Felipe Corrêa

Masalah Organisasi dalam Anarkisme

2010

      Pengantar

      Anarkisme: Spontanitas dan Anti-Organisasi?

      Tiga Posisi Anarkis Terkait Organisasi

      Anarkisme dan Dualisme Organisasi: Tulisan-tulisan Mikhail Bakunin

      Anarkisme dan Dualisme Organisasi: Pengalaman Federasi Anarkis Komunis di Bulgaria

      Catatan Penutup

Pengantar

Tulisan ini dibuat untuk membahas beberapa masalah organisasi yang terkait dengan anarkisme dari perspektif teoritis dan historis. Artikel ini menanggapi pernyataan yang terus menerus diulang bahwa ideologi atau doktrin anarkis pada dasarnya bersifat spontan dan bertentangan dengan organisasi. Mengingat kembali perdebatan di kalangan anarkis mengenai organisasi, artikel ini merekam tiga posisi mendasar dalam masalah ini:

1. Mereka yang menentang organisasi dan/atau mempertahankan formasi informal dalam kelompok-kelompok kecil (anti-organisasi),

2. Pendukung organisasi hanya di tingkat massa (sindikalisme dan komunitarianisme),

3. Mereka yang menunjukkan perlunya organisasi pada dua lapisan: politik-ideologis dan massa (dualisme organisasi).

Tulisan ini menggali posisi yang ketiga, dengan membawa elemen-elemen teoretis dari Mikhail Bakunin dan kemudian menyajikan kasus historis, di mana kaum anarkis memegang posisi tersebut dalam teori dan praktik: aktivitas Federasi Komunis Anarkis Bulgaria (FAKB) antara tahun 20-an hingga 40-an di abad kedua puluh.

Anarkisme: Spontanitas dan Anti-Organisasi?

Kolpinsky, dalam kata pengantarnya untuk kumpulan tulisan Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir I. Lenin tentang anarkisme––sebuah karya yang dibiayai Moskow (dalam konteks Uni Soviet) untuk mempromosikan ide-ide Marxisme-Leninisme, mengklaim bahwa anarkisme adalah doktrin “borjuis kecil”, “asing bagi kaum proletariat”, berlandaskan pada “petualangan semata (adventurism)”, “konsep-konsep sukarela”, dan merupakan “mimpi utopis tentang kebebasan mutlak individu”.[1]

Selain hal-hal tersebut, ia juga menekankan bahwa “yang khas dari semua aliran anarkis adalah mimpi utopis mereka tentang penciptaan masyarakat tanpa Negara dan tanpa kelas-kelas yang eksploitatif melalui pemberontakan spontan massa dan penghapusan segera kekuasaan Negara dan institusi-institusinya, dan bukan melalui perjuangan politik kelas pekerja, revolusi sosialis, dan pembentukan kediktatoran proletariat.”[2]

Klaim seperti ini telah dibuat sepanjang sejarah anarkisme, oleh lawan dan musuhnya, dan masih terus dibuat, meskipun berbagai studi teori dan/atau historis baru-baru ini menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak didukung oleh fakta-fakta.

Spontanisme[3] dan posisi menentang organisasi bukanlah prinsip-prinsip politik-ideologis anarkisme, dan karenanya, bukanlah sifat umum semua aliran anarkisme. Persoalan organisasi merupakan salah satu perdebatan paling relevan di kalangan kaum anarkis dan merupakan dasar dari konfigurasi aliran-aliran anarkisme itu sendiri. Analisis yang luas tentang anarkisme dalam hal sejarah dan geografisnya memungkinkan kita untuk secara tegas menyatakan bahwa ada kelompok minoritas yang menentang organisasi dan kelompok mayoritas yang mendukungnya. Kaum anarkis memiliki konsepsi yang berbeda-beda tentang organisasi massa––termasuk organisasi komunitas dan serikat buruh––dan posisi yang berbeda-beda pula mengenai organisasi anarkis spesifik.[4]

Tiga Posisi Anarkis Terkait Organisasi

  1. Anti-organisasionalisme, yang menentang organisasi secara umum, baik organisasi tingkat sosial/massal dan organisasi tingkat politik-ideologis yang secara spesifik anarkis. Mereka membela spontanisme dan organisasi militan dalam jaringan informal dan/atau kelompok kecil.

  2. Sindikalisme dan komunitarianisme, yang percaya bahwa organisasi anarkis harus dibuat hanya di tingkat sosial, atau massa, dan bahwa organisasi politik anarkis akan berlebihan, dan dalam beberapa kasus bahkan berbahaya, sebab menurut mereka gerakan rakyat saja sudah diberkahi dengan kekuatan revolusioner yang cukup untuk dapat melaksanakan semua proposisi anarkis.

  3. Dualisme organisasi, yang menyatakan bahwa kita perlu mengorganisasi diri kita sendiri, baik dalam gerakan massa maupun dalam organisasi politik spesifik secara bersamaan. Visinya adalah untuk mempromosikan posisi-posisi anarkis secara lebih konsisten dan efektif dalam gerakan-gerakan berbasis luas.

Posisi 1: Anti-Organisasionalisme

Anti-organisasionalisme dilandaskan pada usulan-usulan seperti yang dikemukakan oleh Luigi Galleani, seorang militan anarkis Italia. Ia percaya bahwa organisasi politik––yang disebut oleh kawan satu negerinya, Errico Malatesta, sebagai “partai anarkis”––pasti akan mengarah ke hirarki serupa pemerintah, yang melanggar kebebasan individu:

“Partai, partai apapun, memiliki programnya sendiri, yang merupakan konstitusinya sendiri; memiliki majelis dari seksi-seksinya atau kelompok delegasinya, dan memiliki parlemennya sendiri; dalam badan pengaturnya atau di seksi-seksinya, para eksekutif memiliki pemerintahannya sendiri. Dan oleh karenanya, ada pemaksaan yang berangsur-angsur dari badan tersebut, yang dengannya hirarki nyata diterapkan pada berbagai lapisan dan pada kelompok-kelompok yang terkait dengannya: ada pendisiplinan terhadap pelanggaran dan perselisihan dengan memberlakukan hukuman yang dianggap sesuai, entah dengan penyensoran maupun pengusiran.”[5]

Galleani berpendapat bahwa kaum anarkis harus berasosiasi dalam jaringan yang terorganisir secara longgar dan hampir informal, karena ia percaya bahwa organisasi, terutama yang terprogram, dapat mengarah pada dominasi, baik dalam kelompok anarkis maupun dalam gerakan rakyat pada umumnya. Bagi Galleani, “gerakan anarkis dan gerakan buruh berjalan di sepanjang jalur paralel, dan konstitusi geometris dari garis paralel tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan pernah bisa bertemu atau beririsan”. Menurutnya, anarkisme dan gerakan massa merupakan bidang yang berbeda––organisasi pekerja adalah korban dari “konservatisme buta dan parsial” yang bertanggung jawab dalam “menciptakan hambatan dan seringkali berbahaya” bagi tujuan anarkis. Menurutnya, anarkis harus bertindak melalui pendidikan, propaganda, dan aksi kekerasan langsung tanpa terlibat dalam gerakan massa yang terorganisir.[6]

Posisi 2: Sindikalisme dan Komunitarianisme

Sindikalisme dan komunitarianisme adalah pandangan bahwa gerakan rakyat telah memiliki semua syarat untuk dapat memasukkan posisi-posisi libertarian dan revolusioner ke dalamnya, sehingga gerakan rakyat saja sudah cukup memenuhi semua fungsi yang diperlukan untuk proses transformasi sosial. Dalam pengertian ini, organisasi politik anarkis tidak diperlukan, atau hanya persoalan sekunder. Pendukung organisasi di tingkat komunitas (seperti usulan Murray Bookchin di Amerika Utara) sangat langka jumlahnya, namun berbeda halnya dengan sindikalisme revolusioner dan anarko-sindikalisme.[7]

Posisi yang kedua ini dipertahankan oleh banyak sindikalis revolusioner, seperti dalam kasus seorang Prancis bernama Pierre Monatte, yang dalam Kongres Anarkis Amsterdam 1907 mengklaim bahwa “sindikalisme revolusioner saja sudah cukup”. Monatte percaya bahwa gerakan rakyat yang diprakarsai oleh Konfederasi Umum Buruh (Confédération Générale du Travail/CGT) di Prancis pada tahun 1895 telah memungkinkan adanya pendekatan ulang antar kaum anarkis dengan massa, dan oleh karenanya, ia merekomendasikan “agar semua anarkis bergabung dalam sindikalisme/gerakan buruh”.[8]

Dalam konteks sejarah, ada keterpisahan antara anarkisme dan gerakan massa di Prancis setelah runtuhnya Komune Paris. Namun, terlepas dari relevansi refleksi ini dalam konteks sejarah, posisi Monatte adalah posisi dominan dalam anarkisme abad kedua puluh di seluruh dunia,––jika tidak dalam teori, setidaknya dalam praktik.

Di kongres yang sama, yang dianggap sebagai momen historis pertama dari perdebatan luas tentang isu-isu organisasional dalam anarkisme ini, seorang anarkis lain mengambil posisi. Malatesta setuju dengan partisipasi kaum anarkis di gerakan rakyat, namun ia menambahkan: “Di dalam serikat buruh kita tetap harus menjadi anarkis, dengan semua kekuatan dan keluasan yang tersirat dalam definisi tersebut”[9]. Artinya, anarkisme tidak dapat larut dalam gerakan serikat, tidak dapat tertelan olehnya hingga tidak eksis lagi sebagai ideologi atau doktrin dengan posisi dan pengorganisasiannya sendiri. Posisi serupa, tetapi dengan basis kelas yang lebih tegas, didukung oleh Amédée Dunois, yang mempertahankan bahwa perlu ada organisasi anarkis selain juga ada kerja-kerja di serikat buruh:

“Para anarkis sindikalis […] dibiarkan sendiri, dan di luar serikat buruh mereka tidak memiliki kontak nyata dengan satu sama lain atau dengan kolega-kolega mereka. Mereka tidak mendapatkan dukungan atau bantuan. Oleh karena itu, kami bermaksud untuk membangun kontak tersebut, yang dapat memberi dukungan terus menerus. Dan saya pribadi yakin bahwa penyatuan aktivitas kita hanya dapat membawa manfaat, baik dari segi tenaga maupun kecerdasan. Dan semakin kuat kita––kita hanya akan menjadi kuat dengan mengorganisir diri kita sendiri––maka semakin kuat aliran gagasan yang dapat kita pertahankan dalam gerakan buruh, gerakan buruh pun akan sedikit demi sedikit diresapi oleh semangat anarkis. […] Pengelompokkan organisasi anarkis cukup di sekitar program aksi praktis dan konkrit, semua kawan yang menerima prinsip kita, dan yang ingin bekerja bersama kita, sesuai dengan metode kita.”[10]

Posisi 3: Pengorganisasian Ganda / Dualisme Organisasi

Posisi Malatesta dan Dunois mengacu pada dualisme organisasi, yang didasarkan pada gagasan bahwa kaum anarkis harus mengatur diri mereka sendiri secara paralel pada dua lapisan: satu, pada lapisan sosial atau massa, dan kedua, pada lapisan politis-ideologis. Malatesta mendefinisikan “partai anarkis” sebagai “kelompok orang-orang yang siap membantu mewujudkan anarki menjadi kenyataan dan yang, oleh karena itu, perlu menetapkan target untuk dicapai dan sebuah jalan untuk diikuti”. “Dengan tetap terisolasi, dengan masing-masing individu bertindak atau berusaha sendiri-sendiri tanpa mencoba membuat kesepakatan dengan yang lain, tanpa adanya persiapan, tanpa penggabungan kekuatan” berarti kaum anarkis sedang “mengutuk dirinya sendiri ke jurang impotensi, menghambur-hamburkan energinya untuk aksi-aksi remeh, tidak efektif, dan dengan cepat akan kehilangan kepercayaan pada tujuannya sendiri, dan kemudian tenggelam dalam ketidakaktifan total”. Cara untuk mengatasi isolasi dan kurangnya koordinasi adalah dengan berinvestasi pada pembentukan organisasi politik anarkis: “Jika seseorang menolak untuk tetap tidak aktif dan tidak berdaya, maka (anarkis militan) harus menemukan individu lain yang berpikiran sama dan menggagas organisasi baru”.[11]

Namun, baginya, organisasi anarkis spesifik saja tidak cukup: “Mendukung semua jenis organisasi rakyat adalah konsekuensi logis dari ide-ide dasar kita dan harus menjadi bagian integral dari program kita”.[12] Dalam hal ini, ia menunjukkan perlunya kerja pembangunan basis yang intens dalam organisasi massa populer:

“Oleh karena itu, pada masa-masa normal kita perlu melakukan kerja persiapan dan pengorganisasian rakyat yang panjang dan sabar, dan tidak jatuh ke dalam ilusi revolusi jangka pendek yang mungkin terjadi karena inisiatif segelintir orang tanpa partisipasi massa yang memadai. Dalam masa-masa persiapan ini, yang mungkin saja dilakukan dalam lingkungan yang kurang memadai, ada propaganda, agitasi, dan pengorganisasian massa yang tidak boleh diabaikan.”[13]

Kaum anarkis yang berorganisasi (sindikalis, komunitarian, dan penganut dualisme organisasi) telah berkontribusi secara teori dan praktik dalam perdebatan mengenai isu-isu organisasi dalam anarkisme. Dualisme organisasi telah memberikan kontribusi teoretis dan praktis yang akan dibahas di bawah ini melalui tulisan Mikhail Bakunin dan pengalaman Federasi Anarkis Komunis Bulgaria.[14]

Anarkisme dan Dualisme Organisasi: Tulisan-tulisan Mikhail Bakunin

Dualisme organisasi ditemukan pada akar anarkisme dan dirumuskan dalam karya Bakunin, yang sering merujuk pada praktik-praktik Aliansi dalam Asosiasi Pekerja Internasional (International Workers Association / IWA).[15]

Bagi Bakunin, Aliansi memiliki dua tujuan: satu, untuk memperkuat dan menstimulasi pertumbuhan IWA dan, dua, untuk menyatukan mereka-mereka yang memiliki keeratan politis-ideologis dengan anarkisme dan berbagi prinsip-prinsip, program, dan strategi yang sama.[16] Singkatnya, menciptakan dan memperkuat organisasi politik dan gerakan massa:

“Mereka [militan-militan Aliansi] membentuk jiwa yang akan menginspirasi dan menghidupkan badan besar yang kita sebut Asosiasi Pekerja Internasional […]; lalu mereka akan menangani hal-hal yang mustahil didiskusikan secara publik; mereka akan menjembatani teori-teori propaganda sosialis dengan praktik revolusioner.”[17]

Bakunin berargumen bahwa Aliansi tidak memerlukan militan dalam jumlah yang sangat besar: “jumlah individu yang bergabung tidak perlu terlalu banyak”, ia terdiri dari organisasi politik, publik dan rahasia, dari minoritas yang aktif, dengan tanggung jawab kolektif di antara anggotanya, dan mengumpulkan “anggota-anggota yang paling aman, paling loyal, paling cerdas, dan paling bersemangat––singkatnya, orang-orang dengan relasi yang paling intim”, yang berkumpul di beberapa negeri dengan komitmen untuk secara yakin mempengaruhi massa.[18]

Organisasi ini dilandaskan pada regulasi internal dan sebuah program strategis, yang masing-masing membangun fungsi-fungsi organiknya, basis politis-ideologis dan program-strategisnya, membangun poros bersama untuk aksi anarkis. Menurut Bakunin, hanya “mereka-mereka yang dengan jujur menerima seluruh program dengan segala konsekuensi teori dan praktiknya, dan yang masih memiliki semangat revolusioner, beserta kecerdasan, energi, kejujuran, dan kebijaksanaan” adalah orang-orang yang dapat menjadi anggota organisasi.

Secara internal, tidak ada hirarki di kalangan anggota, keputusan dibuat dari bawah ke atas, umumnya dengan suara mayoritas (bervariasi mulai dari kesepakatan bersama hingga ke pengambilan suara mayoritas, tergantung pada relevansi masalah), dan semua anggota mematuhi peraturan yang dibuat secara kolektif. Ini berarti penerapan federalisme––yang dipahami sebagai bentuk organisasi sosial yang harus mendesentralisasikan kekuasaan dan menciptakan “sebuah organisasi revolusioner dari bawah ke atas, dari pinggiran ke pusat”––di badan-badan internal organisasi anarkis.[19]

Untuk mendorong pertumbuhan dan penguatan IWA di berbagai negeri dan memberi pengaruh pada programnya juga merupakan salah satu tujuan Aliansi. Gerakan massa internasional dan internasionalis yang meluas ini, menurut Bakunin “harus menjadi protagonis revolusi sosial, karena tidak ada revolusi yang dapat berhasil jika tidak dilakukan secara eksklusif oleh kekuatan rakyat”.[20] Proses revolusioner semacam itu––yang tidak dapat dibatasi oleh perubahan politik elit semata dan harus menyentuh fondasi sosial yang paling dalam, termasuk ekonomi––akan mengubah fondasi sistem kapitalis dan negara untuk membangun sosialisme libertarian.[21]

“Asosiasi Pekerja Internasional, setia pada prinsipnya, tidak akan pernah mendukung agitasi politik yang tidak bertujuan untuk menciptakan emansipasi ekonomi total kaum pekerja secara langsung dan segera––yaitu pelenyapan borjuasi sebagai sebuah kelas yang terpisah secara ekonomi dari massa rakyat––, begitu pula halnya dengan revolusi apapun yang sejak hari pertamanya, sejak jam pertamanya, tidak memasukkan pelenyapan kelas sosial ke dalam seruannya. […] Ia akan memberikan karakter ekonomi mendasar pada perlawanan buruh di seluruh negeri, menetapkan pengurangan hari kerja dan kenaikan upah sebagai tujuannya––asosiasi massa pekerja dan pengumpulan dana perlawanan sebagai sarananya. […] Singkatnya, ia akan berkembang dengan mengorganisasi dirinya dengan kuat, melintasi perbatasan semua negara, sehingga ketika revolusi, yang dipimpin oleh kekuataan nyata, muncul maka akan ada kekuatan sejati yang mengetahui apa yang harus dilakukan dan karenanya mampu merebutnya dan memberikan arahan yang benar-benar konstruktif bagi rakyat––sebuah organisasi internasional yang serius yang terdiri dari asosiasi-asosiasi pekerja dari seluruh negeri, yang mampu menggantikan kekuasaan politik negara dan kaum borjuasi.”[22]

Gerakan massa memobilisasi pekerja melalui kebutuhan ekonomi mereka dan mengorganisir perjuangan jangka pendek serikat buruh melalui mekanisme organisasi buruh itu sendiri dan lembaga-lembaga yang diciptakan oleh pekerja sendiri yang mencakup tempat kerja dan tempat tinggal. Akumulasi permanen kekuatan sosial pekerja dan radikalisasi perjuangan demi perjuangan akan memungkinkan kaum pekerja untuk maju menuju revolusi sosial.

Menciptakan asosiasi rakyat berdasarkan kebutuhan ekonomi berarti “dari awal menghilangkan persoalan politik dan agama dari program asosiasi ini”, karena yang paling relevan adalah “mencari landasan bersama, serangkaian prinsip sederhana yang disepakati atau akan disepakati oleh semua pekerja, apapun tendensi politik atau agamanya”.[23] Masalah ekonomi menyatukan kaum pekerja, sementara masalah politik, ideologi, dan agama memisahkan mereka. Meskipun tidak termasuk dalam prinsip-prinsip IWA, hal ini harus dibahas sepanjang proses perjuangan.[24]

Ini adalah tentang mendorong persatuan kelas di antara para pekerja, melalui asosiasi yang bergerak di atas kepentingan bersama dari sekelompok subjek yang tertindas––pekerja di pedesaan dan perkotaan, kaum tani, dan kaum yang termarjinalkan pada umumnya––untuk perjuangan kelas yang dilakukan secara langsung melawan kelas penguasa, karena “antagonisme yang ada antara dunia kelas pekerja dan dunia borjuis” tidak memungkinkan “rekonsiliasi apapun”. Dalam perjuangan kelas, kaum buruh mengetahui “musuh mereka yang sebenarnya, yaitu kelas-kelas yang diistimewakan, termasuk kaum agamawan, borjuis, kaum bangsawan, dan Negara”, mereka memahami alasan-alasan yang menyatukan mereka dengan kelompok-kelompok tertindas lainnya, mereka memperoleh kesadaran kelas, memahami minat bersama dan belajar tentang isu-isu politik-filosofis. Semua ini merupakan proses pedagogis sejati.[25]

Gerakan massa harus membangun fondasi organisasional dan institusional masyarakat masa depan dan menjaga koherensi mereka dengan tujuan revolusioner dan sosialisnya. Bakunin menggarisbawahi koherensi yang sangat diperlukan antara cara dan tujuan dan menekankan bahwa “masyarakat yang bebas dan egaliter tidak akan muncul dari sebuah organisasi otoriter. Oleh karena itu, Internasional, yang merupakan cikal bakal masyarakat manusia masa depan, mulai sekarang harus menjadi gambaran sejati dari prinsip-prinsip kebebasan dan federasi kita, dan menolak semua prinsip yang cenderung otoriter, yang menuju kediktatoran”. Maka IWA harus diorganisir dengan cara yang libertarian dan federalis. Kita perlu “membuat organisasi itu semirip mungkin dengan cita-cita kita”, mendukung terciptanya kerangka organisasional dan institusional yang dapat menggantikan kapitalisme dan Negara: “Masyarakat masa depan adalah universalisasi organisasi yang Internasional telah ciptakan.”[26]

Aliansi tidak melakukan relasi dominasi dan/atau hierarki pada IWA, melainkan melengkapinya, begitu pun sebaliknya. Bersama-sama, kedua badan organisasi itu saling melengkapi dan meningkatkan proyek revolusioner kaum buruh, tanpa tunduk pada salah satu pihak. [27]

“Aliansi adalah pelengkap yang diperlukan untuk Internasional … tetapi Internasional dan Aliansi, yang cenderung menuju tujuan akhir yang sama, mengejar tujuan berbeda pada waktu yang sama. Misi Internasional adalah untuk menyatukan massa pekerja, jutaan orang buruh, dengan profesi dan negeri yang berbeda-beda, melintasi perbatasan semua Negara, kompak dalam sebuah badan besar. Sementara Aliansi memiliki misi untuk memberikan kepada massa sebuah kepemimpinan yang benar-benar revolusioner. Program-program yang satu dan yang lain tidak bertentangan sama sekali, mereka hanya berbeda dalam tingkat perkembangannya masing-masing. Jika ditanggapi dengan serius, Internasional mengandung benih. Dan dalam benih itulah ada program Aliansi. Program Aliansi adalah ekspresi akhir dari Internasional.”[28]

Penyatuan kedua organisasi ini––yang bersifat politis: terdiri dari minoritas (kader), dan yang sosial: terdiri dari mayoritas (massa)––dan pengaturan diri mereka secara horizontal dan permanen dapat meningkatkan kekuatan pekerja dan meningkatkan peluang proses transformasi anarkis. Dalam gerakan massa, organisasi politis dapat membuat kaum anarkis menjadi lebih efektif dalam menghadapi perselisihan mengenai posisi-posisi mereka dan membuat mereka mampu mengarahkan ulang kekuatan mereka yang tadinya menuju ke arah yang saling berlawanan––contohnya: kecenderungan mengungkit-ungkit masalah prinsip politik-ideologi dan/atau agama yang berbeda, mengecilkan karakter gerakan berbasis kelas, memperkuat posisi reformis (melihat reformasi sebagai tujuan akhir) sehingga membuat hilangnya daya tempur, membangun hierarki internal dan/atau relasi dominasi, mengarahkan kekuatan buruh menuju pemilu dan/atau menuju strategi perubahan dengan cara pengambilalihan Negara, menyerahkan gerakan tersebut ke tangan partai-partai, negara, atau organisasi lain yang dalam prosesnya malah menghilangkan peran protagonis kelas tertindas dan institusi-institusi mereka. [29]

Anarkisme dan Dualisme Organisasi: Pengalaman Federasi Anarkis Komunis di Bulgaria

Di bawah ini kami menyajikan garis umum dualisme organisasi anarkis yang dikembangkan oleh pengalaman Federasi Komunis Anarkis Bulgaria (FAKB) antara tahun 20-an dan 40-an di abad kedua puluh.

Di Eropa Timur, kaum anarkis memainkan peran yang menentukan pada tahun 1903 selama Pemberontakan Makedonia, di mana mereka berpartisipasi dalam dua peristiwa yang bersifat libertarian: pertama, pemberontakan Ilinden dan proklamasi Komune Krouchevo, diikuti dengan pemberontakan Preobrojenie dan proklamasi Komune Strandzha. Peristiwa ini bertanggung jawab atas pengambilalihan wilayah demi terciptanya pengalaman manajemen-diri selama sebulan dan merupakan upaya lokal pertama untuk membangun masyarakat baru berdasarkan prinsip-prinsip komunisme libertarian. Setelah pemberontakan dan komune dihancurkan, mereka mendirikan surat kabar yang relevan di Bulgaria seperti Free Society, Acracia, Probuda atau Rabotnicheska Misl. Berbagai kelompok anarkis juga muncul, dan pada tahun 1914 sebuah kelompok dari Ruse meletakkan dasar bagi gerakan anarkosindikalis. Setelah masalah demi masalah yang disebabkan oleh Perang Dunia I, anarkisme Bulgaria muncul kembali dengan berdirinya Federasi Komunis Anarkis Bulgaria (FAKB) pada tahun 1919 di sebuah kongres yang dihadiri 150 delegasi.

“Pada tahun 1919 yang panas, pada puncak pemberontakan buruh secara global melawan kapitalisme, anarkosindikalis Bulgaria (kelompok pertama didirikan pada tahun 1910) dan tim inti Federasi Anarkis Makedonia-Bulgaria yang telah berdiri sebelumnya (selnya telah terbentuk sejak tahun 1909) menyerukan untuk reorganisasi. Federasi Komunis Anarkis Bulgaria (FAKB) didirikan pada sebuah kongres yang dibuka oleh seorang gerilyawan anarkis bernama Mikhail Gerdzhikov (1877-1947), pendiri Komite Revolusi Klandestin Makedonia (MTRK) pada 1898, dan komandan Badan Tempur Terkemuka MTRK selama Pemberontakan Makedonia 1903.”[30]

Di Bulgaria, FAKB memimpin pengalaman yang relevan dan yang melibatkan serikat pekerja perkotaan dan pedesaan, koperasi, gerilya, dan organisasi pemuda: “FAKB terdiri dari seksi-seksi sindikalis, gerilya, profesional, dan kaum muda yang membaurkan diri mereka ke dalam seluruh elemen masyarakat Bulgaria”. FAKB juga membantu mendirikan dan memperkuat organisasi seperti Federasi Mahasiswa Anarkis Bulgaria (BONSF), federasi anarkis seniman, penulis, intelektual, dokter dan insinyur, dan Federasi Pemuda/i Anarkis (FAM), yang hadir di kota-kota besar, kota kecil, dan semua sekolah besar. [31]

Kongres kelima FAKB pada tahun 1923 terdiri dari 104 delegasi dan 350 pengamat dari 89 organisasi, yang menunjukkan pengaruh anarkis yang meluas, kemungkinan mayoritas berasal dari kalangan pekerja Yambol, Kyustendil, Rodomir, kota Nueva Zagora (Khaskjovo), Kilifaevo, dan Delebets, juga ada pengaruh anarkis berkembang di Sofia, Plovdiv, Ruse, dan pusat-pusat masyarakat lainnya. Pertumbuhan FAKB menarik persekusi besar-besaran oleh fasis kanan, yang menyebabkan tewasnya lebih dari 30.000 pekerja selama tahun 1923 hingga 1931. Dalam konteks ini, banyak militan FAKB dibunuh dan yang lainnya diasingkan. Meskipun demikian, mereka yang bertahan “membentuk detasemen tempur yang dikenal sebagai ‘cheti’ dan terlibat dalam upaya besar-besaran dalam mengkoordinasikan pemberontakan Partai Komunis Bulgaria (BKP) pada 1923”, dan juga terlibat dalam pertempuran gerilya pada tahun 1925 bersama dengan BKP dan Serikat Agraria Bulgaria (BZS).[32]

Antara tahun 1926 hingga 1927, FAKB mengadopsi proposal “Platform Organisasi Persatuan Umum Anarkis”, sebuah teks yang diterbitkan pada 1926 oleh sekelompok orang buangan dari Rusia yang juga menerbitkan koran bernama Dielo Truda (Isu Pekerja)[33]. Kelompok Dielo Truda menyerukan soal kebutuhan akan organisasi anarkis yang homogen dan memiliki program, yang dibangun di atas kesatuan ideologis, taktis (metode aksi kolektif), tanggung jawab kolektif, dan federalisme. Proyek ini berdampak secara relevan pada perkembangan FAKB tahun 1945, terlihat dalam Platform FAKB, yang akan dibahas nanti.

Pada tahun 1930 di Bulgaria, pengaruh anarkis terlihat dalam pembentukan Konfederasi Vlassovden, sebuah serikat pedesaan yang diorganisir di seputar beberapa tuntutan ini:

“pengurangan pajak langsung dan tidak langsung, pembubaran kartel agraria, perawatan medis gratis untuk petani, asuransi dan pensiun untuk buruh tani, dan otonomi masyarakat”. Apa yang disebut dengan “sindikalisme Vlassovden” menyebar dengan cepat. Setahun setelah pembentukannya––Konfederasi telah memiliki 130 cabang––dan merupakan “peningkatan besar dalam pengorganisasian dan penerbitan anarkis hingga gerakan anarkis dapat dihitung sebagai kekuatan terbesar ketiga dalam sayap kiri, setelah BZS dan BKP.”[34]

Selama Revolusi Spanyol (1936-1939), tiga puluh anarkis Bulgaria bertempur sebagai sukarelawan dalam milisi anarkis.

Antara tahun 1941 dan 1944, sekelompok gerilya anarkis bertempur melawan fasisme dan bersekutu dengan Front Patriotik dalam mengorganisir insureksi September 1944 melawan pendudukan Nazi. Sementara itu, ketika Tentara Merah menggantikan Jerman sebagai kekuasaan penjajah, sebuah aliansi gabungan antara sayap kanan dan kiri didirikan––disebut dengan “aliansi merah-oranye-coklat”––yang menindas kaum anarkis secara brutal.[35] Para pekerja dipaksa bergabung ke dalam satu serikat yang terkait dengan negara, dalam sebuah kebijakan yang jelas-jelas terilhami oleh Mussolini. Pada tahun 1945, di Kongres FAKB di Sofia, milisi komunis menangkapi sembilan puluh delegasi yang hadir, namun situasi tersebut tidak menghalangi koran FAKB, Rabotnicheska Misl, tersirkulasi hingga mencapai enam puluh ribu eksemplar per edisi pada tahun itu. Pada akhir tahun 1940-an, “ratusan orang telah dieksekusi dan sekitar seribu anggota FAKB dikirim ke kamp konsentrasi, di mana penyiksaan, perlakuan buruk, dan kelaparan menimpa para veteran (non-komunis) anti-fasis […] hampir secara rutin”. Demikianlah pengalaman FAKB berakhir mulai dari tahun 1919.[36]

Membaca cuplikan dari pengalaman organisasi ini, kita dapat menyimpulkan:

“Beberapa jenis organisasi kelas pekerja sangat diperlukan dan dapat terjalin tanpa subordinasi: organisasi ideologis komunis anarkis, sindikat-sindikat pekerja, sindikat-sindikat buruh tani, koperasi, dan organisasi budaya ataupun organisasi berdasarkan kepentingan khusus, misalnya organisasi kaum muda dan perempuan.”[37]

Praktik FAKB selama lebih dari dua dekade tersebut, serta refleksi teoritis yang terjadi pada periode itu, bersamaan dengan pengaruh Platform karya Dielo Truda, tercermin dalam dokumen program pada tahun 1945: Platform Federasi Anarko-Komunis Bulgaria. Menurut dokumen ini, FAKB mendasarkan dirinya pada dualisme organisasi. Mereka membayangkan sebuah organisasi politik anarkis dan sebuah gerakan massa di perkotaan dan pedesaan, yang terdiri dari serikat-serikat dan koperasi.

“Organisasi politik anarkis menyatukan anarkis di seputar prinsip-prinsip ideologi politik anarko-komunis, diorganisir secara regional dan memiliki tugas mendasar sebagai berikut: mengembangkan, mewujudkan, dan menyebarkan ide-ide komunis anarkis; mempelajari semua pertanyaan penting saat ini yang mempengaruhi kehidupan harian massa pekerja dan masalah-masalah rekonstruksi sosial; perjuangan multifaset untuk mempertahankan cita-cita sosial kita dan perjuangan rakyat pekerja; berpartisipasi dalam pembentukan kelompok-kelompok pekerja pada tingkat produksi, profesi, pertukaran dan konsumsi, budaya dan pendidikan, dan semua organisasi lain yang dapat berguna dalam persiapan rekonstruksi sosial; partisipasi bersenjata dalam setiap insureksi revolusioner; persiapan dan penyelenggaraan peristiwa-peristiwa ini; penggunaan segala cara yang dapat membawa revolusi sosial.”[38]

Kaum anarkis juga berpartisipasi dalam gerakan massa, terutama di serikat pekerja dan koperasi. Serikat pekerja mesti mengorganisasi kekuatan pekerja berdasarkan tempat kerja atau kategori pekerjaan, dan mesti berlandaskan pada federalisme, aksi langsung, otonomi kelas dan kemandirian. Tugas inti mereka adalah:

“Membela kepentingan langsung kelas pekerja, memperjuangkan perbaikan kondisi kerja para pekerja, mempelajari masalah-masalah produksi, kontrol produksi, dan persiapan ideologis, teknis, dan organisasional dari suatu rekonstruksi sosial radikal, di mana mereka akan harus memastikan kelanjutan hasil industri.”[39]

Koperasi pertanian menghubungkan petani tak bertanah dan kaum pemilik kecil yang tidak mengeksploitasi tenaga kerja orang lain, dan memikul tugas-tugas berikut:

“Untuk membela kepentingan para petani tak bertanah, mereka yang memiliki sedikit tanah, dan mereka yang memiliki sebidang tanah kecil; untuk mengorganisir kelompok produksi pertanian, untuk mempelajari masalah produksi pertanian; untuk mempersiapkan rekonstruksi sosial di masa depan, di mana mereka akan menjadi pionir bagi reorganisasi dan produksi pertanian, dengan tujuan memastikan penghidupan seluruh penduduk.”[40]

Pada akhirnya, pengalaman FAKB yang tercermin dalam dokumen program ini––Platform Federasi Anarkis Komunis Bulgaria––menghadirkan elemen sejarah yang relevan untuk memahami dualisme organisasi anarkis.

Catatan Penutup

Ada relevansi ganda dalam diskusi tentang isu-isu organisasional anarkisme. Satu, kita perlu pendekatan serius mengenai anarkisme agar dapat melawan argumen dari para musuh dan lawannya, dengan maksud untuk memberikan pengetahuan yang lebih substansial mengenai ideologi dan doktrin politiknya serta perdebatan-perdebatan utamanya. Dan yang kedua, diskusi yang mendalam tentang dualisme organisasi dapat berkontribusi pada perdebatan kontemporer mengenai organisasi kelas tertindas[41], dan dapat memberikan elemen-elemen refleksi bagi mereka yang tertarik pada gerakan perlawanan dan perjuangan melawan dominasi secara umum, dan melawan kapitalisme dan negara secara khusus.

[1] Kolpinsky, “Epílogo”, pp. 332-333.

[2] Ibid., p. 332, italics added.

[3] Spontanisme adalah paham yang meyakini bahwa massa dapat memobilisasi diri mereka sendiri tanpa memerlukan organisasi, pembentukan, maupun persiapan sebelumnya, dan dapat melakukan proses transformasi skala besar. Spontanisme berbeda dengan spontanitas, sebab spontanitas adalah komponen tak terelakkan dari setiap gerakan rakyat yang transformatif.

[4] Untuk beberapa studi dengan perspektif transnasional atau global yang menentang klaim ini (yang biasanya dibuat oleh musuh dan lawan dari anarkisme) dan mengenai perdebatan tentang mayoritas dan minoritas dalam anarkisme, lihat: Felipe Corrêa – Bandeira negra: rediscutindo o anarquismo; Surgimento e breve perspectiva histórica do anarquismo,1868-2012; “Dossier Contemporary Anarchism: anarchism and syndicalism in the whole world, 1990-2019”; Lucien Van der Walt – “Revolução mundial: para um balanço dos impactos, da organização popular, das lutas e da teoria anarquista e sindicalista em todo o mundo”; Black flame […]; “Global anarchism and syndicalism: theory, history, resistance”; (Editor with Steven Hirsch) Anarchism and syndicalism in the colonial and postcolonial world, 1870- 1940); Geoffroy de Laforcade – (Editor with Kirwin Shaffer) In Defiance of Bouderies: anarchism in Latin American history; Rafael Viana da Silva – “Os revolucionários ineficazes de Hobsbawm: reflexões críticas de sua abordagem do anarquismo”. - Seperti yang ditunjukkan oleh studi-studi ini, gerakan rakyat yang didasarkan pada tempat kerja dan tempat tinggal telah membentuk vektor-vektor sosial anarkisme selama seratus lima puluh tahun sejarahnya, yang tersusun atas basis-basis berdasarkan kelas, yang agresif, mandiri, swakelola, dan revolusioner. Gerakan-gerakan tersebut memperkuat intervensi sosial anarkis.

[5] Luigi Galleani, The principal of organization to the light of anarchism, p. 2.

[6] Ibid., pp. 3, 6.

[7] Berdasarkan studi transnasional dan global yang disebutkan di atas (Corrêa, Van der Walt, De Laforcade, Viana da Silva), adalah mungkin untuk menegaskan bahwa posisi anti-organisasi secara historis memiliki gema yang signifikan di kalangan anarkis, namun mereka-mereka yang anti-organisasi selalu minoritas jika dibandingkan dengan posisi yang pro-organisasi. Posisi anti-organisasionis sering memasukkan argumen individualistis di luar anarkisme, mengutip penulis seperti Max Stirner dan Friederich Nietzsche. Selama abad kedua puluh, sindikalisme adalah posisi strategi yang menghegemoni anarkisme di tingkat global.

[8] Pierre Monatte, “Em defesa do sindicalismo”, pp. 206-207.

[9] Errico Malatesta, “Sindicalismo: a crítica de um anarquista”, p. 208.

[10] Amédée Dunois, “Anarquismo e organização”.

[11] Errico Malatesta, “A organização II”, pp. 55, 56, 60.

[12] Errico Malatesta, “A organização das massas operárias contra o Governo e os patrões”.

[13] Errico Malatesta, Ideología anarquista, p. 31.

[14] Juga berdasarkan studi yang disebutkan di atas (Corrêa, Van der Walt, De Laforcade, Viana da Silva), secara tegas dapat dikatakan bahwa dualisme organisasi merupakan posisi minoritas secara historis dibandingkan sindikalisme, setidaknya dalam praktiknya.

[15] Pada tahun-tahun tersebut, garis umum teori Bakunin tentang dualisme organisasi anarkis diuraikan. Teori organisasi politik anarkis dikembangkan oleh Bakunin dalam tulisan-tulisan dan surat sejak tahun 1868 ketika Aliansi terbentuk. Tulisan-tulisan tentang topik yang dijelaskan di atas belum sepenuhnya anarkis dan oleh karena itu tidak digunakan di sini.

[16] Mikhail Bakunin, “Letter to Morago (May 21st, 1872)”. Pencapaian historis terbear dari Aliansi adalah pembentukan seksi-seksi Internasional di negara-negara di mana ia belum ada dan daya dorongnya di tempat-tempat di mana ia sudah beroperasi. Begitulah kasus Spanyol, Italia, Portugal, dan Swiss, di luar kasus Amerika Latin, yang distimulasi oleh surat menyurat.

[17] Mikhail Bakunin, “Letter to Cerretti (March 13-27, 1872)”.

[18] Mikhail Bakunin, “Letter to Cerretti (March 13-27, 1872)”, “Letter to Morago (May 21st, 1872)”, “Statuts secrets de l’Alliance: Programme et objet de l’organisation révolutionnaire des Frères internationaux”.

[19] Mikhail Bakunin, “Statuts secrets de l’Alliance: Programme et objet de l’organisation révolutionnaire des Frères internationaux”; “Statuts secrets de l’Alliance: Programme de la Société de la Révolution Internationale”.

[20] A política da Internacional, p. 67. Mikhail Bakunin.

[21] Secara umum, anarkis meyakini bahwa fondasi sosial dari transformasi revolusioner ini terdiri dari adanya penggantian dominasi sistemik–terutama dominasi kelas–dengan sistem pengaturan diri secara umum di tiga bidang (ekonomi, politik, dan budaya) dan sebuah masyarakat tanpa kelas. Melalui proses revolusioner, kaum anarkis mengusulkan agar eksploitasi ekonomi kapitalis digantikan dengan sosialisasi (kolektivisasi) kepemilikan pribadi, dominasi politik Negara digantikan dengan swa-pemerintahan yang demokratis, dominasi ideologi dan budaya agama, pendidikan, dan–yang paling terbaru–media, digantikan dengan budaya swakelola. Maka, ia berarti kritik atas dominasi secara umum, dengan penekanan pada dominasi kelas, dan sebuah komitmen untuk meluaskan manajemen mandiri. Lihat Felipe Corrêa, Bandeira negra: rediscutindo o anarquismo.

[22] Mikhail Bakunin, A política da Internacional, pp. 67-69.

[23] Ibid., pp. 42-43.

[24] Posisi ini bukan berarti membela “apolitisme”, namun sebuah konsepsi bahwa gerakan massa sebaiknya tidak boleh menjadi subordinasi atau terkait dengan posisi politis-doktrinal tertentu. Dengan demikian serikat buruh “Anarkis” yang revolusioner–seperti dalam model anarkosindikalis, misalnya–cenderung mengasingkan pekerja yang memiliki keyakinan atau gagasan lain. Pertimbangannya adalah bahwa gerakan rakyat mesti mencakup posisi politik-doktrinal yang berbeda-beda dan bahwa posisi politik tidak boleh mensubordinasi gerakan rakyat. Bakunin dan kaum sindikalis revolusioner, anarkis atau bukan, percaya bahwa gerakan rakyat harus mengorganisir di seputar bendera-bendera konkret yang menyatukan pekerja, tanpa tautan terprogram dengan doktrin politik atau agama tertentu. Di sisi lain, perdebatan antar posisi-posisi politik yang berbeda justru harus terjadi dalam gerakan, meskipun tanpa bertujuan untuk menciptakan, misalnya, serikat pekerja komunis atau serikat pekerja katolik, dll. Di dalam serikat pekerja harus ada semua pekerja yang mau berjuang, terlepas dari posisi politik atau keyakinan agama mereka. (Felipe Corrêa, “Anarquismo e sindicalismo revolucionário”).

[25] Mikhail Bakunin, A política da Internacional, pp. 54-56.

[26] Mikhail Bakunin, “Aux compagnons de la Fédération des sections internationales du Jura”.

[27] Berdasarkan diskusi klasik tentang “model partai”, usulan Bakunin untuk organisasi politik menyiratkan sebuah model “partai kader” yang tidak bersaing untuk pemilu dan yang berada dalam gerakan rakyat sebagai bidang aksinya. Organisasi ini mengutamakan kualitas anggota dibandingkan jumlah anggota, serta memiliki kriteria seleksi dan penerimaan yang ketat, berbeda dengan “partai massa” yang mengutamakan kuantitas dan kriteria partisipasinya sangat luas sehingga secara umum siapapun dapat bergabung.

[28] Mikhail Bakunin, “Letter to Morago (May 21st, 1872)”.

[29] Ada dua perbedaan mendasar antara teori organisasi Bakunin dan teori organisasi yang dikembangkan Lenin bertahun-tahun setelahnya. Pertama, terkait internal organisasi. Partai Bakuninis bersifat federalis dan keputusan diambil secara kolektif, dari bawah ke atas, dengan cara yang demokratis dan swakelola, sementara partai Leninis mengadopsi sentralisme demokratis, yaitu basis diajak berkonsultasi namun keputusan dibuat oleh kepemimpinan, dari atas ke bawah, dari kubah hirarkis ke basis-basisnya yang wajib mematuhi. Perbedaan mendasar kedua terletak pada hubungan antara partai dan gerakan massa. Partai Bakuninis mempertahankan tindakan-tindakan saling mengisi antara partai dan gerakan massa, tanpa hirarki atau dominasi apapun oleh partai, partai berfungsi untuk memperkuat kepemimpinan di dalam gerakan massa karena ada keyakinan bahwa massa harus bertanggung jawab atas transformasi sosial yang revolusioner. Di sisi lain, partai Leninis membangun hirarki antara partai dan gerakan, partai berdiri di atas rakyat, di mana ia menjalankan relasi dominasi. Bagi partai Bakuninis, agen transformasi revolusioner adalah gerakan massa. Sedangkan bagi partai Leninis, gerakan massa hanya mampu melakukan perjuangan jangka pendek dan partai harus memberi mereka kapasitas jangka panjang dan memimpin transformasi itu sendiri.

[30] Jack Grancharoff, Anarquismo búlgaro em armas: a linha de massas anarco-comunista, p. 7.

[31] Ibid., p. 9.

[32] Ibid., p. 16.

[33] Dielo Trudá, “Plataforma Organizacional dos Comunistas Libertários”, 1926.

[34] Jack Grancharoff, Anarquismo búlgaro em armas: a linha de massas anarco-comunista, pp. 23-25.

[35] Ibid., p. 33.

[36] Ibid., p. 36.

[37] Ibid., p. 42.

[38] Federation of Anarchist Communists of Bulgaria (FAKB), “Plataforma da Federação dos Anarco-comunistas da Bulgária”, pp. 61-62.

[39] Ibid., pp. 63-64.

[40] Ibid., pp. 64-65.


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee.