#title Insureksi yang Akan Datang #author Invisible Committee #LISTtitle I #date 2007 #source [[https://archive.org/details/the-coming-insurrection_20260226][Archipelago Anarchist Archive]] #lang id #pubdate 2026-10-28T12:31:54 #authors Invisible Committee #translator Anonim #publication Perhaps Publishing #publicationdate 2026 #topics Komunisasi #language Indonesia #notes Diterbitkan di Indonesia oleh Perhaps Publishing, serta diditribusikan oleh Blackzoneafotia. Cetakan pertama, Februari 2026. Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Agung Bagol (A[l]ttext Syndicate). Edisi bahasa Inggris The Coming Insurrection karya (Insureksi yang Akan Datang—di-Indonesiakan oleh pengunggah) karya The Invisible Committee ini diterbitkan oleh Semiotext(e), Los Angeles, tahun 2009. Buku tersebut merupakan terjemahan dari karya yang aslinya berbahasa Prancis berjudul L'Insurrection gui vient, yang pertama kali diterbitkan oleh Editions La Fabrigue, Paris, tahun 2007.
***
Buku yang kini berada di tangan Anda telah menjadi bukti utama dalam kasus anti-terorisme di Prancis yang diarahkan terhadap sembilan individu—yang ditangkap pada 11 November 2008, sebagian besar di desa Tarnac. Mereka dituduh melakukan “persekongkolan kriminal untuk tujuan aktivitas teroris” dengan dasar dugaan keterlibatan dalam sabotase jaringan listrik pada jalur kereta api nasional Prancis. Meskipun hanya sedikit bukti tidak langsung yang diajukan terhadap kesembilan orang tersebut, Menteri Dalam Negeri Prancis secara terbuka mengaitkan mereka dengan ancaman yang sedang muncul dari sebuah gerakan yang disebut “Ultra-kiri”, seraya secara khusus menyoroti buku ini—yang digambarkan sebagai “manual terorisme”—dan menuduh mereka sebagai penulisnya. Teks berikut merupakan isi buku tersebut, yang didahului oleh pernyataan pertama Komite Tak Terlihat (Invisible Committee) sejak penangkapan tersebut. ** SEBUAH KLARIFIKASI Semua orang sepakat: sesuatu akan segera meledak. Hal ini diakui dengan raut wajah serius dan penuh kepentingan di lorong-lorong Majelis, sebagaimana kemarin ia diulang di kafe-kafe. Ada semacam kenikmatan tersendiri dalam menghitung risiko. Sekarang, kita telah disodorkan sebuah daftar rinci langkah-langkah pencegahan untuk mengamankan wilayah. Perayaan Tahun Baru pun mengambil arah yang menentukan—“tahun depan tidak akan ada tiram[1], nikmatilah selagi masih ada!”. Untuk mencegah agar perayaan tersebut tidak sepenuhnya tertutupi oleh kekacauan yang lazim terjadi, sebanyak 36.000 polisi dan 16 helikopter dikerahkan oleh Alliot-Marie[2]—figur badut yang sama—yang, selama demonstrasi pelajar tingkat menegah pada bulan Desember, dengan gugup mengawasi tanda sekecil apa pun dari “kontaminasi Yunani”[3], sembari menyiagakan aparatus kepolisian untuk berjaga-jaga. Setiap hari, kita dapat semakin jelas menangkap—di balik dengung menenangkan itu—bunyi persiapan menuju perang terbuka. Mustahil untuk mengabaikan pelaksanaannya yang dingin dan pragmatis, yang bahkan tidak lagi bersusah payah menampilkan dirinya sebagai sebuah operasi “pemulihan ketertiban”. Surat kabar dengan penuh ketekunan menyusun daftar sebab-sebab dari kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Tentu saja ada krisis finansial, dengan lonjakan pengangguran yang menyertainya, bagian yang tak terpisahkan dari keputusasaan dan berbagai rencana sosial, serta skandal Kerviel dan Madoff[4]. Ada pula kegagalan sistem pendidikan, dengan produksi tenaga kerja dan warga negara yang kian menyusut, bahkan ketika anak-anak kelas menengah dija-dikan sebagai bahan baku utamanya. Selain itu, terdapat keberadaan suatu generasi muda yang tidak memiliki korespondensi dengan representasi politik mana pun—sebuah generasi yang, menurut narasi dominan, tampaknya hanya berguna untuk merusak sepeda-sepeda gratis yang dengan begitu tekun disediakan oleh masyarakat bagi mereka. Tak satu pun dari persoalan yang mengkhawatirkan ini seharusnya tampak tak teratasi di era di mana modus pemerintahan utama adalah pengelolaan krisis. Namun jika kita perhatikan, yang sedang dihadapi kekuasaan bukan sekadar krisis lain atau masalah kronis yang dapat diperkirakan, melainkan bahaya tunggal: munculnya suatu bentuk konflik beserta posisi-posisinya yang secara eksplisit tak dapat dikelola. Mereka yang, di berbagai tempat, membentuk bahaya, harus mengajukan pertanyaan yang melampaui soal-soal remeh mengenai sebab-sebab, ataupun probabilitas dari gerak dan konfrontasi yang dianggap niscaya. Yang perlu ditanyakan adalah, misalnya, Bagaimana kekacauan di Yunani beresonansi dalam situasi Prancis. Sebuah pemberontakan di sini tidak dapat menjadi sekadar pemindahan langsung dari apa yang terjadi di sana. Perang sipil global tetap memiliki kekhususankekhususan lokalnya. Di Prancis, suatu situasi kerusuhan yang bersifat menyeluruh akan memicu sebuah ledakan dengan corak yang berbeda. Para perusuh di Yunani berhadapan dengan sebuah negara yang lemah, sembari mampu memanfaatkan dukungan popular yang kuat. Tidak boleh dilupakan bahwa hanya tiga puluh tahun sebelumnya, demokrasi di Yunani terbentuk kembali justru melalui praktik kekerasan politik dalam perlawanan terhadap Rezim Para Kolonel. Kekerasan ini–yang ingatannya belum terlalu jauh–masih tampak bersifat intuitif bagi sebagian besar warga Yunani. Bahkan para pemimpin Partai Sosialis pun, pada masa mudanya, pernah melempar satu atau dua bom molotov. Namun, politik klasik memiliki beragam varian yang sangat memahami bagaimana cara mengakomodasi praktik-praktik semacam ini, sekaligus menyebarkan sampah ideologisnya hingga ke jantung kerusuhan itu sendiri. Jika pertempuran di Yunani tidak diputuskan dan dihentikan di jalanan–polisi secara kasat mata berada dalam posisi terdesak–hal itu terjadi karena proses penetralannya dimainkan di tempat lain. Tidak ada yang lebih menguras tenaga, tidak ada yang lebih mematikan, daripada politik klasik ini, dengan ritual-ritualnya yang mengering, cara berpikirnya yang tanpa pemikiran, serta dunia kecilnya yang tertutup. Di Prancis, para birokrat sosialis yang paling dielu-elukan tidak pernah lebih dari sekadar cangkang-cangkang mengerut yang memenuhi lorong-lorong Majelis. Di sini, segala sesuatu bersekongkol untuk melenyapkan bahkan bentuk intensitas politik yang paling kecil sekalipun. Ini berarti bahwa selalu mungkin untuk mempertentangkan “warga negara” dengan “pelaku kriminal” melalui suatu operasi kuasi-linguistik[5] yang berjalan seiring dengan operasi-operasi kuasi-militer. Kerusuhan pada November 2005 dan, dalam konteks yang berbeda, gerakan-gerakan sosial pada musim gugur 2007, telah menyediakan sejumlah preseden. Gambaran tentang mahasiswa sayap kanan di Nanterre yang bertepuk tangan ketika polisi mengusir rekan-rekan sekelas mereka memberikan sekilas kecil tentang apa yang disiapkan masa depan. Tak perlu dikatakan lagi bahwa keterikatan orang Prancis pada negara–sebagai penjamin nilai-nilai universal dan benteng terakhir terhadap bencana–merupakan suatu patologi yang sulit untuk dibongkar. Di atas segalanya, ia adalah sebuah fiksi yang tak lagi tahu bagaimana cara mempertahankan dirinya. Para penguasa sendiri semakin memandangnya sebagai beban yang tidak berguna, sebab merekalah yang setidaknya memahami konflik sebagaimana adanya: secara militer. Mereka tidak lagi memiliki keraguan untuk mengerahkan unit elit antiterorisme guna menundukkan kerusuhan, atau untuk “membebaskan” sebuah pusat daur ulang yang diduduki oleh para pekerjanya. Seiring runtuhnya negara kesejahteraan, kita menyaksikan kemunculan konflik kasar antara mereka yang menghendaki ketertiban dan mereka yang tidak. Segala sesuatu yang selama ini berhasil dinonaktifkan oleh politik Prancis, kini sedang melepaskan diri. Politik tersebut tidak akan pernah mampu memproses sepenuhnya apa yang telah direpresinya. Dalam tingkat lanjut dekomposisi sosial, kita dapat mengandalkan gerakan yang akan datang untuk menemukan tarikan napas nihilisme yang diperlukan–tanpa berarti bahwa gerakan itu tidak akan tetap berhadapan dengan batas-batas lainnya. Gerakan-gerakan revolusioner tidak menyebar melalui mekanisme kontaminasi, melainkan melalui resonansi. Sesuatu yang terbentuk di suatu tempat beresonansi dengan gelombang kejut yang dipancarkan oleh sesuatu yang terbentuk di tempat lain. Sebuah tubuh yang beresonansi melakukannya menurut modusnya sendiri. Pemberontakan tidaklah menyerupai wabah atau kebakaran hutan–sebuah proses linear yang menyebar dari satu tempat ke tempat lain setelah percikan awal. Ia justru mengambil bentuk sebuah musik, yang titik-titik fokusnya, meskipun tersebar dalam ruang dan waktu, berhasil memaksakan ritme getaran-getaran mereka sendiri, yang terus memperoleh kepadatan. Hingga pada titik di mana setiap upaya kembali ke keadaan normal tidak lagi diinginkan, bahkan tidak lagi dapat dibayangkan. Ketika kita berbicara tentang Imperium (Empire), yang kita maksud adalah mekanisme-mekanisme kekuasaan yang secara preventif dan bersifat bedah menyesakkan setiap kemungkinan menjadi revolusioner dalam suatu situasi. Dalam pengertian ini, Imperium bukanlah musuh yang berhadapan dengan kita secara frontal. Ia adalah sebuah ritme yang memaksakan dirinya, suatu cara dalam mendistribusikan dan sekaligus menceraiberaikan realitas. Ia bukanlah tatanan dunia, melainkan likuidasi dunia itu sendiri yang muram, berat, dan bercorak militeristik. Yang kami maksud dengan partai kaum pemberontak adalah penggambaran awal dari suatu komposisi yang sepenuhnya lain, sebuah sisi realitas yang lain, yang–dari Yunani hingga banlieue-banlieue[6] Prancis–sedang berupaya menemukan konsistensinya sendiri. Kini telah dipahami secara terbuka bahwa situasi-situasi krisis merupakan sekian banyak peluang bagi restrukturisasi dominasi. Inilah sebabnya mengapa Sarkozy dapat mengumumkan–tanpa tampak terlalu berdusta–bahwa krisis finansial menandai “akhir dari sebuah dunia”, dan bahwa tahun 2009 akan menyaksikan Prancis memasuki sebuah era baru. Sandiwara krisis ekonomi ini dipresentasikan seolah-olah sebagai sesuatu yang baru: seakan-akan kita sedang berada di ambang suatu zaman baru di mana kita semua akan bersatu untuk memerangi ketimpangan dan pemanasan global. Namun bagi generasi kami yang lahir di tengah krisis dan tidak pernah mengenal apa pun selain krisis ekonomi, finansial, sosial, dan ekologis–narasi ini sulit untuk diterima. Mereka tidak akan lagi memperdaya kita dengan putaran retorika lain seperti “sekarang kita mulai dari awal” atau “ini hanya soal mengencangkan ikat pinggang untuk sementara waktu”. Sejujurnya, angka-angka pengangguran yang mencengangkan itu tidak lagi membangkitkan perasaan apa pun dalam diri kami. Krisis telah menjadi sarana pemerintahan, dalam sebuah dunia yang tampaknya hanya dapat bertahan melalui pengelolaan tanpa akhir atas keruntuhannya sendiri. Apa yang diperebutkan dalam perang ini bukanlah beragam cara mengelola masyarakat, melainkan gagasan-gagasan tentang kebahagiaan yang tidak dapat direduksi maupun didamaikan, beserta dunia-dunia yang menyertainya. Kita mengetahuinya, dan demikian pula mereka yang berkuasa. Sisa-sisa kaum militan yang memperhatikan kita–yang jumlahnya kian banyak dan kian mudah dikenali–sibuk mencabuti rambut mereka sendiri dalam upaya menempatkan kita ke dalam sekat-sekat kecil di dalam kepala mereka yang sempit. Mereka merentangkan tangan kepada kita justru untuk lebih mudah mencekik kita, dengan kegagalan-kegagalan mereka, kelumpuhan mereka, serta problematika-problematika mereka yang dungu. Dari pemilu hingga “transisi”, kaum militan tidak akan pernah menjadi apa pun selain sesuatu yang menjauhkan kita–setiap kali sedikit lebih jauh dari–kemungkinan komunisme. Untungnya, kita tidak akan lagi menoleransi pengkhianatan maupun penipuan untuk waktu yang lama. Masa lalu telah memberikan kepada kita terlalu banyak jawaban yang keliru sehingga kita tidak mungkin lagi tidak melihat bahwa kesalahan-kesalahan tersebut justru terletak pada pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Tidak ada keharusan untuk memilih antara fetisisme spontanitas dan kontrol organisasional; antara semboyan “siapa saja boleh bergabung” dari jaringan-jaringan aktivis dan disiplin hierarki; antara bertindak secara putus asa sekarang dan menunggu secara putus asa untuk nanti; antara menangguhkan apa yang seharusnya dihidupi dan diuji atas nama suatu surga yang, semakin lama ditunda, semakin tampak seperti neraka, dan terus memukuli kuda mati berupa keyakinan bahwa menanam wortel saja sudah cukup untuk keluar dari mimpi buruk ini. Organisasi adalah hambatan untuk mengatur diri kita sendiri. Sesungguhnya, tidak ada jurang pemisah antara apa diri kita, apa yang kita lakukan, dan apa yang tengah kita jalani sebagai proses menjadi (becoming). Organisasi–baik politik maupun perburuhan, fasis maupun anarkis–selalu memulai dengan memisahkan, secara praktis, aspek-aspek keberadaan tersebut. Setelah itu, menjadi mudah bagi mereka untuk menampilkan formalisme mereka yang dungu sebagai satu-satunya obat atas pemisahan itu. Mengorganisasi bukanlah memberi struktur pada kelemahan. Ia terutama berarti membentuk ikatan–ikatan-ikatan yang sama sekali tidak netral–ikatan-ikatan yang keras. Tingkat pengorganisasian diukur dari intensitas pembagian–baik yang bersifat material maupun spiritual. Mulai saat ini, mengorganisasi diri secara material demi bertahan hidup berarti sekaligus mengorganisasi diri secara material untuk menyerang. Di mana-mana, suatu gagasan baru tentang komunisme perlu dirumuskan. Di balik bayangbayang bar-bar kecil, di percetakan, rumah-rumah kosong yang diduduki (squat), ladang-ladang, dan gedung-gedung olahraga yang dikuasai, berbagai bentuk keterlibatan dan ketersekongkolan baru sedang dilahirkan. Jalinan-jalinan kebersamaan yang berharga ini tidak boleh dinafikan dari saranasarana yang diperlukan bagi penggelaran kekuatan mereka. Di sinilah terletak potensi revolusioner yang sungguhsungguh dari masa kini. Bentrokan-bentrokan kecil yang kian sering terjadi memiliki kualitas yang menggentarkan: bahwa ia selalu menjadi kesempatan bagi terbentuknya jenis keterhubungan semacam itu–kadang bersifat sementara, namun kadang pula tidak dapat dikhianati. Ketika beberapa ribu anak muda menemukan tekad untuk melancarkan serangan terhadap tatanan sosial yang mapan, seseorang harus benar-benar sebodoh aparat kepolisian untuk masih mencari jejak finansial, seorang pemimpin, atau seorang pengadu. Dua abad kapitalisme pasar telah membawa kita ke keterasingan yang paling ekstrem dari diri kita, dari orang lain, dari dunia. Fiksi individu telah terurai dengan kecepatan yang sama ketika menjadi nyata. Anak-anak kota metropolitan, kami menawarkan taruhan: bahwa dalam perampasan keberadaan yang paling mendalam, terus-menerus tertahan, terus-menerus disulap pergi, bahwa kemungkinan komunisme berada. Pada akhirnya, perang yang kita hadapi adalah perang terhadap keseluruhan suatu antropologi–terhadap gagasan tentang manusia itu sendiri. Dengan demikian, komunisme hadir sekaligus sebagai pranggapan dan sebagai eksperimen. Sebagai pembagian suatu sensibilitas dan sebagai pengolahan atas praktik berbagi itu sendiri. Sebagai penyingkapan atas apa yang bersifat bersama, sekaligus pembangunan suatu kekuatan. Komunisme sebagai matriks dari sebuah serangan yang teliti dan berani terhadap dominasi. Sebagai seruan, dan sebagai nama bagi seluruh dunia yang menolak pendamaian imperialis; bagi seluruh solidaritas yang tak dapat direduksi ke dalam rezim komoditas; bagi seluruh persahabatan yang bersedia memikul keniscayaan perang. Komunisme. Kita tahu, istilah ini harus digunakan dengan kehati-hatian. Bukan karena dalam arak-arakan besar kata-kata ia tak lagi tampak modis. Melainkan karena musuh-musuh terburuk kitalah yang telah menggunakannya, dan terus menggunakannya. Namun kita tetap bersikeras. Sebab ada kata-kata tertentu yang merupakan medan pertempuran itu sendiri: maknanya–entah revolusioner atau reaksioner–adalah sebuah kemenangan yang harus direbut dari rahang pertarungan. Meninggalkan politik klasik berarti berhadapan langsung dengan perang, perang yang juga berlangsung di medan bahasa. Atau lebih tepatnya, pada cara di mana kata-kata, gestur, dan kehidupan terjalin secara tak terpisahkan. Jika begitu banyak energi dicurahkan untuk memenjarakan–dengan cap teroris–sejumlah pemuda komunis yang diduga terlibat dalam penerbitan The Coming Insurrection, itu bukan karena adanya suatu “kejahatan berpikir”, melainkan karena mereka mungkin mewujudkan suatu konsistensi tertentu antara tindakan dan pemikiran. Sesuatu yang nyaris tak pernah ditoleransi dengan kelonggaran. Apa yang dituduhkan kepada orang-orang ini bukanlah bahwa mereka menulis sebuah buku, bahkan bukan pula bahwa mereka secara fisik menyerang arus-arus sakral yang mengairi metropolis. Yang dipersoalkan adalah kemungkinan bahwa mereka telah menghadapkan arus-arus tersebut pada kepadatan suatu pemikiran dan posisi politik. Bahwa suatu tindakan dapat memiliki makna menurut konsistensi dunia yang lain, berbeda dari konsistensi kosong milik Imperium yang telah ditinggalkan. Diskursus anti-terorisme mengklaim sedang menyerang kemungkinan masa depan dari sebuah “asosiasi kriminal”. Namun yang sesungguhnya diserang adalah masa depan dari situasi itu sendiri: kemungkinan bahwa di balik setiap pedagang kecil tersembunyi niat-niat buruk, dan di balik setiap pemikiran terdapat tindakan-tindakan yang dipanggil olehnya. Kemungkinan yang diekspresikan oleh suatu gagasan tentang politik–anonim namun terbuka, tersebar dan tak terkendali–yang tak dapat direduksi begitu saja ke dalam gudang sempit bernama ‘‘kebebasan berekspresi’’. Hampir tak tersisa keraguan bahwa kaum muda akan menjadi pihak pertama yang secara brutal berhadapan dengan kekuasaan. Beberapa tahun terakhir–dari kerusuhan Musim Semi 2001 di Aljazair hingga pemberontakan Desember 2008 di Yunani–hanyalah rangkaian tanda peringatan ke arah itu. Mereka yang tiga atau empat dekade lalu memberontak melawan orang tua mereka sendiri tak akan ragu mereduksinya menjadi sekadar konflik antargenerasi, atau paling jauh sebagai gejala yang dapat diprediksi dari masa remaja. Satu-satunya masa depan dari sebuah “generasi” adalah menjadi generasi sebelumnya–menyusuri jalur yang secara tak terelakkan berujung pada pemakaman. Tradisi politik menghendaki agar segalanya selalu dimulai dari sebuah “gerakan sosial.” Terlebih pada saat ketika kiri–yang bahkan belum selesai membusuk–secara munafik berusaha merebut kembali kredibilitasnya di jalanan. Namun di jalanan, ia tak lagi memonopoli apa pun. Cukup perhatikan bagaimana, dalam setiap mobilisasi pelajar sekolah menengah–sebagaimana dalam segala hal yang masih berani didukung oleh kiri–sebuah jurang terus melebar antara tuntutan-tuntutan mereka yang merengek dan tingkat kekerasan serta determinasi yang ditampilkan oleh gerakan itu sendiri. Dari jurang inilah kita harus membangun sebuah parit. Jika kita menyaksikan rangkaian gerakan yang saling berkejaran, satu demi satu, tanpa meninggalkan jejak yang tampak, tetap harus diakui bahwa ada sesuatu yang bertahan. Sebuah jejak mesiu menghubungkan apa yang, dalam setiap peristiwa, menolak untuk ditangkap oleh temporalitas absurd dari penarikan suatu undang-undang baru, atau dalih-dalih sejenisnya. Dengan tersendat-sendat, menurut ritmenya sendiri, kita melihat sesuatu seperti sebuah kekuatan sedang mengambil bentuk–sebuah kekuatan yang tidak melayani waktunya, melainkan memaksakannya, secara diam-diam. Kini bukan lagi soal meramalkan keruntuhan atau melukiskan kemungkinan-kemungkinan kebahagiaan. Cepat atau lambat, yang dipersoalkan adalah bagaimana mempersiapkannya. Ini bukan persoalan menyediakan skema tentang seperti apa seharusnya sebuah pemberontakan, melainkan mengambil kemungkinan pemberontakan sebagaimana mestinya sejak awal: sebagai dorongan vital kaum muda sekaligus sebagai kebijaksanaan populer. Bila seseorang tahu Bagaimana bergerak, ketiadaan skema bukanlah hambatan, melainkan peluang. Bagi para pemberontak, itulah satu-satunya ruang yang dapat menjamin hal yang esensial: mempertahankan inisiatif. Yang masih harus diciptakan dan dirawat sebagaimana api dirawat–adalah suatu pandangan tertentu, suatu demam taktis tertentu, yang begitu ia muncul, bahkan sejak sekarang, menyingkapkan dirinya sebagai faktor yang menentukan–dan sebagai sumber determinasi yang konstan. Sejumlah pertanyaan telah kembali dihidupkan, pertanyaan yang hingga kemarin mungkin tampak ganjil atau usang; pertanyaanpertanyaan ini harus direbut, bukan untuk dijawab secara final, melainkan agar tetap hidup. Telah mengajukannya kembali bukanlah kebajikan terkecil dari pemberontakan Yunani: Bagaimana situasi kerusuhan yang meluas dapat berubah menjadi situasi insurjensi? Apa yang harus dilakukan ketika jalanan telah dikuasai, ketika polisi telah dipukul mundur secara telak? Apakah parlemen masih layak untuk diserang? Apa makna praktis dari menjatuhkan kekuasaan secara lokal? Bagaimana cara mengambil keputusan? Bagaimana cara bertahan hidup? Bagaimana cara menemukan satu sama lain? —Invisible Committee, Januari 2009 ** INSUREKSI YANG AKAN DATANG Dari sudut pandang mana pun kita mendekatinya, masa kini tidak menawarkan jalan keluar. Justru di situlah salah satu keutamaannya. Kepada mereka yang di atas segalanya mencari harapan, masa kini merenggut setiap pijakan yang kokoh. Mereka yang mengklaim memiliki solusi segera dibantah hampir seketika. Semua orang sepakat bahwa keadaan hanya akan semakin memburuk. “Masa depan tidak memiliki masa depan” adalah kebijaksanaan sebuah zaman yang– di balik penampilannya yang tampak sepenuhnya normal–telah mencapai tingkat kesadaran yang sama dengan para punk generasi pertama. Ranah representasi politik telah berakhir. Dari kiri hingga kanan, yang tampil hanyalah kehampaan yang sama dengan pose seorang kaisar atau penyelamat; para pramuniaga yang sama, menyesuaikan wacana mereka sesuai temuan survei terbaru. Mereka yang masih memilih tampaknya tidak memiliki maksud lain selain menodai kotak suara dengan menjadikan pemilihan sebagai tindakan protes murni. Kita mulai mencurigai bahwa satu-satunya hal yang terus dilawan lewat pemungutan suara adalah pemungutan suara itu sendiri. Tidak satu pun dari apa yang disuguhkan kepada kita memadai bagi situasi ini–bahkan jauh dari memadai. Dalam kebisuannya, rakyat tampak tak terhingga lebih dewasa dibandingkan seluruh boneka-boneka yang saling bertengkar tentang bagaimana cara memerintahnya. Ocehan seorang chibani Belleville[7] mengandung lebih banyak kebijaksanaan daripada seluruh pernyataan para pemimpin yang katanya sah itu. Tutup pada ketel sosial dikencangkan tiga kali lipat, sementara tekanan di dalamnya terus meningkat. Dari Argentina, bayang-bayang Que Se Vayan Todos [8] mulai secara serius menghantui kelas penguasa. Api bulan November 2005 masih berkelip dalam ingatan semua orang. Kobaran pertama yang penuh kegembiraan itu merupakan pembaptisan bagi satu dekade yang sarat janji. Dongeng media tentang “banlieue melawan Republik” mungkin efektif, tetapi apa yang dimenangkannya dalam efektivitas justru hilang dalam kebenaran. Api dinyalakan di pusat-pusat kota, namun berita ini ditekan secara sistematis. Jalan-jalan penuh di Barcelona terbakar dalam solidaritas, tetapi tak seorang pun mengetahuinya kecuali mereka yang tinggal di sana. Bahkan tidak benar bahwa negeri ini telah berhenti terbakar. Di antara mereka yang ditangkap terdapat beragam latar belakang, dengan sedikit kesamaan selain kebencian terhadap masyarakat yang ada–bukan kelas, ras, bahkan bukan lingkungan tempat tinggal. Yang baru bukanlah “pemberontakan banlieue”, sebab hal itu sudah berlangsung sejak tahun 1980-an, melainkan keterputusan dari bentuk-bentuknya yang mapan. Para penyerang ini tidak lagi mendengarkan siapa pun, baik para Big Brother dan Big Sister, maupun organisasi komunitas yang ditugaskan mengawasi kembalinya keadaan normal. Tidak ada “SOS Racism”[9] yang mampu menancapkan akar kankerannya ke dalam peristiwa ini, yang kesimpulan sementaranya hanya dapat dikaitkan dengan kelelahan, pemalsuan, dan omertà media[10]. Rangkaian vandalisme malam hari dan serangan anonim–kehancuran tanpa kata-kata–telah memperlebar jurang antara politik dan yang politis. Tidak seorang pun dapat dengan jujur menyangkal yang sudah jelas: ini adalah serangan tanpa tuntutan, ancaman tanpa pesan, dan sama sekali tidak berkaitan dengan “politik”. Hanya mereka yang menutup mata terhadap gerakan pemuda otonom selama tiga puluh tahun terakhir yang gagal melihat karakter politis murni dari penyangkalan politik yang tegas ini. Seperti anak-anak tersesat, kami merusak pernak-pernik berharga dari sebuah masyarakat yang tidak layak mendapatkan lebih banyak penghormatan daripada monumen-monumen Paris di akhir Pekan Berdarah[11]–dan masyarakat itu mengetahuinya. Tidak akan ada solusi sosial bagi situasi sekarang. Pertama, karena agregat kabur dari berbagai lingkungan sosial, institusi, dan gelembung-gelembung terindividualisasi yang– dengan sedikit anti-frasis–disebut “masyarakat”, tidak memiliki konsistensi. Kedua, karena tidak lagi terdapat bahasa bagi pengalaman bersama. Kita tidak dapat berbagi kekayaan jika kita tidak berbagi bahasa. Dibutuhkan setengah abad perjuangan seputar Pencerahan untuk memungkinkan Revolusi Prancis, dan satu abad perjuangan seputar kerja untuk melahirkan “negara kesejahteraan” yang menakutkan itu. Perjuanganlah yang menciptakan bahasa tempat sebuah tatanan baru mengekspresikan dirinya. Namun hari ini, tidak ada hal semacam itu. Eropa kini adalah sebuah benua bangkrut yang diam-diam berbelanja di toko diskon dan harus menggunakan maskapai murah jika ingin bepergian. Tidak satu pun “masalah” yang dibingkai dalam istilah sosial mengakui adanya solusi. Persoalan “pensiun”, “keamanan kerja”, “kaum muda” dan “kekerasan” mereka hanya dapat ditahan dalam keadaan menggantung, sementara situasi yang ditutupi oleh kata-kata ini terus diawasi polisi untuk mendeteksi tanda-tanda kerusuhan lanjutan. Tidak ada apa pun yang dapat menjadikan prospek membersihkan pantat para pensiunan dengan upah minimum sebagai sesuatu yang menarik. Mereka yang menemukan lebih sedikit penghinaan dan lebih banyak keuntungan dalam kehidupan kriminal dibandingkan menyapu lantai tidak akan menyerahkan senjata mereka, dan penjara tidak akan mengajarkan mereka mencintai masyarakat. Pemotongan dana pensiun bulanan akan merusak kesenangan putus asa dari gerombolan pensiunan, membuat mereka mendidih dan menggerutu tentang penolakan untuk bekerja di kalangan pemuda yang semakin luas. Dan akhirnya, tidak ada jaminan pendapatan yang diberikan sehari setelah sebuah hampir-pemberontakan yang mampu meletakkan fondasi bagi sebuah New Deal baru, sebuah pakta baru, sebuah perdamaian baru. Perasaan sosial telah terlalu menguap untuk itu. Sebagai solusi semu, tekanan untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa–bersama dengan pengawasan polisi atas wilayah–hanya akan semakin meningkat. Drone tanpa awak yang terbang di atas Seine-Saint-Denis[12] pada 14 Juli lalu–sebagaimana kemudian dikonfirmasi oleh polisi–menyajikan gambaran masa depan yang jauh lebih nyata dibandingkan semua proyeksi humanistik yang kabur. Fakta bahwa mereka dengan hati-hati meyakinkan kita bahwa drone tersebut tidak bersenjata memberikan indikasi yang jelas tentang jalan yang sedang kita tempuh. Wilayah akan dipartisi ke dalam zonazona yang semakin terbatas. Jalan raya yang dibangun mengitari batas “lingkungan bermasalah” telah membentuk temboktembok tak kasat mata yang memisahkan kawasan-kawasan tersebut dari permukiman kelas menengah. Apa pun yang dipikirkan para pembela Republik, pengendalian lingkungan “oleh komunitas” secara nyata merupakan sarana paling efektif yang tersedia. Bagian-bagian negeri yang murni metropolitan–pusat-pusat kota utama–akan melanjutkan kehidupan mewah mereka dalam dekonstruksi yang semakin licik, semakin canggih, semakin berkilau. Mereka akan menerangi seluruh planet dengan cahaya neon yang menyilaukan, sementara patroli BAC[13] dan perusahaan keamanan swasta (yakni unit paramiliter) berlipat ganda di bawah payung perlindungan yudisial yang kian tak tahu malu. Kebuntuan masa kini, yang tampak di mana-mana, juga disangkal di mana-mana. Tidak akan pernah kekurangan psikolog, sosiolog, dan penulis bayaran sastra yang mencurahkan diri pada kasus ini, masing-masing dengan jargon khusus mereka, yang justru secara khas tanpa kesimpulan. Cukup mendengarkan lagu-lagu zaman–“alt-folk” dungu tempat kaum borjuis kecil membedah keadaan jiwa mereka, berdampingan dengan deklarasi perang dari Mafia K’1 Fry[14]–untuk mengetahui bahwa suatu bentuk koeksistensi tertentu akan segera berakhir, bahwa sebuah keputusan sudah dekat. Buku ini ditandatangani atas nama sebuah kolektif imajiner. Para editornya bukanlah para pengarangnya. Mereka hanya merasa cukup untuk memperkenalkan sedikit keteraturan ke dalam klise-klise zaman kita, dengan mengumpulkan gumaman-gumaman di sekitar meja bar dan di balik pintu kamar tidur yang tertutup. Mereka tidak melakukan apa-apa selain meletakkan beberapa kebenaran yang perlu, yang represi universal atasnya memenuhi rumah sakit jiwa dengan pasien, dan mata dengan rasa sakit. Mereka menjadikan diri mereka juru tulis situasi. Ciri istimewa dari keadaan-keadaan radikal adalah bahwa penerapan logika secara ketat mengarah pada revolusi. Cukup dengan mengatakan apa yang ada di depan mata kita dan tidak menghindar dari kesimpulan-kesimpulannya. ** Lingkaran Pertama *** "AKU ADALAH APA ADANYA" AKU ADALAH APA ADANYA. Inilah persembahan terbaru pemasaran kepada dunia, tahap akhir dalam perkembangan periklanan, melampaui seluruh seruan untuk menjadi berbeda, menjadi diri sendiri, dan minum Pepsi. Puluhan tahun konsep digerakkan untuk sampai pada titik ini, untuk tiba pada tautologi murni. Aku = Aku. Ia berlari di atas treadmill di depan cermin di pusat kebugarannya. Ia pulang dari kerja, di balik kemudi mobil Smartnya. Akankah mereka bertemu? “AKU ADALAH APA ADANYA.” Tubuhku adalah milikku. Aku adalah aku, kamu adalah kamu, dan ada sesuatu yang keliru. Personalisasi massal. Individualisasi seluruh kondisi kehidupan, kerja, dan kesengsaraan. Skizofrenia yang menyebar. Depresi yang merajalela. Atomisasi menjadi partikel-partikel paranoiak yang halus. Histerisasi kontak sosial. Semakin aku ingin menjadi diriku, semakin aku merasakan kehampaan. Semakin aku mengekspresikan diriku, semakin aku terkuras. Semakin aku mengejar diriku sendiri, semakin aku kelelahan. Kita berpegang pada diri kita seperti jabatan kerja yang diidamkan. Kita telah menjadi wakil bagi diri kita sendiri dalam suatu perdagangan yang aneh, penjamin personalisasi yang pada akhirnya terasa jauh lebih menyerupai amputasi. Kita mengasuransikan diri kita hingga titik kebangkrutan, dengan kecanggungan yang kurang lebih terselubung. Sementara itu, aku bertahan. Pencarian akan diri, blogku, apartemenku, sampah mode terbaru, drama relasi, siapa meniduri siapa… prostesis apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan sebuah “Aku”! Jika “masyarakat” tidak telah menjadi abstraksi yang begitu definitif, maka ia akan menunjuk pada seluruh tongkat penyangga eksistensial yang memungkinkan aku terus terseret hidup, keseluruhan ketergantungan yang telah kukontrak sebagai harga bagi identitasku. Penyandang disabilitas adalah model warga negara masa depan. Bukan tanpa pandangan ke depan, asosiasi-asosiasi yang hari ini mengeksploitasi mereka menuntut agar mereka diberikan “pendapatan subsistensi”. Perintah, di mana-mana, untuk “menjadi seseorang” mempertahankan keadaan patologis yang membuat masyarakat ini menjadi perlu. Perintah untuk menjadi kuat menghasilkan kelemahan yang justru menopang keberlangsungannya, sehingga segala sesuatu tampak mengambil karakter terapeutik– bahkan bekerja, bahkan cinta. Semua sapaan “bagaimana kabarnya?” yang kita pertukarkan memberi kesan sebuah masyarakat yang tersusun dari para pasien yang saling mengukur suhu tubuh satu sama lain. Sosiabilitas kini terdiri dari seribu ceruk kecil, seribu tempat perlindungan kecil, tempat kita dapat berlindung. Tempat yang selalu terasa lebih baik daripada dingin pahit di luar. Tempat di mana segala sesuatu palsu, sebab semuanya hanyalah dalih untuk saling menghangatkan diri. Tempat di mana tidak ada apa pun dapat terjadi, sebab kita semua terlalu sibuk menggigil diam-diam bersama. Segera masyarakat ini hanya akan dipertahankan oleh tegangan semata dari seluruh atom sosial yang menegang menuju penyembuhan ilusif. Ia adalah sebuah pembangkit tenaga yang menggerakkan turbin-turbinnya dengan reservoir raksasa air mata yang tak pernah tertumpahkan, selalu berada di ambang meluap. “AKU ADALAH APA ADANYA.” Tidak pernah dominasi menemukan slogan yang terdengar sedemikian polos. Pemeliharaan diri dalam keadaan kemerosotan permanen, dalam keadaan kronis hampir runtuh, merupakan rahasia paling terjaga dari tatanan masa kini. Diri yang lemah, depresi, mengkritik diri, dan virtual pada dasarnya adalah subjek yang dapat beradaptasi tanpa akhir, yang diperlukan oleh inovasi produksi yang tak henti-hentinya, keusangan teknologi yang dipercepat, pembalikan norma sosial yang konstan, serta fleksibilitas yang digeneralisasi. Ia sekaligus konsumen paling rakus dan–secara paradoks–diri yang paling produktif, yang dengan paling antusias dan energik akan melemparkan dirinya ke dalam proyek sekecil apa pun, hanya untuk kemudian kembali ke keadaan larva asalnya. “LALU, APAKAH AKU?” Sejak masa kanak-kanak, aku telah melewati aliran susu, aroma, cerita, suara, emosi, lagu nina bobo, zat-zat, gestur, gagasan, impresi, tatapan, nyanyian, dan makanan. Apakah aku? Terikat dalam segala cara dengan tempat, penderitaan, leluhur, sahabat, cinta, peristiwa, bahasa, ingatan, dan berbagai hal lain yang jelas bukan aku. Segala sesuatu yang mengikatku pada dunia, seluruh relasi yang membentukku, seluruh kekuatan yang menyusunku tidak membentuk identitas–sebuah benda yang dapat dipamerkan kapan saja–melainkan suatu eksistensi hidup yang singular sekaligus berbagi, dari mana–pada waktu dan tempat tertentu–muncul makhluk yang mengatakan “Aku”. Perasaan ketidakkonsistenan kita semata-mata merupakan konsekuensi dari keyakinan bodoh akan permanensi diri serta kurangnya perhatian kita terhadap apa yang menjadikan kita sebagaimana adanya. Sungguh memusingkan melihat slogan Reebok “AKU ADALAH APA ADANYA” bertakhta di puncak sebuah pencakar langit Shang-hai. Barat di mana-mana menggelar kuda Troya favoritnya: antinomi menjengkelkan antara diri dan dunia, individu dan kelompok, antara keterikatan dan kebebasan. Kebebasan bukanlah tindakan melepaskan keterikatan kita, melainkan kapasitas praktis untuk mengolahnya, bergerak di dalam ruangnya, membentuk atau melarutkannya. Keluarga hanya ada sebagai keluarga–yakni sebagai neraka–bagi mereka yang telah berhenti berusaha mengubah mekanismemekanisme melumpuhkannya, atau tidak tahu bagaimana melakukannya. Kebebasan untuk mencabut diri dari akar selalu merupakan kebebasan yang bersifat fantasmatis. Kita tidak dapat menyingkirkan apa yang mengikat kita tanpa sekaligus kehilangan sesuatu yang justru menjadi tempat penerapan kekuatan kita. “AKU ADALAH APA ADANYA,” dengan demikian, bukan sekadar kebohongan, bukan sekadar kampanye periklanan, melainkan sebuah kampanye militer, seruan perang yang diarahkan melawan segala sesuatu yang ada di antara makhluk-makhluk, melawan segala sesuatu yang beredar secara tak terbedakan, segala sesuatu yang secara tak terlihat menghubungkan mereka, segala sesuatu yang mencegah kehampaan total, melawan segala sesuatu yang membuat kita ada, dan yang memastikan agar seluruh dunia tidak di mana-mana menyerupai jalan tol, taman hiburan, atau kota baru: kebosanan murni, tanpa gairah namun tertata rapi, ruang kosong dan beku, tempat tak ada yang bergerak selain tubuh-tubuh yang terdaftar, mobil-mobil molekuler, dan komoditas-komoditas ideal. Prancis tidak akan menjadi negeri pil kecemasan seperti sekarang, surga antidepresan, Mekkah neurosis, jika ia bukan pula juara produktivitas per jam di Eropa. Penyakit, kelelahan, depresi, dapat dipandang sebagai gejala individual dari sesuatu yang perlu disembuhkan. Semua itu berkontribusi pada pemeliharaan tatanan yang ada, pada penyesuaian patuhku terhadap norma-norma bodoh, dan pada modernisasi tongkat penyanggaku. Semua itu menentukan seleksi kecenderungan-kecenderunganku yang oportun, patuh, dan produktif, serta kecenderungan yang harus disingkirkan secara halus. “Tidak pernah terlambat untuk berubah, kamu tahu.” Namun jika dipahami sebagai fakta, kegagalanku juga dapat mengarah pada pembongkaran hipotesis tentang diri. Ia kemudian menjadi tindakan perlawanan dalam perang yang sedang berlangsung. Ia menjadi pemberontakan dan kekuatan melawan segala sesuatu yang bersekongkol untuk menormalkan kita, untuk mengamputasi kita. Diri bukanlah sesuatu di dalam diri kita yang sedang berada dalam krisis; ia adalah bentuk yang hendak mereka capkan kepada kita. Mereka ingin menjadikan diri kita sesuatu yang terdefinisi tajam, terpisah, dapat diukur berdasarkan kualitas, dapat dikendalikan, padahal kita adalah makhluk di antara makhluk lain, singularitas di antara yang serupa, daging hidup yang menenun daging dunia. Bertentangan dengan apa yang terus-menerus diajarkan kepada kita sejak kecil, kecerdasan bukan berarti mengetahui bagaimana beradaptasi–atau jika itu suatu bentuk kecerdasan, maka ia adalah kecerdasan para budak. Ketidakmampuan kita untuk beradaptasi, kelelahan kita, hanyalah masalah dari sudut pandang apa yang berupaya menaklukkan kita. Ia justru menunjukkan titik keberangkatan, titik pertemuan, bagi berbagai ketersekongkolan baru. Ia menyingkap lanskap yang lebih rusak, namun jauh lebih dapat dibagikan daripada seluruh negeri fantasi yang dipertahankan masyarakat ini demi tujuannya. Kita tidak depresi; kita sedang mogok. Bagi mereka yang menolak mengelola diri mereka sendiri, “depresi” bukanlah suatu keadaan melainkan suatu lintasan, suatu pengunduran diri, suatu gerakan menyamping menuju disafiliasi politik. Sejak saat itu, medikasi dan polisi menjadi satu-satunya bentuk rekonsiliasi yang mungkin. Inilah sebabnya masyarakat masa kini tidak ragu memaksakan Ritalin kepada anak-anak yang terlalu aktif, atau mengikat orang dalam ketergantungan farmasi seumur hidup, dan mengklaim mampu mendeteksi “gangguan perilaku” sejak usia tiga tahun. Sebab di mana-mana hipotesis tentang diri mulai retak. ** Lingkaran Kedua *** "HIBURAN ADALAH KEBUTUHAN VITAL" Sebuah pemerintahan yang menyatakan keadaan darurat terhadap anak-anak berusia lima belas tahun. Sebuah negara yang berlindung dalam pelukan sebuah tim sepak bola. Seorang polisi di ranjang rumah sakit, mengeluhkan dirinya sebagai korban “kekerasan.” Seorang anggota dewan kota mengeluarkan dekret yang melarang pembangunan rumah pohon. Dua anak berusia sepuluh tahun, di Chelles, didakwa membakar arena permainan video. Zaman ini unggul dalam suatu situasi grotesk tertentu yang tampaknya selalu luput dari kesadarannya sendiri. Kenyataannya, nada meratap dan penuh kemarahan dari media berita tidak mampu membungkam ledakan tawa yang menyambut tajuk-tajuk semacam ini. Ledakan tawa adalah satu-satunya respons yang pantas terhadap seluruh “persoalan” serius yang diajukan para analis berita. Ambil yang paling banal: tidak ada “persoalan imigrasi.” Siapa yang masih tumbuh di tempat kelahirannya? Siapa yang tinggal di tempat ia dibesarkan? Siapa yang bekerja di tempat ia tinggal? Siapa yang hidup di tempat para leluhurnya hidup? Dan anak-anak zaman ini milik siapa–televisi atau orang tua mereka? Kenyataannya, kita telah sepenuhnya tercerabut dari segala bentuk kebermilikan, kita tidak lagi berasal dari mana pun, dan akibatnya, selain kecenderungan baru menuju pariwisata, adalah penderitaan yang tak terbantahkan. Sejarah kita adalah sejarah kolonisasi, migrasi, perang, pengasingan, penghancuran seluruh akar. Ia adalah kisah tentang segala sesuatu yang telah menjadikan kita orang asing di dunia ini, tamu di dalam keluarga kita sendiri. Kita telah diekspropriasi dari bahasa kita sendiri oleh pendidikan, dari lagu-lagu kita oleh kompetisi televisi realitas, dari tubuh kita oleh pornografi massal, dari kota kita oleh polisi, dan dari sahabat kita oleh kerja upahan. Pada semua itu harus ditambahkan, dalam konteks Prancis, kerja individualisasi yang ganas dan sekuler oleh kekuasaan negara, yang mengklasifikasikan, membandingkan, mendisiplinkan, dan memisahkan subjek-subjeknya sejak usia sangat muda, yang secara naluriah menggiling setiap solidaritas yang luput darinya hingga tidak tersisa apa pun selain kewarganegaraan–rasa memiliki yang murni fantasmatis terhadap Republik. Orang Prancis, lebih dari siapa pun, adalah perwujudan dari mereka yang terampas, yang tercerabut. Kebenciannya terhadap orang asing berakar pada kebenciannya terhadap dirinya sendiri sebagai orang asing. Campuran kecemburuan dan ketakutan yang ia rasakan terhadap cités[15] tidak mengekspresikan apa pun selain resentimen terhadap segala hal yang telah direnggut darinya. Ia tidak dapat menahan rasa iri terhadap lingkungan yang disebut “bermasalah” itu, tempat masih bertahan sedikit kehidupan komunal, beberapa ikatan antarmanusia, solidaritas yang tidak dikendalikan negara, ekonomi informal, dan organisasi yang belum sepenuhnya terlepas dari mereka yang mengorganisasikannya. Kita telah mencapai titik kekurangan sedemikian rupa sehingga satu-satunya cara untuk merasa sebagai orang Prancis adalah dengan mengutuk para imigran dan mereka yang tampak lebih asing. Di negeri ini, para imigran menempati posisi kedaulatan yang ganjil: jika mereka tidak ada, orang Prancis mungkin berhenti eksis. Prancis adalah produk dari sekolah-sekolahnya, bukan sebaliknya. Kita hidup di negeri yang sangat skolastik, di mana kelulusan ujian dikenang sebagai semacam ritus peralihan hidup. Di mana para pensiunan masih menceritakan kegagalan mereka, empat puluh tahun sebelumnya, dalam suatu ujian tertentu, dan bagaimana hal itu merusak seluruh karier, seluruh kehidupan mereka. Selama satu setengah abad, sistem sekolah nasional telah memproduksi tipe subjektivitas kenegaraan yang menonjol di antara yang lain. Orang-orang yang menerima kompetisi dengan syarat medan permainannya setara. Yang mengharapkan dalam hidup bahwa setiap orang diberi penghargaan seperti dalam sebuah kontes, sesuai dengan meritnya. Yang selalu meminta izin sebelum mengambil. Yang secara diam-diam menghormati budaya, aturan, dan mereka yang memiliki nilai terbaik. Bahkan keterikatan mereka pada para intelektual kritis besar dan penolakan mereka terhadap kapitalisme ditandai oleh kecintaan pada sekolah. Konstruksi subjektivitas oleh negara inilah yang kini runtuh, sedikit demi sedikit setiap hari, seiring kemunduran institusi skolastik. Kemunculan kembali, selama dua puluh tahun terakhir, sekolah jalanan dan budaya jalanan–yang bersaing dengan sekolah republik dan kebudayaan kartonnya–merupakan trauma paling mendalam yang sedang dialami universalisme Prancis. Dalam hal ini, sayap kanan ekstrem telah berdamai dengan kiri paling radikal. Namun, nama Jules Ferry–Menteri Thiers saat penindasan Komune dan teoretikus kolonisasi–sudah seharusnya cukup untuk membuat institusi ini patut dicurigai.[16] Ketika kita melihat guru-guru dari suatu “komite kewaspadaan warga” tampil di berita malam sambil meratap karena sekolah mereka dibakar seseorang, kita teringat berapa kali, sebagai anak-anak, kita bermimpi melakukan hal yang sama. Ketika kita mendengar seorang intelektual kiri mengoceh tentang barbarisme kelompok anak-anak yang mengganggu pejalan kaki, mencuri di toko, membakar mobil, dan bermain kejar-kejaran dengan polisi antihuru-hara, kita teringat apa yang mereka katakan tentang para greasers pada tahun 1950- an atau, lebih baik lagi, para apaches pada masa Belle Époque: “Nama generik apaches,” tulis seorang hakim di tribunal Seine pada 1907, “selama beberapa tahun terakhir telah digunakan untuk menyebut semua individu berbahaya, musuh masyarakat, tanpa bangsa atau keluarga, pembelot dari segala kewajiban, siap untuk konfrontasi paling berani dan segala bentuk serangan terhadap orang dan properti.” Genggeng yang melarikan diri dari kerja, yang mengadopsi nama lingkungan mereka, dan menghadapi polisi adalah mimpi buruk warga Prancis yang baik dan terindividualisasi: mereka mewujudkan segala sesuatu yang telah ia lepaskan, seluruh kegembiraan yang tidak akan pernah ia alami. Ada sesuatu yang tidak sopan dalam sekadar ada di sebuah negeri di mana seorang anak yang bernyanyi sesuka hatinya pasti dibungkam dengan “diam, nanti kamu membuat keributan,” di mana kastrasi skolastik melepaskan banjir pekerja yang dipolisi. Aura yang tetap melekat pada Mesrine[17] lebih sedikit berkaitan dengan integritas dan keberaniannya daripada dengan fakta bahwa ia mengambil alih tugas membalas sesuatu yang seharusnya kita semua balas. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang seharusnya kita balas secara langsung, sementara kita terus ragu dan menundanya tanpa akhir. Karena tidak diragukan lagi bahwa dalam seribu cara tak terlihat dan terselubung, dalam berbagai komentar memfitnah, dalam setiap ekspresi kecil penuh dengki dan kesopanan beracun, orang Prancis terus membalas, secara permanen dan terhadap semua orang, kenyataan bahwa ia telah menyerah untuk diinjak-injak. Sudah saatnya “fuck the police!” menggantikan “ya, pak polisi!” Dalam arti ini, permusuhan tanpa nuansa dari beberapa geng hanya mengekspresikan, dengan cara yang sedikit kurang teredam, atmosfer beracun, semangat membusuk, hasrat akan kehancuran penyelamat di mana negeri ini sepenuhnya tenggelam. Menyebut populasi orang asing di tengah-tengah mana kita hidup sebagai “masyarakat” merupakan suatu perampasan makna yang begitu besar sehingga bahkan para sosiolog bermimpi meninggalkan konsep yang selama satu abad menjadi sumber nafkah mereka. Kini mereka lebih memilih metafora jaringan untuk menggambarkan keterhubungan kesunyian-kesunyian sibernetik, pertautan interaksi lemah di bawah nama-nama seperti “rekan kerja,” “kontak,” “teman,” “kenalan,” atau “pasangan kencan.” Jaringan semacam itu kadang mengental menjadi sebuah milieu, tempat tidak ada yang dibagikan selain kode, dan tidak ada yang berlangsung selain rekonstruksi identitas tanpa henti. Akan menjadi pemborosan waktu untuk merinci semua yang menyakitkan dalam relasi sosial yang ada. Mereka mengatakan keluarga kembali, bahwa pasangan kembali. Namun keluarga yang kembali bukanlah keluarga yang pernah pergi. Kembalinya hanyalah pendalaman keterpisahan yang berkuasa yang justru ia sembunyikan, menjadi apa adanya melalui penyamaran ini. Semua orang dapat bersaksi tentang jatah kesedihan yang terakumulasi dari tahun ke tahun dalam pertemuan keluarga: senyum dipaksakan, kecanggungan melihat semua orang berpura-pura sia-sia, perasaan seolah ada mayat terbaring di atas meja, dan semua orang bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa. Dari rayuan hingga perceraian, dari hidup bersama hingga keluarga tiri, semua orang merasakan kehampaan inti keluarga yang menyedihkan, tetapi sebagian besar tampaknya percaya bahwa meninggalkannya akan lebih menyedihkan lagi. Keluarga kini bukan lagi sekadar sesak kontrol maternal atau patriarki kekerasan, melainkan penelantaran infantil dalam ketergantungan kabur, di mana semuanya terasa akrab, momen tanpa beban menghadapi dunia yang tak seorang pun dapat menyangkal sedang runtuh, dunia di mana “menjadi mandiri” adalah eufemisme untuk “telah menemukan bos.” Mereka ingin menggunakan “keakraban” keluarga biologis sebagai dalih untuk menggerogoti apa pun yang membara dalam diri kita dan, dengan alasan bahwa mereka membesarkan kita, memaksa kita melepaskan kemungkinan untuk tumbuh dewasa–serta segala sesuatu yang serius dalam masa kanak-kanak. Kita perlu melindungi diri dari korosi semacam itu. Pasangan adalah tahap akhir dari kehancuran sosial besar. Ia adalah oasis di tengah gurun manusia. Di bawah naungan “keintiman,” kita mencarinya untuk menemukan semua yang secara jelas telah meninggalkan relasi sosial kontemporer: kehangatan, kesederhanaan, kebenaran, kehidupan tanpa teater maupun penonton. Namun ketika euforia romantis berlalu, “keintiman” menanggalkan dirinya: ia sendiri adalah invensi sosial, berbicara dalam bahasa majalah glamor dan psikologi; seperti segala hal lain, ia dipenuhi begitu banyak strategi hingga menimbulkan kejenuhan. Tidak ada kebenaran lebih banyak di sini daripada di tempat lain; di sini pula kebohongan dan hukum keterasingan berkuasa. Dan ketika, melalui keberuntungan, seseorang menemukan kebenaran itu, ia menuntut suatu kebersamaan yang menyangkal bentuk pasangan itu sendiri. Apa yang memungkinkan makhluk saling mencintai sekaligus menjadikan mereka dapat dicintai, dan meruntuhkan utopia keterasingan berdua. Pada kenyataannya, dekomposisi seluruh bentuk sosial adalah sebuah berkah. Ia merupakan kondisi ideal bagi kita untuk melakukan eksperimen liar dan masif dengan pengaturan baru, kesetiaan baru. Apa yang disebut “pengunduran diri orang tua” telah memaksakan pada kita konfrontasi dengan dunia yang menuntut kejernihan dini, sekaligus membayangkan pemberontakan-pemberontakan indah yang akan datang. Dalam kematian pasangan, kita melihat kelahiran bentuk-bentuk afektivitas kolektif yang mengusik, kini ketika seks telah kehilangan daya guna dan maskulinitas serta feminitas berparade dalam pakaian yang lapuk, ketika tiga dekade inovasi pornografi tanpa henti telah menguras seluruh pesona pelanggaran dan pembebasan. Kita berharap menjadikan apa yang tak bersyarat dalam relasi sebagai baju zirah solidaritas politik yang setangguh kamp gipsi terhadap campur tangan negara. Tidak ada alasan bahwa subsidi tak berkesudahan yang dipaksa dibebankan banyak kerabat kepada keturunan mereka yang terproletarisasi tidak dapat menjadi bentuk patronase demi subversi sosial. “Menjadi otonom” bisa saja berarti belajar bertarung di jalan, menduduki rumah kosong, berhenti bekerja, saling mencintai dengan gila, dan mencuri dari toko. ** Lingkaran Ketiga *** “HIDUP, KESEHATAN, DAN CINTA BERSIFAT RAPUH—MENGAPA KERJA HARUS MENJADI PENGECUALIAN?” Tidak ada persoalan yang lebih kacau, di Prancis, daripada persoalan kerja. Tidak ada relasi yang lebih terdistorsi daripada relasi antara orang Prancis dan kerja. Pergilah ke Andalusia, ke Aljazair, ke Napoli. Mereka memandang kerja dengan penghinaan yang mendalam. Pergilah ke Jerman, Amerika Serikat, atau Jepang. Mereka memuliakan kerja. Memang, keadaan mulai berubah. Ada banyak otaku di Jepang, frohe Arbeitslose (penganggur yang “bahagia”) di Jerman, dan pecandu kerja di Andalusia. Namun, untuk sementara, semua itu masih merupakan keanehan semata. Di Prancis, kita merangkak untuk menaiki tangga hierarki, tetapi secara pribadi membanggakan diri bahwa sebenarnya kita tidak terlalu peduli. Kita tetap berada di tempat kerja hingga pukul sepuluh malam ketika pekerjaan menumpuk, tetapi tidak pernah merasa bersalah mengambil perlengkapan kantor di sanasini, atau membawa keluar inventaris untuk dijual kembali. Kita membenci atasan, tetapi ingin tetap bekerja dengan harga apa pun. Memiliki pekerjaan adalah kehormatan, namun bekerja adalah tanda ketundukan. Singkatnya: ilustrasi klinis yang sempurna tentang histeria. Kita mencintai sambil membenci, dan membenci sambil mencintai. Dan kita semua mengetahui kebingungan serta kelumpuhan yang menimpa seorang histerik ketika ia kehilangan sosok yang menjadi sasaran keluhannya–yakni majikannya. Lebih sering daripada tidak, ia tidak pernah pulih darinya. Neurosis inilah yang menjadi fondasi bagi pemerintahpemerintah berturut-turut untuk menyatakan perang terhadap pengangguran, berpura-pura melancarkan “pertempuran melawan pengangguran,” sementara mantan manajer berkemah dengan telepon seluler mereka di tempat penampungan Palang Merah di sepanjang Sungai Seine. Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja secara besar-besaran memanipulasi statistik untuk menurunkan angka pengangguran di bawah dua juta. Pada saat yang sama, tunjangan sosial dan perdagangan narkoba menjadi satu-satunya jaminan–sebagaimana diakui negara Prancis–terhadap kemungkinan kerusuhan sosial setiap saat. Yang dipertaruhkan di sini bukan hanya ekonomi psikis masyarakat Prancis, tetapi juga stabilitas politik negara, yang bergantung pada pemeliharaan fiksi workerist. Maaf jika kami tidak peduli. Kami termasuk generasi yang hidup dengan cukup nyaman dalam fiksi ini. Generasi yang tidak pernah mengandalkan pensiun ataupun hak atas pekerjaan, apalagi hak-hak di dalam pekerjaan. Kami bahkan tidak “prekariat,” sebagaimana dipopulerkan oleh faksi-faksi kiri militan paling maju, karena menjadi prekariat masih berarti mendefinisikan diri dalam relasi terhadap ranah kerja–yakni terhadap kehancurannya. Kami menerima kebutuhan untuk memperoleh uang, dengan cara apa pun, karena saat ini mustahil hidup tanpanya, tetapi kami menolak kebutuhan untuk bekerja. Lagi pula, kami tidak lagi bekerja: kami sekadar menjalani waktu. Perusahaan bukan tempat kami eksis; ia hanyalah tempat yang kami lewati. Kami bukan sinis; kami hanya enggan tertipu. Seluruh wacana tentang motivasi, kualitas, dan investasi personal berlalu begitu saja bagi kami, sangat mengecewakan para manajer sumber daya manusia. Mereka mengatakan kami kecewa pada perusahaan, bahwa perusahaan gagal membalas loyalitas orang tua kami, bahwa mereka diberhentikan terlalu cepat. Mereka berbohong. Untuk kecewa, seseorang harus terlebih dahulu berharap. Dan kami tidak pernah berharap apa pun dari perusahaan: kami melihatnya sebagaimana adanya, dan sebagaimana ia selalu ada–sebuah permainan bodoh dengan tingkat kenyamanan yang berbeda-beda. Atas nama orang tua kami, satu-satunya penyesalan kami adalah bahwa mereka terjebak di dalamnya–setidaknya mereka yang percaya. Kekacauan sentimental yang mengitari persoalan kerja dapat dijelaskan demikian: gagasan kerja selalu memuat dua dimensi yang saling bertentangan–dimensi eksploitasi dan dimensi partisipasi. Eksploitasi terhadap tenaga kerja individual maupun kolektif melalui apropriasi privat atau sosial atas nilai lebih; dan partisipasi dalam suatu upaya bersama melalui relasi yang menghubungkan mereka yang bekerja sama di jantung semesta produksi. Kedua dimensi ini bercampur secara menyimpang dalam konsep kerja, yang menjelaskan sikap acuh para pekerja, pada akhirnya, baik terhadap retorika Marxis–yang menolak dimensi partisipasi–maupun retorika manajerial–yang menolak dimensi eksploitasi. Maka, lahirlah ambivalensi relasi terhadap kerja: memalukan karena menjadikan kita asing terhadap apa yang kita lakukan, sekaligus dipuja karena sebagian dari diri kita turut dipertaruhkan di dalamnya. Bencana sebenarnya telah terjadi: ia terletak pada segala sesuatu yang harus dihancurkan, pada semua orang yang harus tercerabut dari akarnya, agar kerja dapat menjadi satu-satunya cara untuk eksis. Kengerian kerja tidak terutama terletak pada kerja itu sendiri, melainkan pada penghancuran sistematis selama berabad-abad terhadap segala sesuatu yang bukan kerja: keakraban lingkungan dan keahlian, desa, perjuangan, kekerabatan, keterikatan kita pada tempat, pada sesama, pada musim, pada cara melakukan dan berbicara. Di sinilah paradoks masa kini: kerja telah sepenuhnya menang atas semua cara eksistensi lain, tepat pada saat para pekerja menjadi berlebih. Peningkatan produktivitas, outsourcing, mekanisasi, produksi otomatis dan digital telah berkembang sedemikian rupa sehingga hampir meniadakan jumlah kerja hidup yang diperlukan dalam pembuatan produk apa pun. Kita hidup dalam paradoks masyarakat pekerja tanpa pekerjaan, di mana hiburan, konsumsi, dan rekreasi hanya menegaskan kekosongan yang seharusnya mereka alihkan dari perhatian kita. Tambang di Carmaux, yang terkenal selama satu abad dengan pemogokan-pemogokan keras, kini diubah menjadi Cape Discovery–kompleks hiburan untuk skateboard dan sepeda, dilengkapi “Museum Pertambangan” yang mensimulasikan ledakan metana bagi para wisatawan. Di dalam korporasi, kerja semakin jelas terbagi menjadi posisi berkeahlian tinggi–riset, konsepsi, pengawasan, koordinasi, dan komunikasi–yang mengerahkan seluruh pengetahuan yang diperlukan bagi proses produksi sibernetik baru, serta posisi tak terampil untuk pemeliharaan dan pengawasan proses tersebut. Yang pertama jumlahnya sedikit, bergaji tinggi, dan sangat diperebutkan sehingga mereka yang mendudukinya akan melakukan apa saja untuk tidak kehilangannya. Mereka dan pekerjaannya terikat dalam pelukan kecemasan yang erat. Para manajer, ilmuwan, pelobi, peneliti, pemrogram, pengembang, konsultan, dan insinyur secara harfiah tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan kehidupan seksual mereka digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Seorang filsuf sumber daya manusia menulis: “Perusahaan paling kreatif adalah yang memiliki jumlah relasi intim terbanyak.” Seorang manajer SDM Daimler-Benz menegaskan bahwa rekan bisnis merupakan bagian penting dari modal perusahaan; motivasi, pengetahuan, kapasitas inovasi, dan perhatian terhadap keinginan klien adalah bahan mentah layanan inovatif. Perilaku, kompetensi sosial, dan emosional menjadi faktor penilaian kerja yang semakin menentukan. Kerja tidak lagi diukur berdasarkan jam kerja, melainkan pencapaian tujuan dan kualitas hasil. Mereka adalah wirausahawan. Serangkaian tugas yang tidak dapat didelegasikan kepada otomasi membentuk gugus pekerjaan kabur yang, karena tidak dapat dilakukan mesin, diisi oleh manusia mana pun: buruh gudang, pekerja stok, buruh lini perakitan, pekerja musiman, dan sebagainya. Tenaga kerja fleksibel dan tak terdiferensiasi ini berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa pernah bertahan lama di suatu perusahaan, sehingga tidak lagi mampu mengonsolidasikan diri sebagai kekuatan, karena berada di luar pusat proses produksi dan hanya digunakan untuk menutup celah yang belum termekanisasi, seolah-olah tercerai-berai dalam banyak celah kecil. Pekerja temporer menjadi figur pekerja yang bukan lagi pekerja, yang tidak lagi memiliki profesi–hanya kemampuan yang ia jual di mana pun memungkinkan–dan ketersediaannya sendiri merupakan suatu bentuk kerja. Di pinggiran tenaga kerja yang efektif dan diperlukan bagi berfungsinya mesin, terdapat mayoritas yang terus bertambah dan menjadi berlebih. Mereka mungkin berguna bagi arus produksi, tetapi tidak lebih dari itu, sehingga muncul risiko bahwa dalam kemalasan mereka, mereka justru akan menyabotase mesin. Ancaman demobilisasi umum menjadi momok bagi sistem produksi masa kini. Tidak semua orang menjawab pertanyaan “mengapa bekerja?” seperti mantan penerima tunjangan sosial ini: “demi kesejahteraan saya. Saya harus menyibukkan diri.” Ada risiko serius bahwa kita akan menemukan pekerjaan justru dalam kemalasan kita sendiri. Populasi mengambang ini harus terus disibukkan. Namun hingga kini, tidak ditemukan metode disiplin yang lebih efektif daripada upah. Karena itu, pembongkaran “pencapaian sosial” harus dilanjutkan agar mereka yang paling gelisah–yang hanya akan menyerah ketika dihadapkan pada pilihan antara mati kelaparan atau membusuk di penjara–kembali dipancing ke pelukan kerja upahan. Perdagangan budak modern dalam sektor “layanan personal” harus terus berkembang: pembersihan, katering, pijat, perawatan domestik, prostitusi, bimbingan belajar, terapi, bantuan psikologis, dan sebagainya. Ini disertai peningkatan standar keamanan, higienitas, kontrol, dan budaya secara terus-menerus, serta daur ulang tren yang dipercepat– semuanya menciptakan kebutuhan atas layanan tersebut. Di Rouen, kini terdapat “meteran parkir manusia”: seseorang yang menunggu di jalan untuk menyerahkan tiket parkir, bahkan menyewakan payung jika hujan. Tatanan kerja adalah tatanan dunia. Bukti kehancurannya melumpuhkan mereka yang takut terhadap apa yang akan datang sesudahnya. Kini kerja kurang berkaitan dengan kebutuhan ekonomi untuk memproduksi barang, dan lebih berkaitan dengan kebutuhan politik untuk memproduksi produsen dan konsumen, serta mempertahankan tatanan kerja dengan segala cara. Memproduksi diri sendiri menjadi pekerjaan dominan dalam masyarakat di mana produksi tidak lagi memiliki objek–seperti tukang kayu yang diusir dari bengkelnya, lalu dalam keputusasaan, mulai memaku dan menggergaji dirinya sendiri. Semua anak muda yang tersenyum dalam wawancara kerja, memutihkan gigi untuk mendapatkan keunggulan, pergi ke klub malam untuk meningkatkan semangat perusahaan, belajar bahasa Inggris demi karier, bercerai atau menikah demi naik jabatan, mengikuti kursus kepemimpinan atau latihan pengembangan diri untuk “mengelola konflik” dengan lebih baik–sebagaimana dikatakan seorang guru motivasi, “pengembangan diri paling intim akan menghasilkan stabilitas emosional yang lebih besar, relasi yang lebih lancar dan terbuka, fokus intelektual yang lebih tajam, dan karena itu kinerja ekonomi yang lebih baik.” Kerumunan kecil yang menunggu untuk direkrut sambil berusaha tampak alami ini merupakan hasil dari upaya menyelamatkan tatanan kerja melalui etos mobilitas. Menjadi termobilisasi berarti memandang kerja bukan sebagai aktivitas, melainkan sebagai kemungkinan. Jika seorang penganggur melepas tindikan, pergi ke tukang cukur, menyibukkan diri dengan “proyek,” dan benar-benar mengembangkan “kelayakan kerja”-nya, itu karena dengan cara itulah ia menunjukkan mobilitasnya. Mobilitas adalah jarak tipis dari diri sendiri, keterputusan minimal dari apa yang membentuk kita, kondisi keasingan yang memungkinkan diri menjadi objek kerja, sehingga yang dijual bukan lagi tenaga kerja, melainkan diri itu sendiri–dibayar bukan karena apa yang kita lakukan, melainkan karena siapa kita: penguasaan kode sosial, bakat relasional, senyum, dan cara kita menampilkan diri. Inilah standar baru sosialisasi. Mobilitas menyatukan dua kutub kerja yang saling bertentangan: kita berpartisipasi dalam eksploitasi diri sendiri, dan setiap partisipasi dieksploitasi. Idealnya, kita menjadi perusahaan kecil milik diri sendiri, bos bagi diri sendiri, sekaligus produk bagi diri sendiri. Bekerja atau tidak bekerja menjadi soal membangun relasi, kemampuan, jaringan–singkatnya: “modal manusia.” Seruan global untuk termobilisasi pada setiap dalih–kanker, “terorisme,” gempa bumi, tunawisma–merangkum tekad kekuasaan yang berkuasa untuk mempertahankan rezim kerja bahkan setelah ia secara fisik menghilang. Aparatus produksi masa kini, dengan demikian, di satu sisi merupakan mesin raksasa mobilisasi psikis dan fisik yang menyedot energi manusia yang telah menjadi berlebih; dan di sisi lain merupakan mesin penyortiran yang memberikan kelangsungan hidup bagi subjektivitas yang konformis, serta menyingkirkan semua “individu bermasalah,” yakni mereka yang mewujudkan penggunaan hidup yang berbeda dan, karena itu, menolaknya. Di satu sisi, hantu dihidupkan; di sisi lain, yang hidup dibiarkan mati. Inilah fungsi politik sejati aparatus produksi kontemporer. Mengorganisasi diri melampaui dan melawan kerja, secara kolektif meninggalkan rezim mobilitas, serta menunjukkan keberadaan vitalitas dan disiplin justru dalam demobilisasi–merupakan kejahatan yang tidak akan pernah dimaafkan oleh sebuah peradaban yang telah bertekuk lutut. Namun sesungguhnya, itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup darinya. ** Lingkaran Keempat *** “LEBIH SEDERHANA, LEBIH MENYENANGKAN, LEBIH FLEKSIBEL DALAM MOBILISASI, LEBIH AMAN!” Kita telah terlalu sering mendengar tentang “kota” dan “desa,” terutama mengenai dugaan pertentangan purba antara keduanya. Namun, dari dekat maupun jauh, apa yang mengelilingi kita sama sekali tidak menyerupai dikotomi tersebut: yang ada hanyalah satu hamparan urban tunggal, tanpa bentuk maupun keteraturan, sebuah zona suram, tak berujung, dan tak terdefinisi, sebuah kontinuitas global yang menghubungkan pusat-pusat kota yang menyerupai museum dan taman-taman alam, kompleks perumahan pinggiran kota yang raksasa dan proyek-proyek agrikultur berskala besar, kawasan industri dan perumahan baru, penginapan pedesaan dan barbar trendi–yakni metropolis. Memang, kota kuno pernah ada, demikian pula kota-kota abad pertengahan dan modern. Namun, tidak ada yang namanya kota metropolitan. Seluruh wilayah kini tersintesis dalam metropolis. Segala sesuatu menempati ruang yang sama, jika bukan secara geografis maka melalui jalinan jaringan-jaringannya. Karena kota telah benar-benar menghilang, ia kini difetisisasi sebagai sejarah. Bangunan-bangunan pabrik di Lille diubah menjadi aula konser. Inti kota Le Havre yang dibangun ulang dari beton kini menjadi situs Warisan Dunia UNESCO. Di Beijing, hutong yang mengelilingi Kota Terlarang dihancurkan, lalu digantikan dengan versi tiruannya, ditempatkan sedikit lebih jauh sebagai tontonan wisata. Di Troyes, fasad bergaya setengah-kayu ditempelkan pada bangunan blok beton, sebuah pastiche yang lebih menyerupai toko-toko bergaya Victoria di Disneyland Paris daripada warisan sejarah apa pun. Pusat-pusat kota bersejarah lama, yang dahulu merupakan sarang pemberontakan revolusioner, kini dengan bijak diintegrasikan ke dalam diagram organisasi metropolis. Mereka diserahkan kepada pariwisata dan konsumsi mencolok. Mereka menjadi pulau-pulau komoditas dongeng, disangga oleh pameran dan dekorasi, dan jika perlu, oleh kekuatan. Sentimentalitas menyesakkan dari setiap “Desa Natal” diimbangi dengan semakin banyaknya penjaga keamanan dan patroli kota. Pengawasan memiliki cara yang luar biasa untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam lanskap komoditas, menampakkan wajah otoriternya kepada siapa pun yang ingin melihatnya. Inilah zaman fusi–muzak[18], pentungan polisi teleskopik, dan permen kapas. Separuh pengawasan polisi, separuh pesona! Selera terhadap “keaslian,” beserta kontrol yang menyertainya, dibawa oleh borjuasi kecil melalui dorongan kolonialis mereka ke lingkungan kelas pekerja. Tersingkir dari pusat kota, mereka menemukan di wilayah perbatasan semacam “perasaan komunitas” yang tidak mereka temukan dalam rumah-rumah prefab[19] di pinggiran kota. Dalam mengusir orang miskin, mobil, dan para imigran; dalam merapikan kawasan; dalam menyingkirkan segala yang dianggap kotor– borjuasi kecil justru menghancurkan hal yang mereka cari. Seorang polisi dan petugas kebersihan berjabat tangan dalam sebuah baliho kota, dengan slogan: “Montauban–Kota Bersih.” Rasa kepantasan yang sama yang memaksa para perencana kota berhenti berbicara tentang “kota” (yang telah mereka hancurkan) dan menggantinya dengan istilah “urban,” seharusnya juga memaksa mereka meninggalkan istilah “desa” (karena ia pun tidak lagi ada). Massa yang tercerabut dan tertekan justru disuguhi citra pedesaan–sebuah visi masa lalu yang kini mudah dipentaskan setelah masyarakat pedesaan sendiri terkuras. Ini adalah kampanye pemasaran atas sebuah “wilayah” di mana segala sesuatu harus dinilai kembali atau direkonstruksi sebagai warisan nasional. Di mana-mana, kekosongan dingin yang sama merembes bahkan hingga ke sudut-sudut paling terpencil. Metropolis adalah kematian simultan kota dan desa. Ia merupakan persimpangan tempat seluruh borjuasi kecil berkumpul, di tengah kelas menengah yang membentang tanpa batas, hasil sekaligus dari urbanisasi pedesaan dan ekspansi kota. Menutupi planet dengan kaca sepenuhnya sejalan dengan sinisme arsitektur kontemporer. Sekolah, rumah sakit, maupun pusat media hanyalah variasi dari tema yang sama: transparansi, netralitas, keseragaman. Bangunan-bangunan besar dan cair ini dirancang tanpa perlu mengetahui apa yang akan mereka tampung. Mereka bisa berada di mana saja. Apa yang harus dilakukan dengan menara kantor di La Défense Paris, blok apartemen di La Part Dieu Lyon, atau kompleks belanja EuraLille? Ungkapan “flambant neuf” dengan sempurna merangkum takdir mereka. Seorang pelancong Skotlandia menggambarkan daya tarik unik api, setelah kaum pemberontak membakar Hôtel de Ville Paris pada Mei,1871: “Tak pernah kubayangkan sesuatu yang begitu indah. Sungguh megah. Aku tidak menyangkal bahwa orangorang Komune itu penjahat mengerikan. Namun, betapa mereka seniman! Dan mereka bahkan tidak menyadari mahakarya mereka sendiri! [...] Aku telah melihat reruntuhan Amalfi yang diselimuti biru Laut Mediterania, dan reruntuhan kuil Tung-hoor di Punjab. Aku telah melihat Roma dan banyak hal lainnya. Namun tak ada yang dapat menandingi apa yang kulihat malam ini dengan mataku sendiri.” Masih ada fragmen kota dan jejak pedesaan yang tersangkut dalam jalinan metropolis. Namun vitalitas kini bermukim di apa yang disebut “lingkungan bermasalah.” Paradoksnya, tempat yang dianggap paling tak layak huni justru menjadi satu-satunya tempat yang masih dihuni secara nyata. Sebuah gubuk tua yang diduduki secara ilegal terasa lebih hidup daripada apartemen mewah yang hanya memungkinkan seseorang menata furnitur dan dekorasi sembari menunggu pindah berikutnya. Di banyak megalopolis saat ini, kawasan kumuh merupakan wilayah terakhir yang hidup dan dapat dihuni–dan tentu saja yang paling mematikan. Ia adalah sisi balik dekor elektronik metropolis global. Menara-menara hunian di pinggiran utara Paris, yang ditinggalkan borjuasi kecil demi berburu kolam renang, dihidupkan kembali oleh pengangguran massal dan kini memancarkan energi yang lebih besar daripada Latin Quarter–baik dalam kata-kata maupun api. Kebakaran November 2005 bukanlah akibat keterampasan ekstrem, sebagaimana sering digambarkan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk penguasaan penuh atas suatu wilayah. Orang dapat membakar mobil karena marah, tetapi untuk mempertahankan kerusuhan selama sebulan–seraya menahan polisi–dibutuhkan kemampuan berorganisasi, membangun jaringan solidaritas, mengenal medan dengan sempurna, serta berbagi bahasa dan musuh bersama. Dari mil ke mil dan dari minggu ke minggu, api menyebar. Kobaran baru menjawab kobaran sebelumnya, muncul di tempat-tempat yang paling tak terduga. Rumor tidak dapat disadap. Metropolis merupakan medan konflik berintensitas rendah yang konstan, di mana perebutan Basra, Mogadishu, atau Nablus hanya menandai titik puncaknya. Dahulu kota merupakan tempat yang dihindari militer atau, jika pun tidak, sekadar dikepung; namun metropolis sepenuhnya kompatibel dengan perang. Konflik bersenjata hanyalah satu momen dalam rekonfigurasi konstan metropolis. Pertempuran yang dilakukan kekuatan besar menyerupai kerja polisi tanpa akhir di lubang-lubang hitam metropolis, “baik di Burkina Faso, South Bronx, Kamagasaki, Chiapas, maupun La Courneuve.” Perang tidak lagi diarahkan pada kemenangan atau perdamaian, bahkan bukan pada pemulihan ketertiban, melainkan melanjutkan operasi keamanan yang telah berlangsung sebelumnya. Perang tidak lagi menjadi peristiwa temporal yang terpisah, melainkan terpecah menjadi serangkaian mikro-operasi militer dan kepolisian untuk menjamin keamanan. Polisi dan militer berkembang secara paralel dan serempak. Seorang kriminolog meminta polisi anti huru-hara nasional direorganisasi menjadi unit-unit kecil, profesional, dan mobile. Akademi militer–tempat lahir metode disipliner–juga meninjau ulang organisasi hierarkisnya. Seorang perwira NATO menjelaskan penggunaan “metode partisipatif yang melibatkan semua pihak dalam analisis, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu tindakan... Tidak ada yang seefektif perencanaan kelompok dalam membangun kohesi tim dan moral.” Angkatan bersenjata tidak sekadar menyesuaikan diri dengan metropolis, mereka juga memproduksinya. Sejak pertempuran Nablus, tentara Israel bahkan menjadi semacam desainer interior. Dipaksa oleh gerilyawan Palestina meninggalkan jalanan yang terlalu berbahaya, mereka belajar bergerak secara vertikal dan horizontal menembus arsitektur kota, melubangi dinding dan langit-langit untuk berpindah ruang. Seorang perwira Pasukan Pertahanan Israel–yang juga lulusan filsafat–menjelaskan bahwa ia ingin melampaui cara tradisional memaknai ruang: bergerak menembus dinding “seperti cacing yang memakan jalannya ke depan.” Ruang urban bukan sekadar arena konflik, melainkan juga alat konflik itu sendiri. Ini mengingatkan pada nasihat Blanqui agar kaum pemberontak Paris di masa depan menguasai rumahrumah di jalan barikade, melubangi dinding antar-rumah, merobohkan tangga lantai dasar, dan mengubah tiap lantai menjadi menara pertahanan. Metropolis bukan sekadar tumpukan urban, benturan terakhir antara kota dan desa. Ia juga merupakan arus makhluk dan benda–arus yang mengalir melalui jaringan serat optik, jalur kereta cepat, satelit, dan kamera pengawas–yang memastikan dunia terus bergerak menuju kehancurannya. Arus ini ingin menyeret segalanya dalam mobilitas tanpa harapan, memobilisasi setiap orang. Di mana informasi menghantam kita seperti kekuatan yang memusuhi. Di mana satu-satunya hal yang tersisa adalah berlari. Bahkan menunggu kereta bawah tanah yang kesekian kalinya pun menjadi sulit. Dengan proliferasi sarana mobilitas dan komunikasi, serta godaan untuk selalu berada di tempat lain, kita terus-menerus tercerabut dari “di sini dan saat ini.” Naik kereta antarkota atau mengangkat telepon berarti sudah pergi. Mobilitas semacam itu selalu berarti ketercerabutan, isolasi, pengasingan. Ia akan tak tertahankan jika bukan mobilitas ruang privat, interior portabel. Gelembung privat tidak pecah–ia mengambang. Proses pengurungan diri (cocooning) tidak hilang, melainkan menjadi bergerak. Dari stasiun ke kawasan perkantoran, dari bank ke hotel, di mana-mana muncul rasa keterasingan yang begitu biasa hingga menjadi bentuk terakhir dari keakraban. Kelebihan metropolis adalah pencampuran suasana yang berubah-ubah, terus-menerus direkombinasi. Pusat-pusat kota metropolitan bukanlah klon, melainkan menawarkan aura masing-masing. Kita meluncur dari satu ke yang lain, memilih dan menolak, seolah berbelanja eksistensial antara gaya bar, tipe orang, desain, atau daftar putar musik. “Dengan pemutar mp3-ku, aku adalah penguasa duniaku.” Untuk menghadapi keseragaman yang mengelilingi kita, satu-satunya pilihan adalah terus-menerus merenovasi dunia interior kita–seperti anak kecil yang membangun rumah kecil yang sama berulang kali, atau seperti Robinson Crusoe yang mereproduksi dunia pedagangnya di pulau terpencil–hanya saja pulau terpencil kita adalah peradaban itu sendiri, dan miliaran orang terus-menerus terdampar di atasnya. Justru karena arsitektur aliran inilah metropolis menjadi salah satu tatanan manusia paling rentan yang pernah ada: lentur, halus, namun rapuh. Penutupan perbatasan secara brutal akibat epidemi, gangguan mendadak pada jalur suplai, atau blokade terorganisasi atas jalur komunikasi–semuanya dapat meruntuhkan fasad yang tak lagi mampu menutupi adegan kehancuran yang menghantuinya siang dan malam. Dunia tidak akan bergerak secepat ini jika tidak harus terus-menerus melarikan diri dari keruntuhannya sendiri. Metropolis berusaha melindungi diri dari kegagalan tak terelakkan melalui struktur jaringan, infrastruktur teknologi simpul dan koneksi, serta arsitektur desentralisasinya. Internet dirancang untuk bertahan bahkan dari serangan nuklir. Kontrol permanen atas aliran informasi, manusia, dan barang menjamin mobilitas metropolis tetap aman, sementara sistem pelacak memastikan tidak ada kontainer yang hilang, tidak ada dolar yang dicuri, dan tidak ada teroris yang menaiki pesawat–semuanya berkat chip RFID, paspor biometrik, dan profil DNA. Namun metropolis juga memproduksi sarana kehancurannya sendiri. Seorang pakar keamanan Amerika menjelaskan kekalahan di Irak sebagai akibat kemampuan gerilyawan memanfaatkan cara komunikasi baru. Invasi Amerika tidak hanya membawa demokrasi ke Irak, tetapi juga jaringan sibernetik–senjata bagi kekalahan mereka sendiri. Penyebaran telepon seluler dan akses internet memberi gerilyawan cara baru untuk mengorganisasi diri dan menjadikan mereka target yang semakin sulit ditangkap. Setiap jaringan memiliki titik lemahnya–simpul-simpul yang harus dilumpuhkan untuk menghentikan sirkulasi dan merobek jaringannya. Pemadaman listrik besar terakhir di Eropa membuktikannya: satu insiden pada kabel tegangan tinggi membuat sebagian besar benua tenggelam dalam kegelapan. Agar sesuatu dapat bangkit di tengah metropolis dan membuka kemungkinan lain, tindakan pertama adalah menghentikan gerak abadi mesin tersebut. Inilah yang dipahami pemberontak Thailand ketika mereka melumpuhkan stasiun listrik. Inilah yang dipahami para demonstran anti-CPE Prancis tahun 2006 ketika mereka menutup universitas demi melumpuhkan ekonomi. Inilah yang dipahami buruh pelabuhan Amerika pada Oktober 2002 ketika mereka mogok demi mempertahankan tiga ratus pekerjaan, memblokir pelabuhan utama Pantai Barat selama sepuluh hari. Ekonomi Amerika begitu bergantung pada barang dari Asia sehingga biaya blokade mencapai lebih dari satu miliar dolar per hari. Dengan sepuluh ribu orang, kekuatan ekonomi terbesar dunia dapat dilumpuhkan. Menurut beberapa “pakar,” jika aksi itu berlangsung satu bulan lagi, ia akan memicu “resesi di Amerika Serikat dan mimpi buruk ekonomi di Asia Tenggara.” ** Lingkaran Kelima *** “LEBIH SEDIKIT KEPEMILIKAN, LEBIH BANYAK KETERHUBUNGAN!” Tiga puluh tahun “krisis,” pengangguran massal, dan pertumbuhan yang melemah–namun mereka masih ingin membuat kita percaya pada ekonomi. Tiga puluh tahun yang memang diselingi jeda-jeda ilusi: jeda 1981-83, ketika kita diyakinkan bahwa pemerintahan kiri dapat memperbaiki kesejahteraan rakyat; jeda “uang mudah” 1986-89, ketika kita semua diharapkan bermain pasar dan menjadi kaya; jeda internet 1998-2001, ketika semua orang diyakinkan akan memiliki karier virtual berkat jaringan pertemanan, ketika Prancis yang majemuk namun bersatu, berbudaya dan multi-kultural, seolah akan memenangkan setiap Piala Dunia. Namun kini kita berada di sini: persediaan ilusi telah habis, kita telah mencapai titik dasar, sepenuhnya bangkrut, atau tenggelam dalam utang. Kita harus memahami bahwa ekonomi bukan sedang berada dalam krisis–ekonomi itulah krisis itu sendiri. Masalahnya bukan kurangnya pekerjaan, melainkan justru terlalu banyak pekerjaan. Jika dipertimbangkan secara menyeluruh, yang menekan kita bukan krisis, melainkan pertumbuhan. Kita mesti mengakui bahwa litani harga saham menggerakkan kita tak lebih dari misa Latin. Untungnya, semakin banyak dari kita yang sampai pada kesimpulan ini. Bukan mereka yang hidup dari berbagai tipu daya, berdagang ini itu, atau mereka yang telah bergantung pada tunjangan sosial selama sepuluh tahun. Bukan pula mereka yang tak lagi menemukan identitas dalam pekerjaan dan hidup hanya untuk waktu luang. Juga bukan mereka yang tersingkir dan hidup dengan serba kekurangan, meskipun jumlah mereka melebihi yang lain. Semua yang tersentuh oleh keterlepasan massal yang ganjil ini, menambah barisan pensiunan dan tenaga kerja fleksibel yang dieksploitasi secara sinis–bukan mereka yang kita maksud, meskipun pada akhirnya mereka pun mungkin sampai pada kesimpulan yang sama. Yang kita maksud adalah seluruh negara, bahkan benua, yang telah kehilangan kepercayaan pada ekonomi–baik karena menyaksikan IMF datang dan pergi di tengah kehancuran dan kerugian besar, maupun karena telah merasakan campur tangan Bank Dunia. Krisis panggilan hidup yang lunak yang kini dialami Barat hampir tidak ditemukan di tempat-tempat tersebut. Apa yang terjadi di Guinea, Rusia, Argentina, dan Bolivia adalah pembongkaran brutal dan berkepanjangan terhadap agama ini beserta para rohaniawannya. Sebuah lelucon di Bank Dunia berbunyi: “Apa sebutan bagi seribu ekonom IMF yang tergeletak di dasar laut?–awal yang baik.” Lelucon Rusia berkata: “Dua ekonom bertemu. Yang satu bertanya: ‘Kamu paham apa yang sedang terjadi?’ Yang lain menjawab: ‘Tunggu, akan kujelaskan.’ ‘Tidak,’ kata yang pertama, ‘menjelaskan itu mudah–aku juga ekonom. Yang kutanyakan: apakah kamu memahaminya?’” Sebagian dari para rohaniwan ini bahkan berpura-pura menjadi pembangkang dan mengkritik dogma agama tersebut. Upaya terbaru untuk menghidupkan kembali apa yang disebut “ilmu ekonomi”–sebuah arus yang dengan polos menyebut dirinya “ekonomi pasca-autistik”–hidup dari pembongkaran manipulasi, tipu muslihat, dan rekayasa angka sebuah ilmu yang fungsi nyatanya hanyalah menggoyang monstrans selama para pemimpin berteriak, memberi kesan seremonial pada tuntutan mereka atas kepatuhan, dan pada akhirnya melakukan apa yang selalu dilakukan agama: menyediakan penjelasan. Sebab kesengsaraan total menjadi tampak tak tertahankan ketika ditelanjangi tanpa sebab atau alasan. Tak seorang pun lagi benar-benar menghormati uang, baik mereka yang memilikinya maupun yang tidak. Ketika ditanya cita-cita masa depan, dua puluh persen pemuda Jerman menjawab “seniman.” Kerja tak lagi diterima sebagai kondisi kodrati manusia. Departemen akuntansi perusahaan mengakui mereka tak tahu dari mana nilai berasal. Reputasi buruk pasar mungkin sudah menjatuhkannya sejak satu dekade lalu jika bukan karena retorika, kema-rahan, dan tentu saja dana besar para pembelanya. Kini sudah menjadi akal sehat untuk memandang kemajuan sebagai sinonim bencana. Dalam dunia ekonomi, semuanya melarikan diri, sebagaimana terjadi di Uni Soviet pada masa Andropov. Siapa pun yang pernah menelaah tahun-tahun terakhir Uni Soviet tahu bahwa seruan penguasa kita untuk beritikad baik, fantasi mereka tentang masa depan yang telah lenyap, serta janji-janji reformasi hanyalah retakan pertama pada tembok yang runtuh. Runtuhnya blok sosialis bukan kemenangan kapitalisme; itu hanya kebangkrutan salah satu bentuk kapitalisme. Kejatuhan Uni Soviet tidak terjadi karena pemberontakan rakyat, melainkan karena nomenklatura sedang melakukan konversi kekuasaan. Ketika mereka menyatakan berakhirnya sosialisme, sebagian kecil kelas penguasa membebaskan diri dari kewajiban lama terhadap rakyat. Mereka mengambil alih secara privat apa yang sebelumnya mereka kuasai atas nama semua orang. Di pabrik-pabrik beredar lelucon: “Kami berpura-pura bekerja, mereka berpura-pura membayar.” Oligarki menjawab: “Tidak perlu lagi berpura-pura!” Mereka mengambil bahan mentah, infrastruktur industri, kompleks militer-industri, bank, dan klub malam. Sisanya mendapat kemiskinan atau emigrasi. Sebagaimana tak seorang pun percaya pada Uni Soviet pada masa Andropov, tak seorang pun kini percaya pada Prancis di ruang rapat, bengkel, dan kantor. “Tidak ada gunanya,” jawab para bos dan pemimpin politik yang bahkan tak lagi berusaha memperhalus “hukum besi ekonomi.” Mereka membongkar pabrik di tengah malam dan mengumumkan penutupan keesokan paginya. Mereka tak ragu mengirim unit antiteror untuk membubarkan pemogokan, seperti pada feri-feri[20] atau pusat daur ulang yang diduduki di Rennes. Aktivitas brutal kekuasaan hari ini terdiri dari mengelola reruntuhan ini sekaligus menyiapkan kerangka bagi “ekonomi baru.” Namun tak diragukan, kita memang dibentuk untuk ekonomi. Selama beberapa generasi kita didisiplinkan, didamaikan, dan dijadikan subjek yang secara alami produktif sekaligus puas menjadi konsumen. Lalu tiba-tiba terungkap apa yang dipaksa kita lupakan: bahwa ekonomi adalah politik. Dan politik ini kini merupakan politik diskriminasi dalam umat manusia yang secara keseluruhan telah dianggap berlebih. Dari Colbert hingga de Gaulle, melalui Napoleon III, negara selalu memperlakukan ekonomi sebagai perkara politik, sebagaimana kaum borjuis yang mengambil keuntungan darinya dan proletariat yang melawannya. Yang tersisa hanyalah bagian populasi yang ganjil dan setengah-setengah: borjuasi kecil. Mereka selalu berpura-pura percaya bahwa ekonomi adalah realitas–karena netralitas mereka aman di dalamnya. Pemilik usaha kecil, bos kecil, birokrat rendahan, manajer, profesor, jurnalis, dan para perantara membentuk “bukan-kelas” ini di Prancis: gelatin sosial dari massa orangorang yang hanya ingin menjalani kehidupan privat kecil mereka, jauh dari sejarah dan gejolaknya. Rawa ini cenderung menjadi juara kesadaran palsu, setengah tertidur, dan selalu siap menutup mata terhadap perang yang berkecamuk di sekelilingnya. Setiap kejelasan garis depan dalam perang ini di Prancis selalu diiringi munculnya mode baru. Sepuluh tahun terakhir, itu adalah ATTAC dan pajak Tobin yang mustahil–pajak yang hanya mungkin jika ada pemerintahan global–dengan simpatinya terhadap “ekonomi riil” melawan pasar finansial, serta nostalgianya terhadap negara. Komedi ini hanya bertahan sebentar sebelum berubah menjadi sandiwara. Lalu mode baru menggantikannya. Kini muncul “pertumbuhan negatif.” Jika ATTAC berusaha menyelamatkan ekonomi sebagai ilmu, maka pertumbuhan negatif mempertahankan ekonomi sebagai moralitas. Satu-satunya alternatif terhadap kiamat yang akan datang, kata mereka, adalah mengurangi pertumbuhan. Konsumsi dan produksi lebih sedikit. Hidup hemat dengan gembira. Makan organik, bersepeda, berhenti merokok, dan memperhatikan produk yang dibeli. Puas dengan yang benar-benar perlu. Kesederhanaan sukarela. “Temukan kembali kekayaan sejati dalam relasi sosial yang akrab di dunia yang sehat.” “Jangan habiskan modal alam.” Bekerjalah menuju “ekonomi sehat.” “Jangan biarkan kekacauan mengatur.” “Hindari krisis sosial yang mengancam demokrasi dan humanisme.” Singkatnya: jadilah ekonomis. Kembali pada ekonomi ayah–zaman keemasan borjuasi kecil pada 1950-an. “Ketika individu hidup hemat, kepemilikan berfungsi sempurna, yakni memungkinkan individu menikmati hidupnya terlindung dari ruang publik, dalam suaka privat kehidupannya.” Seorang desainer grafis dengan sweter rajut tangan meminum koktail buah bersama teman-temannya di teras kafe “etnik.” Mereka ramah, bercanda, memastikan tak terlalu keras atau terlalu pelan, saling tersenyum dengan kepuasan tenang: kita begitu beradab. Setelah itu, sebagian akan bekerja di kebun komunitas, sebagian mencoba membuat keramik, berlatih Zen Buddhisme, atau membuat film animasi. Mereka merasakan persekutuan dalam keyakinan bahwa mereka mewakili umat manusia baru, lebih bijak dan lebih halus daripada yang sebelumnya. Dan mereka benar. Ada kesesuaian aneh antara Apple dan gerakan pertumbuhan negatif tentang peradaban masa depan. Sebagian membayangkan kembali ke ekonomi lama, sementara yang lain menggunakan bayangan itu sebagai tirai untuk meluncurkan lompatan teknologi besar. Dalam sejarah tak ada jalan kembali. Setiap seruan kembali ke masa lalu hanyalah ekspresi kesadaran tertentu tentang masa kini, dan jarang yang paling tidak modern. Bukan kebetulan jika pertumbuhan negatif menjadi panji para pengiklan pembangkang majalah Casseurs de Pub. Para perumus konsep pertumbuhan nol–Klub Roma pada 1972–sendiri terdiri dari industrialis dan birokrat yang bergantung pada riset para sibernetikus MIT. Konvergensi ini bukan kebetulan. Ia bagian dari pawai paksa menuju ekonomi yang dimodernisasi. Kapitalisme telah mengeruk sebanyak mungkin keuntungan dari penghancuran ikatan sosial lama, dan kini tengah membangun ulang ikatan-ikatan itu menurut syaratnya sendiri. Kehidupan sosial metropolitan kontemporer menjadi inkubatornya. Dengan cara yang sama, kapitalisme merusak alam dan kini berfantasi untuk merekonstruksinya sebagai lingkungan terkendali yang dipenuhi sensor. Umat manusia baru ini membutuhkan ekonomi baru yang tak lagi menjadi ranah terpisah, melainkan jaringan itu sendiri–bahan mentah relasi manusia; definisi kerja baru sebagai kerja atas diri; definisi kapital baru sebagai kapital manusia; produksi sebagai produksi relasi; konsumsi sebagai konsumsi situasi; dan terutama gagasan nilai baru yang mencakup seluruh kualitas makhluk hidup. “Bioekonomi” yang sedang tumbuh ini memandang planet sebagai sistem tertutup yang harus dikelola dan berusaha membangun dasar ilmu yang mengintegrasikan seluruh parameter kehidupan. Ilmu semacam itu mengancam membuat kita merindukan masa ketika indikator tidak pasti seperti pertumbuhan PDB masih dipakai untuk mengukur kesejahteraan rakyat–setidaknya saat itu tak seorang pun benar-benar mempercayainya. “Memvalorisasi kembali aspek non-ekonomi kehidupan” adalah slogan bersama gerakan pertumbuhan negatif dan program reformasi kapital. Desa ekologi, kamera pengawas video, spiritualitas, bioteknologi, dan sosiabilitas kini menjadi bagian dari “paradigma peradaban” yang sedang terbentuk: ekonomi total yang dibangun kembali dari dasar. Matriks intelektualnya tak lain adalah sibernetika, ilmu tentang sistem–yakni ilmu tentang pengendalian. Pada abad ke-17, untuk sepenuhnya menegakkan kekuatan ekonomi beserta etos kerja dan kerakusannya, diperlukan pengurungan dan pemusnahan massa besar penganggur, pembohong, penyihir, orang gila, penjahat, dan kaum miskin pengembara–sebuah kemanusiaan yang keberadaannya sendiri membantah tatanan kepentingan dan pengekangan diri. Ekonomi baru pun tak dapat ditegakkan tanpa seleksi serupa atas subjek dan wilayah yang harus diubah. Kekacauan yang terus kita dengar akan menjadi peluang bagi penyaringan ini–atau peluang bagi kemenangan kita atas proyek yang menjijikkan ini. ** Lingkaran Keenam *** “LINGKUNGAN ADALAH TANTANGAN INDUSTRIAL.” Ekologi adalah penemuan terbesar dekade ini. Selama tiga puluh tahun terakhir kita menyerahkannya kepada para aktivis lingkungan, menjadikannya bahan candaan pada hari Minggu agar kita bisa kembali tampak peduli pada hari Senin. Kini ia menyusul kita, menyerbu gelombang siaran seperti lagu populer musim panas, sebab suhu mencapai 20°C pada bulan Desember. Seperempat spesies ikan telah lenyap dari lautan. Sisanya tidak akan bertahan lama. Peringatan flu burung: kita diyakinkan bahwa ratusan ribu burung migran akan ditembak jatuh dari langit. Tingkat merkuri dalam air susu ibu manusia sepuluh kali lebih tinggi daripada batas legal bagi sapi. Dan bibir yang membengkak setelah aku menggigit apel–padahal apel itu berasal dari pasar petani. Gerak-gerik paling sederhana telah menjadi beracun. Seseorang meninggal pada usia 35 tahun akibat “penyakit berkepanjangan” yang harus dikelola sebagaimana kita mengelola segala hal lainnya. Seharusnya kita telah melihat hal ini sebelum tiba di sini, di paviliun B pusat perawatan paliatif. Harus diakui: seluruh “bencana” yang diberitakan dengan begitu gaduh itu sesungguhnya tidak benar-benar menyentuh kita. Setidaknya sampai salah satu konsekuensinya yang dapat diperkirakan menimpa kita. Ia mungkin menyangkut kita, tetapi tidak menyentuh kita. Dan di situlah bencana yang sesungguhnya. Tidak ada yang disebut “bencana lingkungan.” Bencana itu adalah lingkungan itu sendiri. Lingkungan adalah apa yang tersisa bagi manusia setelah ia kehilangan segalanya. Mereka yang hidup di sebuah lingkungan permukiman, jalan, lembah, zona perang, atau bengkel–mereka tidak memiliki “lingkungan”; mereka bergerak dalam suatu dunia yang dihuni oleh kehadiran, bahaya, kawan, musuh, momen kehidupan dan kematian, serta berbagai jenis makhluk. Dunia semacam itu memiliki konsistensinya sendiri, yang berubah sesuai intensitas dan kualitas relasi yang mengikat kita dengan semua makhluk dan tempat tersebut. Hanya kita, anak-anak dari perampasan terakhir, para pengasing pada detik-detik terakhir–yang lahir dalam kubus beton, memetik buah di supermarket, dan mencari gema dunia melalui televisi–hanya kitalah yang memiliki lingkungan. Dan tidak ada siapa pun selain kita untuk menyaksikan kehancuran kita sendiri, seolah-olah itu hanyalah perubahan latar, untuk merasa geram terhadap perkembangan terbaru bencana, dan dengan sabar menyusun ensiklopedinya. Apa yang membeku menjadi lingkungan adalah suatu relasi dengan dunia yang didasarkan pada pengelolaan, yakni pada keterasingan. Relasi dengan dunia di mana kita tidak lagi terbentuk oleh gemerisik pepohonan, bau minyak goreng dari apartemen, aliran air, hiruk-pikuk ruang kelas, atau lembapnya senja musim panas. Relasi dengan dunia di mana ada “aku” dan kemudian “lingkunganku,” yang mengelilingiku tetapi tidak pernah benar-benar membentukku. Kita telah menjadi tetangga dalam rapat koperasi kepemilikan planet. Sulit membayangkan neraka yang lebih sempurna. Tidak ada habitat material yang layak disebut “lingkungan,” kecuali mungkin metropolis masa kini. Suara digital pengumuman, trem dengan peluit khas abad ke-21, lampu jalan kebiruan berbentuk korek raksasa, pejalan kaki yang berdandan seperti model gagal, putaran sunyi kamera pengawas, bunyi klik gerbang tiket kereta bawah tanah, kasir supermarket, mesin absensi kantor, atmosfer elektronik kafe siber, berlimpahnya layar plasma, jalur cepat, dan lateks. Belum pernah ada ruang yang sedemikian mampu beroperasi tanpa jiwa-jiwa yang melintasinya. Belum pernah ada lingkungan yang begitu otomatis. Belum pernah ada konteks yang begitu acuh, sekaligus menuntut–sebagai harga bertahan hidup–ketidakacuhan serupa dari kita. Pada akhirnya, lingkungan tidak lebih dari relasi terhadap dunia yang khas metropolis, yang memproyeksikan dirinya ke segala sesuatu yang berusaha melampauinya. Situasinya seperti ini: mereka mempekerjakan orang tua kita untuk menghancurkan dunia ini; kini mereka ingin mempekerjakan kita untuk membangunnya kembali, dan–sebagai puncaknya–dengan keuntungan. Antusiasme morbid yang menggerakkan jurnalis dan pengiklan ketika melaporkan bukti baru pemanasan global menyingkap senyum dingin kapitalisme hijau baru, yang telah disiapkan sejak 1970-an, yang kita nantikan pada pergantian milenium namun tak pernah datang. Nah, inilah dia! Keberlanjutan! Solusi alternatif! Kesehatan planet menuntutnya! Tak diragukan lagi, ini adalah panggung hijau; lingkungan akan menjadi poros ekonomi-politik abad ke-21. Setiap kemungkinan bencana baru disertai rentetan “solusi industrial” baru. Penemu bom hidrogen, Edward Teller, mengusulkan menembakkan jutaan ton debu logam ke stratosfer untuk menghentikan pemanasan global. NASA, yang frustrasi karena gagasan perisai anti-rudalnya harus disimpan di museum horor perang dingin, mengusulkan pemasangan cermin raksasa di luar orbit bulan untuk melindungi kita dari sinar matahari yang kini mematikan. Gambaran masa depan lainnya: umat manusia bermotor, berkendara menggunakan bio-etanol dari São Paulo hingga Stockholm; mimpi para petani serealia dunia, karena itu berarti mengubah seluruh lahan subur planet menjadi ladang kedelai dan bit gula. Mobil ramah lingkungan, energi bersih, dan konsultasi lingkungan berdampingan tanpa masalah dengan iklan Chanel terbaru dalam majalah glossy. Kita diberitahu bahwa lingkungan memiliki keunggulan tak tertandingi sebagai persoalan global pertama umat manusia. Persoalan global berarti persoalan yang hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang terorganisasi secara global. Dan kita tahu siapa mereka: kelompok-kelompok yang selama hampir satu abad menjadi pelopor bencana, dan tentu bermaksud tetap demikian, dengan harga murah berupa pergantian logo. Fakta bahwa EDF[21] berani menghidupkan kembali program nuklirnya sebagai solusi baru krisis energi global menunjukkan betapa solusi baru sering menyerupai masalah lama. Dari para Menteri Negara hingga ruang belakang kafe alternatif, kekhawatiran selalu diungkapkan dengan kata-kata yang sama seperti sebelumnya. Kita harus dimobilisasi. Kali ini bukan untuk membangun kembali negara seperti pascaperang, bukan untuk Ethiopia seperti 1980-an, bukan untuk lapangan kerja seperti 1990-an. Tidak, kali ini untuk lingkungan. Lingkungan akan berterima kasih. Al Gore dan gerakan pertumbuhan negatif berdiri berdampingan dengan tokoh-tokoh besar republik untuk menghidupkan kembali massa kiri kecil dan idealisme kaum muda yang terkenal. Dengan panji asketisme sukarela, mereka dengan penuh kebajikan membuat kita patuh terhadap “keadaan darurat ekologis yang akan datang.” Massa rasa bersalah yang kental menempel pada bahu kita yang lelah, membujuk kita untuk menanam kebun, memilah sampah, dan membuat kompos dari sisa pesta mengerikan ini. Mengelola penghapusan energi nuklir, kelebihan CO₂ di atmosfer, mencairnya gletser, badai, epidemi, ledakan populasi global, erosi tanah, kepunahan massal spesies hidup– semua ini akan menjadi beban kita. Mereka mengatakan, “setiap orang harus berkontribusi,” jika kita ingin menyelamatkan model peradaban indah ini. Kita harus sedikit mengurangi konsumsi agar tetap dapat mengonsumsi. Kita harus memproduksi secara organik agar tetap dapat memproduksi. Kita harus mengendalikan diri agar dapat terus mengendalikan. Inilah logika dunia yang berjuang mempertahankan dirinya sambil berpura-pura mengalami terobosan historis. Demikianlah mereka berusaha meyakinkan kita untuk berpartisipasi dalam tantangan industrial abad ini. Dalam kebingungan kita, kita siap melompat ke pelukan mereka yang memimpin kehancuran, dengan harapan mereka dapat menyelamatkan kita darinya. Ekologi bukan sekadar logika ekonomi total; ia adalah moralitas baru kapital. Krisis internal sistem dan penyaringan ketat yang sedang berlangsung menuntut kriteria baru yang menjadi dasar seleksi tersebut. Dari satu zaman ke zaman lain, gagasan kebajikan tak pernah lebih dari penemuan dari keburukan. Tanpa ekologi, Bagaimana kita membenarkan dua rezim pangan yang berbeda: satu “sehat dan organik” bagi kaum kaya dan anak-anak mereka, dan yang lain beracun bagi kaum jelata, yang keturunannya dikutuk menuju obesitas? Hiper-borjuasi planet tidak akan mampu menjadikan gaya hidupnya tampak terhormat jika keanehan terbarunya tidak tampak “ramah lingkungan.” Tanpa ekologi, tidak ada yang cukup berwibawa untuk membungkam keberatan terhadap kemajuan kontrol yang berlebihan. Pelacakan, transparansi, sertifikasi, pajak ekologi, keunggulan lingkungan, dan pengawasan air memberi gambaran tentang negara darurat ekologis yang akan datang. Segala sesuatu diizinkan bagi struktur kekuasaan yang mendasarkan otoritasnya pada Alam, kesehatan, dan kesejahteraan. “Begitu budaya ekonomi dan perilaku baru menjadi praktik umum, tindakan koersif niscaya akan memudar dengan sendirinya.” Hanya orang dengan keberanian konyol ala pengkhotbah televisi yang dapat mempertahankan pandangan membeku semacam itu, sekaligus menghasut kita untuk merasa cukup “kasihan pada planet” agar termobilisasi, sambil tetap cukup teranestesi untuk menontonnya dengan kesopanan. Asketisme hijau baru adalah pengendalian diri yang dituntut dari kita agar operasi penyelamatan dapat berlangsung, sementara sistem telah menyandera dirinya sendiri. Mulai sekarang, atas nama lingkungan, kita harus mengencangkan ikat pinggang sebagaimana dulu atas nama ekonomi. Jalan mungkin dapat diubah menjadi jalur sepeda; mungkin kita suatu hari bersyukur atas pendapatan dasar terjamin–tetapi dengan harga eksistensi yang sepenuhnya terapeutik. Mereka yang mengklaim pengendalian diri massal akan menyelamatkan kita dari kediktatoran lingkungan berbohong: yang satu mempersiapkan jalan bagi yang lain, dan kita akan mendapatkan keduanya. Selama masih ada Manusia dan Lingkungan, polisi akan berdiri di antara keduanya. Segala sesuatu dalam wacana lingkungan harus dibalik. Ketika mereka berbicara tentang “bencana” untuk menandai kesalahan pengelolaan sistem terhadap makhluk dan benda, kita justru melihat bencana dari operasi sistem yang terlalu sempurna. Gelombang kelaparan terbesar yang pernah terjadi di daerah tropis (1876-1879) bertepatan dengan kekeringan global, tetapi yang lebih penting, juga bertepatan dengan puncak kolonisasi. Penghancuran dunia petani dan praktik pangan lokal menghapus sarana menghadapi kelangkaan. Lebih dari sekadar kekurangan air, ekspansi ekonomi kolonial yang cepat menyebarkan jutaan mayat kurus di daerah tropis. Apa yang dihadirkan sebagai bencana ekologis pada hakikatnya adalah manifestasi relasi yang katastrofik dengan dunia. Menghuni ketiadaan membuat kita rentan terhadap guncangan sistem sekecil apa pun. Ketika tsunami terakhir mendekat dan wisatawan masih bermain ombak, para pemburu pengumpul pulau itu segera melarikan diri mengikuti burung. Paradoks lingkunganisme masa kini adalah bahwa dengan dalih menyelamatkan planet dari kehancuran, ia justru menyelamatkan sebab-sebab kehancuran tersebut. Fungsi normal dunia biasanya menyembunyikan kondisi perampasan katastrofik kita. Apa yang disebut “bencana” tidak lebih dari suspensi paksa kondisi tersebut, salah satu momen langka ketika kita kembali merasakan kehadiran dalam dunia. Biarlah cadangan minyak habis lebih cepat; biarlah arus internasional yang mengatur tempo metropolis terputus; biarlah terjadi gangguan sosial besar, “kembali ke kebiadaban,” “ancaman planet,” atau “akhir peradaban!” Bagaimanapun, kehilangan kendali lebih baik daripada semua skenario manajemen krisis yang mereka bayangkan. Ketika itu terjadi, para spesialis pembangunan berkelanjutan bukan yang memiliki nasihat terbaik. Justru dalam malfungsi dan hubungan arus pendek sistem kita menemukan unsur jawaban–yakni menghapus masalah itu sendiri. Di antara negara penandatangan Protokol Kyoto, hanya Ukraina dan Rumania yang memenuhi komitmennya, meskipun tanpa sengaja. Tebak mengapa. Eksperimen pertanian “organik” paling maju secara global sejak 1989 terjadi di Kuba. Tebak mengapa. Dan di sepanjang jalan raya Afrika, mekanik otomotif berkembang menjadi seni rakyat. Tebak bagaimana. Yang membuat krisis diinginkan adalah bahwa dalam krisis, lingkungan berhenti menjadi lingkungan. Kita dipaksa memulihkan kontak–meskipun berpotensi mematikan–dengan apa yang ada, menemukan kembali ritme realitas. Apa yang mengelilingi kita bukan lagi lanskap atau panggung, melainkan sesuatu yang harus dihuni, dipahami, dan dipelajari. Kita tidak akan tersesat oleh mereka yang menciptakan isi “bencana.” Ketika para pengelola mendiskusikan secara platonik cara mengurangi emisi “tanpa merusak keuntungan,” satu-satunya pilihan realistis yang dapat kita lihat adalah “merusak keuntungan” secepat mungkin, sambil memanfaatkan setiap keruntuhan sistem untuk meningkatkan kekuatan kita sendiri. New Orleans, beberapa hari setelah Badai Katrina. Dalam atmosfer apokaliptik ini, kehidupan di sana-sini menata ulang dirinya. Menghadapi ketidakberdayaan otoritas publik–yang lebih sibuk membersihkan kawasan wisata French Quarter dan melindungi toko-toko daripada menolong warga miskin– bentuk-bentuk lama bangkit kembali. Meski ada upaya pengusiran paksa dan aksi massa supremasi kulit putih, banyak orang menolak meninggalkan wilayah tersebut. Bagi mereka yang menolak dipindahkan sebagai “pengungsi lingkungan,” serta bagi mereka yang datang dari berbagai tempat dalam solidaritas, menanggapi seruan mantan anggota Black Panther, organisasi mandiri kembali muncul. Dalam beberapa minggu, Klinik Common Ground didirikan.[22] Sejak hari-hari pertama, “rumah sakit rakyat” ini menyediakan perawatan gratis dan efektif berkat arus sukarelawan. Lebih dari setahun kemudian, klinik ini tetap menjadi basis perlawanan harian terhadap operasi penggusuran pemerintah yang ingin mengubah kawasan itu menjadi ladang bagi pengembang properti. Dapur rakyat, distribusi logistik, pengobatan jalanan, pendudukan ilegal, pembangunan hunian darurat–semua pengetahuan praktis yang terkumpul sepanjang kehidupan menemukan ruang penerapan di sana, jauh dari seragam dan sirene. Siapa pun yang mengenal kegembiraan sederhana tanpa uang di lingkungan New Orleans sebelum bencana–ketidakpercayaan terhadap negara dan praktik luas memanfaatkan apa yang tersedia–tidak akan terkejut dengan apa yang menjadi mungkin di sana. Sebaliknya, mereka yang terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang teratomisasi mungkin meragukan bahwa tekad semacam itu masih ada. Menyambung kembali gestur-gestur tersebut, yang terkubur di bawah tahun-tahun kehidupan yang dinormalisasi, adalah satu-satunya cara praktis untuk tidak tenggelam bersama dunia. Waktunya akan tiba ketika kita menghidupkannya kembali. ** Lingkaran Ketujuh *** “KITA SEDANG MEMBANGUN RUANG YANG BERADAB DI SINI” Pembantaian global pertama, yang dari tahun 1914 hingga 1918 melenyapkan sebagian besar proletariat perkotaan dan pedesaan, dilancarkan atas nama kebebasan, demokrasi, dan peradaban. Selama lima tahun terakhir, apa yang disebut “perang melawan teror” dengan operasi khusus dan pembunuhan terarah juga dijalankan atas nama nilai-nilai yang sama. Namun kemiripan itu berhenti pada tingkat penampakan. Nilai peradaban tidak lagi begitu jelas sehingga dapat dibawa begitu saja kepada penduduk lokal. Kebebasan tidak lagi menjadi slogan yang ditulis di tembok, sebab kini ia selalu diikuti–seperti bayangannya–oleh kata “keamanan.” Dan sudah diketahui bahwa demokrasi dapat dibubarkan melalui dekret “keadaan darurat” semata–seperti misalnya dalam pelembagaan kembali praktik penyiksaan secara resmi di Amerika Serikat, atau dalam Undang-Undang Perben II di Prancis.[23] Dalam satu abad, kebebasan, demokrasi, dan peradaban kembali menjadi sekadar hipotesis. Pekerjaan para pemimpin kita sejak sekarang akan terdiri dari membentuk kondisi material dan moral, simbolik dan sosial, di mana hipotesis-hipotesis ini dapat divalidasi kurang lebih secara meyakinkan, dengan mengonfigurasi ruang-ruang di mana ia tampak berfungsi. Segala cara untuk tujuan tersebut dianggap sah, bahkan cara yang paling tidak demokratis, paling tidak beradab, dan paling represif. Ini adalah abad di mana demokrasi secara berkala melahirkan rezim fasis, di mana peradaban terus berima–dengan iringan Wagner atau Iron Maiden–dengan pemusnahan, dan di mana, suatu hari pada tahun 1929, kebebasan menunjukkan dua wajahnya: seorang bankir yang menjatuhkan diri dari jendela dan sebuah keluarga buruh yang mati kelaparan. Sejak saat itu–katakanlah sejak 1945–dianggap wajar bahwa manipulasi massa, operasi intelijen rahasia, pembatasan kebebasan sipil, dan kedaulatan penuh berbagai aparat kepolisian merupakan cara yang pantas untuk menjamin demokrasi, kebebasan, dan peradaban. Pada tahap akhir evolusi ini, kita melihat wali kota sosialis pertama Paris menyempurnakan proses pasifikasi urban melalui protokol kepolisian baru bagi sebuah lingkungan miskin, yang diumumkan dengan kata-kata yang dipilih secara cermat: “Kita sedang membangun ruang yang beradab di sini.” Tidak ada lagi yang perlu dikatakan–semuanya harus dihancurkan. Meskipun tampak bersifat umum, persoalan peradaban sama sekali bukan persoalan filosofis. Peradaban bukanlah abstraksi yang melayang di atas kehidupan. Ia adalah apa yang mengatur, menguasai, dan menjajah eksistensi paling banal, personal, dan sehari-hari. Ia adalah yang menyatukan apa yang paling intim dan paling umum. Di Prancis, peradaban tidak terpisahkan dari negara. Semakin tua dan kuat negara, semakin ia bukan sekadar suprastruktur atau kerangka luar masyarakat, melainkan pembentuk subjektivitas yang menghuninya. Negara Prancis adalah tekstur subjektivitas Prancis itu sendiri, bentuk yang diambil dari kastrasi berabad-abad atas subjek-subjeknya. Karena itu, tidak mengherankan bahwa dalam delusi mereka pasien psikiatri kerap mengidentifikasikan diri dengan tokoh politik; bahwa kita sepakat para pemimpin kita adalah sumber semua kesengsaraan kita; bahwa kita begitu gemar menggerutu tentang mereka–dan bahwa gerutuan itu justru menjadi penobatan yang meneguhkan mereka sebagai tuan kita. Di sini, politik tidak dipandang sebagai sesuatu di luar diri kita, melainkan bagian dari diri kita. Kehidupan yang kita investasikan pada figur-figur tersebut adalah kehidupan yang diambil dari kita. Jika ada yang disebut “pengecualian Prancis,” inilah alasannya. Segalanya, bahkan pengaruh global sastra Prancis, merupakan akibat amputasi ini. Di Prancis, sastra adalah ruang yang ditentukan bagi hiburan mereka yang telah dikebiri. Ia adalah kebebasan formal yang diberikan kepada mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehampaan kebebasan riil mereka. Dari sinilah lahir semua kedipan cabul yang selama berabad-abad dipertukarkan antara negarawan dan sastrawan di negeri ini, karena masing-masing dengan senang hati mengenakan kostum yang lain. Itulah pula sebabnya para intelektual di sini sering berbicara keras meskipun sebenarnya lemah, dan selalu gagal pada saat menentukan–satu-satunya momen yang dapat memberi makna pada eksistensi mereka, tetapi sekaligus akan membuat mereka diasingkan dari profesinya. Ada tesis yang kredibel bahwa sastra modern lahir bersama Baudelaire, Heine, dan Flaubert sebagai konsekuensi pembantaian negara terhadap pemberontakan Juni 1848. Dalam darah para pemberontak Paris, di tengah keheningan yang menyelimuti pembantaian itu, bentuk-bentuk sastra modern lahir–spleen, ambivalensi, fetisisme bentuk, dan jarak morbid. Afeksi neurotik yang dijanjikan bangsa Prancis kepada Republiknya–atas nama yang setiap noda tinta tampak bermartabat dan setiap penulis medioker dihormati–menopang represi permanen atas pengorbanan asal-usulnya. Hari-hari Juni 1848–1.500 orang tewas dalam pertempuran, ribuan eksekusi singkat terhadap tawanan, dan Majelis menyambut jatuhnya barikade terakhir dengan seruan “Hidup Republik!”–serta Pekan Berdarah 1871 adalah tanda lahir yang tak dapat disembunyikan oleh operasi apa pun. Pada 1945, Kojève menulis: “Ideal politik ‘resmi’ Prancis dan bangsa Prancis hingga kini masih berupa negara-bangsa, ‘Republik yang satu dan tak terbagi.’ Namun, jauh di lubuk jiwanya, negara itu memahami ketidakcukupan ideal tersebut, anakronisme politik gagasan yang semata-mata ‘nasional.’ Perasaan ini memang belum mencapai tingkat gagasan yang jelas dan tegas: negara tidak mampu, dan masih tidak mau, mengungkapkannya secara terbuka. Selain itu, justru karena kecemerlangan tak tertandingi masa lalu nasionalnya, Prancis sangat sulit mengenali secara jernih dan menerima secara jujur fakta berakhirnya periode ‘nasional’ dalam Sejarah dan memahami seluruh konsekuensinya. Sulit bagi negara yang menciptakan, dari ketiadaan, kerangka ideologis nasionalisme dan mengekspornya ke seluruh dunia untuk mengakui bahwa kini yang tersisa hanyalah dokumen untuk disimpan dalam arsip sejarah.” Persoalan negara-bangsa dan proses berduka atasnya merupakan inti dari apa yang selama setengah abad terakhir hanya dapat disebut sebagai malaise Prancis. Kita dengan sopan menyebut “pergantian kekuasaan” bagi kebimbangan gugup ini, ayunan seperti bandul dari kiri ke kanan lalu kanan ke kiri; seperti fase manik setelah fase depresi yang kemudian diikuti fase serupa; seperti kritik retoris terhadap individualisme yang hidup berdampingan dengan sinisme paling kejam, atau kemurahan hati paling agung dengan ketidaksukaan terhadap kerumunan. Sejak 1945, malaise ini–yang tampak mereda hanya selama semangat pemberontakan Mei 1968–terus memburuk. Era negara, bangsa, dan republik mendekati akhir; negara yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk bentukbentuk ini masih terpana. Badai yang dipicu kalimat sederhana Jospin, “negara tidak bisa melakukan segalanya,” memberi kita gambaran tentang badai yang akan muncul ketika jelas bahwa negara tidak lagi mampu melakukan apa pun. Perasaan telah ditipu menjadi luka yang semakin terinfeksi. Ia adalah sumber kemarahan laten yang kini dapat dipicu oleh apa saja. Fakta bahwa di negeri ini obituari era bangsa-bangsa belum pernah ditulis adalah kunci anakronisme Prancis, sekaligus kemungkinan revolusioner yang masih tersimpan. Apa pun hasilnya, pemilihan presiden berikutnya akan menandai berakhirnya ilusi Prancis dan pecahnya gelembung historis tempat kita hidup–gelembung yang memungkinkan peristiwa seperti gerakan anti-CPE, yang dipandang negara lain seperti mimpi buruk yang lolos dari 1970-an. Karena itu, jauh di lubuk hati, tak seorang pun benar-benar menginginkan pemilihan ini. Prancis memang menjadi lampu merah terakhir kawasan Barat.[24] Hari ini Barat adalah prajurit GI yang menerobos Fallujah dengan tank M1 Abrams sambil mendengarkan heavy metal keras-keras. Ia adalah turis yang tersesat di padang Mongolia, menjadi bahan ejekan semua orang, yang menggenggam kartu kredit sebagai satu-satunya tali penyelamat. Ia adalah CEO yang bersumpah setia pada permainan Go. Ia adalah gadis muda yang mengejar kebahagiaan melalui pakaian, lelaki, dan krim pelembap. Ia adalah aktivis HAM Swiss yang berkeliling dunia menunjukkan solidaritas kepada semua pemberontak–selama mereka sudah kalah. Ia adalah orang Spanyol yang tidak lagi peduli kebebasan politik setelah memperoleh kebebasan seksual. Ia adalah pecinta seni yang ingin kita takjub pada “genius modern” para seniman dari surealisme hingga aksi Wina yang berlomba meludahi wajah peradaban. Ia adalah ahli sibernetika yang menemukan teori kesadaran realistis dalam Buddhisme dan fisikawan kuantum yang berharap metafisika Hindu memicu penemuan ilmiah baru. Barat adalah peradaban yang bertahan dari semua nubuat kehancurannya melalui satu strategi khas. Sebagaimana borjuasi harus meniadakan dirinya sebagai kelas agar pemborjuisasian masyarakat dapat terjadi secara menyeluruh; sebagaimana kapital harus mengorbankan dirinya sebagai relasi upah untuk memaksakan diri sebagai relasi sosial–menjadi kapital budaya dan kesehatan selain kapital finansial; sebagaimana Kekristenan harus mengorbankan dirinya sebagai agama agar bertahan sebagai struktur afektif–sebagai imbauan samar akan kerendahan hati, belas kasih, dan kelemahan; demikian pula Barat mengorbankan dirinya sebagai peradaban partikular agar dapat memaksakan diri sebagai budaya universal. Operasi ini dapat diringkas: suatu entitas dalam fase sekarat mengorbankan dirinya sebagai isi agar dapat bertahan sebagai bentuk. Individu yang terfragmentasi bertahan sebagai bentuk melalui teknologi “spiritual” konseling. Patriarki bertahan dengan menimpakan kepada perempuan semua sifat terburuk lakilaki: kemauan keras, pengendalian diri, ketidakpekaan. Masyarakat yang tercerai-berai bertahan dengan menyebarkan epidemi sosialisasi dan hiburan. Demikian pula semua fiksi besar Barat yang usang mempertahankan diri melalui artifisialitas yang bertentangan dengan fiksi tersebut. Tidak ada “benturan peradaban.” Yang ada adalah peradaban yang mati secara klinis, dipertahankan oleh mesin penopang kehidupan yang menyebarkan wabah khas ke atmosfer planet. Pada tahap ini ia tidak lagi percaya pada satu pun “nilai”-nya sendiri, dan setiap penegasan nilai tersebut dianggap provokasi yang harus dibongkar, didekonstruksi, dan dikembalikan pada keraguan. Imperialisme Barat hari ini adalah imperialisme relativisme, “semuanya tergantung sudut pandang”; berupa cibiran atau kemarahan pura-pura terhadap siapa pun yang cukup “bodoh” untuk masih mempercayai sesuatu, menegaskan apa pun. Dogmatisme keraguan permanen dapat dilihat di universitas dan kalangan intelektual sastra. Tidak ada kritik yang terlalu radikal selama ia mempertahankan ketiadaan kepastian total. Seabad lalu, skandal identik dengan negasi yang gaduh; hari ini, skandal terdapat pada afirmasi yang tidak gemetar. Tidak ada tatanan sosial yang dapat berdiri kokoh di atas prinsip bahwa tidak ada yang benar. Namun ia harus dibuat kokoh. Penerapan konsep “keamanan” pada segala hal merupakan ekspresi proyek untuk memaksakan tatanan ideal pada tempat, perilaku, bahkan manusia yang tidak lagi bersedia tunduk. Mengatakan “tidak ada yang benar” tidak mengatakan apa pun tentang dunia, tetapi segalanya tentang konsepkebenaran Barat. Bagi Barat, kebenaran bukan atribut makhluk atau benda, melainkan representasinya. Representasi yang sesuai dengan pengalaman dianggap benar. Ilmu pengetahuan, pada akhirnya, adalah imperium verifikasi universal ini. Karena semua perilaku manusia didasarkan pada praanggapan yang tidak merata, dan karena semua praktik bermula dari titik di mana benda dan representasinya tidak lagi dapat dibedakan, selalu ada dosis kebenaran yang tidak dikenal konsep Barat dalam setiap kehidupan. Kita di Barat berbicara tentang “orang-orang nyata,” tetapi hanya untuk mengejek mereka. Itulah sebabnya Barat selalu dianggap pembohong dan munafik oleh bangsa yang dijajahnya. Barat dikagumi atas apa yang dimilikinya, tetapi dihina atas apa yang ia jadikan dirinya. Sade, Nietzsche, dan Artaud tidak akan diajarkan di sekolah jika jenis kebenaran tersebut tidak didiskreditkan lebih dulu. Mengendalikan semua afirmasi dan menonaktifkan semua kepastian–itulah kerja panjang intelektual Barat. Polisi dan filsafat adalah dua sarana berbeda tetapi konvergen untuk tujuan ini. Imperialisme relativisme ini tentu menemukan musuh yang cocok dalam setiap dogmatisme kosong–baik Marxis-Leninis, Sala-fi[25], maupun Neo-Nazi–yakni mereka yang, seperti Barat, mengira provokasi sebagai afirmasi. Pada tahap ini, setiap kritik sosial yang menolak melihat bahwa yang kita hadapi bukan sekadar krisis masyarakat, melainkan kepunahan peradaban, justru menjadi kaki tangan kelangsungannya. Bahkan menjadi strategi kontemporer untuk mengkritik masyarakat dengan harapan sia-sia menyelamatkan peradaban. Dengan demikian, kita memikul mayat di punggung kita, tetapi kita tidak dapat begitu saja menyingkirkannya. Tidak ada yang dapat diharapkan dari akhir peradaban, dari kematian klinisnya. Ia hanya menarik bagi para sejarawan. Ia adalah fakta, dan harus diterjemahkan menjadi keputusan. Fakta dapat disangkal, tetapi keputusan bersifat politis. Memutuskan kematian peradaban, lalu merumuskan bagaimana ia akan terjadi–hanya keputusanlah yang dapat membebaskan kita dari mayat itu. ** MULAILAH BERGERAK! Kita bahkan tidak lagi mampu membayangkan bagaimana sebuah pemberontakan dapat dimulai. Enam puluh tahun proses pasifikasi dan pembendungan gejolak sejarah, enam puluh tahun anestesi demokratis dan manajemen peristiwa, telah menumpulkan persepsi kita terhadap yang nyata, terhadap kesadaran akan perang yang sedang berlangsung. Kita perlu memulai dengan memulihkan kembali persepsi tersebut. Tidak ada gunanya merasa marah terhadap undang-undang yang secara terang-terangan inkonstitusional seperti Perben II. Tidak ada gunanya melakukan protes hukum terhadap keruntuhan total kerangka hukum itu sendiri. Kita harus mengorganisasikan diri. Tidak ada gunanya terlibat dalam kelompok warga tertentu, dalam jalan buntu sayap kiri radikal tertentu, atau dalam proyek “aksi komunitas” terbaru. Setiap organisasi yang mengklaim menentang tatanan yang ada meniru bentuk, adat, dan bahasa negara dalam skala mini. Hingga kini, setiap dorongan untuk “melakukan politik secara berbeda” hanya berkontribusi pada penyebaran tentakel negara secara tak terbatas. Tidak ada gunanya bereaksi terhadap berita harian; sebaliknya, kita harus memahami setiap laporan sebagai manuver dalam medan strategi yang bersifat permusuhan, operasi yang dirancang untuk memancing reaksi tertentu. Justru operasi-operasi itulah yang harus dipahami sebagai informasi sejati yang terkandung dalam berita tersebut. Tidak ada gunanya menunggu terobosan, revolusi, kiamat nuklir, atau gerakan sosial. Terus menunggu adalah kegilaan. Katastrofe itu bukan sesuatu yang akan datang–ia telah berlangsung. Kita sudah hudup di tengah keruntuhan peradaban. Dalam kenyataan inilah kita harus menentukan keberpihakan. Tidak lagi menunggu, dengan satu cara atau cara lain, berarti memasuki logika pemberontakan. Itu berarti kembali mendengar getaran halus–namun selalu hadir–dari ketakutan dalam suara para pemimpin kita. Sebab memerintah tidak pernah menjadi apa pun selain menunda, melalui seribu siasat, momen ketika massa akan menggantung penguasa; dan setiap tindakan pemerintahan tidak lebih dari cara untuk mempertahankan kendali atas populasi. Kita berangkat dari kondisi keterisolasian yang ekstrem, dari kelemahan yang ekstrem. Sebuah proses insurjensi harus dibangun dari bawah. Tidak ada yang tampak lebih kecil kemungkinannya daripada pemberontakan, namun tidak ada yang lebih mendesak daripada itu. ** TEMUKAN SATU SAMA LAIN *** Lekatkan dirimu pada apa yang kamu rasakan sebagai kebenaran. Mulailah dari sana. Sebuah perjumpaan, sebuah penemuan, gelombang besar pemogokan, gempa bumi: setiap peristiwa menghasilkan kebenaran dengan mengubah cara kita berada di dunia. Sebaliknya, setiap pengamatan yang membuat kita tetap acuh tak acuh, tidak memengaruhi kita, dan tidak mengikat kita pada apa pun, tidak lagi layak disebut sebagai kebenaran. Ada kebenaran di balik setiap gestur, setiap praktik, setiap relasi, dan setiap situasi. Biasanya kita hanya menghindarinya atau mengelolanya, yang pada akhirnya melahirkan kegilaan yang menimpa begitu banyak orang di zaman kita. Pada kenyataannya, segala sesuatu saling berkaitan. Perasaan bahwa seseorang sedang menjalani kehidupan yang palsu tetap merupakan sebuah kebenaran. Persoalannya adalah tidak melepaskannya, melainkan memulainya dari sana. Kebenaran bukanlah pandangan tentang dunia, melainkan sesuatu yang mengikat kita padanya secara tak tereduksi. Kebenaran bukan sesuatu yang kita miliki, melainkan sesuatu yang membawa kita. Ia membentuk dan meruntuhkan diriku, membangun sekaligus membongkar diriku sebagai individu; ia menjauhkan diriku dari banyak orang dan mendekatkanku kepada mereka yang juga mengalaminya. Seorang individu yang terisolasi dan berpegang teguh pada suatu kebenaran pada akhirnya akan bertemu dengan orang lain yang serupa dengannya. Sesungguhnya, setiap proses insurjensi bermula dari suatu kebenaran yang kita tolak untuk lepaskan. Pada dekade 1980-an di Hamburg, beberapa penghuni sebuah rumah yang diduduki memutuskan bahwa sejak saat itu mereka hanya akan digusur di atas jasad mereka sendiri. Sebuah lingkungan dikepung oleh tank dan helikopter, dengan hari-hari pertempuran jalanan, demonstrasi besar-besaran–dan seorang wali kota yang pada akhirnya menyerah. Pada tahun 1940, Georges Guingouin, “pejuang perlawanan Prancis pertama,” memulai dengan tidak lebih dari keyakinan akan penolakannya terhadap pendudukan Nazi. Pada masa itu, bagi Partai Komunis, ia hanyalah “orang gila yang hidup di hutan,” hingga akhirnya terdapat 20.000 “orang gila” yang hidup di hutan, dan Limoges[26] pun dibebaskan. *** Jangan Menjauh dari Dimensi Politik dalam Persahabatan Kita telah diwarisi gagasan netral tentang persahabatan, yang dipahami sebagai afeksi murni tanpa konsekuensi. Namun, setiap afinitas merupakan afinitas dalam suatu kebenaran bersama. Setiap perjumpaan adalah perjumpaan dalam suatu afirmasi bersama, bahkan jika itu adalah afirmasi atas penghancuran. Tidak ada ikatan yang benar-benar tak bersalah pada zaman ketika berpegang pada sesuatu dan menolak melepaskannya biasanya berujung pada pengangguran; ketika seseorang harus berbohong untuk bekerja, dan harus terus bekerja demi melanjutkan kebohongan itu. Orang-orang yang bersumpah setia pada fisika kuantum dan menelusuri implikasinya di seluruh bidang kehidupan tidak kalah terikat secara politis dibandingkan para kawan yang berjuang melawan perusahaan agribisnis multinasional. Cepat atau lambat, semuanya akan terdorong menuju pembelotan dan pertempuran. Para pelopor gerakan buruh mampu menemukan satu sama lain di bengkel kerja, lalu di pabrik. Mereka memiliki pemogokan untuk menunjukkan jumlah mereka dan menyingkap para pengkhianat. Mereka memiliki relasi upah, yang memperhadapkan kubu kapital dengan kubu buruh, sebagai dasar untuk menggambar garis solidaritas dan pertempuran pada skala global. Kita memiliki seluruh ruang sosial sebagai tempat untuk saling menemukan. Kita memiliki pembangkangan sehari-hari untuk menunjukkan jumlah kita dan menyingkap para pengecut. Kita memiliki permusuhan terhadap peradaban ini sebagai dasar untuk menarik garis solidaritas dan pertempuran pada skala global. *** Jangan Mengharapkan Apa Pun dari Organisasi. Waspadalah terhadap semua lingkungan sosial yang ada, dan yang terpenting, jangan menjadi bagian darinya. Tidak jarang, dalam proses perpecahan signifikan dalam ikatan sosial, seseorang bersinggungan dengan organisasi– politik, buruh, kemanusiaan, asosiasi komunitas, dan sebagainya. Di antara para anggotanya, kadang ditemukan individu yang tulus–meski sedikit putus asa–atau antusias–meski sedikit licik. Organisasi tampak menarik karena konsistensinya yang semu–mereka memiliki sejarah, kantor pusat, nama, sumber daya, pemimpin, strategi, dan wacana. Namun, mereka tetap merupakan struktur kosong yang, meskipun memiliki asal-usul yang agung, tidak pernah dapat benar-benar terisi. Dalam seluruh aktivitasnya, pada setiap tingkat, organisasi-organisasi tersebut sibuk dengan kelangsungan hidupnya sendiri sebagai organisasi, dan sedikit sekali hal lainnya. Pengkhianatan yang berulang kali mereka lakukan kerap mengasingkan komitmen para anggota akar rumputnya sendiri. Itulah sebabnya, kadang-kadang, seseorang masih dapat menemukan individu-individu yang bermartabat di dalamnya. Namun, janji perjumpaan sejati hanya dapat terwujud di luar organisasi dan, secara tak terelakkan, berseberangan dengannya. Yang jauh lebih berbahaya adalah lingkungan sosial, dengan teksturnya yang lentur, gosipnya, dan hierarki informalnya. Menjauhlah dari semua lingkungan sosial. Setiap lingkungan sosial diarahkan pada penetralan suatu kebenaran tertentu. Lingkaran sastra ada untuk meredam kejernihan tulisan. Lingkungan anarkis ada untuk menumpulkan ketegasan aksi langsung. Lingkungan ilmiah ada untuk menahan implikasi penelitian mereka dari mayoritas masyarakat masa kini. Lingkungan olahraga ada untuk membatasi berbagai bentuk kehidupan yang seharusnya mereka ciptakan di dalam ruang-ruang gimnasium. Lingkaran budaya dan aktivis adalah yang paling harus dihindari. Mereka adalah panti jompo tempat hasrat revolusioner biasanya berakhir dan mati. Tugas lingkaran budaya adalah mengidentifikasi intensitas yang baru muncul dan menjelaskan secara berlebihan makna dari apa pun yang sedang kamu lakukan, sementara tugas lingkaran aktivis adalah menguras energimu untuk melakukannya. Lingkungan aktivis menyebarkan jejaringnya secara luas di seluruh wilayah Prancis dan muncul di jalur setiap perkembangan revolusioner. Mereka tidak menawarkan apa pun selain kisah tentang banyaknya kekalahan yang mereka alami dan kepahitan yang dihasilkannya. Keletihan mereka membuat mereka tidak mampu menangkap kemungkinan-kemungkinan masa kini. Selain itu, demi memelihara kepasifan yang menyedihkan, mereka terlalu banyak berbicara, sehingga tidak dapat diandalkan ketika berhadapan dengan polisi. Sebagaimana tidak berguna mengharapkan apa pun dari mereka, sama bodohnya untuk merasa kecewa terhadap kemandekan mereka. Yang terbaik adalah meninggalkan beban mati ini. Semua lingkungan sosial bersifat kontra revolusioner karena mereka hanya berusaha mempertahankan kenyamanan suram mereka. *** Membentuk Komune Komune muncul ketika orang-orang saling menemukan, saling menyesuaikan diri, dan memutuskan suatu jalan bersama. Komune mungkin adalah apa yang diputuskan justru pada saat ketika biasanya kita akan berpisah. Ia adalah kegembiraan dari sebuah perjumpaan yang bertahan melampaui akhir yang diperkirakan. Ia adalah apa yang membuat kita mengatakan “kita,” dan menjadikannya sebuah peristiwa. Yang aneh bukanlah bahwa orang-orang yang selaras satu sama lain membentuk komune, melainkan bahwa mereka tetap terpisah. Mengapa komune tidak berkembang di mana-mana? Di setiap pabrik, setiap jalan, setiap desa, setiap sekolah. Pada akhirnya, masa kejayaan komite basis! Komune yang menerima keberadaannya sebagaimana adanya dan di mana pun ia berada. Dan, jika memungkinkan, beragam komune yang akan menggantikan institusi-institusi masyarakat: keluarga, sekolah, serikat pekerja, klub olahraga, dan sebagainya. Komune yang tidak takut, di luar aktivitas politiknya yang spesifik, untuk mengorganisasikan diri demi kelangsungan hidup material dan moral setiap anggotanya serta semua orang di sekitarnya yang masih terombang-ambing. Komune yang tidak mendefinisikan diri–sebagaimana kecenderungan kolektif–berdasarkan siapa yang berada di dalam atau di luar mereka, melainkan berdasarkan kepadatan ikatan yang berada di pusatnya. Bukan berdasarkan keanggotaan, melainkan berdasarkan semangat yang menghidupinya. Sebuah komune terbentuk setiap kali sekelompok orang, yang terbebas dari kungkungan individualitas mereka, memutuskan untuk hanya mengandalkan diri mereka sendiri dan menguji kekuatan mereka terhadap realitas. Setiap pemogokan liar adalah sebuah komune; setiap bangunan yang diduduki secara kolektif dan berdasarkan prinsip yang jelas adalah komune; komite aksi tahun 1968 adalah komune, demikian pula komunitas pelarian budak di Amerika Serikat, atau Radio Alice di Bologna pada tahun 1977. Setiap komune berupaya menjadi basis bagi dirinya sendiri. Ia berupaya melampaui persoalan kebutuhan. Ia berupaya memutus segala ketergantungan ekonomi dan segala bentuk subordinasi politik; ia akan merosot menjadi sekadar lingkungan sosial ketika kehilangan kontak dengan kebenaran-kebenaran yang menjadi fondasinya. Terdapat berbagai jenis komune yang tidak menunggu jumlah massa maupun sarana untuk mengorganisasikan diri, dan terlebih lagi tidak menunggu “momen yang tepat”–yang tidak pernah benar-benar tiba. ** TER-ORGANISIR-LAH *** TER-ORGANISIR-LAH agar tidak perlu lagi bekerja Kita mengetahui bahwa individu memiliki kehidupan yang sedemikian minim sehingga mereka harus “mencari nafkah,” menjual waktu mereka demi secuil eksistensi sosial. Waktu pribadi ditukar dengan eksistensi sosial–itulah kerja, itulah pasar. Sejak awal, waktu komune menghindari kerja; ia tidak beroperasi menurut skema tersebut–ia lebih memilih bentuk-bentuk lain. Kelompok piqueteros di Argentina, missalnya, secara kolektif memeras semacam jaminan sosial lokal yang disyaratkan oleh beberapa jam kerja; mereka tidak mencatat jam kerja, melainkan mengumpulkan manfaat tersebut secara kolektif dan menggunakannya untuk memperoleh bengkel pakaian, toko roti, serta membangun kebun-kebun yang mereka perlukan. Komune memang membutuhkan uang, tetapi bukan karena kita harus mencari nafkah. Semua komune memiliki pasar gelapnya sendiri. Ada banyak cara bertahan. Selain bantuan sosial, terdapat berbagai tunjangan, uang disabilitas, akumulasi bantuan mahasiswa, subsidi dari klaim kelahiran fiktif, berbagai bentuk perdagangan ilegal, dan banyak cara lain yang muncul seiring setiap mutasi mekanisme kontrol. Bukan tugas kita untuk membela atau menetap dalam tempat perlindungan sementara itu, atau mempertahankannya sebagai privilese bagi segelintir orang yang mengetahui caranya. Yang penting adalah menumbuhkan dan menyebarkan disposisi yang diperlukan terhadap penipuan, serta berbagi inovasinya. Bagi komune, persoalan kerja hanya muncul dalam kaitannya dengan sumber-sumber pendapatan lain yang sudah ada. Kita juga tidak boleh melupakan pengetahuan berguna yang dapat diperoleh melalui profesi tertentu, pekerjaan teknis, atau posisi kerja strategis. Tuntutan komune adalah membebaskan waktu sebanyak mungkin bagi sebanyak mungkin orang. Ini bukan semata tentang jumlah jam yang bebas dari eksploitasi kerja upahan. Waktu yang dibebaskan tidak berarti liburan. Waktu kosong, waktu mati, waktu kehampaan dan ketakutan terhadap kehampaan–itulah waktu kerja. Tidak akan ada lagi waktu yang harus diisi, melainkan pembebasan energi yang tidak dapat ditampung oleh konsep “waktu”; garis-garis kemungkinan yang terbentuk, saling menguatkan, dan dapat kita ikuti hingga berujung pada pertemuannya dengan garis lain. *** Merampas, Menanam, Memproduksi Sebagian mantan pekerja MetalEurop memilih menjadi perampok bank ketimbang penjaga penjara. Sebagian pekerja EDF mengajarkan kepada kerabat dan teman cara memanipulasi meteran listrik. Barang-barang yang “jatuh dari belakang truk” dijual ke mana-mana. Dunia yang begitu terang-terangan menyatakan sinismenya tidak dapat mengharapkan kesetiaan besar dari kaum proletar. Di satu sisi, komune tidak dapat bergantung selamanya pada “negara kesejahteraan”; di sisi lain, komune juga tidak dapat hidup lama dari pencurian toko, pengumpulan makanan dari tempat sampah supermarket, pengalihan subsidi negara, penipuan asuransi, dan bentuk-bentuk penjarahan lain. Karena itu, komune harus mempertimbangkan cara terus-menerus meningkatkan tingkat dan jangkauan pengorganisasian dirinya. Tidak ada yang lebih logis daripada menggunakan mesin bubut, mesin frais, dan mesin fotokopi yang dijual murah setelah penutupan pabrik untuk mendukung konspirasi melawan masyarakat komoditas. Perasaan akan keruntuhan yang segera datang saat ini begitu kuat sehingga sulit mencatat seluruh eksperimen kontemporer dalam bidang konstruksi, energi, material, praktik ilegal, atau pertanian. Ada serangkaian keterampilan dan teknik yang menunggu untuk direbut dari bungkus humanistik, budaya jalanan, atau retorika ramah lingkungan. Namun, eksperimen-eksperimen ini hanyalah satu bagian dari keseluruhan intuisi, pengetahuan praktis, dan kecerdikan yang berkembang di kawasan kumuh–yang harus dimobilisasi jika kita ingin menghidupkan kembali gurun metropolitan dan memastikan keberlanjutan pemberontakan melampaui tahap awalnya. Bagaimana kita akan berkomunikasi dan bergerak ketika aliran logistik terhenti total? Bagaimana kita memulihkan produksi pangan di pedesaan hingga mampu kembali menopang kepadatan penduduk seperti enam puluh tahun lalu? Bagaimana kita mengubah ruang beton menjadi kebun sayur kota seperti yang dilakukan Kuba untuk bertahan dari embargo Amerika dan runtuhnya Uni Soviet? *** Pelatihan dan Pembelajaran Apa yang tersisa setelah sebagian besar waktu luang yang diizinkan demokrasi pasar telah kita habiskan? Apa yang mendorong kita berlari pagi setiap hari Minggu? Apa yang membuat para penggemar karate, DIY, memancing, atau mikologi terus berlatih? Jika bukan kebutuhan untuk mengisi waktu yang sepenuhnya kosong, memulihkan tenaga kerja, atau “modal kesehatan”? Sebagian besar aktivitas rekreasi dapat dilepaskan dari absurditasnya dan menjadi sesuatu yang lain. Tinju, misalnya, tidak selalu terbatas pada pertunjukan spektakuler. Pada awal abad ke-20, ketika Cina diperebutkan kolonialis dan dilanda kekeringan panjang, ratusan ribu petani miskin membentuk klub-klub tinju terbuka untuk merebut kembali apa yang dirampas kolonialis dan elite lokal. Inilah Pemberontakan Boxer. Tidak pernah terlalu dini untuk mempelajari keterampilan yang mungkin dibutuhkan masa depan yang kurang terkontrol dan kurang dapat diprediksi. Ketergantungan kita pada metropolis–pada sistem medisnya, pertaniannya, dan kepolisiannya–saat ini begitu besar sehingga kita tidak dapat menyerangnya tanpa membahayakan diri sendiri. Kesadaran tak terucap atas kerentanan ini menjelaskan pembatasan spontan dalam gerakan sosial kontemporer serta ketakutan kita terhadap krisis dan keinginan akan “keamanan.” Karena itu, pemogokan sering menukar kemungkinan revolusi dengan Kembalinya normalitas. Untuk melampaui nasib ini dibutuhkan proses pembelajaran yang panjang dan konsisten, serta eksperimen besarbesaran. Kita perlu mengetahui cara bertarung, membuka kunci, mengobati patah tulang dan penyakit; membangun pemancar radio bajakan; mendirikan dapur jalanan; menembak dengan tepat; menghimpun pengetahuan tersebar; mengembangkan agronomi masa krisis; memahami biologi plankton, komposisi tanah, interaksi tanaman, serta potensi dan batas lingkungan sekitar kita. Semua itu harus dimulai sekarang, sebagai persiapan untuk hari-hari ketika kebutuhan kita melampaui sekadar pemenuhan simbolik atas pangan dan perawatan. *** Menciptakan Teritori, Memperbanyak Zona Ketertutupan. Semakin banyak reformis kini mengakui bahwa dengan mendekatnya “puncak minyak” dan demi mengurangi emisi gas rumah kaca, ekonomi harus direlokalisasi, rantai pasokan regional diperkuat, dan ketergantungan pada impor jarak jauh dikurangi. Yang mereka lupakan adalah bahwa ekonomi lokal hampir selalu berlangsung secara informal dan di luar pengawasan resmi. Relokalisasi ekonomi secara ekologis berarti pembebasan total dari kontrol negara–atau sebaliknya, penyerahan total padanya. Teritori modern merupakan produk berabad-abad operasi kepolisian. Orang dipaksa meninggalkan ladang, jalan, lingkungan, hingga lorong apartemen mereka demi mengurung kehidupan dalam ruang privat. Bagi kita, persoalan teritori bukanlah soal kepemilikan, melainkan meningkatkan kepadatan komune, sirkulasi, dan solidaritas hingga teritori menjadi tak terbaca oleh otoritas. Kita tidak ingin menduduki teritori–kita ingin menjadi teritori itu sendiri. *** Bepergian dan Membuka Jalur Komunikasi Sendiri Prinsip komune bukan menentang mobilitas metropolis dengan kelekatan lokal semata. Gerakan pembentukan komune harus melampaui mobilitas metropolis secara diam-diam. Kita tidak perlu menolak infrastruktur komunikasi dan perjalanan komersial, tetapi harus memahami batasnya dan bertindak secara hati-hati. Pertemuan langsung lebih aman, tidak meninggalkan jejak digital, dan menciptakan ikatan lebih kuat dibanding jaringan daring. Kebebasan bergerak lintas wilayah bahkan lintas benua merupakan aset penting dalam komunikasi antar jaringan perlawanan. *** Menghapus Hambatan, Satu per Satu Kota dipenuhi tindakan incivility. Polisi berusaha memulihkan ketertiban, sementara kita mewakili gerakan kebalikannya. Semua tindakan pelanggaran kecil harus menjadi gerilya yang sistematis untuk mengembalikan ketidakpatuhan kita. Prinsip sabotase sederhana: risiko minimum, waktu minimum, kerusakan maksimum. Sabotase dapat diarahkan pada produksi dan sirkulasi. Infrastruktur metropolitan–transportasi, jaringan energi, jaringan informasi–sangat rentan. Sabotase yang efektif berarti merebut kembali dan menciptakan metode untuk memutus jaringan-jaringan ini. *** Hindari Visibilitas. Jadikan Anonimitas Sebagai Posisi Ofensif Menjadi terlihat berarti rentan. Upaya membuat perjuangan menjadi “terlihat” sering justru melemahkannya. Sebaliknya, anonimitas dapat menjadi posisi ofensif melalui aksi rahasia, malam hari, atau tanpa identitas. *** Mengorganisasi Pertahanan Diri Kita hidup di bawah pendudukan kepolisian. Penangkapan imigran, patroli kendaraan tak bertanda, dan teknik pengamanan kolonial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pertahanan diri harus menjadi praktik kolektif–mencegah penangkapan, melindungi anggota, dan mempersiapkan diri menghadapi represi. Namun, tantangan semakin besar: pengawasan biometrik, penyadapan, basis data digital, dan identitas elektronik. Jika Komune Paris pernah membakar arsip negara, kita hari ini harus menemukan cara menghancurkan basis data digital secara permanen. ** INSUREKSI Komune adalah unit dasar dari realitas partisan. Sebuah gelombang pemberontakan mungkin tidak lebih dari pelipatgandaan komune, saling bertemunya mereka, dan terbentuknya jaringan keterkaitan di antara mereka. Seiring perkembangan peristiwa, komune-komune itu dapat menyatu menjadi entitas yang lebih besar atau justru terpecah. Perbedaan antara sekelompok saudara dan saudari yang terikat “seumur hidup” dengan perhimpunan berbagai kelompok, komite, dan geng yang mengorganisasi logistik serta pertahanan diri suatu lingkungan, bahkan suatu wilayah yang sedang memberontak, hanyalah perbedaan skala; semuanya tetap merupakan komune. Komune secara kodrati cenderung menuju kemandirian, serta memandang uang–secara internal–sebagai sesuatu yang ganjil dan pada akhirnya tidak pada tempatnya. Kekuatan uang menghubungkan mereka yang tidak saling terhubung, mengaitkan orang asing sebagai orang asing, dan dengan menjadikan segala sesuatu setara, memasukkan semuanya ke dalam sirkulasi. Harga dari kemampuan uang untuk menghubungkan segala hal adalah kedangkalan hubungan tersebut, di mana penipuan menjadi aturan. Ketidakpercayaan merupakan dasar relasi kredit. Oleh karena itu, kekuasaan uang selalu sekaligus merupakan kekuasaan pengendalian. Penghapusan praktis uang hanya akan terjadi melalui perluasan komune. Komune harus diperluas sambil memastikan bahwa ia tidak melampaui ukuran tertentu, karena di luar batas itu ia akan kehilangan keterhubungan dengan dirinya sendiri dan hampir pasti melahirkan kasta dominan. Akan lebih baik bila komune terpecah dan menyebar, sehingga menghindari akibat yang tidak diinginkan tersebut. Pemberontakan pemuda Aljazair yang meletus di seluruh wilayah Kabylia pada musim semi 2001 berhasil menguasai hampir seluruh teritori, menyerang kantor polisi, pengadilan, dan setiap representasi negara, serta menggeneralisasi pemberontakan hingga memaksa mundurnya sepihak aparat keamanan dan secara fisik menggagalkan pemilu. Kekuatan gerakan ini terletak pada komplementaritas yang tersebar dari berbagai komponennya–yang hanya sebagian terwakili oleh majelis desa yang panjang, melelahkan, dan sangat didominasi laki-laki, serta berbagai komite rakyat lainnya. “Komune-komune” dari pemberontakan yang masih membara ini memiliki banyak wajah: para pemuda berani yang melemparkan tabung gas ke polisi antihuru-hara dari atap bangunan di Tizi Ouzou; senyum sinis seorang pejuang perlawanan tua yang berselimut burnous; semangat perempuan-perempuan desa pegunungan yang dengan keras kepala mempertahankan pertanian tradisional–tanpa itu, pemblokiran ekonomi kawasan tidak mungkin berlangsung sekonsisten dan sesistematis yang terjadi. *** Manfaatkan setiap krisis “Maka harus dikatakan juga bahwa kita tidak akan mampu me-nangani seluruh populasi Prancis. Pilihan harus dibuat.” Demikian seorang pakar virologi merangkum, dalam artikel Le Monde bertanggal 7 September 2005, apa yang akan terjadi jika pandemi flu burung melanda. “Ancaman terorisme,” “bencana alam,” “peringatan virus,” “gerakan sosial,” dan “kekerasan perkotaan” bagi para pengelola masyarakat adalah momen-momen instabilitas yang memungkinkan mereka memperkuat kekuasaan, melalui seleksi terhadap mereka yang menyenangkan dan eliminasi terhadap mereka yang menyulitkan. Jelas, momen-momen ini juga merupakan peluang bagi kekuatan lain untuk mengonsolidasikan diri atau saling memperkuat ketika mengambil posisi berlawanan. Terputusnya aliran komoditas, penangguhan normalitas (cukup melihat bagaimana kehidupan sosial kembali hidup dalam sebuah gedung yang tiba-tiba kehilangan listrik untuk membayangkan bagaimana kehidupan dapat berkembang dalam kota yang kehilangan segalanya), serta kendali polisi justru membebaskan potensi swadaya yang tak terbayangkan dalam situasi lain. Orang-orang tidak buta terhadap hal ini. Gerakan buruh revolusioner memahami hal tersebut dengan baik, dan memanfaatkan krisis ekonomi borjuis untuk mengumpulkan kekuatan. Kini, partai-partai Islam sering kali menjadi kuat ketika mereka mampu secara cerdas menutupi kelemahan negara–seperti ketika mereka menyediakan bantuan pascagempa di Boumerdes, Aljazair, atau melalui bantuan harian kepada penduduk Lebanon selatan setelah wilayah itu dihancurkan oleh militer Israel. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kehancuran New Orleans akibat Badai Katrina memberi sebagian kalangan anarkis Amerika Utara kesempatan untuk mencapai kohesi yang sebelumnya tidak mereka kenal, dengan menghimpun semua pihak yang menolak evakuasi paksa. Dapur umum jalanan menuntut persiapan logistik sebelumnya; bantuan medis darurat menuntut pengetahuan dan peralatan; begitu pula pendirian radio ilegal. Kekayaan politik dari pengalaman-pengalaman semacam ini terletak pada kegembiraan yang dikandungnya, pada kemampuannya melampaui ketabahan individual, dan pada kemunculan realitas konkret yang melampaui suasana keseharian yang dipenuhi ketertiban dan kerja. *** Sabotase setiap otoritas representatif. Sebarkan percakapan. Hapus majelis umum. Hambatan pertama yang dihadapi setiap gerakan sosial, bahkan sebelum polisi formal, adalah serikat pekerja dan seluruh mikro-birokrasi yang bertugas mengendalikan perjuangan. Komune, kolektif, dan geng secara alami mencurigai struktur-struktur ini. Karena itu, selama dua puluh tahun terakhir, para birokrat paralel menciptakan komite koordinasi dan dewan juru bicara yang tampak lebih polos karena tidak memiliki label mapan, tetapi sesungguhnya menjadi medan ideal bagi manuver mereka. Refleks lain adalah menyerukan majelis umum pada tanda-tanda awal gerakan, lalu melakukan pemungutan suara. Ini adalah kesalahan. Praktik pemungutan suara dan penentuan pemenang cukup untuk mengubah majelis menjadi mimpi buruk–sebuah teater tempat para calon kecil penguasa saling berhadapan. Di sini kita menderita akibat teladan buruk parlemen borjuis. Majelis bukanlah tempat pengambilan keputusan, melainkan ruang percakapan terbuka tanpa tujuan yang ditetapkan sebelumnya. *** Blokir ekonomi, namun ukur kekuatan pemblokiran melalui tingkat swadaya kita Dalam ekonomi yang terdelesentralisasi, di mana perusahaan beroperasi berdasarkan produksi just-in-time, memblokir sirkulasi berarti sekaligus memblokir produksi. Namun, pemblokiran hanya akan efektif sejauh para pemberontak mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan berkomunikasi satu sama lain–sejauh tingkat pengorganisasian mandiri komune-komune itu. *** Bebaskan teritori dari pendudukan polisi. Jika memungkinkan, hindari konfrontasi langsung Dorongan untuk membebaskan teritori dari pendudukan polisi telah berlangsung, didukung oleh cadangan kebencian yang tak ada habisnya terhadap aparat ketertiban. Namun yang terpenting bukanlah menjadi lebih bersenjata, melainkan mengambil inisiatif. Keberanian saja tidak cukup; kepercayaan terhadap keberanian sendiri adalah segalanya. *** Angkat senjata. Lakukan segala hal agar penggunaannya menjadi tidak perlu. Tidak ada pemberontakan yang sepenuhnya damai. Senjata diperlukan–namun persoalannya adalah melakukan segala sesuatu agar penggunaannya tidak diperlukan. Pemberontakan lebih berkaitan dengan mengangkat senjata dan mempertahankan “kehadiran bersenjata” daripada perang bersenjata itu sendiri. Kita harus membedakan secara jelas antara memiliki senjata dan menggunakan senjata. Dari sudut pandang strategis, tindakan tidak langsung dan asimetris tampak sebagai bentuk paling efektif, paling sesuai dengan zaman kita. Militerisasi perang saudara merupakan kekalahan pemberontakan. *** Gulingkan otoritas pada tingkat lokal Tujuan setiap pemberontakan adalah menjadi tak dapat diputarbalikkan. Hal ini tercapai ketika bukan hanya otoritas yang dikalahkan, tetapi juga kebutuhan akan otoritas; bukan hanya kepemilikan yang dihapus, tetapi juga hasrat untuk menguasai; bukan hanya hegemoni yang runtuh, tetapi juga keinginan untuk berhegemonik. Kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi pada satu titik dunia; ia adalah dunia itu sendiri–arusnya, jalurnya, penduduknya, norma-normanya, kode-kodenya, dan teknologinya. Siapa pun yang mengalahkannya secara lokal akan mengirimkan gelombang kejut ke seluruh jaringan globalnya. ** SELURUH KEKUASAAN BAGI KOMUNE! Di kereta bawah tanah, tidak lagi tampak tirai kecanggungan yang biasanya menghalangi gestur para penumpang. Orang asing berbincang tanpa rayuan. Sekelompok kawan berdiskusi di sudut jalan. Majelis-majelis yang lebih besar memenuhi boulevard, tenggelam dalam perdebatan. Serangan mendadak terjadi dari kota ke kota, hari demi hari. Barak militer baru saja dijarah dan dibakar habis. Penghuni bangunan yang digusur berhenti bernegosiasi dengan kantor wali kota; mereka menetap kembali. Berkas berisi alamat pribadi seluruh polisi bocor ke publik, memicu gelombang perpindahan mendadak. Barang-barang berlebih dibawa ke toko desa lama dan ditukar dengan yang dibutuhkan. Radio menjaga para pemberontak tetap terinformasi tentang mundurnya pasukan pemerintah. Sebuah roket baru saja menjebol dinding penjara Clairvaux. Mustahil mengatakan apakah “peristiwa-peristiwa” ini telah berlangsung berbulan-bulan atau bertahuntahun. Dan perdana menteri tampak semakin sendirian dalam seruannya akan ketenangan.
[1] Penj- Tiram (oysters) dalam konteks ini berfungsi sebagai metafora kenikmatan borjuis dan ritus konsumsi kelas menengah dalam perayaan Tahun Baru di Prancis.
[2] Michele Alliot-Marie, Mentri dalam Negeri Prancis.
[3] Penj- Istilah “kontaminasi Yunani” (Greek contamination) merujuk pada kekhawatiran negara-negara Eropa Barat terhadap meluasnya gelombang kerusuhan sosial di Yunani pada Desember 2008. [4] Penj- Kerviel dan Madoff merujuk pada dua skandal finansial besar yang terungkap pada tahun 2008, yang menyingkap ketidakstabilan sistem kapitalisme finansial global dan krisis kepercayaan publik terhadap institusi keuangan. [5] Penj- “Operasi kuasi-linguistik” menunjuk pada penggunaan bahasa oleh negara dan media untuk mengklasifikasikan subjek sosial (misalnya “warga negara” vs “delinkuen”) guna melegitimasi tindakan represif, sehingga bahasa berfungsi sebagai pendahulu kekerasan institusional. [6] Penj- Banlieues merujuk pada kawasan pinggiran kota di Prancis yang secara historis dan struktural dicirikan oleh marginalisasi sosial, konsentrasi kelas pekerja dan imigran, serta relasi konfliktual dengan negara; dalam konteks ini, banlieues dipahami sebagai ruang sosial-politik tempat ketegangan dan perlawanan terhadap tatanan dominan kerap muncul, bukan sekadar kategori geografis. [7] Chibani adalah bahasa Arab untuk orang tua, di sini merujuk pada para pria tua yang bermain back-gammon di kafe-kafe Belleville, sebuah lingkungan yang sebagian besar dihuni oleh imigran di Paris. [8] Mereka Semua Harus Pergi! teriakan pemberontakan Argentina 2001. [9] Sebuah LSM Anti-Rasisme Prancis yang didirikan oleh Partai Sosialis François Mitterrand pada tahun 1980-an [10] Kode diam mafia: sama sekali tidak bekerja sama dengan aparat negara atau bergantung pada layanan mereka. [11] Pertempuran yang menghancurkan Komune Paris tahun 1871, selama peristiwa ini ratusan bangunan di sekitar Paris dibakar oleh kaum komunis. [12] Pinggiran timur laut Paris, tempat pada 27 Oktober 2005, dua remaja tewas saat melarikan diri dari polisi, memicu kerusuhan 2005. [13] Polisi berpakaian preman Brigade Anti Kejahatan yang bertindak sebagai tim anti-geng, beroperasi di banlieues tapi juga dalam demonstrasi, sering bertindak seperti geng itu sendiri dalam persaingan untuk wilayah dan sumber daya. [14] Grup rap Prancis yang populer. [15] Sebuah proyek perumahan, biasanya di daerah miskin seperti banlieue. [16] Undang-undang Ferry–yang mendirikan sistem pendidikan sekuler dan republik Prancis–dinamai menurut Jules Ferry yang awalnya mengusulkannya pada tahun 1881. [17] Seorang bandit legendaris Prancis, 1936–1979. [18] Penj- Muzak merujuk pada musik latar komersial yang dirancang menciptakan suasana nyaman dan terkendali di ruang publik; dalam kritik sosial, istilah ini melambangkan suasana artifisial dalam budaya konsumsi modern. [19] Penj- Rumah prefab adalah rumah siap-pasang hasil produksi massal yang seragam dan minim ikatan sosial; di sini melambangkan perumahan pinggiran kota yang individualistis dan miskin rasa komunitas. [20] Penj- Feri-feri: kapal penyeberangan yang menjadi sasaran pembubaran pemogokan buruh oleh aparat keamanan. [21] Électricité de France (EDF) adalah perusahaan utama dalam pembangkit dan distribusi listrik di Prancis dan salah satu yang terbesar di dunia, memasok sebagian besar listriknya dari reaktor nuklir. [22] Jarak tertentu menghasilkan ketidakterlihatan tertentu. Common Ground telah dikritik di Amerika Utara karena aktivitasnya diarahkan kembali ke normalitas — yaitu, ke fungsi normal masyarakat. Dalam hal apa pun, ia tetap berada di ranah politik klasik. Pendiri Common Ground, mantan Black Panther Malik Rahim, pada akhirnya menggunakan proyek tersebut sebagai bagian dari pencalonannya yang tidak berhasil untuk Kongres AS pada tahun 2008. Kemudian terungkap bahwa salah satu juru bicara utama proyek tersebut, Brandon Darby, adalah informan FBI. [23] Perben II adalah undang-undang yang diperkenalkan di Prancis pada tahun 2004 yang menargetkan "kejahatan terorganisir" dan "kenakalan" serta memungkinkan pemberian hukuman tanpa pengadilan. [24] "Lentera merah" adalah julukan bagi peserta terakhir yang finis di Tour de France. [25] Penj- Sala-fi di sini merujuk pada Salafisme yang dipahami secara polemis sebagai bentuk dogmatisme religius yang kaku dan ahistoris. [26] Penj- Limoges merupakan nama kota di Prancis. Kota tersebut dibebaskan dari pendudukan Nazi pada 1944 oleh perlawanan lokal (maquis) yang dipimpin Georges Guingouin.