#title Dua Pena #subtitle Sebuah Cerita Pendek #author Ricardo Flores Magón #LISTtitle D #date 1915 #source [Koleksi Fisik Archipelago Anarchist Archive] Ricardo Flores Magón (2024). Dua Pena. Talas Press. #lang id #pubdate 2026-10-30T20:39:36 #authors Ricardo Flores Magón #translator Rifki Syarani Fachry #publication Talas Press #publicationdate 2024 #topics Anarkisme-Komunis; Anarkisme-Sindikalis #language Indonesia #notes Di-OCR dan diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive). Di balik jendela etalase, pena emas dan pena baja menanti pembeli. Pena emas berbaring dengan anggun dalam kotak perhiasan mewah yang menambah daya tariknya, sementara pena baja menampilkan kesederhanaannya di dasar kotak kardus polos. Para pejalan kaki, baik yang kaya maupun miskin, tua atau muda, terus melintasi etalase itu, melirik penasaran pada pena emas, tak seorang pun memperhatikan pena baja. Cahaya matahari menerangi pena emas, membuatnya berkilau bagai bara api di atas bantalan chenille-nya, namun sinar itu tak mampu memberikan secercah keindahan pada pena baja yang sederhana. Sambil menatap saudaranya yang miskin dengan perasaan kasihan, pena emas pun berkata: “Kasihan sekali! Belajarlah untuk dikagumi.” Terbiasa dengan perjuangan berat demi cita-cita luhur, pena proletar merasa tidak perlu menanggapi kebodohan tersebut. Tersulut oleh keheningan pena sederhana itu, pena borjuis berkata: “Mengapa kau tidak mencoba, dasar kotor, untuk terlihat seperti saya, menjadi pena emas?” Ia bersinar di chenille-nya seperti bintang di kain satin langit. Pena proletar tidak bisa menyembunyikan senyumannya, yang membuat pena borjuis berang, sehingga senyum itu tampak aneh dan tidak masuk akal, seperti ini: “Senyumanmu adalah senyuman impotensi. Itu membuat saya merasa kasihan. Bisakah kau digunakan, seperti saya, untuk menandatangani uang kertas jutaan dolar? Saya menempati tempat terhormat di meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni dan kayu cedar. Di istana, penulis anggun menandatangani artikelnya menggunakan saya. Saya digunakan seorang menteri untuk mengesahkan dokumen penting bagi seluruh bangsa. Presiden mengesahkan keputusannya dengan tanda tangan yang hanya saya yang bisa menjelaskannya. Perang tidak akan diumumkan kecuali ada tangan agung yang menggenggam saya di tangannya, dan membuatku membubuhkan tanda tangan kedaulatannya di atas kertas. Kedamaian tidak dapat dicapai dengan pena baja yang kotor: pena tersebut harus berwarna emas. Dengan pena emas, bangsawan muda itu mengarang syair cintanya untuk wanita anggun.” Kesabaran pena baja ada batasnya. Oleh karena itu, pena sederhana itu akhirnya mengeluarkan suaranya yang jernih dan tulus—dan karena ketulusannya, suaranya pun terdengar indah dan megah—untuk berkata: “Di atas segalanya, sebuah pena itu bisa dianggap hebat karena memberi kesempatan bagi pikiran hebat untuk keluar dari penjara tengkoraknya, mengalir keluar dan mengguncang pikiran lain yang terperangkap dalam tengkorak-tengkorak yang lainnya. Sebuah pena itu memungkinkan orang-orang dapat menyambut ide-ide besar dengan hangat, memberi mereka jalan masuk. Pintu harus terbuka, dan tempat harus disediakan untuk siapa pun yang membawa cahaya, harapan, dan keberanian... Namun Anda, pena yang sia-sia, adalah noda bagi jenis kita. Saya lebih memilih untuk mematahkan ujung saya daripada menuliskan tanda tangan yang mendukung transaksi bank bernilai jutaan dolar. Perintah semacam itu lahir dari perjanjian di antara para bandit. Tempat saya bukanlah di meja tulis dari kayu mahoni. Saya lebih suka meja kayu pinus, di mana juru tulis rakyat menguraikan ungkapan-ungkapan kuat yang mengumumkan kepada dunia sebuah era kebebasan dan keadilan. Saya adalah pena rakyat, dan seperti mereka, saya kuat dan tulus. Menteri tidak menyentuh saya untuk menjamin dokumen yang menyetujui eksploitasi dan tirani. Presiden juga tidak memaksa saya untuk mengesahkan undang-undang yang memuntahkan perbudakan dan penyiksaan terhadap orang-orang yang rendah hati, atau memerintahkan perang kriminal, atau perjanjian perdamaian yang memalukan. Namun ketika sang pemikir membawaku ke dalam jemari kreatifnya, ketika sang penyair dan orang bijak menyentuhku dengan tangannya yang subur dan anarkis, membuatku mengukir dalam buku catatan kosong meditasi cemerlangnya seperti gagasan perjuangan kelas, aku merasakan molekul-molekulku gemetar karena emosi, emosi yang murni, kuat, bugar. Inilah kesenangan saya, sebab sebagai seorang yang rendah hati, saya bergerak dalam dunia bakat, keikhlasan, dan kehormatan. Kekuatan saya sangat besar, pengaruh saya sangat besar. Ketika penulis proletar memegang saya di tangannya, sang tiran gemetar, sang pendeta ketakutan, sang kapitalis menjadi pucat, tapi kebebasan tersenyum dengan lembut, seperti fajar yang merekah, impian mereka yang tertindas tentang dunia yang lebih baik terus hidup, sementara tangan-tangan berani dengan gemetar menyentuh senjata untuk pembalasan dan penebusan. Di dalam kotak kardus saya, saya merasa agung dan... mulia. Meskipun saya tampak rendahan bagi Anda, saya menggugah orang-orang. Saya merobohkan singgasana, saya mengacaukan katedral, saya merendahkan dewa-dewa. Saya adalah cahaya bagi kegelapan pikiran. Sayalah songsong yang menyeru orang-orang rendahan untuk mengangkat senjata, dan mengubah mereka menjadi keagungan. Saya mendukung milisi revolusioner, mengumpulkan para pemberani di parit dan memanggil orang-orang ke barikade. Anda mendukung keputusan tiran, Saya mendukung proklamasi pemberontak. Anda menindas, saya membebaskan.” Tabrakan sebuah mobil yang menerobos bagian depan toko membuat wacana menarik lainnya dari pena proletar tidak terdengar.