Matahari menggantung rendah, menyepuh perkebunan yang tampak seperti lautan hijau. Udara terasa berat oleh aroma tanah basah dan sisa hujan. Di sampingku, Asep Awaluddin, seorang pemandu muda dengan jangkar budayanya sendiri, duduk tak bergerak di bangku bambu besar. Ia tampak seperti patung perunggu yang menyatu dengan lantai kusam beranda rumah warga.
Di halaman depan, Peter Scholten, seorang pria kulit putih Eropa dengan kemeja yang basah oleh keringat, berdiri memegang tumpukan kertas. Wajahnya kemerahan, nafasnya pendek terengah-engah, tidak sabaran. Dengan Bahasa Indonesia pecah belah, Peter menyuruh Asep untuk segera menunjukkan jalan ke lereng, sekitar satu jam perjalanan dari desa ini.
Asep terlihat tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke cakrawala di depannya, seolah sedang menghitung detak jantung alam. Aku mengamati kontur wajahnya dari samping, yang menyerupai topografi alam itu sendiri. Asap rokok kretek terus mengepul dari lubang hidungnya, menciptakan lebih banyak jarak dari sebelumnya. Aku meringis lucu melihat tingkahnya. Barangkali baginya, keputusan untuk sekadar beranjak dari diam merupakan pergulatan batin yang berat, sebuah kerumitan yang sering kali gagal dipahami, terutama dari sudut pandang orang kulit putih seperti Peter yang serba ajeg, sejarawan pun menurut dirinya.
Asep memiliki fisik yang terbilang kokoh, tidak oglek sepertiku. Kurasa ia cukup tangguh dan terampil melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar seperti berkebun, memecah batu, atau bahkan adu jotos dengan Peter, bila ia mau. Berjalan mendaki lereng selama satu jam kuyakin bukan pekerjaan berat baginya. Tapi ia tetap menolak untuk bergerak, di luar dari ritmenya. Konsep “bekerja” (versi Peter) dianggapnya cuma membawa kelelahan tanpa hasil nyata, kegelisahan, dan kesemuan.
Di tengah-tengah ekspedisi, Asep sempat mempertanyakan kehadiran Peter kepadaku, seorang peneliti orientalis kulit putih, yang terus menerus memerintahnya sejak awal ekspedisi. Ia lantas membeberkan padaku tentang filosofi leluhurnya, bahwa hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan bekerja keras demi hal yang tidak bermakna; baginya, memilih untuk tidak melakukan apa pun bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah cara bersahaja untuk benar-benar menghargai dan menyatu dengan keberadaan di sekelilingnya. Dengan alam.
Aku lantas bertanya kepadanya, mengapa ia memilih profesi ini, yang mengharuskan dirinya bekerja untuk orang lain, untuk peneliti, untuk turis! Dengan segenap hati, ia berkata: “Saya cuma minjamin kaki untuk nuntun mereka yang buta akan tanah ini, supaya dapat upah, yang nanti bisa saya pake’ untuk beli kedamaian saya sendiri.“
Di titik itu, aku memihak dirinya.