#title “Dunia Ini Luas, Nak!” #subtitle Sebuah Catatan #author Cumbu Sigil #LISTtitle D #date 1997 #source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2025/12/19/dunia-ini-luas-nak-1997/][Arsip Catatan Muslihat]] #lang id #pubdate 2026-10-31T04:56:35 #authors Cumbu Sigil #publication Arsip Catatan Muslihat #publicationdate 1997 #topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia #language Indonesia #notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive). Aku pernah melihat Sutanjaya—yang asli, berdaging, bernafas—di dunia nyata. Penulis cerdas dan brutal yang kukagumi karena kegigihannya untuk terus menghindari sorotan, sekaligus kubenci karena alasan tersebut. Itu sekitar pertengahan tahun 1990, tahun ketika ia baru saja menerbitkan buku terbarunya Spesies Ambruk (yang tentu saja, brilian!). Aku sudah melihat foto dirinya di majalah-majalah sastra yang kulahap dulu: kepalanya yang besar dan gempal dengan kopyah hitam dan janggut panjang kemerahan yang ia biarkan tumbuh seperti lahar dari mulut gunung berapi. Tapi hari itu, di sebuah toko buku di sekitaran alun-alun Lor Surakarta, aku melihat ia datang untuk peluncuran buku N. H. Dini, lalu melakukan hal-hal ganjil yang, demi sopan santun “intelektual” tak akan kuurai sekarang. Yang jelas, untuk beberapa waktu aku terpaku menatapnya—terpesona dengan postur besar dan kekhusyukannya yang nyaris religius—sampai pada satu titik, wajah kami terpisah hanya oleh jarak sejengkal. Sutanjaya menyadari kejanggalan itu—aku, orang asing yang berdiri dekat dengannya dan nyaris menggesek janggut laharnya. Ia lalu bereaksi dengan komentar lantang, semacam teguran elegan agar mukaku tahu diri dan minggir: “Dunia ini luas, Nak!"