#title Krisis Gerakan Ekologi
#author Murray Bookchin
#LISTtitle K
#date 1988
#source [[https://archive.org/details/murray-bookchin-ekologi-dan-anarkisme_202501][Ekologi dan Anarkisme: Kumpulan Esai]]
#lang id
#pubdate 2026-11-01T01:29:45
#authors Murray Bookchin
#translator Bima Satria Putra
#publication Pustaka Catut
#publicationdate 2021
#topics Ekologi Sosial; Anarkisme-Ekologis; Anarkisme-Sosial
#language Indonesia
#notes Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Matsutake (Archipelago Anarchist Archive).
Gerakan ekologi di Amerika—dan khususnya gerakan Hijau Amerika—saat ini sedang menghadapi krisis arah dan kesadaran yang serius.
Akankah kelompok yang berorientasi ekologis dan kelompok Hijau akan menjadi gerakan yang melihat bahwa, akar dari masalah ekologis kita ada dalam masalah sosial—terutama, dalam dominasi manusia terhadap manusia yang mana menghasilkan gagasan yang sangat mendominasi alam?
Atau, akankah kelompok ekologi dan gerakan Hijau menjadi agama dengan kelip-kelip bintang yang dihiasi dengan dewa-dewi, peri-peri hutan dan diorganisir dengan ritual yang memabukkan, yang mereduksi kelompok aktivis militan menjadi pertemuan kelompok yang memanjakan diri sendiri?
Dua alternatif yang bertentangan ini sangat nyata. Ketika kita mencoba membedakannya, muncul tuduhan bahwa itu adalah “perpecahan” atau “konfrontasi” yang dengan nada sinis yang berlebihan, mengaburkan perbedaan pandangan yang signifikan dan mencegah upaya menggali suatu permasalahan yang serius dengan hati-hati. Teriakan palsu seperti “Bersatulah!” sering digunakan untuk membungkam satu sudut pandang demi kepentingan yang lain. Kita tentu bisa memiliki persatuan—dan diskusi, jika anda mau—terlepas dari perbedaan besar antara keduanya. Tapi retorika “Zaman Baru” justru sebaliknya, inilah bentuk demokrasi itu.
Faktanya, perkembangan yang nyata justru terjadi persis ketika orang punya pandangan yang berbeda dan saling berhadapan, untuk secara kreatif mencapai tingkat kebenaran yang lebih tinggi -bukan cuma mengadopsi penyebut gagasan umum yang rendah yang “dapat diterima” untuk semua orang namun sebenarnya kelak tidak memuaskan siapa pun. Kebenaran dicapai melalui dialog dan, ya, perselisihan yang keras—bukan dengan keseragaman yang mematikan dan keheningan kelam yang akhirnya mengubah “gagasan” hambar menjadi dogma yang kaku.
*** Perbedaan Dasar
Mari kita menghadapinya: ada perselisihan besar dalam gerakan Hijau dan ekologi hari ini. Ini adalah perselisihan antara Ekologi Sosial dan Ekologi Dalam. Yang pertama adalah kumpulan gagasan yang meminta agar kita berurusan dengan manusia terutama sebagai makhluk sosial yang sangat beragam: mengenai status mereka sebagai orang miskin atau kaya, perempuan atau laki-laki, kulit hitam atau putih, yang gay dan straight [heteroseksual], atau tertindas dan penindas. Sementara yang kedua, melihat manusia sebagai “spesies” saja—seperti halnya mamalia dan, bagi beberapa orang pemimpin Earth First![1], yang melihat manusia sebagai makhluk yang “kejam—yang sepenuhnya tunduk pada “kekuatan alam” dan pada dasarnya dapat ditukar dengan makhluk pengerat, beruang grizzly (spesies favorit!) atau dalam hal ini, dengan serangga, bakteri, dan virus.
Ekologi Dalam adalah filsafat yang samar-samar, yang kabur, dan membawa masalah jangka panjang yang harus diperdebatkan oleh sarjana modern. Mereka mendukung perbedaan yang sangat praktis. Sementara itu, pandangan sosial tentang kemanusiaan, yaitu Ekologi Sosial, fokus terutama pada kebangkitan historis hirarki dan kebutuhan menghilangkan hubungan hirarkis. Ekologi sosial menekankan tuntutan yang adil dari orang-orang yang tertindas dalam masyarakat yang telah dengan seenaknya mengeksploitasi manusia, dan Ekologi Sosial menuntut kebebasan mereka. Ia mengeksplorasi kemungkinan atau teknologi baru dan kepekaan baru, termasuk bentuk penalaran yang lebih organik, yang akan menyelaraskan hubungan kita dengan alam dan bukannya mempertentangkan masyarakat dengan alam. Hal ini menuntut perubahan kelembagaan secara meluas yang akan menghapuskan masyarakat pasar yang mendasarkan diri pada prinsip “tumbuh-mati” yang kompetitif—atau sejujurnya, yang disebut kapitalisme, bukan kata-kata netral yang aman secara politis dan sosial seperti masyarakat “industri,” “teknologi,” atau “pasca industri”—dan menggantinya dengan masyarakat yang berorientasi ekologis berdasarkan komunitas yang bebas, yang terkoordinasi, yang bertingkat secara manusiawi di mana orang akan memiliki kontrol secara langsung dan tatap muka atas kehidupan pribadi dan sosial mereka.
Sebaliknya, “Ekologi Dalam” pada dasarnya mengabaikan perbedaan sosial yang mendalam yang membedakan manusia dari manusia dan antara yang miskin dengan kaya, perempuan dan laki-laki, kulit hitam dan putih, antara gay dan yang straight, yang tertindas dan yang menindas. Semuanya dipukul rata menjadi suatu benjolan biologis yang disebut “kemanusiaan”. Benjolan ini, mungkin, miskin secara spiritual, bersifat antroposentrik, atau hanya berorientasi pada manusia, yang dalam “keyakinannya”, percaya bahwa dunia “dibuat” (oleh siapa?—Tuhan yang jahat?) secara eksklusif untuk kesenangan manusia, dan berakhir secara humanistik (apa pun artinya kata itu belakangan ini). Seperti disuarakan Bill Devall dan George Sessions dalam kitab Deep Ecology mereka, pergeseran dari pandangan dasar secara spiritual sebenarnya mengarah pada sisi langkah-langkah sosial (terlepas dari “tradisi minoritas” yang mendaur ulang karya-karya besar Peter Kropotkin, anarkis Rusia, menjadi beberapa slogan stiker bumper mobil) dan kemudian membawa selir lengkapnya ke Buddhisme, Taoisme, “tradisi Kristen,” “mempertanyakan teknologi,” “politik hijau”—dan yang sangat signifikan, malthusianisme.[2]
Kekuatan penting ekonomi yang membagi begitu banyak umat manusia menjadi pengeksploitasi dan tereksploitasi digantikan oleh “pandangan dunia” yang bertentangan. Mereka yang benar-benar pembangkang seperti komunis otoritarian, Woody Guthrie, digabungkan dengan anarkis libertarian seperti Paul Goodman. “Perkembangan ekonomi pasar” dan “dampak bangkitnya kapitalisme” hanya mendapat sedikit perhatian. Mereka disebutkan satu kali, hanya selintas, yaitu sebagai isu yang menarik “beberapa sejarawan dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan asal-usul dan perkembangan pandangan dunia yang dominan.” “Tujuan kami di sini bukanlah untuk secara ekstensif meninjau asal dan perkembangan pandangan dunia yang dominan,” tulis para penulis Deep Ecology, Devall dan Sessions, dalam apa yang dapat dianggap sebagai salah satu pernyataan utama dari buku ini, “tapi untuk mengeksplorasi secara umum (pandangan dunia) terhadap masyarakat saat ini dan pendekatan kita terhadap realitas tertinggi (metafisika), pengetahuan (epistemologi), terhadap insan (ontologi), kosmos (kosmologi) dan terhadap organisasi sosial."[3]
Ternyata, pembaca dapat menenemukan pemujaan yang serius kepada Thomas Malthus untuk analisis masalah sosial saat ini (yaitu, “masalah populasi”), yang merupakan dampak dari “masyarakat teknologi” sebagai sumber keterasingan pribadi, “intuisi dasar dan pengalaman diri kita dan alam” sebagai “fondasi Ekologi Dalam". Kita juga menemukan “realisasi 'diri-dalam diri’, di mana ‘diri' melawan keutuhan organik secara keseluruhan” sebagai beberapa dosis gabungan metafisik dan epistemologi. Gagasan bahwa “semua hal di biosfer memiliki hak yang sama untuk hidup dan berkembang dan untuk mencapai bentuk individual mereka sendiri di dalam realisasi diri yang lebih besar,” adalah isu yang menyilaukan. Ini yang kemudian menghasilkan diskusi serius dalam New Scientist untuk hak “virus yang terancam punah” seperti virus cacar, untuk tetap ada dan berkembang. Semua ini disajikan dalam bentuk metafora yang membangkitkan rasa mual pada pembaca yang memikirkannya.
Beberapa isu sosial yang melibatkan Ekologi Dalam berujung pada para gembel yang pergi ke alam liar, mengkritik konservasi sumber daya alam, dan penemuan kembali yang brilian bahwa pertanian organik itu baik dan kehidupan kota itu buruk. Selain serangkaian omong kosong, yang kita butuhkan selain berkomunikasi dengan alam dan melarutkan “diri” kita yang merepotkan alam ke dalam keutuhan organik kosmik, Devall dan Sessions menekankan untuk mengubah “musuh kita jadi orang beriman.” Singkatnya, kita memerlukan sentuhan pribadi: festival yang hangat, ritual, dan beberapa dosis agama yang baik untuk dicoba di dunia politik.
Ekonomi pasar yang didasarkan pada anjing-makan-anjing sebagai hukum kelangsungan hidup dan “kemajuan” yang telah merambah setiap aspek masyarakat, tidak menjadi perhatian dalam kumpulan senyuman dan pionisme sastra yang memanjakan diri sendiri ini. Pada saat “diri” dilarutkan dengan cepat oleh media massa, kita didesak untuk melanjutkan proses ini dengan melarutkan semua batasan yang mendefinisikan kita—ini, atas nama “Diri” kosmik yang tampaknya lebih bersifat supranatural daripada natural.
*** Logika “Ekologi Dalam”
Belakangan ini kita rasakan sendiri dampak dari kebiasan buruk kita. Kita makan “makanan cepat saji,” menggigit “gagasan cepat saji,” memindai “headline cepat saji,” dan membeli obat mujarab dalam bentuk pil yang mudah ditelan. Kebutuhan untuk memikirkan logika dalam premis tertentu sungguh asing dalam “Jalan Amerika” pada akhir abad ke-20. Ekologi Dalam yang dikembangkan oleh Devall dan Sessions dan “gerakan” yang telah mereka luncurkan di bawah ikon kepimpinanan Arne Næss[4] pun memberikan apa yang benarbenar dibutuhkan untuk menidurkan kita ke dalam penerimaan “ekologi yang cepat saji” pula.
Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengatakan “A” tanpa harus melewati “B”, atau “B” menjadi “C” sampai kita mencapai “Z.” Dan ada gerakan “dalam” atau “ekologi yang lebih dalam” di mana Devall adalah anggotanya. Ia menjadi salah satu pendiri publikasi berkala Earth First! yang mana Devall menjadi editor dan Sessions sebagai kontributor yang berharga. Jika ada sesuatu yang menarik tentang Earth First! sebagai gerakan dan terutama sebagai publikasi berkala, inilah fakta bahwa publikasi berkala tersebut beralih dari “A” menjadi “Z” dan menarik semua kesimpulan logis dari Ekologi Dalam, kesimpulan yang sering dikubur oleh Devall dan Sessions dengan perumpamaan, peribahasa, pembangkitan yang puitis, dan pretensi.
Kata “Earth First” memiliki arti secara harfiah dan apa yang tersirat dari “Ekologi Dalam,” yaitu bahwa “bumi” ada di atas kepentingan orang-orang. Memang, orang-orang (seperti yang dikatakan oleh editor berkala David Foreman), bahwa manusia sama sekali tidak berguna, bahkan mungkin berbahaya, dan tentu saja dapat dibuang begitu saja. “Hukum alam” cenderung menggantikan faktor-faktor sosial. Jadi bagaimana jika ada kelaparan di Ethiopia? Kalau begitu, kata Foreman kepada Devall yang mengagumkan dalam sebuah wawancara yang terkenal, alam seharusnya diijinkan untuk “mengikuti jalannya” dan orang Etiopia harus dibiarkan kelaparan. Apakah orang Latin (dan mungkin saya bisa tambahkan orang Indian) menyeberangi Rio Grande? Foreman berpendapat bahwa mereka harus dihentikan atau dihabiskan karena mereka membebani sumber daya “kita.” Devall, yang rupanya mencatat pandangan emas ini, tidak mengungkapkan sepatah kata pun protes atau bahkan perbedaan pendapat. Tidak ada kecaman, sejauh yang saya tahu, termasuk dari Sessions.
Mengingat keasyikan Devall dan Sessions dengan kebutuhan akan budaya ekologis (atau agama?), budaya apa yang harus kita lindungi, tanya Ed Abbey, salah satu Paus teoritis Earth First! itu? Abbey mengatakan bahwa ternyata masyarakat kita telah dibentuk oleh “budaya Eropa utara,”—atau haruskah kita mengatakan “Arya”? Oleh karena itu, dalam pendapat ini ada alasan “budaya” yang mungkin terdengar—sebuah ungkapan yang beberapa orang mungkin dapat menafsirkannya sebagai “rasial”—untuk mencegah orang Latin mencemari budaya dan institusi “kita” dengan atribut hirarkis mereka. “Apakah itu merupakan 'litmus test' tentang kepatuhan kita terhadap Earth First” tanya Foreman. Ini adalah pertanyaan tentang “pertumbuhan penduduk.” Anda lihat sendiri, yang jadi masalah bukan kapitalisme dan pasar yang kompetitif. Sepengetahuan saya, tak seorang pun di antara kelompok itu yang memperhatikan bahwa jika populasi dunia dikurangi menjadi 500 juta (seperti yang disarankan oleh Næss untuk kebutuhan demografis) atau bahkan 5 juta saja, sebuah sistem ekonomi yang didasarkan pada persaingan dan akumulasi yang mana gagal untuk “tumbuh” adalah hukuman kematian ekonomi di pasar, yang pasti akan melahap biosfer. Ini terlepas dari apa yang orang butuhkan, jumlah yang mereka capai, atau niat yang mendorong mereka. Padahal kapitalisme Amerika telah menyapu bersih sekitar 40 juta banteng, menghancurkan hutan yang luas, dan menghabiskan jutaan hektar tanah sebelum populasinya melebihi 100 juta.
Jika ekonomi pasar “tumbuh-atau-mati” secara inheren tidak dapat memproduksi mobil, maka ia akan memproduksi tank. Jika tidak dapat memproduksi pakaian, maka ia akan menghasilkan rudal. Jika tidak dapat memproduksi televisi, maka ia akan memproduksi sistem panduan radar. “Ekologi Dalam,” dengan busurnya Malthus, sama sekali tidak menyadari prinsip-prinsip ekonomi yang sudah hampir klasik ini. Fokus Ekologi Dalam hampir sepenuhnya perihal zoologi dan citra manusia, tentu saja, dari masyarakat yang sangat mengakar dalam “kekuatan alami” ketimbang pada kecenderungan sosial. Secara karakteristik, Ekologi Dalam berbicara tentang “masyarakat teknologi” atau “masyarakat industri” dan bukan kapitalisme. Dua istilah itu adalah sepotong jahitan verbal yang secara cerdik menyembunyikan hubungan sosial yang memainkan peran menentukan dalam perkembangan teknologi dan industri masyarakat dan penggunaannya yang telah mereka tentukan.
Teknologi itu sendiri tidak menghasilkan masalah antara masyarakat anti-ekologi dan alam, walaupun pasti ada teknologi yang memang berbahaya bagi ekosistem. Teknologi apa yang pada hakikatnya memperbesar permasalahan dasar sosial? Berbicara tentang “masyarakat teknologi” atau “masyarakat industri”, seperti Devall, Sessions, dan Earth First! secara terus-menerus lakukan adalah, dengan membuang tekanan kosmik atas undang-undang ekonomi yang memandu ekspansi modal yang dikembangkan Marx dengan sangat pesat dalam tulisan ekonominya, dan menggantikan faktor ekonomi dengan metafora zoologi. Inilah letak karakter Ekologi Dalam yang sangat merusak, Earth First! dan akolitik religiusnya seperti Charlene Spretnak, atau Kirkpatrick Sale, dan kepala popok yang melayang di antara Hollywood dan Disneyland. Mereka memang mengancam dapat menghapus setiap poin radikalisme dalam sebuah gerakan [ekologi] yang potensial, setidaknya, sebagai salah satu yang paling radikal yang muncul sejak 1960'an. Jika “lubang” terbesar dalam gerakan Hijau adalah sebuah kebutuhan akan “agama yang berkelanjutan” seperti yang diyakini Spretnak, maka kita telah membikin donat, bukannya gerakan.
*** Kemanusiaan yang Mempesona
Di balik bayang-bayang keraguan, kita benar-benar membutuhkan kepekaan ekologis—yang ditandai oleh rasa heran akan evolusi alam dan kemegahan biosfer dengan beragam bentuknya. Tapi alam bukanlah lanskap pemandangan yang menghadap ke pegunungan dan pesisir Pasifik atau rawa-rawa New England. Alam berada di atas semua proses—sebuah proses menakjubkan yang dapat dikagumi dengan persyaratannya sendiri, bukan dengan memuja dewa-dewa yang sebetulnya merupakan proyeksi antropomortfis diri kita sendiri (baik pria atau wanita) secara mistis, yang seringkali tidak rasional dan terkadang dalam bentuk yang sangat hirarkis -sebuah prosedur yang telah melayani kepentingan hirarkis selama ribuan milenium dengan membiarkan orang-orang yang tertindas menjadi diam terlumpuhkan dan ingin kabur.
Sebuah produk yang luar biasa dari evolusi alam adalah manusia yang menghuni planet ini—makhluk yang merupakan produk alam yang tidak kurang berharganya daripada beruang grizzly dan paus. Dan seperti beruang dan paus, spesies manusia—yang dari sudut pandang Ekologi Sosial tidak kurang berharganya di banding spesies lain apabila dilihat dari sudut pandang biologis ketimbang sosial- telah memperoleh kapasitas luar biasa yang disebut pemikiran konseptual.[5] Dalam hal ini, evolusi alami telah menganugerahi spesies ini dengan kekuatan yang tak ada bandingannya dengan spesies lain: kekuatan untuk membentuk komunitas yang sangat dilembagakan yang disebut masyarakat. Tidak seperti “serangga sosial” yang diprogram secara genetis, manusia mampu melakukan pengembangan evolusioner mereka sendiri, sebagaimana ia telah memungkinkan untuk berakar di alam.
Pertanyaan penting yang kita hadapi saat ini—tidak hanya untuk diri kita sendiri sebagai manusia tapi juga untuk seluruh biosfer—adalah bagaimana evolusi sosial akan berlanjut dan kemana ia akan mengarah. Untuk menangani pertanyaan ini terutama sebagai masalah pembaruan spiritual, yang mungkin diinginkan tidak hanya mengelak tetapi juga melucuti senjata secara sosial. Evolusi sosial telah berubah sejak beberapa abad yang lalu ketika beralih dari institusi dan hubungan egalitarian ke hubungan yang hirarkis. Dibutuhkan belokan yang lebih buruk lagi beberapa abad yang lalu ketika bergeser dari masyarakat yang relatif kooperatif ke tingkat yang sangat kompetitif. Jika kita ingin membawa masyarakat dan alam supaya sesuai dengan satu sama lain, kita harus mengembangkan sebuah gerakan yang memenuhi potensi evolusioner umat manusia dan masyarakat, artinya, mengubah dunia manusia menjadi agen yang sadar akan alam dunia dan meningkatkan proses evolusi—alam dan sosial. Semua omong kosong dari Devall, Sessions, Naess, dan akolit[6] mereka di atas, jika kita tidak melakukan intervensi secara kreatif pada alam (memang, untuk menyelamatkannya dari dirinya sendiri kadang-kadang), kita akan mengkhianati segala sesuatu dari karakter positif bahwa evolusi alami itu sendiri memberi kita kekayaan kapasitas pikiran, simpati, dan kesadaran yang belum pernah terjadi sebelumnya pada spesies yang non-manusia. Dengan adanya masyarakat ekologi, teknologi kita dapat ditempatkan sebagai layanan evolusi alami karena dapat digunakan untuk melakukan evolusi sosial yang rasional.
Meminta kita untuk “kembali ke zaman Pleistosen,” seperti yang Earth First! telah serukan, berarti merendahkan kemanusiaan karena begitu banyak misantropis “anti-humanis” dan “bio-sentrisitas” yang telah dilakukannya, yang tidak hanya bersifat atavistik,[7] tetapi juga reaksioner. Manusia yang terdegradasi hanya akan menghasilkan sifat yang terdegradasi pula, seperti yang masyarakat kapitalistik dan sejarah hirarkis kita telah banyak tunjukkan. Kita sangat membutuhkan tidak hanya “mengutamakan kembali dunia” dan “alam” tapi juga manusia yang mempesona—memberi rasa kagum atas kemampuannya sendiri sebagai makhluk alami dan peduli atas produk evolusi alam. Supernatural, yang dihuni oleh para dewa “berbasis bumi,” harus digantikan oleh naturalisme yang sehat di mana, sebagai sebuah gerakan, kita akan membangun kembali ikatan kita yang terputus dengan alam dengan cara-cara yang alamiah dan menyembuhkan masyarakat kita yang sangat terluka dengan cara-cara sosial. Bagi para kelompok Hijau khususnya, hal ini berarti bahwa kita harus merumuskan politik revolusioner yang baru dan independen (menggunakan kata ini dalam arti seluas mungkin), dan bukannya mendaur ulang dewa-dewi tua, kurban yang kering, yang membius -entah apakah mereka dari Timur atau Barat, Kafir atau Kristen, “terikat dengan Bumi” atau “terikat dengan surga”. Kita harus belajar untuk melihat kenyataan secara langsung di depan wajah kita, bukannya mengaburkannya dengan pemikiran yang irasional dan kabut mitos yang lebat dan tidak dapat dipahami.
Jaringan Kiri Vermont Hijau telah mengambil langkah penting untuk mencoba merumuskan program yang benar-benar radikal—“Menuju Politik Baru”—yang membuat sketsa konsep dasar gerakan ekologi Kiri Hijau. Ini secara terbuka menggambarkan dirinya sebagai “humanisme ekologis”, yaitu humanisme dalam pengertian terbaiknya, bukan makna menyesatkan sebagaimana oleh Ekologi Dalam. Dan itu berarti memajukan prinsip-prinsip dasar Ekologi Sosial seperti bagaimana mereka berlaku pada kehidupan politik Amerika. Entah apakah gerakan ekologi dan Hijau akan membebaskan diri dari “sentrisitas” hirarkis “bio” atau “antropo” (dan mengembangkan tubuh prinsip sosial yang jelas dan koheren berdasarkan konsep ekologi, atau mereka akan menjadi kelompok terpinggirkan dari kelompok pertemuan istimewa) yang mungkin belajar untuk “berpikir seperti gunung,” seperti disarankan oleh Devall. Mereka paling jelek jadi sasaran cemoohan atau paling banter jadi bahan lelucon.
[1] Catatan penerjemah: Earth First! adalah kelompok ekologi radikal di Amerika Serikat. Mulanya mereka berangkat dari latar belakang pemikiran yang beragam. Namun sejak 1990'an sebagian besar dari mereka terpengaruh gagasan anarkisme. Earth First! sering melakukan aksi langsung dalam upaya perlindungan lingkungan, seperti sabotase, blokade dan arson (membakar) hingga aksi langsung non-kekerasan seperti tree sitting (memanjat pohon yang hendak ditebang). Mereka jadi pemantik dari suatu era yang disebut sebagai green scare, ketika para aktivis lingkungan mulai dicap sebagai teroris domestik AS.
[2] " Berangkat dari Thomas Robert Malthus, malthusianisme adalah kepercayaan bahwa populasi manusia yang membengkak akan mengarah pada kelaparan dan perang. Ia melihat problem demografis sebagai sesuatu yang mengancam dan biasanya berujung pada usulan soal menekan populasi manusia -penerjemah.
[3] Bill Deval & George Sessions, Deep Ecology (Salt Lake City: Peregrine Smith, 1985) hal 45.
[4] Penulis Norwegia yang pertamakali mencetuskan istilah “Ekologi Dalam' dalam makalahnya -penerjemah.
[5] Mengingatkan kita pada “revolusi kognitif” dalam Sapiens karya Yuval Noah Harari -penerjemah.
[6] Semacam pelayan gereja atau pengabdi keagamaan -penerjemah.
[7] Mengembalikan segala sesuatu yang purba atau nenek moyang -penerjemah.