Hidup itu memang lucu. Kadang kita cuma sehelai nafas dari “menjadi manusia sungguhan,” tapi nafas itu keburu tersangkut di tenggorokan.
Aku lihat sendiri, bagaimana mereka, para kuli batu bata yang dipekerjakan oleh si “majikan gila” untuk proyek absurd yang tak jelas tujuannya, dibayar dengan kemurahan hati yang malah bikin curiga.
Sekilas, apa yang mereka lakukan terlihat seperti melampaui rutinitas, seperti hampir menyentuh sesuatu yang agung, kerja yang bukan sekadar kerja, tapi semacam kesadaran antropologis tentang diri mereka sendiri. Tapi ya, seperti biasa, “hampir” itu berhenti di situ-situ saja. Menggantung di udara, seperti asap dupa di kuburan Cina Menteng Pulo yang tercium sampai Pal Batu. Ada, tapi tak pernah kelihatan bentuknya. Lalu mereka kembali mengaduk semen, mengangkat batu-batu bata, menyusun dinding, tetap dalam ritme yang sama. Hanya saja kini, entah kenapa, mereka jadi semacam “antropolog” dalam hidupnya sendiri.
Dan aku, di antara mereka, menatap tangan yang kapalan sambil tertawa kecil: rupanya jadi manusia itu pekerjaan yang tak pernah selesai, selalu “nyaris,” selalu di tepi.