Menyeberangi ladang, melintasi jalan raya, melangkahi duri-duri, berjalan di antara dataran tinggi berbatu-batu, terlahap oleh rasa haus amat kemarau di mulutnya—begitulah cara Utusan Revolusioner melancarkan usahanya untuk dakwah politisnya—meski di terik matahari yang menyala-nyala ganas, tapi sang Utusan tidak berhenti, dia tidak ingin menyia-nyiakan sedetik pun waktunya. Dari beberapa gubuk keluar anjing-anjing budug kejam mengejarnya, dengan kedengkian yang sama, penghuni gubuk-gubuk sengsara itu menertawainya bodoh, mereka tidak menghiraukan sang utusan suci yang membawa kabar baik bagi mereka.
Sang Utusan terus bergegas, dia hendak pergi ke kumpulan rumah mungil yang cantik di dekat kaki gunung tinggi, seseorang memberitahunya bahwa di sana ada beberapa rekannya. Panas matahari tak tertahankan, rasa lapar dan haus melemahkannya, namun di pikirannya yang jernih tersimpan gagasan segar sebening air gunung, indah bagai bunga, di mana tidak ada tempat bagi ancaman tiran. Gagasan yang kebal terhadap penindasan.
Sang Utusan berjalan, terus berjalan. Ladang yang sepi menyesakkan hatinya. Berapa banyak keluarga yang harusnya bisa hidup layak jika seluruh tanah ini tidak dikuasai oleh segelintir orang culas! Sang Utusan menyusuri jalannya: seekor ular bergemerisik di semak berdebu, jangkrik mengisi riuhnya lanskap yang panas, seekor sapi melenguh dari jauh.
Akhirnya, sang Utusan tiba di sebuah desa, di mana—dia diberitahu—ada kawan-kawannya di sana. Anjing-anjing menggonggong waspada. Dari pintu rumah-rumah kecil, wajah-wajah acuh tak acuh muncul. Ada sekelompok pria dan wanita di teras. Pendekatan apostal, para pria meliriknya dan mengernyitkan alis, para wanita melihatnya dengan rasa heran.
“Selamat siang, kawan-kawan,” sapa sang Utusan.
Orang-orang itu saling memandang. Tidak ada yang menjawab salam itu. Sang rasul tidak menyerah, dan kembali berucap:
“Kawan-kawan, propaganda terus berlanjut, tirani sedang bergoyang, orang-orang tangguh telah mengangkat senjata mereka untuk menghancurkannya, dan hanya kami yang berharap bahwa kita semua, tanpa kecuali, berusaha dengan cara apa pun yang kita bisa untuk memperjuangkan kebebasan dan keadilan.”
Para wanita menguap, para pria menggaruk-garuk kepalanya, seekor ayam betina yang dibuntutui seekor ayam jantan melenggang polos di antara sang Utusan dan orang-orang itu.
“Kawan-kawan”—lanjut propagandis penyampai kabar baik yang tak kenal lelah itu-“kebebasan membutuhkan pengorbanan, hidupmu sebegitususahnya, kau tidak mendapatkan kepuasan, masa depan anak-anakmu tidak pasti. Mengapa kau acuh tak acuh terhadap orang-orang yang tengah berjuang demi kebahagiaanmu, untuk membebaskanmu, agar anak-anak kecilmu lebih bahagia darimu? Bantulah, bantulah semampumu, berikan sebagian dari penghasilanmu untuk mendukung Revolusi, atau angkat senjata jika kau menginginkannya, lakukan sesuatu untuk tujuan ini, setidaknya sebarkanlah cita-cita pemberontakan.”
Sang Utusan berhenti sejenak. Seekor elang melintas, berkepak di iangit cerah, seolah-olah itu adalah simbol dari pemikiran manusia yang, berada di antara manusia hina, akan menjaga ketinggian dirinya, kemurniannya, yang suci.
Serangga, berdengung, keluar-masuk dari mulut seorang lelaki tua yang terlelap. Para pria, yang tampak khawatir, berdatangan satu per satu, semua wanita telah pergi. Tetapi pada akhirnya, sang Utusan hanya ditinggalkan sendirian begitu saja bersama lelaki tua yang sedang tertidur karena kemabukan dan seekor anjing yang dengan geramnya menggigit-tangkap lalat yang terbang-hinggap di mantelnya. Tidak ada satu sen pun yang keluar dari kantong kotor orang-orang itu, bahkan tak segelas air pun ditawarkan kepada sang Utusan, dengan pandangan prihatin ke sarang para egois dan bodoh itu, sang Utusan mulai berjalan pergi menuju gubuk lain. Ketika dia lewat di depan sebuah kedai minum, dia melihat orang-orang malang yang dia ajak bicara sebelumnya, meminum segelas anggur, mereka memberikan kepada kaum borjuis apa yang tidak mereka berikan kepada Revolusi, mereka mengikatkan rantai kepada anak-anak mereka, dengan ketidakpedulian dan keegoisan.
Berita kedatangan rasul sang pencerah telah menyebar ke seluruh kota, dan penduduk yang waspada menutup pintu rumah mereka ketika sang Utusan mendekat.
Sementara itu, seorang pria yang tampaknya seorang pekerja datang dengan tergesa-gesa menuju kantor polisi.
“Tuan,” kata pria itu kepada petugas polisi, “berapa hadiah yang akan Anda bayar untuk seorang revolusioner?”
“Dua puluh real,” kata petugas itu.
Kesepakatan telah dibuat, Yudas telah menurunkan harga. Beberapa saat kemudian, pria yang lengannya terikat dijebloskan ke penjara. Dia terjatuh, dan secara tidak terhormat, dia diangkut oleh algojo, di antara para budak yang mabuk dan tertawa. Anak-anak tertawa-tawa melemparkan segenggam tanah ke mata sang syuhada, yang tidak lain adalah sang rasul, yang telah menyeberangi ladang, melewati jalan raya, melintasi dataran tinggi berbatu-batu, tanah berkerikil, kering, dengan kemarau hebat di mulutnya, namun di dalam pikirannya, pikirannya yang jernih, membawa serta gagasan tentang pembaruan umat manusia, melalui keadilan dan kebebasan.