Cumbu Sigil

Ekspos

Sebuah Catatan

1997

Seseorang pernah berkata kepadaku: “Karya seni dan sastra pada umumnya selalu menekankan keseimbangan pada apa yang terang dan gelap. Setengah-setengah.” Aku tidak sepenuhnya setuju karena bagiku pernyataan tersebut mengandung begitu banyak kesalahan. Terlalu asumtif bahkan. Karya seni dan sastra tidaklah selalu berusaha untuk menekankan dan menyeimbangkan kedua hal tersebut. Banyak dari penulis-penulis petit-borjuis di Amerika dan Eropa sana yang hampir tidak pernah menemukan sisi terang dalam karya-karyanya. Karya mereka biasanya hanya mengekspos sisi-sisi gelap, atau jika menggunakan istilah yang mereka, orang Barat gunakan “literature of exposure“. Mereka bisa kubilang adalah para spesialis (atau lebih tepatnya saboteur) dalam menyebarkan rasa pesimisme dan rasa lelah terhadap dunia. Berbeda hal nya dengan karya-karya sastra Uni Soviet pada periode konstruksi Sosialis yang secara garis besar memotretkan begitu banyak harapan atas masa depan. Meski memang tetap ada karakter-karakter negatif dalam karya-karya mereka, tetapi karakter-karakter tersebut tidak lebih dari hanya sebagai kontras atas gambaran terang yang jauh lebih besar, bukan dalam basis ‘setengah-setengah’ seperti apa yang diungkapkan oleh seseorang. Hanya seniman dan penulis revolusioner yang sesungguhnya lah yang dapat menyelesaikan masalah antara apakah harus mengglorifikasi (menciptakan sebuah harapan) atau mengekspos (dengan membuka aib kehidupan). Segala aib kehidupan yang mencemari masyarakat haruslah di ekspos, dan perjuangan revolusioner yang menyangkut masyarakat haruslah di glorifikasi; inilah tugas fundamental dari para seniman dan penulis revolusioner.

“Tugas dari karya seni dan sastra adalah selalu untuk mengekspos.” Pernyataan ini, seperti pernyataan sebelumnya, timbul dari ketidak acuhan terhadap ilmu sejarah. Seni dan sastra, seperti apa yang telah kuungkapkan, tidaklah semata-mata bertujuan untuk mengekspos. Bagi para seniman dan penulis revolusioner, target dari ekspos bukanlah masyarakat itu sendiri melainkan para agresor, eksploitor, dan para opresor yang mencemari atau dalam kasus terburuk menginfluens mental masyarakat. Masyarakat pun, tidak dapat dipungkiri, mempunyai sisi negatifnya tersendiri, dan hal tersebut haruslah segera ditanggulangi dengan kritisisme-diri, kesadaran diri dari masing-masing anggota masyarakat, dan kritisisme tersebut juga adalah merupakan satu dari tugas-tugas fundamental para seniman dan penulis revolusioner.

Hanya seniman dan penulis kontra-revolusioner lah yang dapat dengan bodohnya mencap masyarakat “terlahir bodoh” dan mencap masyarakat yang mempunyai jiwa revolusioner sebagai “tiran”.


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).