Pergerakan-Pergerakan Sastrawi Anarkis
Penggambaran-Penggambaran Anarkisme dan Kaum Anarkis
Anarkisme berkontribusi terhadap sastra dalam bentuk konten-konten konseptual, tematis, atapun topikal—sebagaimana juga sastra berkontribusi pada anarkisme sebagai satu filosofi dan praktik politis. Tulisan ini membahas sastra Romantik sampai kontemporer dengan penekanan pada tradisi-tradisi bahasa-Inggris di Eropa dan Amerika Utara sejak tahun 1790. Tulisan ini membahas para pengarang anarkis, seperti William Godwin sampai George Woodcock, sebagaimana juga para pengarang yang mengintegrasikan pemikiran anarkis ke dalam karya sastra, seperti Percy Shelley, Oscar Wilde, James Joyce, John Cowper Powys, Henry Miller, Herbert Read, Robert Duncan, Jackson Mac Low, dan Kathy Acker. Pergerakan-pergerakan sastra anarkis juga dibahas terpisah dari para anggota individu, seperti Apokaliptik Baru dan Renaisans San Fransisco, sebagaimana juga tradisi-tradisi sastra internasional di luar tradisi Anglofon. Tulisan ini juga membahas para pengarang yang penggambaran-penggambaran mereka tentang anarkisme membentuk kesadaran populer, terutama Joseph Conrad dan G.K. Chesterton. Tulisan ini juga membahas tulisan bergenre populer, termasuk karya-karya Ursula K. Le Guin, Michael Moorcock, Starhawk, dan Alan Moore. Didiskusikan bagaimana para pengarang, pergerakan, dan karya-karya ini semua menyimpang dari tradisi Marxis dan sastra liberal, termasuk konflik-konflik di dalam kritik sastra dan teori sastra. Di samping relasi historis antara anarkisme dan sastra, tulisan ini juga menimbang bagaimana relasi antara inovasi-inovasi tematik, formal, struktural, dan stilistika dalam sastra dengan anarkisme.
*
Anarkisme berkontribusi luas terhadap karya-karya sastra berupa konten-konten konseptual, tematik, dan topikal. Demikian juga sosok-sosok sastrawan memberikan kontribusi-kontribusi besar terhadap anarkisme sebagai filosofi dan praktik politis. Sebagai contoh, anarkisme penting bagi karyakarya semacam Seize the Day Thomas Pynchon dan sosok-sosok sastrawan, terutama semacam Herbert Read, memberi kontribusi berarti terhadap filosofi anarkis. Tulisan ini membahas kaitan antara sastra Romantik sampai modernis dan kontemporer dengan anarkisme dengan penekanan pada tradisi-tradisi sastra berbahasa Inggris di Eropa dan Amerika Utara sejak tahun 1790-an. Tulisan ini juga membahas para penulis sastra yang berkontribusi terhadap pemikiran anarkis, dari mulai misalnya William Godwin sampai George Woodcock, sebagaimana juga para pengarang yang mengintegrasikan pemikiran anarkis ke dalam karya-karya sastra mereka, seperti Percy Bysshe Shelley, Oscar Wilde, James Joyce, John Cowper Powys, Henry Miller, Robert Duncan, Jackson Mac Low, Kathy Acker, dan Phyllis Webb. Pergerakan-pergerakan sastra anarkis juga dibahas terpisah dari para anggota individu seperti Apokaliptik Baru (The New Apocalypse) dan Renaisans San Francisco (The San Francisco Renaissance), sebagaimana juga karya-karya terpilih dari tradisi-tradisi sastra internasional dan di luar tradisi Anglofon, seperti novel-novel Albert Cossery dan Arundhati Roy.
Tulisan ini juga membahas para pengarang yang penggambaran tentang atau keterpautan topikalnya dengan anarkisme membantu membentuk kesadaran populer atau pelukisan-pelukisan arus utama tentang anarkisme. Di samping menekankan baik pada puisi ataupun prosa sastrawi, tulisan juga membahas sastra populer dan karangan genre[1] yang berpaut dengan anarkisme, termasuk karya-karya Ursula K. Le Guin, Michael Moorcock, Starhawk, dan Alan Moore. Perhatian khusus juga diberikan pada cara dan momen-momen para pengarang, pergerakan dan karya-karya ini menyimpang dari tradisi sastra Marxis yang lain dan tradisi sastra liberal, termasuk konflik-konflik setimbang dalam kritik sastra dan teori sastra sebagai respons terha dap karya-karya terkait. Di samping membahas relasi historis antara anarkisme dan sastra, tulisan juga menimbang bagaimana inovasi-inovasi tematik, formal, struktural, dan stilistika dalam sastra memiliki keterpautan dengan paradigma anarkis dan anti-otoritarian, baik secara tersurat maupun tersirat. Pertimbangan penutup diarahkan kepada para pengarang yang kepentingan-kepentingan politisnya dengan jelas berpaling dari anarkisme tetapi karya-karya mereka lebih utuh dipahami melalui rujukan pada konsep atau sejarah-sejarah anarkis.
Ikatan-ikatan antara sastra dan anarkisme mendalam dan sudah terjalin lama. Hal ini berlaku sama baik dalam tradisi sastra Inggris maupun negara lain. Sebelum Pierre-Joseph Proudhon menyerukan kata “anarkisme”, filosofi anti-otoritarian William Godwin diekspresikan dalam risalah-risalahnya seperti Enquiry Concerning Political Justice and its Influence on Morals and Happiness[2] dan novelnya Things as They Are; or, The Adventures of Caleb Williams[3]. Menantunya Percy Bysshe Shelley mengikuti rumusan serupa tentang gagasan-gagasan anti-otoritarian baik dalam prosa maupun puisi,[4] terutama The Masque of Anarchy[5] dan The Philosophical View of Reform,[6] keduanya merupakan tanggapan terhadap Pembantaian Peterloo. Meski demikian, sementara tautan-tautan historis ini mudah disodorkan, mereka sangat mungkin menyederhanakan persoalan. Perenungan lebih cermat tentang relasi-relasi antara sastra dengan anarkisme bukan sekadar contoh-contoh ketika para anarkis menyodorkan ekspresi sastrawi dan atau para penulis tertarik terhadap anarkisme melainkan ketika keduanya sama-sama berpengaruh pada tataran praksis, bentuk, dan stile. Pada contoh-contoh di atas, relasi yang lebih Istimewa bukan semata bahwa Godwin dan Shelley memiliki kepentingan-kepentingan anti-otoritarian yang diekspresikan secara sastrawi melainkan bahwa watak dan bentuk ekspresi sastra yang mereka pilih disesuaikan atau dibentuk dalam kaitannya dengan praksis dan perspektif-perspektif proto-anarkis mereka. Hal ini khususnya terjadi pada kodrat subjektivitas dalam bentuk Bildungsroman,[7] yang penting bagi novel Caleb Williams Godwin dan bagi gagasan-gagasan subjektivitas secara umum dalam ranah Romantik, sebagaimana juga anasir pedagogis terangterangan dalam karya-karya kedua penulis tersebut. Keterikatan bentuk dan inovasi sastra dengan pengembangan beragam bentuk pemikiran anarkis inilah yang ditilik oleh tulisan ini.
Secara historis, kebanyakan studi tentang anarkisme menyematkan masa lalu yang luas untuknya dengan menunjuk pada filosofi Taois, keimanan kelompok Levellers dan Diggers, dan radikalisme kaum Romantik sebelum pengucapan pertama anarkisme sebagai filosofi politis saja mengikuti Proudhon.[8] Garis pemisah ini penting karena seruan-seruan “anarkis” sebagai tokoh sastra hanya dimungkinkan setelah pengucapan koheren anarkisme sebagai satu filosofi dan pergerakan. Dalam hal ini, ekspresi-ekspresi sastrawi anarkisme tidak harus menyebutkan pergerakan sebagaimana tidak harus juga menamai konsep sementara pada saat yang sama penggambaran-penggambaran sastrawi anarkisme mungkin juga sangat bertentangan dengan politik pembebasan.
Akar-akar Pencerahan filosofi anarkis muncul dalam karya-karya sastra Godwin, Shelley, dan Mary Wollstonecraft pada tataran beragam. Ketiganya juga menulis karya-karya kritik tentang politik pembebasan, dan pedagogi dasar dalam novel-pertumbuhan terkait penggunaan rasio sama berpengaruhnya baik dalam karya sastrawi ataupun filosofis mereka. Maria: or, The Wrongs of Woman Wollstonecraft,[9]dalam hal ini, tidak berbeda dari A Vindication of the Rights of Woman.[10] Para penulis terkemudian semakin mengurusi bentuk dan stile dibandingkan tema atau topik untuk mengekspresikan anarkisme sebagai praksis sastrawi, seperti arus kesadaran Joyce, sajak proyektif[11] Duncan, atau sikap Read tentang bentuk terbuka.
Sementara para pengarang sebelum akhir abad kesembilan belas sering kali ditautkan dengan anarkisme, seperti Godwin dan Shelley sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, sukar untuk mengidentifikasi beberapa penulis utama berbahasa Inggris sebelum tahun 1890-an secara objektif sebagai anarkis, bahkan ketika ada alasan bagus untuk menghubungkan estetika atau politik mereka dengan bentuk-bentuk prototipe anarkisme. Woodcock[12] mengidentifikasi karya anarkis Peter Kropotkin sebagai pengaruh utama di balik esai Oscar Wilde, The Soul of Man under Socialism dan menautkannya lebih lanjut pada novel Wilde The Picture of Dorian Gray.[13] Sementara Wilde sering kali dibaca dalam hubungannya dengan pergerakan Simbolis, ekspresinya tentang peranan sosial seni dan estetikismenya juga mudah dipahami melalui ikatan-ikatannya dengan anarkisme, tetapi dengan konsekuensi memberikan satu interpretasi berbeda. Sebagai contoh, frasa penting “semua seni itu sangat tidak berguna”[14] yang menutup Prakata Wilde untuk revisi novelnya The Picture of Dorian Gray tahun 1891 menawarkan pembacaan-pembacaan berbeda. Frasa itu mungkin diperlakukan apa adanya dan sebagai indikasi paradigma Seni untuk Seni, berarti bahwa seni melayani tujuan-tujuannya sendiri secara estetik alih-alih satu fungsi sosial. Meskipun demikian, pengaruh Kropotkin terhadap esai Wilde bertepatan dengan versi pertama novel Wilde tahun 1890, dan Prakata merupakan tambahan terkemudian yang ditulis untuk menanggapi kritik yang dia terima—Prakata juga dipublikasikan mendahului versi standar revisi novel tersebut tahun 1891, yang sama-sama memotong dan memperluas bagian-bagian kontroversial novel tersebut. Dalam konteks interpretatif kedua ini, ketidakbergunaan seni menandai resistensinya terhadap nilai guna dan komersial. Seni tidak membutuhkan “nilai guna” untuk menjadi seni, atau sebagaimana dikatakan Carolyn Lesjak,[15] “gagasan kenikmatan dalam teks-teks [Wilde] sesuai dengan gagasan-gagasan nilai guna dengan nilai tukar, logika komodifikasi dan komoditas, yang utopis dan yang memang mewujud dalam kehidupan sehari-hari”.[16] Dalam hal ini, karya seni itu sendiri, sebagaimana juga seniman, “sangat tak berguna” bukan karena mereka tidak punya tujuan atau pengaruh melainkan karena mereka tidak melayani tujuan-tujuan lain atau produksi kapitalis. Seni mungkin mengubah para individu, tetapi bagi Wilde seni menolak “nilai” sebagai satu komoditas. Pergeseran penekanan dari satu fungsi tunggal seni pada “Keragaman pendapat” yang Wilde istimewakan, dan keragaman menyiratkan produksi makna yang dilokalkan pada pembaca individual terpisah dari para pembaca lain atau bahkan sang seniman. The Soul of Man under Socialism mengadaptasi ungkapan Kropotkin dan Proudhon, dan Kropotkin mendeskripsikan esai tersebut pada Robert Ross[17] (kawan dekat Wilde) sebagai “artikel yang O. Wilde tulis tentang anarkisme itu”.[18] Woodcock[19] juga menulis tentang esai Wilde bahwa esai tersebut merupakan “kontribusi paling ambisius bagi anarkisme sastrawi sepanjang tahun 1890-an”.[20] Karenanya, melihat satire Wilde yang bergaya kelas atas dan pengistimewaan dia terhadap tanggapan-tanggapan individual atas karya seni sama halnya dengan menemukan satu ekspresi etos anarkis yang bekerja pada tataran stile dan praksis teks: satu kritik terhadap bentuk-bentuk aturan berdasarkan pada nilai inheren seorang individu.
Ruth Kinna[21] dan David Goodway[22] sama-sama mengidentifikasi pengaruh signifikan anarkis dalam karya sastra dan kritik William Morris dari periode yang sama dengan Wilde. Mereka juga melakukan itu melalui relasi Morris dengan anarkis Kropotkin. Dalam sosialisme anti-negara Morris, Kinna menemukan satu paradigma yang jauh lebih selaras dengan pemikiran anarkis kontemporer saat ini ketimbang dengan analisis Marxis, khususnya terkait pengembangan individu sebagai satu keharusan relasi-relasi sosial positif. Sebagaimana dinyatakan oleh Goodway, penolakan terhadap anarkisme dan Kropotkin yang Morris lakukan berulang kali dan diakui luas, terlepas dari tetap bersahabatnya dengan Kropotkin secara personal, mencerminkan keyakinan Morris akan pemahaman egois terhadap anarkisme (kemungkinan besar kesalahpahaman personalnya atas teori gotong royong Kropotkin) akan membatasi pertumbuhan alami individu alih-alih membinanya. Karenanya, bagi Morris, bentuk-bentuk subjektivitas pada inti sosialismenya jauh lebih anarkis dan mempertimbangkan gotong royong daripada Marxis dalam pemahaman kita tentang kumpulan teori ini pada masa kini. Meskipun demikian, dalam sastra Inggris, perkembangan utama anarkis atau para pengarang terinspirasi anarkis bermula pada abad kedua puluh.
Ekspresi-ekspresi awal modernisme sastrawi di Inggris juga bersentuhan dengan pemikiran anarkis.[23] David Kadlec[24] dan Allan Antliff[25] merinci bagaimana karya-karya vorticist awal Ezra Pound terlibat dengan anarkisme dan relasinya dengan anarkis Gaudier-Brzeska[26] sebagaimana juga koneksi-koneksinya dengan beragam anarkis. Sementara Pound kemudian segera beralih pada keyakinan-keyakinan fasis progresif yang mengantarkan pada dukungan dia terhadap Mussolini dan penahanan di Italia pada akhir Perang Dunia Kedua, anarkisme tetap penting untuk membaca karir awalnya. Joyce membaca secara luas materi-materi anarkis pada saat yang sama, dan galur-galur anti-otoritas tampak dalam fiksinya. Kadlec[27] menekankan bagaimana hal ini menghubungkan konten seksual dalam tulisan-tulisannya dengan teknik arus kesadaran, yang mana keduanya sama dalamnya menyifati novel-novel dia A Portrait of the Artist as a Young Man[28] dan Ulysses.[29] Jean-Michel Rabaté[30] juga menelaah secara mendalam ikatan-ikatan Joyce pada yang berbeda melalui filosofi egoisme terkait. Berbeda dari realisme psikologis, fungsi lain arus kesadaran adalah untuk mengistimewakan individu dalam masyarakat dan untuk menarik perhatian pada kemungkinan-kemungkinan transformatif kehidupan batin, sehingga mempolitisasi belokan ke dalam Modernis dengan cara berbeda dari yang digunakan oleh kaum Fabian dan modernis feminis seperti Virginia Woolf atau Dorothy Richardson. Sebagaimana dinyatakan oleh Kadlec, pada akhir 1914, Joyce “mulai memikirkan teknik naratif sebagai satu alat untuk melawan kerusakan moralitas borjuis”[31] dan melalui Dora Marsden mengakses egoisme Max Stirner, yang mana keduanya menautkan pendekatannya pada subjek yang berkehendak, seksualitas, dan kecabulan, secara khusus tuntutan-tuntutan hasrat sebagai basis bagi rasa otonomnya subjek-tivitas.[32] Dalam hal ini, diri atau “Aku” arus kesadaran Joyce sangat berbeda, “bukan sebagai subjek bernama picik untuk ‘berpikir’ melainkan sebagai arus kesatuan ‘vital’ yang ke dalamnya pemikiran-pemikiran ditarik”[33]
Penulis Wales, Powys, menganjurkan sosialisme dan, setelah berjumpa Emma Goldman, secara berangsur beralih menuju pandangan-pandangan anarkis, paling konkret pada tahun 1937 melalui korespondensinya dengan Goldman tentang Perang Saudara Spanyol. Sangat lamanya masa Powys produktif menulis berarti bahwa dia merupakan bagian dari generasi yang mendahului kaum modernis tinggi tetapi kebanyakan menulis karya-karya modernisnya setelah berkembangnya modernis tinggi. Melalui studi arsip yang luas, Goodway[34] merinci perkembangan anarkisme Powys yang pada akhirnya diekspresikan dalam dukungannya terhadap anarkisme dalam novel dia yang paling dikenal luas, A Glastonbury Romance.[35] Anarkisme Powys paling pekat dalam novelnya terkemudian, Porius: A Romance of the Dark Ages[36] yang di dalamnya konflik antara bentuk-bentuk pemerintahan otoritarian yang melampaui batas dengan pemeliharaan-diri individu menggerakkan alur dan diartikulasikan melalui karakter Myrddin Wyllt. Teknik arus kesadaran yang umum pada kebanyakan sastra modernis dan sering kali selaras dengan realisme psikologis, karenanya, cocok dengan pembacaan berbeda terhadap Powys yang meluas kembali pada fungsinya dalam karya-karya Joyce. Powys mengerjakan secara luas topik tersebut dalam karya-karya kritik tentang khususnya Joyce dan Richardson, dan dia melakukan korespondensi dalam waktu yang lama dengan Richardson.
Koresponden Powys berikutnya, Miller, sudah merupakan seorang anarkis pada saat publikasi A Glastonebury Romance Powys. Setelah publikasi novelnya sendiri, Tropic of Cancer,[37] Miller memulai korespondensi dengan penyair sekaligus penyunting Inggris, Read, berfokus pada penolakan politik komunis Surealisme mengikuti Pameran Surealis Internasional London (London International Surrealist Exhibition).[38] Miller menghindari identifikasi-diri secara terbuka sebagai seorang anarkis, tetapi dia sering terlibat dalam dekripsi-deskripsi tentang pandangan-pandangan “anarkis” yang sengaja dibuat berbelit-belit.[39] Anarkisme diekspresikan dalam stile prosanya dan mode fiksi seolah-olah autobiografis yang, sebagaimana arus kesadaran (yang juga dia gunakan secara luas), menggeser perhatian pada individu dan spontanitas yang dijaga dalam ketegangan dengan bentuk-bentuk tatanan yang dipaksakan atau konstruksi otoritas yang artifisial. Meskipun Miller menolak Joyce sebagai satu pemberi pengaruh, dia memasukkan pasase dari “Karya yang Sedang Digarap” Joyce (Finnegans Wake) ke dalam Tropic of Cancer-nya dan menggunakan arus kesadaran dengan satu tekanan senada terhadap “vitalitas” rasa hasrat Joyce yang mendorong arus tempat pemikiran-pemikiran ditarik ke dalamnya alih-alih pemaksaan otoriter dari pikiran penghasil-ego stabil. Ini membawa Miller pada satu bentuk pascaSurealisme yang memiliki pandangan anarkis dengan otomatisme yang direvisi secara sadar dan pengaruh yang tersebar luas. Amy Nimr dan Lawrence Durrell, yang sama-sama terhubung pada kelompok Art et Liberté di Mesir, berada dalam jaringan Miller di sekitar Villa Seurat di Paris, tempat dari mana dia memulai korespondensi dengan Read yang kemudian mengumumkan kepindahannya memeluk anarkisme.[40] Miller diasosiasikan dengan seniman Jean Varda di Paris, dan Varda berpindah ke Big Sur di California, tempat Miller kembali bergabung dengannya setelah Perang Dunia Kedua. Dari Big Sur Miller kembali berhubungan dengan pergerakan Renaisans San Francisco dan Beats, berpengaruh terhadap kedua kelompok tersebut. Dia juga membantu terlaksananya publikasi terjemahan novel Albert Cossery, Men God Forgot[41] melalui Circle Editions anarkis yang dikelola oleh George Leite.
Read memeluk anarkisme secara terang-terangan pada musim gugur tahun 1937 setelah mendukung dan berpidato pada Pameran Surealis Internasional London tahun 1936 dan memuji sosialisme.[42] Sementara puisi dan prosa Read kurang terang-terangan anarkis dalam bentuk maupun gaya, tulisannya tentang sejarah seni menekankan relasi antara bentuk terbuka dan pemikiran anarkis.[43] Sementara puisinya sendiri sering kali tetap setia pada bentuk-bentuk tradisional, dia menghasilkan tema dan topik anarkis, khususnya setelah Perang Saudara Spanyol. Posisi Read dalam dunia seni Inggris memungkinkan dia menyebarkan pemahaman-pemahaman anarkis tentang bentuk dan gaya pada audiens yang jauh lebih luas. Demikian juga, posisinya sebagai editor di penerbit Routledge & Kegan Paul memastikan dia memberikan dukungan dan berbicara atas nama penulis anarkis dari generasi yang lebih muda, khususnya mereka yang terhubung dengan pergerakan Apokaliptik Baru, seperti Henry Treece. Treece memublikasikan beberapa esai yang mengidentifikasi bahwa energi intelektual yang mendorong New Apocalypse memiliki kodrat anarkis. Puisinya, yang kini diabaikan, dipublikasikan secara luas dan dipuji oleh para kritikus terkemuka pada zamannya, termasuk T. S. Eliot, yang dengannya dia berkorespondensi (Eliot memublikasikan puisi Treece dan drama sajak melalui penerbit Faber & Faber). Ekspresi anarkisme dalam puisi Treece kurang tampak pada inovasi formal dibandingkan pokok, sering kali menunjuk pada dunia ekologis di seberang pusat-pusat urban dan pada satu gudang ketaksadaran mitos yang bisa diakses oleh individu, dan karenanya satu penekanan pada tema-tema Celtic. Setelah tahun-tahun perang dan wajib militer, Treece beralih pada fiksi genre dan karir mengajar, meskipun buku-buku anak-anaknya, novel-novel fantasinya, dan fiksi-fiksi historisnya sering kali anti-negara dan cenderung pada lanskap-lanskap pedesaan dan relasi-relasi intim spontan di kalangan individu di luar struktur yang diformalkan atau berorientasi negara.
Di Amerika, puitika anarkis memiliki kecenderungan lebih kuat menuju eksperimentasi formal. Penyair Duncan mengidentifikasi anarkisme Miller sejak dini dalam jurnalnya Experimental Review dari Woodstock, New York, dan berusaha untuk memublikasikan Miller dan Durrell selama tahun-tahun perang. Anarkisme Duncan tersurat dan diekspresikan secara stilistika dalam rasa sajak proyektif dan komposisinya berdasarkan bidang sebagaimana juga dalam simpatinya terhadap relasi personal dalam lingkaran para pengarang,[44] sebagaimana terwujud dalam koleksi-koleksi Ground Work-nya.[45] Ketika dia kembali ke San Francisco, dia berinteraksi secara luas dengan para penyair anarkis lain Kenneth Rexroth dan Kenneth Patchen serta membentuk satu lingkaran pembaca anarkis yang juga terhubung pada kaum anarkis di Big Sur. Ketiga penyair itu bersikukuh tentang pentingnya politik personal dan kehidupan sehari-hari, atau sebagaimana diterangkan oleh Andrew Cornell,[46] “Karena orang-orang semakin teralienasi dari diri mereka sendiri dalam masyarakat industri [...] maka mereka kehilangan kemampuan untuk terhubung dengan dan peduli terhadap orang-orang lain”.[47] Rexroth dan Patchen juga dipublikasikan dan dipromosikan oleh Treece melalui Apokaliptik Baru di Inggris, khususnya karya-karya politis mereka The Phoenix and the Tortoise dan berturut-turut kutipan-kutipan serta analisis dalam The Journal of Albion Moonlight. Mereka bertiga juga menghadapi konflik dengan kolega-kolega Marxis, Duncan paling terkenal hancur persahabatannya dengan penyair Denise Levertov.[48]
Para penyair Amerika selanjutnya yang menekankan praktik-praktik anarkis termasuk Jackson Mac Low, yang berjumpa Duncan di New York pada awal tahun 1940-an, tetapi pendekatan-pendekatan Mac Low selanjutnya menuju anarkisme terhubung melalui John Cage dengan kesempatan dan ketidakpastian sebagai batasan-batasan dalam ego. Seperti pendekatan Joyce dan Miller pada arus kesadaran yang mengatur hasrat sebagai basis bagi pemikiran yang secara palsu diasosiasikan dengan satu gagasan tentang ego yang distabilkan (atau bahkan otoritarian), Mac Low menggunakan kesempatan dan metode-metode prosedural “diastik”[49] dalam The Stein Poems[50] terkemudian dalam karirnya.[51] Sebagaimana inspirasi Miller bagi para pasca-Surealis dari Apokaliptik Baru, Mac Low mempertahankan kesadaran yang membentuk kesempatan dan materi-materi ketaksadaran sebagai satu cara untuk mempertahankan cita rasa dan otonomi individu. Acker menggunakan strategi-strategi prosedural senada untuk memuat otoritas ego melalui cacahan dan pastiche dengan pemosisian kritis terinspirasi anarkis senada tentang subjek dan seksualitas.[52] Acker juga memandang tulisannya sebagai kerja melawan kekuatan-kekuatan otoritarian kapitalisme dan patriarki, yang di pusatnya terdapat satu pemahaman tentang seni sebagai praksis dengan tindakan berarti dalam dunia yang tumbuh dari diskusi terbuka di sini tentang pengertian utilitas dan ketidakbergunaan seni-nya Wilde. Meski berbeda, pemanfaatannya atas praksis anarkis sebagai resistensi terhadap patriarki juga terhubung pada kekukuhan Duncan tentang fungsi mirip-mantra pada sebuah sajak dan gangguannya atas heteronormativitas. Penyair Kanada Webb juga menanamkan ideal-ideal anarkis dalam sikap inovasi-inovasi formal dan stilistikanya, dan karenanya satu praksis tulisan anarkis.[53] Novelis Thomas Pynchon juga menggunakan anarkisme untuk isu-isu tematis yang mendorong naratif dan alurnya sebagaimana juga untuk eksperimentasi bentuk novel. Ini tampak dalam “keajaiban anarkis” The Crying of Lot 49[54] dan mungkin paling meresap[55] dalam Gravitys Rainbow[56] dan Against the Day,[57] yang disebut terakhir ini menunjukkan pengetahuan dia yang mendalam tentang sejarah anarkis dan sindikalis. Novelis India, Roy, juga menggabungkan beberapa sifat formal dan stilistik yang dibahas dalam hubungannya dengan anarkisme untuk novelnya The God of Small Things.[58]
Beberapa pengarang di atas juga terlibat dengan pergerakan-pergerakan sastra anarkis atau anti-otoritarian. Sementara impuls anti-otoritarian tersebar luas dalam Romantisisme, tidaklah benar menyatukan anarkisme dengan Romantisisme atau menyifati Romantisisme sebagai satu pergerakan yang memuat anarkisme. Meski demikian, pergerakan Apokaliptik Baru dan Romantisisme Baru dalam sastra Inggris tahun 1930-an sampai 1950-an memiliki perhatian mendalam yang sama dengan anarkisme dan dalam hal estetika anarkis dan kritik-kritik sosial secara tersurat.[59] Teknik-teknik pasca-Surealis dipisahkan dari Marxisme oleh Apokaliptik Baru yang tumbuh dari kepentingan-kepentingan kelompok dalam kelompok Villa Seurat di sekitar Miller di Paris pada tahun 1930-an. Pergerakan Apokaliptik Baru ini menekankan filosofi personalis yang menaruh perhatian signifikan terhadap individu dan memandang subjektivitas sebagai lebih dari satu manifestasi mode materiil produksi. Hal ini menempatkannya dalam posisi berkonflik dengan karya sosialis pada masa itu terkait sastra, seperti asosiasi-asosiasi kelompok Auden dengan Christopher Caudwell.[60] Pergerakan Apokaliptik Baru produktif setelah kekalahan kaum Anarkis dalam Perang Saudara Spanyol dan enggan pada organisasi atau agitasi formal, seperti Freedom Defense Committeee yang mendukung penerbit anarkis Freedom Press, dan Apokaliptik Baru memandang dirinya sendiri sebagai terutama satu pergerakan sastra. Ia diorganisasi ulang setelah Perang Dunia Kedua sebagai Romantisisme Baru dengan banyak motivasi konseptual yang sama, termasuk penekanan personalis yang sama. Ia tumbuh semakin terikat pada Read sebagai seorang mentor anarkis, dan Read juga dimotivasi oleh korespondensinya dengan Miller selama pertengahan tahun 1930-an dan peralihan pentingnya dari penyokong sosialis menjadi anarkis. Pada titik ini, Romantisisme Baru terhubung secara lebih luas dengan para penulis fiksi saat para penyokong utamanya, Treece, semakin beralih pada fiksi genre, termasuk fantasi, dan Mervyn Peake mengidentifikasi buku Gormenghast-nya yang pertama, Titus Groan,[61] sebagai bagian dari pergerakan Romantik Baru[62] ini saat menulis jilid kedua, Gormenghast.[63]
Miller kembali ke Amerika Serikat selama pecahnya Perang Dunia Kedua, akhirnya menetap di West Coast di California. Di situ, dia juga kemudian terlibat dengan pergerakan-pergerakan sastra di Amerika yang memiliki komponen penting anarkis, termasuk Renaisans San Francisco dan pada tataran yang lebih kurang dengan kelompok Beats. Rexroth, Duncan, dan Patchen adalah suara-suara anarkis paling terkenal dalam Renaisans San Francisco, tetapi sosok-sosok berafiliasi seperti Leite berpindah antara San Francisco dan kelompok anarkis di Big Sur. Antologi Rexroth, The New British Poets[64] memuat dan memberi penekanan pada para penyair Apokaliptik Baru, dan berkala Leite, Circle, memublikasikan baik karya Rexroth maupun Duncan. Penulis Kanada Elizabet Smart berpindah antara kelompok-kelompok senada dengan penyair Inggris George Barker, yang juga berafiliasi secara longgar dengan kelompok Apokaliptik Baru di Inggris. Leite juga memublikasikan karya novelis anarkis Mesir Cossery dalam Circle dan terjemahan The Men God Forgot. Koneksi-koneksi antara kelompok-kelompok yang berbeda ini penting, dan aktivitas Cossery dalam kelompok the Egyptian Art et Liberté juga terhubung kembali pada Miller: Durrell merupakan bagian dari Kelompok Villa Seuratnya Miller pada tahun 1930-an, dan Amy Smart (terlahir Nimr) telah tinggal di Villa Seurat dan berjumpa Miller sebelum kembali ke Mesir di mana dia merupakan bagian dari Art et Liberté dan menjadi tuan rumah pameran-pamerannya di salon dia. Jaminan para seniman the Art et Liberté untuk persesuaian antara anarkisme dan Marxisme sebagian timbul dari independensi mereka dari naratif-naratif kolonial tentang pusat dan pinggiran,[65] dan kritik Marxisme untuk menilai individu dalam manifesto-manifesto mereka luar biasa jika menimbang kesesuaiannya dengan “Manifesto for an Independent Revolutionary Art”-nya Trotsky-Breton.[66]
Penggambaran-penggambaran anarkisme dan kaum anarkis telah membentuk secara siginifikan baik pendapat publik maupun kesadaran sastrawi. Dalam hal ini, ada tiga karya yang dominan: The Secret Agent-nya Joseph Conrad,[67] The Princess Cassamasima-nya Henry James,[68] dan The Man Who Was Thursday-nya G.K. Chesterton.[69] Novel Conrad khususnya penting dalam mempopulerkan gagasan anarkis dan anarkisme melalui ketidakcocokan lemparan-bom yang dipisah-kan dari rasio atau kesadaran sosial. Sebagaimana dinyatakan oleh Jesse Cohn,[70] karya-karya ini “mempererat persepsi publik tentang kaum anarkis sebagai para bajingan kejam secara patologis... [dan] tak terhapuskan diasosiasikan dengan kegilaan dan kekerasan kriminal, menjadi makanan empuk untuk novel-novel yang mendebarkan, pergerakan anarkis terancam sepenuhnya diasingkan dari kelas-kelas pekerja yang pokoknya ia perjuangkan”.[71] Dari sosok anarkis Conrad yang tak terkoreksi sebagai pembuat bom dan pembunuhan berencana Stevie dalam novel sebagai satu sosok mewakili pathos sentimental, penggambaran-penggambaran anarkisme lain yang senada menyebar dalam media populer, meskipun sebagian kritikus berusaha untuk mendamaikan otonomi dengan penggambaran anarkisme yang problematis dalam novel.[72] Stereotipe-stereotipe anarkis ini diperkuat oleh media populer yang menghubungkan pembunuhan Presiden William McKinley oleh Czolgosz dengan pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria oleh Gavrilo Princip sebagai tindakan-tindakan anarkis, meskipun Czolgosz tidak diasosiasikan dengan dan tidak juga diterima oleh kelompok anarkis mana pun dan pembunuhan oleh Princip dikoordinasikan melalui kelompok nasionalis Black Hand. Terlepas dari ini, keduanya di mana-mana disajikan sebagai para pembunuh anarkis yang sangat selaras dengan sosok sastrawi Conrad.
Penggambaran-penggambaran anarkisme dan kaum anarkis selanjutnya berbeda dalam beberapa hal dan menggeser kesadaran populer pada satu arah baru. Novel Chuck Palahniuk, Fight Club,[73] menyajikan anarkisme dalam satu pemahaman yang berpotensi simpatik sebagai anti-korporat dan anti-kapitalis, dengan demikian memulihkan bagian dari tujuan-tujuan sosialnya pada kesadaran sosial. Meski demikian, tren yang berlaku adalah menuju pembungkaman atau penghalusan anarkisme dalam media arus utama atau sebaliknya menggeneralisasinya dalam satu pengertian modern mirip dengan Conrad, James, dan Chesterton. Adaptasi Fight Club dan V for Vendetta ke dalam film sebagian besar menghapus anarkisme.
Sementara anarkisme mungkin terwujud dalam praksis, gaya atau bentuk sastra, la juga membentuk perhatian para penulis populer, sebagian darinya berpindah antara pembaca seolah-olah arus utama dan “seni”. Sebagaimana sudah dicatat, Peake mengidentifikasikan novel-novel populer Gormenghastnya dengan pergerakan anarkis Romantisisme Baru. Novel-novel tersebut mengontraskan kelas-kelas sosial berlapis yang berkonflik tetapi mengukuhkan simpati pembaca pada penguasa turun-temurun kastel Gormenghast, Titus Groan, sementara menyajikan antagonis Steerpike, dari kelas-kelas bawah, sebagai seorang penjahat fasis. Kecenderungan dalam novel-novel tersebut adalah untuk menyajikan ritual dan tradisi sebagai kekuatan-kekuatan otoritas arbitrer yang mengeras bertentangan dengan ritme-ritme dunia natural yang lebih fleksibel di luar lingkungan yang dibangun. Karakter-karakter menjadi mengalami identitas individu melalui resistensi melawan sistem-sistem dominasi arbitrer ini, bagi Titus dengan menolak hak bawaannya dan kabur dari kastel, sementara yang lain menjadi operasi-operasi kasta atau ritual belaka melalui pengejaran dominasi atas yang lain atau kekuasaan.[74] Novel-novel tersebut menyaingi The Lord of the Rings J.R.R. Tolkien dalam mengukuhkan genre fantasi dan menempati posisi kuat di kalangan publik pembaca populer, dengan para pengarang yang terlibat secara politis seperti Miéville dan Moorcock yang mengidentifikasi dan merujuk Peake sebagai pendahulu dalam genre ini.[75]
Treece, yang memperjuangkan pergerakan Apokaliptik Baru dalam puisi dan menulis secara luas tentang anarkisme dalam puisi dan kajian sastra, semakin berpindah pada genre-genre fiksi populer setelah Perang Dunia Kedua, kemungkinan besar karena alasan-alasan finansial tetapi juga sebagai tambahan untuk tempat pengajarannya. Treece mempopulerkan fiksi historis dan fiksi prasejarah, sering kali memasangkan sebuah novel untuk anak-anak dengan sebuah novel untuk dewasa, seperti dalam Legions of the Eaglenya[76] dengan The Dark Island[77] atau The Golden Strangers[78] dengan Men of the Hills[79]—bentuk-bentuk dewasa dan remaja dari masing-masing naratif keduanya memuat tema-tema anarkis tanpa identifikasi dengannya, yang berbeda dari puisi dan tulisan-tulisan kritisnya terdahulu. Satu tema yang tetap ada pada Treece adalah pembunuhan atau kematian busuk raja-raja yang sedikit bertindak untuk memperbaiki kehidupan subjek-subjek mereka (hampir selalu menghalangi atau merugikan kehidupan natural mereka), atau kadang-kadang pengabaian otoritas oleh seorang penguasa untuk men cari kehidupan pedesaan dan spontan tanpa bentuk-bentuk otoritas yang dibebankan. Treece sering kali lebih kukuh dalam tema-tema anti-otoritarian dalam versi buku-buku untuk anak-anak daripada dalam fantasi dewasa dan fiksi historis, menyiratkan bahwa sebagaimana terjadi pada beberapa pengarang lain yang dibahas dalam tulisan ini, dia memandang praksis dan bentuk dalam konteks Perang Dingin sebagai lokasi yang lebih meyakinkan dan berpengaruh bagi anarkisme daripada dalam pembahasan-pembahasan pedagogis atau kritis yang blak-blakan.
Fiksi populer anarkis yang paling diakui adalah The Dispossessed: An Ambiguous Utopia-nya Le Guin,[80] menyajikan seorang protagonis anarkis menegosiasikan tegangan-tegangan kultural antara planet Urras (dengan bangsa-bangsa kapitalis dan komunis dalam negara yang terus-menerus berkonflik) dengan bulan Anarres (dengan satu komunitas anarki yang terus-menerus menegosiasikan ulang kodrat anarkisme terkait relasi-relasi kuasa melawan kecenderungan untuk seenaknya melanggengkan atau untuk menaturalisasi relasi-relasi). Sikap anarkisme Le Guin juga tersirat, dan mungkin lebih pervasif, dalam novel-novel fantasi Earthsea-nya, yang tidak menyebut anarkisme tetapi terlibat secara luas dengan masalah-masalah otoritas, penamaan, dominasi, identitas, hasrat, dan spontanitas yang dipahami secara produktif melalui anarkisme. The Dispossessed Le Guin bagian dari Hainish Cycle novel dan cerita-cerita dia, yang telah memancing persoalan-persoalan gender, seksualitas, dan utopianisme berbasis komentar ilmiah dan penting.[81] Novelis libertarian Robert A. Heinlein, salah satu dari Tiga Besar novelis fiksi ilmiah pada Masa Keemasan Fiksi Ilmiah (artinya salah satu dari tiga pengarang paling laku dan berpengaruh dalam genre tersebut), mendedikasikan novelnya yang terakhir, Friday,[82] sebagian untuk Le Guin dan menulis satu parabel berpotensi anarkis dalam cerpennya dan novel seri yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku sebagai The Moon Is a Harsh Mistress.[83] Sementara libertarlanisme dan anarkisme memiliki kesamaan-kesamaan, penekanan masing-masing terhadap individualisme dan/atau egoisme sangat berbeda. Naratif populer kuasi-anarkis Heinlein dalam The Moon Is a Harsh Mistress berdampak signifikan terhadap genre dan publik pembaca, tetapi karya-karyanya yang selanjutnya menyajikan perbedaan-perbedaan problematis, seperti peranan kepemimpinan yang diraih oleh kepribadian-kepribadian dominan atau mendominasi dan naturalisasi system-sistem tukar kapitalis yang di dalamnya atribut-atribut superior disematkan kepada mereka yang memiliki dominasi fiskal lebih besar dari yang lain.[84]
Morrcock secara terang-terangan menceritakan pengaruh dari dan pertemanannya dengan Treece dan Peake atau para penulis Apokaliptik Baru secara umum[85] terhadap dirinya, menggambarkan semua itu sebagai hubungan formatif yang mendorong tulisan populernya dalam genre fantasi. Moorcock selanjutnya menulis prakata-prakata untuk publikasi-publikasi ulang novel-novel Treece[86] dan aktif menyokong (atau bahkan memperjuangkan) publikasi ulang dan gerak kembalinya populer ke Peake dan Treece. Sementara dia mengakui tegangan antara menulis terutama dalam satu genre (fantasi) terkait para raja dan ratu sementara pada saat yang sama merupakan seorang anarkis yang menentang relasi-relasi kuasa yang arbitrer dan tidak alami, Moorcock juga mengintegrasikan tema-tema anarkis ke dalam tulisan-tulisan populernya. Hal ini paling kelihatan dalam novelnya Gloriana: or the Unfulfill’d Queen,[87] yang dia revisi untuk mengubah secara siginikan akhir ceritanya. Secara konsep, inti ceritanya adalah bahwa penguasa Gloriana didominasi oleh peranan arbitrernya sebagai penguasa sebagaimana juga dia mendominasi orang-orang lain, dan dia berusaha untuk membebaskan diri dari pembatasan ini. Metafora utama novel tersebut adalah bahwa sejauh Gloriana merupakan Bangsa maka dia tidak bisa orgasme. Metafora ini mengarahkan pada pemalsuan identitas dan satu gagasan pemerintahan arbitrer yang hanya diatasi dalam novel melalui penolakan sistem-sistem pemerintahan dan penerimaan atas peranan libidis hasrat dalam pengorganisasian konsep-konsep subjektivitas. Artinya, Gloriana hanya mampu menguasai diri melalui penerimaan dorongan hasrat dan penolakan tuntutan-tuntutan “para Lian”, bersama fakta tentang hasrat yang menumbangkan pemaksaan otoriter nilainilai sosial normatif. Kekerabatan antara pemahaman khayali anarkisme ini dengan Joyce, Powys, Millers, dan Acker penting dan juga bersifat langsung, dengan Moorcock menghubungkan karya-karyanya sendiri ke belakang pada Powys, Joyce, dan Miller, sebagai para sumber pengaruh, dan ke depan pada pusat perhatian-perhatian Acker dan Duncan.
Pengarang Starhawk (Miriam Simos) menekan perhatian-perhatian anarkis terhadap paradigma-paradigma ekologis dan New Age, menekankan seperangkat relasi yang spontan. Novel-novel populer dan buku-buku New Age menekankan satu relasi dengan alam atau belantara yang menonjolkan “yang liar” sebagai tidak acak melainkan satu keterkaitan, menyiratkan satu ontologi relasional antara dunia itu sendiri dengan orang-orang terberkati secara linguistik yang akan bergantung pada satu organisasi kuasa asimetris yang menempatkan diri mereka sendiri di posisi atas (dan dalam dominasi atas) alam atau lingkungan-lingkungan yang mereka terima. Alan mengejar satu proyek anarkis yang lebih terbuka dalam komik dan novel-novelnya. Keyakinan Moore terhadap anarkisme paling tampak dalam seri komik awal dia, V for Vendetta,[88] di mana anarkisme sebagai satu filosofi politis dibahas secara luas dan mendorong tegangan antara teroris anti-fasis V. dengan anti-otoritarian Evey. Moore pada akhirnya menyajikan satu bentuk anarkisme anti-otoritarian pada Evey yang mengelakkan kekerasan, melalui paralelisasi teroris V. dengan pemimpin fasistik Adam Susan. Meski demikian, Moore kemudian memindahkan anarkisme dari satu bahasan tematik dan topikal dalam teksteksnya menuju satu operasi formal, seperti dalam novelnya Jerusalem[89] yang menunjukkan isyarat kembali kepada satu Romantisisme anarkis terhubung pada William Blake. David Weir[90] memandang pemindahan pada estetika dan bentuk anarkis ini, dalam kaitannya dengan modernisme, melambangkan depolitisasi anarkisme. Dalam paradigma Weir, anarkisme lebih berhasil sebagai satu inovasi formal daripada sebagai satu filosofi politis, tetapi kritik ini dibatasi oleh pemahaman anarkis dan pengistimewaan praksis, yang akan menyajikan Moore jauh lebih sebagai seorang yang mempopulerkan etos kepekaan-kepekaan anarkis daripada sebagai satu suara hiburan reaksioner. Seri novel Mars Trilogy-nya Kim Stanley Robinsons[91] juga meraih status kanon dalam Kajian Fiksi Ilmiah sementara terlibat dengan tema-tema anarkis. Sementara Robinson menyelaraskan dirinya lebih dengan kritik sosial Marxis, dia tetap terbuka pada paradigma-paradigma anarkis, dan dia menyampaikan pesan nilai-nilai anti-otoritarianisme secara luas dalam seri novelnya Mars Trilogy.
Berbeda dari persoalan-persoalan yang sudah dibahas sejauh ini, ada juga para pengarang yang karya-karyanya lebih cakap dibaca disertai keakraban dengan anarkisme terlepas dari orientasi politis mereka sendiri yang berbeda. Sebagaimana sudah dinyatakan sebelumnya, novel-novel William Morris pada pengujung abad kesembilan belas mengekspresikan pandangan-pandangan anarkistis sementara tulisan-tulisan kritisnya menyuarakan keberatan atau penolakan-penolakan terhadap politik anarkis berdasarkan konseptualisasi sosialisnya tentang individu dan pengembangan dirinya sebagai satu bagian penting dari pemungsian masyarakat. Kinna meringkas relasi cemas Morris dengan anarkisme: “Morris tampaknya tahu bahwa dia bukan seorang anarkis, tanpa menyadari mengapa demikian”.[92] Karenanya, Morris menyajikan satu pandangan kritis tentang masyarakat yang menolak negara dan pemusatan-pemusatan kekuasaan yang mengekspresikan dominasi sebagai otoritas. Morris akan memandang kekuasaan negara sebagai satu pangkal bagi pemusatan kekayaan kapitalis, sementara pada saat yang sama dia membayangkan individu kreatif dalam satu rangkaian relasi sosial anti-otoritarian yang memperkecil egoisme. Meski demikian, intinya adalah bahwa Morris mungkin lebih bermanfaat dibaca dengan satu pikiran yang memahami anarkisme, terlepas dari afiliasi-afiliasi Morris sendiri pada saat dia menulis karya terkait.
George Orwell sering kali direpresentasikan keliru dalam kesadaran populer sebagai menentang sosialisme, meski karya ilmiah di mana-mana mengenali sokongannya atas sosialisme demokratis. Orwell ditautkan dengan kaum anarkis ketika dia bertugas dalam Perang Saudara Spanyol dan selanjutnya menjalin persahabatan baik dengan anarkis Woodcock dan Alex Comfort, meskipun dia mengkritik pasifisme mereka saat Perang Dunia Kedua. Esai dia, Inside the Whale[93] sering kali dibaca sebagai satu perselisihan dengan sokongan Auden terhadap kaum komunis dalam Perang Saudara Spanyol, tetapi bagian terbesar karya itu berurusan dengan anarkisme Miller (dirujuk secara halus sebagai “defeatism” dan “quietism”, keduanya merupakan isyarat umum untuk anarkisme pada masa itu) dengan Auden hanya merupakan tambahan. Sementara Orwell merupakan seorang sosialis demokrat, beberapa karyanya lebih bermanfaat dibaca jika disertai kesadaran akan keakrabannya dengan pemikiran anarkis.
Sukar untuk membaca novel-novel Muriel Spark tanpa mempertimbangkan koneksi-koneksi dia dengan pemikiran anarkis melalui Derek Stanford, dirinci dalam The Freedom of Poetry[94] dan Inside the Forties karyanya.[95] Sementara Spark mungkin terganggu oleh judul yang disebut lebih awal, yang mengungkapkan rincian kehidupan pribadi mereka, dia mengembangkan pandangan-pandangannya dalam konflik dengan anarkisme Stanford, dan perbedaan-perbedaan masing-masing dalam konseptualisasi subjektivitas dan kebermaknaan protes individu tunggal tetap berbeda, tetapi bingkai anarkis ini meluaskan kodrat beberapa kritik pedas dia, khususnya The Prime of Miss Jean Brodie[96] dan The Girls of Slender Means.[97] Mendekati sebuah teks seperti By Grand Central Station I Sat Down and Wept karya Elizabeth Smart[98] juga diperbagus oleh keakraban dengan masa yang dia habiskan bersama Jean Varda di Paris dan kemudian dalam komune Varda di Kalifornia bersama Miller, di mana dia juga berjumpa Rexroth dan terlibat dengan lingkaran anarkismenya. Durrell, yang memperkenalkan Smart pada kekasihnya Barker (dibayangkan kekasih dalam novel), juga dibaca secara produktif melalui koneksi-koneksinya dengan beberapa anarkis, khususnya penggunaan ambiguitas yang dia lakukan untuk mengistimewakan konstruksi-konstruksi makna anti-otoritarian oleh pembaca dan kritiknya terhadap kapitalisme serta kewajiban kontrak dalam novelnya Tunc[99] dan Nunquam.[100]
Membaca para pengarang anarkis, estetika anarkis atau praksis, dan penggambaran-penggambaran kaum anarkis dan anarkisme sering kali diperumit oleh metodologi-metodologi dominan atau lazim dalam kajian akademis sastra arus utama. Teori Kritik Sastra Baru, sejauh ia telah dikritik sebagai kecenderungan yang didepolitisasi atau bahkan konservatif dalam kritik sastra, menyajikan satu rintangan utama dalam hal bahwa estetika anarkis akan dibaca melalui paradigma ini tanpa bantuan konteks politis mereka. Teori ini mengharuskan bukan hanya pembacaan konten tekstual yang didepolitisasi terkait tradisi dan bentuk sastrawi melainkan juga penghilangan cara-cara anarkisme sering kali membentuk sikap-sikap terhadap subjektivitas, identitas, konstruksi makna, dan tantangan-tantangan terhadap tradisi-tradisi yang diwarisi alih-alih dinegosiasikan. Kodrat karya anarkis yang anti-otoritarian secara langsung mengelakkan metodologi pembacaan yang dipaksakan oleh Kritik Sastra Baru, yang secara intrinsik menakar satu tradisi (otoritas) sastra yang diwarisi (dan oleh sebab itu dipaksakan, secara arbitrer) tanpa mengenali potensi atas tradisi atau relasi-relasi spontan dan lekas raib di antara pelbagai teks. Dengan demikian, keunggulan dan popularitas metodologi-metodologi Kritik Sastra Baru cenderung menghapus anarkisme dari teks-teks sastra yang di dalamnya ia memainkan satu peranan topikal, formal, atau alusif yang penting.
Tantangan paling penting terhadap pembacaan anarkisme dalam sastra muncul dari metodologi paling lazim kedua dalam kajian sastra, teori kritis. Sebagai satu paradigma materialis yang berakar dalam metode-metode Marxis yang mengarahkan perhatian terhadap konflik-konflik sosial berbasis konflik kelas, potensi untuk mengenali unsur sosial anarkis dan sastra terkait menjadi penting. Akan tetapi, banyak dari aliran-aliran teori kritis yang paling luas digunakan dan kajian sastra Marxis memusuhi perspektif-perspektif anarkis tentang subjektivitas dan tindakan politis. Ini bisa menyebabkan kelalaian atau potensi salah representasi atas materi-materi anarkis yang dikritik. Contoh-contoh berkaitan dengan para pengarang yang dibahas dalam teks ini mencakup tanggapan-tanggapan Fredric Jameson terhadap Le Guin[101] dan kategorisasinya atas utopianisme pra-kapitalis bagi Tolstoy sebagai “regresif”.[102] Aliran khusus analisis Marxis ini berpendapat tentang politik anarkis sebagai reaksioner dan konservatif. Ia juga bisa menyebabkan salah pemahaman Santesso[103] tentang filosofi anti-otoritarian anarkisme sebagai pada dasarnya fasis dan otoritarian[104] atau memancing perselisihan-perselisihan kritis yang merepresentasikan subjektivitas-subjektivitas dan nilai-nilai anti-otoritarian anarkis sebagai pada dasarnya sudah usang dan berasal dari satu episteme historis masa silam, sebagaimana dalam bantahan Samuel Delany atas novel fiksi ilmiah anarkis Le Guin, The Dispossessed dalam novelnya sendiri Trouble in Triton[105] dan juga sebagai satu argumen kritis dalam esainya To Read The Dispossessed.[106] Dalam kaitannya dengan sastra populer yang dibahas di atas, dan khususnya analisis-analisis genrenya, kelaziman dan hampir ada di mana-mananya kritik sastra Marxis dalam Kajian Fiksi Ilmiah telah sangat membentuk ranah dalam proyek-proyek kritisnya yang definitif,[107] dan pembatasan-pembatasan yang ditempatkan oleh pendekatan ini terhadap genre dan pengarang-pengarang khusus dikenali oleh novelis-kritikus China Miéville.[108] Metodologi-metodologi psikoanalitis juga memiliki relasi rumit dengan anarkisme, dengan pemikiran pasca-anarkis yang mengadopsi konsep-konsep pascastrukturalis dari Jacques Lacan[109] dalam hal bahwa mereka mungkin dibaca sebagai memiliki hubungan dengan penggunaan arus kesadaran terkait hasrat oleh Joyce, Miller, dan Powys. Meski demikian, revisi Marxis Jameson atas Lacan dalam The Political Unconscious[110] bertentangan dengan metode-metode psikoanalitis ini, menekankan asal-usul materialisnya subjektivitas dan dengan demikian asal-usul metodologi atau gagasan-gagasan semacam itu sendiri dalam satu mode produksi borjuis, hanya transformasinya yang bisa mengubah mode-mode kesadaran.
Kesimpulan
Anarkisme dan sastra memiliki sejarah panjang dan sangat terjalin. Sementara para pengarang yang terbantu oleh gagasan-gagasan anarkis untuk mendekati karya-karya mereka dan para pengarang bukan-anarkis yang merepresentasikan anarkisme bernilai penting bagi kajian sastra, relasi-relasi antara anarkisme dan sastra paling produktif ketika sastra memperluas pemahaman anarkis atau ketika anarkisme mendorong perkembangan sastrawi. Eksplorasi tema-tema anarkis melalui alur atau narasi terutama terjadi sebelum abad kedua puluh, tetapi munculnya modernisme, satu pemahaman anarkis terhadap bentuk, teknik, dan stile sastrawi menjadi semakin penting. Dari situ berlanjut puitika anarkis yang berbeda, khususnya dalam puisi Amerika. Sama juga, distribusi anarkisme dalam sastra populer membentuk banyak bahasan kritis seputar genre dan menjadikan sikap dan bentuk-bentuk pemikiran anarkis tersedia bagi publik pembaca yang mungkin kalau tidak demikian maka akan menolak nama anarkisme. Anarkisme juga berjalan berlawanan dengan sebagian dari bentuk-bentuk pembacaan dan pengetahuan sastrawi yang paling diterima luas dan diajarkan, karenanya ia rentan terhadap representasi keliru atau interpretasi-interpretasi antagonistik.*
[1] Karangan genre (genre writing) atau fiksi genre biasa digunakan juga untuk menyebut fiksi populer, tetapi bisa dikatakan bahwa sebutan fiksi genre menurunkan kategorisasi yang lebih spesifik dari fiksi populer sebagai kategori umum, misalnya fiksi ilmiah, fantasi, horor.—CS
[2] W. Godwin, Enquiry Concerning Political Justice and its Influence on Morals and Happiness (London: G.G. & J. Robinson, 1793).
[3] W. Godwin, Things as They Are; or, The Adventures of Caleb Williams (London: B. Crosby, 1794).
[4] M. H. Scrivener, Radical Shelly: The Philosophical Anarchism and Utopian Thought of Percy Bysshe Shelley (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1982).
[5] P. B. Shelley, The Masque of Anarchy (London: Edward Moxon, 1819).
[6] P. B. Shelley, The Philosophical View of Reform (Oxford: Oxford University Press, 1920).
[7] Bildungsroman adalah subgenre dari genre coming of age, dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai novel pendidikan atau novel didaktik karena kisah yang disajikan fokus pada perkembangan psikologis dan moral protagonis dari kecil sampai dewasa.—CS.
[8] G. Woodcock, Anarchism: A History of Libertarian Ideas and Movements (New York: World Publishing Company, 1962).
[9] M. Wollstonecraft 1798.
[10] M. Wollstonecraft 1792.
[11] Konsep sajak proyektif (projective verse) meyakini puisi tercipta melalui proyeksi energi puitis dari sumber kepada puisi dan kemudian dari puisi kepada pembaca. Dalam praktiknya, konsep ini menolak rumus bentuk dan metrum baku sebagaimana berlaku dalam sastra Inggris yang di kita analog dengan, misalnya, bentuk pupuh Sunda atau tembang Jawa dan lebih memilih bentuk sajak terbuka—CS
[12] G. Woodcock, The Paradox of Oscar Wilde (New York: Macmillan, 1950).
[13] O, Wilde, “The Picture of Dorian Gray”, Lippincott's Magazine Juli (1890), 3-100.
[14] O, Wilde, The Picture of Dorian Gray (Victoria, BC: McPherson Library, 2011), 160.
[15] C. Lesjak, “Utopia, Use, and the Everyday: Oscar Wilde and a New Economy of Pleasure”, English Literary History 67 (2000), 179-204.
[16] Ibid., 180.
[17] R. Ross, Robert Ross, Friend of Friends: Letters to Robert Ross (London: Jonathan Cape, 1952).
[18] Ibid., 113.
[19] Woodcock, Oscar Wilde, 9.
[20] Ibid., 379.
[21] R. Kinna, ‘Morris, Anti-Statism and Anarchy’, dalam P. Faulkner dan P. Preston (Ed.) William Morris Centenary Essays (Exeter: University of Exeter Press, 1999), 215-218.
[22] D. Goodway, ‘E. P. Thompson and William Morris’, dalam P. Faulkner dan P. Preston (Ed.) William Morris Centenary Essays (Exeter: University of Exeter Press, 1999), 229-236.
[23] J. Cohn, ‘Anarchism, representation, and culture’, dalam J. Gifford dan G. Zezulka-Mailloux (Ed.) Culture + the State: Alternative Interventions (Edmonton, AB: CRC Studio, 2003), 54-63; A. Antliff, Anarchy and Art: From the Paris Commune to the Fall of the Berlin Wall (Vancouver, BC: Arsenal Pulp Press, 2007).
[24] D. Kadlec, ‘Pound, BLAST, and syndicalism’ English Literary History 60 (1993), 1015-1031; D. Kadlec, Mosaic Modernism: Anarchism, Pragmatism, Culture (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 2000).
[25] A. Antliff, ‘Ezra Pound, Man Ray, and Vorticism in America, 19141917, dalam M. Antliff dan S. W. Klein (Ed.) Vorticism: New Perspectives (Oxford: Oxford University Press, 2013), 139-155.
[26] M. Antliff, ‘Politicizing the new sculpture’, dalam M. Antliff dan S. W. Klein (Ed.) Vorticism: New Perspectives (Oxford: Oxford University Press, 2013), 102-118.
[27] Kadlec, Mosaic, 13.
[28] J. Joyce, Portrait of the Artist as a Young Man (New York: B. W. Huebsch, 1916).
[29] J. Joyce, Ulysses (Paris: Shakespeare and Company, 1922).
[30] J. Rabaté, James Joyce and the Politics of Egoism (Cambridge: Cambridge University Press, 2001).
[31] Kadlec, Mosaic, 21, 96.
[32] Ibid., 116.
[33] Ibid., 119.
[34] D. Goodway, ‘The politics of John Cowper Powys’, The Powys Review 15 (1984-1985), 42-52; D. Goodway, Anarchist Seeds beneath the Snow: Left-Libertarian Thought and British Writers from William Morris to Colin Ward (Liverpool: Liverpool University Press, 2006).
[35] J. C. Powys, A Glastonbury Romance (New York: Simon & Schuster, 1932).
[36] J. C. Powys, Porius: A Romance of the Dark Ages (London: Macdonald & Company, 1951).
[37] H. Miller, Tropic of Cancer (Paris: Obelisk Press, 1934).
[38] H, Miller dan H. Read, The Henry Miller-Herbert Read Letters: 1935-58 (Ann Arbor: Roger Jackson, Inc., 2007).
[39] K. Orend, ‘Fucking your way to paradise: An introduction to anarchism in the life and work of Henry Miller.” Nexus: The International Henry Miller Journal 6 (2009), 44-77.
[40] J, Gifford, ‘Anarchist transformations of English surrealism: The Villa Seurat network’, Journal of Modern Literature 33 (2010), 57-71.
[41] A. Cossery, Men God Forgot (San Francisco: Circle Editions, 1946).
[42] H. Read, “Speech by Herbert Read at the Conway Hall.” The Surrealist Bulletin 4 (1936): 7-13, H. Read, Surrealism (London: Faber & Faber, 1936).
[43] A. Antliff, “Open form and the abstract imperative: Herbert Read and contemporary anarchist art.” Anarchist Studies 16 (2008), 6-20.
[44] A. Weaver, ‘Promoting ‘a Community of Thoughtful Men and Women’: Anarchism in Robert Duncan's Ground Work volumes’, English Studies in Canada 34 (2008), 71-95.
[45] R. Duncan, Ground Work: Before the War (New York: New Directions, 1984); R. Duncan, Ground Work II: In the Dark (New York: New Directions, 1987).
[46] A. Cornell, Unruly Eguality: U.S. Anarchism in the Twentieth Century (Berkeley: University of California Press, 2016).
[47] Ibid., 189.
[48] A. Gelpi and R. J. Bertholf, Robert Duncan and Denise Levertov: The Poetry of Politics, the Politics of Poetry (Stanford: Stanford University Press, 2006); R. Bertholf, ‘Decision at the apogee: Robert Duncan’s anarchist critique of Denise Levertov’ dalam A. Gelpi dan R. J. Bertholf (Ed.) Robert Duncan and Denise Levertov: The Poetry of Politics, the Politics of Poetry (Stanford: Stanford University Press, 2006), 1-17.
[49] Metode diastik dalam kreasi puisi adalah ciptaan Mac Low, semacam arus kesadaran Joyce dalam prosa dengan prosedur lebih ketat melibatkan “teks sumber” dan “teks benih” untuk menciptakan arus kata-kata.—CS
[50] J. Mac Low, ‘Selections from The Stein Poems’, dalam Thing of Beauty: New and Selected Works (Berkeley, CA: University of California Press, 2009), 376-420.
[51] D. Spinosa, Anarchists in the Academy: Machines and Free Readers in Experimental Poetry (Edmonton, AB: University of Alberta Press, 2018).
[52] A. F. Redding, “Bruises, roses: Masochism and the writing of Kathy Acker.” Contemporary Literature 35 (1994), 281-304.
[53] S, Collis, Phyllis Webb and the Common Good: Poetry, Anarchy, Abstraction (Vancouver, BC: Talonbooks, 2007).
[54] T, Pynchon, The Crying of Lot 49 (Philadelphia, PA: Lippincott, 1966).
[55] G. Benton, ‘Riding the interface: An anarchist reading of Gravity’s Rainbow, Pynchon Notes 42-43 (1998), 152-166; G. Benton, ‘Daydreams and dynamite: Anarchist strategies of resistance and paths for transformation in Against the Day’ dalam J. Severs dan C. Leise (Ed.) Pynchon's Against the Day: A Corrupted Pilgrim’s Guide, (Lanham, MD: Lexington Books, 2011), 191-214.
[56] T, Pynchon, Gravity's Rainbow (New York: Viking, 1973).
[57] T, Pynchon, Against the Day (New York: Penguin, 2006).
[58] A, Roy, The God of Small Things (New York: Vintage, 1997).
[59] H, Treece, How | See Apocalypse (London: Lindsay Drummond, 1946); A. E. Salmon, Poets of the Apocalypse (Boston, MA: Twayne, 1983).
[60] D. S. Savage, The Personal Principle: Studies in Modern Poetry (Folcroft, PA: Folcroft Press, 1969).
[61] M. Peake, Titus Groan (London: Eyre & Spottiswoode, 1946).
[62] M. Peake, ‘How a romantic novel evolved’ dalam S. Schimanski and H. Treece (Eds) A New Romantic Anthology (London: Grey Walls Press, 1949), 80-89.
[63] M. Peake, Gormenghast, (Gormenghast. London: Eyre & Spottiswoode, 1950).
[64] K. Rexroth, The New British Poets: An Anthology (New York: New Directions, 1947).
[65] S, Bardaouil, Surrealism in Egypt: Modernism and the Art and Liberty Group (London: |. B. Taurus, 2016).
[66] J. Gifford, Personal Modernisms: Anarchist Networks and the Later Avant-Gardes (Edmonton, AB: University of Alberta Press, 2014).
[67] J. Conrad, The Secret Agent (London: Methuen & Co., 1907).
[68] H. James, The Princess Cassamassima (London: Macmillan, 1886).
[69] G. K. Chesterton, The Man Who Was Thursday: A Nightmare (London: J. W. Arrowsmith, 1908).
[70] J. Cohn, Anarchism and the Crisis of Representation: Hermeneutics, Aesthetics, Politics (Selinsgrove, PA: Susquehanna University Press, 2006).
[71] Ibid., 130.
[72] S. Ross, ‘The secret agency of dispossession’, Etudes Britanniques Contemporaines 53 (2017), n.p.
[73] C, Palahniuk, Fight Club (New York: W. W. Norton & Co., 1996).
[74] J. Gifford, A Modernist Fantasy: Modernism, Anarchism, and the Radical Fantastic (Victoria, BC: ELS Editions, 2018).
[75] C. Miéville, ‘Introduction’ dalam M. Moorcock Wizardry & Wild Romance: A Study of Epic Fantasy (Austin, TX: Monkeybrain, 2004), 11-14; M. Moorcock Wizardry & Wild Romance: A Study of Epic Fantasy (Austin, TX: Monkeybrain, 2004).
[76] H. Treece, Legions of the Eagle (Oxford: Bodley Head, 1954).
[77] H. Treece, The Dark Island (London: Gollancz, 1952).
[78] H. Treece, The Golden Strangers (Oxford: Bodley Head, 1956).
[79] H. Treece, Men of the Hills (Oxford: Bodley Head, 1957).
[80] U. K. Le Guin, The Dispossessed: An Ambiguous Utopia (New York: Harper & Row, 1974).
[81] F, Jameson, ‘Magical narratives: Romance as genre’, New Literary History 7 (1975), 135-163; F. Jameson, ‘World Reduction in Le Guin: The emergence of utopian narrative’, Science Fiction Studies 2 (1975), 221-230; L. Davis, dan P. Stillman, The New Utopian Politics of Ursula K. Le Guin's The Dispossessed (Lanham, MD: Lexington Books, 2005); L. Call, ‘Postmodern anarchism in the novels of Ursula K. Le Guin’, SubStance 36 (2007), 87-105; T. Burns, Political Theory, Science Fiction, and Utopian Literature: Ursula K. Le Guin and The Dispossessed (Lanham, MD: Lexington Books, 2008).
[82] R. A. Heinlein, Friday (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1982).
[83] R. A. Heinlein, The Moon is a Harsh Mistress (New York: G. P. Putnam’s Sons, 1966).
[84] D. G. Williams, ‘The Moons of Le Guin and Heinlein’ Science Fiction Studies, 21 (1994), 164-172.
[85] M. Moorcock, ‘Introduction’, dalam H. Treece Red Queen, White Queen (Manchester: Savoy Books, 1980), 1-4.
[86] Ibid., 1—4.
[87] M. Moorcock, Gloriana; or the Unfulfill'd Queen (London: Allison & Busby, 1978).
[88] M. Moore and D. Lloyd, V for Vendetta (New York: Vertigo, 2005).
[89] M. Moore, Jerusalem (London: Knockabout, 2016).
[90] D. Weir, Anarchy & Culture: The Aesthetic Politics of Modernism (Amherst, MA: University of Massachusetts Press, 1997).
[91] K. S. Robinson, Red Mars (New York: Bantam, 1993); K. S. Robinson, Green Mars (New York: Bantam, 1993); K. S. Robinson, Blue Mars (New York: Bantam, 1996).
[92] Kinna, 'Morris', 220.
[93] G, Orwell, Inside the Whale (London: Gollancz, 1940).
[94] D. Stanford, The Freedom of Poetry: Studies in Contemporary Verse (London: Falcon Press, Ltd., 1947).
[95] D. Stanford, Inside the Forties: Literary Memoirs, 1937-1957 (London: Sedgwick & Jackson, 1977).
[96] M. Spark, The Prime of Miss Jean Brodie (London: Macmillan, 1961).
[97] M. Spark, The Girls of Slender Means (London: Macmillan, 1963).
[98] E. Smart's By Grand Central Station | Sat Down and Wept (London: Poetry London, 1945).
[99] L, Durrell, Tunc (London: Faber & Faber, 1968).
[100] L, Durrell, Nunquam (London: Faber & Faber, 1970).
[101] Jameson, ‘Magical’, 77; Jameson, ‘World’, 77; F. Jameson, Archaeologies of the Future: The Desire Called Utopia and Other Science Fictions (London: Verso, 2005).
[102] F, Jameson, Jameson on Jameson: Conversations on Cultural Marxism (London: Verso, 2007), 215.
[103] A. Santesso, ‘Fascism and science fiction’, Science Fiction Studies 41 (2014), 136-162.
[104] Ibid., 154-155.
[105] S, Delany, Trouble on Triton (New York: Bantam Books, 1976).
[106] Delany ‘To Read The Dispossessed’ dalam The Jewel-Hinged Jaw: Notes on the Language of Science Fiction (Middletown: Wesleyan University Press, 1977), 239-308.
[107] R, Williams, ‘Utopia and Science Fiction’, Science Fiction Studies 5 (1978), 203-214; D. Suvin, Metamorphoses of Science Fiction: On the Poetics and History of a Literary Genre (New Haven, Yale University Press. 1979); R. Jackson, Fantasy: The Literature of Subversion (London: Methuen, 1981); J. Monleon, A Spectre is Haunting Europe: A Sociohistorical Approach to the Fantastic (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1991); C. Freedman, Critical Theory and Science Fiction (Middletown, CT: Wesleyan University Press, 2000); C. Freedman, ‘A Note on Marxism and fantasy’, Historical Materialism 10 (2002), 261-271.
[108] C, Mieville, ‘Editorial introduction’, Historical Materialism 10 (2002), 39-49; C. Mieville, ‘Afterword: Cognition as ideology: A dialectic of SF theory’ dalam M. Bould dan C. Miéville (Ed.) Red Planets: Marxism and Science Fiction (Middleton, CT: Wesleyan University Press, 2009), 231-248.
[109] T. May, The Political Philosophy of Poststructuralist Anarchism (University Park, PA: Pennsylvania State University Press, 1994): S. Newman, From Bakunin to Lacan: Anti-Authoritarianism and the Dislocation of Power (Lanham, MD: Lexington Books, 2001); L. Call, Postmodern Anarchism (Lanham, MD: Lexington Books, 2003).
[110] F, Jameson, The Political Unconscious: Narrative as a Socially Symbolic Act (Ithaca: Cornell University Press, 1981).