#title Anarkis #3.0 #author Kinky Ninja #LISTtitle A #date 2013 #source [[https://hujanawalfebruari.wordpress.com/2013/03/02/anarkis-3-0/][Catatan Pelipur Lara]] #lang id #pubdate 2026-11-01T20:39:08 #authors Kinky Ninja #publication Catatan Pelipur Lara #publicationdate 2013 #topics Anarkisme #language Indonesia #notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee. Belum lama berselang, seorang kawan lama yang kini tinggal dan turut serta dalam perlombaan kejam demi memiliki sedikit kesempatan hidup di Jakarta, berbincang denganku. Seorang kawan lama, seorang (mantan?) anarkis—apabila memang bisa dibilang demikian karena label tersebut makin lama makin terasa seperti lelucon. (Anarkis, saat ini kita semua bisa menggunakan labelnya demi berlomba tampil memukau di hadapan deretan juri. Kalau acara American Idol jurinya adalah Mariah Carey dan Nicki Minaj, maka juri acara Anarchist Idol komposisinya adalah para insureksioner Eropa Barat dan Amerika Latin. Atau mungkin kalau label anarkis sudah terlalu dianggap kitsch, sekarang telah tersedia label lain yang lebih hip: nihilis.) Kawan lamaku ini berbincang, yang mungkin lebih memperbincangkan dirinya sendiri, bagaimana hidupnya saat ini berjalan. Semakin lama, menurutnya, ia makin merasa bahwa isu-isu anarkistik, perjuangan melawan dominasi dan kontrol, semakin terasa tak relevan baginya. Bukan berkata bahwa perjuangan itu tak lagi penting, hanya tak relevan. Sekaligus, ia tak yakin juga apa yang kini relevan dengan dirinya. Saat ia merasa kekurangan sentuhan melankolis dari romansa cinta, ia selalu berhasil mendapatkanya. Sesuatu yang ia akui sendiri, semakin hari semakin terasa tak pernah lagi hadir nuansa cinta yang menggebu-gebu. Saat ia menilik soal ekonomi, ia akui bahwa ia memang tidak kaya raya berlimpah harta, tetapi ia juga toh tak pernah merasa benar-benar miskin. Tak pernah kekurangan juga dalam urusan seksual. Hidup kini menjadi sesuatu yang terasa datar dan ala kadarnya. Di akhir perbincangan singkat tersebut, ia berkata, bahwa mungkin hidupnya kini bisa dibilang menyedihkan. Kupikir, tentu saja, terutama apabila dilihat dari kacamata kehidupan ia sebelumnya, sebagai anarkis. Hidup datar dan hambar adalah sesuatu yang menyedihkan. Mungkin bagi orang lain, kawan-kawan lamanya, hidupnya kini menyedihkan. Mungkin. Tetapi apabila ditilik lebih jauh, bukankah pandangan menyedihkan itu hanya hadir dari orang ketiga? Yang tentunya juga tak relevan dengan kehidupannya? Kawanku tersebut mengakui, ia tak peduli. Ia tak merasa sedih. Aku tidak tahu. Mana sesungguhnya yang lebih menyedihkan. Apakah mereka yang berlomba mendapatkan hak untuk menyematkan label anarkis/nihilis/insureksioner di dada mereka di hadapan dewan juri internasional ataukah kawanku yang berkata jujur mengenai dirinya sendiri?