#title Anarkis #7.0 #subtitle Dunia adalah Milik Mereka yang Muda #author Kinky Ninja #LISTtitle A #date 2019 #source [[https://hujanawalfebruari.wordpress.com/2019/05/04/anarkis-7-dunia-adalah-milik-mereka-yang-muda/][Catatan Pelipur Lara]] #lang id #pubdate 2026-11-02T01:10:10 #authors Kinky Ninja #publication Catatan Pelipur Lara #publicationdate 2019 #topics Anarkisme #language Indonesia #notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee. The future of the world belongs to the youth of the world, and it is from the youth and not from the old that the fire of life will warm and enlighten the world. It is your privilege to breathe the breath of life into the dry bones of many around you. —Tom Mann Salah satu tanda seseorang telah menua—tidak secara biologis, melainkan secara mental dan psikologis—adalah saat seseorang berkata: “Jamanku dulu semua lebih baik, tidak seperti sekarang.” Kata ‘baik’ di sini bisa digunakan dalam konteks musik, film, perilaku, gaya hidup, pakaian, tren, atau apapun, di mana pada intinya seseorang tersebut merasa bahwa masa muda yang ia laluilah yang terbaik, dengan perbandingan masa sekarang—generasi sekarang—dengan lebih rendah. Kala aku menyadari hal ini, aku menyadari bahwa ternyata aku dikelilingi orang-orang tua, yang ironisnya seringkali berpenampilan amat muda. Namun melihat fenomena seperti itu, perlu ditekankan, bahwa konteks ucapan yang dilontarkan orang seperti yang kusebutkan di atas bukanlah pada soalan selera, melainkan soalan mana yang lebih baik. Apabila berbicara selera, bisa jadi seseorang memang lebih menyukai apa yang pernah dekat dengannya pada masanya; contoh, selera musikku berhenti di kisaran waktu 1980–1990. Aku tidak menganggap musik saat ini lebih buruk, karena toh setiap jenis musik pasti memiliki pendengar dan penggemarnya sendiri. Urusannya hanya soalan suka atau tidak suka, bukan soal mana yang lebih baik. Kembali lagi pada kisah sang orang tua yang menua sebelum waktunya, orang-orang semacam itu berbicara soal mana yang lebih baik—yang tentu saja bagi mereka adalah apa yang mereka pilih. Sekitar 10 tahun ke belakang aku banyak menganggap bahwa anak-anak muda saat ini adalah generasi yang sulit, tidak tahu apa yang mereka sendiri inginkan, dan karenanya aku memilih menghindari mereka. Sama seperti orang-orang seumuranku kebanyakan, mereka melihat anak-anak muda sebagai masalah. Tak lebih. Namun seiring waktu aku justru melihat bahwa ketidaksesuaian itu bukanlah diakibatkan oleh mereka, mereka hanya hidup sebagaimana generasi mereka hidup di masa seperti sekarang ini, melainkan karena aku yang tak pernah berupaya memahami mereka. Seperti juga kebanyakan orangtua, mereka menilai anak-anak muda dengan kacamatanya sendiri, bukan kacamata sang anak muda, atau minimal melepaskan kacamatanya sendiri sebelum memberikan penilaian. Kini aku masih tidak dapat melihat dunia dengan kacamata mereka, dan memang sepertinya hal seperti itu nyaris mustahil karena kacamata tiap individu akan banyak terpengaruh dengan dunia yang membesarkannya, jadi aku rasanya tak perlu berupaya lebih jauh lagi. Hal yang dapat kulakukan adalah membuka kacamataku dan mendengarkan mereka, dengan sesekali melihat pada sejarah panjang perjalanan hidupku sendiri, lagi dan lagi. Merefleksikan perjalanan hidupku sendiri juga teramat penting kala kita melihat mereka yang lain, terutama dari generasi yang berbeda. Apabila aku memutuskan menjalani hidup sebagaimana yang aku kehendaki, bukankah aku dengan demikian juga harus mampu membiarkan mereka menjalani hidup seperti yang mereka kehendaki? Kalau dulu aku merasa orangtuaku tak mampu memahami generasiku, bukankah menjadi sebuah kewajaran saat anak-anak muda saat ini merasakan bahwa generasiku tak lagi dapat memahami mereka? Karena dengan percepatan hidup seperti ini, dunia akan selalu menjadi milik mereka yang muda. Hal tersebut terjadi tidak hanya dalam dunia secara luas, melainkan pada kehidupan keluarga inti, dunia remaja di sekolah, lingkungan pertemanan di luar sekolah, dan juga dunia-dunia mikro lainnya. Di dunia seni rupa Indonesia sebagai contohnya, sebagaimana juga terjadi di banyak segmen sosial lainnya, orang-orang tua nan uzur banyak mengeluh mengenai regenerasi yang sulit sekali terjadi, terutama pada masyarakat umum, agar seni dapat diterima dalam kehidupan mereka. Tentu saja, alasannya adalah kenyataan bahwa memang masyarakat belum terbiasa berurusan dengan soalan estetika, terutama seni visual. Amat jauh apabila dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat di negeri-negeri lain seperti Korea Selatan, Jepang, atau bahkan India dan Meksiko. Namun masalahnya, mereka yang mengeluh ini pula yang belum lama ini meracau soal cara anak-anak muda mengapresiasi karya-karya Yayoi Kusama, yang dipamerkan di MACAN, Jakarta Barat. Anak-anak muda yang dikeluhkan tersebut, dalam jumlah yang luar biasa besar, berbondong-bondong dalam banyak gelombang, datang ke pameran seni untuk melakukan swafoto, mereka tidak peduli dengan konsep atau apapun yang ada di balik karya tersebut. Hal itu yang dikeluhkan oleh para orang tua tersebut. Di mata mereka, anak-anak muda itu seharusnya belajar menelisik apa yang ada di balik sebuah karya, mempelajari soal siapa senimannya, mempelajari konsepnya, tekniknya, membaca naskah kuratorial yang seringkali sengaja dibuat memusingkan entah mengapa, dan segudang keharusan lainnya—intinya bagi mereka: jangan hanya dijadikan obyek swafoto saja. Sementara menurutku, saat anak-anak tersebut menganggap swafoto mereka bernilai karena mereka berdiri di depan benda yang menjadi latar belakang swafoto mereka, bukankah artinya benda tersebut dianggap menarik? Tidak perlulah menyalahkan anak-anak muda tersebut, apalagi mereka memang hadir dari lingkungan sosial yang tak terbiasa berurusan dengan karya seni, dan dunia pendidikan yang memiliki kurikulum seni rupa sejak sekolah dasar namun sama sekali tak mengajarkan anak-anak didiknya bagaimana cara mengapresiasi seni. Aku melihat respon anak-anak muda tersebut sebagai sesuatu yang menarik, apapun bentuk responnya. Mereka tidak layak mendapatkan cemoohan. Komentar negatif dari para orang uzur dunia seni selayaknya masuk liang lahat bersama para pemilik mulut nan sinis tersebut. Karena seperti tadi kubilang, dunia yang bergerak cepat ini adalah milik mereka yang muda. Pada sisi lain, beberapa hari lalu, pada 1 Mei, di Bandung diorganisir sebuah ritual tahunan bagi para buruh manufaktur. Seperti tahun-tahun sebelumnya juga, sekelompok anarkis muda—setidaknya inisiator mereka mengambil inspirasinya dari Black Bloc yang berkembang di berbagai negara lain dari Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Brazil, hingga Jepang dan Australia. Berpakaian hitam, mengenakan tutup muka, membawa bendera hitam atau hitam merah. Ada ratusan orang melibatkan diri—atau tak sengaja terseret menurut beberapa sumber. Seperti biasa juga, taktik mereka memang provokatif—melakukan aksi vandalisme. Tidak perlu peramal untuk mengetahui apa yang terjadi kemudian: ratusan anak-anak muda tersebut diserang oleh polisi, dipukuli, diancam dengan todongan pistol, ditangkapi. Aksi dari kelompok serupa juga terjadi di beberapa kota lain seperti Surabaya, Makassar, Jakarta, Semarang, dan mungkin beberapa kota lain yang tak terpantau. Bandung menarik perhatian karena terjadi penangkapan atas ratusan anak-anak muda. Kabar saat ternyata para partisipan aksi tersebut ternyata adalah anak-anak muda setara SLTP hingga SLTA, memicu perdebatan terutama di dunia maya. Cemoohan datang dari berbagai penjuru, termasuk beberapa kawanku sendiri, dengan ucapan yang nyaris sama: “Anak-anak kecil, buruh juga bukan, seharusnya tak usah ikut-ikutan aksi vandalisme, kasihan orangtuanya selama ini menyekolahkan mereka.” Aku bisa paham melihat respon orang-orang kebanyakan, di tengah masyarakat yang tingkat literasinya tinggi saja mayoritas akan melhat dengan sinis taktik anak-anak muda tersebut, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya rendah, sekian tahun disterilisasi dari apapun yang berbau penentangan terhadap negara, ditambah konservatif pula. Maka karena itu aku justru membiarkan saja mereka di sekitarku yang berkomentar sinis. Aku hanya memberikan beberapa sudut pandang lain pada segelintir saja kawan yang dekat denganku dan kupikir cukup terbuka, secara pribadi. Tidak untuk mengubah sudut pandangnya, melainkan hanya memberikan beberapa referensi yang berbeda. Sebagaimana dapat ditebak, beberapa kawanku tersebut dapat memahami, tidak untuk menyetujui hal yang anak-anak muda tersebut lakukan, namun mereka mengerti. Hal yang membuatku heran justru cemoohan sinis yang terdengar dari beberapa kawanku di lingkaran yang konon anti-konservatif: lingkaran subkultur punk. Mayoritas kawan-kawan lamaku dari subkultur tersebut kini telah menikah dan memiliki anak—dengan kata lain, mereka telah menjadi orangtua. Tak masalah bagiku, toh aku juga memiliki seorang anak yang kini telah tumbuh menjadi seorang remaja. Hal yang menjadi masalah adalah saat ada dari mereka yang kini telah menjadi tua secara mental: turut berkomentar sinis terhadap anak-anak muda yang ditangkapi tersebut, terutama pada taktik vandal yang mereka lakukan. Di titik tersebut aku tak paham. Pada tahun baru 1995 di Bandung, sekitar seratusan anak-anak muda dari subkultur punk, dalam keadaan mabuk, frustrasi terhadap lingkungannya, masa depannya, dan tuntutan orangtua-orangtua mereka yang seringkali tak mengakomodir keinginan dan harapan mereka, mulai melakukan perusakan. Pemicu awalnya tak jelas lagi, namun hal yang terjadi kemudian tereskalasi dengan cepat, mobil-mobil ditendangi, dipukuli dengan apapun, orang-orang sekitar dimaki-maki, apapun diserang. Semua yang ada di sekitar dianggap target yang layak diserang dan dihancurkan. Akhirnya juga mudah ditebak: sekitar 80 orang ditangkap polisi. Hal yang menjadi landasan keherananku adalah, bagaimana mungkin seseorang yang dulu berada di lingkungan subkultur yang melakukan tindak-tindak vandal—malah tanpa target yang terarah—kini melihat dengan sinis apa yang anak-anak muda di Bandung lakukan pada 1 Mei kemarin. Anak-anak muda kemarin memiliki target yang dapat dijustifikasi, jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh generasi kami pada tahun baru 1995 yang cenderung nihilistik, dan mereka yang terlibat dulu kini merasa diri lebih baik? Yang benar saja. Mengherankan memang. Oh, bukan. Bukan. Mengerikan, lebih tepatnya. Teramat sangat mengerikan saat aku mendapati bagaimana mereka yang dulu begitu muda, kini telah mereplika perilaku orangtua-orangtua kami dulu. Menjadi konservatif, tertutup, dan merasa dirinya lebih baik dibandingkan generasi setelahnya, perilaku khas orang-orang tua, yang mana kehidupannya begitu monoton dan menyedihkan. Semakin aku menemukan orang-orang semacam itu, semakin aku yakin, bahwa dunia ini seharusnya memang menjadi milik mereka yang muda. Kaum muda seperti para anarkis muda yang kini banyak dicemooh dan mendapat perhatian khusus dari Tito Karnavian tersebut. Aku tidak tahu siapa mereka, tidak sepenuhnya menyetujui taktik dan pola koordinasi mereka, namun aku, yang hanya berdiam diri sebagai penonton atas aksi mereka, menaruh hormat pada mereka. Sehormat-hormatnya, sebaik-baiknya.