#title Anarkis #10
#subtitle Tuan Anarkis yang Mulia
#author Kinky Ninja
#LISTtitle A
#date 2024
#source [[https://hujanawalfebruari.wordpress.com/2024/05/24/anarkis-10-tuan-anarkis-yang-mulia/][Catatan Pelipur Lara]]
#lang id
#pubdate 2026-11-02T01:23:59
#authors Kinky Ninja
#publication Catatan Pelipur Lara
#publicationdate 2024
#topics Anarkisme
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee.
BELUM LAMA BERSELANG, seorang anarkis—ya, setidaknya ia mengaku diri anarkis, jangan salahkan aku kalau menyebutnya demikian—menuliskan dalam akun Instagramnya, aku tidak terlalu ingat persis kalimatnya, sekarang akunnya sudah dihapus pula, atau aku yang diblokir, kira-kira seperti berikut: “mengingatkan kita pada tujuan luhur dan mulia para anarkis.”
Baik, baik, tapi jangan salahkan kalau aku tertawa-tawa.
Hei, bahkan aku juga menulis dan mengisi kolom komentarnya dengan tertawa-tawa. Ia, tentu saja, kesal—walau tentu saja, tidak mengaku—terbukti dengan kesegeraannya merespon dan menjawab dengan acak. Tanda bahwa ia kesal dan tak dapat mengendalikan provokasi paling halus seperti tertawa.
Tentu saja, tertawaku semakin kencang.
Kalau perempuan gegabah di Tiktok menertawakan seorang ibu-ibu yang memperhatikan poster film “Planet of the Apes” dan karenanya diserang warganet, karena jelas, seorang ibu yang memperhatikan poster film memang tak layak ditertawakan. Di mana letak lucunya? Sementara, dalam konteks pos sang anarkis yang berjiwa mulia tadi, jelas ia layak ditertawakan.
Kujelaskan secara singkat dalam paragraf-paragraf berikut ini, soal mengapa ia konyol.
Konsepsi “anarkis dengan tujuan luhur dan mulia”, itu saja sudah konyol. Mengingatkanku pada lagu “Darah Juang” yang sering dinyanyikan oleh para anggota partai Marxis-Leninis di Indonesia, PRD, yang liriknya sedemikian heroik dan mulia. Oh ya, maaf, sekarang konon partai tersebut pegangan ideologinya sudah berubah menjadi Pancasila—ha! Sumpah ini konyol! Layak ditertawakan juga sih, tapi tulisanku kali ini sedang tidak memberi porsi pada perubahan landasaran ideologi tersebut. Kembali pada tujuan luhur dan mulia para anarkis saja. Ini adalah sikap yang banyak dipegang oleh anarkis-anarkis klasik, di mana mereka melihat bahwa perjuangan para anarkis adalah perjuangan yang moral, lebih baik dalam konteks kemanusiaan yang sebagai konsekwensinya menjadi luhur. Anarkis mendudukkan dirinya dalam kacamata moral masyarakat, dalam posisi sebagai agen yang baik, yang sebagai konsekwensinya musuhnya—entah itu negara, kapitalisme, fundamentalisme, atau apapun lah—sebagai pihak yang jahat. Dengan demikian perjuangan anarkis menjadi sebuah perjuangan baik melawan jahat. Perhatikan teks dari sang pangeran anarkis, Peter Kropotkin, “Moralitas Anarkis” dan karya sang pembuat onar, Bakunin, “Imoralitas Negara”, anarkis secara moral lebih superior, eh?
Sebentar, aku baru saja menyebut dua tokoh penting, panutan para anarkis sejagad raya, yang artinya, bisa jadi, bisa jadi, menjadi salah satu penyebab sang anarkis yang menjadi topik dalam tulisan ini menjadi merasa dirinya berjuang demi keluhuran dan kemuliaan—ya, ini juga dengan asumsi dia membaca, setidaknya teks Bakunin hasil terjemahan kawan lamaku dulu, mengingat kenyataan di Indonesia bahwa mayoritas anarkis lokal nampaknya tingkat literasinya rendah. Semoga ia membaca, sehingga kawanku yang dulu menerjemahkan, hasil kerjanya tak sia-sia amat.
Sebentar, lagi, artinya dengan demikian ia tak keliru dengan pernyataannya tersebut?
Bisa saja dikatakan bahwa ia tak keliru, namun kunyatakan—dan karenanya tetap layak ditertawakan—adalah bahwa ia, yang hidup di abad ini, abad metamodern, mengacu pada teori-teori anarkisme klasik, yang bersikukuh menolak ideologisasi, dengan menjadikannya ideologis, sekaligus menutup mata pada perkembangan kontemporer konsepsi antiotoritarian dan antidominasi.
Berkata soal anarkis—yang konon menolak dikategorikan sebagai ideolog, karena menentang ideologisasi—yang tercakup dalaam arus utama antiotoritarian dan antidominasi, menurutku seharusnya dalam mengasah strategi dan taktiknya, harus membuka diri terhadap arus antiotoritarian dan antidominasi lain yang seringkali diabaikan—atau secara terang-terangan dihindari—seperti konsepsi dari ia yang mendapat rekor reputasi yang buruk: Max Stirner.
Stirner bukan seorang anarkis, setidaknya ia tak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang anarkis—walau banyak anarkis kontemporer mengadopsi pemikiran dia untuk memperkaya sudut pandangnya dalam perjuangan antiotoritarian/antidominasi. Ia termasuk yang tidak terlalu dikenal dibandingkan reputasi Bakunin atau Kropotkin, walau oleh musuh-musuh intelektualnya ia dikategorikan sebagai anarkis—terima kasih Ultimus, karena membantu memperkeruh iklim literasi Indonesia dengan menerbitkan sampah berjudul “Anarkisme dan Sosialisme” karya Gregori Plekhanov. Stirner, melalui serangannya atas Idealisme Jerman, khususnya Feuerbach, memperlihatkan batas terjauh dari para anarkis di masanya, yaitu bahwa para anarkis ini, termasuk aksi-aksi mereka yang konon revolusioner, telah terjebak dalam paradigma negara, dalam dialektika kekuasaan. Itu mengapa aksi-aksi revolusi hanya berhasil dalam mengganti satu bentuk kekuasaan dengan kekuasaan lainnya, yang antara lain disebabkan oleh sudut pandang para revolusioner yang tak pernah mempertanyakan kondisi, ide dasar, dari kekuasaan negara yang membuat mereka tetap terperangkap dalam cengkeraman negara yang mereka klaim mereka lawan mati-matian. Perhatikan ejekan Stirner, “little scruple was left about revolting against the existing State or overturning the existing laws, but to no sin against the idea of the State, not to submit to the idea of law, who would dared that?” Baginya, negara tidak pernah dapat direformasi karena ide dasarnya saja sudah tak dapat dipercaya. Bagi Stirner, negara tak akan pernah dapat dikendalikan oleh rakyat, atau juga segelintir revolusioner, karena ia memiliki logikanya sendiri, agendanya sendiri, yang selalu membuat para representatif negara akan berbalik melawan kehendak dari mereka yang awalnya direpresentasikan. “Membebaskan rakyat”, eh? Ha!
Hal ini yang membuat Stirner berhadap-hadapan dengan Marx—yang melihat bahwa negara tak lebih dari sekadar relasinya dengan kekuatan ekonomi. Dari sini saja bisa dilihat bagaimana residu Kiri masih kental berada di benak para anarkis di Indonesia—membaca saja jarang, sementara seringnya dicekoki oleh slogan-slogan dan jargon-jargon Kiri yang lambat laun mengabuti benak mereka. Anarkis yang memiliki persepsi bahwa negara yang direduksi menjadi sekadar bentukan ekonomi dan subyek dari kepentingan kaum borjuis, seharusnya lebih cocok menjadi kader Partai Buruh, karena ideologinya sejalan. Atau jangan-jangan memang para anarkis lokal masa kini sudah kebanyakan bergaul dengan para anggota Partai Buruh sehingga terkesima dengan ideologinya, atau tak lagi dapat melihat perbedaan antara kaum Kiri dan anarkis karena saking akrabnya—berdasar konsepsi super banal: “yang penting melawan”? Karena mereka tak melihat bagaimana negara—apapun bentuknya—adalah sumber dominasi atas masyarakat, melainkan sekadar alat yang sama sekali tidak otonom. Jadi kalau pun “yang penting melawan”, pertanyaannya adalah: melawan apa?
Saat Stirner sudah memposisikan negara sebagai sebuah entitas otonom, ia menegaskan bahwa entitas tersebut didukung oleh keberadaan apa yang ia sebut sebagai spook—abstraksi ideologis yang mana dampaknya secara politis amat nyata—yang memberikan negara justifikasi formal atas dominasinya: moral dan rasionalnya. Kekuatan hal yang oleh para kaum Kiri disepelekan itu justru menjadi kekuatan yang abstrak bagi individu, namun memiliki kekuatan atasnya. Dominasi moral, secara fundamental berkaitan langsung dengan kekuatan politis—yang menjadi diskursus yang melanggengkan kekuasaan negara. Itu juga yang terjadi dengan rasionalitas, yang membuat kedua entitas tersebut menjadi diskursus milik negara, sama sekali bukan menjadi alat yang membebaskan individu dari dominasi, melainkan semakin menundukkan individu ke bawah kekuasaan negara. Sebagai konsekwensinya, maka seorang individu yang melancarkan perang terhadap negara, mau tidak mau harus melancarkan perang juga kepada spook-nya, prinsip-prinsip yang menyediakan kekuatan politik melalui landasan moral dan rasionalnya.
Kalau misal sang anarkis yang kukisahkan ini menolak Stirner—biasanya karena konotasi persepsinya yang buruk, yang jelas hanya berdasar pada asumsi—semestinya ia dapat menoleh pada Deleuze. Lebih netral, karena ia bukan anarkis, juga bukan individualis—label yang banyak disematkan kepada Stirner. Filsuf satu ini, melalui karyanya “Anti-Oedipus” membuka kedok bentuk dan struktur yang mengafirmasi kekuasaan negara. Seperti Stirner, ia percaya bahwa pikiran-pikiran yang melanggengkan negara, membenarkan kekuasaan negara melalui landasan yang terlegitimasi dan diaminkan melalui konsensus. Ia menulis juga dalam “A Thousand Plateau” sebagai berikut, “Only thought is capable of inventing the fiction of a State that is universal by right, of elevating the State to the jure universality.” Baginya rasionalitas adalah salah satu contoh pola pikir negara. Negara bukan hanya sesederhana bayangan kaum Kiri yang tak lebih dari sekelompok praktik dan institusi politik, melainkan juga terdiri dari sejumlah besar norma, teknologi, diskursus, praktik, pola pikir, dan struktur bahasa. Baginya, berdasar analisanya tersebut, hanya dengan cara membebaskan diri dari otoritarianisme moral dan rasional-lah maka individu dapat membebaskan diri dari negara.
Kini bayangkan, seorang anarkis kontemporer, hendak membangun surga di atas bumi bagi masyarakat, sekaligus masih mengidap supremasi moral dan rasionalitas warisan Feuerbachian dan humanisme Pencerahan di mana manusia menjadi subyek utama segala bentuk pikiran dan tindakan—sesuatu yang hanya akan menggantikan negara dengan bentuk atau namanya yang berbeda. Apabila kaum Kiri tetap dengan gamblang menyebutnya sebagai negara—yang bisa jadi karena kekurangan imajinasi atau terjebak dalam ideologi, namun setidaknya mereka tidak termakan ilusi soal negara, sementara anarkis-anarkis ini jelas delusif, karena mereka bersikukuh bersikap antinegara, membangun sebuah kelompok yang sebetulnya menjadi miniatur negara, namun akan menyebutnya dengan berbagai nama nan menggugah yang berfungsi bagai kail bagi orang-orang dalam kancah anarkis: komunitas, komune, sindikat, serikat, atau apa pun. Tuhan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Aku paham kalau misal yang berkata seperti ini adalah mereka yang belum lama terpapar oleh anarkisme, karena semua orang pasti memulai dari euforia yang seringkali membuat buta. Namun ini keluar dari ia yang telah berkecimpung cukup lama di dalam kancah anarkis lokal. Itu mengapa komentarnya menjadi lucu dan layak ditertawakan dalam pandanganku. Karena, tentu saja, seorang anarkis yang ideologis adalah oximoron yang tiada ada bandingannya.
Sampai kapan pun juga.
Layak ditertawakan, bukan?