Beberapa hari yang lalu, aku membaca berita di salah satu kolom surat kabar bahwa sejarawan Seni Cina asal Inggris, Michael Sullivan, berkunjung ke Singapura dalam rangka konferensi pameran internasional seni Cina kontemporer. Dalam konferensi itu, ia berkata bahwa ia dengan sengaja menggunakan kata “Peking” (ejaan lama) alih-alih Beijing dalam teks introduksi, karena katanya, itu lebih sesuai dengan bagaimana orang Inggris (atau orang-orang Barat pada umumnya) biasa menyebutnya; seperti bagaimana London menjadi Lun Dun dalam bahasa Mandarin, dan Ang Lee (sutradara film) menjadi Lee Ang di Barat.
Kalau ia bersikeras seperti itu, maka aku rasa, lebih adil apabila ia memperkenalkan dirinya sebagai Sullivan Michael, Villusan Alcheim, atau Navillus Leachim. Mengapa harus kita (orang Asia) yang terus menerus mengikuti maunya? Si tua bangka itu.