Cumbu Sigil

Surat untuk Harina

Bagian dari Buku “Cumbu Sigil: Surat Tak Terkirim (1995-2004)”, hal. 66)

2007

Surat ini dipublikasikan di “Cumbu Sigil: Surat Tak Terkirim (1995-2004)” terbitan Suara Parau di tahun 2007, tiga tahun setelah kematiannya. Di dalam surat ini juga tertera alasan yang tak lazim, mengapa ia tidak pernah memutuskan untuk mengirim surat-suratnya kepada orang-orang yang ia tuju.

Untuk Harina,

Maafkan diriku jika aku membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk membalas suratmu. Aku tidak mempunyai alasan untuk berkelit, selain karena memang kupikir kemarin-kemarin adalah bukan saat yang tepat. Terima kasih juga karena telah mengirimiku foto-foto Dipta dan Sukma, mereka terlihat bahagia, aku lega. Meskipun aku tahu bahwa foto-foto tersebut sebenarnya tidak mengindikasikan apapun. Hanya sepasang senyum yang membeku. Walaupun begitu, aku tetap lega. Sampaikan salamku untuk keduanya, Rin.

Ada sesuatu yang ingin kuutarakan disini. Perlu kau ketahui bahwa aku disini mengambil resiko, karena dirimu dapat menyalah artikan maksudku. Tetapi mengetahui karya-karyamu, dan kurang lebih, cita rasa dan selera yang kau punya, maka aku memutuskan untuk menyalurkan segala pemikiranku yang seringnya keotik dan hipotetikal, ke dalam kata-kata, dan mengutarakannya kepadamu.

Aneh. Setelah hampir sebulan aku kembali dari Yogyakarta, dari liburan itu, aku menyadari bahwa dari beberapa orang yang kukenal, dan yang baru kau perkenalkan kepadaku, satu orang yang benar-benar kurindukan adalah Niels. Bukan hanya karena ia seorang kaukasian. Lagipula kelihatannya, dari cara ia memakan nasi gudeg, cara ia menyilakan kaki, cara ia berseteru dengan seorang pengayuh becak, ia sudah seperti orang Indonesia. Sudah berapa tahun ia hidup disini? Lima belas tahun mungkin? Memang, jika diukur dari lama dan jumlah interaksiku dengannya, tidaklah sebanding dengan banyaknya interaksiku denganmu, Rio, Dipta, Sukma, atau Angge. Aku pun tidak bisa menyangkal bahwa pada awalnya aku memang tidak begitu tertarik dengan kepribadiannya. Tetapi dampak dari kehadirannya, justru kini begitu kurasakan dalam absensinya. Aku tidak akan menyalahkanmu jika engkau menganggap surat ini sebagai pengakuan seorang gay, tidak apa-apa, bahkan aku sendiri sebenarnya mulai ragu.

Kemarin-kemarin, aku baru saja membuka lagi lembaran-lembaran lama, buku jurnal Allen Ginsberg yang kuperoleh sebagai hadiah ulang tahunku dari Dumas beberapa tahun yang lalu. Di dalam lembaran-lembaran tersebut, aku melihat fantasi-fantasi homoseksual Ginsberg terhadap Neal Cassidy. Aku yakin bahwa aku bukan seorang gay, setidaknya, tidak, jika dilihat secara fisik (omong-omong, setelah membaca jurnal Ginsberg, kini aku yakin bahwa generasi Beat bukanlah seleraku. Dan ketidaksukaan ku yang paling besar adalah tetap para hippies, atau bentuk-bentuk obskurantisme lain semacam itu). Atau mungkin… mungkin aku memang seorang gay, hanya jika kita dapat memperluas pandangan dan definisi kita mengenai homoseksualitas: melampaui batasan fisik dan emosional. Sejujurnya, akan terasa lebih mudah jika aku membiarkan diriku untuk mengakui bahwa ini memang adalah sebuah hubungan pertemanan yang aneh, akan tetapi menurutku, gagasan mengenai pertemanan dewasa ini sudah begitu ternodai oleh nilai-nilai pasar. Maka dari itu aku memutuskan untuk lebih baik mengambil resiko ini, agar di salah artikan sebagai bentuk homoseksualitas, dimana nilai-nilai pasar masih enggan untuk menyentuhnya. Layaknya ide yang dicontohkan oleh Alexander, karakter dalam “Gemini” karya Tournier, dimana hasrat homoseksual dan hasrat non-utilitarian, lalu menangkal perangkap prokreasi.

Aku telah mencoba untuk mengingat dan mengangkat beberapa elemen yang menyebabkan rasa kagumku kepadanya, rasa kagum yang juga datang bersama rasa malu, sensasi yang sama seperti seorang remaja yang tergila-gila terhadap seseorang, namun tanpa berlebihan memuja. Ada banyak aspek yang menonjol dari dalam dirinya, tetapi aku tahu bagi kita yang memang telah mengenalnya, menonjol bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikan kepribadiannya. Menonjol, tonjolan, itu berarti hanya muncul sedikit ke atas permukaan melebihi garis sejajar, sedangkan dirinya lebih dari hanya sekedar menonjol. Sikap dan gelagatnya, gestur dan wajahnya, pembacaan dan pemahamannya… hal-hal yang ia bilang pernah ia lakukan—jika itu adalah orang lain, maka mungkin akan memberi kesan bahwa ia adalah orang yang sombong, tetapi tidak ketika ia yang melakukannya, meskipun tidak bisa disangkal memang ia terkadang memberikan kesan arogan, bahwa ia memang merasa bangga atas segala hal yang ia lakukan. Hal yang lumrah, ia memang patut bangga. Contohnya, ketika ia bercerita soal perjalanannya mengelilingi lokasi di sekitar Candi Prambanan di tengah malam hingga fajar menjelang, memukau kita, tetapi di saat yang bersamaan, membuat kita ragu akan kewarasan pikirannya; lalu rambut dan janggutnya yang ia biarkan tumbuh selama enam tahun lamanya sebagai ratapan atas disintegrasi Uni Soviet, menyentuhku secara personal. Lalu ingat di satu waktu, perilakunya yang kadang juga terkesan culun dan komikal, mengingatkan kita akan karakter Mr. Bean (yang ia juga tidak tahu, dan lalu tetap membantah. Ingat ekspresinya ketika ia berkata dengan logat aneh “Bukan, saya bukan… Mr. Bean!?”) tetapi ia seringnya terlihat begitu serius, kutu buku, yang memiliki rasa antusiasme yang berlebih terhadap apa yang ia lakukan—untuk kebaikan dirinya sendiri. Antusiasme dan keseriusan yang bagi sebagian banyak orang, ofensif.

Ia mengingatkanku akan penulis-penulis intelektual di masa lalu, meskipun aku tidak pernah secara personal mengenal mereka. Tapi ia memang terdengar dan terlihat seperti mereka, setidaknya dari apa yang sering kubaca. Pendek kata, dimataku, ia adalah seseorang yang komikal, sekaligus memikat dan mempesona secara intelektual. Mungkin alasan mengapa aku begitu tertarik kepadanya adalah, karena ia nampaknya adalah sebuah perwujudan nilai-nilai di masa lalu yang begitu kukenang, meskipun, sekali lagi, mengutip pernyataan dari George Steiner, itu hanyalah ‘a nostalgia for a place you have never been.’ Di dalam dirinya, aku melihat semangat dan gelora yang sama untuk meraih dunia yang lain, dunia yang dimana sejauh ini hanya bisa kutemukan di dalam buku-buku yang telah kubaca, dimana mereka yang mengaku dirinya seorang akademisi tidak seperti sekarang, seperti kemarin misalnya, di dalam kelas seorang Profesor yang kudatangi, yang dimana isinya tidak lebih dari hanya sekedar tontonan, mempertunjukkan album-album foto keluarganya, foto-fotonya bersama orang-orang kaya penting di Indonesia, betapa ia mempunyai koneksi sosial yang beragam.

Kehadiran Niels diantara kita memang terkesan amat canggung, tapi kecanggungan inilah yang pada akhirnya membuatku mengerti mengapa kita, pemuda-pemudi, anak-anak dari sistem kapitalisme yang sycophantic, yang dilumasi dengan sopan santun, adat istiadat yang medioker, bukanlah satu-satunya norma yang paling berarti. Aku tidak berkata bahwa kita, tidak lebih baik dari Niels, tetapi sudah jelas bahwa kita tidak melakukan pendekatan, atau mempunyai pemahaman terhadap hal-hal seperti dirinya, dan dengan caranya sendiri—cara yang tidak bisa begitu saja dihargai oleh banyak orang.

Mungkin ia memang berbeda. Dan semua itu memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan darimana ia berasal. Tetapi menurutku pribadi, mungkin akan jadi lebih menarik jika semua itu, segala antiknya, dikaitkan dengan negara asalnya. Sepertinya aku harus mengakhirinya disini, rasanya aneh bagaimana aku membawa ke permukaan topik seperti ini kepadamu. Aku sepenuhnya setuju dengan ide bahwa surat yang paling sempurna adalah surat yang tak pernah terkirim, tetapi mengingat bahwa aku sendiri sebagai si penulis adalah entitas yang penuh dengan ketidaksempurnaan, menghasilkan prosa-prosa yang tidak sempurna pula, disamping itu, dirimu juga lah yang menjadi satu dari berbagai banyak alasan mengapa surat ini harus terkirim.

Tetaplah hidup,

Cumbu Sigil.


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).