#title Puisi dan Jurnalisme
#subtitle Sebuah Catatan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle P
#date 1996
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2013/01/18/puisi-dan-jurnalisme-1996/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T03:02:29
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1996
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Kita menyepelekan dua hal, bukan hanya satu. Ada baiknya aku tidak menyebutnya sebagai sebuah kemajuan, atau pun kemudaratan, seperti ketika ada seorang borjuis kecil yang memutuskan untuk mulai membaca sedikit Burgess atau Borges. Tetapi mereka, borjuasi kecil, adalah merupakan bagian dari kelompok yang biasanya menentukan dan lalu memberikan contoh, atas apa yang sebaiknya kita, atau tidak kita lakukan.
Apa yang tidak semestinya kita tulis.
Apa yang semestinya kita tidak katakan.
Untuk tidak merangkum hidup sebagai bentuk pengharapan dan monumen peringatan. Untuk tidak mengutarakan aspirasi-aspirasimu yang klise. Atau kesunyian yang terinterupsi dalam rentang emosimu, jatuh dari dalam kepalamu, ke atas piring yang setengah penuh.
Apa yang semestinya tidak kau pertunjukkan,
tidak kepada teman-temanmu, ataupun kenalanmu.
Tanpa maksud untuk bersimpati, atau merendahkan.
Apa yang semestinya tidak kau anjurkan.
Siapa-siapa saja yang seharusnya tidak kau ajak untuk berkolaborasi.
Siapa-siapa saja yang seharusnya tidak kau dekati—hanging around like a bad smell.
Untuk tidak membawanya ketika engkau sedang pergi keluar rumah, di dalam tas seperti seorang penjaja jalanan. Tidak.
Jangan bilang bahwa engkau memiliki puisi-puisi, atau tulisan. Jangan pernah kau coba untuk mempublikasikannya sendiri, tidak ada percetakan yang bersedia mencetak dengan jumlah terbatas, tidak ada toko buku independen di Jakarta.
Jangan buang-buang waktu mendesain dan menyusun layout mu sendiri, dan jangan menyusahkan teman-temanmu untuk melakukan tugas editing. Jangan bilang bahwa semua itu telah terakumulasi dalam setiap tahun, beberapa tahun kebelakang, diantara tugas-tugas pekerjaanmu sebagai seorang pengacara, dokter, insinyur, politisi, pengajar, birokrat… atau pengantar pos, polisi, pemadam kebakaran, perawat, pramusaji, asisten toko buku, petugas administratif, pelukis, mucikari, pelacur… apapun itu.
Yang telah tua, biarlah menjadi tua. Seperti tumpukan koran-koran tua yang terus menumpuk tiap minggunya. Kepadatan di dalam tiap tumpukannya, memberatkan, menjadi sampah.
Jadi, Abel dan Cain, puisi dan jurnalisme adalah dua hal yang terpisah, sama sekali berbeda. Bagai dua anak kembar yang terpisah sedari lahir. Sampah yang paling membebani, adalah sampah yang justru memiliki unsur material yang paling sedikit, malahan, bisa dikatakan lebih dekat dengan proses dematerialisasi:
Kata-kata.