#title Edukasi Seni
#subtitle Sebuah Catatan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle E
#date 1998
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2013/04/05/edukasi-seni-1998/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T03:37:54
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1998
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Saat itu adalah masa dimana aku mulai belajar untuk terbiasa berpelukan. Bagi sebagian besar orang Asia—tidak seperti orang Barat—tata krama berpelukan bukanlah hal yang didapat dengan sendirinya. Sekumpulan polisi memasuki pintu bar bak gangster. Lucunya, dua orang yang duduk disampingku, salah satunya adalah seorang gangster yang gemar berbicara soal bisnis; yang satunya, adalah seorang pebisnis, yang juga adalah seorang guru; guru, yang juga adalah lintah darat. Semuanya jika diperhatikan secara seksama, terlihat mencoba untuk menjadi hal lain selain dirinya.
Setiap inci dari kota ini telah berkembang pesat. Tetapi lain hal nya dengan perkembangan otak para penduduknya, yang terefleksikan melalui raut wajah-wajah pucat dan ekspresi hampa. Ditambah lagi, jumlah kaum-kaum buruh pun semakin berkurang akibat kepercayaan palsu bahwa mereka telah bertransformasi menjadi kaum ‘kelas menengah’ pemilik properti, dan mulai membeli lukisan-lukisan buruk untuk mengisi dinding-dinding kosong di rumah mereka.
Saat itu adalah saat dimana aku mulai belajar untuk berhubungan seks. Di suatu pagi, seorang kawan pernah menggambarkanku dimana posisi klitoris di atas whiteboard besar di dalam studio. Hanya kemudian, aku mengetahui bahwa posisi yang ia berikan salah. Dan aku mengetahui hal ini di atas ranjang—bukan dalam gambar.
Sang polisi berbicara denganku dengan vigor seperti seorang berandalan; sang gangster bercerita bahwa ia sedang menjalani reli politik; sang politikus adalah seorang pebisnis; tetapi sang guru, tetaplah lintah darat: neo-liberal.
Sekarang, aku menjual beberapa gambar hasil karyaku yang kubuat di sela-sela waktuku beberapa tahun belakangan ini, seharga satu cheeseburger di McDonald. Sekarang, aku dibayar oleh pihak sekolah dengan upah yang sama seperti seorang penjaga bar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti: mengapa lukisan bunga matahari Van Gogh begitu penting? Mengapa kita harus menggunakan rule of thirds dalam teknik komposisi? Mengapa membaca manifesto para modernis penting bagi praktik seni ku?
Andai saja ada orang yang bersedia untuk menembakku tepat di kepala dan mengakhiri semuanya. Atau jika berkenan, menembak anak-anak yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Lembaga perguruan tinggi itu seperti tempat penitipan anak-anak tua yang bosan dan rewel, yang harus terus menerus di manjai oleh event-event dan kegiatan non-kurikuler yang menyenangkan, agar mereka tak perlu lagi memikirkan mengapa Van Gogh penting bagi sebagian banyak orang. Guru-gurunya tidak kalah menjengkelkan, mereka lebih menyerupai seorang salesman yang kerap kali menjual peralatan dan buku-buku dengan ‘diskon’ bagi siswanya.
Malamnya, aku mengunjungi lounge musik dan segera mengembalikan uang-uang yang kuterima dari upahku bekerja ke para wanita penjaga bar, yang belakangan baru kuketahui berasal dari negara yang melanggar aturan Kongres Negara Ketiga.