Keheningan melanda bagaikan bencana. Api Agustus, api pada Mayday Semarang tahun lalu, dan api-api di seluruh dunia, kian hangus dijilat luka air. Dalam prosesnya, slogan-slogan berserak di lantai sejarah. Di antara serakan tersebut, slogan-slogan kian menemukan jalannya sendiri. Retour à la normale — kembali ke normal. Kiranya begitu bunyi slogan yang tampil di pundak sejarah pemberontakan Prancis Mei '68. Hal serupa terjadi sekarang. Slogan akhirnya menemukan oksigennya sendiri untuk bernafas.
"Kembali ke normal" menyiratkan dua hal. Satu sisi itu berarti stabilitas, dan sisi lain berarti adanya penguatan pada hegemoni kekuasaan. Ini berarti membutuhkan pemulihan ketertiban, namun hal itu tentu belum cukup bagi negara dan kapital — kita paham betul bagaimana mereka tidak pernah puas jika hal tersebut belum mencapai titik total. Maka dari itu selalu ada pembersihan paksa atas sisa peristiwa yang sempat membawa api sebagai konsekuensi yang mengikutnya.
Ini bukan metafora. Ini adalah cara kerja yang berulang dengan presisi yang hampir membosankan. Setelah aksi Agustus 2025 mereda, yang datang bukan hanya ketiadaan tuntutan yang terpenuhi — yang datang adalah normalisasi aktif: narasi bahwa semuanya sudah diselesaikan melalui prosedur, bahwa "sistem bekerja," bahwa energi yang kemarin memenuhi jalan adalah anomali yang perlu diabsorbsi kembali ke dalam kebiasaan. Kawan yang dikriminalisasi, Hukum yang kian absurd namun tetap menguat, polisi yang belajar, dan motivasi yang kian surut akibat luka negara. Yang tersisa bukan hanya kelelahan — tapi sesuatu yang lebih berbahaya dari kelelahan. Sebuah keraguan yang mulai mengendap di dalam tubuh gerakan itu sendiri: apakah memang begini caranya? Apakah memang ini yang bisa kita lakukan?
Call lahir dari pertanyaan yang sama. Diterbitkan secara anonim pada 2004, teks ini muncul dari lingkar Tiqqun — sebuah kolektif editorial Prancis yang aktif antara 1999 dan 2001, yang menerbitkan dua jurnal sebelum membubarkan diri tanpa penjelasan resmi. Jurnal-jurnalnya padat dan eksentrik, menganyam Heidegger dengan Debord, teori biopolitik dengan puisi, manifesto dengan aksi langsung. Lalu mereka berhenti. Dan beberapa tahun kemudian Call muncul — tanpa penerbit, tanpa nama, beredar dari tangan ke tangan seperti sesuatu yang tidak mau ditangkap oleh institusi apapun. Konteks yang melahirkan Call adalah gerakan anti-globalisasi yang merambah dari awal 2000an — sesudah Seattle 1999, sesudah Genoa 2001 — ketika gelombang tersebut terhalang oleh batas gerak yang sama dengan situasi kebelakang: cukup menimbulkan pekik, namun tidak cukup untuk mengubah situasi. Energi dan kemarhan tidak berubah bentuk. Ia hanya mengendap. Dan Call ditulis di tengah-tengah endapan itu.
Call menawarkan pergeseran paradigma dalam menyikapi situasi. Bukan lagi soal: bagaimana tuntutan dapat gol hingga dirapatkan DPR? Atau: Jam berapa kita (aksi massa) akan membacakan tuntutan? Melainkan: bentuk-kehidupan seperti apa yang hendak kita raih sekarang, saai ini juga? Bagaimana cara berbagi peran agar semua dapat hidup sesuai dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya? Siapa yang lapar dan siapa yang haus? Bagaimana kita mesti bergerak?
Inilah yang Tiqqun curi dari Agamben, yakni konsep bentuk-kehidupan (Form-of-life atau dalam teks ini sering digunakan secara bergantian dengan cara-cara hidup)— cara hidup yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan itu sendiri, yang tidak bisa direduksi menjadi kategori administratif atau fungsi sosial yang diakui negara — kita kenali bukan dari buku. Kita kenali dari tubuh, dari emosi yang dirasakan bersama saat keheningan melanda. Dari cara komunitas-komunitas di sekitar gerakan agraria mempertahankan bukan hanya tanah, tapi cara mereka berhubungan dengan tanah itu — ritme musim, ruang hidup, dan pengetahuan turun-temurun yang terbit lewat suara namun nyata dan hidup.
Namun, bukan berarti Call sebagai teks menyajikan rupa yang tanpa cacat. Wolfi Landstreicher, Apio Ludd, dan Feral Faun — dalam pamflet kritisnya A Sales Pitch for the Insurrection™ (2019) yang ditujukan kepada The Coming Insurrection, saudara kandung Call dari lingkar yang sama (The Coming Inssurection lahir dari Komite Gaib)— membingkai kecacatan ini dengan cukup kongkrit. Landstreicher dkk menulis bahwa apa yang dilakukan oleh The Coming Inssurection (selanjutnya disingkat TCI) tak lain tak bukan hanyalah mimpi basah insurek yang disebarkan oleh sales insureksi. Ketika menyinggung teks-teks kritis kajian politik biasanya orang-orang akan membukanya dengan menampilkan wajah-wajah monster yang menciptakan neraka bagi dunia: negara, ekonomi, keluarga, sistem teknologi, peradaban, agama, dan seterusnya. Dalam teks tersebut justru yang pertama menjadi monster adalah individualitas.
Dalam bahasa Landstreicher dkk, TCI (The Coming Inssurection) hanya mendulang kita dengan pernyataan-pernyataan metaforik yang “Happens to us” tapi bukan “Something we do”. Ini jelas menihilkan agensi Indiviudu. Lebih jauh, bagi anarkisme pasca-kiri yang Landstreicher wakili, apa yang TCI sodorkan kepada kita sejatinya bukanlah bentuk pembebasan. Ini adalah pelenyapan keunikan individu yang punya wajah pembebasan. Seruan kepada commune yang digembor-gemborkan dalam teks TCI tak kurangnya sebagai satu lagi hantu yang menuntut pengorbanan dari individu yang nyata atas nama sesuatu yang abstrak — menggantikan hantu negara dengan hantu komunitas, tanpa pernah benar-benar mempertanyakan logika pengorbanan dan apa esensi dari komunitas itu sendiri. Dan Call, punya spirit yang sama.
Di Indonesia, ini bukan abstraksi. Kita mengenalnya sebagai pola yang berulang di dalam banyak ruang gerakan: keputusan-keputusan yang diambil tanpa proses yang jelas, atas nama "konsensus" yang tidak pernah benar-benar dibangun; beban kerja yang didistribusikan secara tidak merata tapi tidak pernah dibicarakan karena membicarakannya terasa seperti mengganggu solidaritas; orang itu-itu lagi yang mencoba mendominasi forum. Semua ini terjadi bukan karena argumen moral, melainkan karena kerangka berpikir yang tidak menyediakan alat untuk mempertanyakannya. Ketika individu adalah fiksi dan yang nyata adalah jaringan, maka pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya memegang kendali dalam jaringan itu tidak pernah menjadi pertanyaan yang sah untuk diajukan.
Call tidak menjawab pertanyaan itu secara lengkap. Dan masih banyak kecacatan lain yang bisa ditemukan dalam teks ini (Misalnya soal komunisasi, soal pengunaan kata anarkis tanpa mengelaborasinya, soal bagaimana tendensi otoritariansime yang bisa lahir dari analisis mereka, dan banyak hal lain yang perlu dibahas). Tapi ia setidaknya jujur bahwa pertanyaan dan kecacatan itu ada. Dan bahwa ia lebih mendesak dari semua jawaban yang sudah tersedia.
Gurun tidak bisa lagi meluas karena ia telah menyebar; namun ia masih bisa menghujam lebih dalam.
Komune Tembalang, 10 Mei 2026
Untuk Tuak Gondang Agar Semakin Murah
Untuk Komune Tembalang
***
“Sejauh ini semua baik-baik saja / yang penting bukanlah undang-undang ketenagakerjaan / melainkan insureksi yang akan datang”
Kemenangan peradaban saat ini bak oase yang tak mengenal arti dahaga. Baik secara teror politik, kemiskinan emosional, maupun efek hampa yang sudah merata di mana-mana.
Gurun tidak bisa lagi meluas karena ia telah menyebar. Namun, ia masih bisa menghunjam lebih dalam.
Menghadapi kiamat yang sudah tampak jelas, ada orang-orang yang merasa geram dan ada yang sekedar mencatat; ada yang mengecam dan ada yang mulai mengorganisir diri; Kami berdiri di sisi mereka yang mengorganisir diri
Ini adalah sebuah seruan. Artinya, ia ditujukan kepada siapa pun yang mampu mendengarnya. Di sini, kami tidak sedang berargumen, beradu bacot, apalagi mencoba meyakinkan siapa pun. Kami akan langsung menuju pada apa yang sudah terekam. Ini bukan urusan logika atau nalar; ini adalah persoalan persepsi, persoalan tentang apa yang kita rasakan di ranah kenyataan.
Kejernihan bagai oksigen, selalu hadir dalam setiap realitas—tentang apa yang menyatukan kita atau apa yang memisahkan kita. Dari sanalah komunikasi menjadi mungkin kembali; bukan komunikasi yang performatif, melainkan yang harus dibangun dengan sadar. Namun, kita telah diajarkan dengan sangat baik untuk meragukan jaringan hal-hal nyata yang membentuk diri kita ini—kita diajarkan untuk menghindarinya, menyembunyikannya, dan menyimpannya sendirian. Kita telah dididik sedemikian rupa hingga kita kehilangan kata-kata dan kerongkongan kering kerontang saat ingin berteriak.
Adapun, semua orang juga sudah paham perihal borok dari tatanan yang kita tinggali saat ini: Rezim empire[1] telah menatap tepat di depan wajah kita. Bahwa sistem sosial yang sekarat ini tidak lagi memiliki pembenaran atas kesewenang-wenangannya selain tekad absurd untuk terus bertahan hidup; Bahwa polisi global dan nasional telah diberi kebebasan penuh untuk menyingkirkan siapa pun yang tidak patuh; bahwa peradaban ini, yang jantungnya telah terluka, tidak lagi menemukan apa pun selain batas-batasnya sendiri dalam perang tanpa akhir. Pelarian yang terburu-buru selama hampir seabad ini tidak menghasilkan apa-apa selain serangkaian bencana yang kian sering terjadi. Bahwa massa manusia menyesuaikan diri dengan tatanan ini melalui kebohongan, sinisme, atau obat-obatan—tidak ada lagi yang bisa mengeklaim bahwa mereka tidak tahu betapa busuknya sampah bernama peradaban kontemporer.
Kegiatan mendeskripsikan bencana hari ini yang tanpa henti dengan berbagai tingkat kepuasan, hanyalah cara lain untuk berkata: "memang begitulah adanya." Yang justru pantas diberi juara paling hina adalah para jurnalis binaan dan siapa pun yang setiap pagi berpurapura menemukan kembali omong kosong yang sebenarnya sudah mereka sadari sehari sebelumnya.
Namun, yang paling menonjol saat ini bukanlah keangkuhan empire, melainkan lemahnya serangan balik; sebuah kelumpuhan massal yang kolosal. Kelumpuhan yang membuat orang berkata "tidak ada yang bisa dilakukan," atau terkadang malah mendaku bahwa "terlalu banyak yang harus dilakukan"— keduanya hanyalah dua sisi dari koin yang sama: alasan untuk tetap diam.
Di pinggiran kelumpuhan ini, muncul sikap aktivis yang berkata: "kita harus melakukan sesuatu, apa saja." Seattle, Praha, Genoa[2] ; kita telah mengambil bagian dan memihak dalam perjuangan tahun-tahun erakhir. Namun, demonstrasi ini tidak lagi menghibur kita. Kita telah melihat monolog Marxisme-Leninisme yang membosankan dimuntahkan kembali dari mulut anak sekolah. Kita telah melihat anarkisme paling murni meniadakan apa pun yang tidak sanggup dipahaminya. Kita telah melihat ekonomi menjadi agama populer baru. Di mana-mana, militansi kembali membangun konstruksinya yang reot, hingga akhirnya ia kelelahan sendiri.
Hanya butuh tiga tahun (1999-2002) bagi polisi dan birokrasi serikat pekerja untuk membubarkan "Gerakan Anti-Globalisasi." Mereka mengontrolnya dan membaginya menjadi "area perjuangan" yang terpisah, yang masing-masing sama mandulnya. Saat ini, dari Davos hingga Porto Alegre, dari serikat pekerja Prancis Medef hingga CNT di Spanyol, kapitalisme dan anti-kapitalisme menatap pada langit semu yang sama: suatu manajemen kebencanaan[3].
Kami katakan bahwa zaman ini adalah sebentang gurun, dan gurun ini terus menghunjam kian dalam tanpa henti. Ini bukanlah sekadar majas puitis; ini adalah sebuah kejelasan. Sebuah kejelasan yang di dalamnya mengerami banyak kejelasan lainnya. Terutama tentang keterputusan total dengan semua yang memprotes, semua yang mengecam, dan semua yang sekadar memoles wajah bencana[4].
Siapa pun yang mengecam sejatinya tengah membebaskan dirinya dari keterlibatan. Segala sesuatunya tampak seolah kaum Kiri sedang mengakumulasi dalih-dalih untuk memberontak dengan cara yang persis sama seperti seorang manajer mengakumulasi sarana untuk mendominasi[5] . Yakni, dengan nuansa dan semangat yang serupa.
Gurun adalah depopulasi progesif atas dunia—sebuah kebiasaan yang telah kita kenakan untuk hidup seolah-olah kita bukanlah bagian dari dunia ini. Gurun ini mewujud dalam proletarisasi populasi yang terhubung, masif, dan terprogram, sama halnya ia bersemayam di hamparan permukiman pinggiran kota (suburban sprawl) di California, di mana penderitaan justru berakar pada kenyataan bahwa tak seorang pun tampak merasakannya. Bahwa gurun di zaman kita ini tak lagi mampu disadari, justru menjadikannya kian bengis.
Beberapa pihak telah mencoba memberi nama pada gurun pasir ini. Untuk menunjukkan apa yang harus diperjuangkan — bukan sebagai tindakan untuk menyudutkan apa yang asing bagi kita, tetapi justru menimbang keseluruhan hubungan pada relasi sosial kita. Mereka telah berbicara tentang spectacle, tentang biopower, tentang empire. Tetapi ini justru melahirkan monster lain: suatu keruwetan kontemporer.
Spectacle[6] bukan sekedar singkatan praktis dari media massa. Ia mewujud dalam kekejaman di mana segala sesuatu, tanpa henti, terus-menerus memantulkan citra palsu diri kita sendiri.
Biopower[7] sama sekali tidak bertalian dengan sistem jamsos atau bentuk negara kesejahteraan, atau bahkan industri farmasi; tapi ia dengan manifestasinya menjelma menjadi keterasingan diri, bersarang di tubuh yang diberi perawatan, bisa kita maupun subjek liyan.
Empire tidak merefleksikan entitas yang asing atau alien, bukan juga konspirasi global, jaringan finansial ala teknokrat, maupun korporasi multinasiomal. Empire eksis sebagai realitas hydra di mana tidak ada sesuatu pun yang pernah terjadi di seluruh dunia. Ia merupakan segala sesuatu yang berjalan secara “baik” maupun normal di mana-mana. Di mana-mana ketika status quo bercekokol.
Kegagalan fundamental dalam gerakan perlawanan kontemporer berakar pada kesalahan persepsi terhadap musuh; kita cenderung mengobjektifikasi musuh sebagai entitas eksternal yang terpisah, alih-alih memahaminya sebagai sebuah relasi kuasa yang turut mendefinisikan keberadaan diri kita sendiri. Sadar tidak sadar, kita telah mereproduksi hubungan dominasi terburuk dengan dalih alternatif. Kita membangun toko dan menjual perjuangan melawan komoditas lewat aktivisme yang terkomerialisasi secara utuh. Kita melihat bangkitnya adanya otoritas dalam perjuangan anti-otoritarian, feminisme yang maskulin, dan serangan rasis oleh kelompok yang mengklaim diri sebagai anti-fasis.
Eksistensi kita tidak pernah terlepas dari konteks suatu situasi. Di dalam situasi tersebut, batas-batas konvensional antara subjek dan objek, antara diri sendiri dan individu lain, serta antara keinginan pribadi dan realitas yang ada, menjadi kabur. Realitas sebenarnya bukanlah kumpulan individu yang terpisah, melainkan sebuah jalinan relasi dan arus dinamika yang saling bersilangan di dalam situasi tersebut.
Sistem ini—Kapitalisme atau Kekaisaran atau apapun itu—adalah arsitek kesunyian. Ia tidak sekadar mengatur kita, ia menghapus "situasi" agar hidup hanya menjadi rutinitas mekanis. Seluruh ruang, bahasa, hingga detak emosi kita telah dipetakan dalam satu tempo global yang seragam. Hasilnya adalah keterasingan yang massal: kita hidup berdampingan namun saling mengabaikan. Dalam tatanan ini, "normalitas" hanyalah istilah lain bagi ketiadaan hidup yang situasionis.
Berorganisasi berarti: keluar dari situasi tersebut dan bukan hanya menantangnya—namun memilih relasi di dalamnya. Membangun solidaritas material, emosional, dan politik yang diperlukan. Inilah yang dilakukan oleh setiap aksi mogok di kantor mana pun, di pabrik mana pun. Inilah yang dilakukan oleh setiap kelompok. Setiap gerakan bawah tanah; setiap partai revolusioner atau kontra-revolusioner. Berorganisasi berarti memberi substansi pada situasi tersebut. Membuat situasi tersebut menjadi nyata dan dapat dirasakan.
Realitas bukanlah milik kapitalis.
Ia merupakan perjumpaan kolektif yang berdaulat, otonom, dan nyata.
Posisi kami dalam merebut situasi bukanlah sekedar ilusi, melainkan suatu kebutuhan yang menjadi penentu dengan siapa kami harus bersekutu dan bagaimana kami membangun arus komunikasi yang lebih luas. Melalui hubungan-hubungan baru inilah, kami secara aktif mengubah tatanan situasi yang semula kaku menjadi medan yang dinamis. Kita kini hidup dalam apa yang disebut sebagai Perang Sipil Global[8], sebuah kondisi di mana benturan antar-kekuatan tidak lagi bisa dibatasi, bahkan oleh hukum sekalipun—karena hukum sendiri telah berubah menjadi senjata dalam konfrontasi tersebut. Dengan berorganisasi, kita bergerak melampaui sekadar protes; kita mengambil alih situasi dan membuktikan bahwa kenyataan hidup ini bukanlah milik kapitalis, melainkan milik kita yang membangunnya bersama.
“Kami" yang berbicara di sini bukanlah sebuah faksi yang bisa kalian beri label atau kurung. "Kami" bukanlah sebuah kelompok yang terisolasi dari dunia, melainkan sebuah posisi yang bergetar di tengah-tengahnya. Posisi ini ditegaskan melalui pemisahan ganda: kita memisahkan diri dari logika mesin kapitalis, sekaligus memisahkan diri dari kemandulan politik kiri konvensional yang hanya sibuk menentang tanpa membangun atau bahkan malah mereproduksi logika empire itu sendiri (melalui jalur-jalur parlementer misalnya). Bagi kita, pemisahan bukanlah sikap menutup diri dari komunikasi, melainkan upaya menciptakan bentuk komunikasi yang begitu intens dan radikal hingga mampu merebut kekuatan musuh.
Dalam posisi ini, kami memungut kembali pecahan-pecahan sejarah yang berdenyut: kami mengambil keberanian dari Black Panther[9] , kehangatan meja makan kolektif Autonomen Jerman[10] , dan seni sabotase yang sunyi dari para penghuni rumah pohon neo-Luddite[11]. Kita merawat kata-kata dengan ketajaman para feminis radikal, melakukan pembangkangan massal ala kaum otonomis Italia[12], dan merayakan perlawanan dengan kegembiraan bersenjata dari Gerakan 2 Juni[13] . "Kami" adalah akumulasi dari semua momen ketika hidup menolak untuk dikomodifikasi. Kami adalah setiap detakan pada jantung momen pengambilalihan situasi hidup dari cengkraman kapitalis dan negara.
Di titik ini, tidak ada lagi tongkrongan yang tidak politis.
Eskalasi kontrol yang tanpa batas hanyalah respons putus asa terhadap kegagalan sistem yang sudah terprediksi.
Segala bentuk identitas politik yang ada saat ini tidak akan mampu membawa kita keluar dari bencana yang sedang berlangsung.
Oleh karena itu, kami memilih untuk menarik diri dari sistem tersebut. Kami tidak lagi menentang, juga tidak menuntut apa pun. Kami mengonsolidasikan diri sebagai sebuah kekuatan—sebuah kekuatan material yang otonom di tengah Perang Sipil Global.
Seruan ini adalah upaya peletakkan fondasi bagi kekuatan tersebut.
Negara-negara saat ini sedang memoles beribu cara untuk menghantam rakyatnya sendiri. Di Prancis, massa dibubarkan dengan granat kayu; di Oregon, menutup jalanan bisa membuat seseorang dipenjara dua puluh lima tahun. Fenomena ini diperparah oleh ekspansi keahlian dari militer Israel ke negara lain yang kini banyak menjadi konsultan utama di banyak negara dalam manajemen konflik penertiban perkotaan. Sedangkan para ahli militer dari seluruh dunia, mereka sedang bergegas dalam melakukan riset metode paling mutakhir untuk mengeliminasi kelompok yang dianggap subversif. Tampaknya metode fear mongering dengan melukai, yakni melukai satu orang untuk menakut-nakuti seratus orang — telah mencapai tingkat yang baru.
Di atas kertas, semua subversifitas yang melekat pada penentangan terhadap hegemoni ini mereka labeli sebagai "Terorisme". Definisi dari Komisi Eropa sangat luas, namun intinya: apa pun yang dianggap mengancam struktur politik dan ekonomi negara bisa dipidana dengan dalih penanggulangan terorisme. Akibatnya, fungsi negara bukan lagi melayani hidup, melainkan mengelola penjara. Di Amerika Serikat, realitas ini mencapai titik paling absurd: jumlah orang yang mendekam di balik jeruji besi kini lebih banyak daripada jumlah petani. Dunia sedang berjalan menjadi laboratorium keamanan raksasa, di mana ketertiban tidak lagi dibangun lewat dialog, melainkan lewat rasa takut dan kawat berduri.
Di sisi lain, ruang publik sedang ditata ulang dan direbut kembali oleh kekuasaan melalui pemasangan kamera pengawas di mana-mana. Masalah utamanya bukan lagi soal teknologi pengawasan itu ada, melainkan karena pengawasan tersebut kini sudah dianggap sebagai hal yang wajar oleh masyarakat. Berbagai daftar "orang dicurigai" disebarkan dari satu instansi ke instansi lain, tanpa kita tahu untuk apa data itu digunakan. Di bawah perlindungan polisi, kelompokkelompok paramiliter kini menggantikan peran tukang gosip dan cepu tradisional dari masa lalu.
Seorang mantan kepala CIA—sosok dari pihak lawan di prancis yang lebih memilih untuk bergerak (mengorganisir diri) daripada mengakumulasi kekuasaan—menulis di media Le Monde[14], bahwa: “Ini bukan sekadar perang melawan terorisme. Yang sedang kita lakukan adalah memaksakan demokrasi ke wilayah [Arab dan Muslim] yang mengancam peradaban liberal. Kita telah membangun dan membela peradaban ini sepanjang abad ke-20 melalui Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin—atau yang bisa disebut sebagai Perang Dunia Ketiga.”
Tidak ada yang mengejutkan kita soal ini; tidak ada yang membuat kita lengah atau mengubah perasaan kita terhadap hidup secara radikal. Kita lahir di tengah-tengah bencana dan kita telah membangun hubungan kebiasaan yang aneh sekaligus nyaman dengannya. Mungkin lebih mirip seperti sebuah keintiman.
Sepanjang yang bisa kita ingat, tidak pernah ada informasi lain selain perihal terkait Perang Sipil Global. Kita dibesarkan sebagai penyintas, sebagai mesin untuk bertahan hidup. Kita dididik dengan gagasan bahwa hidup hanyalah tentang terus berjalan; berjalan dalam ketidakpedulian sampai akhirnya remuk di antara tubuh-tubuh lain dengan cara berjalan yang sama, yang tersandung dan remuk secara selang-seling.
Pada akhirnya, satu-satunya hal baru di zaman sekarang adalah bahwa semua ini tidak bisa disembunyikan lagi; bahwa dalam arti tertentu, semua orang sudah mengetahuinya. Itulah alasan mengapa sistem belakangan ini semakin terlihat tangan besinya: motif-motifnya sudah telanjang, dan hanyalah mimpi basah jika kita mengharapkan sistem tersebut hilang dengan sendirinya.
Banyak yang bingung mengapa tidak ada satu pun kekuatan politik, baik itu dari kelompok kiri maupun ultra kiri, yang mampu menentang kuartet peristiwa ini. “Bukankah kita masih hidup di negara demokrasi?” Pertanyaan ini diajukan mereka secara perpetual: namun nyatanya, pertanyaan ini sejatinya masih terjebak dalam kerangka politik tradisional. Dan bagi kami, Politik tradisional tidak akan pernah bisa menjadi penghambat bagi perluasan “gurun” di muka bumi ini, sebab, politik tradisional sejatinya adalah bagian dari gurun tersebut.
Saat kami mengatakan hal ini, tujuannya bukan untuk mendukung politik luar-parlemen sebagai obat bagi demokrasi liberal. Manifesto populer berjudul "Kami adalah Kelompok Kiri"—yang ditandatangani beberapa tahun lalu oleh berbagai kolektif keadilan sosial dan gerakan sosial di Prancis—dengan jelas menunjukkan logika yang telah menggerakkan politik luar-parlemen selama tiga puluh tahun terakhir: kami tidak ingin merebut kekuasaan atau menggulingkan negara; kami sebenarnya hanya ingin diakui sebagai perwakilan yang sah.
Di mana pun konsepsi politik tradisional masih berlaku, impotensi yang sama akan selalu muncul dalam menghadapi bencana. Meskipun impotensi ini terbagi-bagi ke dalam berbagai identitas politik yang tampak berbeda, namun sebenarnya hal itu tetap tidak mengubah keadaan. Mau itu seorang anarkis, komunis dewan, aktivis trotskyist, atau pembuat hukum, mereka semua berangkat dari keterbatasan yang sama; mereka semua menyebarkan kekosongan yang sama. Gurun yang sama.
Bagi mereka, politik hanyalah panggung sandiwara yang telah disepakati—sebuah ruang di mana kata-kata diucapkan dan keputusan diambil hanya di antara sesama “manusia abstrak” yang telah menanggalkan identitas aslinya. Mereka menciptakan majelis sebagai situasi politik ideal, sebuah ruang steril yang mengumpulkan semua orang namun secara koersif memaksa kita untuk meninggalkan realitas hidup kita di ambang pintu.
Dari sinilah ekonomi muncul sebagai konsekuensi yang logis sekaligus mematikan: ia menjadi keranjang sampah bagi segala hal yang mereka anggap “non-politik”. Segala sesuatu yang paling berarti dalam hidup kita—keluarga, bisnis, gairah, budaya, hingga waktu luang— dibuang ke ranah ekonomi untuk dikelola sebagai sekadar angka dan benda. Dengan cara ini, mereka berhasil mencabut politik dari akar kehidupan sehari-hari, mengubah gairah hidup kita menjadi sekadar urusan privat yang remeh, sementara dunia dikendalikan oleh manajemen yang dingin dan mustahil.
Begitulah cara politik klasik melakukan “pengosongan” massal terhadap makna hidup kita: ia bekerja dengan memberi jarak pada manusia dengan dunianya. Kita dipaksa untuk berdiri telanjang, terputus dari jaringan benda-benda, kebiasaan, dan kata-kata yang selama ini memberi kita nyawa.
Segala hal yang membuat dunia kita dapat dirasakan—objek-objek yang kita puja, emosi yang meledak, tempat-tempat yang menyimpan memori, hingga solidaritas yang mengikat kita—semuanya direnggut. Dengan memutus hubungan-hubungan ini, mereka tidak hanya mengisolasi kita, tetapi juga menghapus substansi khas yang membuat kita menjadi manusia yang berdaulat. Dunia tidak lagi menjadi ruang hidup yang penuh warna, melainkan ruang hampa yang siap diisi oleh logika pasar dan birokrasi.
Politik klasik tak lebih dari sekadar teater megah yang dipanggungkan oleh tubuh-tubuh yang telah kehilangan dunianya. Namun, spektakel individu-individu politik yang berpura-pura bersatu ini tidak mampu menutupi watak kegetiran bahwa yang mereka bangun hanyalah sebuah gurun yang gersang. Tak ada masyarakat manusia yang benar-benar bisa berdiri sendiri jika dipisahkan dari kumpulan makhluk-makhluk dan dunianya.
Kenyataannya justru dunia ini adalah keragaman dari dunia-dunia; ruang yang berdetak dan saling beririsan karena kita membaginya dan menghidupinya bersama secara berdampingan. Hakikat dari yang politis bukanlah prosedur formal di ruang rapat, melainkan interaksi hidup antara dunia-dunia yang berbeda: sebuah proses di mana aliansi dibangun antara mereka yang saling cocok, dan konfrontasi terjadi antara mereka yang tak mungkin didamaikan. Politik, dalam arti yang paling murni, adalah keberanian kita untuk membela keutuhan dunia kita di tengah gempuran pengosongan makna.
Fakta politik utama dalam tiga puluh tahun terakhir telah luput dari pengamatan karena ia bekerja pada tingkat realitas yang begitu subtil hingga ia tidak dapat dianggap sebagai politik tanpa melakukan dekonstruksi terhadap konsep politik itu sendiri. Di sinilah pembedaan antara apa yang nyata dan apa yang fana mulai dibentuk, dan fakta politik (arus) utama tersebut, tampil sebagai kemenangan mutlak bagi liberalisme eksistensial. Kita kini dipaksa menganggap wajar jika setiap orang berhubungan dengan dunia melalui kehidupannya sendiri secara terpisah, di mana hidup direduksi menjadi sekadar rangkaian pilihan antara baik atau buruk. Dalam tatanan ini, setiap orang didefinisikan secara kaku melalui seperangkat karakteristik dan sifat yang menjadikan dirinya sebagai makhluk “satu-satunya” dan tak tergantikan, padahal justru di sinilah keterasingan menemukan pengukuhannya. Gagasan social contract[15] dianggap telah memadai untuk mewakili komitmen antar-individu, sementara kebajikan diringkas menjadi sekadar penghormatan pasif, dan pada akhirnya, bahasa hanya dipandang sebagai alat teknis untuk mencapai pemahaman, bukan lagi sebagai ruang untuk membangun dunia secara kolektif.
Sinisme hanyalah satu dari sekian banyak gejala klinis yang lahir dari kemenangan liberalisme eksistensial. Bagai akar yang menjalar ke seluruh tanah, patologi dari gejala klinis liberalisme eksistensial membentang luas: mulai dari depresi, apati, hingga melemahnya sistem kekebalan tubuh, yang karena pada hakikatnya, setiap daya tahan tubuh adalah bersifat kolektif dan maka akan runtuh juga jika tubuh dimasukan ke dalam kondisi terisolasi. Kita juga menyaksikan maraknya ketidakjujuran, intimidasi hukum yang menggantikan keadilan, serta ketidakpuasan kronis yang lahir dari ilusi pilihan-pilihan pribadi. Liberalisme ini meninggalkan kita dalam ikatan yang terpendam namun tak pernah terwujud, terkurung dalam isolasi yang dibungkus dengan ilusi kewarganegaraan yang semu. Pada akhirnya, semua ini bermuara pada hilangnya segala bentuk kedermawanan, karena dalam dunia yang hanya terdiri dari individu-individu yang bersaing, ruang bagi ketulusan dan pengabdian bersama telah sepenuhnya menguap.
Kemenangan mutlak liberalisme eksistensial terpantul pada cermin kemampuannya dalam menjajah imajinasi para penentangnya. Bahkan kaum kiri yang paling militan sekalipun tanpa sadar telah merumuskan utopia mereka menggunakan tata bahasa musuh: mereka tetap berbicara tentang “kontribusi”, “kepuasan individu”, dan “pengukuran usaha”, seolah-olah revolusi hanyalah bentuk manajemen akuntansi yang lebih adil. Inilah kunci kemenangan empire—ia tetap tidak terlihat di latar belakang, namun menguasai medan pertempuran yang paling menentukan: pembentukan atas realitas yang kita rasakan dan sensitivitas kita.
Dengan cara ini, empire melumpuhkan setiap perlawanan secara preventif. Ia menghancurkan kemungkinan serangan balik dengan memastikan bahwa logika pasar tetap bertahta di dalam kepala kita, bahkan disaat kita sedang merancang dunia tanpa kapitalisme. Kemenangan itu diraih setiap kali seorang aktivis, setelah seharian penuh melakukan apa yang ia anggap sebagai “kerja politik”, justru mencari pelarian dengan terkulai sampai terlelap di depan layar yang menampilkan film action terbaru—sebuah bukti bahwa di luar retorika perlawanannya, tubuh dan hasratnya masih sepenuhnya dikuasai oleh industri tontonan yang sama.
Ketika mereka melihat kita mundur dari ritual-ritual yang melelahkan—sidang umum, rapat, negosiasi, demonstrasi, tuntutan—ketika mereka mendengar kita berbicara tentang dunia yang nyata alih-alih tentang pekerjaan, dokumen, pensiun, atau kebebasan bergerak, para aktivis kiri menatap kita dengan tatapan iba. “Kasihan mereka,” seolah-olah mereka berkata, “mereka telah pasrah pada politik minoritas, mereka telah mundur ke ghetto mereka, dan menolak perluasan perjuangan. Mereka takkan pernah menjadi gerakan.” Namun kami justru percaya sebaliknya: merekalah yang pasrah pada politik minoritas dengan menggunakan bahasa objektivitas palsu mereka, yang kurang lebih hanya menampilkan pengulangan dan retorika. Tak ada yang tertipu oleh penghinaan terselubung yang mereka gunakan saat membicarakan kekhawatiran “rakyat”, dan hal itu memungkinkan mereka berpindah dari pengangguran ke imigran ilegal, dari pemogok ke pekerja seks tanpa pernah mempertaruhkan diri mereka sendiri – sebab penghinaan ini merupakan bagian dari hal yang terlihat secara gamblang. Keinginan mereka untuk “memperluas” hanyalah cara untuk melarikan diri dari mereka yang sudah ada di sana dan dengan siapa mereka takut untuk hidup. Akhirnya, merekalah yang enggan mengakui makna politik dari perasaan, yang hanya terwujud jikalau mereka mengandalkan sentimentalitas untuk dakwah mereka yang menyedihkan. Singkatnya, kami lebih memilih memulai dari inti-inti kecil dan padat daripada dari jaringan yang luas dan longgar. Kita sudah cukup akrab dengan pengaturan-pengaturan yang longgar ini.
Mereka yang menanggapi situasi terburu-buru dengan reaksi yang terburu-buru sejatinya hanya menambah sesak napas.
Intervensi dan agitasi yang mereka lakukan adalah cermin bagi kerja politik yang mereka lakukan.
Adapun bagi kami, urgensi situasi ini membebaskan kami dari segala pertimbangan mengenai legalitas atau legitimasi, yang bagaimanapun juga, telah menjadi tak lagi relevan.
Bahwa mungkin, dibutuhkan satu generasi untuk membangun gerakan revolusioner yang berhasil dalam segala dimensinya tidak membuat kami mundur. Kami memandang hal ini dengan tenang. Sama seperti kami dengan tenang menyadari sifat kriminal dari keberadaan kami dan dari kerja-kerja kami.
Kita telah lama terjebak dalam lingkaran setan yang kita sebut sebagai aktivisme. Dari mimbar konferensi tandingan hingga barikade aksi pendudukan, kita terus memproduksi kolektif-kolektif yang hanya menjadi cermin dari keedanan sistem yang kita lawan. Kita mencicipi kekuatan sesaat secara ad hoc, namun mempertaruhkan kepulangan demi kepulangan yang perih pada ketidakberdayaan kita yang belum siap. Setiap kampanye mengonsumsi sisa energi kita, memaksa kita berpindah dari satu isu ke isu lainnya dalam kondisi sesak napas, menangis karena trauma, lelah, dan penuh duka.
Secara perlahan, di tengah hiruk-pikuk kertas tuntutan dan advokasi berbasis pamflet kebijakan, kita justru kehilangan sensitivitas terhadap urgensi yang mengalir di urat nadi kita. Aktivisme telah tereduksi menjadi sekadar refleks mekanis; sebuah mobilisasi tanpa henti atas nama "keadaan darurat"—sebuah irama yang sebenarnya adalah ciptaan para penguasa untuk menjinakkan kita, bahkan saat kita merasa sedang memberontak.
Sementara dunia kehilangan keanekaragaman bentuk kehidupannya, dari tumpasnya spesies dan alam hingga melesapnya “pengalaman” manusia, aktivisme justru terpenjara dalam sel ketergesa-gesaan yang hampa. Aktivis memobilisasi diri melawan bencana, namun tindakannya sering kali hanya memperpanjang napas bencana tersebut. Dengan tetap setia pada "rezim urgensi", mereka menghabiskan sisa-sisa dunia demi kreativitas pragmatis yang hadir di mana-mana namun tidak berakar di mana pun. Mereka menyelesaikan banyak hal, namun gagal merenungkan cara konkret untuk menghambat laju "gurun" yang kian meluas, atau bagaimana membangun dunia yang layak huni tanpa harus menunggu masa depan yang tak pasti.
Kini, saatnya kita menanggalkan aktivisme tanpa mengabaikan inti kekuatannya: yaitu kehadiran total dalam situasi dan kelincahan taktis di dalamnya. Perjuangan tidak boleh lagi terjebak pada dikotomi moral atau abstraksi ideologis yang kering. Ia harus ditransformasikan menjadi persoalan teknis dan taktis—sebuah upaya untuk merebut kembali realitas dan menyusun kembali fragmen-fragmen kehidupan di tengah reruntuhan.
Militansi lama menyajikan sebuah paradoks yang ganjil: sebuah ketidaktahuan yang mencengangkan di tengah pusaran peristiwa nyata. Kita tentu masih mengingat fragmen dari Genoa[16] itu—saat puluhan militan dari faksi Trotskyis berdiri mematung, mengibarkan bendera merah bertuliskan "100% Kiri". Mereka tampak seperti artefak yang membeku, tak lekang oleh waktu namun sepenuhnya terputus dari realitas. Di sana, mereka hanya meneriakkan slogan-slogan yang telah disetujui secara birokratis, berdiri secara steril di bawah pengawasan polisi huru-hara.
Namun, hanya beberapa meter dari barisan yang teratur itu, denyut politik yang sesungguhnya sedang mendidih dalam benturan fisik. Di titik itu, sebagian dari kita sedang bergelut melawan barisan carabinieri, mengembalikan selongsong gas air mata ke arah kumpulan babi, mencungkil bongkahan batu jalanan untuk dijadikan proyektil, dan meracik Molotov dari botol-botol sisa dengan bensin yang mengucur dari skuter Vespa yang terguling.
Ketika para militan itu dipaksa untuk memberikan komentar, mereka mencerca dengan sinis, menyebut tindakan kita sebagai "petualangan" atau "kegilaan yang ceroboh." Alibi klasik mereka selalu seragam: bahwa kondisi objektif belum matang. Namun bagi kita, tidak ada satu pun yang absen di sana. Segala prasyarat untuk sebuah perlawanan yang nyata telah hadir dan berdenyut sepenuhnya— semuanya telah eksis di sana, kecuali kehadiran mereka.
Yang kita tinggalkan dari pola militansi usang adalah ketidakhadiran yang ganjil di tengah situasi yang mendesak; kita menolak jarak lebar antara retorika dan realitas sebagaimana kita membuang ketidakkonsistenan yang dipaksakan aktivisme terhadap subjek dan domba-dombanya. Para aktivis kerap merasakan kekosongan ini, sehingga secara berkala mereka berpaling kembali kepada para senior mereka, para militan bangkotan dan kawakan, untuk mencari pelarian. Mereka mulai meniru strategi usang, mendatangi medan perjuangan yang sama, dan membeo pada slogan-slogan masa lalu karena tergiur oleh janji konsistensi, struktur, serta loyalitas yang tidak mereka temukan dalam gerak aktivisme yang serabutan.
Pada akhirnya, para aktivis ini terperosok kembali ke dalam perselisihan lama yang dikemas seolah baru. Mereka terjebak dalam tuntutan-tuntutan yang sepenuhnya bersifat manajerial dan legalistik—seperti "kewarganegaraan untuk semua," "kebebasan berpendapat," "upah yang terjamin," hingga "transportasi umum gratis." Tanpa sadar, mereka kembali memohon pada sistem yang sama, menukar potensi revolusioner dengan daftar keinginan yang hanya memperpanjang ketergantungan kita pada administrasi negara.
Masalah fundamental dari sebuah tuntutan terletak pada batasan bahasanya; dengan merumuskan kebutuhan melalui istilah-istilah yang dapat dipahami oleh otoritas, tuntutan tersebut justru gagal mengungkapkan esensi dari transformasi radikal yang dibutuhkan dunia. Sebagai contoh, menuntut transportasi umum gratis sama sekali tidak menyuarakan hasrat kita untuk benar-benar bepergian sebagai subjek yang berdaulat, alih-alih sekadar "diangkut" layaknya komoditas dalam ritme yang dipaksakan. Tuntutan semacam ini sering kali menjadi tabir yang menyamarkan konflik nyata dan justru melumpuhkan teknik perlawanan praktis— seperti aksi menghindari tarif—serta menjebak kita dalam ilusi bahwa memperbaiki wajah kapitalisme adalah prasyarat mutlak untuk melampauinya.
Konsekuensinya, gerakan yang pada awalnya membawa energi revolusioner, sering kali terperosok ke dalam program reformisme radikal yang ambigu. Alih-alih memecahkan dilema antara reformasi dan revolusi, kita justru terjatuh ke dalam kompromi yang hanya menguntungkan status quo. Berjuang demi "penghasilan yang dijamin" atau "kebebasan bergerak" dalam bingkai legalitas sering kali menjadi cara halus untuk menghindari masalah pelarian praktis dari pengetatan kontrol. Strategi ini membuat kita tetap berada dalam jangkauan pendengaran pihak berkuasa, mengubah potensi ledakan perubahan menjadi sekadar negosiasi administratif yang tak pernah menyentuh akar permasalahan.
Kiamat yang kita hadapi hari ini adalah sebuah dunia yang secara aktif dirancang untuk menjadi tak layak huni melalui penghancuran sistematis terhadap segala relasi organik antarmanusia dan lingkungannya. Kapitalisme beroperasi melalui berbagai teknik politik— baik secara fisik, diskursif, hingga mekanisme kontrol disipliner—yang bertujuan utama memutus ikatan-ikatan vital yang mendefinisikan keberadaan kita. Dengan mengalienasi komunitas manusia dari elemen-elemen dunianya, mulai dari alam, hewan, batu, logam, obat-obatan, hingga mesin dan dimensi spiritual, kekuasaan berhasil melumpuhkan kemampuan kolektif untuk memproduksi sendiri kondisi kelangsungan hidupnya, sehingga memaksa kita semua untuk tunduk sepenuhnya pada mediasi pasar serta kontrol negara.
Dengan menghancurkan seluruh komune, memisahkan kelompok-kelompok dari sumber penghidupan mereka serta pengetahuan yang terkait dengannya, intrik politik kapitalis lah yang menentukan masuknya komoditas sebagai perantara dalam setiap hubungan. Serupa para penyihir yang harus disingkirkan—bersama dengan pengetahuan berkenaan dengan pengobatan yang mereka miliki—hari ini para petani harus menanggalkan kemampuan mereka untuk menanam benih sendiri demi mempertahankan cengkeraman korporasi multinasional dan lembaga-lembaga kebijakan pertanian lainnya.
Metropolis kontemporer merupakan manifestasi tertinggi dari teknik-teknik politik kapitalisme, sebuah tempat di mana, pada akhirnya, hampir tak ada lagi yang bisa direbut kembali karena segala sesuatunya telah dirancang untuk memutus keterlibatan manusia dengan realitas yang “lain”. Di dalam lingkungan ini, individu dikondisikan untuk hanya berhubungan dengan cerminan dirinya sendiri, dipaksa mengonstruksi identitas dalam isolasi yang steril sambil memanfaatkan bentuk-bentuk keberadaan lain tanpa pernah benar-benar berhadapan atau bersinggungan secara mendalam dengan mereka. Dengan demikian, metropolis berfungsi sebagai mesin alienasi yang sempurna, yang mengubah interaksi organik menjadi sekadar transaksi fungsional dan menjebak manusia dalam sirkulasi diri yang tertutup, jauh dari akar otonomi kolektif yang mampu memproduksi kondisi kelangsungan hidupnya sendiri.
Demi mengamankan keterputusan secara permanen, setiap upaya untuk memutus rantai ketergantungan pada komoditas kini telah dikriminalisasi secara sistematis. Ruang hukum sengaja dipersempit menjadi barikade yang membuat hidup menjadi mustahil, baik melalui mekanisme kerja upahan yang eksploitatif maupun bentuk-bentuk pengelolaan mandiri, aksi sukarela, hingga militansi kiri yang paling moderat sekalipun.
Di tengah lingkungan yang semakin tak layak huni, otoritas secara gamblang melakukan manuver yang keji: segala bentuk aktivitas otonom yang bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup secara kolektif kini didefinisikan ulang sebagai tindak pidana.
Para aktivis yang sering membanyol perihal pernyataan “no one is illegal” sepertinya mereka sedang mabuk. Mereka tidak sadar akan kenyataan pahit yang kita hadapi sekarang, saat ini, bahwa: menjalani eksistensi yang sepenuhnya legal adalah bentuk kepatuhan total yang melumpuhkan. Legal berarti patuh, legal berarti tunduk pada permainan.
Spektrum ilegalitas dalam masyarakat kontemporer bergerak lewat hierarki selektif yang memisahkan antara kriminalitas sistemik yang fungsional bagi kapitalisme—seperti penggelapan pajak, pekerjaan fiktif, transaksi orang dalam, dan manipulasi asuransi—dengan ilegalitas praktis yang lahir dari urgensi bertahan hidup, mulai dari perjalanan lintas batas di bagasi pesawat, penghindaran tarif transportasi, hingga pencurian mesin fotokopi di toko. Di tengah realitas saat ini, praktik “ilegal” seperti perdagangan selundupan benih ilegal justru menemukan denyutnya ketika ia dapat menyelamatkan biodiversitas dari kepunahan. Ini menunjukkan bahwa hukum tidak bekerja secara netral melainkan aktif memilah mana pelanggaran yang ditoleransi sebagai pelumas ekonomi dan mana yang dihukum karena mengancam kontrol otoritas. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada perlakuan terhadap upaya kemandirian kolektif; sebuah kebun sayur dadakan di tanah kosong dianggap jauh lebih berbahaya bagi stabilitas sistem daripada skema penipuan keuangan, sehingga ia lebih berisiko diratakan oleh buldoser bahkan sebelum panen pertama tiba demi memastikan kehidupan tetap bergantung sepenuhnya pada komoditas dan diktum kepatuhan hukum.
Jika kita mencermati keseluruhan hukum pengecualian serta aturan adat yang mendisiplinkan ruang gerak kita sehari-hari, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu pun individu yang benar-benar bebas dari ancaman hukuman. Labirin undang-undang, kode hukum, dan putusan yudisial telah dirancang sedemikian rupa sehingga setiap tindakan manusia, sekecil apa pun, secara teknis dapat ditarik ke dalam ranah sanksi; kebebasan kita saat ini hanyalah sebuah penundaan hukuman yang bergantung pada seberapa ketat otoritas memilih untuk menerapkan ketentuan-ketentuan tersebut.
Kita belum berani bertaruh pada pepatah bahwa di mana gurun penderitaan tumbuh, di sana pula tumbuh kekuatan penyelamat. Sebab, tidak akan ada perubahan nyata tanpa tindakan radikal: memisahkan diri secara total dari segala mekanisme yang membuat gurun ini terus meluas.
Membangun kekuatan dalam skala apa pun menuntut waktu yang tidak singkat, terutama karena kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kita telah kehilangan hampir seluruh kecakapan dasar untuk bertahan hidup secara otonom. Sebagai subjek yang dibentuk oleh kenyamanan modernisasi dan doktrin pendidikan negeri maju, kita terjebak dalam kondisi ironis di mana kita hampir tidak tahu cara melakukan apa pun secara mandiri di luar kerangka sistem; pengetahuan esensial seperti kemampuan mengumpulkan tanaman untuk kebutuhan pangan atau pengobatan kini telah terasing dan hanya dianggap sebagai anomali yang kuno atau bahkan paling parah, menganggap hal tersebut sebagai perilaku yang mencurigakan dan aneh.
Izinkan kami menyampaikan sebuah hipotesis: setiap individu sebenarnya memiliki akses terhadap berbagai sumber daya dan simpanan pengetahuan yang tersedia dengan menghidupi hidup di wilayah-wilayah dunia “lama” ini, dan mereka memiliki kapasitas sepenuhnya untuk membagikannya secara komunal.
Pertanyaannya bukan perihal apakah kita harus hidup dengan atau tanpa uang, mencuri atau membeli, bekerja atau tidak, melainkan bagaimana menggunakan uang untuk meningkatkan kemandirian kita dari ranah komoditas. Jika kita lebih memilih mencuri daripada bekerja, atau memproduksi untuk diri sendiri daripada mencuri, hal itu bukan karena kepedulian terhadap etis yang puritan, melainkan karena aliran kekuasaan yang menyertai aliran komoditas serta kepatuhan subjektif yang menjadi syarat bagi sarana kelangsungan hidup telah menjadi terlalu berlebihan. Kami tidak ingin sekadar pindah ke pedesaan, mengumpulkan pengetahuan lokal untuk menumpuknya, ataupun membatasi diri pada pengambilalihan kembali sarana dan pengetahuan, karena menggabungkan seluruh teknik dan kreativitas aktivisme saja tidak akan menghasilkan gerakan revolusioner. Masalah utamanya adalah soal waktu: menciptakan kondisi di mana serangan dapat mempertahankan dirinya tanpa memudar dan membangun solidaritas material yang memungkinkan kita untuk benar-benar bertahan.
Kami meyakini bahwa tidak ada revolusi tanpa pembentukan kekuatan material bersama.
Kami tidak mengabaikan sifat anakronistik dari keyakinan ini.
Kami tahu ini terlalu dini dan juga terlalu terlambat; itulah sebabnya kami masih punya waktu.
Kami tidak ingin lagi menunggu.
Kami menetapkan titik balik, jalan keluar dari padang gurun, dan akhir dari Kapital pada kedalaman ikatan yang dibangun setiap individu antara praktik dan nilai yang dianut individu tersebut.
Kami menolak mentransformasi hal ini menjadi urusan pribadi, masalah individu, atau sekadar persoalan karakter sebagaimana perspektif dangkal Liberal; sebaliknya, kami meyakini bahwa ikatan tersebut sepenuhnya bergantung pada pembangunan ruang-ruang bersama serta pembagian metode-metode efektif yang dijalankan secara kolektif.
Setiap hari, setiap orang didesak untuk menerima anggapan bahwa mempertanyakan hubungan antara gagasan dan tindakan adalah hal yang naif, ketinggalan zaman, dan merupakan bentuk ketidaksopanan. Kami menganggap fenomena ini sebagai konsekuensi dari redefinisi liberal atas perbedaan antara ranah publik dan privat yang sangat mendasar. Liberalisme menetapkan prinsip bahwa segala sesuatu harus ditoleransi dan boleh dipikirkan, asalkan pemikiran tersebut diakui tidak memiliki konsekuensi langsung terhadap struktur masyarakat, institusi, dan kekuasaan negara. Setiap gagasan dianggap dapat diterima dan ekspresinya didukung, selama aturan sosial serta otoritas negara tetap dipatuhi. Dengan kata lain, kebebasan berpikir dan berekspresi individu secara prinsip haruslah total, namun ia dilarang menginginkan konsekuensi dari pemikirannya tersebut sejauh menyangkut kehidupan kolektif.
Liberalisme mungkin telah melahirkan konsep individu, namun sejak awal ia melahirkannya dalam keadaan yang teramputasi. Individu liberal, yang paling jelas mengekspresikan dirinya melalui gerakan pasifisme dan hak-hak sipil saat ini, hanya terikat pada kebebasannya sejauh kebebasan tersebut tidak mengikatnya pada apa pun, dan tentu saja tidak mencoba memaksakan diri pada orang lain. Pepatah dangkal "kebebasanku berakhir di mana kebebasan orang lain dimulai" kini diterima sebagai kebenaran mutlak. Bahkan John Stuart Mill, salah satu aktor utama penaklukan liberal, menyadari konsekuensi buruk yang mengikuti: seseorang diizinkan untuk menginginkan apa pun, dengan syarat tunggal bahwa keinginan itu tidak dirasakan terlalu intens, tidak melampaui batas-batas pribadi, atau tidak melewati batas kebebasan berekspresi publik.
Liberalisme Eksistensial adalah kepatuhan pada tatanan kenyataan yang secara inheren mengajarkan kita untuk berkhianat. Kita telah terbiasa hidup dalam "ritme rendah" emosional—sebuah kompromi yang dianggap sebagai tanda kedewasaan—yang membuat kita mati rasa terhadap gagasan pengkhianatan itu sendiri. Bagi mereka yang ambisius, pengendalian diri emosional sering kali dijadikan ilusi tentang kemandirian, padahal kenyataannya, terlalu banyak hal yang harus dikhianati jika seseorang memilih setia pada janji-janji tulus yang ia bawa sejak masa kanak-kanak.
Prinsip dasar Liberalisme adalah memperlakukan segala hal, bahkan pengalaman pribadi, sebagai hak milik. Maka, menolak menjadi individu Liberal berarti menolak logika kepemilikan tersebut dan mendefinisikan ulang makna "harta": bukan sebagai sesuatu yang dimiliki secara privat, melainkan sebagai segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan dunia. Harta dalam arti ini tidak mendefinisikan identitas personal (seperti klaim "inilah aku"), melainkan sarana kolektif yang melampaui ego. Meski menolak kepemilikan individu, kita tidak menolak komitmen; upaya penguasaan kembali adalah soal memahami apa yang benar-benar memadai bagi kebutuhan, kegunaan, dan relasi kita dengan ruang serta waktu di dunia ini.
Liberalisme Eksistensial tak lain adalah etika spontan yang melayani kepentingan Demokrasi Sosial sebagai penjaga gawang kapitalisme. Anda dinilai sebagai warga negara yang "matang" justru saat Anda mampu mengkhianati kawan atau memadamkan api perjuangan demi mengamankan posisi kelas dan status quo Anda. Di sinilah letaknya kelicikan sistem ini: ia menyediakan komoditas penebus dosa bagi kegelisahan moral Anda. Donasi ke lembaga kemanusiaan liberal seperti Amnesty Internasional, mengonsumsi produk berlabel etis, atau sekadar menonton film dokumenter kritis adalah bentuk fetisisme komoditas politik—tindakan semu yang dirancang agar Anda tetap bisa berbelanja dengan tenang di bawah payung sistem yang menghisap. Rezim ini menyulap apa yang disebut sebagai perang kelas menjadi "kegiatan sosial" yang dijinakkan lewat subsidi negara dan pengakuan resmi, memastikan tidak ada lagi musuh politik yang nyata, melainkan hanya "masalah kebijakan" yang solusinya dikembalikan pada birokrasi kekuasaan.
Sejak awal, proyek Liberalisme dan Negara Modern terobsesi melakukan netralisasi terhadap setiap kolektivitas yang militan—yang mereka beri label stigmatis sebagai "sekte". Hal ini dilakukan karena kelompok-kelompok tersebut berani menyatukan kembali pemikiran dengan cara hidup, sebuah integritas subjektif yang harus dihancurkan agar Masyarakat dan Ekonomi bisa mendominasi. Kolektivitas yang otonom adalah mimpi buruk bagi kesatuan sosial semu bentukan negara karena mereka memutus ketergantungan pada totalitas kapital. Ada dua ancaman radikal yang tidak akan pernah dimaafkan oleh tatanan Liberal: 1) Sebuah pemikiran yang benar-benar diwujudkan dalam cara hidup seseorang atau ntegrasi gagasan dan tindakan, serta 2) Perwujudan tersebut tidak dilakukan sendirian, melainkan dibagikan dan dikomunalisasikan (communized) secara kolektif. Setiap pengalaman kolektif yang berada di luar kendali institusional akan segera didiskreditkan dengan label "sekte", “teroris”, atau bahkan tindakan “makar” untuk menjaga stabilitas tatanan yang ada.
Ekspansi komoditas telah menginvasi setiap jengkal eksistensi sebagai senjata paling efektif untuk memutus hubungan antara tujuan dan sarana. Kehidupan sehari-hari direduksi menjadi sekadar ruang administratif yang harus dikelola, sebuah wilayah netralitas universal yang memaksa kita menerima penundaan kebahagiaan demi kelancaran sirkulasi modal. Kondisi ini adalah nilai rata-rata dari seluruh kejahatan sistemik yang kita toleransi setiap hari, di mana hidup dipangkas agar tidak lebih dari sekadar aktivitas bertahan hidup yang pasif di bawah kendali pasar.
Jarang ada kolektif yang mampu luput dari ancaman devaluasi realitas ini; banyak yang akhirnya merosot menjadi komunitas dengan intensitas yang medioker dan dangkal. Disintegrasi internal ini biasanya ditutupi secara canggung oleh retorika-retorika canggih yang sebenarnya banal, sebuah upaya sia-sia untuk menyembunyikan kekosongan daya gerak. Tanpa adanya basis kekuatan material yang otonom, kelompok-kelompok tersebut terjebak dalam simulasi radikalisme yang tidak memiliki tenaga nyata untuk menginterupsi jalannya akumulasi kapital.
Netralisasi adalah fondasi Masyarakat Liberal, yang diwujudkan melalui ruang-ruang seperti tempat kerja, pusat hiburan, lapangan padel, lapangan golf, hingga museum— semuanya berfungsi untuk meredam luapan emosi dan menuntut pengendalian diri yang tunduk pada aturan. Kepopuleran ruang-ruang ini berakar pada keputusasaan kolektif untuk menghindari gejolak yang terlalu dalam, sebuah bentuk sinisme di mana kita bisa merasa "hadir" tanpa benar-benar harus terlibat secara radikal. Kita merasa nyaman dalam alienasi tersebut karena segala milik kita tetap terjaga, tepat pada titik di mana kehadiran subjek yang merdeka tidak lagi dibutuhkan oleh sistem.
Inilah yang digadang-gadang disebut senagai pertanyaan-pertanyaan etis yang tentu saja harus diajukan, dan di atas segalanya, inilah pertanyaan-pertanyaan yang kita temukan tepat di jantung politik: bagaimana merespons netralisasi emosional dan dampak potensial dari pemikiran-pemikiran yang krusial? Dan juga: bagaimana masyarakat modern berinteraksi dengan netralisasi-netralisasi ini, atau lebih tepatnya, bagaimana netralisasinetralisasi ini diubah menjadi bensin dalam berfungsinya sistem secara berkelanjutan? Bagaimana efektivitas material empire berkelindan dengan kecenderungan kita untuk menyerah, bahkan ketika kita merasa sudah memiliki pengalaman kolektif?
Penerimaan terhadap netralisasinetralisasi ini tentu saja dapat berjalan beriringan dengan upaya kreatif yang besar, dan demikianlah kelicikan menemukan jalannya pada perluasan sistem ini. Anda diperbolehkan bereksperimen hingga batas kegilaan, asalkan Anda tetap menjadi pencipta tunggal. Anda tetap diperbolehkan memproduksi bukti keunikan tersebut melalui karya anda untuk dikonsumsi secara publik, namun dalam diam, Anda dipaksa mengalaminya dalam kesunyian, dalam kesendirian, dan Anda hanya boleh meneruskannya secara tidak langsung. Lalu Anda akan diakui sebagai seniman atau pemikir, bahkan bisa jadi aktivis politik, namun sejatinya tindakan Anda telah direduksi menjadi sekadar melemparkan botol ke laut— memberi peringatan dengan hati nurani yang tenang, tanpa benar-benar mengganggu struktur kekuasaan.
Seperti banyak orang, kami telah mengetahui bahwa emosi yang terpendam terlalu lama di dalam diri berujung buruk: bahkan dapat berubah menjadi gejala. Kekakuan yang kami amati dalam diri kami berasal dari pembatas tipis, hampir transparan, yang membuat setiap orang merasa wajib untuk mendefinisikan batas-batasnya sendiri, dan untuk menahan apa yang menjadi letupan di dalam dirinya agar tidak meluap. Ketika, karena suatu alasan, pembatas-pembatas ini retak dan hancur, maka hal-hal yang mungkin tidak menyenangkan muncul, yang bahkan bisa tampak menakutkan — tetapi itu adalah ketakutan yang mampu membebaskan kami dari rasa takut. Mengkritisi baik batas-batas individu kita maupun batas-batas yang didikte oleh peradaban dapat menjadi penyelamat. Komune yang nyata menuntut adanya risiko fisik dan subjektif, di mana pikiran dan emosi tidak lagi dipenjara dalam satu individu, melainkan dipulihkan ke dalam interaksi kolektif yang bebas. Harus ditegaskan: komune tidak dapat dianggap sebagai jalan pintas bagi "solusi" yang bisa dipilih, melainkan hilangnya nilai komunalitas dalam komune itu sendiri, selalu demikian dimana-mana, itulah yang menjadi masalah.
Kami tidak memandang manusia sebagai individu yang terisolasi dari sesamanya atau dari dunia; sebaliknya, manusia terikat oleh berbagai jalinan hubungan yang selama ini kita dipaksa untuk menyangkalnya. Penyangkalan ini berfungsi untuk memblokir pertukaran emosional yang seharusnya menjadi cara kita merasakan ikatan tersebut. Pemblokiran inilah yang membuat kita terbiasa dengan perasaan yang netral, hambar, dan biasa saja—sebuah kondisi yang membuat kita memuja waktu libur, jam makan siang, atau hiburan malam sebagai "anugerah", padahal semua itu hanyalah bentuk kenetralan lain yang dikemas seolah-olah sebagai pilihan bebas. Tatanan imperial, yang kental akan pengaruh barat ini, justru semakin langgeng lewat kebosanan massal yang kita alami.
Mungkin akan ada yang berargumen: dengan menyuarakan pengalaman emosional yang intens dan kolektif, kita dianggap menentang kebutuhan dasar makhluk hidup, yakni kebutuhan atas ketenangan dan kelembutan—hal-hal yang kini menjadi komoditas mewah dan langka. Namun, jika "ketenangan" yang dimaksud hanyalah bentuk rekreasi yang diatur oleh pasar, maka kami tidak masalah jika seluruh resor ski mewah atau pusat perbelanjaan itu hancur terbakar dan alam dikembalikan pada fungsinya yang asli: menjadi tempat tinggal marmut-marmut serta bunga. Di sisi lain, kami sama sekali tidak menentang kelembutan alami yang secara inheren ada dalam setiap makhluk hidup. "Mungkin hidup memang hal yang lembut," dan setiap helai rumput memahami kebenaran ini jauh lebih dalam daripada semua warga dunia yang terasing di dalam sistem ini.
Kita menghempaskan segala kecemasan moral yang melumpuhkan dan obsesi atas puritanisme ideologi. Sebagai gantinya, kita merumuskan strategi kolektif di atas meja-meja kayu. Bagi kami, satu-satunya dosa adalah apa pun yang menghambat pertumbuhan kekuatan kami, apa pun yang memadamkan api yang menyala.
Dalam keteguhan ini, sekat antara ekonomi dan politik sepenuhnya runtuh: cara kita bertahan hidup dan cara kita melawan telah menjadi satu tarikan nafas yang sama. Kami tidak lagi mengenal rasa takut dalam membentuk kelompok-kelompok otonom yang saling terhubung. Dan bagi mereka yang menuduh kami sebagai "teroris" atau “mafia” hanya karena kami memilih untuk bermain di luar hukum mereka, kami hanya punya satu jawaban: tawa yang meledak.
Kita telah dicekoki kebohongan bahwa identitas sejati adalah apa yang memisahkan kita dari orang lain. Padahal, keunikan diri—sebuah singularitas—justru lahir dari cara dan intensitas kita menghidupi hal-hal yang bersifat umum ke dalam realitas.
Di titik inilah kita benar-benar bermula: saat kita saling menemukan satu sama lain dan menyadari bahwa bagian paling personal dalam diri kita justru menuntut untuk dikomunalkan, untuk dibagikan.
Namun kami menyadari suatu hal: tatanan hegemoni saat ini secara aktif memburu setiap bentuk kebersamaan yang tidak ia atur sendiri. Sebagai contoh, di metropolois atau perkotaan, hidup yang sifatnya kolektif hanya dilegitimasi ke dalam bentuk ruang yang terkontrol: barak, rumah sakit, penjara, dan panti jompo. Di luar itu, kita dipaksa untuk hidup dalam isolasi kubikel pribadi. Kita dipaksa kembali ke ruang isolasi secara berulang, tak peduli seberapa muak kita merasakannya atau seberapa hangat perjumpaan yang kita temukan di luar kubikel tersebut.
Kami menolak kembali ke kondisi yang melemahkan dan menguras daya hidup ini.
Isolasi, dalam budaya primitif, merupakan teknik hukuman terberat yang dapat dikenakan pada anggota masyarakat. Kini, isolasi justru menjadi kondisi yang umum. Logika inilah yang menjadi domino effect pada bencana yang datang setelahnya. Inilah akar dari hancurnya ruang publik. Karena gagasan sempit yang dimiliki setiap orang tentang rumah mereka sendiri (privatisasi rumah), kini menyerahkan jalanan kepada polisi menjadi tampak sebagai hal yang alami. Dunia tidak akan menjadi se-tidak layak huni ini, atau sosialitas tidak akan se-terkendali ini — dari mal hingga bar, dari ruang rapat hingga ruang meeting privat — jika sebelumnya setiap orang tidak diberi perlindungan terhadap ruang privat.
Dalam upaya melarikan diri dari kondisi yang merusak, kita membangun ruang-ruang pendudukan (squat) illegal sebagai laboratorium hidup kolektif di luar kontrol otoritas. Meskipun banyak batasan, dalam konstelasi ruang-ruang yang diduduki inilah kita menemukan praktik hidup kolektif yang otonom dan di luar cetak biru yang disuguhkan negara. Di sinilah justru kita merasa kuat. Kita telah mengorganisir diri untuk bertahan hidup: melakukan mutual aid, mencuri, kerja kolektif, makan bersama, berbagi keterampilan, peralatan, keabsahan cinta — dan disitulah kita justru menemukan keanekaragaman ekspresi politik: konser tanpa sponsor, demonstrasi, aksi langsung, sabotase, pamflet selebaran.
Lalu, sedikit demi sedikit, kami menyaksikan ruang-ruang otonom itu membusuk: dari lingkungan yang hidup berubah menjadi sekadar lingkaran pergaulan, lalu menyusut menjadi panggung sandiwara. Kami menyaksikan bagaimana strategi kolektif yang tajam digantikan oleh kode moral yang menghakimi. Kami melihat norma-norma mengeras, reputasi mulai dipahat, dan segalanya menjadi mudah diprediksi. Petualangan kolektif yang dulu membara merosot menjadi kehidupan bersama yang suram, di mana hubungan antarmanusia hanya diikat oleh toleransi yang penuh permusuhan. Kami beradaptasi, namun di titik ini kami telah menyadari bahwa apa yang kami yakini sebagai "dunia tandingan" ternyata hanyalah cerminan dari dunia dominan yang kami benci. Di dalamnya, kami menemukan permainan yang sama: penegasan ego di balik kedok pencurian, perkelahian, atau tuntutan koreksi terhadap politik yang radikal. Kami mendapati liberalisme emosional yang sama, perselisihan mengenai akses dan wilayah yang sama, hingga pemisahan kaku antara hidup sehari-hari dengan aktivitas politik, serta paranoia identitas yang menyiksa. Bagi yang paling beruntung, kebebasan yang tersisa hanyalah kemewahan untuk melarikan diri dari kemiskinan lokal mereka demi memamerkannya di tempat lain sebagai sesuatu yang eksotis.
Namun, kami tidak menyalahkan bentuk squat atas segala kelemahan ini. Kami tidak berniat menyangkal apalagi meninggalkannya. Bagi kami, squat hanya akan kembali memiliki makna jika kita berani mengklarifikasi dasar dari pembagian yang kita lakukan di dalamnya. Baik di dalam squat maupun di tempat lain, penciptaan strategi secara kolektif adalah satu-satunya jalan keluar agar kita tidak terjebak dalam kemunduran identitas—baik itu melalui asimilasi ke dalam sistem atau terjebak dalam isolasi gang-gang yang sempit.
Membahas soal strategi, kita mencuri segala fragmen historis perihal mereka yang kalah. Kita merawat ingatan perihal bagaimana awal mula gerakan buruh. Pelajaran-pelajaran itu masih lengket dengan kita.
Sebab, apa yang diterapkan oleh gerakan buruh tersebut punya kaitan langsung dengan cara hidup kita saat ini, dengan apa yang kita terapkan hari ini. Pengakumulasian kekuatan yang dulu disebut sebagai gerakan buruh, pada mulanya bersandar pada pembagian praktik-praktik kriminal bersama. Dana mogok rahasia, aksi sabotase, perkumpulan gelap, hingga aksi kekerasan kelas—semuanya dikembangkan dengan kesadaran penuh akan sifatnya yang ilegal dan antagonis terhadap sistem.
Di Amerika Serikat, tumpang tindih antara bentuk-bentuk organisasi pekerja dan kejahatan terorganisir menemukan bentu paling nyata. Kekuatan proletar Amerika pada awal era industri berasal dari tumbuhnya bibitbibit insureksionis dalam serikat pekerja serta kekuatan penghancuran dan pembalasan terhadap Kapital, dan dari keberadaan solidaritas yang sifatnya klandenstein (Contohnya peristiwa Haymarket yang menjadi asal usul lahirnya Hari Buruh). Transposisi terus-menerus pekerja menjadi kriminal menuntut kontrol sistematis: moralisasi terhadap segala bentuk organisasi otonom. Segala sesuatu yang melampaui cita-cita pekerja jujur dipinggirkan sebagai mafianisme. Pada akhirnya, ada mafia di satu sisi dan serikat pekerja di sisi lain, keduanya merupakan produk dari amputasi timbal balik—di mana serikat buruh kehilangan taring radikalnya, dan tindakan ilegal kehilangan landasan politiknya.
Di Eropa, penjinakan organisasi pekerja ke dalam struktur negara—yang menjadi pilar demokrasi sosial—telah melenyapkan kemampuan mereka untuk menjadi kekuatan pengganggu yang nyata. Ironisnya, di eropa pula gerakan buruh lahir sebagai urgensi solidaritas material dan kebutuhan akan komunisme praktis, di mana tempat-tempat seperti Maisons du Peuple[17] menjadi ruang persinggungan antara keinginan untuk hidup bersama secara komunal dan strategi revolusioner. Namun, sejarah mencatat terjadinya pemisahan progresif: arus kooperatif menyempit menjadi sekadar ceruk ekonomi yang kehilangan arah strategisnya, sementara serikat buruh dan organisasi politik terjebak dalam teater elektoral atau manajemen bersama. Dari pengkhianatan terhadap semangat pemisahan diri (secession) inilah lahir entitas bernama "Kiri", yang mencapai titik terendahnya ketika serikat pekerja justru mengecam kekerasan dan bersedia menjadi kepanjangan tangan polisi untuk mengendalikan para perusuh.
Peningkatan fungsi kepolisian negara baru-baru ini hanya membuktikan satu hal: bahwa masyarakat Barat telah kehilangan kemampuan untuk bersatu. Mereka hanya mampu mengelola kemunduran yang tak terelakkan. Dengan kata lain, negara melakukan apa yang hanya bisa ia lakukan untuk mempertahankan hegemoninya: untuk mencegah setiap upaya re-konsolidasi, untuk menghancurkan siapa pun yang menonjol. Siapa pun yang membelot. Siapa pun yang keluar dari barisan.
Namun, tak ada yang bisa dilakukan. Kondisi kehancuran internal masyarakat ini memungkinkan semakin banyak celah muncul. Pemolesan sistem yang sudah bobrok secara terus-menerus tidak akan menghasilkan apaapa: di sana, justru dunia-dunia alternatif mulai terbentuk. Tempat tinggal ilegal, komunitas, kelompok-kelompok kecil, kawasan-kawasan, semuanya berusaha melepaskan diri dari kehancuran kapitalis. Sebagian besar upaya ini berakhir sia-sia atau mati karena terisolasi, karena kurangnya kontak yang terjalin, solidaritas yang tepat. Juga karena kurangnya kesadaran untuk memandang diri mereka sebagai kombatan penuh waktu dalam Perang Sipil Global.
Namun, semua upaya konsolidasi ulang ini tak ada artinya dibandingkan dengan hasrat massa, yang terus-menerus menunda keinginan untuk keluar. Untuk pergi.
Dalam sepuluh tahun, di antara dua sensus, seratus ribu orang telah menghilang di Britania Raya. Mereka naik truk, membeli tiket, mengonsumsi LSD, atau bersembunyi. Mereka telah memutuskan hubungan. Mereka telah pergi.
Kami ingin, dalam pemisahan diri kami, memiliki tempat untuk bergabung kembali, sisi untuk dipilih, jalan untuk diikuti.
Banyak yang pergi tersesat. Dan tak pernah benar-benar tiba.
Strategi kami karenanya adalah sebagai berikut: mendirikan dan mempertahankan serangkaian pusat desersi, poros suksesi, titik kumpul. Untuk para pelarian. Untuk mereka yang pergi. Serangkaian tempat di mana kita dapat melarikan diri dari pengaruh peradaban yang menuju jurang katastrofe.
Ini soal memberi diri kita sarana, menemukan metode agar semua pertanyaan itu dapat diselesaikan; pertanyaan-pertanyaan yang, jika dihadapi secara sendirian, dapat mendorong kita ke dalam jurang depresi. Bagaimana cara melepaskan ketergantungan yang melemahkan kita? Bagaimana mengatur diri kita agar tidak perlu lagi bekerja? Bagaimana menetap di luar toksisitas metropolis tanpa kembali ke alam? Bagaimana menutup pembangkit nuklir? Bagaimana kawan-kawan yang punya penyakit mental tidak lagi harus dikembalikan ke institusi psikologis yang sudah reot; atau ke obat-obatan kasar institusi medis yang anjing dan mekanistik ketika mereka merasa sakit? Bagaimana hidup bersama tanpa penindasan timbal balik? Bagaimana menerima kematian seorang kawan? Bagaimana menghancurkan empire?
Kami sepenuhnya menyadari kelemahan kami: kami lahir dan tumbuh di puing-puing masyarakat yang pasif dan terpecah-pecah. Sampai saat ini, kami belum sepenuhnya mencecap kekuatan yang lahir dari konfrontasi kolektif yang intens, maupun pengetahuan mendalam yang menyertainya. Inilah mengapa kita mendesak adanya pendidikan politik bersama—sebuah kurikulum yang tak hanya teoretis di atas kertas, tetapi juga praktis di lapangan.
Maka dari itu, kami membutuhkan lokasi. Tempat-tempat di mana kami dapat mengorganisir diri, berbagi, dan mengembangkan teknik-teknik yang diperlukan. Tempat di mana kami dapat belajar menangani segala hal yang mungkin diperlukan. Tempat di mana kami dapat bekerja sama. Seandainya eksperimen Bauhaus tidak melepaskan perspektif politiknya, dengan segala materialitas dan ketatannya, hal itu akan mengingatkan pada gagasan bahwa kami dapat menciptakan ruangwaktu khusus untuk transmisi pengetahuan dan pengalaman. Black Panthers dilengkapi dengan tempat-tempat semacam itu, yang mereka tambahkan dengan kapasitas politik-militer mereka, sepuluh ribu makan siang gratis yang mereka bagikan setiap hari, dan media cetak otonom mereka. Tak lama kemudian, mereka menjadi ancaman yang begitu nyata bagi Kekuasaan sehingga agen-agen federal harus dikirim untuk membantai mereka.
Siapa pun yang memilih untuk membangun kekuatan tahu bahwa mereka telah menuyeret diri ke dalam arus konflik global. Dalam posisi ini, perdebatan moralistik mengenai penggunaan atau penolakan terkait metode kekerasan menjadi tidak relevan. Dan pasifisme justru muncul sebagai senjata tambahan dalam melayani empire, bersama dengan pasukan polisi anti huru-hara dan jurnalis binaan pemerintah. Pertimbangan yang menjadi perhatian kita adalah kondisi konflik asimetris yang telah dipaksakan pada kita; kita harus mempertimbangkan mode kemunculan dan penghilangan (appearance and disappearance) yang sesuai untuk setiap praktik perlawanan kita. Demonstrasi, aksi dengan wajah terbuka, protes di ruang publik: semua ini adalah bentuk perjuangan yang tidak sesuai melawan rezim dominasi saat ini. Alih-alih meruntuhkan, tindakan-tindakan simbolis tersebut justru memperkuat sistem kontrol dengan menyetorkan data dan informasi segar ke dalam mesin pengawasan. Mengingat betapa rapuhnya subjektivitas manusia saat ini— bahkan di tingkat para pemimpin—jauh lebih strategis untuk mengarahkan serangan pada perangkat material dan infrastruktur sistem, daripada menyerang individu-individu yang sekadar menjadi wajah bagi perangkat tersebut. Ini semata-mata digagas atas pertimbangan strategis. Oleh karena itu, kita harus beralih ke bentuk-bentuk operasi yang khas bagi semua gerilyawan: sabotase anonim, aksi yang tidak diakui (unclaimed action), penggunaan teknik yang samar dengan komunike, counter-attacks.
Ini bukanlah pertanyaan perihal moral tentang cara kita menyediakan sarana untuk hidup dan berjuang, melainkan pertanyaan taktis tentang sarana yang kita berikan pada diri kita sendiri dan penggunaan yang kita lakukan terhadapnya.
"Manifestasi kapitalisme dalam hidup kita adalah kesedihan," ujar seorang kawan.
Intinya sekarang adalah membangun dasar-dasar material yang memungkinkan kita untuk kembali merasakan kebahagiaan secara bersama-sama.
Di satu sisi, kita ingin menghidupi komunis; di sisi lain, kita ingin menyebarkan anarki.
Kita sedang hidup di masa-masa pemisahan yang paling ekstrem. Kenormalan yang menyedihkan di kota besar, kerumunan orang yang kesepian, mencerminkan utopia yang mustahil dari sebuah masyarakat yang terdiri dari individu-individu terpisah.
Pemisahan yang paling ekstrem ini mengungkap makna kata komunisme.
Komunisme bukanlah sistem politik atau ekonomi. Komunisme bisa bertahan tanpa Marx. Komunisme tidak peduli dengan Uni Soviet. Dan kita tidak bisa menjelaskan fakta bahwa setiap dekade selama lima puluh tahun terakhir, ada yang berpura-pura menemukan kembali kejahatan Stalin, sambil berteriak, “Lihatlah apa itu komunisme!” jika mereka tidak merasa bahwa pada kenyataannya segala sesuatu mendorong kita ke sana.
Argumen satu-satunya yang pernah menentang komunisme adalah bahwa kita tidak membutuhkannya. Dan tentu saja, hingga baru-baru ini dan di sana-sini, meskipun terbatas, masih ada sumbu komunal bagi hal-hal, bahasa, pikiran, dan ruang yang dibagikan dan bertahan; setidaknya cukup untuk tidak lenyap. Ada dunia-dunia, dan mereka dihuni. Penolakan untuk memikirkan dan membicarakan soal komunisme memiliki argumen praktis. Argumen-argumen itu telah dihapuskan. Era 80-an menjadi titik trauma di mana pembersihan ruang sosial tersebut diselesaikan, menyisakan hubungan antarmanusia sebagai sumber penderitaan hingga isolasi pun terasa lebih nyaman daripada koneksi. Justru karena kemenangan mutlak Liberalisme Eksistensial yang memisahkan kita semua inilah, kita kini terdorong tepat ke bibir jurang komunisme.
Pertanyaan komunis pada dasarnya adalah upaya untuk memahami hubungan kita dengan dunia, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri. Ia bukan tentang penyatuan paksa ruang global menjadi satu keseragaman, melainkan penegasan atas pluralitas, atas komunikasi di antara dunia yang berbeda-beda. Komunisme bukanlah titik akhir di mana segala konflik lenyap; justru melalui konflik pulalah dunia-dunia saling berinteraksi dan berkomunikasi. Sebagaimana ungkapan seorang kawan lama, “komunisme tidak bermaksud menciptakan “jiwa kolektif" yang seragam, melainkan menghapus perbedaan palsu yang diciptakan masyarakat borjuis agar perbedaan yang sejati, yakni perbedaan kualitas antarmanusia, dapat benar-benar tumbuh dan terbuka lebar”.
Klaim mengenai apa yang kita butuhkan dan apa yang membentuk dunia kita selama ini telah diringkas secara paksa ke dalam fiksi hukum kepemilikan pribadi. Padahal, sesuatu seharusnya menjadi milik kita sejauh ia berada dalam ranah penggunaan kita, bukan karena selembar sertifikat hukum. Sejatinya, realitas kepemilikan pribadi hanyalah kekuatan polisi yang melindunginya. Oleh karena itu, membangun komunisme berarti dua hal: melenyapkan peran polisi dan mengembangkan cara-cara baru dalam berbagi serta menggunakan segala sesuatu di antara mereka yang hidup bersama.
Komunisme tidak datang dengan sendirinya; ia harus dipikirkan dan diwujudkan melalui tindakan nyata. Segala penolakan yang muncul biasanya berakar pada kelelahan— argumen-argumen pesimistis seperti "itu tidak akan berhasil" atau "manusia memang begini adanya." Namun, kelelahan bukanlah sebuah argumen intelektual; hal itu merupakan sebuah kondisi.
Jadi, komunisme berangkat dari pengalaman berbagi. Pertama, dari berbagi kebutuhan kita. Kebutuhan disini bukanlah apa yang telah dibiasakan oleh tatanan kapitalis kepada kita. Kebutuhan tidak pernah sekadar tentang menginginkan benda-benda tanpa pada saat yang sama menginginkan dunia-dunia. Setiap kebutuhan menghubungkan kita, melampaui segala rasa malu, dengan setiap orang yang merasakan ikatan itu. Kebutuhan bukanlah dimaksudkan sebagai kekurangan objektif akan suatu barang, melainkan, kebutuhan merupakan suatu jembatan makna antara kita dan dunia di sekitar kita. Kapitalisme mungkin mampu membanjiri kita dengan benda-benda, namun ia justru menyebarkan ketidakpuasan universal karena ia menghancurkan dunia-dunia yang memberi makna pada benda tersebut, menyisakan manusia metropolitan yang kesepian dengan keinginan yang hampa.
Yang kami maksud dengan komunis adalah suatu disiplin dalam memberi perhatian.
Praktik komunis, sebagaimana kami jalani, kami sebut Partai[18] . Ketika kami mengatasi rintangan bersama atau mencapai tingkat berbagi yang lebih tinggi, kami mengatakan bahwa kami sedang “membangun Partai.” Tentu saja, orang lain yang saat ini tidak kami kenal sedang membangun Partai di tempat lain. Seruan ini ditujukan kepada mereka. Tidak ada pengalaman komunisme pada masa kini yang dapat bertahan tanpa terorganisir, terikat pada orang lain, mengambil sisi dalam krisis, dan berperang. “Karena oase-oase yang menyalurkan kehidupan akan lenyap ketika kita mencari perlindungan di dalamnya.”
Penerapan komunisme dilakukan melalui tindakan komunisasi: sebuah proses aktif untuk menjadikan ruang, alat, atau pengetahuan sebagai milik bersama. Ini bukan sekadar perpindahan kepemilikan, melainkan pengembangan cara berbagi yang melekat pada hal-hal tersebut. Pemberontakan hanyalah akselerator bagi proses ini. Partai yang kami tuju bukanlah "organisasi" yang kaku dan transparan hingga kehilangan substansi manusiawinya, bukan pula "keluarga" yang penuh rahasia dan penipuan. Partai adalah kumpulan tindakan nyata yang menghubungkan kita kembali dengan dunia yang telah dirampas.
Partai bagi kami bukanlah sebuah struktur birokrasi yang kaku, melainkan sebuah ekosistem hidup yang menyatukan sarana material dengan getaran jiwa. Ia adalah jalinan infrastruktur fisik—seperti ruang gerak, alat produksi, tubuh, dan metode kerja—yang dihidupkan oleh sirkulasi mimpi, bisikan, hasrat, serta pemikiran kolektif yang mengalir di dalamnya. Di sini, Partai mewujud dalam praktik nyata: bagaimana kita menggunakan dan membagi sumber daya tersebut secara bersama-sama.
Dalam kerangka strategis, konsep partai ini menegaskan sebuah model formalisasi minimum yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan serta penyediaan ruang yang inklusif. Tujuannya adalah untuk mengonstruksi ambang batas organisasi yang cukup distingtif agar para anggota baru dapat terintegrasi secara horizontal—meniadakan senioritas melalui akses setara terhadap basis material—namun tetap mempertahankan karakter yang cair dan samar. Sifat organisasi yang non-rigid ini merupakan taktik klandestin untuk menghindari skema panoptik dari aparatus keamanan eksternal.
Jika dilihat lebih dekat, Partai tak lain adalah ini: pembentukan intuisi sebagai kekuatan. Penyebaran sebuah komun kepulauan dunia. Apa arti sebuah kekuatan politik di bawah empire jika tidak memiliki ladang-ladangnya, sekolah-sekolahnya, senjatanya, obat-obatannya, rumah-rumah kolektifnya, meja redaksinya, mesin cetaknya, truk pengirimannya, dan pos-pos otonom kota? Semakin tampak absurd bahwa sebagian dari kita masih harus bekerja untuk Kapital — selain pekerjaan infiltrasi yang biasa, tentu saja.
Kekuatan ofensif Partai berasal dari fakta bahwa Partai juga merupakan kekuatan produksi; namun, pada dasarnya, hubungan-hubungan tersebut hanyalah hubungan produksi yang bersifat insidental.
Pembumihangusan kapitalisme hanya akan datang ketika seseorang dapat membuat tipe relasi sosial yang tidak berkutat dengan tipe relasi sosial yang ada pada tatanan saat ini.
Maka dari itu, komunisme yang kita bicarakan saat ini adalah komunisme yang sifatnya lain dari apa yang sejarah junjung sebagai “komunisme”, yang sebenarnya, tidak ada bedanya dengan sosialmsime; suatu bentuk kapitalisme di bawah negara yang punya sifat monopolistik.
Komunisme bagi kami bukan perihal menciptakan perluasan pada relasi produksi yang baru, melainkan menghapus secara total relasi tersebut.
Peniadaan hubungan produksi dalam lingkaran kita berarti menolak dominasi logika hasil di atas perhatian terhadap proses. Hal ini menuntut pembongkaran seluruh konvensi nilai yang ada, guna memastikan bahwa kasih sayang dan kerja sama tidak lagi dipisahkan sebagai dua makhluk yang berbeda. Dengan menihilkan orientasi pada output semata, interaksi yang terbangun tidak lagi bersifat transaksional, melainkan sebuah bentuk kebersamaan yang menolak standarisasi ekonomi demi menjaga keutuhan hubungan antarmanusia.
Menyadari keberadaan dunia-dunia, serta konfigurasi-konfigurasi yang dapat dirasakannya, justru lah yang membuat isolasi terhadap sesuatu seperti hubungan produksi yang bersifat transaksional dan mekanistik menjadi lebih mustahil. Di tempat-tempat yang kami buka, di sekitar sarana yang kami bagikan, inilah kebaikan yang kami cari, yang kami alami. Untuk menyebut pengalaman ini, kami sering mendengar bahwa segalanya gratis. Alih-alih gratis, kami lebih suka menyebutnya sebagai komunisme — penggunaan istilah yang menegaskan bahwa kebebasan ini bukanlah tanpa bentuk; ia mengimplikasikan adanya organisasi yang terencana serta kesiapan dalam menghadapi konsekuensi antagonisme politik yang muncul sebagai akibat dari penolakan terhadap logika pasar.
Jadi, pembangunan Partai, dalam aspeknya yang paling terlihat, terdiri dari pembagian atau komunisasi apa yang kita miliki. Mengkomunisasi suatu tempat, bagi kami berarti demikia: membebaskan penggunaannya, dan berdasarkan pembebasan ini, bereksperimen dengan hubungan yang lebih halus, intensif, dan kompleks. Jika kepemilikan pribadi pada dasarnya adalah kekuasaan sewenang-wenang untuk merampas penggunaan benda yang dimiliki dari siapa pun, komunisasi hanya berarti merampas kepemilikan itu dari agen-agen empire.
Dari segala sisi, kami menentang pemaksaan untuk memilih antara yang ofensif dan yang konstruktif, negatif dan positif, hidup dan bertahan hidup, perang dan kehidupan sehari-hari. Kami tidak akan menanggapi hal itu. Kami sangat memahami bagaimana alternatif yang memecah belah ini memisahkan dan memecah belah kembali semua kolektif yang ada. Bagi sebuah kekuatan yang sedang bergerak, mustahil untuk membedakan apakah penghancuran perangkat yang merugikan kami adalah tindakan konstruktif atau ofensif; pun mustahil menentukan apakah upaya mencapai otonomi pangan dan medis merupakan tindakan perang atau tindakan penarikan diri. Dalam situasi tertentu, seperti saat kerusuhan, kemampuan untuk mengobati rekan seperjuangan justru secara signifikan meningkatkan kapasitas kami untuk menciptakan kekacauan. Tidak ada yang bisa membantah bahwa mempersenjatai diri adalah bagian dari pembentukan material sebuah kolektivitas. Ketika strategi bersama telah disepakati, pilihan antara ofensif dan konstruktif menjadi tidak relevan; dalam setiap situasi, yang ada hanyalah apa yang memperkuat daya kami dan apa yang merugikannya.
Secara umum, kami meyakini bahwa hanya sebuah kekuatan nyata yang mampu bertahan dari dislokasi total kapitalisme yang dapat benar-benar menyerang sistem tersebut hingga titik keruntuhannya.
Ketika momen itu tiba, hal tersebut akan menjadi persoalan apakah kita dapat memanfaatkan keruntuhan sosial yang meluas untuk keuntungan bersama, mengubah keruntuhan tersebut (seperti di Argentina atau Uni Soviet) menjadi situasi revolusioner. Mereka yang berpura-pura memisahkan otonomi material dari sabotase mesin imperial menunjukkan bahwa mereka tidak menginginkan keduanya.
Bukanlah suatu keberatan jika komunis, anarkis, atau kiri secara general mengakui bahwa eksperimen sosial komunisasi di masa lalu yang paling berhasil adalah fenomena gerakan anarkis Spanyol antara tahun 1868 dan 1939.
Komunisme merupakan kemungkinan yang selalu dalam setiap momen; ia bukanlah tujuan akhir dari proses sejarah yang panjang, melainkan realitas yang terus-menerus dihindari. Dalam perspektif ini, apa yang kita kenal sebagai "Sejarah" hanyalah sekumpulan mekanisme rumit yang diciptakan manusia untuk menunda perwujudan terhadap situasi komunis. Fakta bahwa satu abad terakhir ini sejarah hanya menyajikan akumulasi bencana membuktikan bahwa persoalan komunisme tidak lagi bisa ditangguhkan. Maka, satusatunya hal yang tidak boleh kita tunda saat ini adalah penghentian terhadap segala bentuk penundaan itu sendiri.
Pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Apa yang kalian tawarkan?” mungkin terdengar netral, namun sebenarnya itu bukanlah pertanyaan, melainkan suatu instrumen operasional yang ditujukan untuk menetralisir tiap-tiap gejolak pemberontakan.
Dalam kerangka organisasi sistematis yang mendominasi saat ini, setiap artikulasi kolektif berupa "Kami" yang ditujukan kepada subjek asing "Kamu" berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap ancaman deindividualisasi; sebuah upaya untuk mencegah identitas kolektif tersebut melintasi atau melarutkan batas-batas subjektivitas personal. Di bawah rezim pemisahan, gagasan hanya memperoleh legitimasi sirkulasi apabila ia dapat diatribusikan secara rigid kepada subjek hukum yang spesifik atau "penulis" tertentu. Tuntutan akan kepemilikan intelektual ini merupakan instrumen pengawasan yang bertujuan untuk membendung gagasan agar tidak jatuh ke dalam domain publik yang anonim—sebuah ruang di mana pemikiran dapat bergerak bebas tanpa kendali identitas. Konsekuensinya, dalam tatanan ini, anonimitas hanya menjadi hak istimewa kekuasaan ("Mereka"), sementara setiap bentuk diskursus alternatif dipaksa untuk mempersonalisasi diri agar apa yang memiliki potensi subversif dan berontak dari kolektif yang tidak bertuan dapat sepenuhnya mati.
Terdapat sebuah mistifikasi yang menyesatkan dalam logika politik kita: anggapan bahwa di tengah dunia yang mengecewakan ini, tugas kita adalah mengajukan proposal atau mencari alternatif solusi. Pandangan ini seolah menjanjikan bahwa kita dapat keluar dari jerat situasi saat ini hanya dengan melalui diskusi atau bahkan pembacaan tuntutan yang tenang bersama pihak-pihak yang dianggap "rasional".
Padahal kenyataannya, tidak ada ruang di luar situasi tersebut; tidak ada celah untuk melarikan diri dari Perang Sipil Global karena kita telah berada di dalamnya sejak awal, secara permanen.
Oleh karena itu, tugas utama kita bukanlah berwacana tentang masa depan yang abstrak, melainkan menyusun strategi di tengah cangkang situasi yang ada. Inilah satu-satunya “Kita” yang revolusioner dan paling memungkinkan: “Kita” yang praktis, terbuka, dan tersebar, dari siapa pun yang bertindak sesuai garis yang sama.
Saat kami menulis ini, pada Agustus 2003, kami dapat menyatakan bahwa kita sedang menghadapi ofensif Kapital terbesar dalam dua puluh tahun terakhir. Narasi antiterorisme dan penghapusan sisa-sisa keberhasilan gerakan buruh yang kini telah mati, telah menciptakan populasi yang tunduk dalam keseragaman. Para pengelola masyarakat tidak pernah sebelumnya begitu menyadari hambatan apa saja yang telah mereka singkirkan dan kekuatan apa saja yang mereka genggam. Mereka tahu, misalnya, bahwa kelas menengah bawah planet ini yang kini (dan seterusnya) menghuni metropolis telah terlalu lemah untuk memberikan perlawanan sedikit pun terhadap penghancuran mereka yang sudah terprogram. Sebagaimana mereka juga tahu bahwa mulai saat ini, kontra-revolusi yang mereka pimpin telah terpahat dalam jutaan ton beton, dalam arsitektur di banyak kota baru. Dalam jangka panjang, tampak bahwa rencana Kapital adalah untuk memisahkan sebuah jaringan zona keamanan tinggi dalam skala global, yang saling terhubung secara terus-menerus satu sama lain, di mana proses valorisasi kapitalis akan mencakup seluruh ekspresi kehidupan secara abadi dan tanpa hambatan. Zona kenyamanan Imperial ini, yang terdiri dari warga negara yang terlepas dari akar teritorialnya (deterritorialized), akan membentuk semacam rangkaian kepolisian di mana tingkat kontrol yang terus-menerus akan berlaku, baik secara politik maupun biometrik. Seiring mereka memajukan proses pasifikasi tersebut, sisa dunia lainnya kemudian akan dibiarkan tumbuh sebagai pihak yang kontra dan, di saat yang sama, sebagai "Pihak Liar" yang nantinya, cepat atau lambat, akan segara "diberadabkan". Eksperimen keji mengenai koeksistensi paksa antar-enklave yang bermusuhan, sebagaimana telah terjadi selama puluhan tahun di Israel, akan menjadi model manajemen sosial di masa depan. Kami tidak ragu bahwa masalah utama bagi Kapital dalam semua ini adalah menyusun kembali masyarakat sesuai citra dirinya, sesuai blueprint yang Kapital inginkan dari dasar. Tidak peduli apa pun bentuknya, dan betapa pun mahal harganya.
Kita telah melihat melalui kasus Argentina bahwa keruntuhan ekonomi seluruh negeri, dari sudut pandang Kapital, bukanlah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.
Dalam konteks ini, kami bersekutu dengan semua pihak yang menyadari pentingnya ketiga kampanye ini dari segi taktis:
1. Mencegah, dengan segala cara, terjadinya rekonsolidasi sayap kiri.
2. Mempercepat suatu bencana hingga gerakan sosial, proses komunisasi, serta pembangunan Partai.
3. Menyelundupkan gerakan pemisahan diri dan insureksionis langsung ke dalam sektor-sektor vital mesin Imperial.
Secara berkala, kelompok Kiri mengalami kekalahan telak. Kita menikmatinya, namun itu tidak cukup. Kita menginginkan kekalahan mereka menjadi definitif dan tak terobahkan. Semoga momok oposisi yang "masih bisa berdamai" tidak akan pernah lagi muncul untuk mengaburkan pikiran mereka yang tahu bahwa diri mereka tidak sejalan dengan fungsi-fungsi kapitalis. Apa yang diakui semua orang hari ini adalah bahwa kelompok Kiri merupakan bagian integral dari mekanisme netralisasi yang khas dalam masyarakat liberal. Semakin nyata kehancuran sosial terjadi, semakin keras kelompok Kiri menyerukan perihal isu-isu “Masyarakat Sipil”. Semakin polisi menjalankan kesewenang-wenangan dengan impunitas, semakin keras kelompok Kiri menyatakan diri sebagai pasifis. Semakin negara mencampakkan formalitas hukumnya, semakin mereka menjadi warga negara yang patuh. Di saat urgensi untuk mengambil alih sarana eksistensi kita semakin besar, kelompok Kiri justru mendesak kita untuk menunggu dan memohon mediasi, atau bahkan perlindungan kepada pemerintah. Kelompok Kiri-lah yang hari ini, di hadapan pemerintah yang secara terbuka menyatakan perang sosial, menyuruh kita untuk "menyampaikan kebenaran pada kekuasaan", menuliskan keluh kesah, membentuk tuntutan, dan mempelajari ekonomi politik. Dari Léon Blum hingga Lula, kelompok kiri selalu mengkampanyekan hal-hal ini: partai yang mengusung hak-hak kemanusiaan, warga negara, dan peradaban. Hari ini, program tersebut berhimpit sepenuhnya dengan program kontra-revolusioner; yaitu program untuk mempertahankan sekumpulan ilusi yang melumpuhkan kita. Maka, panggilan hidup kelompok kiri adalah untuk memaparkan mimpi tentang apa yang hanya bisa disediakan oleh imperium. Ia mewakili sisi idealis dari modernisasi imperial, katup pengaman yang diperlukan demi laju kapitalisme yang tak tertahankan. Hal ini bahkan ditulis tanpa rasa malu dalam publikasi Kementerian Pemuda, Pendidikan, dan Riset Prancis: “Mulai saat ini, semua orang tahu bahwa tanpa bantuan nyata dari warga negaranya, Negara tidak akan memiliki sarana maupun waktu untuk melanjutkan pekerjaan yang dapat mencegah masyarakat kita meledak.” (Longing to Act: the Guide to Commitment).
Mengalahkan kelompok Kiri—yang berarti menjaga agar saluran ketidakpuasan sosial tetap terbuka secara terus-menerus—bukan hanya sebuah keharusan, tetapi juga sangat mungkin dilakukan hari ini. Kita sedang menyaksikan, di saat struktur imperial menjadi semakin kuat, transisi dari kelompok kiri pekerja lama (yang menjadi penggali kubur gerakan buruh meskipun lahir darinya) menuju kelompok kiri global-kultural baru, di mana Negrisme (mengambil pemikiran Antonio Negri) adalah titik puncaknya. Kelompok Kiri baru ini masih belum mapan dalam Gerakan Anti-Globalisasi yang baru saja dikebiri. Umpan-umpan baru yang mereka tawarkan belum efektif, sementara umpan-umpan lama telah lama sirna.
Tugas kita adalah menghancurkan kelompok kiri global di mana pun ia memanifestasikan dirinya; menyabotase setiap momen pembentukannya secara metodis, baik dalam teori maupun praktik. Dengan demikian, keberhasilan kita di Genoa bukan terletak pada konfrontasi spektakuler dengan polisi, atau pada kerusakan yang menimpa organ Negara dan Kapital, melainkan pada fakta bahwa penyebaran praktik konfrontasi khas Black Bloc ke seluruh bagian demonstrasi telah menggagalkan kemenangan yang diharapkan oleh Tute Bianche[19] (kelompok pasifis berbaju putih). Meski begitu, kegagalan kita adalah tidak mengetahui cara memperluas posisi kita sedemikian rupa sehingga kemenangan di jalanan tersebut tidak sekadar menjadi momok yang terus-menerus diangkat oleh kaum pasifis sejak saat itu.
Penarikan diri kelompok Kiri global ke dalam forum-forum sosial—sebuah langkah mundur yang dipicu oleh kegagalan mereka untuk mengendalikan situasi di jalanan—kini harus menjadi sasaran serangan kita.
2. Tahun demi tahun, tekanan agar segala sesuatu berfungsi secara normal semakin meningkat. Seiring kemajuan sibernetika sosial, urgensi untuk mempertahankan situasi "normal" menjadi semakin mendesak. Sebagai konsekuensinya, krisis dan kegagalan fungsi pun melipat-gandakan dirinya secara logis. Dari sudut pandang empire, pemadaman listrik, badai, atau gerakan sosial dianggap sebagai hal yang sama: gangguan yang harus dikelola. Saat ini—akibat kelemahan kita—situasi interupsi tersebut justru menjadi momen bagi empire untuk muncul, mengukuhkan posisinya dalam materialitas dunia, dan menguji prosedur manajerial baru. Di sinilah ia menempelkan dirinya lebih kuat pada populasi yang diklaim sedang dibantunya. Empire selalu mengabdikan diri sebagai agen yang mengembalikan situasi ke kondisi normal. Tugas kita, sebaliknya, adalah membuat situasi eksepsi (pengecualian) tersebut dapat dijalani (livable). Kita hanya akan benar-benar berhasil melumpuhkan masyarakat korporat jika pelumpuhan tersebut diisi dengan hasrat-hasrat lain, melainkan bukan sekadar hasrat untuk kembali ke keadaan normal.
Apa yang terjadi selama pemogokan atau bencana alam pada dasarnya serupa: interupsi terhadap dependensi stabilitas kita yang terorganisir. Dalam setiap momen tersebut, keberadaan kebutuhan—yang merupakan esensi komunisme, sesuatu yang secara hakiki mengikat sekaligus memisahkan kita—menjadi telanjang. Rangkaian rasa malu yang biasanya menutupinya mulai terkoyak. Keterbukaan terhadap perjumpaan, eksperimen dengan relasi baru terhadap dunia, orang lain, dan diri sendiri, yang muncul dalam momen-momen ini sudah cukup untuk menyapu bersih keraguan akan kemungkinan serta urgensi komunisme. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan kita untuk mengorganisir diri secara mandiri (dengan segera mengorganisir diri berdasarkan kebutuhan kita) guna memperpanjang, memperluas, dan pada akhirnya menjadikan situasi eksepsi tersebut efektif dalam melawan teror yang menjadi fondasi bagi kekuasaan Imperial.
Hal ini sangat mencolok dalam gerakan sosial. Istilah "gerakan sosial" itu sendiri seolah menyiratkan bahwa yang terpenting adalah ke mana kita bergerak, seolah harus ada gerakan dari titik A ke titik B, alih-alih apa yang terjadi di sini dan saat ini. Hingga kini, terdapat prasangka dalam gerakan sosial untuk menghindari diskursus mengenai "merenggut waktu" (seizing the time), yang menjelaskan mengapa mereka tidak pernah bisa menyatu. Hal ini menciptakan tekstur sosialitas yang sangat rapuh dan mudah berubah, di mana setiap komitmen tampak dapat dibatalkan. Alurnya selalu sama: lonjakan cepat berkat sorotan media, diikuti oleh erosi bertahap karena penggabungan yang terburu-buru, dan akhirnya gerakan tersebut mengering, menyisakan segelintir orang yang mencari kontinuitas organisasi melalui serikat buruh atau asosiasi formal. Namun, kita tidak mencari kontinuitas semacam itu (sekadar memiliki kantor atau mesin fotokopi). Kontinuitas yang kita cari adalah yang memungkinkan kita, setelah berjuang berbulan-bulan, untuk tidak kembali bekerja, tidak mulai bekerja lagi seperti sebelumnya, dan terus merusak sistem. Ini hanya bisa dibangun selama gerakan berlangsung. Ini adalah persoalan membangun pembagian material secara langsung, pembangunan sebuah mesin perang revolusioner yang nyata, pembangunan Partai.
Kita harus, sebagaimana yang telah kita katakan berulang kali, mengorganisir diri berdasarkan kebutuhan kita—berupaya menjawab secara kolektif persoalan tentang makan, tidur, berpikir, mencintai, menciptakan bentuk-bentuk kehidupan (Form-of-life), serta mengoordinasikan kekuatan kita—dan membayangkan semua ini sebagai sebuah peluang dalam peperangan melawan Empire.
Hanya dengan cara inilah, dengan menghidupi gangguan-gangguan (disturbances) yang muncul dalam program Empire, kita akan mampu melawan liberalisme ekonomi. Sebab, liberalisme ekonomi hanyalah konsekuensi kaku dan penerapan logis dari Liberalisme Eksistensial yang telah diterima dan dipraktikkan di mana-mana—sebuah paham yang dipegang teguh oleh setiap orang seolah-olah itu adalah hak paling dasar, bahkan oleh mereka yang ingin menantang Neo-liberalisme sekalipun. Inilah cara Partai akan dibangun: sebagai jejak tempat-tempat layak huni yang ditinggalkan oleh setiap situasi pengecualian yang dihadapi Empire. Dengan begitu, kita akan menyadari bagaimana subjektivitas dan kolektif revolusioner menjadi tidak lagi rapuh, karena mereka menunjukkan substansi nyata dari diri yang mereka miliki.
Empire saat ini memanifestasikan dirinya melalui pembentukan dua monopoli: di satu sisi, monopoli ilmiah atas apa yang disebut sebagai deskripsi objektif tentang dunia serta teknik-teknik eksperimentasi di dalamnya; di sisi lain, monopoli keagamaan atas teknik-teknik diri—yakni metode-metode yang digunakan oleh subjektivitas untuk mengembangkan dirinya—sebuah monopoli yang berkaitan langsung dengan praktik psikoanalitik. Terjadi pemisahan ekstrem: sebuah hubungan dengan dunia yang dibersihkan dari segala hubungan dengan diri, dan sebuah hubungan diri yang dikosongkan dari segala keterlibatan dengan dunia. Dalam ruang yang terbelah akibat perseteruan antara sains dan agama inilah, Empire dapat bergerak dengan bebas tanpa rintangan.
Di negara-negara maju, di mana diskursus agama telah kehilangan taringnya, sains mengambil alih otoritas kebenaran untuk merumuskan eksistensi kolektivitas. Oleh karena itu, di sinilah kita harus memulai langkah pemisahan diri (secession).
Memantik suatu pemisahan diri dari ilmu pengetahuan bukan berarti menyerang mereka seolah-olah benteng yang harus ditaklukkan, melainkan mempertegas garis-garis retakan yang melintasi mereka. Setiap cabang ilmu pengetahuan sebenarnya adalah medan pertempuran yang dipenuhi strategi. Selama ini, komunitas ilmiah berhasil menampilkan citra sebagai keluarga besar yang bersatu demi menjalankan operasi politik utama: menyembunyikan perpecahan internal untuk mengerahkan pengaruh "teror" yang tak tertandingi—baik teror ke luar berupa pencabutan status “kebenaran” bagi diskursus non-ilmiah, maupun teror ke dalam berupa pembungkaman sopan namun keras terhadap setiap potensi bid’ah intelektual.
Setiap cabang Ilmu Pengetahuan menerapkan serangkaian hipotesis; hipotesis-hipotesis ini sejatinya adalah kesepakatan-kesepakatan mengenai apa yang menjadi konstruksi realitas. Saat ini, hal tersebut telah diakui secara luas. Namun, yang sering kali disangkal adalah signifikansi etis dari setiap keputusan tersebut—bagaimana keputusan itu melibatkan bentuk kehidupan tertentu atau cara tertentu dalam memandang dunia (misalnya, memandang evolusi makhluk hidup hanya sebatas permasalahan genetik, atau memandang kebahagiaan sekadar sebagai masalah serotonin).
Dilihat dari sudut pandang ini, "permainan bahasa" ilmiah nampaknya dibuat bukan untuk membangun komunikasi antar-penggunanya, melainkan untuk mengeksklusi mereka-mereka yang tidak dapat mencernanya. Peralatan kedap udara yang menyelimuti aktivitas ilmiah—laboratorium, simposium, dan sebagainya—membawa suatu pemisahan antara eksperimen dan dunia yang seharusnya mereka deskripsikan. Kita sudah belajar tentang tentang apa yang digemborkan sebagai “riset penting” biasanya selalu terhubung dengan kepentingan militer-komersial. Sejauh ini sains kontemporer selalu berpartisipasi dalam "pasifikasi Imperial" (penenangan/penundukan), hal itu dilakukan dengan menjalankan eksperimen dan menguji hipotesis yang kompatibel untuk pelestarian tatanan yang ada. Kemampuan kita untuk menghancurkan tatanan Imperial bergantung pada pembukaan ruang bagi eksperimen antagonistik (eksperimen yang berlawanan). Agar sains yang dibuktikan dengan eksperimen ini dapat menghasilkan dunia mereka sendiri, kita membutuhkan ruang-ruang terbuka, sebagaimana pluralitas dunia dibutuhkan agar antagonisme yang selama ini terpendam dalam praktik ilmiah dapat diekspresikan.
Sangat penting bagi para praktisi kedokteran mekanistik lama untuk bergabung dengan mereka yang mempraktikkan pengobatan tradisional—dengan mengesampingkan kebingungan ala new age. Kecintaan pada riset harus berhenti dicampuradukkan dengan pembelaan hukum atas integritas laboratorium. Praktik pertanian non-produktif harus berkembang melampaui sekadar label organik. Mereka yang menanggung kontradiksi tak tertahankan dalam pendidikan publik—antara pembelaan nilai kewarganegaraan dan lokakarya kewirausahaan yang tersebar—harus semakin banyak. Budaya tidak lagi boleh membanggakan kontribusi dari penemu tunggal.
Persekongkolan dimungkinkan di mana-mana.
Agar menjadi efektif, perspektif untuk memutus sirkuit kapitalis menuntut agar aksi-aksi pemisahan diri (secessions) terus berlipat ganda dan terkonsolidasi.
Suatu saat akan ada yang memberi tahu Kita: Anda terjebak dalam dilema yang akan menghukum Anda dengan berbagai cara: entah Anda berhasil menjadi ancaman bagi Empire, yang dalam hal ini Anda akan segera dilenyapkan; atau Anda gagal menjadi ancaman, dan Anda akan (lagi-lagi) menghancurkan diri Anda sendiri.
Satu-satunya yang tersisa hanyalah bertaruh pada keberadaan hasil akhir yang lain—sebuah jalan setapak yang sempit namun cukup lebar untuk kita lalui, cukup bagi semua orang yang mampu mendengar, untuk berjalan di atasnya dan tetap bertahan hidup.
"Ne travailez jamais"—“Gah Kerjo”
[1] penj- empire dalam konteks ini adalah jaringan kekuasaan global tanpa pusat yang menjaga hegemoni dengan cara mengelola kehidupan agar tetap berada dalam kontrol status quo. Empire didefinisikan oleh Michael Hardt dan Antonio Negri sebagai bentuk kedaulatan global baru yang “terdiri dari serangkaian entitas nasional dan supra-nasional yang bersatu di bawah satu logika kekuasaan. Selengkapnya baca: Empire (2000) oleh Antonio Negri dan Michael Hardt.
[2] Konteks dari penyebutan Seattle (1999), Praha (2000), dan Genoa (2001) dalam teks tersebut merujuk pada rangkaian protes besar yang dikenal sebagai Gerakan Anti-Globalisasi (atau sering disebut gerakan Alter-globalization).
[3] Konteks dari Manajemen bencana merujuk kepada cara sistem modern untuk menormalisasi malapetaka. Alih-alih menghentikan kehancuran dunia, sistem ini justru menggunakan kehancuran tersebut sebagai bahan bakar untuk memperketat kontrol dan memastikan tidak ada alternatif lain yang bisa tumbuh di tengah dunia.
[4] Kom- “keterputusan” bukan berarti tidak adanya kritik, melainkan justru sebaliknya: melimpahnya kritik yang telah terputus dari daya situasionalnya—dari kemampuan untuk mengubah relasi, membangun solidaritas, atau menciptakan kehidupan dengan bentuk yang lain.
[5] Kom- Gerakan kiri/progresif apapun itu sebutannya yang mayoritas hanya sibuk menghitung betapa buruknya kapitalisme tanpa pernah mengubah cara hidup mereka sendiri atau kelompok/kolektifnya secara radikal, sebenarnya mereka hanya sedang mengelola dan memoles bencana tersebut. Dengan demikiran sejatinya apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak revolusioner; mereka hanyalah seorang "manajer kemarahan" yang menikmati perasaan menjadi orang yang paling tahu betapa hancurnya dunia ini.
[6] Spektakel digagas oleh Guy Debord, merujuk kepada kekuasaan otoriter ekonomi pasar yang telah memperoleh kedaulatan yang tidak bertanggung jawab, serta keseluruhan teknik-teknik pemerintahan baru yang menyertai kekuasaan tersebut. Selengkapnya baca: The society of spectacle (1967) oleh Guy Debord.
[7] Biopower (atau biopouvoir dalam bahasa Prancis), istilah yang digagas oleh Michel Foucault, merujuk pada berbagai cara yang digunakan oleh negara modern untuk mengendalikan penduduknya melalui strategi dan mekanisme pengelolaan proses kehidupan manusia di bawah rezim otoritas pengetahuan, kekuasaan, serta proses subjektivasi. Dalam karya Foucault, istilah ini dipakai untuk menyebut praktik kesehatan masyarakat, aturan soal keturunan, hingga pengaturan risiko. Hal ini juga mencakup berbagai aturan lain yang sering kali tidak berhubungan langsung dengan kesehatan fisik manusia. Selengkapnya baca: The History of Sexuality (1967) oleh Michael Foucault.
[8] Penj- Perang Sipil Global merujuk pada keadaan konflik omnipresen antara “bentuk-bentuk kehidupan” dan ‘Empire’ (masyarakat kapitalis modern yang bersifat biopolitik). Perang Sipil Global bukan sekadar peristiwa kekerasan, melainkan kondisi permanen dari keberadaan modern, di mana negara berusaha menekan “kebebasan berekspresi” kehidupan.
[9] Black Panther Party merupakan organisasi revolusioner di Amerika yang dibentuk pada tahun 1966. Black Panther punya denyut ideologi yang mengusung nasionalisme kulit hitam, sosialisme, anti-polisi, dan anti-fasis.
[10] Gerakan Autonomen di Jerman merujuk pada gerakan yang sebagian besar bersifat desentralisasi, berhaluan ultra-kiri, dan sering kali militan, yang muncul pada tahun 1980-an, dengan fokus pada anti-kapitalisme, anti-fasisme, dan pendudukan bangunan. Gerakan ini digadang-gadang merupakan gerakan yang menginspirasi taktik black bloc dalam gerakan kontemporer.
[11] Neo-Luddism atau Luddism baru adalah sebuah filosofi yang menentang banyak bentuk teknologi modern. Nama Ludism tersinspirasi dari gerakan Luddite di Inggris yang menentang pengembangan teknologi industri awal pada abad ke-19.
[12] Merujuk pada kelompok Marxis Italia yang mengidentikkan gerakan mereka sebagai “operaismo” atau “buruh-isme”, di mana kekuatan revolusioner bertumpu pada beragam inisiatif buruh untuk melakukan swaaktivitas yang bebas dari intervensi serikat buruh atau pihak luar lainnya. Swa-aktivitas ini beragam; mulai dari pencurian, perlambatan kerja, sabotase, mogok liar (wildcat strikes), hingga pendudukan pabrik.
[13] Penj- Merujuk kepada kelompok anarkis militan di jerman barat yang aktif dari Januari 1972 hingga 1980. Kelompok ini penuh dengan kesenangan karena eksperimentasinya melibatkan komponen-komponen unik yang digunakan menjelang insureksi seperti perakitan bom dengan bahan ramuan puding yogurt.
[14] Merujuk pada media kiri-sentris dibentuk sejak tahun 1944. Pada tahun 2003 Le Monde pernah menerbitkan artikel berjudul L'Amérique va gagner la quatrième guerre mondiale (Amerika akan memenangkan Perang Dunia IV) yang ditulis oleh James Woolsey, mantan direktur dari CIA.
[15] Merujuk pada teori John Lock yang menegaskan bahwa terdapat kewajiban moral dan politik yang didasarkan pada kesepakatan timbal balik dan implisit di antara individu untuk membentuk masyarakat dan mematuhi pemerintah sebagai imbalan atas perlindungan hak dan ketertiban sosial.
[16] Merujuk pada demonstrasi besar-besaran di Genoa pada tahun 2001 akibat dari adanya pertemuan G8 ke-27. Pada demonstrasi tersebut, Carlo Giuliani, seorang pejuang Italia tewas dibunuh Carabineri (Polisi demonstrasi Italia).
[17] Merujuk kepada bangunan umum yang terletak di Hauts-deSeine, Perancis dan dibangun pada Tahun 1939. Bangunan ini dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan penduduk kelas pekerja lokal dengan membentuk pasar, majelis, dan acara budaya. Bangunan ini juga serong diperuntukan untuk perjamuan politik dan aktivitas-aktivitas komunal lainnya.
[18] Partai dalam konteks Tiqqun merujuk bukan sebagai partai politik dalam pengertian tradisional (partai politik secara umum), melainkan Partai Imajiner (le Parti Imaginaire). Hal ini digambarkan sebagai "partai yang cenderung menjadi nyata, tak henti-hentinya," bertindak sebagai kekuatan yang tidak terorganisir, menyebar, dan terus menegasikan masyarakat modern yang digerakkan oleh komoditas.
[19] Merujuk pada gerakan pasifis italia yang aktif pada tahun 1994 hingga 2001 yang sering menggunakan pakaian putih dalam demonstrasi. Baju terusan putih adalah simbol tenaga kerja muda, yang sebagian besar bekerja dalam kondisi tidak tetap, dengan kontrak kerja jangka pendek, tanpa hak atau jaminan, yang mencakup kontrak kerja tetap, liburan berbayar, cuti sakit dan cuti melahirkan, serta pembayaran jaminan sosial.