#title Pati
#subtitle Sebuah Catatan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle P
#date 2002
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2013/06/15/pati-2002/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T03:43:25
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 2002
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Kota ini bisa diibaratkan seperti koin seratus rupiah yang kulihat tenggelam di dasar selokan jernih, yang memantulkan cahaya dari sinar mentari sore. Sama sekali tidak merepresentasikan apa-apa, kecuali hanya sebagai penanda atas sesuatu yang telah lama hilang, tenggelam dan terlupakan. Dan dalam kaitannya dengan obyek sebagai karya seni, onggokan perak tersebut telah dirubah sedemikian rupa dengan ukiran-ukiran, menjadi koin: obyek indah yang mengatur pertukaran kekayaan (komoditi).
Aku teringat akan paragraf di dalam buku karya Claude Levi-Strauss yang baru saja sekilas kubaca, tentang karya seni sebagai miniatur. Realitas selalu bergerak menuju skala yang sebenarnya, yang faktual, saat seni justru bergerak menuju skala miniatur. Seni adalah merupakan bentuk sintetis dari semesta, mikrokosmos yang terus mereproduksi hal-hal spesifik dalam ruang lingkup realitas yang telah ada. Koin adalah model miniatur dari keseluruhan ekonomi, dan kota ini, adalah miniatur dari keseluruhan peradaban, yang sewaktu-waktu, seperti apa yang telah kubilang tadi, hanya melambangkan sesuatu yang telah lama hilang.