#title Prinsip Palsu Pendidikan Kita #subtitle Atau—Humanisme dan Realisme #author Max Stirner #LISTtitle P #date 1842 #source Keberanian Merusak (Public Enemy Books, 2021 & Talas Press, 2024) #lang id #pubdate 2026-10-26T06:40:23 #authors Max Stirner #translator Syihabul Furqon #editor Rifki Syarani Fachry #publication Public Enemy Books; Diogenes Sinope; Talas Press; Southeast Asian Anarchist Library #publicationdate 2021; 2022; 2024 #language Indonesia #topics Anarkisme-Individualis #notes Diterjemahkan oleh Syihabul Furqon. Riwayat Publikasi sebagai buku kumpulan esai “Keberanian Merusak”—Public Enemy Books (cetakan 1, 2021), Diogenes Sinope (cetakan 2, 2022), Talas Press (Cetakan 3, 2024); sebagai plain text—Southeast Asian Anarchist Library (digital, 2021). Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ali Moris Najam (Archipelago Anarchist Archive). Karena masa kita sedang bergumul dengan kata yang dapat mengekspresikan semangatnya, banyak nama yang mengemuka dan semuanya mengklaim sebagai nama yang tepat. Di semua sisi masa kita sekarang mengungkapkan keributan partisan yang menggemparkan dan elang-elang masa mengelilingi warisan yang membusuk dari masa silam. Di mana-mana ada banyak sekali mayat politik, sosial, kependetaan, sains, kesenian, moral, dan hingga mereka semua habis dimakan, udara tidak akan bersih dan napas makhluk hidup akan terkekang. Tanpa bantuan kami, masa tidak akan dapat membawa kata yang tepat menjadi terang; kita semua harus bekerja sama untuk itu. Namun jika terlalu banyak yang tergantung pada kami, mungkin kami dengan akal sehat kami akan bertanya apa yang telah mereka perbuat untuk kami dan apa yang mereka tawarkan untuk kami; kami bertanya mengenai pendidikan yang mereka upayakan untuk membuat kami menjadi pemungkin pencipta kata itu. Apakah mereka dengan sadar menumbuhkan kecenderungan kami untuk jadi pencipta atau apakah mereka memperlakukan kami sebagai makhluk yang mana secara alamiah diperkenankan untuk menerima pelatihan? Pertanyaan itu sama pentingnya dengan salah satu pertanyaan sosial kita, tentu saja itu yang paling penting karena pertanyaan-pertanyaan itu bertumpu pada dasar terakhir ini. Jadilah sesuatu yang luar biasa dan kau akan mewujudkan hal yang luar biasa: jadilah “masing-masing yang sempurna dalam dirinya sendiri,” maka masyarakatmu, kehidupan sosialmu, juga akan sempurna. Karenanya kami (lebih) perhatian di atas semuanya terutama dengan apa yang mereka lakukan kepada kita pada saat plastisitas; pertanyaan sekolah adalah pertanyaan hidup. Sekarang mereka dapat dilihat dengan cukup jelas; wilayah ini telah diperebutkan selama bertahun-tahun dengan kegairahan dan kejujuran yang jauh melampaui dalam bidang politik karena di sana tidak ada perobohkan rintangan atas kekuasaan yang sewenang-wenang. Seorang veteran terhormat, Professor Theodor Heinsius,[1] yang mempertahankan kekuatan dan semangatnya hingga usia tua seperti mendiang Profesor Krug[2], baru-baru ini berusaha memancing perhatian untuk penyebab ini dengan sebuah esai pendek. Dia menyebutnya “Konkordat antara sekolah dan kehidupan atau meditasi humanisme dan realisme dari sudut pandang nasionalistik.” Dua bagian itu mengupayakan kemenangan dan masing-masing ingin menyarankan prinsip pendidikannya sebagai saran yang terbaik dan paling sejati untuk kebutuhan kita: para humanis dan realis. Tidak ingin menimbulkan ketidaknyamanan, Heinsius berkata dalam pampletnya dengan kelembutan dan konsiliasi yang berarti memberikan hak kepada mereka dan dengan demikian melakukan ketidakadilan terbesar pada tujuan itu sendiri karena hal semacam itu hanya bisa dilayani oleh ketegasan yang tajam. Sejauh ini, dosa melawan roh atas penyebab ini tetap merupakan warisan tak terpisahkan dari semua mediator pengecut. “Konkordat” hanya menawarkan kebijaksanaan yang pengecut. Hanya jujur bagai manusia: mendukung
atau menentang!
Dan semboyannya: budak atau merdeka!
Bahkan dewa diturunkan dari Olympus,
Dan bertempur di benteng sekutu mereka.
Sebelum sampai pada usulannya sendiri, Heinsius membuat sketsa singkat mengenai jalannya sejarah sejak Reformasi. Periode antara Reformasi dan Revolusi adalah yang akan aku tegaskan di sini tanpa sokongan apapun, karena aku berencana untuk menunjukkannya secara lebih rinci pada kesempatan yang lain bahwa hubungan antara orang dewasa dan anak di bawah umur, antara memerintah dan melayani, yang berkuasa dan tak berkuasa, singkatnya, mengenai periode ketundukan. Terlepas dari dasar lain yang mungkin membenarkan superioritas, pendidikan, sebagai kekuatan (baca: kuasa), membesarkan ia yang memilikinya di atas yang lemah, yang tidak memilikinya, dan orang yang berpendidikan dihitung dalam lingkarannya, betapapun besar atau kecilnya, sebagai yang perkasa, yang kuasa, yang mengesankan: karena dia adalah sang otoritas. Tidak semua orang dapat dipanggil untuk perintah dan otoritas ini; oleh karena itu, pendidikan tidak untuk semua orang dan pendidikan universal bertentangan dengan prinsip itu. Pendidikan menciptakan superioritas dan membuat seseorang menjadi ahli: demikianlah seorang ahli di zaman itu, adalah alat untuk berkuasa. Namun revolusi menerobos ekonomi hamba-tuan dan aksioma hadir: setiap orang adalah tuan bagi dirinya sendiri. Terkait dengan ini adalah kesimpulan yang niscaya bahwa pendidikan, yang tentu saja menghasilkan seorang ahli (master), untuk selanjutnya musti jadi sesuatu yang universal dan tugas untuk menemukan pendidikan universal yang sejati kini menampilkan dirinya sendiri. Dorongan kepada pendidikan universal yang dapat diakses oleh semua orang harus maju untuk berjuang melawan yang tak henti-hentinya berupaya mempertahankan pendidikan eksklusif, dan ada juga di bidang Revolusi musti menghunuskan pedang melawan dominasi periode Reformasi. Gagasan pendidikan universal berbenturan dengan gagasan pendidikan eksklusif, dan perselisihan serta perjuangannya bergerak melalui fase-fase dan berada di bawah beragam nama hingga masa kini. Karena kontradiksi dari kamp musuh yang berlawanan, Heinsius memilih nama humanisme dan realisme, dan setidak akuratnya hal itu, kami tetap akan mempertahankannya sebagai yang paling lazim digunakan. Sampai Pencerahan mulai menyebarkan cahayanya di abad ke-18, yang disebut sebagai pendidikan tinggi teronggok tanpa protes di tangan para humanis dan hampir semata-mata didasarkan pada pemahaman klasik yang usang. Pada saat yang sama pendidikan yang lain juga berjalan mencari contoh dalam kebaheulaan dan terutama berakhir dengan pengetahuan yang memadai mengenai Alkitab (teks suci). Bahwa dalam kedua kasus tersebut mereka memilih pendidikan terbaik dari dunia kebaheulaan untuk pokok bahasan eksklusif mereka sendiri yang cukup membuktikan betapa begitu sedikit martabat yang ditawarkan kehidupan kita sendiri, dan seberapa jauh kita masih mampu menciptakan bentuk keindahan dari orisinalitas dan isi kebenaran dari nalar kita sendiri. Pertama kita harus mempelajari bentuk dan isi; dari praktik kita. Dan karena dunia kebaheulaan melalui (era) klasik dan Alkitab berkuasa atas kita sebagai gundik, begitu pula yang secara historis dapat dibuktikan sebagai esensi tuan dan hamba dari semua aktivitas kita, dan hanya dari karakteristik masa inilah sesuatu menjadi jelas mengapa mereka bercita-cita begitu terbuka menuju “pendidikan tinggi” dan sangat bersungguh-sungguh untuk membedakan diri mereka dengan cara demikian di hadapan orang-orang biasa. Dengan pendidikan, yang berpendidikan jadi seorang ahli (master) atas mereka yang tidak berpendidikan. Pendidikan populer (umum) akan ditentang karena orang-orang mustinya tetap menjadi orang awam yang bertentangan dengan orang-orang terpelajar, yang semestinya menatap dengan terperangah pada kemegahan aneh dan memujanya. Demikianlah Romantisme terus belajar dan para pendukungnya adalah bahasa Latin dan Yunani. Selain itu, tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan ini tetap ada melalui pendidikan formal, sebanyak mungkin karena kebaheulaan lama mati dan dikuburkan, semata-mata hanyalah kematian atas bentuknya, pola kesusastraan dan seninya masih tetap bertahan, karena alasan khusus bahwa dominasi atas manusia akan diraih dan dipaksakan melalui superioritas formal; ia hanya membutuhkan tingkat kecerdasan intelektual tertentu untuk mendapatkan superioritas atas orang-orang yang kurang cerdas. Oleh karena itu yang disebut pendidikan tinggi adalah pendidikan yang elegan, suatu sensus omnis elegantiae, pendidikan atas rasa dan badani atas bentuk yang pada akhirnya terancam tenggelam sepenuhnya ke dalam pendidikan gramatikal, dan semerbak bahasa Jerman itu sendiri dipenuhi dengan aroma Latium yang begitu menyengat, sehingga bahkan hari ini seseorang memiliki kesempatan untuk mengagumi struktur kalimat Latin sebagai yang paling indah, misalnya dalam History of the Brandenburg-Prussian States: A Book for Everyone [3] yang baru saja diterbitkan. Sementara itu, semangat oposisi secara bertahap muncul dari Pencerahan melawan formalisme ini dan menuntut untuk mencakupi seluruhnya, pendidikan manusia yang benar-benar bersekutu dengan rekognisi hak manusia yang aman dan universal. Kurangnya instruksi yang solid yang akan berinteraksi dengan kehidupan telah diterangi oleh metode yang sebelumnya sudah dilakukan para Humanis sampai saat itu dan menimbulkan permintaan akan giat praktis dari pendidikan akhir. Untuk selanjutnya, semua pengetahuan musti hidup, pengetahuan musti dijalani; karena hanya realitas pengetahuanlah kesempurnaannya. Jika membawa materi kehidupan ke sekolah berhasil menawarkan sesuatu yang berguna bagi semua orang, dan karena alasan tersebut telah memenangkan semua orang demi persiapan kehidupan ini dan demi mengarahkan mereka ke dalam sekolah, maka seseorang tidak akan perlu lagi iri pada orang terpelejar karena pengetahuan mereka yang istimewa dan orang-orang tidak lagi akan jadi orang awam. penghapusan imamat kependetaan para cendikiawan dan keawaman orang-orang merupakan upaya realisme dan oleh karenanya itu harus melampaui humanisme. Penggunaan bentuk klasik kebaheulaan mulai dibatasi dan dengan itu otoritas-berdaulat kehilangan semangatnya. masa berjuang melawan penghormatan tradisional demi kesarjanaan pada umumnya sama seperti memberontak terhadap penghormatan apa pun. Keunggulan esensial sarjana, pendidikan universal, harus bermanfaat bagi semua orang. Namun orang-orang bertanya, apa itu pendidikan universal selain kapasitas yang dengan sederhana diungkapkan (sebagai), “supaya dapat berbicara mengenai apa pun,” atau yang lebih serius diungkapkan, kemampuan untuk menguasai materi apa pun? Tampaknya sekolah mulai ditinggalkan oleh kehidupan karena sekolah tidak hanya mundur dari masyarakat tetapi juga mengabaikan pendidikan universal dengan siswa-siswanya yang mendukung pendidikan eksklusif, dan gagal mendorong penguasaan di sekolah atas banyak materi yang disodorkan kepada kita oleh kehidupan. Sekolah, sebuah pemikiran, tentu saja harus menguraikan rekonsiliasi kita dengan segala sesuatu yang ditawarkan kehidupan dan merawatnya sehingga tidak ada hal-hal yang pada suatu saat nanti musti kita perhatikan akan menjadi benar-benar asing bagi kita dan berada di luar kemampuan penguasaan kita. Oleh karena itu pembiasaan diri dengan hal ihwal dan keadaan-keadaan saat ini perlu dicari dengan sangat bersemangat dan pedagogi musti dibawa pada tren fesyen akan penemuan aplikasi pendidikan bagi semua orang karena hal itu dapat memenuhi kebutuhan umum dari setiap orang demi menemukan diri mereka sendiri dalam dunia dan waktunya sendiri. Prinsip-prinsip dasar atas hak asasi manusia dengan cara ini memperoleh kehidupan dan realitasnya dalam lingkup pendidikan: kesetaraan, karena pendidikan merangkul semua orang, dan kebebasan, karena orang terbiasa dengan kebutuhan-kebutuhannya dan akibatnya menjadi mandiri dan otonom. Bagaimanapun, untuk memahami masa lalu seperti yang diajarkan humanisme dan merebut masa kini, yang merupakan tujuan dari realisme, membawa keduanya hanya menguasai sesuatu yang sementara. Hanya roh yang (dapat) memahami dirinya sendiri yang kekal. Oleh karena itu, kesetaraan dan kebebasan hanya menerima eksistensi subordinat. Seseorang tentu saja dapat menjadi setara dengan orang lain dan dimerdekakan dari otoritas mereka; dari kesetaraan dengan diri sendiri, dari penyetaraan dan rekonsiliasi kesementaraan kita dan keabadian manusia, dari transfigurasi kealamiahan kita menuju spiritualitas, singkatnya, dari kesatuan dan kekuasaan tertinggi ego kita, yang cukup bagi dirinya sendiri karena tidak meninggalkan apa pun yang asing berdiri di luar dirinya sendiri: Hampir tidak ada gagasan mengenai itu yang dapat diakui dalam prinsip itu. Dan kebebasan tampaknya memang sebagai kemerdekaan dari otoritas, sekali pun kekurangan determinasi-diri dan masih tidak menghasilkan satu pun tindakan manusia yang bebas-dalam-dirinya-sendiri, pencerahan-diri atas manusia yang tidak dipertimbangkan[4], yaitu, dari salah satu pikiran yang diselamatkan dari fluktuasi kontemplasi. Manusia yang berpendidikan formal tentu tidak akan berdiri di atas cermin samudera pendidikan universal lagi, dan ia mengubah dirinya dari “manusia yang sangat terdidik” menjadi “manusia terdidik di satu-sisi” (demikian ia secara alami mempertahankan nilainya yang tidak terbantahkan, karena semua pendidikan universal dimaksudkan untuk memancar ke dalam pemikiran-tunggal yang paling beragam dari pendidikan khusus); namun manusia terpelajar dalam arti realisme tidak melampaui kesetaraan dengan yang liyan dan kebebasan dari yang liyan, ia juga tidak muncul ke muka sebagai yang disebut manusia praktis. Tentu saja keanggunan kosong seorang humanis, sang pesolek, mau tidak mau merosot; tetapi pemenangnya berkilau dengan materialitas tembaga (kehijauan) dan ia tidak lebih hanya seorang materialis yang tidak memiliki selera[[https://sea.theanarchistlibrary.org/library/max-stirner-prinsip-palsu-pendidikan-kita-id#fn5][[5]]]. Pesolek dan materialisme berjuang untuk mendapatkan hadiah dari anak laki-laki dan perempuan terkasihnya dan kerapkali menggodanya untuk bertukar baju zirah karena sang Pesolek tampil dengan sinisme yang kasar dan yang materialis tampil dengan linen putih. Yang jelas, kayu hidup dari klub materialis akan menghancurkan tongkat kering Sang Pesolek yang tak bersumsum; yang hidup atau mati, kayu tetaplah kayu, dan jika nyala roh terbakar, kayu itu musti terbakar habis dalam api. Sementara itu, mengapa, harus juga realisme, jika (kapasitasnya yang tak disangkal) itu mengasimilasi aspek-aspek baik humanisme, sekalipun tetap binasa? Tentu saja itu dapat mengasimilasi yang tak dapat dicabut dan yang benar dari humanisme, pendidikan formal, dan asimilasi ini dibuat kian mudah melalui metode ilmiah yang telah menjadi mungkin dan melalui perlakuan masuk akal terhadap semua objek instruksi (aku menarik perhatian sebagai contoh hanya untuk sumbangan Becker[6] atas Gramar Jerman) dan melalui penyempurnaan ini dapat mendorong lawannya dari posisi kuatnya. Karena realisme serta humanisme berasal dari gagasan bahwa tujuan dari pendidikan adalah untuk menghasilkan keserbagunaan bagi manusia dan karena keduanya sepakat, misalnya bahwa orang musti demikian terbiasa dengan setiap putaran ekspresi idiomatik, secara matematik musti menganjurkan putaran bukti, dll., sehingga seseorang harus berjuang menuju penguasaan dalam menangani materi, menuju penguasaannya: dengan demikian sudah pasti tidak akan gagal bahkan realisme pada akhirnya akan mengakui pembentukan rasa sebagai tujuan akhir dan menempatkan tindakan pembentukan di tempat pertama, sebagaimana yang sudah sebagian terjadi. Karena dalam pendidikan, semua materi yang diberikan hanya bernilai sejauh bagaimana anak dapat belajar melakukan sesuatu dengannya, untuk menggunakannya. Tentu saja hanya yang praktis dan yang berguna yang harus ditekankan, sebagaimana yang diinginkan kaum realis; tetapi sungguh, manfaatnya hanya dicari dalam pembentukan, dalam generalisasi, dalam penyajian, dan orang-orang tidak akan bisa menolak klaim humanistik ini. Para humanis benar dalam hal ini terutama ketika bergantung pada pendidikan formal—mereka salah karena tidak menemukan hal ini dalam penguasaan setiap pelajaran; para realis menuntut hal yang benar di mana setiap pelajaran musti dimulai dari sekolah, kemudian mereka menuntut hal yang salah saat mereka tidak mau mengindahkan pendidikan formal sebagai tujuan utama. Jika melatih pelepasan-diri dan tidak menyerahkan dirinya pada bujukan materialisme, realisme bisa saja sampai pada kemenangan atas musuhnya dan pada saat yang sama mencapai rekonsiliasi dengannya. Namun kenapa sekarang kita justru menunjukkan permusuhan dengan itu? Kemudian apakah itu benar-benar membuang cangkang dari prinsip lama dan apakah itu tegak di atas benteng waktu? Dalam hal itu semuanya harus dinilai, entah ia mengakui gagasan yang telah dicapai sang waktu sebagai yang paling berharga atau apakah ia diam menempati tempat di belakangnya. Ketakutan yang tak terhapuskan itulah yang menyebabkan para realis mundur ketakutan dari abstraksi dan spekulasi yang musti mengejutkan dan oleh karena itu di sini aku akan menetapkan sejumlah pilihan dari Heinsius yang tidak menghasilkan apa pun kepada realis yang tak terikat pada poin ini, dan aku menyimpan kutipan dari mereka agar mudah untuk dikutip. Di halaman 9 ia berkata: “Di lembaga-lembaga pendidikan yang lebih tinggi orang mendengar tentang sistem filsafat Yunani, Aristoteles dan Plato, demikian juga tak syak dari kaum modern, Kant, yang mana ia telah menying-kirkan gagasan tentang Tuhan, kebebasan, imorali-tas, sebagai sesuatu yang tak dapat dibuktikan; mengenai Fichte, yang mana ia telah menetapkan tatanan moral dunia di tempat Tuhan personal, mengenai Schelling[7], Hegel, Herbart[8], Krause[9], dan siapa pun yang dapat disebut penemu dan pem-bawa kebijaksanaan supranatural. Apakah, (atas) apa yang mereka katakan, yang harus dilakukan bangsa Jerman dengan semangat idealis yang bukan merupakan ilmu empirik dan positif maupun kehidupan praktis dan yang tidak menguntungkan keadaan yang, dengan persepsi yang tak jelas yang hanya membingungkan semangat zaman, menggiring pada ketidakpercayaan dan ateisme, membelah pikiran, mendepak para pelajar sendiri dari posisi rasul keprofesoran, dan bahkan mengaburkan bahasa ibu kita karena mengubah konsepsi yang paling jelas dari akal sehat menjadi teka-teki mistis? Itukah kebijaksanaan yang harus mendidik generasi muda kita agar bermoral, menjadi orang baik, berpikir, menjadi makhluk rasional, menjadi masyarakat sejati, pekerja yang berguna dan berdaya dalam profesi-profesinya, pasangan yang penuh kasih dan ayah yang menyokong pembentukan kesejahteraan do-mestik?” Dan di halaman 45: “Mari kita tinjau filsafat dan teologi, yang mana, sebagai pemikiran dan keyakinan ia ditempatkan di tempat pertama untuk kesejahteraan dunia; dapat menjadi apa mereka melalui friksi timbalk balik sejak Leibniz meretas jalan bagi mereka? Dualisme, materialisme, supranaturalisme, rasionalisme, mistisisme, dan apa pun yang mungkin disebut dari semua abtruse-isme dari spekulasi dan perasaan yang berlebihan: jenis berkat apa yang telah mereka berikan kepada negara, gereja, seni, budaya nasional? Pemikiran dan pengetahuan sudah barang tentu di-perluas dalam lingkup mereka, namun, apakah yang pertama menjadi lebih jelas dan yang terakhir lebih pasti? Agama, sebagai dogma itu lebih murni, namun keyakinan subjektif itu lebih membingungkan, terlemahkan, kekurangan pendukung, terguncang oleh kritik dan interpretasi, atau menjelma fanatisisme dan penampilan saleh yang hipokrit, dan gereja? oh, hidupanya adalah perpecahan atau kematian. Bukankah demikian?” Kemudian untuk alasan apa para realis menunjukkan diri mereka sedemikian tidak ramah terhadap filsafat? Karena mereka salah memahami panggilan mereka dan dengan segenap kekuatan mereka ingin tetap dibatasi alih-alih menjadi tidak terbatas! Kenapa mereka membenci abstraksi? Karena mereka sendiri adalah abstrak, karena mereka abstrak dari kesempurnaan diri, dari pengangkatan ke penebusan kebenaran! Apakah kita ingin menyerahkan pedagogi ke tangan para filsuf? Tak kurang dari itu! Mereka sendiri akan demikian canggung. Itu akan dipercayakan hanya kepada mereka yang lebih dari sekadar filsuf, yang dalam hal itu bahkan lebih dari (yang) humanis atau realis. Yang ter-akhir adalah aroma yang tepat sehingga bahkan kebang-kitan akan menyertai kemunduran mereka: mereka abstrak dari filsafat demi menggapai sorga mereka yang penuh kepentingan tanpanya, mereka melompati itu, dan jatuh ke dalam jurang dalam kehampaan mereka sendiri; mereka, bagai orang Yahudi yang kekal, tak mati, bukan abadi. Hanya para filsuf yang bisa mati dan menemukan jati diri mereka dalam kematian; bersama mereka masa reformasi, zaman pengetahuan mati. Ya, demikianlah pengetahuan itu sendiri harus mati supaya dapat berkembang kembali dalam kematian sesuai kehendaknya; kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan nurani, bunga-bunga indah dari tiga abad ini akan tenggelam kembali ke pangkuan ibu pertiwi se-hingga kemerdekaan baru, kebebasan kehendak, akan dipelihara dengan saripatinya yang terbaik. Pengetahuan dan kebebasannya adalah ideal masa itu yang akhirnya tercapai di ketinggian filsafat: di sini sang pahlawan akan mengusun tumpukan kayu bakarnya sendiri dan akan menyelamatkan bagian dari keabadiannya di Gunung Olympus. Dengan filsafat, masa lalu kita tertutup dan para filsuf adalah Raohaels zaman pemikiran yang mana prinsip lama menyempurnakan dirinya dalam kemegahan warna yang cerah dan melalui peremajaan kembali diubah dari kesementaraan ke keabadian. Selanjutnya, siapa pun yang hendak melestarikan pengetahuan akan kehilangannya; namun, ia yang merelakannya akan mendapatkannya. [Bandingkan dengan Mat. 10;39 dan Luk 17;33] Hanya para filsuf yang diseru atas penyerahan ini dan untuk perolehan ini: mereka berdiri di depan api dan, seperti pahlawan yang sekarat, musti membakar wadag fana mereka jika roh yang abadi ingin bebas. Sedapat mungkin itu harus dinyatakan dengan lebih jelas. Tepat di situlah kesalahan yang kerap berulang di masa kita, bahwa pengetahuan tidak dibawa ke penyelesaian dan wawasan, bahwa ia tetap menjadi material dan formal, sesuatu yang positif, tanpa mencuat menjadi absolut, bahwa ia memberati kita seperti beban. Seperti orang-orang baheula, seseorang harus mengharap kelupaan, ha-rus minum dari Lethe yang diberkati: jika tidak seseorang tidak akan sampai pada satu kesadaran. Segala sesuatu yang unggul musti tahu bagaimana caranya mati dan mengubah dirinya sendiri melalui kematiannya; hanya yang seng-sara yang terakumulasi macam mahkamah agung yang berkaki-beku[10], tumpukan dokumen demi dokumen, dan bermain selama ribuan tahun dalam figur porselen yang halus, seperti kekanak-kanakan abadi orang Cina. Pengetahuan yang memadai menyempurnakan dirinya sendiri saat ia berhenti jadi pengetahuan dan kembali jadi sekadar dorongan manusia, kehendak. Jadi, misalnya, dia yang telah berunding selama bertahun-tahun mengenai “panggilan sebagai manusia,” akan menenggelamkan semua perawatan dan ziarah pencariannya dalam satu masa di dalam Lathe perasaan yang sederhana, dari sebuah dorongan yang sejak saat itu dia temukan secara bertahap menuntunnya. Suatu “panggilan manusia” yang telah ia lacak pada seribu jalan dan jalur penelitian yang meledak sesegera setelah hal itu diakui ke dalam nyala kehendak etik dan mengobarkan dada orang-orang yang tidak lagi terganggu dengan pencarian melainkan telah menjadi segar dan alami. Bangun, mandi, murid tanpa bosan,
Dada duniawimu dalam kemerahan fajar.[11]
Itulah akhir dan pada saat yang sama itulah keabadian, keabadian pengetahuan: pengetahuan, yang sekali lagi telah jadi sederhana dan tepat, menetapkan dan menyingkapkan dirinya sebagai yang diinginkannya di dalam bentuk barunya dan dalam setiap tindakannya. Kehendak secara fundamental tidak benar, sebab yang praktis sangat ingin meyakin kan kita; seseorang mungkin tidak akan melewatkan hasrat demi pengetahuan hanya demi segera berdiri di atas kehendaknya, tapi pengetahuan menyempurnakan dirinya sendiri atas kehendaknya saat ia merendahkan dirinya dan menciptakan dirinya sendiri sebagai roh “yang membangun wadagnya sendiri.” Oleh karena itu melekatlah pada pendidikan apa pun yang tidak berakhir dalam kematian ini dan kenaikan pengetahuan ini ke sorga, kelemahan kehidupan duniawi ini, formalitas dan materialitas, pesolek dan materialisme. Pengetahuan yang tidak memurnikan dan memusatkan dirinya sehingga ia terbawa oleh kehendak, atau dengan kata lain, pengetahuan yang hanya membebaniku sebagai kepunyaan dan kepemilikan, bukannya hilang bersama diriku sepenuhnya sehingga ego yang bergerak bebas itu, tidak terbebani oleh kepemilikan apa pun, berlalu melewati dunia dengan roh yang segar, maka pengetahuan yang demikian, yang belum jadi pribadi, melengkapi persiapan yang malang bagi hidup. Seseorang tidak ingin membiarkan itu menjadi abstraksi di mana penahbisan sejati atas semua pengetahuan yang konkret pertama kali diberikan: sebab melalui itu, kehendak material akan benar-benar terbunuh dan diubah enjadi roh, namun, manusia diberi kebebasan aktual dan terakhir. Hanya dalam abstraksilah kebebasan itu: manusia bebas semata-mata hanyalah ia yang memenangkan anugerah dan bersama-sama telah kembali ke dalam kesatuan egonya yang telah dibujuk secara meragukan dari dirinya sendiri. Jika itu adalah dorongan masa kita, setelah kebebasan berpikir dimenangkan, untuk mengejarnya menuju kesempurnaan itu yang melaluinya ia berubah ke kebebasan kehendak untuk mewujudkan yang terakhir sebagai prinsip era baru, maka tujuan akhir pendidikan bukan lagi pengetahuan, melainkan kehendak yang lahir dari pengetahuan, dan ekspresi yang diucapkan dari apa yang harus diusa-hakan adalah: perseorangan atau manusia merdeka. Kebena-ran itu sendiri tidak lain adalah ketercerahan tentang dirinya sendiri, dan penemuan miliki dirinya sendiri, pembebasan dari semua yang asing, abstraksi atau pelepasan sepenuhnya dari semua otoritas, kealamian yang dimenangkan kembali. Manusia yang seutuhnya sejati tidak disediakan oleh sekolah: dan jika mereka tetap ada, mereka ada di sana dengan perasaan dengki pada sekolah. Hal ini tentu saja membuat kita banyak menguasai hal-ihwal, juga menguasai sifat-sifat kita; ia tidak membuat kita menjadi bebas secara alamiah. Tidak ada pengetahuan, betapa pun saksama dan ekstensifnya, tidak ada kecerdasan dan kejelasan, tidak ada kecanggihan dialektika, yang melindungi kita dari keumuman pikiran dan kehendak. Benar-benar tidak pantas sekolah jika kita tidak dapat bersikap egois. Setiap jenis kebanggaan yang sesuai dan setiap angin ketamakan, keinginan untuk jabatan, keikutcampuran me-kanik dan rendah diri, kemunafikan, dll., terikat dengan pengetahuan yang luas dan elegan, pendidikan klasik, dan karena seluruh instruksi latihan ini tidak memberikan pengaruh apa pun pada perilaku etis kita, karenanya ia se-ring jatuh pada nasib terlupakan dalam ukuran yang sama sebagaimana itu tidak digunakan: seseorang mengibaskan debu sekolah. Dan semua ini karena pendidikan dicari hanya dalam aspek formal atau materialnya saja, paling banyak pada keduanya, bukan yang sejati, dalam pendidikan manusia sejati. Para realis tentu saja membuat kemajuan saat me reka menuntut siswa untuk menemukan dan memahami apa yang dipelajari: misalnya, Diestwerg[12], tahu bagaimana berbicara banyak ihwal “prinsip pengalaman”; namun objeknya bukanlah kebenaran, bahkan di sini, melainkan sejenis hal yang positif (seperti agama yang mana juga harus dipertimbangkan), ke mana pelajar diarahkan untuk mencapai kesepakatan dan koherensi dengan sejumlah pengetahuan positif lainnya tanpa meningkatkannya sama sekali di atas keadaan kasar dari sebuah pengalaman dan kontemplasi, dan tanpa mendapat insentif apa pun untuk kerja lebih ekstra dengan pikiran yang telah ia peroleh melalui kontemplasi dan penciptaan darinya, yakni, menjadi spekulatif, yang dari sudut pandang praktis menyiratkan sedemikian rupa moral dan bermoralitas. Di sisi lain, untuk mendidik manusia rasional, hal itu sudah cukup; itu tidak benar-benar ditujukan untuk manusia bernalar, untuk memahami hal-ihwal dan keadaan-keadaan, demikianlah hal itu berakhir, untuk memahami diri sendiri tampaknya bukan urusan semua orang. Jadi nalar dipromisikan secara positif baik dari sisi formal atau pada saat yang sama dari sisi materialnya, dan pengajarannya: untuk mendamaikan diri dengan yang positif. Dalam hal pedagogis sebagaimana dalam bidang tertentu lainnya kebebasan tidak diperbo-lehkan meledak, kekuatan oposisi tidak diperbolehkan untuk mengucapkan sepatah kata pun: mereka menginginkan kepatuhan. Hanya pelatihan formal dan ma-terial yang dituju dan hanya para sarjanawan yang ke luar dari kungkungan kaum humanis, hanya “masyarakat berguna” yang ke luar dari para realis, bersama mereka yang barang tentu tak lain adalah orang-orang manut. Latar belakang kita yang baik tentang ketidakpatuhan sangat dikekang dan dengan itu perkembangan pengetahuan menjadi kehendak bebas. Hasil dari kehidupan sekolah kemudian adalah filistinisme[13]. Sebagaimana kami menemukan jalan masuk dan meresap ke dalam segala hal yang dengannya kita berselisih pada masa kecil kita, sehingga kita menemukan dan berperangai diri pada tahun-tahun kemudian, meletakkan diri kita sendiri pada waktu, menjadi penghamba dan disebut sebagai masyarakat yang baik. Di mana kemudian semangat oposisi akan menguat menggantikan ketundukan yang telah dibudidayakan hingga sekarang, di mana orang yang kreatif dididik dari-pada belajar, di mana guru berubah menjadi sekumpulan pekerja, di mana ia menyadari (bahwa) pengetahuan berubah menjadi kehendak, di mana manusia bebas dianggap sebagai tujuan dan bukan sekadar sebagai yang terpelajar semata? Sayangnya, hanya di sejumlah tempat. Wawasan harus jadi lebih universal, tidak sekedar pendidikan, peradaban, tugas tertinggi manusia itu jelas, melainkan penerapan diri. Akankah pendidikan diabaikan karena alasan itu? Sesedikit kecenderungan kita untuk menderita sengsara kehilangan kebabasan berpikir sementara kita mengubah itu menjadi kemerdekaan kehendak dan mengagungkannya. Jika manusia mula-mula meletakkan kehormatannya dalam mengandalkan dirinya sendiri, mengenal dirinya dan menerapkan dirinya, dengan demikian dalam kemandirian, penegasan diri, dan kebebasan, kemudian dia berusaha untuk membebaskan dirinya dari kebodohan yang membuat objek asing yang tak dapat ditembus menjadi penghalang dan rintangan pada pengetahuan dirinya. Jika seseorang membangkitkan gagasan kebebasan pada manusia maka manusia bebas akan terus menerus membebaskan diri; sebaliknya, jika seseorang hanya mendidik mereka, maka mereka akan selalu menyesuaikan diri dengan keadaan di dalam tatakrama yang sangat terpelajar dan elegan dan merosot menjadi jiwa yang tunduk, menarik diri. Apa bakat kami dan peran subjek yang ter-pelajar yang paling utama? Menghinakan, pemilik budak yang tersenyum dan diri mereka sendiri adalah budak. Kaum realis mungkin bangga akan keuntungan mereka karena mereka tidak hanya mendidik para sarjanawan, tetapi juga masyarakat yang rasional dan berguna: tentu saja, prinsip dasarnya: “orang mengajarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan praktis,” bahkan bisa menjadi moto yang valid di zaman kita jika mereka tidak akan menafsirkan praktik sejati dalam akal sehat. Praktik sejati adalah yang tidak membuat seseorang menjadi hidup, dan pengetahuan lebih berharga dari yang mungkin digunakan orang dan dengan demikian mengamankan tujuan praktik seseorang. Selain itu, praktik tertinggi adalah bahwa manusia bebas mengungkapkan dirinya sendiri, dan pengetahuan yang tahu bahwa mati adalah kebebasan yang menawarkan kehidupan. “Kehidupan praktis!” Dengan itu, orang mengira dia telah mengatakan banyak hal, dan tetap saja, bahkan hewan memimpin kehidupan yang benar-benar praktis dan segera setelah sang ibu menyelesaikan masa penyapihan teoritisnya, mereka akan mencari makanan mereka di ladang dan hutan sebagaimana yang mereka inginkan atau mereka dipekerjakan dengan kuk untuk melayani. Scheitlin[14] dengan ilmu mengenai jiwa-jiwa hewani akan membandingkan lebih jauh lagi, ke dalam agama, sebagaimana jelas dari Science of Animal Souls, sebuah buku yang sangat instruktif yang hanya untuk alasan itu sebab itu menem-patkan hewan demikian dekat dengan peradaban manusia dan manusia beradab sangat dekat dengan hewan. Tujuan itu “demi mendidik untuk kehidupan praktis” hanya melahirkan prinsip-prinsip orang yang bertindakan dan berpikir berdasarkan pepatah-pepatah, tetapi tidak ada manusia yang berprinsip, pikiran-pikiran hukum, bukan orang bebas. Hal yang lain lagi adalah orang yang totalitas pikiran dan tindakannya berayun dalam gerakan yang kontinu dan terbarukan dan hal lain lagi adalah manusia yang setia pada keyakinannya: keyakinan itu sendiri tetap tidak tergoyahkan, tidak berdenyut terbarukan bagai nadi darah melalui jantung, melainkan beku, begitu saja, seperti benda padat dan bahkan jika dimenangkan dan tidak digodam kepalanya tentu saja sesuatu yang positif dan terlebih, dianggap sebagai sesuatu yang suci. Oleh karena itu, pendidikan yang realistis dapat menghasilkan individu yang kuat, rajin, dan sehat, manusia yang tak tergoyahkan, jujur; dan itu tentu saja suatu keuntungan yang tak ternilai harganya untuk seks kita yang adil; tetapi karakter abadi yang tetap hanya terdiri dari banjir yang tiada hentinya dari waktu penciptaan diri mereka dan yang karenanya kekal sebab mereka membentuk diri mereka sendiri setiap saat, karena mereka menetapkan perhatian sementara atas penampakan aktual mereka dari yang tidak pernah layu atau menua, dan aktivitas kreatif dari semangat kekal mereka bukanlah hasil dari pendidikan itu. Yang disebut karakter suara yang kaku bahkan dalam contoh yang terbaik. Jika ingin men-jadi yang sempurna maka harus sekaligus menjadi yang menderita, mengigil dan bergetar dalam hasrat yang terberkati dari peremajaan dan kelahiran kembali yang terus menerus. Dengan demikian jari-jari seluruh pendidikan berjalan bersama menjadi satu pusat yang disebut kepribadian. Pengetahuan, sebagai kesarjanaan dan mendalam atau seluas dan yang mungkin dapat dipahami, tentu saja hanya tetap menjadi kepunyaan dan kepemilikan saja selama ia tidak lenyap di titik ego yang tak tampak, dari sana untuk menjebol sekuat-kuatnya semaunya, sebagai supersensual dan roh yang tak terpahami. Maka pengetahuan mengalami transformasi ini, saat berhenti melekat hanya pada objek, saat ia telah menjadi pengetahuan itu sendiri atau, dalam hal ini tampak lebih jelas, saat itu telah menjadi pengetahuan mengenai gagasan, kesadaran diri akan pikiran. Kemudian ia berubah dengan sendirinya, sehingga bisa dikatkan, ke dalam dorongan, insting pikiran, ke alam bawah sadar pengetahuan yang setiap orang setidaknya dapat bayangkan jika ia membandingkannya dengan seberapa banyak dan pengalaman yang komprehensif dirinya sendiri menjadi terhaluskan ke perasaan sederhana yang orang sebut kebijaksanaan: segala sesuatu yang menye-barkan pengetahuan ditarik ke luar dari pengalaman-pengalaman itu terkonsentrasi menjadi pengetahuan langsung di mana ia menentukan tindakannya dalam seketika. Bagaimanapun, pengetahuan, musti menembus ke dalam imaterialitas ini sementara ia mengorbankan bagian fananya dan, sebagai yang abadi menjadi kehendak. Kesulitan dalam pendidikan kita sampai saat ini sebagian besar terletak pada fakta bahwa pengetahuan tidak memurnikan dirinya menjadi kehendak, untuk diterapkan sendiri, untuk praktik murni. Kaum realis merasakan kebutuhan dan memenuhinya, sekalipun dengan cara yang paling menyedihkan, dengan menumbuhkan kurangnya-gagasan dan keterbelengguan “manusia praktis”. Sebagian besar mahasiswa adalah contoh yang nyata dari peristiwa yang menyedihakan ini. Dilatih dengan cara yang paling baik, mereka melakukan pelatihan; dibor, mereka kemudian mengebor. Bagaimanapun, setiap pendidikan, harus bersifat personal dan membendung dari pengetahuan, harus terus menerus menjaga esensi pengetahuan dalam pikiran, yakni, bahwa hal itu tidak boleh jadi kepemilikan, melainkan ego itu sendiri. Singkatnya, bukan pengetahuanlah yang musti diajarkan, melainkan, individu harus mengembangkan diri; pedagogi mustinya tidak melangkah lebih jauh menuju pembudayaan, melainkan menuju pengembangan manusia merdeka, karakter yang berdaulat; dan oleh karena itu, kehendak yang sampai saat ini ada dikekang kuat, mungkin tidak lagi menjadi lemah. Bukankah mereka memang melemahkan kehendak demi pengetahuan, lalu kenapa melemahkan kehendak demi kehendak? Bagaimanapun, kami tidak menghalangi penCarian manusia akan pengetahuan; kenapa kita musti mengintimidasi kehendak bebasnya? Jika kita memelihara yang pertama, demikian pula kita juga musti memelihara yang terakhir. Kebandelan dan kekeraskepalaan seperti anak kecil memiliki hak sebanyak rasa ingin tahu anak-anak. Yang terakhir ini sedang dirangsang, jadi seseorang juga akan memunculkan kekuatan alami dari kehendak, oposisi. Jika anak tidak belajar tentang kesadaran diri, maka dengan sederhana dia tidak mempelajari apa yang paling penting. Mereka tidak menekan harga dirinya atau kejujurannya. Kebebasanku sendiri aman dari semangat liarnya. Jika keangkuhan berubah menjadi dendam, maka sang anak akan mendekatiku dengan kekerasan, aku tidak memiliki ketahanan akan hal ini sebab aku sebebas anak itu. Namun haruskah aku membela diri terhadapnya dengan menggunakan benteng ototritas yang cocok? Tidak, aku menentangnya dengan kekuatan kebebasanku sendiri, dengan demikian kedengkian anak akan putus dengan sendirinya. Siapa pun manusia sempurna tidak perlu menjadi otoritas. Dan jika kejujuran berubah menjadi keangkuhan, maka ini kehilangan keangkuhannya dalam kekuatan lembut seorang istri sejati dalam keibuannya atau dalam keteguhan suaminya, dia sangat lemah sehingga harus meminta bantuan kepada ototritas dan dia melakukan kesalahan jika dia berpikir untuk memperbaiki ketidaksopanan sesegera setelah dia membuatnya takut. Untuk mempromosikan rasa takut dan hormat, itu adalah hal-hal yang masuk dalam periode rococo (baca: arsitektur abad 18) mati. Lalu apa yang kita keluhkan saat kita meninjau kekurangan pendidikan sekolah kita saat ini? Mengenai fakta bahwa sekolah kita masih berpegang pada prinsip lama, yaitu pengetahuan tanpa kehendak. Prinsip baru ialah kehendak sebagai pengagungan pengetahuan. Oleh karena itu tidak ada “Konkordat antara sekolah dan kehidupan,” melainkan sekolah yang menjadi kehidupan dan di sana, sebagaimana yang di luar darinya, ketersingkapan-diri pribadi menjadi tuntutannya. Pendidikan sekolah universal itu menjadi pendidikan untuk kebebasan, bukan untuk jadi tunduk: untuk jadi bebas, itulah hidup yang sejati. Wawasan mengenai ketidakbernyawaan humanisme harus mendorong realisme pada pengetahuan ini. Sementara itu, yang jadi sadar dalam pendidikan humanistik dari kurangnya kapasitas yang disebut praktik kehidupan (borjuis bukan pribadi) dan berbalik menentang pendidikan formal ke pendidikan material, dalam keyakinan bahwa dengan mengkomunikasikan materi yang berguna dalam pergaulan sosial seseorang tidak hanya melampaui formalisme, melainkan bahkan memenuhi kebutuhan terpuncak. Tapi bahkan pendidikan praktis masih jauh tertinggal di belakang yang pribadi dan bebas, dan memberikan yang pertama kemampuan untuk bergulat melalui kehidupan, dengan demikian yang terakhir memberikan kekuatan untuk mengeluarkan percikan kehidupan dari diri sendiri, jika yang lebih dulu dipersiapkan untuk menemukan diri sendiri di rumah di dunia terberi, jadi yang terakhir mengajarkan untuk berada di rumah dengan diri sendiri. Kita belum menjadi segalanya saat kita bergerak sebagai anggota masyarakat yang berguna, kita jauh lebih mampu untuk menyempurnakan ini hanya jika kita adalah manusia bebas, manusia yang menciptakan diri (menciptakan diri sendiri). Sekarang jika gagasan dan dorongan zaman modern adalah kehendak bebas, maka pedagogi harus berada di depan sebagai permulaan dan tujuan dari pendidikan kepribadian bebas. Kaum humanis, seperti realis, masih membatasi diri mereka sendiri pada pengetahuan, dan terlebih, mereka meninjau pemikiran bebas dan membuat kita menjadi pemikir bebas dengan pembebasan teoritis. Bagaimanapun, melalui pendidikan kita hanya menjadi bebas dari dalam, (terlebih kebebasan, tidak akan lagi pernah menyerah); dari luar, dengan semua kebebasan nurani dan kebebasan berpikir, kita akan tetap manjadi budak dan tetap tunduk. Dan tentu saja, kebebasan eksternal itu untuk pengetahuan yang hanya merupakan inti dan sejati, kebebasan moral, itu untuk kehendak. Oleh karena itu, dalam pendidikan universal ini, karena yang terendah dan tertinggi bertemu di dalamnya, kita menemukan kebenaran kesetaraan bagi semua untuk pertama kalinya, kesetaraan manusia merdeka: hanya kebebasan sebagai kesetaraan. Seseorang dapat, jika menginginkan sebuah nama, menempatkan para moralis di atas para humanis dan para realis karena tujuan akhir mereka adalah pendidikan moral. Yang jelas, kemudian, protes-protes segera datang yang lagi-lagi mereka hendak mendidik kita untuk setia pada moralitas hukum positif dan pada dasarnya, hal ini telah terjadi sampai saat ini. Karena hal itu sudah terjadi sampai saat ini, oleh karena itu aku tidak sependapat dengan itu, dan bahwa aku ingin menguatkan oposisi untuk bangkit dan (supaya) kehendak diri tidak hancur, melainkan untuk ditransformasi, hal itu cukup dapat memperjelas perbedaannya. Supaya tetap bisa membedakan klaim yang dikemukakan di sini dari upaya terbaik para realis, misalnya, yang demikian, sebagaimana yang diungkapkan dalam program Diesterweg yang dipublikasi baru-baru ini pada halaman 36: “Dalam kurangnya pendidikan karakter terdapat kelemahan dari sekolah-sekolah kita, seperti kelemahan pendidikan kita secara umum. Kami tidak menanamkan keyakinan apa pun,” aku cenderung berkata, mulai sekarang kita membutuhkan pendidikan pribadi (bukan menekankan keyakinan). Jika orang hendak menyinggung kembali mereka yang mengikuti prinsip-prinsip ini, menurut pendapatku, maka orang bisa menyebutnya personalis. Oleh karena itu, untuk sekali lagi kembali ke Heinsius, “keinginan kuat bangsa, agar sekolah berjalin lebih erat dengan kehidupan” hanya akan terpenuhi jika seseorang menemukan kehidupan sejati dalam kepribadian penuh, mandiri dan bebas, sebab siapa pun yang berusaha menca-pai tujuan ini tidak akan melepaskan kebaikan huma-nisme atau realisme, melainkan meningkatkan keduanya jauh lebih tinggi dan memuliakannya. Sekalipun sudut pandang nasional yang diambil Heinsius masih belum bisa dipuji sebagai yang benar, karena hal itu hanya bersifat personal. Hanya manusia yang personal dan bebas adalah masyarakat yang baik (kaum realis), dan bahkan dengan kurangnya budaya tertentu (kesarjanaan, artistik, dll), selera penghakiman (kaum humanis). Jika kesimpulanku adalah untuk mengungkapkan ke dalam beberapa kata apa yang menjadi tujuan kemana zaman kita harus diarahkan, maka penurunan yang niscaya dari pembelajaran tak-sukarela dan meningkatnya jaminan-diri yang akan menyempurnakan dirinya sendiri di bawah sinar matahari dari pribadi bebas yang agung dapat diekspresikan sebagai berikut: pengetahuan musti mati dan bangkit kembali sebagai kehendak dan setiap hari mencip takan dirinya yang baru sebagai manusia yang bebas. [1] Otto Friedrich Theodeor Heinsius (1770-1849), filolog, professor, dan terakhir direktur Couvent-Gris di Berlin, penulis sejumlah kamus dan gramar kenamaan, sejarah literatur jerman. Buku yang disinggung Stirner adalah Konkordat: zwischen Schule und Leben, oder Vermittelung des Humanismus und Realismus, aus nationalistische Standpunkt betrachtet, dipublikasikan oleh Schultze di Berlin pada 1842. Juga yang berguna yakni Zeitgemäße Pädagogik der Schule: historisch und kritisch aufgefaßt für das gesammte Schulpublikum, terbit di Berlin pada 1844. [2] Wilhelm-Traugott Krug (1770-1842) flsuf liberal Jerman terkenal dan seorang pengarang, penerus Immanuel Kant menduduki jabatan di Königsberg pada 1805 (dalam bidang) logika dan metafisika, dan dari 1809 hingga 1834 (sebagai) professor filsafat di Leipzig. Karir akademik Krug ditangguhkan demi melawan napoleon pada 1813, dan merupakan rektor Tugendbund. Dia merupakan penulis lebih dari belasan karya, beberapa darinya dalam seri dua hingga lima volume. [3] Geschichte des brandenburgisch-preussischen Staates. Ein Buch für Jedermann diterbitkan pada 1842. Penulisnya, A. Zimmermann, adalah sosok yang sulit difahami, dan secara virtual tak ada yang diketahui darinya bahkan sekarang. Pada masa tertentu kami terbingungkan dengan tak menentu dengan Wilhelm Zimmermann (1807-1878), penulis prolifik yang terkenal menulis sejarah, banyak bermunculan selama dekade-dekade 1840an dan 1850an. [4] Bdk. Jer. rücksichtslosen, di sini digunakan dalam arti tertentu, sebagai kebalikan dari kontemplatif, bukan tak tahu adat atau nirpikir. [5] Bdk. Jer. Industrieller. Dari konteksnya tidak ada bukti bahwa kritik Stirner itu diarahkan pada apa yang kita sebut sebagai industrialis atau para para manufaktur saat ini. Mungkin yang paling dekat yang bisa kita temui atas atas pikirannya di sini adalah istilah Albert Jay Nock, “ekonomisme”, sebagai deskrispi atas pengabdian hidup yang nyaris eksklusif atas produksi dan konsumsi kebaikan semata demi produksi dan konsumsi, alih-alih untuk kenyamanan diskriminatif mereka. [6] Karl Ferdinand Becker (1775-1849), ahli tata bahasa Jerman terkemuka, murid dari logika retorika Jerman, pembaharu dalam bidang sintaks dan gaya bahasa. Gramatika Deutsche-nya terbit pada 1892, Organismus der deutschen Sprache-nya (dicetak) edisi keduanya pada 1841. [7] Friedrich Wilhelm Josef von Schelling (1775-1854), tokoh sentral dalam filsafat Jerman, sekaligus juga filolog elementer. [8] Johann Friedrich Herbart (1776–1841), filsuf Jerman kritikus para filsuf dan filsafat, pengikut Wolf dan Kant dan belakangan mengkritik Kant dan Hegel. Pada suatu waktu seorang profesor di Jena dan kemudian di Königsberg dan Göttingen, bukunya yang memuat sejumlah karya mengenai teori pedagogi dan pendidikan dikenal baik di Jerman. [9] Karl Christian Friedrich Krause (1781–1832), penulis prolifik dalam bidang filsafat, dan terutama dalam cabang teori mengenai pembelajaran. Dia merupakan pengarang sekitar dua puluh lima dan banyak bagian-bagian kecil, yang dipublikasikan dengan numerta. [10] Merujuk pada mahkamah agung lama Kerajaan Jerman kedua, yang pada masa Stirner, untuk tujuan praktis telah tak berfungsi lebih dari satu abad, namun keberadaan formalnya berlanjut melalui banyak cara cacat untuk memaksakan putusannya. [11] Dari Faust karya Goethe, kutipan yang sedemikian rupa telah familiar bergenerasi-generasi bagi para pelajar Jerman. [12] Friedrich Adolf Wilhelm Diesterweg (1790–1863), filolog Jerman mumpuni dan kritikus pendidikan, direktur di perguruan tinggi keguruan di Berlin pada 1832. Ia menjadwalakan serangan sengit atas kontrol pendidikan oleh Negara dan Gereja, dan sebagai penyokong program untuk pemusatan pendidikan untuk anak-anak yang telah secara luas ia ditunjuk sebagai pendorong dan pelanjut pembaharu pendidikan Swis, Johann Heinrich Pestalozzi (1746–1827). Diestwerg, editor dua jurnal pendidikan yang dianggap penting, dipaksa mundur dari jabatannya pada 1850 setelah serangan yang sengit. Sebagaimana dalam kasus Professor Krug, ia sangat dihormati di Prancis. [13] Philistinism. [14] Versuch einer vollständigen Thierseelenkunde oleh Peter Scheitlin dipublikasikan di Stuttgart dan Tübingen pada 1840