#title Anarkis #12
#subtitle Tentang Alfredo Bonnano
#author Kinky Ninja
#LISTtitle A
#date 2026
#source [[https://hujanawalfebruari.wordpress.com/2026/04/05/anarkis-12-tentang-alfredo-bonnano/][Catatan Pelipur Lara]]
#lang id
#pubdate 2026-11-02T01:29:33
#authors Kinky Ninja
#publication Catatan Pelipur Lara
#publicationdate 2026
#topics Anarkisme
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee.
SAAT AKU MENULIS INI, beberapa orang anarkis yang ditahan pasca Kebangkitan Agustus 2025 lalu masih dalam proses pengadilan, sementara beberapa lainnya sudah mulai menjalani masa-masa di penjara dan beberapa lainnya bahkan sudah bebas—walau kemudian langsung ditangkap lagi atas tuduhan lain yang mengada-ada. Namun, ini semua menyeretku untuk melihat kembali hal-hal yang sebelumnya aku tak pernah terlalu memperhatikan—sesuatu yang justru menguatkan pilihan tindakan.
Aku kembali membuka-buka teks-teks yang sudah sekian lama tak pernah lagi kubaca: arsip-arsip Alfredo Bonnano yang berserakan di internet. Alasan kenapa aku memilih membaca kembali beberapa teks beliau lebih karena aku tahu bahwa teks-teksnya lah yang banyak diterjemahkan, beredar, dan—mungkin—dibaca oleh para anarkis-anarkis muda di berbagai kota di Indonesia. Sepertinya saat ini teks-teks dalam bahasa Indonesia lebih sulit didapatkan akibat gelombang penyisiran para anarkis oleh polisi dan Densus 88, yang membuat banyak penerbit dan distributornya tiarap. Dan tak bisa dipungkiri, teks-teks Bonnano jauh lebih mudah dipahami oleh kebanyakan anak-anak muda dibandingkan, katakanlah, “Das Kapital”. Apalagi oleh anak-anak muda yang marah.
Bonnano ingin membakar dunia ini. Kalau meminjam ucapan V dalam novel grafis “V for Vendetta”, Bonnano bisa dikategorikan berada dalam “fase penghancuran”. Sistem dunia ini sudah terlalu dalam terperosok dalam jurang kehancurannya sendiri—yang repotnya menyeret seisi bumi ke dalam kehancurannya—dan tak dapat lagi diselamatkan, walau ia juga mengakui melihat bibit-bibit dunia baru dalam diri mereka yang tetap tegak bahkan di hadapan ancaman kehancuran total, seperti yang ia tuliskan dalam “Palestine, Mon Amour”.
Aku tak punya masalah dengan narasi-narasi yang diajukan Bonnano, namun aku hanya berpikir apakah mereka yang terpengaruh oleh teks-teks yang diedarkan akan mampu menghidupi jalannya? Mengikuti jejak Bonnano adalah sebuah penderitaan panjang—walau ia menyatakan bahwa pemberontakan harus dilakukan dengan hati yang bahagia dalam teks “Armed Joy” yang fenomenal. Karena hidup, bagaimanapun juga, adalah soal sebab-akibat, soal konsekuensi, soal waktu, dan tentu saja soal bertahan hidup. Pilihan hidup seperti Bonnano harus diakui akan membutuhkan sebuah dedikasi total yang secara konstan harus dijaga agar tak padam, harus dihidupkan agar tak meredup—karena aku tahu waktu akan selalu dengan mudah membuat semua hal menjadi redup dan padam.
Masalahnya, api, sebersinar apa pun nyalanya, akan selalu padam pada waktunya.
Saat api mulai meredup, itu dapat berarti apa pun. Gelombang penangkapan para anarkis, contohnya. Berapa banyak para anarkis yang lantas memilih tiarap—entah hingga kapan? Berapa banyak mereka yang ditangkap akan kapok, entah karena alasan keluarga, alasan kelelahan, alasan kesendirian. Kesendirian. Diakui atau tidak, pada akhirnya bahkan individualis paling radikal sekalipun, dalam momen seperti itu akan membutuhkan uluran tangan dari yang lain, akan mempertimbangkan sistem pendukung, akan membutuhkan jaring pengaman sosial. Sesuatu yang nyaris tak pernah diangkat oleh Bonnano, selain sekelibat dalam “Palestine, Mon Amour”. Namun, memang Bonnano tidak berniat membahas secara detail soal hal tersebut: ia memang memilih untuk memberi fokus pada kegembiraan revolusioner, keberanian, dan api yang membara. Memang tidak seharusnya juga siapa pun mengharapkan Bonnano mengatur jalan hidup siapa pun—Bonnano bukan seorang nabi, ia bukan panutan, ia juga bukan seorang yang suci, apalagi seorang yang maha mengetahui segalanya.
Harus diingat pula konteks waktu kapan Bonnano menuliskan teks utamanya. Apakah konteksnya persis sama dengan masa kini, di sini, detik ini? Anak-anak muda yang mengidolakan Bonnano ini sering kali lupa bahwa dalam setiap tindakan akan hadir konsekuensi. Apakah mereka bersedia membayar harga dari konsekuensi tersebut? Karena saat mereka menolak membayar konsekuensi tersebut, akan ada individu-individu lain yang harus membayarnya. Tak ada yang gratis di atas muka bumi ini. Tidak pula oksigen dan sinar matahari seperti yang dulu sering diungkapkan oleh CrimethInc. dan para antek-anteknya.
Saat individu-individu lain tersebut pada akhirnya merasa lelah dan sendirian, tak ada jaringan pengaman lain yang menyokongnya, bukankah hal itu berarti detik-detik padamnya api sudah semakin kencang terdengar?
Bayangkan kalau saja Engels merasa kelelahan dan sendirian, lalu satu saat memutuskan untuk berhenti membiayai hidup Marx, menolak memberikan pinjaman-pinjaman yang tak pernah ia bayarkan sepeser pun juga, apakah akan hadir karya-karya terbaik soal kritik kapitalisme? Mungkin sejarah juga adalah tentang momen keberuntungan, bahwa akhir hayat Marx hadir sebelum Engels kelelahan dalam kesendirian. Bayangkan juga Guy Debord tanpa sokongan dana daripada para seniman yang ia pecat daripada organisasi Situationist International, apakah akan terbit buku dengan analisis paling mutakhir soal masyarakat yang terlalu terserap teknologi? Beruntung Debord telah memilih untuk menembak dirinya sendiri sebelum kesendirian itu akhirnya mencekik dirinya perlahan-lahan. Hingga tak ada kata menyerah dalam sejarah hidup Marx maupun Debord.
Namun, tidakkah kita juga semestinya melihat bagaimana para gerilyawan komunis militan FARC di Kolombia akhirnya memilih untuk meletakkan senjata dan berkolaborasi dengan program pemerintah untuk reintegrasi ke dalam masyarakat? Tidakkah juga kita harus mengakui bahwa kelompok pecahannya yang menolak menyerah kepada pemerintah hanya berakhir menyerahkan ideologi mereka dengan sepenuhnya menjadi pasukan paramiliter bagi kartel-kartel narkoba yang sama sekali tak peduli dengan mimpi lawas komunis bahwa kaum proletar akan berhasil melepaskan belenggunya satu saat nanti. Alasan FARC menyerah amat sederhana dan dapat dipahami: pasca runtuhnya Tembok Berlin, dana dan logistik menjadi semakin sulit didapat; mereka semakin terasing dari masyarakat-masyarakat adat yang dahulu juga menyokong perjuangan mereka akibat kekerasan yang tak kunjung berhenti; dan dalam kelelahan serta kesendirian, akhirnya mereka memutuskan untuk menyetujui tawaran pemerintah untuk meletakkan senjata, menerima amnesti, dan bersedia diintegrasikan ke dalam masyarakat.
Kita juga lupa pada narasi utama yang diutarakan dalam manifesto pembubaran Baader-Meinhof pada medio ‘90-an—terlepas dari fakta bahwa seorang anggotanya dari generasi ketiga mereka, Daniela Klette, hidup sekitar tiga puluh tahun dalam pelarian dan baru tertangkap beberapa tahun belakangan. Terutama saat kita mengagumi narasi soal bagaimana aksi-aksi damai sesungguhnya hanya menguntungkan negara, kita malah lupa pada salah satu naskah kritis pasca pemboman Hilton di Sydney pada Maret 1978 berjudul “You can’t Blow Up a Social Relationship”. Terlalu banyak yang terlupa, atau mungkin dilupakan, saat kita tenggelam dalam euforia lautan api yang menghanguskan saat membaca narasi Serafinski dalam “Blessed is the Flame“.
Coba pertanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sanggup hidup seperti Daniela Klette? Apakah mentalmu sanggup untuk hidup secara konstan dalam ketegangan yang seakan tiada akhir? Bagaimana engkau membiayai pelarianmu yang harus dilakukan terus-menerus? Dalam periode sepanjang itu, mengharapkan donasi dan solidaritas jelas bukanlah sebuah opsi lagi. Klette tercatat secara konstan melakukan beberapa perampokan bersenjata tingkat tinggi selama periode 1999–2016 untuk membiayai pelariannya. Engkau sanggup?
Entahlah kalau mereka, namun aku tahu bahwa aku tak akan sanggup.
Pada titik tersebut, aku menutup naskah-naskah Bonnano yang kubuka, dan aku memutuskan untuk membuka kembali naskah-naskah Tiqqun. Karena saat Bonnano memang nampaknya mengesampingkan aspek relasi sosial dalam narasinya, Tiqqun justru menyoroti bahwa hal tersebut adalah salah satu penopang jangka panjang untuk setiap perjalanan menentang kekuasaan dominan. Memang aksi-aksi yang dilahirkan tak selalu terbanjiri adrenalin, berapi-api, sebagaimana yang diajukan oleh Bonnano; karena jujur saja, apa yang orgasmik dari aksi jual beli sayuran dan membuka toko kelontong di desa terpencil Tarnac seperti yang dilakukan oleh Julien Coupat dan kawan-kawannya? Bisa jadi hal tersebut tak terlalu menarik minat anak-anak muda yang sedang heboh-hebohnya bermandikan adrenalin, namun bagaimanapun juga, ide-ide mereka harus diperhatikan kalau mau mencari opsi-opsi bertahan untuk dapat berdiri menantang sistem dalam jangka panjang. Bukan sekadar api yang menyala dengan cepat, namun sekaligus terlalu lekas untuk padam sebelum ia berhasil menghanguskan apa pun.