#title Poin
#subtitle Sebuah Catatan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle P
#date 1998
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2012/12/13/poin-1998/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T02:40:01
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1998
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
1. Di dalam bis kota, lebih dari jam dua belas malam, aku melewati sebuah tempat parkir kosong di sebelah kios (sebenarnya, tidak kosong betul, aku masih melihat ada satu truk putih parkir di bagian pojok).
2. Warna kuning temaram dari lampu jalan, dibingkai oleh pohon rindang gelap yang mengelilingi pelataran parkir yang berbentuk persegi panjang, pemandangan yang sunyi dan tenang. Tetapi aku, satu-satunya penumpang di dalam bis kota yang melaju lamban ini, justru tidak bisa tenang—membentuk sebuah imej yang terus bergerak, tanpa harus benar-benar menggerakkannya.
3. Aku berpikir tentang hal apa yang selalu kuingat, setiap kali aku melihat pelataran parkir kosong di malam hari, apa yang ia katakan beberapa tahun lalu, ketika sebuah grup band, dari Seattle Amerika Serikat, datang ke kota ini untuk mempromosikan albumnya, tetapi lalu gagal untuk tampil, “Give me an empty car park, and I will play you a gig!”.
4. Truk putih itu adalah truk boks, dengan pintu kedap udara di belakangnya—sangat bagus untuk berbagai macam keperluan transportasi: batu-batu es, makanan-makanan beku, cucian, atau bahkan karya-karya seni. Mungkin, truk dengan model yang sama seperti truk yang menabrak, dan yang pada akhirnya membunuh Roland Barthes, sang teoritikus dari Perancis yang sejujurnya, hanya separuh kumengerti.
5. Aku berpikir tentang perasaan canggung yang kerap dihadapi oleh seseorang yang ringan mulut seperti diriku, atau para pelukis buta warna yang kini dianggap unik di sekolah-sekolah seni. Aku berpikir tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang pria yang tidak terlalu terpelajar, yang memutuskan untuk menulis tentang apa yang ia terlalu malu—atau terlalu sulit—untuk katakan.
6. Masalah. Masalah. Andai saja, berkata ‘penderitaan’ adalah merupakan sesuatu hal yang terlalu dilebih-lebihkan. Menghabiskan dua jam untuk menulis satu paragraf adalah sebuah masalah, bukan penderitaan.
7. Atau ketika ia disuruh untuk menuliskannya saja, daripada membicarakannya, karena anaknya berkata bahwa ia terlampau bertele-tele ketika berbicara.
8. Aku menemukan bahwa kenyamanan dalam keheningan itu adalah hal yang mencurigakan, ketimbang hal yang bajik.