#title Surat untuk Taufik Abdullah
#subtitle Tentang Buku Biografi “Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45” Karya H.B. Jassin dan Pembelaan Terhadap Fiksi
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle S
#date 1996
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2025/11/25/surat-untuk-taufik-abdullah-tentang-buku-biografi-chairil-anwar-pelopor-angkatan-45-karya-h-b-jassin-dan-pembelaan-terhadap-fiksi-1996/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T04:47:02
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1996
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Penolakan terhadap segala unsur fiktif bukanlah kriteria kebenaran. Saya rasa kita sudah terlalu tua untuk dongeng seperti itu. Mengakui bahwa konsep kebenaran sendiri sebenarnya goyah, dengan definisi yang compang-camping, bahkan dalam banyak kasus kontradiktif, itu artinya mengakui bahwa bentuk teks—betapapun pongahnya—tetap ingin mengejar satu hal: kebenaran. Dan ketika kita bicara soal biografi atau autobiografi, masalahnya bukan sekadar muncul-tidaknya unsur fiktif. Lebih dari itu.
Biografi atau autobiografi, genre yang—entah kenapa—zaman ini semakin dielu-elukan dengan nama “non-fiksi” saya rasa juga punya masalah yang sama: ia kerap bangga memboikot semua jejak fiktif. Namun pemboikotan itu sendiri tidak otomatis melahirkan kebenaran. Bahkan ketika niatnya jujur dan faktanya dituturkan dengan prosa yang katanya “ketat”, yang dalam praktiknya, mari kita akui saja, sering kali justru lebih berupa angan-angan—batu sandungan soal keaslian sumber tetap saja bertengger pada cara menafsirkan hingga ketidakstabilan setiap kalimat yang diucapkan manusia, terutama H.B. Jassin yang selalu dianggap sebagai “penjaga kebenaran.” Masalah-masalah yang sudah jadi teman lama logika dan bahan bakar seminar ilmu humaniora ini tampaknya tak membuat gelisah para penganut non-fiksi seperti dirinya dan Anda yang kulihat hidup relatif tenteram. Dan ya, “daya tarik” hidup seorang Chairil tidak boleh membuat kita lupa bahwa sebuah pernyataan yang katanya bukan fiktif tidak otomatis menjadi benar.
Maka dari itu, saya mau menyimpulkan: kebenaran tidak otomatis berseberangan dengan fiksi. Dan ketika fiksi dipertentangkan dengan “kebenaran,” bukan berarti kita sedang mengusulkan program besar untuk menyelewengkan realitas. Hierarki yang menempatkan kebenaran di puncak objektivitas dan fiksi sebagai ekspresi subjektivitas yang meragukan itu, setidaknya bagi wilayah yang kita bahas, hanyalah fantasi moral yang kelewat pongah. Bahkan jika kita pasrah dan menerima hierarki itu—bahwa kebenaran menguasai realitas objektif sementara fiksi cuma gumaman subjektif—masalah dasarnya tetap mendekam: munculnya ketidakpastian yang bukan berasal dari fiksi subjektif yang dianggap remeh, tapi dari kebenaran objektif yang dianggap kokoh dari sananya, dari genre-genre yang mengklaim mewakilinya.
Sejak autobiografi, biografi, sampai segala bentuk non-fiksi itu memutuskan untuk menampilkan kebenaran objektif, konsekuensinya jelas: mereka harus membuktikan efektivitasnya. Dan ini, mari kita akui, tugas yang tidak mudah. Sebab yang betul-betul bisa diverifikasi dalam cerita jenis ini biasanya hanya anekdot dan latar, sementara kredibilitas kisahnya terancam runtuh begitu sang penulis terpeleset keluar dari zona aman (yang bisa diverifikasi).
Anda mungkin lantas bertanya, bagaimana dengan pembelokan sejarah? Bukankah itu konsekuensi dari penulisan fiksi? Atau gaya penulisan yang tak setia dengan kebenaran (yang bisa diverifikasi)? Negara Indonesia sudah sangat lama meminumkan sejarah versi tunggal kepada publik. Fiksi saya rasa justru bisa menjadi ruang tandingan yang membongkar kebohongan-kebohongan itu. Perbedaan antara fiksi yang etis atau tidak adalah ketika fiksi justru berniat memutihkan kekerasan Negara, atau mempromosikan nostalgia palsu terhadap masa otoritarian. Itu artinya penulis sedang berkolaborasi dalam penyamaran politik dengan kostum estetika. Ini bukan kebebasan berekspresi, ini bukan fiksi; ini propaganda terselubung.
Jangan salah paham, menulis fiksi bukanlah upaya untuk kabur dari tuntutan kebenaran karena penulisnya malas atau kekanakan. Justru fiksi hadir untuk memperlihatkan betapa ruwetnya situasi (realitas), betapa proses verifikasi yang terbatas itu melahirkan reduksi yang kejam dan pemiskinan imajinasi yang mengkhawatirkan. Dengan melompat ke wilayah yang tak bisa diverifikasi, fiksi membuka kemungkinan tanpa batas. Bukannya membelakangi realitas, fiksi justru nyemplung ke pusarannya, melucuti ego, menertawakan ilusi polos bahwa kita selalu tahu, sejak awal, bagaimana realitas bekerja. Ini bukanlah penyerahan diri pada etika kebenaran mana pun, tapi pencarian terhadap apa yang tidak terlampau sederhana.
Jadi, fiksi bagi saya bukan pembelaan terhadap kepalsuan. Bahkan ketika fiksi sengaja memeluk kebohongan—menggunakan referensi palsu, atribusi ngawur, sejarah yang dipelintir lalu dipasangkan dengan imajinasi—tujuannya bukan membingungkan atau mengelabui pembaca, melainkan mengingatkan bahwa fiksi selalu punya dua wajah: empiris dan imajinatif. Kombinasi ini—yang dalam jenis fiksi tertentu ditampilkan dengan pamer hingga jadi struktur penentu, seperti pada cerita-cerita pendek Borges atau novel-novel Putu Wijaya dan Umar Kayam—sebenarnya hadir di hampir semua karya fiksi, dari Homer sampai Beckett.
Paradoks fiksi terletak pada fakta bahwa jika ia menggunakan hal-hal yang “salah,” atau yang “bohong,” itu justru dilakukan untuk meningkatkan kredibilitasnya. Lumpur realitas yang terdiri dari apa yang empiris dan imajinatif, yang oleh sebagian orang ingin dipotong-potong sesuka hati menjadi irisan “benar” dan “salah”, menyisakan bagi penulis fiksi hanya satu pilihan: menyelam total. Karena itu, mungkin benar kata Wolfgang Kayser: “Merasa tertarik saja tidak cukup; kita juga harus punya keberanian untuk melakukannya.”