seorang pembawa pesan yang tersesat dan terjebak di lipatan istana yang tak terbatas… Tipikal Kafka. Blanchot, mungkin, di Aminadab. Bahkan ada analogi yang serupa di The Castle, ketika K. membacakan secara lisan sebuah pesan kepada Barnabas yang akan disampaikan ke kastil.

Bagi Walter Benjamin, Kafka adalah seorang penulis yang berpengalaman dan ahli dalam “seni menghilang” ini, bagaimana [Kafka] selalu menempatkan dirinya dalam pusat ceritanya, hanya untuk menghilang dan tereduksi ke jantung banalitas. Aku sepakat dengannya. Kurang lebih serupa dengan tradisi cerita rakyat Cina, tentang seorang pelukis Wu Daozi yang hilang ke dalam lukisannya sendiri.

Ini kesan yang kulihat sama sekali luput dari terjemahan Amiruddin: Bagaimana sang pembawa pesan seharusnya “menghilang”, bukan “terlambat”. Dalam terjemahan Amiruddin, aku tak mendapat kesan bahwa Kafka adalah seorang sinofil yang ahli dalam seni menghilang. Aku tak mendapat kesan seorang Kafka yang meledak-ledak dalam ekstasi ketika membaca Chuang Tzu atau kisah-kisah hantu Cina, atau seorang Kafka yang curhat dalam suratnya kepada Felice Bauer dan berkata: “Aku orang Cina!”


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).