#title Kritikus Stirner
#author Max Stirner
#LISTtitle K
#date 1845
#source [[https://archive.org/details/max-stirner-kritikus-stirner][Archipelago Anarchist Archive]]
#lang id
#pubdate 2026-10-26T18:12:28
#authors Max Stirner
#translator Rafqi Sadikin
#editor Rifki Syarani Fachry
#publication Penerbit Ramu; Public Enemy Books; Unknown People
#publicationdate 2021; 2022
#language Indonesia
#topics Anarkisme-Individualis
#notes Diterjemahkan oleh **Rafqi Sadikin**. Riwayat publikasi: sebagai buku—"Kritikus Stirner" oleh **Public Enemy Books** (cetakan 1, 2021) dan **Penerbit Ramu** (cetakan 2, 2022); sebagai zine/pamflet—"Kritikus Stirner" oleh **Unknown People** (digital, 2021). Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ali Moris Najam (**Archipelago Anarchist Archive**).
Tiga tulisan kesohor berikut ini adalah tulisan yang melawan The Unique and Its Property:
1. Kritik Szeliga dalam “Nothern German Gazzete” edisi Maret,
2. “Pada The Essence of Chiristanity dalam Kaitannya dengan The Unique and Its Property” dalam volume terbaru yang dikeluarkan Wigand's Duarterly Review ,
3. Pamflet “The Last Philosophers”-nya Hess.
Szeliga menampilkan dirinya sebagai kritikus, sedang Hess sebagai sosialis, dan si penulis dari nomor dua itu namanya Feuerbach.
Kiranya tanggapan singkat perlu, kalaulah tidak kenal ketiga pengkritik di atas, ya setidaknya untuk yang sudah baca buku-buku mereka lah ya. Lebih-lebih untuk pembaca buku ini.
Ketiga penantang ini sepakat jikalau istilah yang paling menarik dari buku Stirner adalah si “unik” dan si “egois”. Mari kita bahas satu-satu apa yang mereka bahas soal dua istilah ini dan apa yang mereka pikirkan soal istilah itu.
Setelah pembedahannya yang amat-sangat serius, Szeliga menggagas bahwa si unik sebagai “yang akan menjadi” dan yang kemudian bisa kita kenal sebagai “manusia dewasa” (hal. 4: “yang unik tak selalu unik, tidak pula selalu pria dewasa, dahulunya ia juga seorang bayi yang kemudian beranjak menjadi kanak-kanak”), dari gagasan itu Szeliga terang menempatkan dirinya sebagai “individu dari sejarah dunia”, setelah definisi soal hantu-hantu (yang mana merupakan “roh yang kekurangan pikiran adalah raga, dan tubuh murni adalah kealpaan atas pikiran”).
Szeliga kemudian sampai kepada “Bagi seorang kritikus yang cara pandangnya bukan pada bagaimana sejarah universal membenarkan ide-ide satu sama lain, Stirner tak melihatnya demikian, tetapi baginya yang terjadi adalah pemikiran kreatiflah yang terus menerus berkembang. Bagi seorang kritikus, yang unik itu bukanlah hantu, melainkan tindakan kreatif secara sadar yang mana akan muncul pada waktunya, pada waktu kita, dan memenuhi tugasnya yang telah ditentukan.”, tetapi tindakan ini tak lain hanya sebuah “pikiran”, sebuah “prinsip” dan sebuah “buku”.
Beda lagi dengan Feuerbach. Ketika dia berurusan dengan si unik, dia membatasinya dengan istilah “individu unik” yang terpilih dari sekadar kelas atau spesies tertentu dan “berlawanan sebagai unit yang sakral dan tak dapat diganggu gugat oleh individu lain”. Dalam memilih dan melawan hal ini, dia kemudian meneruskan “Esensi dari agama akan selalu ada. Si pria unik ini, si yang tak tertandingi ini, si Yesus Kristus ini secara eksklusif telah menjadi Tuhan. Bukan yang lainnya”. Dia berkesimpulan bahwa “Kejarlah si unik ini dalam surga di kepalamu, sekaligus usirlah ia dari alam dunia.”
Hess menyinggung keras si unik. Dia mengidentifikasi bahwa Stirner adalah si unik itu sendiri. Kemudian Hess berkata tentang apa dan siapa si unik itu, ia menuturkan (bahwa si unik) “Ialah yang tak punya otak, tak punya perasaan. Ia berilusi, pada kenyataannya, dia bukan hanya kekurangan ruh dan semangat, tapi juga kekurangan raganya sendiri. Si unik ini tak lebih dari sekadar imajinasi Stirner saja.” Pada akhirnya dia berkesimpulan dan memberikan penilaian kepada Stirner, bahwa “yang unik itu bacot Stirner saja”.
Dari pendapat-pendapat di atas, si unik ini muncul sebagai hantu atas segala hantu, sebagai individu suci yang mesti dikejar dari dalam kepalanya sendiri, juga sebagai pembual yang berwajah pucat.
Ketika Stirner menamai si unik, dia juga bilang bahwa “tak ada nama yang bisa membahasakannya”. Dia mengutarakan sebuah nama ketika membahasakan si unik, diapun menambahkan bahwa unik hanyalah sebuah kata, sebuah istilah. Ada sesuatu yang di luar dari yang dapat dibahasakannya, seperti contoh, ketika seseorang memanggilmu Ludwig, dia sebenarnya tidak merujuk kepada Ludwig sebagai sebuah nama, tapi ia merujuk kepada dirimu, seseorang yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Jadi, apa yang dimaksud oleh Stirner bukanlah sekadar kata, pikiran atau konsep semata. Apa yang terlontar dari kata-katanya bukanlah arti yang sebenarnya, apa yang sebenarnya dia maksud tak bisa dikatakan.
Seorang yang sangat bersemangat mengatakan bahwa manusia adalah “aktual, individual” ketika berbicara soal manusia: mungkinkah hal tersebut bisa dilakukan selama seseorang tadi ingin mengekspresikan satu manusia ini melalui sesuatu yang universal, misal dengan sebuah konsep? Untuk menunjuk si manusia ini, mestinya seseorang tadi bukan mengambil sumber rujukan dari sifatnya, melainkan lewat yang sebenarnya, lewat sebuah nama yang bisa menjadi penyebutan atas dirinya, cara pandangnya adalah, yang tak terkatakan adalah hal utamanya, tapi sebagian dari dirinya.
Si dia (orang yang penuh semangat tadi) teryakinkan dengan “individualitas komplit, nyata” yang sebenarnya tak bebas dari relasi sebagai spesies, bukan sebagai “ruh” yang mana merupakan kepastian, alias ketidakpastian yang tidak tuntas. Ketidakpastian ini hanya bisa tercapai dengan si unik, karena ia diposisikan sebagai makhluk unik yang spesifik. Karena kalau dia diserap sebagai konsep dia hanyalah sebuah ekspresi, hal tersebut muncul sebagai kekosongan menyeluruh yang merujuk pada yang di luar dirinya atau sesuatu yang di atas konsep.
Jika ada yang membakukan-nya sebagai konsep, maka dia yang mencoba itu mesti memberikannya sebuah definisi, dengan demikian tak bisa dipungkiri akan ada sesuatu yang asing daripada yang berusaha dimaksudkan. Hal tersebut akan menjadi pembeda dari konsep-konsep yang sudah dipertimbangkan. Sebagai contoh, “sebagai individual komplit semata” bukankah bisa dengan amat mudah dikatakan bahwa hal tersebut sebagai sesuatu yang nonsense? Tapi, bisakah kau mendefinisikan dirimu sendiri? Apakah dirimu sendiri adalah sebuah konsep?
“Manusia” sebagai sikap ataupun konsep tak boleh menyusahkan-mu, dirimu punya isi konseptual atas dirinya sendiri, di dalamnya terkatakan apa itu manusia dan apa spesies manusia itu. Karena di dunia yang seperti begini, sangat mudah menjadi yang terdefinisikan, sehingga dirimu, alias kau keluar dari petak. Tentu saja kau sebagai manusia tetap punya peran dalam isi konsep manusia, tapi kau tak bisa memilikinya sebagaimana dirimu, semaumu.
Si unik itu tak punya isi, alias ia adalah ketidakpastian yang sejati, hanya melalui dirimulah dia jadi punya isi dan kejelasan. Tak ada perkembangan konseptual dari si unik ini, tak ada yang bisa membikin rangka sistematika falsafah yang nanti bakal jadi “prinsipnya”, yang mana satu manusia dengan manusia lain bercengkrama, atau satu manusia ke pikiran lain, atau manusia ke aku. Ialah akhir dari segala perkembangan konseptual.
Siapa pun yang menganggapnya sebagai sebuah prinsip, yang berpikir bahwa ia bisa diperlakukan secara teoritis atau filosofis atau secara saksama menyorotnya dari jarak dekat, maka boleh dikata itu adalah kesia-siaan. Sang makhluk hidup, pikiran dan si aku hanyalah konsepkonsep yang tidak tetap, mereka menerima ketetapannya lewat konsep-konsep lain: lewat perkembangan konseptual. Di lain sisi, si unik adalah konsep yang tak tetap dan tak bisa diteguhkan oleh konsep-konsep lain atau yang datang dari “isi/gagasan terdekat”, dalam arti, si unik bukanlah “prinsip dari serangkaian konsep” melainkan hanya kata atau konsep sebagaimana kata dan konsep sepenuhnya yang tak bisa dekat dengan perkembangan-perkembangan apapun. Perkembangan dari si unik adalah perkembangan dirimu dan perkembangan diriku, ialah perkembangan yang sepenuhnya unik, karena perkembanganmu tidak semuanya sama dengan perkembanganku. Ia hanyalah sebuah konsep, dalam arti ialah perkembangan itu sendiri. Walaupun di sisi lain, perkembanganmu hanyalah pembeda yang unik atas apa yang kumiliki.
Sebab kau adalah sari dari si unik, jadi tak ada lagi yang bisa digali tentang isi spesifik terkait si unik: isi yang konseptual.
Apa yang tak bisa kau bahasakan lewat kata unik, hanyalah pembaptisan dirimu dalam sebuah nama lain, yaitu Ludwig. Suatu hal yang tidak bermaksud untuk membahasakan siapa dirimu sebenarnya.
Dengan si unik, hukum pikiran absolut yang bertengger pada setiap rahim mana pun tentu dapat musnah. Seperti halnya konsep atas dunia yang hilang ketika tak digunakan lagi namanya: nama adalah kekosongan nama untuk memberi sudut pandang atas isi.
Namun konsep itu tak selalu benar di mata para pelawan Stirner yang baik dan budiman ini, mereka menampilkan si unik hanya sebagai “sesuatu yang begitu saja sudah ada di dunia yang egoistik ini”. Padahal, ketelanjangan dan kepolosannya itu ialah “keterusterangannya”. (lihat, Szeliga hal. 34) Jadi, kepolosan atas konsep dan ide atas unik sudah jelas, dan kesombongan dari tandingan argumen atas inipun sudah klir. Sudah jelaslah bahwa “ungkapan” teragung itu hanyalah sebuah kata yang sesak akan makna. Sedang si unik itu jujur dan jelas. Ialah dasar dari dunia kata-kata kita, yang mana “awal mulanya ialah kata”.
Si unik ini adalah ekspresi atas segala kejujuran, keterusterangan, ia sadar bahwa ia tak mengekspresikan apa-apa. Manusia, ruh, individual sejati, sikap dll. Adalah ekspresi-ekspresi dan sikap yang menyesaki isi, ungkapan dengan gagasan paling kaya, dibanding seluruh ungkapan yang suci dan sakral, sedang si unik itu kosong, dan ungkapan yang umum.
Kritik-kritik mencurigai sesuatu soal si unik ini sebab mereka memperlakukannya sebagaimana ungkapan yang kita kenal. Mereka memperlakukannya amat sakral dan suci, dan memperdebatkannya. Padahal ia itu tak lain hanya sebagai ungkapan yang umum, dan aktual, yang semayam dalam ungkapan, yang tak bisa disakralkan seperti demikian.
Si unik ialah kata, dan semua orang harus selalu bisa berpikir ketika ia menggunakan suatu kata, sehingga kata itu memuat isi. Namun, si unik ini adalah kata yang bebas pikir, ia tak memuat isi. Lantas, apa isi yang dimuatnya kalau si unik ini bebas pikir? Ia memuat isi yang tak bisa diulang (tak bisa disebut dua kali) dan ia tak bisa diekspresikan. Kalaupun ia bisa diungkapkan untuk kedua kalinya, maka yang akan muncul bukanlah si unik yang dimaksud itu, tapi lebih ke ekspresi atas dirinya.
Karena isi dari si unik itu bukanlah muatan pikiran, oleh sebab itu pulalah si unik tak bisa dipikirkan atau dibahasakan. Nah, karena ia merupakan sesuatu yang tak bisa dikatakan, karena itu pulalah ia adalah ungkapan yang sempurna, yang bahkan merupakan ungkapan.
Ketika tak ada yang menamaimu, di sanalah kau sebenar-benarnya ada. Ketika ada sesuatu yang menamaimu, di sanalah kau dibendakan (sebagai; manusia, ruh, kaum nasrani, dll.) Si unik tak akan dibahasakan sebagai apaapa, karena ia sudah “berkonsep” lebih dahulu. Kau adalah kau, tak ada yang lain, unik adalah dirimu sendiri. Demikianlah, kau tak punya sikap sebenarnya, di mana kau adalah yang tanpa kepastian, hukum dll.
Dugaan-dugaan, prediksi-prediksi, atau spekulasi selalu mengarah ke pencarian sikap yang sangat universal sehingga semua orang bisa setuju dengan sikap itu. Padahal contoh tertentu tak juga mesti jadi contoh wajib yang mesti dituruti oleh setiap orang. Oleh karena itu sikap yang seharusnya tidak mesti dicontohkan seperti dia harus seperti ini, tapi sikap mesti berdasar dari dirinya sendiri. Kata manusia juga mengekspresikan seperti apa semua orang itu. Seperti apa ini adalah ekspresi universal untuk semuanya yang mana juga tidak mengekpresikan semua itu. Apakah kau terdefinisikan ketika seseorang memanggilmu manusia? Apakah dia mengekspresikan siapa kau seutuhnya? Apakah sifat manusia, dan apakah dengan mengerjakan setiap kewajibannya itu dapat mengekspresikan subjek secara utuh? Atau malah sebaliknya, malah membuat subjek jauh dari subjektivitasnya? Yang membuat subjek mengatakan yang bukan dirinya?
Oleh karena itulah, jika sikap tertentu memuat semua orang di dalamnya, maka semua orang mestilah menjadi subjek. Bukan hanya sebagai apa dirinya (manusia), tapi sebagai siapa dirinya.
Namun bagaimana caranya kau hadir sebagai dirimu sendiri, kalau kau sebenarnya tak menghadirinya? Apakah kau doppelganger dari dirimu yang lain, ataukah kau cuman ini; cuman kamu yang pernah ada di dunia? Kau tak ada di mana-mana kecuali di dalam dirimu, kau tak akan ada di dunia untuk kedua kalinya, kaulah sang unik. Kau hanya bisa muncul jadi kau sebagai tubuh, ada badanmu di sana.
Kau adalah si unik, apakah ini sebuah kalimat? Dalam kalimat “kau adalah manusia” kau ada bukan sebagai siapa kau yang sebenarnya, sedang yang ada di kalimat kau adalah si unik tak lain berarti kau adalah kau, sebuah kalimat yang divonis sia-sia atau nonsense oleh logika, sebab kalimat itu tak melandaskan dirinya kepada apa-apa, tidak mengatakan apa-apa, hanya kosong belaka, sebuah kalimat yang bukan kalimat. (dalam buku halaman 232, kalimat absurd ditandai sebagai “tak terbatas” atau tidak jelas, setelah halaman ini dan berikutnya, kalimat itu akan kita maknai sebagai kalimat yang “indentikal”)
Apa yang dihinakan oleh para logikawan itu tak lain juga merupakan logika dan logika berbatas bentuk semata, di luar semua itu, secara kalimat, penghinaan itu memang logis, tapi itulah kematian logika di dalam kalimat.
Si unik mestilah menjadi yang terakhir dari segala ekspresi-ekspresi palsu dan mati tentang aku dan kau, ekspresi yang menempatkan kita sebagai kesunyian dan kebisuan yang terus menerus.
Wahai kau yang unik! Muatan pikir memang ada di dalam kata ini, tapi itu bukanlah muatan yang sebenarnya! Siapa pun yang hendak menentukan (menyempitkan) makna ajek darinya, menganggap seolah-olah si unik ini adalah konsep, yang mana mereka percaya atas kuasa kalimat (karena mereka menganggap kalau kalimat itu hanya sebatas kalimat saja), ya mereka tak menemukan apa yang sesungguhnya terkandung di dalamnya, karena mereka hanya mencari muatan spesifik dalam kalimat, dalam kata itu.
Kau, yang tak dapat dikhayalkan, yang tak dapat diekspresikan lewat sepatah katapun, kaulah muatan kata itu sendiri, adalah pemiliknya. Kaulah kalimat itu. Dalam ranah unik, ilmu dapat melarutkan dirinya dalam kehidupan, yang mana ini atau benda ini menjadi subjek, menjadi siapa, menjadi yang tak mencari siapa dirinya di dunia, di dalam Logos/tanda-tanda di dalam sikap-sikap yang telah ajek dan ditentukan.
Szeliga bersusah payah untuk meyakinkan bahwa si unik ini “berdasar pada prinsipnya yang mencari hantu, maka ia adalah hantu dari segala hantu”. Ia menganggap kalau si unik ini adalah kata-kata kosong, pada saat yang sama iapun tak bisa menyangkal bahwa dirinya sendiri, namanya sendiri Szeliga adalah kata yang terkungkung oleh makna.
Kata Feuerbach, sang unik di surga itu beda dengan si unik yang di bumi. Sesungguhnya kalimat itu adalah kata yang lepas dari pemiliknya. Si unik ini yang ditandai oleh Feuerbach ini adalah tuhan. Hal ini menjamin bahwa agama akan terus ada, itu tandanya bahwa si unik ini akan terus ada dalam pikiran dan juga di dalam kata-kata yang bisa disaksikan dari surga/langit. Tapi si unik yang surgawi ini hanyalah keunikan yang tak punya kepentingan, bahkan Feuerbach sendiri, entah dia suka ataupun tidak pada keunikan Stirner. Ia akhirnya memperlakukan si unik secara ganjil, apalagi ketika ia akan mengejar si unik dalam kepalanya sendiri. Kalau yang eksis adalah keunikan surgawi dibandingkan keunikan dirinya, maka akan sulit tentunya bagi ia mengejar keunikannya sendiri.
Sedang si unik “dia membual” kata Hess. Tentu saja, tanpa keraguan sedikitpun, si unik ini, si kalimat pasti ini adalah bualan kosong, ya betul, semacam kalimat Feuerbach yang tak bertuan itu. Tapi bukankah itu juga merupakan bualan panjang mengenai orang yang tak bisa mengambil hal lain selain “bualan”? Apakah Hess, si unik Hess ini tak lain adalah bualan juga? Tentu saja bukan!
Para kritikus justru lebih menunjukkan serangannya terhadap “egois” daripada si unik ini. Alih-alih mencapai puncak kritik pada egoisme seperti yang dimaksud Stirner, mereka malah berhenti di khayalan kekanakan mereka soal dosa-dosa umum dan memukul rata semua gejalanya. Lihatlah egoisme, dosa mengerikan yang Stirner tawarkan kepada kita.
Menanggapi definisi kristen: “Tuhan adalah cinta”, para kritikus di Yerusalem tua akan berdiri, menyeru dan berteriak: “Sekarang kau tengoklah para kristen itu sedang membuat berhala Tuhan; karena tuhan adalah cinta, maka tuhan berhala bagi cinta adalah Amor, tuhannya cinta!” Apa perlunya para kritikus Yahudi itu dengan cinta dan Tuhan yang adalah cinta? Ketika mereka mencibir tuhan cinta (Amor) sebegitu lamanya?
Szeliga mencirikan egois dengan semacam ini “Si egois itu berharap kehidupan yang riang bahagia. Ia mau menikahi gadis dari keluarga kaya—kayaknya dia cemburu, soalnya istrinya sendiri bawel—dengan kata lain, harapannya itu terwujud sih, tapi ilusi.
Feuerbach bilang: “Ada perbedaan yang mendasar antara yang disebut sebagai cinta sejati yang egois dan yang disebut cinta yang tak egois. Lantas apa perbedaannya? Singkatnya, dalam cinta kepentingan diri, objeknya adalah dirimu sendiri. Sedang di cinta yang tak egois, ia adalah yang kau cintai. Saya menemukan kepuasan dalam keduanya, tetapi untuk yang pertama saya mencacah esensi ke beberapa bagian, di dalam yang kedua saya mencacah bagian-bagian menjadi esensi. Dengan demikian, saya memuaskan diri saya sepenuhnya. Singkatnya, dalam cinta egois saya mengorbankan hal yang lebih tinggi untuk hal yang lebih rendah, kesenangan yang lebih tinggi untuk hal yang lebih rendah, tetapi dalam cinta yang tidak egois, saya mengorbankan hal-hal rendah untuk hal yang lebih tinggi.
Hess bertanya: "Pertama, apa itu egoisme secara umum, dan apa perbedaan antara kehidupan egoistik dengan kehidupan cinta?" Dengan pertanyaan ini ia sudah membuka keterkaitannya dengan konsep tersebut. Bagaimana bisa ia membedakan antara kehidupan egois dan cinta kepada Stirner, padahal buat dia sendiri kedua hal itu bisa berdampingan? Lalu Hess melanjutkan: “Kehidupan egois adalah dunia binatang yang melahap dan merobek dirinya sendiri. Dunia binatang tepatnya adalah sejarah alamiah yang menghancurkan dirinya sendiri, dan sejarah kita hingga sekarang ini hanyalah sejarah Dunia Binatang Sosial. Tetapi apa yang membedakannya, si binatang sosial dan si binatang yang ada di hutan? Pembedanya tak lain adalah kesadarannya. Sejarah kesadaran dunia binatang pada tujuan akhirnya akan mengarah ke sang predator sebagai yang berada di puncak dunia binatang alamiah, jadi kesadaran predatorlah yang akan ada di puncak.
Karena egoisme adalah keterasingan antar spesies, maka kesadaran akan alienasi ini (kesadaran egoistik) adalah kesadaran agama. Dunia binatang hutan tidak memiliki agama, karena mereka tak memiliki kesadaran atas egoisme, (kesadaran dosa). Kesadaran awal dari kemanusiaan adalah kesadaran akan dosa.—ketika teori egoistik, kesadaran egoistik, agama dan filsafatnya sudah sampai pada puncaknya maka praktik egoistik juga akan sampai pada puncaknya. Ini sudah terjadi di dunia para pedagang Kristen. Persaingan bebas antar pedagang modern ini bukan saja mewujud jadi pembunuhan-pembunuhan dan perampokan saja, tapi di saat yang sama sudah membentuk kesadaran bersama, alienasi manusia. Dunia pedagang dewasa ini adalah bentuk peleburan antara kesadaran dan egoisme dasar, merujuk kepada esensinya.”
Pendapat-pendapat di atas adalah penanda yang populer mengenai apa itu egoisme, dan semuanya kaget karena Stirner tidak membuat pandangan yang sederhana terhadap egoisme, dan mereka juga kaget kenapa Stirner ini tak meninggalkan monster yang penuh kebencian yang bernama egoisme ini, menimbang betapa bodoh, vulgar dan mematikannya hal tersebut. Coba saja kalau dia berpikir seperti Szeliga, yang berpikir bahwa egois itu tak lain hanya orang tolol yang begitu ingin menikahi perempuan kaya tapi malah berakhir dengan istri yang bukan main bawelnya. Coba saja kalau Stirner melihat egoisme seperti Feuerbach, berpikir kalau egois itu tak akan pernah punya “kekasih tercinta”, dan coba saja kalau Stirner sadar seperti Hess, kalau binatang buas dalam egoisme itu punya hasrat predator yang gila, bagaimana mungkin Stirner bisa santai-santai saja dengan “kehororan yang nyata” itu, dan bagaimana bisa dia tidak menjadi marah semarah-marahnya kepada egoisme ini?! Pembunuhan dan perampokan itu sendiri saja sudah cukup tidak beradab, dua hal itu saja sudah bisa membuat Hess nangis tersedu-sedu, lalu memojokan si egois Stirner, lalu mengumpulkan orang-orang jujur dan alim supaya menentang Stirner. Dan dengan hati nurani (moralis sih lebih tepatnya xixi) dia akan menyeru Stirner bidat kepada massa yang memercayainya.
Stirner berani bilang kalau Feuerbach, Hess dan Szeliga adalah egois itu sendiri. Betul! Mereka itu tak lebih dari Feuerbachian, Hess tak lebih sekadar Hessian, dan Szeliga juga tak lebih dari Szeligan, hanya saja Stirner memberikan predikat yang lebih tidak terkenal bagi mereka. (xixi)
Apa si Feuerbach hidup di dunia selain miliknya? Apakah mungkin dia hidup di dunia Szeliga, Hess atau Stirner? Oh tentu tidak, karena Feuerbach hidup di dunia ini, maka sejak itulah dunia itu juga ada di sekelilingnya, bukankah dunia yang ia rasakan, lihat dan pikirkan itu juga ada di sekitar dia? (Oh, tentu dengan cara Feuerbachian). Dia tidak hanya hidup di tengah-tengah dunia, tapi dia sendirilah pusat dunianya itu. Ya, seperti Feuerbach juga, tak ada seorangpun yang hidup di dunia orang lain, dan seperti Feuerbach juga, semua orang adalah pusat dunianya sendiri. Dunia itu hanyalah yang bukan dirinya, tetapi di dunia itu, segala miliknya, menjalin hubungan dengan dirinya, dan eksis untuk dirinya.
Segalanya berbalik kepadamu, kau adalah pusat dari dunia luar dan dunia yang dalam pikiranmu. Duniamu meluas sejauh kapasitasmu, dan sejauh apa yang kau gapai dan raih, sejauh apa kau menggapainya. Kau, si unik yang unik dan hanya hidup bersama kepemilikanmu.
Nah, sejalan dengan itu, apa yang kau miliki pun punya posisi yang sama, apa yang kau miliki itu juga miliknya sepenuhnya, dia punya eksistensinya sendiri, ya mirip-mirip denganmulah. Pada titik ini kadang kau lupa sedang berada dalam kealpaan indah yang melalaikan (atau kita katakan kealpaan gula-gula).
Tetapi dalam situasi tertentu kau melupakan dirimu sendiri, apakah dengan begitu serta merta kau menghilang? Ketika kau tak memikirkan diri sendiri, apakah kau benar-benar tak ada lagi? Ketika kau menengok kawanmu dan memikirkan kebahagiaan apa yang bisa kau berikan padanya, ketika melihat bintang-bintang dan memikirkan tata ruang mereka, ketika kau hanyut dalam aktivitas memikroskop bersama hewan-hewan kecil, atau ketika kau membantu seseorang dalam marabahaya kebakaran atau yang tenggelam tanpa memperhatikan keselamatan dirimu sendiri, maka iya, dalam contoh-contoh situasi ini, kau memang sedang tidak berpikir tentang dirimu sendiri, kau melupakan dirimu sendiri. Tapi pertanyaannya, apakah kau hanya eksis ketika kau memikirkan dirimu sendiri dan lalu menghilang ketika melupakannya? Apakah kau hanya bisa mencapai eksis lewat ke-sadaran-diri, yang sering kali abai akan dirinya sendiri, yang bisa lalai ribuan kali dalam satu jam?
Kelupaan akan diri sendiri ini, kehilangan diri sendiri ini buat kami hanyalah mode kesenangan diri, ialah kesenangan yang kami ambil dari dunia ini, dari apa yang milik kami, yaitu kesenangan dunia.
Tentu bentuk kealpaan/kelupaan itu bukanlah yang lupa bahwa dunia ini adalah dunianya, beda dengan egoisme yang tertipu. Ia menempatkan dirinya di bawah dunia absolut yang lebih tinggi daripada dirinya, sesungguhnya dia mencampakan dirinya sendiri. Ketidakegoisan itu bukan kealpaan, dia tidak lagi berpikir bahwa dia mesti mementingkan dirinya sendiri lebih dulu, dia memikirkan kita, dia lupa kalau dia adalah pemilik dan pusat dunia ini, yang mana kepemilikannya. Ketakutan atas dunia yang lebih tinggi itu telah menjadikan ia pengecut, egoisme yang sopan, egoisme dalam bentuk perbudakan, ia tak berani menggerutu, takut terhadap segalanya, dan meniadakan dirinya, mengabaikan dirinya sendiri: itulah pengabaian diri.
Dunia kita dan dunia suci—di sinilah terbaring perbedaan antara egoisme yang terus terang dan egoisme yang abai, ia tak bisa diakui dan menyelinap secara diam-diam (menyamar).
Apa yang sebenarnya terjadi dengan contoh pelacur dan kekasih-nya Feuerbach? Dalam kasus pertama, seseorang punya hubungan komersil tanpa kepentingan pribadi (tak terhitung jumlah kasus seperti ini, pemenuhannya hanya akan bisa terjadi bila satu pihak memang minat dengan pihak lain, itupun kalau punya), Pada kasus kedua, pihakpihak memiliki kepentingan pribadi. Namun apa arti dari hubungan kedua? Kemungkinan besar ialah kepentingan yang sama antar pihak.
Kalaulah kepentingan ini menghilang dari dalam hubungan, maka semuanya akan jadi nonsense, tak berarti, karena kepentingan itu sendirilah makna tunggal dari hubungan ini. Jadi pernikahan yang diagung-agungkan sebagai hubungan yang sakral, itu tak lebih dari fiksasi sebuah hubungan antar kepentingan yang punya potensi menjadi membosankan dan nonsense. Tapi orang bilang, katanya tak boleh bercerai dengan sembrono. Tapi kenapa tidak kan? Karena kesembronoan sendiri adalah dosa kalau dihubungkan dengan hal yang sakral. Oleh karena itu kesembronoan tentu tak boleh! Di sanalah si egois berdiri, dia menentang segalanya dengan kesembronoannya, dia membebaskan dirinya dari hubungan tanpa kepentingan yang sakral itu. Dari perkumpulan egoistik, ikatan sakral sudah berkembang, hubungan antar kepentingan telah tiada, hubungan tanpa kepentingan tetap ada.
Contoh lain dari ketidakpentingan (uninterest) adalah bekerja, suatu hal yang lewat dalam hidup seseorang, seperti panggilan hidup. Ada prasangka seperti ini, seseorang mesti berusaha untuk mendapatkan makanannya, hina jadinya kalau seseorang dapat makan tanpa bekerja untuk mendapatkannya: ini adalah kebanggaan atas mendapatkan upah. Bekerja itu tak berjasa, atau memberikan kebanggan kepada siapa pun, begitu juga seorang pemalas yang tak melakukan kerja, itu bukan aib baginya. Kalau kaupun menempatkan kerja sebagai kepentingan, walau hal tersebut tak membiarkanmu istirahat, kau harus aktif: kemudian kerja itu pun menjadi keinginanmu, menjadi kenikmatan istimewa milikmu tanpa merendahkan kemalasan si pemalas karena itu juga kesenangannya sendiri.
Atau pergunakanlah kerja itu untuk mengejar kepentingan lain, atau hasil tertentu atau upah, jadi kau bekerja untuk mencapai hal tersebut, bukan karena kesakralannya, karena memang kerja taklah sakral, tapi hanya sekadar hal yang tak dapat dihindari untuk mendapatkan hasilnya: upah. Tapi kerja yang disematkan sebagai kehormatan manusia dan panggilan hidup itu menjadi tiang utama bagi kesakralan sosialisme. Di mana posisi kualitas buruh manusia adalah untuk meningkatkan kapasitas manusia, dan dalam perkembangannya panggilan itu disebut sebagai kepentingan mutlak (kita akan membahas ini nanti).
Keyakinan bahwa sesuatu di luar kepentingan diri sendiri bisa memberikan sesuatu kepada yang diberi (diri sendiri), keyakinan yang membuat kepentingan diri sendiri jadi nomor dua, yang jadi sebab kurangnya kepentingan diri akan minat, dosa yang dimengerti sebagai kecenderungan seseorang terhadap kepentingannya sendiri.
Hanyalah di dalam menghadapi kepentingan sakral, kepentingan itu menjadi kepentingan pribadi, egoisme mengerikan, dan dosa. Stirner menunjukkan perbedaan antara kepentingan sakral dan kepentingan diri secara singkat di halaman 224: “Aku bisa mendosa kepada pendahuluku, kemudian aku bisa berpaling begitu saja.”
Kepentingan sakral itu tidak berkepentingan/tidak penting karena ia merupakan kepentingan absolut, atau kepentinganya sendiri (its own), akan sama saja jika kau berkepentingan juga dengannya ataupun tidak. Kau dibuat untuk menjadikannya kepentinganmu, yang bukan sepenuhnya milikmu, yang datang bukan darimu, tapi sesuatu yang kekal, universal dan murni dari kepentingan manusia. Tentu itu tidak penting, karena tak ada pertimbangan kepentinganmu atau bahkan dirimu di dalamnya, dialah kepentingan tanpa pihak yang berkepentingan di dalamnya karena sifatnya yang universal tadi. Dan karena kau bukanlah pemiliknya, dan kau harus menjadikan dirimu sebagai pengikut dan pelayan, maka egoisme sudah berakhir dalam konsep itu, kekurangan minat juga dimulai dari sana.
Jika kau menempatkan kepentingan sakral itu di hatimu, kau akan terperangkap di dalamnya, kau akan ditangkap atas kepentingan dirimu sendiri. Pilih kepentingan sakral sekarang, maka esok kau akan jadi budaknya.
Setiap perilaku yang didasari atas kepentingan sakral akan dinilai sebagai nilai-nilai perilaku, atau sederhananya, sebagai agama. Kepentingan itu hanya akan menjadi kepentingan ketika kau berkepentingan kepadanya, yang bernilai itu hanya akan menjadi bernilai kalau kau memberikan nilai kepadanya, sedangkan di lain sisi, apapun kepentingan yang selainmu adalah bukan kepentingan, apapun yang bernilai selainmu tidaklah bernilai.
Kepentingan dari roh-roh itu, seperti masyarakat, seperti umat manusia seperti esensi manusia, atau manusia secara umum ialah kepentingan esensial mereka, ialah kepentingan alienasi/asing yang dipaksa untuk menjadi kepentinganmu. Hanyalah ketika ia tak lagi jadi kepentinganmu, ia bisa menjadi kepentingan sakral, kepentingan yang seharusnya jadi milikmu meskipun bukan. Batasan hubungan seperti ini mesti ditegaskan karena ia tidaklah berkepentingan dan juga tidaklah menarik.
Dalam hubungan komersil dan pribadi, kepentinganmulah yang menjadi hal utama, setiap pengorbanan yang terjadi hanyalah untuk memenuhi kepentinganmu. Sebaliknya, dalam hubungan relijius, kepentingan religius yang absolutlah yang menjadi utama. Sebuah kepentingan yang asing untukmu, yang kemudian mengorbankan segala kepentingan milikmu.
Oleh karena itu, egoisme yang tertipu itu terdiri dari keyakinan atas kepentingan absolut, bukan berawal dari egois itu sendiri. Kepentingan absolut itu sebenarnya tak menarik baginya, tetapi muncul dengan angkuh dan tegas di hadapannya. Karena kepentingan abadi inilah egois tertipu. Kepentingan dirinya sendiri, kepentingan privat-nya bukan hanya tak diperhitungkan, tapi dikutuk. Walau demikian egoisme tetap ada, karena dia menerima kepentingan asing itu dengan tangan terbuka, mengharapkan adanya kesenangan di dalamnya.
Kepentingan absolut/mutlak ini menjadi kepentingan yang orang mau tak mau harus ambil, kepentingan ini bukanlah hal yang unik, tetapi manusia diharuskan tunduk padanya, dan melihatnya sebagai perisai kehormatan, sebagai alat dan senjata, Stirner sederhana saja membahasakannya: si sakral. Memang, si sakral ini mutlak sebagai yang tidak menarik, tidak berkepentingan. Ia punya tuntutan untuk diminati walaupun tak ada seorang pun yang minat dan berkepentingan dengan/padanya. Ia adalah yang universal, sebuah kepentingan yang kekurangan subjek di dalamnya, kenapa? Ya karena sesungguhnya ia bukanlah kepentingan siapa pun, ia bukanlah kepentingan yang unik. Dalam kata lain, kepentingan universal ini melebihimu, yang mana sesungguhnya dirimu adalah kepentingan yang sejati. Kepentingan universal ini menuntutmu untuk melayaninya, dan dia akan terus begitu, kalau kau menyerahkan diri untuk diperintahkan.
Oke, mari kita tengok kembali definisi yang menyentuh soal pelacuran dari si Feuerbach. Tahu gak sih dia kalau ada orang-orang yang akan senang hati berbuat cabul begitu karena keinginan dan kenikmatan fisiknya memang demikian? (tak bisa berhenti, pingin lagi, pingin lagi). Lalu kemudian mereka-mereka (pelacur) ini dikasih paham apakah kau tahu apa yang cabul itu? Ialah dosa, ialah ketaksenonohan, itulah yang menentukan derajatmu. Pengkerdilan kepentingan kecabulan akan membuat kita mengabaikan kenikmatan indra (yang mana itu lebih penting buat kita), tentu saja hal itu tak akan masuk hitungan bagi kepentingan agama, mereka tak akan mengorbankan sesuatu apapun kalau menyoal yang tidak suci seperti ini, mereka akan mengorbankan diri hanya dengan apa yang jadi kepentingan mereka saja. Tetapi kalau agama menolak dorongan alamiah atas alasan kesucian, apakah para pelacur ini punya kepentingan terkait hal kesucian itu?
Tentu saja tidak. Mereka tak punya kepentingan alamiah atas kesucian itu, karena itulah yang secara alamiah ada di dalam dirinya: menjadi cabul. Hal yang tak bisa dipungkiri, yang paling jujur dari mereka adalah kecabulan. Tapi karena kesucian adalah keraguan dari ruh spiritual (dari agama). Karena ialah kepentingan absolut, maka kepentingan privat atau natural mestilah dinomorduakan, itulah kenapa kepentingan natural itulah yang mesti dibentuk dari sudut pandang kepentingan agama. Nah, itulah yang membikin para pelacur ini menyumpahi dan memperolok kepentingan ini: huh! Tolol! Goblog!! Karena mau sefleksibel apapun keberatan hati agama itu, insting para pelacur sudah mengidentifikasi agama ini sebagai penghalang dan musuh dari kenikmatan alamiahnya. —Ada pula dari mereka yang berpikir secara mendalam untuk meyakinkan diri dan mengatasi keberatan ini secara teoritis: Kemudian, karena berpikir (yang mana membuat berpikir menjadi kepentingan bagi mereka). —mereka menghancurkan si keraguan. Oleh karena itu, kecabulan dan pelacur itu terlihat sangat-sangat buruk hanya karena mereka menyerang kepentingan kekal dari kesucian.
Ruh itu sendiri sudah membuat kesukaran dan menciptakan keraguan/keributan (scruple). Dari sini sudah kelihatan bahwa untuk memusnahkannya harus pula dengan ruh atau pikiran. Bayangkan betapa kasihannya jiwajiwa yang membiarkan dirinya diceramahi, dipaksa untuk meyakini keributan-keributan ini tanpa punya daya berpikir untuk bisa berdikari! Ini bakal lebih ngeri jika mereka harus menunggu sampai akal budi memerdekakan mereka! Tetapi sebelum akal budi ada, mereka menyelamatkan dirinya dengan kesembronoan buatan yang sehat. Hal yang sama baiknya dengan kebutuhan mereka atas para pemikir yang bebas dengan akal budinya, ya kan para pemikir itu virtuoso pemikiran, mereka memiliki dorongan alami untuk menyelesaikan keributan dengan pemikiran.
Keributan/Kekacauan itu seperti cakap-cakap sehari-hari. Apa yang bisa serta merta menghalaunya? Tidak ada. Tak ada yang perlu untuk menghalaunya karena kekacauan sehari-hari bukanlah kekacauan sakral. Yang sehari-hari itu datang dan lalu pergi, sedang yang sakral itu absolut, ia bersandar pada sifat keabsolutan (dogma, doktrin keyakinan, prinsip-prinsip dasar). Untuk menghalaunya, di sanalah ada si egois, si penista, pemberontak yang terus mengetes kuasa egoisnya melawan kuasa kesakralan. Semua pemikiran bebas adalah penista dari kekacauan yang sakral dan sebuah upaya egois melawan kesakralan. Biasanya setelah beberapa serangan, beberapa pemikir bebas memang harus berhenti sebentar, lalu menyerang lagi. Terus menerus melawannya, si pemikiran sakral yang akan terus memperbaharui dirinya. Meskipun demikian, pemikiran bebas dalam bentuknya yang paling bebas (akal budi) tak akan berhenti sebelum kekacauan absolut dinodai secara cermat, satu persatu. Namun karena pemikiran paling bebas itu cuman pemikiran egois (kebebasan mental), Itu juga membuat kekuatan pikiran sakral sebagai satu-satunya jalan menuju penebusan. Sekarang malah si pemikiran itu sendiri muncul sebagai hal yang sakral, sebagai panggilan alamiah manusia, nah, karena demikian pula, hanyalah kekacauan (realisasi) yang bisa memecahkan kekacauan (sakral).
Kalau kekacauan hanya bisa diatasi/dipecahkan lewat pemikiran, maka manusia tak akan pernah sedewasa itu untuk memecahkannya.
Kekacauan, yang kalaupun tercapai dari kekacauan murni atau akal budi, dia akan tetap bersifat keagamaan. Agama-agama itu penuh kekacauan. Dia akan tetap seperti itu, jadi ketika seseorang berpikiran bahwa kekacauan harus beres dengan kekacauan, ketika seseorang menistakan kenyamanan atas kurangnya kekacauan sebagai “keengganan egoistik untuk kerja massa” maka ia telah mencapai titiknya.
Dalam kekacauan egoisme, ada penekanan bahwa egoisme itu adalah yang minim dari kekacauan. Ia melihat kemenangan egoisme sebagai sebuah kemenangan jikalau ia mengetahui bahwa sedang adanya kekurangan kekacauan di suatu kondisi. Hal itu sah-sah saja, mau menang lewat pemikiran atau kekurangan, dua-duanya tak apa-apa.
Lalu apakah pemikiran diabaikan karena hal tersebut? Tidak, hanya kesucian, kesakralan sajalah yang mesti diabaikan, dia diabaikan dan ditolak atas sebab, atas tujuan yang jelas. Pemikiran adalah alat yang semua orang mampu gapai. Tujuan dari pemikiran adalah menghilangkan keributan, karena setiap pemikir akan selalu memulai kerjanya dengan tujuan demikian, lebih khususnya untuk menemukan titik yang tepat, melampaui pemikiran sebelumnya dan mengakhiri masalah. Tapi bila ada yang membenarkan “buruh berpikir” atau “manusia”, maka itu tak lain dari panggilan iman yang kemudian menjerembabkan mereka kepada kekurangan keributan daripada membawa mereka kepada makna sebenar-benarnya, alat yang sebenarbenarnya, yang egois, yang sahih dari pemikiran.
Ada kesesatan yang menjebak seseorang ke jurang keributan dan keterkekangan, jurang itu disebut sebagai “kesejahteraan” dalam pemikiran. Para pemikir yang lemah akan membiarkan dirinya tersesat, ia akan memanjakan dirinya dengan daya pikir yang lembek itu. Oleh karena itulah mereka pada akhirnya jadi penganut, jadi pemercaya. Alih-alih menerangi segala kegelapan atas keributan, mereka malah jadi keributan itu sendiri, itu semua karena mereka pikir kesejahteraannya terletak dalam pikiran (Catatan: gejolak agama zaman kita punya andil: inilah ekspresi langsung dari keributan).
Keributan yang tercipta dari pikiran yang sekarang eksis, tentu bisa dilenyapkan juga lewat sebuah pikiran. Tapi pikiran ini, akal ini, kritik ini hanyalah untuk sampai ke pemikiran egoistik, kritik egoistik, yang mana ketika egoisme atau kepentingan diri digunakan untuk melawan keributan dan melawan ketidakpentingan/ketidaktertarikan. Ketika kepentingan diri dinyatakan secara terbuka dan egois mengkritisi lewat sudut pandang egoistik, bukan lewat sudut pandang kristen, sosialis, humanist, pemikir bebas, spiritual, dll. Karena kepentingan diri itu unik, oleh karena itulah kepentingan dirimu diludahi, diinjak-injak di dunia yang sakral, yang dicontohkan oleh Hess dan Szeliga (yang menurut mereka dunia inilah yang egois). Ya, mereka justru memikirkan yang sebaliknya, mereka ikat si egois ke tiang cambuk selama seribu tahun, mereka merajah egois atas segala dosanya di dunia iman dan pikiran. Kita tidak hidup di dunia egoistik, tapi kita sekarang hidup di dunia suci yang setiap harta di dalamnya adalah nilai paling hina.
Huft, jadi beginilah, masalah ini mesti diserahkan ke setiap individu untuk mengenyahkan keributannya sendiri-sendiri, toh mereka juga sudah tahu caranya. Tapi masihlah tugas sejarah yang harus menyelesaikan masalah ini dengan refleksi kritis. Hal inilah yang disangkal oleh Stirner. Terhadap tugas sejarah, Stirner menyatakan bahwa sejarah keributan dan refleksi-refleksi yang jadi tali hubung di antaranya haruslah disudahi. Tak ada tugas untuk menyelesaikan masalah itu, hanyalah ketidakteraturan yang membuat kerja-kerja singkat jadi keributan, bukan kekuatan pikiran yang membuatnya, tapi kuasa atas kekurangan keributanlah yang bertanggung jawab, kekurangan keributanlah yang punya andil di sini.
Berpikir hanya akan berfungsi untuk memperkuat dan memastikan tidak adanya keributan. Pemikiran Bebas titik tumpunya adalah di pemberontakan egoistik dari hal yang bukan keributan terhadap keributan sakral, yang dimulai dari kurangnya keributan. Siapa pun yang berpikir bebas tak meributkan hal yang paling sakral dari keributan: kekurangan keributan adalah rohnya, dan nilai egoistik adalah nilai pikiran bebasnya. Nilai pemikiran ini bukan terletak dari si pemikirnya, tapi dalam si egois, dia yang secara egois menempatkan kekuatannya sendiri, pikirannya sendiri, di atas segala keributan sakral, dan hal ini tak melemahkan mereka, tak melemahkan saya, tak juga kamu.
Untuk menjelaskan kekurangan keributan, Stirner menggunakan ungkapan seperti “bajingan, berengsek, sorak-sorai riang gembira” (hal. 197), dia meneruskan “signifikansi dari sorak sorai yang tak dipikirkan ini tak bisa didapat dari malam-malam panjang yang berpikir dan mempercayai”. Maksudnya kira-kira begini, yang pertama, yang tersembunyi, dasar kritik setiap sudut pandang egoistik adalah hal-hal yang sakral, mau bentuknya kayak begimana juga. Tapi selanjutnya, bentuk kritik egois paling santai adalah ketika kuasa pikirnya mencoba menghadirkan makna (keahlian yang sesungguhnya). Si pemikir ini bersikeras untuk menunjukkan bahwa kalau orang tanpa keributan bisa menggunakan akal keributan sebagai sudut pandang, sebagai keunikannya. Nah, maka dari itulah. Stirner tak lagi membiarkan pembebasan dunia berada di tangan para pemikir lagi.
Sorak-sorai dan keriangan akan jadi konyol ketika diperbandingkan dengan cara berat dan dalamnya keributan masih saja tak bisa diatasi dengan cara-cara yang paling sederhana. Tentu saja, beratnya keributan terakumulasi dalam sejarah dan terus menerus dibangkitkan kembali oleh para pemikir, tentu hal tersebut tak bisa hilang dengan keriangan belaka. Pemikir tak bisa membiarkan pikiran mereka yang tak menerima kepuasan penuh di waktu yang sama, itu karena kepuasan berpikir adalah kepentingan/kesukaan mereka. Pikiran tak boleh terkekang oleh sorak sorai, apalagi dari sudut pandang iman, yang menekan pikiran.
Sebagai minat/kepentingan sejati, kepentinganmu itu tak boleh ditekan bagaimanapun itu. Karena kau perlu untuk berpikir, maka kau tak bisa menendang keributan dengan kesenangan begitu saja, kau mestilah memikirkannya pula. Oleh karena itu pemikiran egoistik Stirner ini mencuat, dia telah membuat upaya pertama—walau masih agak kikuk kiranya, ia menalikan kepentingan berpikir dengan egoisme. Dalam bukunya, ia menunjukkan bahwa keriangan yang tak jelas itu masih punya potensi, bahkan bila perlu itu bisa jadi keriangan yang kritis, sebuah kritik egoistik.
Kepentingan diri membentuk dasar-dasar egoisme. Tapi bukankah kepentingan diri ini hanyalah nama? Hanyalah konsep yang kosong dari isi, ia sama sekali tak punya perkembangan konseptual seperti keunikan? Oh, tunggu dulu, yang menganggap kepentingan diri sebagai prinsip, sebagai tiang dari egoisme itu si pelawan (3 orang budiman yang mengkritik egoisme tadi, xixi). Atas dasar prinsip itu mereka memahami kepentingan diri sebagai hal mutlak. Mereka pikir, pikiran bisa saja jadi prinsip, tapi ia mesti berkembang menjadi pemikiran absolut, menjadi kepentingan yang abadi, menjadi aku absolut. Ialah unsur pembentuk dari segala sistem yang ada di atasnya. Itu pikiran mereka. Jadi kalau begitu, seseorang bisa saja membuat kepentingan diri absolut dan menurunkannya menjadi “kepentingan manusia”, atau filsafat kepentingan diri, HMMM, ya, moralitas, sistem dari kepentingan manusia.
Akalnya (alasannya), selalu satu dan sama (akal absolut): apa yang masuk akal tetaplah masuk akal terlepas dari semua ketololan dan kesalahan apapun yang ada di dalamnya. Akal pribadi tak punya hak untuk menentang akal universal dan akal abadi. Kau mesti tunduk padanya. Pikiran itu satu dan sama: apa yang sebenarnya dipikirkan adalah kebenaran logis terlepas dari kegilaan/kejahiliyahan jutaan manusia yang sudah terpapar dengan kebenaran yang tak dapat diubah. Pemikiran privat, harus diam dihadapan pemikiran abadi. Kau mesti tunduk kepadanya. Setiap manusia berakal, dan setiap manusia hanya manusia kalau ada/memiliki sebuah pikiran di dalamnya (filsuf bilang: pemikiran membedakan manusia dengan binatang).
Dengan demikian, kepentingan diri juga termasuk hal yang universal, dan setiap manusia adalah kepentingan diri manusia. Kepentingan abadi adalah kepentingan manusia. Oh, sudah jelas ini menendang kepentingan pribadi tepat di bokongnya, kemudian mengembangkan (yang abadi dan universal) menjadi prinsip-prinsip dari moralitas dan sosialisme yang sakral, wujudnya antara lain, menundukkan kepentinganmu kepada hukum kepentingan abadi. Lalu kepentingan abadi ini muncul dalam berbagai bentuk, contohnya saja: kepentingan negara, kepentingan gereja, kepentingan manusia, kepentingan segalanya, ya, singkatnya, ia menjelma kepentingan sejati.
Nah, sekarang, apakah Stirner sendiri punya “prinsip” dalam kepentingannya ini? Atau sebaliknya, apakah ia berniat membangkitkan kepentingan unikmu melawan kepentingan abadi—yang tak menarik sama sekali itu? Apakah kepentingan diri adalah prinsip—pemikiran logis? Seperti si unik, yang berupa kata-kata, frasa di dalam alam pemikiran, tapi lain dari pada itu, si unik adalah dirimu sendiri. Keunikan dalam dirimu sendiri.
Perlu kita perjelas tentang sebuah kata, namanya: manusia. Seperti yang bisa kita lihat, buku Stirner ditulis untuk melawan manusia. Dia membuat penilaian paling keras atasnya, seperti kata “egois” yang kemudian dikenal dengan prasangka-prasangka yang keras kepala. Yang perlu dikatakan adalah, ya, buku itu memang ditulis untuk melawan manusia, tapi Stirner bisa saja menyasar target yang sama tanpa mesti menyinggung orang-orang yang sering memutar balikan subjek, mereka-mereka yang bilang bahwa target yang dimaksud adalah manusia yang bukan monster. Tapi akan jadi salah hukumnya bila orang lain menyalahartikan konsep ini, secara emosional lagi. Orang-orang yang menyalahi itu orang-orang yang meninggikan suaranya, menasbihkan dirinya sebagai manusia sebenar-benarnya. Tapi Stirner bilang: manusia itu adalah monster yang bukan manusia, apa yang seorang katakan akan berlawanan dengan yang lain.
Kalau sebuah konsep tak punya esensi, tak akan pernah ditemukan sesuatu yang benar-benar cocok dengan konsep itu sendiri. Kalau dalam dirimu kurang konsep manusia, itu secara langsung mengungkapkan bahwa kau adalah sesuatu yang individual, suatu ungkapan yang tak bisa diungkapkan oleh istilah manusia, karena itulah kau sebagai manusia individual. Kalau seseorang mengharapkanmu untuk menjadi manusia sepenuhnya, tetapi kau tak bisa melepaskan dirimu dari individualitas, maka kau adalah monster yang bukan manusia, monster yang tak manusiawi, ya, bagaimanalah monster. Manusia tak akan bisa menjadi manusia sepenuhnya, atau bahkan manusia adalah monster itu sendiri. Konsep manusia hanya akan cocok dan masuk ke dalam realitas monster.
Fakta bahwa setiap manusia diukur dengan konsep manusia itu terciri dari penilaian dari agama atasnya. Sebagai monster yang tak manusiawi, agama memberi istilah bahwa manusia adalah pendosa (atas kesadaran dosa). Hari ini si pendosa itu dikenal sebagai egois. Dan apa yang akan jadi konsekuensi dari penilaian ini? Nah, untuk menebus si pendosa, untuk mengatasi egoisme, untuk menemukan manusia sejati maka si unik harus tunduk pada konsep. Si unik mesti menolak segala kemonsteran atas konsep manusia. Dia mesti melupakan bahwa monster itu adalah kemanusiaan sejatinya. Ia mesti, harus dan wajib menginginkan, memimpikan realitas manusia yang benar-benar manusiawi atas hitungan konsep manusia.
Ada pula absurditas. Manusia adalah monster yang nyata, setiap monster adalah manusia. Tapi kau hanyalah monster dalam realitas manusia, monster dalam perbandingan dengan konsep manusia.
Ya kaulah monster yang tak manusiawi itu! Yang sebenar-benarnya manusia, yang sepenuh-penuhnya manusia. Tapi kau bahkan lebih komplit, lebih penuh dari pada manusia, kau adalah individu, manusia unik. Manusia dan monster yang disatukan dalam satu badan, beda dari keilahian yang membenamkan kekejamanmu, yang sedemikian sakral dan absolut bernama agama. Kau adalah apa yang ada di dalam dirimu, kau adalah si unik yang sebenar-benarnya.
Manusia, suatu yang orang-orang suci kadang susah mengenalinya, dalam konsepnya mereka mengatakan bahwa, sejauh mereka bilang kalau manusia hanya dapat dikenali dalam diri manusia, tapi dia mungkin akan terkejut kalau yang sebenarnya ada di dalam dirinya adalah monster yang sama sekali tak manusiawi. Kalau itu sudah benar-benar disadari, semua yang agamawi, semua pemaksaan agama dan konsep manusia akan musnah, dominasi dari si baik, si hirarkis akan gudbay selamanya. Karena si unik, (bukan manusia umumnya si Feuerbach, ya[1]) adalah manusia yang seutuhnya!
Bahkan di satu waktu Stirner melawan manusia, diapun sekaligus menulis melawan si monster itu sendiri! Tapi dia tidak melawan manusia yang monster, atau monster yang manusia. Ia menulis untuk keunikan yang umum, yang manusia sepenuhnya, ya, karena dia sendiri juga adalah monster.
Hanyalah orang-orang saleh, sosialis sakral dll. Hanyalah orang-orang suci dari segala golongan yang mencegah manusia untuk mengenali dan menghargai dirinya sebagai manusia yang seutuhnya. Mereka melumpuhkan hubungan manusia yang murni, sebagaimana mereka membatasi hubungan egoistik secara umum. Mereka bahkan rela bersusah payah hanya untuk membatasinya. Mereka memperkenalkan hubungan suci, jikalau memungkinkan mereka akan menjadikannya sebagai sesuatu yang Mahakudus.
Sebenarnya Szeliga juga bicara banyak soal apa itu egois dan apa itu egoisme. Sayangnya dia malah kehabisan bensin karena terlalu banyak ngekspos perumpamaannya tentang perempuan kaya dan istri yang cerewet. Dia menggambarkan egois sebagai orang yang takut kerja, orang yang berharap “ayam panggang akan terbang ke mulutnya tanpa harus kerja apa-apa” dsb. Yang ingin dia maksudkan dari si egois adalah ia yang hidup nyaman. Coba saja kalau dia mendefinisikan si egois ini sebagai tukang tidur, saja. Mungkin perumpamaannya akan jauh lebih jelas dan sederhana.
Szeliga mengkhianati egoisnya hanya karena ukuran absolut, ukurannya adalah “harapan nyata”, sedang Feuerbach, yang biasanya lebih jago soal menemukan kata yang tepat malah mengulangi hal yang sama, malah jauh lebih tolol: dia bilang kalau si egois ini adalah “dia yang mengorbankan apa yang lebih tinggi untuk apa yang lebih rendah”, nah, untuk si tidak egois, dia bilang “dia yang mengorbankan hal yang lebih rendah untuk yang lebih tinggi. Apa sih yang lebih tinggi, yang lebih rendah itu? Bukankah hal seperti itu ditujukan kepadamu dan kau sendirilah yang menjadi ukurannya?
Kalau sesuatu itu berharga untukmu, dan tentunya untukmu di saat itu (karena hanya di saat itulah kau adalah kau, kau adalah kau yang universal) dan kau bisa saja menjadi yang bukan kau di saat itu. Kalau ada sesuatu yang diasosiasikan sebagai yang lebih tinggi dari dirimu, maka kau tak perlu repot-repot untuk berkorban lebih, karena itu sudah tinggi, kan. Sebaliknya, di setiap saat kau hanya akan mengorbankan apa yang nampak lebih rendah untukmu, dan kurang penting untukmu.
Jadi, kalau konsep lebih tinggi dari si Feuerbach harus punya arti, pastilah ia adalah hal tinggi yang terpisah darimu. Dia adalah hal yang absolut. Hal absolut yang tanpa diminta tiba-tiba jadi lebih tinggi darimu. Hal inilah yang baginya lebih meningkatkan kenikmatan dan untuk mencapainya haruslah ada pengorbanan. Dalam konsep Feuerbach, yang lebih tinggi itu adalah kepuasan mencintai yang berbeda dengan pelacuran. Yang pertama itu lebih tinggi, yang kedua lebih rendah.
Tapi bila bagimu si pelacur adalah kenikmatan yang lebih tinggi, atas sebab saat itu hanyalah dia yang kau inginkan, dia yang bisa memuaskanmu, lalu apa yang bisa diperbuat si baik hati dan budiman Feuerbach? Si dia yang hanya bisa dipuaskan oleh “cinta sejati”, yang ukuran tulus hatinya harus dari cinta yang lebih tinggi! Hanya orang yang terikat seperti itu yang mesti dipertanyakan, di mana sebenarnya esensinya berpijak? Dimanakah esensimu dalam konsepnya?
Tentu saja tak ada esensimu dalam kondisi tadi, tak ada saat ini, bahkan tak ada esensimu sama sekali, yang ada hanyalah esensi manusia. Bagi esensi manusia, yang dicintai adalah yang tertinggi. Jadi apa sih egois menurut Feuerbach? Si egois menurutnya adalah yang berdosa atas hal yang lebih tinggi, atas yang tak menarik. Dengan demikian, si egois ini mutlak pendosa. Ya sebenarnya sama saja dengan si egois menurut Szeliga, kalau saja Szeliga punya kosa kata dan kecerdasan yang cukup untuk membahasakannya.
Hess adalah orang yang paling tegas dalam menyatakan bahwa orang egois adalah pendosa. Ini adalah pengakuan yang paling lengkap, jujur dan tak terbantah dari Hess bahwa ia sesungguhnya jauh dari memahami apa yang buku Stirner maksudkan. Stirner tak menyangkal bahwa seorang egois pastilah seorang pendosa dan dalam kesadaran egoisme (kesadaran adalah yang dituju oleh Hess), mari kita tanya dulu, apakah sebenarnya kesadaran egoisme adalah kesadaran dosa?
Kalau seorang Eropa membunuh seekor buaya, dia sudah bertindak egois atas si buaya itu, tapi dia tak keberatan melakukannya, dan tak ada dosa yang didakwakan atasnya. Kalau seorang dari Mesir kuno— yang menganggap buaya itu suci dan sakral, tetap membunuh buaya itu atas alasan mempertahankan hidupnya, maka dia sebenarnya sudah egois, sekaligus dia juga sudah berdosa. Oleh karena itu egoismenya bisa menjadi dosa. Dari sini jelaslah kalau orang yang egois penting untuk menjadi pendosa di hadapan yang suci, di hadapan yang tinggi, jika dia menegaskan egoismenya terhadap yang sakral dan suci, inilah dosanya, silakan.
Di lain sisi, peristiwa tadi hanya bisa dikategorikan sebagai dosa apabila diukur dengan kriteria “suci”, dan apabila ia yang menyeret dirinya ke kesadaran dosa, maka ia juga sudah dimiliki oleh kesadaran suci. Si Eropa yang membunuh buaya sadar akan egoismenya. Dia melakukannya atas kesadaran egois, dia tak membayangkan egoismenya sebagai dosa, dan dia mati ketawa atas kesadaran dosa si orang Mesir Kuno.
Di hadapan si suci/sakral, si egois akan selalu menjadi pendosa. Terhadap si suci, si egois tak lain adalah kriminal. Buaya suci menandai manusia egois sebagai manusia pendosa. Si egois bisa saja membuang cap pendosa dan dosa itu sendiri dari dirinya asal dia menghinakan apa yang suci, seperti apa yang dilakukan si Eropa saat dia membunuh buaya itu. Dia tak berdosa karena buaya itu tak suci baginya.
Hess bilang begini “Ditilik dari esensinya, Dunia merkantil—dunia dagang—, hari ini adalah kesadaran dan bentuk egoisme”, ini merepresentasikan dunia yang penuh dengan amal-sumbangan (filantropi) yang sepenuhnya setuju dengan gagasan sosialisme (lih. Gesellschafts spiegel (Society Mirror) atau the Westphalischen Dampfboot [Westphalian Steamboat)[2], di mana prinsip-prinsip sosialis itu sama saja dengan mimpi di siang bolong dan ide-ide soal masyarakat dan borjuis yang baik nan budiman). Dunia ini di mana sebagian besar isinya bisa digiring menyerahkan dirinya atas hal-hal sakral dan dimana cita-cita persaudaraan, filantropi, hak asasi, keadilan, berbuat untuk sesama dll. Dunia ini penuh dengan itu semua, semua yang ngeri dan rusak total itu. Dunia ini yang merindukan kemanusiaan sejati dan berharap untuk menemukan pembalasan sejati di dalam sosialis, komunis dan filantropi. Dunia ini, seorang sosialis bersikeras hidup dengan jiwa penjaga toko, pikiran-pikiran yang diterima oleh orang-orang yang berpikir aman. Dunia ini yang prinsipnya adalah “kesejahteraan bagi semua” dan “kesejahteraan kemanusiaan”, yang merupakan mimpi belaka karena belum tahu bagaimana cara menciptakan kesejahteraan itu sendiri, dan belum percaya sepenuhnya kepada aktualisasi sosialis atas idenya tersebut. Dunia ini yang mengutuk segala egoisme, yang disebut oleh Hess sebagai dunia egois, dan ya, Hess ada benarnya. Karena dunia ini diajarkan untuk melawan setan, setan yang duduk di masing-masing pundaknya. Hanya Hess yang mempertimbangkan sosialisme suci bersamaan dengan dunia yang egois ini, dunia yang sadar akan dosa.
Hess menyebut persaingan bebas sebagai bentuk yang sebenarnya dari pembunuhan dengan perampokan, hal yang juga merupakan kesadaran atas keterasingan dari manusia (egoisme). O, lagi-lagi egoisme harus jadi terdakwa. Memang kenapa sih orang melakukan kompetisi? Yo karena hal itu berguna. Kenapa sosialis mau mengenyahkannya? Karena hal itu tak memberikan kebergunaan yang diharapkan, karena mayoritas melakukan hal yang buruk darinya, karena semua orang ingin meninggikan posisinya sendiri, oleh karena itulah penghapusan kompetisi dirasa tepat untuk tujuan ini.
Apakah egoisme adalah prinsip dasar dari kompetisi, atau jangan-jangan para egois yang salah perhitungan atas semua ini? Bukankah mereka harus menyerah untuk memuaskan egoisme mereka?
Orang-orang terbuka dengan kompetisi karena mereka melihat kesejahteraan di dalamnya. Mereka bersetuju dengannya dan bereksperimen secara kolektif dengannya. Oleh karena itulah, hal ini, isolasi ini, pemisahan ini adalah produk asosiasi, kesepakatan, jadi mereka bukan saja mengisolasi manusia, tapi juga menghubungkan antar mereka. Itu adalah status hukum, ikatan-ikatan federasi sosial. Dalam kompetisi, kalau kita ilustrasikan, para pemburu punya tujuannya masing-masing, mereka berpencar di dalam satu hutan, dan berburu dalam isolasinya masingmasing. Yang terpenting adalah mereka terbuka untuk berbincang, untuk berunding dan argumen. (Omon-gomong bukan kaum sosialis yang pertama kali menemukan ini sebagai kesalahan), dalam persaingan semua orang akan menemukan kepentingannya, keminatannya, keuntungannya. Keuntungan pribadi yang diinginkannya, nilainya, minatnya yang sebenarnya. Tapi tentu ini dalam perhitungan egois ya.
Sementara semua orang membeberkan segala penggambarannya atas egoisme, dan mengerdilkannya sebagai isolasi. Tapi apa sih sebenarnya isolasi bagi egoisme sendiri? Oke, heh, saya tanya, apa saya menjadi egois seperti ini setelah minggat dari orang-orang? Saya bisa saja keluar dan mengisolasi diri, menjadi penyendiri. Tapi saya tidak, oleh sebab pertimbangan itulah pandangan egoistik bisa jadi penyendiri ataupun sebaliknya. Kalau saya mengisolasi diri, berarti tak ada lagi kesenangan yang bisa diambil dari masyarakat. Tapi jika saya berada di antara orang-orang, itu artinya ada tawaran-tawaran dari mereka yang menarik untuk saya. Bahkan bertahanpun bisa menjadi lebih egois daripada yang diam, sendiri dan isolasi diri.
Dalam kompetisi setiap orang berdiri sendiri, tapi apabila kompetisi dihilangkan karena kerja sama lebih berguna daripada isolasi, bukankah itu berarti setiap orang akan tetap jadi egois dan mencari keuntungannya sendiri? Orang tetap akan keberatan untuk mengorbankan dirinya untuk orang lain. Tapi tentu bakal ada saja yang melakukannya, tapi lama-lama mereka “kan belajar dan tak akan membiarkan siapa pun memperbudaknya—mu.
“Ta.. Ta.. Tapi, tapi, tapi kan egois itu orang yang mikirin dirinya sendiri kan...” nah, ini pasti datang dari orang yang belum tau kenikmatan berpartisipasi dengan orang lain. Melihat dari pola pikirnya, ini orang kekurangan kesenangan pula sepertinya, ah, orang yang malang. Tapi kenapa si penyendiri malang ini lebih harus jadi egois dibandingkan orang-orang kaya? Seperti ini, sudah lama kita terbiasa menanggap kemiskinan sebagai aib, sebagai kejahatan, dan memang kaum sosialis sakral juga telah jelas membuktikan bahwa orang miskin diperlakukan sebagai penjahat. Tapi sosialis sakral memperlakukan mereka sebagaimana orang miskin, sama seperti orang kaya memperlakukan orang-orang miskinnya.
Tapi kenapa orang yang lebih miskin dalam keadaan tertentu disebut lebih egoistik daripada yang sebenarbenar egois? Apa tiram lebih egois dari anjing? Apa orang Moor lebih egois dari orang Jerman? Apakah Yahudi miskin, dan yang hina lebih egois dari sosialis yang bersemangat? Apakah seorang vandal yang menghancurkan karya seni karena dia lebih egois daripada seorang penikmat seni yang memperlakukan karya dengan cinta karena dia punya perasaan dan minat terhadapnya? Dan apabila seseorang tak merasakan minat kemanusiaan dalam manusia, kalau ia tak bisa menghargai dirinya sebagai manusia, apakah dia egois yang lebih miskin dilihat dari kepentingannya, atau wujudnya? Seorang yang mencintai manusia itu lebih kaya? Hmm, terima kasih atas cintanya ya daripada tidak sama sekali. Tapi perlu dijelaskan di sini tak ada perbedaan antara egoisme dan non egoisme di dalam perbedaan ini, toh mereka mengejar kepentingannya sendiri-sendiri.
Ta.. ta.. tapi kan semua orang harus punya kepentingan atas manusia, cinta pada manusia!
Mari kita tengok sejauh apa sih “keharusan” dalam hukum cinta itu. Sejak dua abad perintah ini menggerakan hati manusia, bahkan sampai hari ini, kaum sosialis mengeluh bahwa proletariat mendapat lebih sedikit cinta daripada budak-budak di zaman kuno, dan si sosialis ini masih koar-koar atas hukum cinta ini.
Kalau mau orang-orang berminat kepada kepentinganmu, tariklah mereka dari ketidakminatan, ketidakpentingan dari hal-hal sakral. Kepentingan-kepentinganmu yang memasung kemanusiaan sambil merengek, mengemis “uhuhu, hormatilah kemanusiaan kita... huhu, itu suci tau!”
Egoisme tak bersebarangn dengan cinta ataupun pikiran. Bukanlah musuh dari kehidupan cinta yang manis, ataupun pengabdian dan pengorbanan, bukan pula musuh dari kehangatan intim, bukan juga musuh dari akal, dari sosialis, dari kepentingan-kepentingan dan minat. Egoisme tak mengecualikan kepentingan apapun, kecuali yang tak menarik. Tidak memusuhi cinta, tapi sudah tentu menyangkal cinta sakral nan suci, tak memusuhi pemikiran tapi mengutuk pemikiran suci, tak memusuhi sosialis, tapi memusuhi sosialis yang suci, dll.
Eksklusivitas egois yang bagi sebagian dianggap isolasi, pemisahan, kesepian adalah sebaliknya. Ialah partisipasi penuh dari kepentingan dan minat, dan mengesampingkan yang bukan keduanya.
Tak ada yang memberikan penghargaan ke Stirner untuk sumbangsih globalnya atas persatuan egois dalam bagian terbesar bukunya My Intercourse.