#title Wawancara Cumbu Sigil di Majalah “Eros” (Mei 1989, Edisi VI)
#subtitle Sebuah Potongan
#author Cumbu Sigil
#LISTtitle W
#date 1989
#source [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2012/12/06/wawancara-cumbu-sigil-di-majalah-eros-mei-1989-edisi-vi/][Arsip Catatan Muslihat]]
#lang id
#pubdate 2026-10-31T02:19:17
#authors Cumbu Sigil
#publication Majalah Eros; Arsip Catatan Muslihat
#publicationdate 1989
#topics Generasi Terburuk Sastra Indonesia
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustkaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
[...]
Ahmad Sadikin: Dalam puisi anda yang berjudul Kemanusiaan, anda mendeskripsikan hubungan antara Manusia dan Alam sebagai hubungan yang antipodal. Tetapi menurut anda, apakah mungkin ada cara untuk kedua kategori tersebut agar dapat menjalin hubungan yang harmonis, berkesinambungan satu sama lain?
Cumbu Sigil: Pertanyaan anda terdengar begitu spiritual di telinga saya… [tertawa] Hal ini melampaui diri saya. Sejujurnya, saya tidak begitu tertarik untuk menemukan solusi atau jalan keluar bagi semua masalah yang ada di muka bumi ini. Kemanusiaan seharusnya dibaca dengan metode simpel, sehingga teks tersebut akan berdiri dengan sendirinya, tanpa adanya indikasi ‘pembacaan performatif’ dari isi tulisan. Sebagai seruan, tanda seru yang panjang dan bertele-tele, atau rentetan tanda tanya yang dipangkas dengan buruk… sebuah titik mati diantara kalimat, yang mana kita tidak bisa menentukan letak pastinya.
[...]