Kinky Ninja

Anarkis #4.0

2013

We fascists are the only true anarchists.

—The Duke, dalam Salo (1975), Pier Paolo Pasolini

Di satu siang aku menyempatkan diri untuk memenuhi permintaan seorang kawan lamaku untuk memberi pengantar singkat di sebuah kelompok anak-anak muda—entah kelompok diskusi atau apapun, entahlah—mengenai pemikiran dasar Guy Debord dan tentu grup Situationist International-nya.

Terus terang sudah lama aku tidak berjumpa dengan anak-anak muda seperti mereka setelah terakhir kali di Makassar. Tapi bedanya, apabila di Makassar adalah anak-anak yang penuh semangat dan optimis, anak-anak muda ini pesimis. Amat pesimis. Tidak semuanya memang, tetapi dari jumlah anggota kelompok kecil tersebut yang kurang dari jumlah jari di kedua tangan, hanya satu orang yang masih menyimpan optimisme bahwa struktur politik negara akan dapat mengubah hidup warganya menjadi lebih baik. Satu orang saja. Bayangkan, satu orang.

Karenanya, terus terang, aku menyukai mereka.

Sejak kapan politik bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik? Apa yang diajarkan sejarah selalu saja tentang kisah bahwa yang bisa mengubah hidup seseorang—entah itu individu ataupun masyarakat—hanyalah seseorang itu sendiri. Terdengar anarkistik? Tidak juga secara eksklusif, aku lupa di mana, tapi sepertinya aku pernah mendengar ide serupa yang berkata bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya sendiri. Politik kenegaraan memang hanya satu jalan yang bisa ditempuh dari sekian banyak jalan—dan merupakan salah satu jalan yang dimataku terasa konyol dan buang-buang waktu.

Beberapa dari anak-anak muda tersebut memang mengaku diri mereka terinspirasi ide-ide anarkis.

Sebentar. Anarkis?

Seperti biasa, aku sering gatal apabila mendengar istilah tersebut diucapkan. Pertama, seperti biasa, karena istilah itu digunakan secara salah kaprah oleh media massa dan karenanya juga diamini oleh banyak orang; kedua, karena sepanjang pengetahuanku, mayoritas dari mereka yang mengaku dirinya anarkis tak lebih dari para aktivis sosial-media atau para pemabuk yang mempunyai grup musik punk rock; ketiga, karena—lagi—sepanjang pengetahuanku, dan ini yang paling penting, mereka yang mengaku terinspirasi ide-ide anarkis sebenarnya hanya domba-domba domestik yang mana alam bawah sadar mereka memohon-mohon agar dirinya digembalakan tetapi terlalu gengsi untuk mengakui hal tersebut. Mengapa kukatakan terlalu gengsi? Karena mereka memegang jargon favorit para anarkis: no gods no masters. Dan seperti biasa, jargon adalah sekedar jargon, alat propaganda yang seringkali tidak merefleksikan hidup harian para pencetus di belakangnya. Bisa kukatakan mereka domba domestik berbaju serigala liar.

Berdasar hal-hal tersebut, aku bertanya pada salah satu dari anak-anak muda tersebut, yang paling aktif berbicara, apa sesungguhnya yang ia inginkan.

Aku ingin menjadi seorang peternak biri-biri di New Zealand. Ujarnya mantap.

Seorang kawannya berkomentar, bahwa dengan begitu artinya ia tidak peduli dengan nasib rakyat banyak.

Ia menggeleng. Rakyat banyak apa, tanyanya nyinyir. Seorang egois tulen di tengah kelompok—yang mengaku—sosialis.

Kawannya tertawa-tawa. Aku tertawa-tawa. Aku suka anak tersebut.

Anarkis.

Engkau tahu apa yang selalu kusuka dari orang-orang seperti anak muda tersebut? Orang-orang seperti itu tidak peduli dengan soalan ideologi dan mereka jujur terhadap diri mereka sendiri. Menyebut orang-orang seperti itu Stalinis mungkin tak akan membuat mereka tersinggung. Bajingan yang kadang terasa puritan atau bahkan fasistik terutama saat mempertahankan apa yang mereka anggap benar, tak tersinggung walau disebut selfish. Orang-orang yang memiliki keberanian, setidaknya dalam beberapa konteks berani menyatakan sikap dan pandangannya walaupun hal tersebut akan bertentangan dengan sikap, pandangan dan moralitas orang-orang di sekelilingnya. Orang-orang yang dalam perang tak akan memberikan sejengkalpun posisinya, tak mau meninggalkan sandera, dan bertempur hingga darah penghabisan. Dan terutama, orang-orang seperti itu tidak takut sendirian.

Aku iba pada mereka yang mengaku anarkis tapi tak mampu melanjutkan hidup kala mereka menemui bahwa mengejar hingga akhir apa yang diyakini akan selalu berakhir dengan berjalan seorang diri. Dasar domba domestik.


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee.