Tulisan ini—Mengenai Asosiasi Buruh Internasional (Internasionale)-terdiri dari 4 artikel yang dibuat oleh Bakunin untuk L’Égalité: sebuah terbitan berbahasa Prancis yang diterbitkan oleh kelompok libertarian Federasi Internasionale Berbahasa Romawi pada tanggal 7, 14, 21 dan 28 Agustus 1869. Artikel ini ditulis dalam bahasa tulisan populer yang cocok untuk buruh cerdas di zaman itu.
Bakunin mengawali tulisan ini dengan membuat ringkasan prinsip-prinsip utama Internasionale dengan bahasa tulisan yang sederhana. Selanjutnya dia membahas sifat-sifat borjuasi dan hubungannya dengan Internasionale. Komentar-komentarnya yang cerdas mengenai kelas pekerja, politisi, buruh yang terborjuiskan dan borjuasi secara umum hingga kini masih terasa mengena. Proposal praktisnya menunjukkan betapa dalam dia memahami pemikiran buruh pada umumnya.
Penyebutan “hari-hari di bulan Juni” dan “hari-hari di bulan Desember” perlu sedikit penjelasan tambahan. Revolusi 1848 diawali dengan kerusuhan yang dilancarkan oleh buruh kota Paris pada tanggal 24 Februari 1848. Saat pemerintahan Prancis jatuh, Raja Louis Phillippe turun tahta dan melarikan diri ke Inggris. Kemudian Republik ke-2 dideklarasikan. Saat program Pelatihan Kerja Nasional (mirip dengan program Work Progress Administration yang diluncurkan oleh Roosevelt) macet, muncul kerusuhan baru yang dilancarkan oleh ribuan buruh paris yang kelaparan. Kerusuhan ini kemudian ditumpas oleh Jendral Cavaignac yang mendapat kekuasaan mutlak dari Majelis Nasional Prancis. Pembantadian ini, terjadi dari tanggal 22 sampai dengan 24 Juni 1848, disebut sebagai “hari-hari di bulan Juni”, Hari-hari di bulan Desember” menggambarkan perjalanan Louis Napoleon (di kemudian hari menjadi Kaisar Napoleon III) menuju puncak kekuasaan. Pada plebisit nasional tanggal 18 Desember 1848, dia terpilih menjadi presiden Prancis berkat dukungan buruh tani dan kelas-kelas revolusioner lainnya. Dia kemudian memenjarakan atau membinasakan kaum radikal, liberal demokrat dan oposisi republiken, kemudian membentuk apa yang disebut oleh Bakunin “pemerintahan kekaisaran dan militerisme”. - L’Égalité
Saat mewawancarai calon anggota, Internasionale tidak akan bertanya apakah orang itu atheis atau umat beragama. Apakah orang itu mendukung salah satu partai politik atau justru membenci semua partai politik. Internasionale hanya akan bertanya seperti ini:
Apakah kamu seorang buruh? Jika bukan, apakah kamu akan setulus hati mengusung cita-cita buruh dan meninggalkan semua cita-cita yang bertentangan dengan semangat Internasionale?
Apakah kamu merasa bahwa buruh— produsen tunggal seluruh kemakmuran di dunia, pencipta peradaban dan pejuang kebebasan-kebebasan yang saat ini justru dinikmati sendiri oleh borjuasi-pantas untuk menanggung kutukan kemiskinan, kebodohan dan perbudakan, seorang diri? Apakah kamu tahu bahwa kemiskinan adalah sumber semua malapetaka yang harus buruh derita saat ini? Apakah kamu tahu bahwa kemiskinan yang diderita oleh sebagian besar buruh di dunia maupun kepatuhan buruh pada belenggu modal adalah pasangan wajib dari tatanan ekonomi yang berlaku di masyarakat saat ini?
Apakah kamu tahu bahwa ada antagonisme—perbedaan bak langit dan bumi—yang tak mungkin disatukan antara proletar dengan borjuasi akibat kedudukan ekonomi masing-masing? Apakah kamu tahu bahwa kekaya-rayaan kelas borjuis tidak mungkin hidup berdampingan dengan kesejahteraan dan kebebasan buruh karena kekayaan yang berlimpah-ruah ini hanya bisa tegak dibangun melalui eksploitasi dan penaklukan buruh? Karena itu, demi mendapat harkat dan martabat, kaum buruh menuntut penghapusan borjuasi sebagai suatu kelas sosial. Apakah kamu tahu bahwa tak seorangpun buruh—sepintar apapun dan segigih apapun-bisa sendiri melawan kekuatan borjuasi yang terorganisir: kekuatan yang dipelihara oleh semua negara di dunia.
Apakah kamu tahu bahwa suatu organisasi buruh yang terkucil—secara lokal maupun nasional, di negara Eropa yang paling maju sekalipun—tak mungkin bisa menang melawan persekutuan antara kelas-kelas (sosial) istimewa, pemilik modal dan negara. Satu-satunya cara untuk mengalahkan persekutuan ini adalah dengan menggabungkan semua asosiasi buruh nasional maupun internasional menjadi satu asosiasi buruh universal yang tak lain dan tak bukan adalah Internasionale.
Jika anda sudah paham dan memang menginginkannya, anda akan diterima dengan tangan terbuka tak pandang apa agama dan kewarganegaraan anda. Tetapi sebelum itu, anda harus bersumpah:
1. Untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarga maupun kepentingan politik dan agama dan mendahulukan kepentingan utama Internasionale, yaitu perjuangan buruh melawan modal, misalnya perlawanan ekonomi buruh melawan borjuasi.
2. Untuk tidak sekalipun berkompromi dengan borjuasi untuk kepentingan pribadi.
3. Untuk tidak sekalipun bersikap sombong dan meremehkan rakyat jelata. Jika bersikap demikian, maka anda akan dianggap sebagai borjuis atau musuh proletar karena borjuis tak menyukai kolektivitas sementara proletar hanya mendambakan solidaritas dari semua orang yang berkerja untuk modal dan dieksploitasi oleh modal.
4. Untuk selalu setia dengan solidaritas buruh. Bagi Internasionale, pengkhianatan sekecil apapun terhadap solidaritas buruh akan dianggap sebagai kejahatan paling berat yang mungkin dilakukan oleh seorang buruh. Pendek kata, kamu harus sepenuh hati menerima aturan umum ini dan berjanji untuk menerapkan aturan ini ke dalam setiap tingkah laku sehari-hari.
Kita bisa melihat bahwa para pendiri Internasionale bersikap sangat bijaksana dengan menghapuskan masalah agama dan politik dari agenda Internasionale. Mereka sengaja tidak memasukkan keyakinan anti agama dan negara ke dalam agenda Internasionale karena tujuan utama Internasionale adalah untuk menyatukan semua buruh yang tertindas dan tereksploitasi ke dalam satu gerakan bersama. Mereka harus membangun satu basis yang sama dan merumuskan prinsip-prinsip dasar yang bisa diterima oleh semua buruh tak peduli meski banyaknya penyimpangan ekonomi dan politik yang masih meracuni pikiran kaum tertindas ini.
Memasukkan agenda anti agama dan anti politik apapun ke dalam agenda Internasionale takkan menyatukan tetapi justru semakin memecah belah buruh lebih dari yang sedang terjadi saat ini. Tokoh agama, pemerintah dan semua partai borjuis (bahkan partai yang paling kiri sekalipun) mendapat untung dari kebodohan buruh. Mereka bahkan mendoktrin buruh dengan segala macam gagasan palsu dengan niat mencuci otak buruh supaya rela mengabaikan kepentingan sendiri demi melayani kepentingan kelas istimewa.
Selain itu, perbedaan tingkat perkembangan industri, politik dan moral massa buruh di berbagai negara masih terlalu besar sehingga massa buruh sulit untuk bersatu dalam satu agenda anti politik dan anti agama. Memaksakan agenda anti politik dan anti agama kepada setiap anggota takkan menghasilkan satu asosiasi buruh universal tetapi hanya akan menghasilkan sekte dan kemudian membuat Internasionale layu sebelum berkembang. Ada lagi alasan penting untuk menghapus semua tendensi politis, paling tidak secara formal dan hanya secara formal. Sampai sekarang, politik belum pernah berpihak pada rakyat, jika yang dimaksud dengan rakyat adalah orang-orang kelas bawah, rakyat jelata, buruh-buruh paling miskin yang kerja kerasnya menopang kelangsungan dunia. Sampai sekarang politik hanya berpihak pada kelas istimewa—golongan masyarakat yang memanfaatkan kekuatan fisik rakyat kecil untuk saling menggulingkan dan saling mengganti dalam pergulatan abadimemperebutkan kekuasaan. Rakyat memindahkan dukungan dari satu kubu ke kubu lainnya dengan harapan kosong bahwa paling tidak salah satu kubu akan mengubah arah politiknya dan ratusan tahun kemiskinan dan perbudakan akan sirna. Revolusi Prancis yang masyhur sekalipun pada dasarnya tidak mengubah keadaan buruh. Revolusi Prancis hanya mengganti golongan ningrat dengan golongan borjuis. Rakyat tak lagi disebut sebagai hamba sahaya. Mereka disebut orang bebas. Secara hukum memiliki hak sebagai warga negara yang bebas, tetapi pada kenyataannya mereka tetap hamba sahaya yang dibelit kemiskinan.
Massa buruh akan tetap diperbudak selama mereka bersikap dan bertindak sebagai alat politik kaum borjuis, baik borjuis konservatif ataupun borjuis liberal. Kaum-kaum borjuis akan tetap memperbudak massa buruh selama mereka tetap bersikap dan bertindak sebagai alat politik kaum borjuis bahkan ketika kaum borjuis tersebut pura-pura bersikap revolusioner. Ini karena semua politik borjuis—apapun nama dan warnanya-hanya punya satu tujuan, yaitu memelihara dominasi borjuis. Sementara, dominasi borjuis hanya berarti perbudakan kaum proletar.
Pertanyaannya adalah: apa yang harus Internasionale lakukan? Internasionale harus menjauhkan massa buruh dari semua politik borjuis dan membersihkan agenda politiknya dari politik borjuis. Pada awal pengorganisasian Internasionale, lembaga sosial yang menindas buruh adalah gereja, kerajaan, ningrat dan borjuasi. Borjuasi, terutama borjuis liberal, sudah tentu lebih manusiawi dari yang lain. Walau demikian, borjuis liberal pun juga tergantung pada eksploitasi massa buruh dan punya tujuan tunggal, yaitu mengalahkan saingannya dalam perebutan monopoli dalam mendominasi buruh. Tetapi, sebelumnya Internasionale harus melapangkan jalan. Dilihat dari segi emansipasi, semua politik sudah diracuni oleh unsur-unsur reaksioner. Pertama-tama Internasionale harus membersihkan diri dari semua sistem politik dan membangun politik baru dari puing-puing tatanan sosial borjuis.
Oleh sebab itu, para pendiri Internasionale membangun organisasi Internasionale hanya berdasarkan pada perjuangan ekonomi melawan eksploitasi buruh. Para pendiri punya pemikiran bahwa, setelah mendapat kepercayaan diri dari kebenaran cita-cita dan keunggulan jumlahnya, buruh akan semakin aktif dalam perjuangan bersama dengan sesama buruh melawan para majikan. Dahsyatnya peristiwa dan hebatnya perjuangan akan merangsang buruh untuk mempelajari sisi-sisi sosial, politik dan filsafat dari prinsip dasar Internasionale yang merupakan cerminan sejati pengalaman hidup dan aspirasi buruh itu sendiri.
Jika dilihat dari sisi sosial dan politik, pasangan wajib dari prinsip Internasionale adalah penghapusan semua batas-batas negara. Selanjutnya, dari puing-puingnya, dibangunlah konfederasi Internasionale semua kelompok produktif dan kelompok kebangsaan. Secara filsafat, ini tak lain dan tak bukan perwujudan dari keadilan, kemerdekaan, kesetaraan dan kebahagiaan umat manusia. Cita-cita tersebut akan membuat semua fantasi agama dan mimpi kosong kehidupan yang indah di alam surga terasa berlebihan.
Tetapi untuk menyerukan dua tujuan puncak tersebut secara dini kepada buruh yang kurang cerdas dan masih keracunan doktrin atau propaganda negara dan tokoh agama yang melemahkan moral tentu akan membuat mereka kaget lalu menarik diri. Tetapi mereka malah tak curiga bahwa tujuan tersebut pada hakikatnya adalah wujud paling sejati dari kepentingan mereka sendiri, bahwa pencarian tujuan-tujuan tersebut akan membawa mereka menuju perwujudan hasrat yang paling didamba-dambakan dan bahwa prasangka politik dan keagamaan yang membuat mereka menolak pemikiran ini mungkin saja merupakan penyebab langsung dari perbudakan dan kemiskinan buruh yang berkepanjangan.
Kita juga perlu memahami prasangka kelas istimewa. Prasangka massa buruh menghalangi pemenuhan kepentingan massa buruh itu sendiri sedangkan prasangka kelas istimewa lahir karena kepentingan kelas istimewa itu sendiri. Massa buruh menginginkan emansipasi, tetapi tidak tahu jika mereka menginginkannya. Kelas istimewa tahu bahwa massa buruh menginginkan emansipasi, tetapi tak mau jika emansipasi tersebut terwujud jadi kenyataan. Dari keduanya, siapa yang punya penyakit yang tak bisa diobati? Sudah tentu borjuasi.
Biasanya, kita hanya bisa meyakinkan buruh yang sudah merasa perlu untuk berubah berkat naluri mereka yang sehat dan hidupnya yang melarat. Tetapi kita takkan bisa meyakinkan buruh yang tidak merasa perlu untuk berubah. kita juga tak mungkin bisa meyakinkan buruh yang ingin lepas dari hidupnya yang sulit tetapi justru terpikat oleh pemikiran yang berlawanan dengan pemikiran kita karena perbedaan sifat sosial, intelektual dan kebiasaan moral.
Kita juga tak bisa menganjurkan sosialisme kepada golongan ningrat yang mata duitan atau borjuis yang berambisi naik derajat ke golongan ningrat atau buruh yang pikiran dan perasaannya ingin menjadi borjuis. Kita tak mungkin bisa menganjurkan sosialisme kepada kaum intelektual sombong atau ilmuwan gadungan yang membangga-banggakan pengetahuannya hanya setelah sepotong-potong membaca beberapa buah buku. Orang seperti itu sangat sombong dan meremehkan massa buruh yang tak berpendidikan. Mereka diam-diam punya khayalan ditakdirkan untuk menjadi kasta dominan baru.
Agitasi dan penalaran seperti apapun tak mungkin bisa menyembuhkan cacat moral seperti itu. Hanya ada satu cara jitu untuk mengalahkan kekeras-kepalaan mereka, yaitu dengan aksi: menutup setiap pintu menuju kelas istimewa serta eksploitasi dan dominasi terhadap buruh. Hanya revolusi sosial yang bisa menyapu bersih semua ketimpangan dan memberi harapan serta tuntunan dalam mencari kebahagiaan dalam kesetaraan dan solidaritas.
Beda cerita jika kita bertemu dengan buruh serius. Yang dimaksud dengan buruh serius adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dihimpit oleh beban kerja, orang-orang yang hidupnya sangat sulit sehingga mereka (kecuali dalam kasus khusus) tak punya harapan untuk mendapat hidup yang lebih baik. Termasuk pula segelintir buruh yang berjiwa besar. Meski punya kesempatan untuk keluar dari kelas pekerja, mereka justru memilih untuk berdiri bersama-sama dengan kawan sesama buruh, menderita dan berjuang melawan borjuasi. Orang-orang seperti ini tak perlu lagi diyakinkan. Mereka sudah sosialis sejati.
Massa buruh hidup melarat dan bodoh akibat Internasionale, karena beban kerja sehari-hari. Meski punya prasangka politik dan sosial, tanpa sadar mereka sebenarnya adalah sosialis. Karena posisi sosialnya, mereka benar-benar lebih sosialis daripada gabungan semua ilmuwan dan borjuis sosialis. Buruh menjadi sosialis karena kondisi material dan kebutuhan hidupnya sementara ilmuwan dan borjuis menjadi sosialis hanya karena intelektualitasnya. Dalam kehidupan nyata, kebutuhan material punya pengaruh lebih besar daripada kebutuhan intelektual. Meski selalu menjadi ekspresi kehidupan atau cermin dari perkembangan hidup tanpa henti, kebutuhan intelektual takkan pernah bisa menjadi prinsip yang vital.
Buruh bukannya kurang nalar untuk memahami realitas dan bukan pula kurang memiliki Cita-cita sosialis. Buruh hanya kurang memiliki pemikiran sosialis. Jauh di lubuk hati, setiap buruh mendambakan hidup yang lengkap, sejahtera dalam kemakmuran material dan mengalami peningkatan intelektual berdasarkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua umat manusia yang mendambakan hidup dan bekerja dalam suasana merdeka. Jelas bahwa impian ini tak bisa terwujud dalam sistem sosial yang berlaku saat ini karena sistem tersebut ada berdasarkan eksploitasi yang memandang rendah massa pekerja. Karena emansipasi hanya bisa dicapai dengan menggulingkan tatanan sosial yang sedang berlaku saat ini, setiap buruh yang gigih punya potensi untuk menjadi seorang sosialis revolusioner.
Bibit-bibit pemikiran sosialis sudah tertanam di alam bawah sadar setiap buruh yang serius. Tujuan kaum sosialis adalah untuk membuat buruh menyadari keinginan-keinginannya dan untuk membangkitkan kecerdasan yang nantinya sejalan dan seiringan dengan pencarian batinnya. Begitu kecerdasan buruh meningkat hingga ke tataran naluriah, tekad mereka akan terfokus dan kekuatan mereka jadi luar biasa. Sudah jadi hukum alam bahwa kebodohan dan prasangka agama ataupun politik memperlambat perkembangan kecerdasan buruh. Lalu, bagaimana cara menghapus prasangka? Dengan pendidikan? Dengan propaganda?
Pendidikan dan propaganda memang cara yang hebat tetapi belum cukup untuk menghapus prasangka dan memberantas kebodohan. Buruh yang terisolir dan dibebani beratnya pekerjaan dan kesibukan sehari-hari takkan sempat pergi ke sekolah. Selain itu, siapa yang akan membuat propaganda? Apakah segelintir sosialis sejati yang baru saja keluar dari lingkungan borjuis? Tak usah ditanya mereka sangat berdedikasi dan termotivasi karena kebesaranjiwanya. Namun, mereka tak cukup banyak jumlahnya untuk berpropaganda ke massa buruh. Selain itu, massa buruh akan curiga dengan propaganda intelektual yang berlatar belakang berbeda (atau malah bertentangan) dengan massa buruh. Pembukaan anggaran dasar Internasionale menyatakan: “Emansipasi buruh adalah tugas buruh itu sendiri” Pernyataan ini mutlak kebenarannya. Inilah prinsip dasar dari Internasionale. Namun, buruh umumnya tak begitu menguasai teori dan tak mengerti implikasinya. Satu-satunya cara buruh untuk mempelajari teori adalah dengan praktik: emansipasi melalui tindakan praktis. Cara ini butuh solidaritas bulat dalam perjuangan melawan majikan melalui solidaritas buruh dan membangun perlawanan (dana pemogokan).
Jika pada awal pembentukannya Internasionale mentoleransi gagasan agama dan politik reaksioner anggotanya, bukan karena pendiri Internasionale acuh tak acuh dengan gagasan seperti itu. Seperti yang sudah saya terangkan sebelumnya, Internasionale tak mungkin bisa acuh tak acuh karena setiap gagasan reaksioner menggerogoti prinsip dasar dan jati diri Internasionale.
Pendiri Internasionale bersikap bijaksana dengan menerapkan politik toleransi. Mereka berpendapat, jika seorang buruh terjun ke dalam perjuangan, dia akan segera sadar bahwa ada jurang pemisah diantara reaksi kaum borjuis dan aspirasi yang paling dia dambakan. Begitu menyadari hal ini, dia akan secara terbuka mengaku sebagai sosialis revolusioner.
Namun, beda halnya dengan borjuasi. Semua kepentingannya bertentangan dengan transformasi ekonomi masyarakat. Jika gagasannya juga bertentangan dengan transformasi ekonomi masyarakat, mereka akan jadi reaksioner atau dalam istilah jaman sekarang disebut “moderat” Borjuasi akan selalu reaksioner sehingga kita harus menjaga mereka supaya tidak menyusup ke dalam Internasionale.
Massa buruh bisa mengetahui borjuis mana yang tulus ingin menjadi anggota Internasionale dengan melihat bagaimana borjuis tersebut menjaga hubungan dengan dunia borjuis.
Mayoritas borjuis kapitalis dan tuan tanah yang berani berdiri dan menunjukkan kebencian terhadap gerakan buruh adalah musuh yang nyata, tetapi pastinya tidak begitu berbahaya dibanding orang-orang munafik.
Namun ada lagi golongan borjuis sosialis lainnya. Mereka tidak terang-terangan atau seberani golongan yang saya sebut di atas. Mereka pun musuh likuidasi sosial (penghapusan institusi otoritarian yang mengeksploitasi buruh) sama seperti semua borjuis reaksioner lainnya: para pembela institusi-institusi yang bertanggung-jawab atas perbudakan proletar. Namun demikian, mereka justru berlagak Internasionale sebagai penyeru emansipasi kelas pekerja.
Borjuis sosialis, borjuis liberal dan borjuis radikal yang mendirikan League for Peace and Freedom termasuk ke dalam golongan ini. Pada tahun 1867, saat baru berumur satu tahun, mereka ketakutan dan menolak sosialisme mentah-mentah. Tahun lalu, 1866, pada Kongres Bern, sekali lagi mereka menolak mentah-mentah kesetaraan ekonomi. Sekarang, tahun 1869, setelah melihat League for Peace and Freedom mendekati ajal, mereka ingin sedikit mengulur nafas. Mereka akhirnya menyadari bahwa mereka harus menghadapi masalah sosial ini. Kini mereka menyebut diri sebagai sosialis. Walau begitu, sebenarnya mereka adalah borjuis sosialis karena mereka akan menyelesaikan semua masalah sosial berdasarkan kesetaraan sosial. Mereka ingin melestarikan kepentingan mereka terhadap modal, sewa tanah sambil menyerukan emansipasi buruh.
Apa yang mendorong mereka untuk memikul tugas yang mustahil dan konyol seperti ini? Sebagian besar borjuis bosan dengan kekuasaan pemerintahan kekaisaran dan militerisme yang ikut mereka tegakkan saat Revolusi 1848 karena terpaksa. Kita juga perlu ingat dengan hari-hari di bulan Juni—bibit dari hari-hari di bulan Desember saat Majelis Nasional dengan suara bulat menghujat Proudhon sang sosialis yang masyhur dan heroik, satu-satunya orang yang punya nyali untuk membantah dan menelanjangi gerombolan fanatik borjuis konservatif, borjuis liberal dan borjuis radikal.
Tetapi kita pun tak boleh lupa bahwa di antara para penghujat, ada pula segelintir orang yang masih hidup, yang bertambah militan dari hari ke hari, yang mendapat pembaptisan revolusioner pada hari-hari pembantaian di bulan Desember dan yang kemudian rela menjadi syahid untuk kemerdekaan. Walau ada pengecualian yang mulia tersebut, seluruh borjuasi (termasuk borjuis radikal) membangun pemerintahan kekaisaran dan militerisme yang efeknya sedang mereka sesali saat ini. Dulu mereka menggunakan rezim ini untuk melawan proletariat, sekarang mereka ingin menyingkirkannya. Kenapa? Karena rezim itu sudah menghina dan mengganggu kepentingan borjuis. Tetapi bagaimana cara mereka membebaskan diri? Dulu mereka berani dan punya kuasa untuk menentang proletariat. Sekarang mereka penakut, pikun dan impoten.
Saat ini mereka hanya bisa berharap bantuan dari proletariat. Tetapi bagaimana cara membujuk mereka? Dengan janji kemerdekaan dan kesetaraan? Janji-janji itu sudah tak mempan lagi untuk membujuk buruh. Buruh sudah belajar dari pengalaman pahit saat kata-kata manis tersebut hanya berarti pelestarian perbudakan ekonomi proletariat yang sama beratnya dengan perbudakan yang dulu.
Untuk menyentuh hati jutaan buruh, mereka harus bicara tentang emansipasi ekonomi. Sekarang ini semua buruh sudah tahu bahwa kemerdekaan ekonomi adalah fondasi dari kemerdekaan-kemerdekaan lainnya. Jika ini masalahnya, maka borjuis mau tidak mau bicara tentang reformasi ekonomi masyarakat.
Lalu, borjuis-borjuis anggota League for Peace and Freedom berkata dalam hati:
“Baiklah kalau begitu. Kita juga akan menyebut diri sebagai sosialis. Kita harus menjanjikan reformasi sosial dan ekonomi kepada buruh tetapi dengan syarat mereka mau menghormati peradaban dan kekuasaan borjuasi serta adanya hak-milik pribadi dan hak-milik warisan serta kepentingan terhadap modal dan lain-lainnya. Kita harus cari cara untuk meyakinkan mereka bahwa hanya dalam kondisi tersebut dominasi kita akan terjaga dan (anehnya) mereka akan mendapat emansipasi. Kita pun akan meyakinkan mereka bahwa semua reformasi sosial dan ekonomi segera terwujud, penting sekali untuk melancarkan revolusi politik yang baik, hanya politik saja, semerah yang mereka inginkan, kalau perlu disertai dengan pesta potong leher besar-besaran, tetapi tetap dengan rasa hormat yang dalam kepada kesakralan hak milik, 100% Revolusi Jacobin. Pendek kata, kita akan membuat diri kita penguasa keadaan dan memberi mereka sekedar apa yang kita anggap pantas untuk mereka.”
Buruh bisa mengenali sosialis palsu (sosialis borjuis) berdasarkan satu tanda yang sangat mencolok: sosialis borjuis punya pendapat bahwa transformasi politik harus mendahului transformasi sosial-ekonomi. Sosialis borjuis tidak sepakat jika keduanya terwujud secara serentak. Sosialis borjuis akan acuh-tak-acuh jika mendengar pendapat bahwa revolusi politik hanya punya makna jika revolusi politik dimulai dengan likuidasi sosial yang menyeluruh, seketika dan langsung.
Jika ingin berpegang teguh pada prinsip dasar, Internasionale tak boleh menyimpang dari jalan tunggal yang akan membawa Internasionale menuju kemenangan. Penting untuk melawan pengaruh dua golongan sosialis borjuis: pembela politik borjuis (termasuk borjuis revolusioner) dan “orang-orang pragmatis” yang berkerja sama dengan kaum borjuis.
Berikut ini adalah ringkasan politik Internasionale yang diambil dari pembukaan anggaran dasar Internasionale:
“Bahwa penghambaan buruh kepada modal adalah sumber dari perbudakan moral dan material politik. Oleh sebab itulah emansipasi ekonomi buruh menjadi tujuan besar yang lebih utama dari semua gerakan politik.”
Jelas bahwa setiap gerakan politik yang tidak bertujuan untuk mewujudkan emansipasi ekonomi buruh yang seketika, langsung, pasti dan lengkap serta tidak tegas dan jelas memproklamirkan prinsip-prinsip kesetaraan ekonomi (misalnya pengembalian modal kepada buruh, likuidasi sosial) tergolong sebagai gerakan borjuis dan harus disingkirkan dari Internasionale. Politik borjuis demokrat dan borjuis sosialis berpijak pada gagasan bahwa kemerdekaan politik adalah kondisi awal bagi emansipasi ekonomi. Kata-kata tersebut hanya punya satu arti: buruh harus berjuang bersama dengan borjuis radikal untuk mewujudkan revolusi politik dan kemudian berjuang melawan borjuis radikal untuk mewujudkan revolusi ekonomi.
Kami menolak mentah-mentah teori kacau balau seperti itu yang sekali lagi akan membuat buruh jadi alat perbudakannya sendiri dan sekali lagi membuat buruh terjun sendiri ke dalam eksploitasi buruh oleh borjuasi. Mewujudkan kemerdekaan politik sebelum kemerdekaan sosial ekonomi hanya berarti bahwa relasi ekonomis dan sosial akan tidak terusik, paling tidak, untuk “sementara” Singkat kata, kapitalis akan mempertahankan kekayaannya dan buruh memelihara kemiskinannya.
Mereka akan berkata bahwa begitu kemerdekaan politik terwujud, kemerdekaan tersebut akan berguna sebagai alat bagi buruh untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan ekonomi. Memang kemerdekaan adalah kekuatan yang dahsyat jika buruh punya kesempatan untuk menggunakannya dan jika kemerdekaan itu milik buruh seutuhnya. Tetapi jika tidak, kemerdekaan politik akan selalu menjadi tipu muslihat yang tampak nyata di depan mata: sebuah cerita fiksi. Kita harus hidup di alam mimpi supaya bisa membayangkan buruh—dalam keadaan sosial ekonomi seperti saat ini-bisa sungguh-sungguh menikmati kemerdekaan politik. Buruh tak punya cukup sarana material dan moral untuk bisa demikian.
Apa yang kita lihat dari Prancis setelah revolusi 1848? Dari sisi politis dan revolusi paling radikal yang bisa dibayangkan?
Buruh Prancis jelas bukannya bodoh karena acuh tak acuh hingga menyerahkan semuanya pada politisi borjuis meski sebenarnya mereka punya hak pilih universal. Mengapa? Ini karena mereka tak punya cukup sarana material yang dibutuhkan untuk mewujudkan kemerdekaan politik...sementara itu borjuis radikal dan liberal (termasuk borjuis konservatif, orang-orang yang baru kemarin sore mengaku kaum republik dan orang-orang munafik politik lainnya) menyusun persekongkolan dan siasat jahat. Borjuis bisa berbuat demikian karena punya pendapatan dari sewa tanah atau pekerjaan yang menguntungkan, ada pula yang karena punya jabatan di pemerintahan yang sudah tentu akan mereka pelihara dan bahkan akan mereka genggam lebih erat lagi.
Tetapi coba kita berandai-andai....Jika massa buruh makin cerdas karena pengalaman sehingga tak mau memilih borjuis lalu memilih buruh biasa dari kalangan sendiri sebagai anggota legislatif, apa yang akan terjadi? Buruh (anggota legislatif yang baru) tersebut akan pindah ke lingkungan borjuis lalu bergumul dan menyerap gagasan borjuis lalu meniru kebiasaan-kebiasaan kaum borjuis. Anggota legislatif yang baru tersebut akan berhenti jadi buruh dan negarawan lalu berubah jadi seorang borjuis. Malah dia jadi lebih keborjuis-borjuisan daripada borjuis asli. Ini karena manusia tidak menciptakan posisi, sebaliknya posisi yang menciptakan manusia. Kita sudah belajar dari pengalaman bahwa borjuis buruh sama egoisnya dengan borjuis pengeksploitasi, sama membawa bencana (untuk Internasionale) dengan borjuis sosialis dan sama sombong dan konyol dibanding borjuis yang berubah jadi ningrat.
Untuk menggerakkan buruh demi merebut kemerdekaan politik tanpa berdebat sengit terlebih dulu dengan sosialisme, tanpa harus mengucapkan kata-kata yang sangat mereka hindari: likuidasi sosial, borjuasi akan berkata, “Berikan padaku kemerdekaan politik supaya besok bisa kami gunakan untuk melawan kalian”.
Saat borjuis sosialis berusaha menggalang bantuan buruh untuk merebut kemerdekaan politik dengan iming-iming sosialisme, buruh justru sadar keadaan—berkat penerangan dan panduan dari prinsip Internasionale-dan mengatur barisan secara efektif dan membentuk satu kekuatan sejati, secara nasional maupun internasional, untuk mengganti politik borjuasi dengan politik buruh. Saat borjuasi butuh revolusi untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan politik penuh di bawah naungan lembaga republik sedangkan revolusi tersebut tak bisa terwujud tanpa dukungan rakyat...penting supaya gerakan buruh tak lagi dimanfaatkan untuk kepentingan borjuis dan menjaga supaya revolusi terwujud semata-mata demi kejayaan rakyat, demi Cita-cita semua orang yang berjuang melawan pengeksploitasi buruh.
Karena setia pada prinsip, Internasionale takkan mendukung segala jenis agitasi politik yang tidak bertujuan untuk emansipasi ekonomi buruh yang seketika, langsung dan menyeluruh serta tidak bertujuan pada penghapusan borjuasi sebagai suatu kelas yang secara ekonomi menjauhkan diri dari rakyat pada umumnya. Internasionale takkan mendukung segala jenis revolusi yang sejak awal tidak mengibarkan bendera likuidasi sosial.
Namun, revolusi bukanlah karya-cipta ataupun keputusan sepihak dari seseorang ataupun suatu asosiasi paling kuat sekalipun. Revolusi bersih dari pamrih mapun niat jahat. Revolusi selalu lahir karena dipaksa oleh suatu peristiwa yang terjadi secara alamiah. Revolusi memang bisa diramalkan, jika sudah dekat bisa dirasakan tetapi ledakannya tidak bisa dibuat lebih cepat.
Setelah yakin dengan kebenaran dari pernyataan tersebut, kemudian kami punya pertanyaan: “Politik apa yang harus Internasionale laksanakan selama jeda waktu panjang yang memisahkan kami dengan revolusi sosial akbar yang dinanti semua orang? Tak peduli semua politik lokal dan nasional, Internasionale berusaha untuk mengisi agitasi buruh di seluruh dunia hanya dengan sifat ekonomi saja. Untuk mencapai tujuan jangka pendek—jam kerja lebih sedikit dan upah lebih tinggi-Internasionale bersiap diri untuk mogok kerja, membangun dana pemogokan dan menyatukan massa buruh ke dalam satu organisasi tunggal.
Marilah kita melebarkan sayap asosiasi kita. Tetapi di waktu yang sama, kita tak boleh lupa untuk mengkonsolidasi dan memperkuat Internasionale sehingga solidaritas kita—sebagai seluruh kekuatan kita-kian kokoh dari waktu ke waktu. Mari kita tingkatkan solidaritas dalam belajar, dalam bekerja, dalam aksi bersama dan dalam hidup itu sendiri. Mari kita berusaha bersama untuk membuat hidup sedikit lebih mudah dijalani. Kalau mungkin, mari kita membangun koperasi produsen-konsumen dan masyarakat yang saling memberi pinjaman modal. Meski dalam kondisi ekonomi seperti saat ini tak bisa secara cukup atau nyata membebaskan kita, dua hal tersebut (koperasi produsen-konsumen dan masyarakat yang saling memberi pinjaman modal) tetap penting karena bisa melatih buruh untuk mengelola ekonomi dan menanam benih penting bagi Internasionale di masa yang akan datang.
Internasionale akan senantiasa mempropagandakan prinsipnya karena prinsip itu—sebagai pengucapan paling tepat dari kepentingan bersama seluruh buruh di dunia-adalah roh, nyawa dan tenaga hidup asosiasi kita. Internasionale akan terus menyebarkan propaganda, bukan karena melihat kerapuhan borjuasi, tetapi supaya setiap buruh yang sedang melepaskan diri dari belenggu ketumpulan moral dan intelektual akan bisa mengerti situasi yang sedang mereka hadapi, tahu apa yang diinginkan, tahu apa yang harus dilakukan dan tahu dalam kondisi apa dia bisa mendapatkan haknya sebagai seorang manusia. Internasionale harus menyebarkan propagandanya lebih giat lagi karena di dalam tubuh Internasionale itu sendiri kita menemukan pengaruh-pengaruh yang menyatakan kebencian pada prinsip ini. Mereka menghina prinsip ini sebagai teori kosong dan tak berguna serta berusaha untuk menyesatkan dan membuat buruh kembali ke katekisme relijius dan ekonomi borjuis.
Internasionale akan terus berkembang dan mengorganisir diri hingga kokoh supaya ketika revolusi—matang karena tekanan peristiwa-pecah, akan ada satu kekuatan sejati yang sudah siap, yang tahu apa yang harus dilakukan sehingga mampu membawa revolusi ke arah yang ditunjukkan oleh aspirasi rakyat: suatu organisasi asosiasi buruh internasional serius yang menaungi semua buruh di penjuru dunia, suatu organisasi yang sanggup menggantikan lembaga-lembaga negara yang sedang menyongsong kematiannya.
Kami menutup pemaparan serius dari politik Internasionale dengan kutipan dari paragraf terakhir pembukaan anggaran dasar Internasionale:
“Gerakan buruh diwujudkan di negara-negara industri Eropa untuk membuka pintu menuju harapan baru dan memberi peringatan keras supaya buruh jangan lagi terperosok ke dalam kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dulu.”