#title Teater
#subtitle Sebuah Catatan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle T
#date 1988
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2012/12/06/teater/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T02:03:37
#authors Cumbu Sigil
#publication Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1988
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Salah satu dosenku dulu semasa kuliah, Pak Koes, pernah berkata kepadaku bahwa ia dulunya adalah seorang pelukis, dan ia membenci teater. Mungkin karena ia selalu diperlakukan sebagai pelukis ‘pemandangan’, pelukis ortodoks, selama ia bekerja di perusahaan yang berkecimpung di dunia teater. Tetapi katanya, bukan itu masalahnya. Ia membenci dialog-dialognya. Beberapa tahun kemudian setelah percakapanku dengannya, aku mendapati berita bahwa ia kini sedang menulis naskah dan mengarahkan sebuah pertunjukan drama teater. Aktor dan aktris nya pun berbicara, berdialog. Drama tersebut cukup terkenal dan dipertontonkan di gedung-gedung teater di Jakarta, begitu juga di Eropa; di Brussels tepatnya. Ia juga membuat film sekarang. Diantara banyak orang yang kukenal, ia adalah salah seorang yang paling banyak menonton film. Tetapi apa bisa kubilang? Aku tidak punya banyak teman. Di satu kolom dalam surat kabar, ada berita bahwa filmnya kini ditayangkan di Venisia. Aku turut bahagia untuknya. Tetapi dari apa yang kudengar, mereka orang-orang Italia, adalah juga orang-orang yang teatrikal.