Pada 1921, hanya empat tahun dari kemenangan Lenin bersama gerombolan Bolsheviknya di Rusia, para penduduk, pelaut, dan tentara di sebuah kota pelabuhan yang tak jauh dari Petrograd, mengangkat senjata melawan Bolshevik. Mereka memprotes kebjikan ekonomi baru yang didiktekan oleh pucuk pimpinan Bolshevik karena berakibat pada krisis parah bagi penduduk Kronstadt. Para pemberontak tersebut sebagian besarnya adalah mereka yang sebelumnya justru merupakan individu-individu yang berani, setia dan berperan besar memuluskan kemenangan Bolshevik. Individu-individu yang tak bernama dalam sejarah, yang telah berkorban nyawa dan darah di atas kapal Aurora, yang pada 25 Oktober 1917 membombardir Istana Musim Dingin, yang merupakan titik vital keberhasilan aksi perebutan kekuasaan dari Tsar. Hanya dalam hitungan minggu, pemberontakan Kronstadt tersebut dipadamkan oleh Tentara Merah yang secara ironis dipimpin oleh Trotsky atas restu Lenin, dua tokoh yang hanya beberapa tahun sebelumnya, dibela mati-matian oleh para penduduk Kronstadt. Sejak hari pembantaian Kronstadt hingga kini, kaum Kiri di mana-mana, termasuk di Indonesia, tetap bersikukuh berkata bahwa para pemberontak tersebut disusupi Tentara Putih—kelompok kontra-revolusioner yang anti-Bolshevik dan didanai oleh negara-negara industrialis Barat. Bagi mereka, para pemberontak itu tak lebih dari sekadar boneka korban kepentingan pihak yang ingin menggulingkan kekuasaan Lenin, bukan pejuang yang memprotes kebijakan Bolshevik yang mengorbankan kehidupan harian para penduduk Kronstadt, tempat tinggal mereka.
Dalam rentang waktu 1979 – 1989, pasukan Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Semenjak awal invasi, penduduk Afghanistan mengangkat senjata menentang pasukan Uni Soviet, para pejuang yang lantas dikenal sebagai mujahidin. Invasi tersebut terjadi kala Perang Dingin masih berlangsung, di mana negara adidaya rival utama Uni Soviet, Amerika Serikat, mengirimkan banyak bantuan, pelatihan, senjata, dan lain sebagainya kepada para mujahid—termasuk mereka yang di kemudian hari bergabung dengan Al Qaida—demi membendung kekuasaan Uni Soviet, blok Timur, blok Komunis. Uni Soviet memang berhasil dipukul mundur dan meninggalkan Afghanistan, namun pasca periode tersebut hingga di kemudian hari, banyak para ahli Hubungan Internasional menganggap bahwa kebangkitan para mujahid dianggap sebagai perang proksi, di mana para mujahid adalah boneka Amerika Serikat. Bukan lagi pejuang yang mempertahankan tanahnya dari invasi Uni Soviet.
Bertahun-tahun kemudian, dalam rentang waktu 2011 – 2019, ISIS menguasai sejumlah besar area di kawasan utara Suriah yang banyak dihuni oleh kaum Kurdi, menyebarkan kehancuran, perbudakan, perkosaan, penjagalan. Hal tersebut memaksa kaum Kurdi untuk memerangi ISIS. Mengetahui bahwa area tersebut sebagai lahan minyak, Amerika Serikat mengirim banyak bantuan senjata dan pelatihan militer kepada kaum Kurdi tersebut, dan menjadikan mereka prajurit tempur terbaik dan berdedikasi dalam perang melawan ISIS, membebaskan area Suriah Utara. Di kemudian hari, berkat militansi tinggi para milisi Kurdi, ISIS berhasil dikalahkan, seluruh area utara direbut dan berada di bawah kekuasaan para milisi Kurdi yang lantas membentuk pemerintahan otonomnya sendiri. Pada 2019, Amerika Serikat memberi lampu hijau pada Turki—nemesis bagi kaum Kurdi—untuk melenyapkan kaum Kurdi dari kawasan utara Suriah, dengan milisi-milisi yang ironisnya didukung oleh para mantan pejuang ISIS, demi mengamankan lahan minyak yang sedari dulu menjadi incaran. Pada hari-hari berikutnya, kala kaum Kurdi yang terkhianati tersebut meminta bantuan internasional untuk menghentikan serangan Turki, para ahli membuang muka, menganggap bahwa kaum Kurdi tersebut hanyalah boneka Amerika Serikat. Bukan pejuang yang sedari awal mempertahankan teritori dan kaumnya.
Sembilan tahun lalu, Muhamad Bouazizi, membakar dirinya sendiri sebagai protes terhadap kekerasan polisi. Aksi tersebut memicu gejolak sosial di antara para penduduk yang mayoritas sudah muak terhadap kekerasan polisi yang seakan didiamkan oleh negara. Api yang membakar dirinya, memantik api lebih besar yang membakar apapun dan menjadi sebuah gelombang kebangkitan popular di Tunisia dan Mesir, yang lantas merembet ke negara-negara lain di sekitarnya. Kita mengenalnya sebagai Musim Semi Arab. Di sini para ahli Hubungan Internasional, melacak dan menemukan bahwa ada organisasi besar yang didanai Amerika Serikat, memberi banyak bantuan kepada para pemimpin aktivis prodemokrasi selama aksi-aksi tersebut berlangsung. Berdasarkan temuan tersebut, bagi mereka aksi-aksi tersebut jadi tak lebih dari aksi yang diatur dari Langley, Amerika Serikat, bukan produk dari ketidakpuasan massal. Para penduduk itu dianggap hanya boneka Amerika, tak lebih. Muhamad Bouazizi hanya sekedar pion yang mati sia-sia.
Pada 2014, Ukraina membara akibat kebangkitan popular yang muak dengan kondisi sosial serta perilaku pemerintah. Akar masalahnya memang rumit, apalagi di tengah kondisi sosial yang buruk, ditambah konfrontasi antara kubu sayap Kanan dan Kiri, di mana pada akhirnya memang kekuatan fasis berhasil menghimpun kekuatan terbesar. Tidak terlalu lama memang, namun cukup memiliki daya ledak yang dahsyat. Kembali, para ahli menemukan asal muasal aliran dana besar yang berhulu dari organisasi-organisasi Amerika kepada para pimpinan aksi massa. Kembali juga, ketidakpuasan sosial yang menumpuk sekian lama dalam hati masyarakat Ukraina dianggap hampa, mereka tak lebih dari sekedar boneka Amerika.
Pada 2019, Hong Kong meledak. Merupakan ujung dari sebuah rentetan panjang ketidakpuasan sosial yang menghinggapi mayoritas penduduk Hong Kong, isu kebijakan ekstradisi pro-Beijing seakan menjadi titik puncak kemuakan yang lantas tertuang dalam bentuk demonstrasi-demonstrasi massal yang awalnya damai. Pemerintah, seperti biasa, menanggapinya dengan melepaskan gerombolan preman yang bertindak seperti anjing rabies oleh polisi, tentu dengan didampingi polisi, menyerang para demonstran. Berlarut-larut menjadi bulan-bulanan pemerintah, aksi protes mulai bertransformasi menjadi aksi-aksi kekerasan akibat frustrasi. Pada periode akhir kebangkitan, di tengah aksi-aksi yang penuh kekerasan tersebut, ditemukan para tokoh ekstrimis sayap Kanan Ukraina sedang berfoto bersama anak-anak muda terakhir yang bertahan di universitas di Hong Kong. Akibatnya, tudingan bahwa para demonstran Hong Kong telah disusupi sayap kanan Ukraina mulai beredar. Lantas, lagi-lagi, para ahli menemukan bahwa sekian aktivis Hong Kong mendapat dana dan pelatihan dari organisasi yang didukung Amerika, yang juga sebelumnya ada di balik kekuatan sayap Kanan di Ukraina. Di tengah perang dagang antara Amerika versus Cina yang semakin meruncing, dengan mudah semua aspirasi ribuan penduduk Hong Kong menguap begitu saja dan dianggap tak lebih sekadar produk hasil infiltrasi Amerika demi mengalahkan Cina. Para penduduk Hong Kong? Ah, mereka hanya boneka.
Di negeri ini, di sudut timur Indonesia, Papua Barat tak berhenti bergolak sejak Pepera. Entah sudah berapa banyak korban jiwa hingga kini dan tak pernah ada pengusutan yang serius terhadap semua kasus tersebut. Tak ada yang peduli, mereka yang peduli memilih diam, karena mereka yang mempertanyakan akan dengan mudah dianggap separatis—sebuah dosa besar di tengah sebuah negara yang menyatakan bahwa NKRI adalah harga mati—mempertanyakan NKRI, kematian adalah jawabannya. Melupakan begitu saja soal awal mula pergolakan dan menolak mendengar keluhan para penduduk Papua, mereka yang mengaku ahli politik, menyoroti bahwa ada kekuatan sisa-sisa Orde Baru yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah, bertautan dengan kepentingan-kepentingan internasional—antara lain, lagi-lagi, Amerika dengan Freeportnya. Mereka, para penduduk Papua, yang mempertanyakan siapa yang telah membunuh saudara-saudari, orangtua mereka, kawan-kawan mereka sejak dulu, tak pernah dijawab dengan baik. Mereka dipaksa bungkam bersamaan dengan dikirimnya jalan raya, beton, dan semen—seperti yang dulu dilakukan oleh Daendels dan pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan Jalan Raya Posnya. Para ahli lantas berpura-pura heran, karena setelah bantuan pembangunan diterima, mengapa orang-orang Papua itu masih marah? Sungguh tak tahu terima kasih, menurut mereka. Pada akhirnya, sama, para penduduk Papua, dianggap hanya sekadar boneka dari kepentingan asing. Orang-orang bodoh yang dimanfaatkan untuk menggerogoti Indonesia.
Bagi para ahli, semua gejolak sosial selalu ditunggangi kepentingan asing. Semua kebangkitan popular tak lebih dari arena adu kepentingan ekonomi. Mereka yang mati dan berdarah-darah di arena, tak lebih dari pion-pion di atas papan catur. Padahal dengan intelektualitas setingkat mereka, seharusnya mereka paham benar, bahwa tak akan pernah ada kebangkitan sosial tanpa ketidakpuasan massa, tak peduli siapa pun yang bermain dan memanfaatkan kemarahan tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Keinginan per individu, mimpi per orang, sekadar hasrat untuk menentukan kehidupan mereka sendiri, sekadar hasrat untuk merasa aman dan bebas dari tekanan polisi dan militer, sekadar hasrat untuk memiliki pendapat sendiri, semua tak ada artinya di mata para ahli. Individu tak pernah menjadi sesuatu yang penting. Karena individu hanyalah pion, di mana suara serta kehidupan pion tak pernah dianggap penting, kecuali lima tahun sekali dalam sebuah kotak pemungutan suara.
Lantas para ahli tersebut tergagap-gagap kala beberapa kali melihat anak-anak muda yang tak memiliki agenda politik, tak mewakili siapapun selain dirinya sendiri, bangkit memenuhi jalanan, beberapanya merusak dan membakar, karena mereka tak pernah lagi tahu bagaimana dan kepada siapa harus berbicara. Para ahli tersebut bukannya mendengarkan, mereka malah semakin sibuk mencari siapa aktor intelektual di balik setiap aksi-aksi tersebut.
Perilaku para ahli di sekitar kita, tergambar pada tiga kasus di bawah ini:
(1) Dina Y. Sulaeman yang memfokuskan diri pada kajian-kajian ekonomi-sosial-politik Timur Tengah kala membahas soal Kurdi dan Rojava, dalam artikelnya yang berjudul “Rojava, Kurdi, dan Anarkisme” menulis pengalamannya berdiskusi dengan sekelompok anarkis muda di Jakarta. Dina berkata: “[…] tapi belum ketemu ‘barang’nya (pertanyaan saya ini belum terjawab dengan memuaskan: Jadi ‘barang’ yang kalian perjuangkan di Suriah itu bentuknya kayak apa?)” kala membahas bentuk masyarakat di Rojava. Karena ketidaktahuan, Dina mengutip konsepsi anarkisme yang ditulis oleh Bung Karno pada 1932, seakan anarkisme tak pernah berkembang sejak tahun tersebut. Padahal hanya empat tahun setelah tulisan Bung Karno tersebut terbit, pertanyaan Dina soal ‘barang’nya seperti apa, terjawab sudah, termanifestasikan dalam sebuah eksperimentasi sosial yang meluas di Barcelona dan Catalunya, di tengah perang sipil melawan fasisme Franco. Kasus ini menjelaskan juga hal lain selain ketidaktahuan Dina, yaita bagaimana para anarkis yang berdiskusi dengan Dina tak lebih dari gerombolan pelawak. Betapa tidak, sesulit itukah menjelaskan ‘barang’nya seperti apa pada Dina saat membahas Rojava? Bukankah Rojava adalah sebuah eksperimentasi yang sedikit banyak dapat dijelaskan melalui konsep munisipalisme Murray Bookchin? Dalam kasus ini, seorang yang mengaku tak paham cara berpikir anarkisme, malah diajak berdiskusi oleh sekelompok pelawak.
Pada akhirnya, tetap, Dina memilih untuk tidak membahas kondisi kaum Kurdi. Ia hanya memberi respon yang tanggung, menurutnya, kaum Kurdi bisa saja menuntut kemerdekaannya, hanya sebaiknya tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan menolak bantuan dari Amerika Serikat. Ia sama sekali tidak membahas, mengapa kaum Kurdi tak henti-hentinya memberontak, di Turki, Irak, dan juga Suriah. Hanya karena iseng dan senang memberontak saja kah? Seperti tuduhan Eko Kuntadhi yang, perilakunya mirip dengan Denny Siregar, dengan enteng menuding bahwa anak-anak muda terakhir di Hong Kong yang masih berdiri melawan Beijing melakukannya karena keasyikan demo? Dina, menuding hoax bertebaran di internet dan menyerukan agar kita semua tak langsung mempercayai berita apapun di internet, namun secara ironis ia malah dengan mudah mengadopsi tulisan seorang Trotskis, yang notabene secara ideologis anti terhadap apapun yang berbau otonom, sebagai panduan kebenaran dalam menilai Rojava yang sedang berupaya membangun otonomi. Apakah ia juga mendengarkan suara dari kaum Kurdi yang dibasmi seperti hama oleh Ankara, atau setidaknya berdiskusi dengan Mazloum Abdi sebelum ia dengan mudah menuding SDF sebagai tangan kanan Amerika Serikat? Melakukan konfirmasi, seperti yang selalu ia serukan selama ini?
(2) Harian Kompas, yang konon litbangnya terkenal paling maju di antara media massa lain, pada 2 Desember 2019, menerbitkan sebuah tulisan bertajuk “Terorisme, Anarkisme, dan Deradikalisasi”. Sedikit kutipan dalam tulisan tersebut sebagai berikut: “[…] sementara kelompok anarkisme tak semua anti terhadap NKRI dan Pancasila walapun sebagian dari mereka ada yang berjuang secara non-kekerasan untuk mengganti NKRI dengan sistem pemerintahan khilafah.” Aku tidak akan mengomentari lebih jauh seperti aku mengomentari Dina Sulaeman, karena aku tidak mengenal sang penulis dan aku masih tidak percaya bahwa sebagian besar para jurnalis di Indonesia sudah berhasil memahami anarkisme, termasuk editornya tentu saja.
(3) Terakhir dan yang paling komedik, cuitan Dedek Uki, juru bicara PSI, partai yang oleh Denny Siregar digadang-gadang sebagai partainya anak-anak muda yang pintar dan berani. Sang juru bicara ini konon bersekolah di Stockholm University dan Victoria University of Wellington. Pada 16 Desember 2019 ia mencuit, “Coba sebutkan nation state yang berhasil memakai ideologi politik anarkisme.” Aku tak perlu mengomentari apapun soal pernyataan oksimoron di atas karena terlalu moronik.
Contoh pertama seorang pakar Hubungan Internasional yang banyak menyoroti Timur Tengah; yang kedua harian Kompas, sebuah media berskala nasional; yang ketiga, juru bicara partai politik yang konon berasal dan mewakili suara anak-anak muda beserta generasi milenial. Dari beberapa contoh tersebut, ada satu hal yang akhirnya semakin jelas soal mengapa begitu sulit bagi mereka untuk dapat paham soal apa itu anarkisme.
Karena mereka yang terbiasa meniadakan individu dalam sudut pandang mereka—kecuali individu tersebut orang ternama. Melihat apapun dari kacamata makro tanpa melirik mikro, tentu akan menemui kesulitan saat berupaya memahami anarkisme yang sebagian besarnya justru menitikberatkan pada kekuatan dan peran individu. Bukan dari atas, melainkan dari bawah.
Sesuatu yang sulit dilakukan bahkan oleh kaum Kiri yang melalui teori-teorinya mendaku bahwa perubahan dunia hanya akan dimotori oleh proletariat, bukan yang lain. Kaum yang pada analisa dan prakteknya secara ironis malah sama sekali tak percaya pada proletariat dan memilih mendukung kekuatan kelas menengah seperti Lenin. Karena proletariat belum sadar, ujar mereka. Ujaran yang menjadi pembenaran untuk aksi-aksi pembantaian proletariat segera setelah mereka mendapat kursi kekuasaan.
Bagi para ahli dan profesional, tak peduli mereka sekolah di mana, tak penting posisi mereka sebagai ahli apapun, selama mereka tak bersedia untuk membayangkan, menempatkan, dirinya pada posisi sang individu yang terlibat dan berdarah di arena, yang selama ini dianggap sebagai sekadar pion tak bernilai hanya karena namanya tak pernah tercantum dalam catatan sejarah, selama itu pula mereka tak akan pernah dapat paham. Dan melihat kualitas berpikir para ahli tersebut, seperti Dina Sulaeman contohnya, apakah orang dengan kualitas intelektual seperti beliau sebetulnya tak mampu melihat dari perspektif yang berbeda? Aku tidak yakin. Aku lebih yakin bahwa beliau bukan tidak mampu, beliau hanya tidak mau. Sama seperti kebanyakan lainnya. Atau mungkin juga, mereka hanyalah produk dari lingkungan yang membesarkan dan membentuk mereka. Bukan sepenuhnya kesalahan mereka memang.
Berdasar hal-hal tersebut, dapat kukatakan bahwa bagi kalian yang berusaha keras memperluas cakrawala mereka, ketahuilah bahwa kalian hanya membuang waktu. Kecuali kalian pelawak seperti para anarkis yang kukisahkan di atas.