Cumbu Sigil

Problem in Capita

Manuskrip Puisi

1998

        Kita Bisa Mati

        Adegan, 4

        Di Pintu Teater

        Ke Warung Bu Fitri

        Sebuah Rest Area

        Aku Rasa Sudah Cukup

        Adegan, 7

        Sejarah Api

        Cita-Cita Kematian

        Problem in Capita

        Requim Terlarang

        Kesaksian Hitam

        Rumah Sakit Tjipto

        Balas SuratKu, Harina

        Adegan, 9

        Buat A

        Flaneur

        Bersama Kawan

        Surat untuk Pak Harto

        Adegan, 1

        Dalam Pengasingan

        Adegan, 5

        Solilokui

        Morfinis

        Di Tanah Usiran

        Diagnosa

        Fragmen

      Tentang Penyair

Kita Bisa Mati

Lindas aku dengan tank
kompi-kompi baja
yang meraung
tak kenal manusia.

Jika semua nalar
bikin musnah,
untuk apa kita harus
percaya tentara?

Kubilang pada Bapak,
aku tidak pulang.
Jangan cari, jangan tunggu
negara tak memberi apa-apa.

Kita dibuat lupa
belum sampai mengerti
kenapa di sekolah
wajib hapal Pancasila.

Dan sebaik-baiknya lupa
adalah tak berusaha
mengingat.
Sebab, kita bisa mati
kapan saja, di mana saja.

Adegan, 4

Nyalakan api sedekat wajah,
hisap lagi rokokmu dalam-dalam.
Lempar puntungnya ke tengah jalan.

Bicara padaku sekarang,
sebelum pagi tambah gerah.
Waktu sedikit, tidak
pernah banyak.

Karena aku mesti berkemas
langsung minggat dari sini.
Biar tak seorang pun gelisah,
tak kuharap kau merana.

Di Pintu Teater

Kudengar suara teriakan
di atas panggung

tak lebih seram
dibanding kenyataan.

Kututup pintu teater ini
dengan segala kemunafikan

yang bisa kaupinjam juga
dari orang-orang.

Ke Warung Bu Fitri

Utangku lagi kena tunggak.
Setiap hari malu
jadi orang tak punya.

Aku tidak seberapa,
sejak lama pun meminta
kepada sesama.

Kalau gelandangan
tiada kehitung jumlahnya,
tak kujamin Bu Fitri bahagia.

Sebuah Rest Area

Suasananya gelap.
Ini bis malam, katamu.
Kau bisa mampus,
pabila turun ke luar.

Panasnya diesel
membakarlah kulit,
di kolong bangku
kita sembunyi.

Tahan kencingmu.
Cengeng bukan di sini
tempatnya.

Aku Rasa Sudah Cukup

Tidak usah berpanjang lebar,
kita lahir dan tumbuh
di dekat kiamat.

Orang tua kita
modalnya cuma napsu,
bukan cinta.

Apa yang berhak
kita beri harap
selain mati-dilupakan?

Adegan, 7

Hampir lompat aku
dari jembatan
selagi kereta lewat
di Jatinegara.

Aku mau jadi kerikil
tanpa nama
di rel yang pesing
tak ada yang ziarah

Sejarah Api

Teguk botolmu,
habis isinya
jadikan molotov.

Cita-Cita Kematian

Angkut mayatku ke sebuah bukit
baringkan sepuluh depa
di bawahnya.

Atau bakar sekujur badan,
tiup abunya ke lembah-lembah.
Aku tak butuh nisan.

Problem in Capita

Yang terampas dariku
bukan kewarasan.

Aku sudah lama gila
tidak peduli orang-orang.

Karena seribu baris puisi
seribu rayuan mati,

telah kutelan bulat-bulat
di neraka para iblis.

Requim Terlarang

Apa yang semestinya
tidak aku tulis di sini:
sebuah requim.

Maut punya riwayat
milyaran tahun cahaya.
Aku tak tahu kenapa.

Aku tak tahu kenapa
bumi tercipta, dan kita
hidup buat percuma.

Kesaksian Hitam

Di Klender,
asap tinggi berkobar.
Kusaksikan semua
hangus menghitam.

Orang-orang histeris.
Mereka tumpah
berlari kuyup masuk gang.

Banyak perabot berserakan,
sandal jepit hilang pemiliknya
dan kemacetan.

Mereka terima kiamat
sebuah negara
yang disiram blanwir
tak padam.

Rumah Sakit Tjipto

Dengan infus diselang,
aku sekarat. Ini ruang nyaris senyap.
Bunyi air menetes dari kran
yang kudengar.

Tak ada yang kukabari
bahwa aku di sini sedari petang.
Padahal semalam
kami asyik teler di kontrakan.

Bonang,
andai aku mampus duluan
kumpulkan tulisanku.
Rumah sakit ini bikin aku
ingat kalian.

Titip salam, buat semua
bajingan yang melawan.

Balas SuratKu, Harina

Fantasi, kita sebut demikian,
muncul di momen
yang menegangkan.

Ketika aku bertanya,
dan kau tak memberi jawab.

Seringnya kita merasa pintar
dan cukup berkata tidak
pada banyak hal.

Kalau saja, kau menangkap
maksudku. Kita mungkin bercinta

Adegan, 9

Aku bayangkan
kau tidur pulas selama-lamanya
persis di sebelahku.

Pikiran semacam itulah
yang kita mimpikan
selama ini di kota biadab.

Lalu aku menyusulmu,
dengan racun, sebutir peluru,
setali gantung, atau segagang palu.

Tidak. Aku tak mampu
membayangkan itu terjadi
padamu.

Buat A

Pada neon diskotek,
aku kembali.

Kutemukan setoleh parasmu di sana,
berpantul antara cermin kusam
dan porselen cina.

Tapi kau tak benar-benar ada.
Hanya kelebat. Seperti denting sloki
pada marmer.

Di meja bar ini,
dalam nois yang menggema
kau sempat bertanya.

Bagaimana jika kita
sekadar berpura-pura?

Flaneur

Waktu gontai, aku berjalan.
Setengah mabuk tanpa pegangan.
Kota ini lautan zombi.
Dan aku salah satu di antaranya.

Bersama Kawan

—Kolektif Multatuli

Pabila nanti kita dirajam tentara,
beri mawar setangkai
kepada mereka.

Betapa harumnya dosa
seanyir darah
dan kita menumpahkannya.

Surat untuk Pak Harto

Aku tulis surat ini
untukmu, Jenderal.

Semoga kau sehat di Cendana.
Semoga kau disiksa di neraka.

Bersamaku pun, tidak apa-apa.

Sekian.

Adegan, 1

Setiap kali puisi ingin dibikin,
aku merasa narsis.

Itulah yang amat kubenci
darimu, juga dariku.

Tolong, jangan panggil aku
penyair. Tidak penting.

Dalam Pengasingan

Naik bis sampai Karawang,
hidupku dalam pelarian.
Sudah kusurati beberapa kawan.
Aku kelana selagi durhaka,
menyamar diri, penista belaka.

Adegan, 5

Begini saja, kita sepakat
untuk tidak bersama.

Kau ke kanan, aku ke kiri.

Selebihnya, kita lihat
omong kosong bekerja.

Solilokui

Apa yang semestinya
tidak kita tulis?

Apa yang semestinya
tidak kita katakan?

Puisi gagal dan kau
sedang membacanya.

Morfinis

Berikan aku
sejarum nyawa
di kepal
tanganmu

pada jam-jam
sakau,
tak satu pun
yang layak

kusembah.

Di Tanah Usiran

Pantas, sudah sepantasnya
kita berseberangan.

Habibie, kau tak sepadan.

Diagnosa

Kata dokter,
aku wajib istirahat.

Tidak boleh aktivitas.

Kecuali makan dan tidur.

Menulis catatan harian,
itu pun yang ringan-ringan.

Puisi dan hasutan
tidak termasuk.

Fragmen

[…]

Hingga pada akhirnya,
kita berpisah.
Dan kata-kata
entah apa gunanya.

Tentang Penyair

Cumbu Sigil (1964–2004) lahir di Jakarta, tempat ia hidup dan bekerja sepanjang hidupnya. Hidup dalam kemelaratan sedari kecil, di rumah susun yang terletak di daerah Petamburan Jakarta Pusat, ia banyak menghabiskan waktunya menemani orangtuanya mengais rezeki agar ia dapat terus melanjutkan sekolah. Ia adalah satu-satunya, dari kelima bersaudara yang berhasil masuk ke Universitas. Lulus dengan gelar Sarjana Sastra di Universitas Indonesia pada tahun 1985, dengan ketertarikan yang menggebu-gebu terhadap dunia seni dan sastra secara general, ia lalu memutuskan untuk bekerja menjadi seorang pengajar di sebuah SMP Negeri yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakannya di Jakarta Selatan. Di sekitaran tahun 1988, ia meninggalkan karirnya sebagai seorang pengajar bahasa, dan lalu beralih menjadi seorang supir taksi. Semua disebabkan oleh penolakannya yang gigih untuk tetap tidak menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia dalam kesehariannya, bahkan untuk keperluan-keperluan administratif sekalipun. “Saya cuma nggak kepingin bahasa Indonesia jadi cemburu, gara-gara saya pakai bahasa lain.” ujarnya dalam salah satu surat balasan korespondensi dengan Elvira Dumas, seorang seniman kontemporer asal Bandung, yang juga merupakan kekasih gelapnya.

Karirnya menjadi supir taksi pun tidak berlangsung lama. Kecelakaan fatal dan tragis yang menimpa dirinya, dan juga menyebabkan dua korban jiwa, meninggalkan fobia dan trauma yang tak akan pernah hilang sepanjang masa hidupnya. Ia menghabiskan sisa hidupnya menjajahi pekerjaan-pekerjaan sampingan sebagai penjaga keamanan gedung-gedung kantor dan pabrik di daerah Sudirman dan Karawang. Dalam periode inilah, saat ia mempunyai banyak sekali waktu senggang, ia menjadi penulis aktif yang prolifik. Pada tahun 2004, dikarenakan depresi, dan obsesinya terhadap Hai Zi dan penyair-penyair menglong lainnya, ia membunuh seorang pemulung naas, sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri di atas rel kereta api, tepat di usianya yang ke 40. Di dalam tasnya ditemukan sekumpulan kertas yang penuh dengan coretan dan tulisan yang tak terbaca, nota-nota belanja, serta buku “The Waves” karya Virginia Woolf, dan kumpulan puisi dari penyair dan penulis asal Peru, César Vallejo



Arsip Komite Hitam Archipelago Anarchist Archive
Diarsipak oleh Komite Hitam, lalu diterbitkan dan didistribusikan ulang oleh Talas Press pada tahun 2023. Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).