#title Dua Perang Lokal
#author Situationist International
#LISTtitle D
#date 1967
#source Situationist International (2024). Bunga Merah Darah Bermekaran di Gaza & Dua Perang Lokal (Situationist International, 1967). Vertigo.
#lang id
#pubdate 2026-11-02T05:23:33
#authors Situationist International
#translator Tim Vertigo
#publication Vertigo
#publicationdate 2024
#topics Situationist International
#language Indonesia
#notes Di-OCR dan diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Perang Arab-Israel adalah tipu daya busuk yang dimainkan oleh sejarah modern terhadap niatan baik dari kubu Kiri, yang sedang berkumpul dalam protes spektakular atas perang Vietnam, Kesadaran palsu yang tampak dalam Front Pembebasan Nasional sebagai pemenang “revolusi sosialis” melawan imperialisme Amerika, terjebak dan rontok di hadapan kontradiksi yang tak alang kepalang ketika harus memilih antara Israel atau Nasser. Namun, di sepanjang semua polemiknya yang konyol itu, orang-orang Kiri tersebut tidak pernah berhenti memproklamirkan bahwa salah satu pihak atau yang lainnya sepenuhnya benar, bahkan bahwa salah satu dari sudut pandang mereka amatlah revolusioner.
Ketika berimigrasi ke wilayah yang kurang berkembang, perjuangan revolusioner menghadapi alienasi ganda: alienasi dari Kiri yang impoten menghadapi kapitalisme yang terlalu berkembang sampai-sampai kubu Kiri sama sekali tidak mampu melawannya, dan alienasi dari massa pekerja di negara-negara terjajah yang mewarisi sisa-sisa revolusi yang termutilasi dan harus menderita akibat kecacatan revolusi tersebut. Ketiadaan gerakan revolusioner di Eropa telah mereduksi Kiri ke dalam ekspresi yang paling sederhana: massa penonton yang membuncah dalam sukacita setiap kali kaum yang tereksploitasi di koloni-koloni mengangkat senjata melawan tuan-tuan mereka, dan yang tidak dapat untuk tidak melihat pemberontakan ini sebagai perwujudan Revolusi. Pada saat yang sama, ketiadaan proletariat sebagai kelas bagi dirinya sendiri dalam kehidupan politik (dan bagi kami proletariat harus revolusioner atau tidak bermakna apa-apa) telah memungkinkan kubu Kiri ini menjadi “Ksatria Kebajikan” dalam dunia yang tiada memiliki kebajikan. Namun ketika mereka ini meratapi situasinya dan mengeluh soal tentang “tatanan dunia" yang bertentangan dengan niat baiknya, dan ketika mereka tetap bersikukuh pada kerinduan malangnya di hadapan tatanan tersebut, mereka sebenarnya terikat pada tatanan tersebut sebagaimana mereka terikat pada hakikatnya sendiri. Jika tatanan tercebur direnggut, mereka akan kehilangan segalanya. Kiri Eropa begitu menyedihkan sehingga, seperti seorang pelancong di gurun yang merindukan setetes air, tampaknya ia tidak bercita-cita lebih dari sekadar merasakan sebuah ketidaksetujuan yang abstrak. Dari sedikit hal yang membuatnya puas, kita dapat mengukur sejauh mana kemiskinannya. Mereka terasing dari sejarah sebagaimana proletariat terasing dari dunia ini. Kesadaran palsu adalah kondisi alami mereka, spectacle adalah elemennya, dan oposisi semu dari sistem adalah referensinya yang terbingkai secara universal: di mana pun muncul konflik, mereka selalu melihatnya sebagai sebuah pertarungan antara yang Baik melawan yang Jahat, “revolusi total” melawan "reaksi total.”
Keterkaitan kesadaran para penonton pada masalah-masalah asing tetap saja irasional, dan protes-protes penuh kebajikannya tersandung-sandung dalam perjalanan rasa bersalahnya yang amat berliku. Sebagian besar “Komite Vietnam" di Prancis bubar selama “Perang Enam Hari" dan beberapa kelompok penentang perang di Amerika Serikat juga menampakkan wajah asli mereka, “Seseorang tidak bisa sekaligus mendukung orang Vietnam dan menentang orang Yahudi yang terancam kepunahan,” demikian seruan beberapa pihak. “Bisakah engkau melawan Amerika di Vietnam sambil mendukung sekutu mereka, para agresor Zionis?" adalah jawaban dari yang lain. Dan kemudian mereka tenggelam dalam diskusi-diskusi Byzantine. Bahkan Sartre sendiri juga belum pulih darinya. Pada faktanya, seluruh kelompok ini sebenarnya tidak melawan apa yang mereka kutuk, dan mereka tidak benar-benar tahu banyak tentang kekuatan yang mereka dukung. Penentangan mereka terhadap perang Amerika hampir selalu digabungkan dengan dukungan tanpa syarat terhadap Vietcong: namun, dalam hal apapun, penentangan ini tetap spektakular bagi semua orang. Mereka yang benar-benar menentang fasis Spanyol pergi untuk melawannya. (Namun kini —ed.) belum ada yang pergi untuk melawan “imperialisme Yankee.” Para konsumen partisipasi ilusif ini ditawarkan berbagai pilihan spektakular: demonstrasi damai, nasionalisme Stalino-Gaullis melawan Amerika (kunjungan Humphrey adalah satu-satunya kesempatan di mana Partai Komunis Prancis telah berdemonstrasi bersama sisa-sisa yang masih percaya): penjualan Buletin Vietnam atau selebaran promosi dari negara Ho Chi Minh. Baik Provos (sebelum pembubarannya) maupun mahasiswa Berlin belum bisa melampaui kerangka sempit "aksi" anti-imperialisme.
Gerakan anti-perang di Amerika Serikat secara alamiah menjadi lebih serius karena mereka berhadapan langsung dengan musuh yang sesungguhnya. Beberapa pemberontak muda ini, bagaimana pun juga, berakhir dengan penyederhanaan berupa pengidentifikasian diri dengan musuh-musuh yang tampak dari musuh mereka yang sesungguhnya, yang memperparah kebingungan kelas pekerja yang telah tunduk pada brutalisasi dan mistifikasi terburuk, serta berkontribusi dalam menjaga agar mereka tetap berada dalam pemikiran “reaksioner” yang dapat menjadi alasan untuk menentang mereka.
Kritik yang diajukan Guevara bagi kami nampak lebih penting semenjak kritiknya berakar dalam perjuangan nyata, hanya masih kurang dalam beberapa aspek. Che adalah salah satu Leninis terakhir yang konsisten dalam zaman kita. Namun, seperti Epimenides, ia tampaknya telah tertidur selama lima puluh tahun terakhir untuk masih bisa percaya bahwa masih ada yang namanya “blok progresif,” yang dengan beberapa alasan aneh dianggap “mulai mengendur.” Revolusioner birokratis dan romantis ini hanya melihat bahwa imperialisme merupakan tahapan puncak dari kapitalisme, berjuang melawan masyarakat yang bersifat sosialis dengan mengesampingkan segala kekurangannya.
Bukti-bukti kecacatan yang sangat memalukan dari Uni Soviet semakin terlihat “alami”. Sebagaimana Tiongkok, menurut sebuah deklarasi resmi, tetap “siap menerima semua pengorbanan skala nasional demi mendukung Vietnam Utara melawan AS” (yang sebagai gantinya mendukung pekerja di Hong Kong) “dan menjadi pertahanan belakang terkokoh dan aman bagi rakyat Vietnam dalam perjuangan mereka melawan imperialisme.” Pada faktanya, tak ada yang sangsi bahwa misalkan semua orang Vietnam terbunuh, maka Tiongkok yang birokratis a la Mao akan masih tetap utuh. (Menurut Izvestia, Tiongkok dan Amerika Serikat telah mengakhiri pakta untuk saling tak mengintervensi.)
Baik kesadaran Manichean dari Kiri yang baik maupun birokrasinya tidak mampu melihat kesatuan mendalam dunia saat ini. Dialektika adalah musuh mereka bersama. Kritik revolusioner dimulai dengan melampaui soalan baik dan buruk: ia berakar pada sejarah dan beroperasi di atas dunia yang ada ini. Dalam kasus apapun tak satu kali pun dalam proses pembentukannya ia dapat memberikan tepuk tangan kepada negara penuh permusuhan atau juga mendukung birokrasi negara eksploitatif.
Ia harus mengungkapkan kebenaran dari perjuangan saat ini dengan meletakkannya kembali dalam konteks sejarahnya, dan membongkar tujuan tersembunyi dari kekuatan yang secara resmi berkonflik. Senjata dari kritik adalah pengantar bagi kritik dengan menggunakan senjata.
Kehidupan yang saling koeksis antara borjuis dan birokrasi berakhir dengan menangnya kebohongan atas konfrontasi di antara mereka. Keseimbangan teror terpecah di Kuba pada tahun 1962 dengan kekalahan Rusia. Sejak saat itu, imperialisme Amerika telah menjadi penguasa dunia yang tak tertandingi. Dan ia hanya dapat tetap seperti itu melalui agresi karena tanpanya ia tidak memiliki peluang untuk merayu mereka yang terpinggirkan, yang lebih mudah terpikat oleh model Sino-Soviet. Kapitalisme negara adalah kecenderungan alami masyarakat terjajah, di mana negara umumnya terbentuk sebelum kelas-kelas bersejarahnya. Penghapusan total atas kapital dan komoditasnya dari pasar dunia adalah ancaman mematikan yang menghantui kelas yang berkecukupan di Amerika dan ekonomi berbasis pasar bebas—ini adalah kunci kemarahannya yang agresif.
Sejak krisis besar tahun 1929, intervensi negara ke dalam mekanisme pasar semakin nyata, ekonomi tidak dapat lagi berfungsi dengan stabil tanpa pengeluaran besar oleh negara, yang menjadi “konsumen” utama semua produksi nonkomersial (terutama industri persenjataan). Hal ini tidak menyelamatkannya untuk bisa keluar dari keadaan krisis permanen yang selalu memerlukan perluasan sektor publiknya dengan menggunakan biaya sektor swastanya. Logika tersebut mendorong tanpa henti sistem yang mengarah pada kapitalisme yang akan semakin dikendalikan negara, yang menghasilkan konflik sosial yang parah.
Krisis mendalam dalam sistem Amerika terletak pada ketidakmampuannys untuk menghasilkan keuntungan yang cukup dalam skala sosial. Oleh karena iru, ia harus mencapai di luar negeri apa yang tidak bisa is lakukan di dalam negeri, yaitu meningkatkan jumlah keuntungan sebanding dengan jumlah modal yang ada. Kelas berkecukupan, yang lebih kurang juga memiliki negara, mengandalkan usaha imperialistiknya untuk mewujudkan impian gils ini. Bagi kelas ini, kapitalisme negara yang semu" semu komunis berarti putusan kematian, sama seperti komunisme yang pembentukannya ia dapat memberikan tepuk tangan kepada negara penuh permusuhan atau juga mendukung birokrasi negara eksploitatif. Ia harus mengungkapkan kebenaran dari perjuangan saat ini dengan meletakkannya kembali dalam konteks sejarahnya, dan membongkar tujuan tersembunyi dari kekuatan yang secara resmi berkonflik. Senjata dari kritik adalah pengantar bagi kritik dengan menggunakan senjata.
Kehidupan yang saling koeksis antara borjuis dan birokrasi berakhir dengan menangnya kebohongan atas konfrontasi di antara mereka. Keseimbangan teror terpecah di Kuba pada tahun 1962 dengan kekalahan Rusia. Sejak saat itu, imperialisme Amerika telah menjadi penguasa dunia yang tak tertandingi. Dan ia hanya dapat tetap seperti itu melalui agresi karena tanpanya ia tidak memiliki peluang untuk merayu mereka yang terpinggirkan, yang lebih mudah terpikat oleh model Sino-Soviet. Kapitalisme negara adalah kecenderungan alami masyarakat terjajah, di mana negara umumnya terbentuk sebelum kelas-kelas bersejarahnya. Penghapusan total atas kapital dan komoditasnya dari pasar dunia adalah ancaman mematikan yang menghantui kelas yang berkecukupan di Amerika dan ekonomi berbasis pasar bebas—ini adalah kunci kemarahannya yang agresif.
Sejak krisis besar tahun 1929, intervensi negara ke dalam mekanisme pasar semakin nyata, ekonomi tidak dapat lagi berfungsi dengan stabil tanpa pengeluaran besar oleh negara, yang menjadi “konsumen” utama semua produksi nonkomersial (terutama industri persenjataan). Hal ini tidak menyelamatkannya untuk bisa keluar dari keadaan krisis permanen yang selalu memerlukan perluasan sektor publiknya dengan menggunakan biaya sektor swastanya. Logika tersebut mendorong tanpa henti sistem yang mengarah pada kapitalisme yang akan semakin dikendalikan negara, yang menghasilkan konflik sosial yang parah.
Krisis mendalam dalam sistem Amerika terletak pada ketidakmampuannya untuk menghasilkan keuntungan yang cukup dalam skala sosial. Oleh karena itu, ia harus mencapai di luar negeri apa yang tidak bisa ia lakukan di dalam negeri, yaitu meningkatkan jumlah keuntungan sebanding dengan jumlah modal yang ada. Kelas berkecukupan, yang lebih kurang juga memiliki negara, mengandalkan usaha imperialistiknya untuk mewujudkan impian gila ini. Bagi kelas ini, kapitalisme negara yang semu-semu komunis berarti putusan kematian, sama seperti komunisme yang otentik, itulah sebabnya ia pada dasarnya tidak mampu melihat perbedaan antara keduanya.
Fungsi artifisial ekonomi monopolistik sebagai "ekonomi perang” memastikan, untuk saat ini, bahwa kebijakan kelas penguasa didukung dengan sukarela oleh pekerja, yang menikmati lapangan kerja penuh dan kelimpahan yang spektakuler: “Saat Ini, proporsi tenaga kerja yang bekerja dalam pekerjaan terkait pertahanan nasional mencapai 5,2% dari total angkatan kerja Amerika, dibandingkan dengan 3,9% dua tahun yang lalu... Jumlah pekerjaan sipil di sektor pertahanan nasional telah meningkat dari 3.000.000 menjadi 4.100.000 dalam dua tahun terakhir” (Le Monde, 17 September 1967). Sementara itu, kapitalisme pasar merasa bahwa dengan memperluas kendali wilayahnya, ia akan mencapai ekspansi diakselerasikan agar mampu menyeimbangkan tuntutan produksi yang tak menghasilkan keuntungan yang terus meningkat. Pertahanan mati-matian terhadap wilayah dunia “bebas” di mana interest pasarnya seringkali remeh (pada tahun 1959, investasi Amerika di Vietnam Selatan tidak lebih dari 50 juta dolar) adalah bagian dari strategi jangka panjang yang diharapkan pada akhirnya akan dapat menghapuskan pengeluaran militer sebagai biaya bisnis semata-mata untuk memastikan Amerika Serikat bukan hanya sebagai pasar tetapi juga sebagai pemegang kendali monopoli atas sarana produksi sebagian besar dunia. Masalahnya, semua hal bertentangan dengan proyek ini. Di satu sisi, kontradiksi internal kapitalisme swasta: kepentingan tertentu bertentangan dengan kepentingan umum kelas berkecukupan secara keseluruhan, sebagaimana juga yang dialami kelompok-kelompok yang mendapatkan keuntungan jangka pendek dari kontrak-kontrak negara (terutama produsen senjata) atau perusahaan monopoli yang enggan berinvestasi di negara-negara berkembang, di mana produktivitas sangat rendah meskipun tenaga kerja murah, lebih memilih bagian dunia yang “maju” (terutama Eropa, yang masih lebih menguntungkan daripada Amerika yang sudah jenuh). Di sisi lain, proyek ini bertentangan dengan kepentingan langsung massa yang terpinggirkan, yang langkah pertamanya hanya mampu menghapuskan strata masyarakat lokal yang mengeksploitasi mereka, yang merupakan satu-satunya strata yang mampu memastikan infiltrasi apa pun bagi Amerika Serikat.
Menurut Rostow, pakar “pertumbuhan” dari Departemen Luar Negeri, Vietnam hanyalah uji coba awal dari strategi besar ini, yang mana, untuk memastikan perdamaian yang menguntungkan, harus dimulai dengan perang penghancuran yang sulit berhasil. Agresivitas imperialisme Amerika Serikat bukanlah kelengahan dari pemerintahan yang buruk, tetapi merupakan keharusan bagi hubungan kelas kapitalisme swasta, yang mana, apabila tidak dijatuhkan oleh gerakan revolusioner, terus bergerak menuju kapitalisme negara yang teknokratik. Sejarah perjuangan yang teralienasi dalam zaman kita hanya dapat dipahami dalam konteks ini dari ekonomi global yang masih belum dikuasai sepenuhnya.
Kehancuran struktur lama “Asiatik” oleh penetrasi kolonial melahirkan stratum urban baru sambil meningkatkan pemiskinan sebagian besar pedesaan yang sangat dieksploitasi. Kombinasi dua kekuatan ini menjadi kekuatan pendorong gerakan Vietnam, Di antara strata urban (borjuis kecil dan bahkan borjuis) terbentuk nukleus nasionalis pertama dan kerangka yang akan menjadi, mulai tahun 1930, Partai Komunis Indocina (PKI). Kepatuhan mereka pada ideologi Bolshevik (dalam versi Stalinis), mendorong mereka untuk menggabungkan program yang secara esensial agrarian dengan program yang murni nasionalis, memungkinkan PKI menjadi kekuatan utama perjuangan anti-kolonial dan mengumpulkan massa besar petani yang telah bangkit secara spontan. “Soviet-soviet petani" tahun 1931 adalah manifestasi pertama dari gerakan ini. Tetapi dengan menghubungkan nasibnya dengan Internasional Ketiga, PKI mengikuti semua tuntutan perubahan struktural diplomasi Stalinis dan fluktuasi kepentingan birokratik nasional dan negara Rusia. Setelah Kongres Komintern Ketujuh (Agustus 1935), "perjuangan melawan imperialisme Prancis" hilang dari program dan segera digantikan oleh perjuangan melawan partai Trotsky yang kuat. “Sementara bagi para Trotskyis, tiada aliansi, tiada konsesi: mereka harus diungkapkan seperti apa mereka sesungguhnya: agen-agen fasisme.” (Laporan Ho Chi Minh kepada Komintern, Juli 1939). Pakta Hitler-Stalin dan larangan Partai Komunis di Prancis dan koloninya memungkinkan PKI mengubah jalur: “Partai kami menganggap hal itu sebagai masalah hidup atau mati... untuk berjuang melawan perang imperialisme dan kebijakan Prancis yang merampas dan membantai” (yaitu melawan Jerman Nazi), “namun pada saat yang sama kami juga akan melawan tujuan-tujuan fasisme Jepang yang agresif."
Menjelang akhir Perang Dunia II, dengan bantuan Amerika yang efektif, Vietminh menguasai sebagian besar negeri dan diakui oleh Prancis sebagai satu-satunya wakil Indocina. Saat itulah pada 1946 Ho lebih memilih “mencium sedikit kotoran Prancis dibandingkan seumur hidup memakan kotoran Cina” dan menandatangani kompromi yang parah, agar memudahkan tugas para rekan-sekaligus majikannya, yang mengakui Vietnam sebagai sebuah “negara merdeka" dan sebagai “bagian dari Federasi Indocina Uni Prancis.” Kompromi ini membuat Prancis memiliki kemungkinan untuk merebut kembali sebagian negeri dan, pada saat yang sarna Stalinis kehilangan peran dalam kekuasaan borjuis di Prancis, memulai perang yang berlangsung selama delapan tahun, di mana akhirnya Vietminh menyerahkan Selatan yang paling terbelakang dan pelindung Amerikanya sehingga secara definitif memenangkan Utara bagi dirinya sendiri. Setelah secara sistematis mengenyahkan elemen-elemen revolusioner yang tersisa (pemimpin Trotsky terakhir, Ta Tu Thau, dibunuh pada tahun 1946) birokrasi Vietminh menerapkan kekuasaan totaliternya di pedesaan dan memulai industrialisasi negeri tersebut dalam kerangka kerja kapitalisme negara. Mengikuti kemenangan mereka setelah perjuangan pembebasan yang panjang, sejalan dengan logika birokratis, isu peningkatan nasib petani kalah oleh kepentingan negara yang sedang bangkit: tujuannya adalah produktivitas yang lebih tinggi, di mana negara tetap menjadi penguasa tak terbantah atas produksinya. Pelaksanaan otoriter reforma agraria menyebabkan pemberontakan penuh kekerasan yang memancing represi berdarah pada 1956 (terutama di provinsi asal Ho Chi Minh sendiri). Para petani yang telah memberi kekuasaan pada birokrasi mulai menjadi korban-korban pertamanya. Selama beberapa tahun setelahnya, birokrasi mencoba menghapus ingatan atas “kesalahan serius" ini melalui sebuah “sekumpulan otokritik.”
Namun, perjanjian Jenewa yang sama memungkinkan kelompok Diem untuk mendirikan, di selatan garis ke-17, sebuah negara birokratis, feodal, dan teokratis yang melayani tuan tanah dan komprador borjuis. Dalam beberapa tahun, negara ini akan membatalkan, melalui beberapa “reforma agraria” yang pas, segala hal yang sebelumnya telah dimenangkan oleh petani di pedesaan. Para petani di Selatan, di mana sebagian tidak pernah menurunkan senjata mereka, kembali jatuh ke dalam cengkraman penindasan dan eksploitasi yang parah. Inilah perang Vietnam kedua. Massa petani insurgen, sekali lagi mengangkat senjata melawan musuh lama mereka, juga sekali lagi mengikuti pemimpin lama mereka. Front Pembebasan Nasional (NLF) menggantikan Vietminh, mewarisi baik kelebihan maupun kelemahannya. Dengan menjadikan dirinya sebagai yang terdepan dalam perjuangan nasional dan perang petani, NLF segera mendapat pamor di kawasan pedesaan yang lantas dijadikan basis utama perlawanan bersenjata. Beberapa kemenangan berturut-turut atas tentara resmi pemerintah memprovokasi orang-orang Amerika untuk mengintervensi dengan semakin masif, hingga pada titik meredam kemungkinan konflik tersebut untuk menjadi sebuah perang kolonial terbuka, di mana bangsa Vietnam berhadapan dengan pasukan penjajah. Kesungguhannya dalam berjuang, dengan program yang jelas anti-feodal, dan perspektif persatuannya tetap menjadi kualitas utama gerakan ini. Namun dilihat dengan cara apapun juga, perjuangan NLF tidak akan mampu melampaui kerangka klasik perjuangan pembebasan nasional. Programnya tetap didasarkan pada kompromi di antara koalisi luas antar kelas, didominasi oleh tujuan utama untuk mengenyahkan agresi Amerika. Bukan kebetulan kalau NLF menolak gelar “Vietcong” (yaitu komunis Vietnam) dan bersikukuh pada karakter nasionalnya. Strukturnya mirip dengan sebuah negara yang sedang dalam masa pembentukan: di area-area yang berada di bawah kendalinya, pajak sudah diberlakukan termasuk juga wajib militer.
Kualitas-kualitas minimum dalam perjuangan seperti itu dan tujuan sosial yang mereka ungkapkan tetap sepenuhnya absen dalam konfrontasi antara Israel dan bangsa Arab. Wujud kontradiksi yang spesifik antara Zionisme dan masyarakat Arab yang terpecah-pecah menambah kebingungan umum.
Sejak awal, gerakan Zionis telah berada dalam posisi yang berlawanan dengan solusi revolusioner terhadap apa yang dulu disebut sebagai “pertanyaan Yahudi." Sebagai produk langsung dari kapitalisme Eropa, gerakan ini tidak bertujuan untuk menggulingkan masyarakat yang merasa perlu mendiskriminasikan Yahudi, melainkan untuk menciptakan entitas nasional Yahudi yang akan melindungi dirinya dari potensi lahirnya anti-Semitisme atas dekadensi kapitalisme, gerakan ini tidak berusaha untuk menghapus ketidakadilan, melainkan untuk memindahkannya. Dosa bawaan Zionisme adalah bahwa ia selalu bertindak seolah-olah Palestina adalah pulau yang tak berpenghuni. Gerakan buruh revolusioner melihat jawaban atas pertanyaan Yahudi berada dalam komunitas proletar, yaitu, dalam penghancuran kapitalisme dan “agamanya, Yudaisme”, pembebasan Yahudi tidak akan dapat dipisahkan dari pengemansipasian umat manusia. Sementara Zionisme bermula dari hipotesa yang berlawanan. Pada kenyataannya, perkembangan kontra-revolusi dalam setengah abad terakhir membuktikan bahwa hal tersebut benar, namun dengan cara yang sama seperti bagaimana perkembangan kapitalisme Eropa membuktikan kebenaran tesis reformis Bernstein. Keberhasilan Zionisme dan konsekuensinya, penciptaan negara Israel, hanyalah produk sampingan yang menyedihkan dari kemenangan kontrarevolusi dunia. Dari “sosialisme dalam satu negara” muncul gema susulannya yaitu “keadilan bagi satu bangsa” dan “kesetaraan di satu kibbutz”. Kolonisasi Palestina diorganisir dengan modal Rothschild, dan kibbutz-kibbutz pertama dibangun dengan nilai-lebih Eropa. Para Yahudi tersebut menciptakan kembali bagi diri mereka sendiri fanatisme dan segregasi yang awalnya mereka alami sebagai korban. Mereka yang awalnya menderita masalah toleransi dalam masyarakat, berjuang untuk menjadi pemilik di negara lain dengan cara mengesampingkan hak orang lain untuk ditoleransi. Kibbutz sejak awal bukanlah pengganti revolusioner dari “feodalisme” Palestina, melainkan formula mutualistik para pekerja-pemukim untuk membela dirinya dari kecenderungan-kecenderungan Agensi-agensi Yahudi yang eksploitatif kapitalistik. Berhubung kibbutz merupakan Yahudi pemilik utama Palestina, Organisasi Zionis mendefinisikannya sebagai wakil satu-satunya dari berbagai kepentingan superior “Bangsa Yahudi.” Apabila pada akhirnya mereka diperbolehkan memberlakukan swakelola sampai pada tingkat tertentu, itu karena diyakini bahwa hal tersebut berjalan dengan berdasar pada penolakan sistematis terhadap petani Arab.
Sementara Histadrut (serikat buruh Israel), sejak pendiriannya pada tahun 1920, ia tunduk pada otoritas Zionisme dunia, yang dengan demikian berarti berkebalikan langsung dengan pembebasan pekerja. Para pekerja Arab tidak diperkenankan ikut bergabung ke dalamnya dan seringkali aktivitasnya termasuk melarang para pebisnis Yahudi untuk mempekerjakan mereka.
Perkembangan perseteruan antara tiga pihak, yaitu orang-orang Arab, Zionis, dan Inggris berubah menjadi menguntungkan bagi Zionis. Berkat patronase aktif dari Amerika (sejak akhir Perang Dunia II) dan restu Stalin (yang melihat Israel sebagai benteng “sosialis” pertama di Timur Tengah, sekaligus sebagai cara untuk menyingkirkan beberapa Yahudi yang menjengkelkan), tidak butuh waktu lama sampai mimpi Herzl terwujud dan negara Yahudi diumumkan secara sewenang-wenang. Pengkooptasian semua bentuk organisasi sosial “progresif” dan pengintegrasiannya ke dalam ideal Zionis memungkinkan individu paling “revolusioner” sekali pun untuk bekerja dengan hati nurani yang baik untuk membangun negara borjuis, militeristik, mendewakan rabbi, yang menjadi Israel modern. Tidur panjangnya internasionalisme proletarian sekali lagi berakibat dengan lahirnya sesosok monster. Ketidakadilan paling mendasar terhadap orang-orang Arab-Palestina kembali menjadi masalah bagi orang Yahudi sendiri: Negara Bangsa Pilihan hanyalah masyarakat kelas lain di mana semua anomali masyarakat lama dibangun ulang (pembagian hierarki, perseteruan tribal antara suku Ashkenazi dan Sephardim, persekusi rasial terhadap minoritas Arab, dll.). Serikat buruh kembali menjalankan fungsi normalnya yaitu mengintegrasikan pekerja ke dalam ekonomi kapitalis, ekonomi yang telah menjadikan dirinya sendiri sebagai penentu utamanya. Serikat tersebut mempekerjakan lebih banyak pekerja dibandingkan yang dilakukan oleh negara sendiri, dan dewasa ini merupakan kepala pangkalan atas ekspansi imperialisme dari kapitalisme Israel yang baru. (“Solel Boneh," sebuah cabang penting dari pembangunan Histadrut, menginvestasikan 180 juta dolar di Afrika dan Asia dari tahun 1960 hingga 1966 dan saat ini mempekerjakan 12.000 pekerja Afrika.)
Dan sama sebagaimana negara ini tidak akan pernah terbentuk tanpa intervensi langsung dari imperialisme Anglo-Amerika dan bantuan raksasa modal finansial Yahudi, hari ini ia tidak dapat menyeimbangkan ekonomi artifisial tersebut tanpa bantuan dari kekuatan yang sama yang menciptakannya. (Defisit neraca pembayaran tahunan adalah 600 juta dolar, yang berarti, lebih banyak diterima oleh setiap penduduk Israel daripada pendapatan rata-rata pekerja Arab.) Sejak pendirian pemukiman koloni-koloni imigran pertama, orang Yahudi telah membentuk masyarakat modern gaya Eropa di sebelah masyarakat Arab yang kondisi ekonomi dan sosialnya tertinggal, pemroklamiran negara Israel sekadar menutup proses ini dengan cara pengenyahan yang murni dan sederhana atas elemen-elemen yang tertinggal. Melalui keberadaannya, Israel menjadi benteng Eropa di jantung Afro-Asia. Dengan demikian, Israel menjadi entitas yang lain bagi dua pihak: pemberian status pengungsi permanen atau minoritas yang dijajah, bagi penduduk Arab, dan untuk sementara sebagai pencapaian duniawi dari semua ideologi egaliter, bagi populasi Yahudi.
Namun hal tersebut bukan hanya disebabkan oleh kontradiksi-kontradiksi yang terjadi dalam masyarakat Israel sendiri. Sudah sejak awal, situasi ini terus dipertahankan dan diperparah oleh masyarakat-masyarakat Arab di sekitarnya, yang sejauh ini terbukti tidak mampu memberikan kontribusi apa pun untuk memberikan solusi yang efektif.
Selama masa Mandat Inggris, perlawanan Arab di Palestina sepenuhnya dikuasai oleh kelas yang berpunya: kelas penguasa Arab dan pelindung Inggris mereka. Kesepakatan Sykes-Picot mengakhiri terciptanya harapan nasionalisme Arab yang baru saja mulai berkembang, dan menjadi sasaran dari dominasi asing, yang mengatur segalanya dengan cermat, dan sampai saat ini masih juga belum kunjung berakhir.[1] Strata yang sama yang melanggengkan dominasi Kekaisaran Ottoman atas massa Arab bergabung dan melayani pendudukan Inggris serta menjadi rekanan dalam proyek kolonisasi Zionis (dengan cara menjual tanah mereka dengan harga yang sangat tinggi). Keterbelakangan masyarakat Arab belum memungkinkan munculnya kepemimpinan baru yang lebih maju, dan setiap kebangkitan popular yang terjadi secara spontan berakhir dengan jatuh ke tangan para pengkooptasi yang sama: para “bangsawan-borjuis-feodal” dan komoditas mereka: persatuan nasional.
Pemberontakan bersenjata pada 1936-1939 dan pemogokan umum yang berlangsung selama enam bulan (terpanjang dalam sejarah) diambil dan dilaksanakan meskipun ada penentangan dari semua pimpinan partai-partai “nasionalis.” Ia meluas dan diorganisir secara spontan, ini memaksa kelas penguasa untuk bergabung dengannya demi mengambil alih kepemimpinan gerakan tersebut. Namun hal ini dilakukan untuk mengendalikannya, memimpinnya ke meja perundingan, dan mencapai kompromi-kompromi reaksioner. Hanya implikasi-implikasi dari kemenangan paling penuh dan radikal dari pemberontakan itulah yang dapat menghancurkan baik Mandat Inggris maupun tujuan Zionis untuk mendirikan sebuah negara Yahudi, Kegagalan tersebut menjadi pertanda bencana yang hadir kemudian, yang akhirnya berujung pada kekalahan pada 1943.
Kekalahan tersebut menandai akhir dari “borjuis-feodal" sebagai kelas terkemuka dalam gerakan Arab. Ia memberikan kesempatan bagi kelas menengah kecil untuk berkuasa dan membentuk, bersama dengan para perwira tentara yang kalah, sebagai motor gerakan saat ini. Programnya sederhana: persatuan Arab, ideologi sosialis yang samar-samar, dan pembebasan Palestina. Agresi Tripartit 1956[2] memberikannya kesempatan terbaik untuk mengkonsolidasikan diri sebagai kelas yang dominan dan menemukan pemimpin-program dalam diri Nasser, yang dipresentasikan untuk meraih kekaguman kolektif dari massa Arab yang benar-benar termiskinkan. Nasser adalah agama sekaligus candu bagi mereka. Namun kelas eksploitatif baru ini memiliki kepentingan-kepentingan dan tujuannya sendiri. Slogan-slogan yang digunakan oleh rezim birokratis-militer Mesir untuk memenangkan dukungan popular sudah buruk dengan sendirinya, selain itu, rezim tersebut juga tak mampu merealisasikannya.
Persatuan Arab dan penghancuran Israel (yang dengan sukses diartikan sebagai likuidasi negara perampas atau sesederhana menggiring populasi Israel ke laut) adalah inti dari propaganda-ideologi ini.
Apa yang membuat kelas menengah Arab dan kekuasaan birokratisnya mengalami kemunduran adalah pertama-tama kontradiksi internalnya sendiri dan kerentanannya terhadap pilihan-pilihan (strategis -red.) yang dangkal (Nasser, Partai Baath, Kassem, dan partai-partai yang disebut “Komunis" tidak pernah berhenti saling berseteru satu sama lain, serta berkompromi dan bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang paling meragukan).
Dua puluh tahun setelah perang Palestina pertama, strata kelas baru ini baru saja mendemonstrasikan ketidakmampuannya yang menyeluruh dalam menyelesaikan masalah bangsa Palestina. Mereka menghidupkan gertakan-gertakan yang penuh kepura-puraan, karena mereka hanya bisa bertahan dengan terus-menerus menghadirkan gambaran kosong lsrael, sementara mereka sama sekali tidak mampu menghadirkan solusi radikal apa pun terhadap masalah-masalah domestik yang tak terhitung banyaknya. Masalah bangsa Palestina tetap menjadi kunci pertikaian perebutan kekuasaan di Arab. Ini adalah titik referensi pusat bagi semua orang dan semua konflik bergantung padanya. Ini adalah dasar solidaritas objektif dari semua rezim Arab. Ini menghasilkan "Aliansi Suci" antara Nasser dan Hussein, Faisal dan Boumedienne, Aref dan Baaths.[3]
Perang yang terkini telah menghilangkan semua ilusi ini. Kekakuan total “ideologi Arab" hancur saat bersentuhan dengan realitas yang tak hanya sama kerasnya namun sekaligus juga permanen. Mereka yang berbicara tentang bagaimana memulai perang sebenarnya tidak menginginkannya dan tidak mempersiapkan diri untuk itu, sementara mereka yang hanya berbicara tentang mempertahankan diri sebenarnya malah mempersiapkan serangan. Setiap kubu mengikuti kecenderungan masing-masing — birokrasi Arab yang suka berbohong dan demagog, para penguasa Israel yang menghendaki perluasan imperialisme. Pelajaran paling penting dari Perang Enam Hari adalah pelajaran negatif: ia telah mengungkapkan semua kelemahan dan cacat tersembunyi dari apa yang disajikan sebagai “Revolusi Arab.” Birokrasi militer yang “kuat” dari Mesir runtuh sampai menjadi abu dalam waktu dua hari, sekaligus mengungkapkan kenyataan tersembunyi dari pencapaian-pencapaiannya: fakta bahwa kekuatan poros (axis) di sekeliling semua transformasi sosial-ekonomi yang terjadi—Tentara—pada dasarnya tetap sama. Di satu sisi, ia mengklaim mengubah segalanya di Mesir (dan bahkan di seluruh dunia Arab), di sisi lain, ia melakukan segala yang mungkin untuk menghindari setiap transformasi yang terjadi dalam dirinya sendiri, nilai-nilainya, atau kebiasaannya. Mesir di bawah Nasser masih dikuasai oleh kekuatan-kekuatan pra-Nasser, birokrasinya adalah kumpulan berbagai pihak dan kepentingan namun tanpa koherensi atau kesadaran kelas, yang hanya bersatu dalam eksploitasi dan pembagian nilai tambah sosial.
Adapun mesin politik-militer yang menguasai Suriah Baathis, ia semakin merapatkan diri dalam ekstremisme ideologinya. Namun, retorikanya tidak lagi dapat menipu siapa pun (kecuali Pablo[4]). Semua orang tahu bahwa mereka tidak berperang dan menyerah tanpa perlawanan karena mereka lebih memilih untuk menyimpan pasukan terbaik mereka di Damaskus untuk pertahanan mereka sendiri. Mereka yang telah menghabiskan 65% anggaran Suriah atas nama membela negara akhirnya telah membongkar kebohongan sinis mereka sendiri.
Terakhir, perang telah menunjukkan, kepada mereka yang masih perlu ditunjukkan, bahwa Aliansi Suci dengan seseorang seperti Hussein hanya akan mengarah pada bencana. Pasukan Liga Arab (Tentara Yordania) mundur pada hari pertama dan penduduk Palestina, yang telah menderita selama dua puluh tahun di bawah teror polisinya, tiba-tiba mendapati diri mereka tak bersenjata dan tidak terorganisir di hadapan pasukan pendudukan Israel. Sejak 1948, tahta Hashemite telah berbagi dengan negara Zionis dalam menjajah Palestina. Dengan meninggalkan Tepi Barat, mereka memberikan kepada Israel berkas-berkas polisi tentang semua elemen revolusioner Palestina. Namun, orang Palestina sudah tahu bahwa tidak ada perbedaan besar antara dua penjajahan tersebut, dan kebrutalan pendudukan baru setidaknya membuat medan perlawanan menjadi lebih jelas.
Adapun Israel, telah menjadi segala sesuatu yang dituduhkan oleh bangsa Arab sebelum perang: sebuah negara imperialis yang berperilaku seperti pasukan penjajah klasik (teror polisi, meledakkan rumah-rumah dengan dinamit, hukum militer permanen, dl!.). Secara internal, histeria kolekif, yang dipimpin oleh para rabbi, berkembang seputar “hak atas Israel yang tidak dapat disangkal karena telah tercantum dalam Alkitab.” Perang ini menghentikan seluruh gerakan perjuangan-perjuangan internal yang dipicu oleh kontradiksi masyarakat artifisial Ini (pada 1966 terjadi beberapa kerusuhan, sementara pada 1965 terjadi tidak kurang dari 277 pemogokan kerja) dan memicu dukungan bulat terhadap tujuan kelas penguasa dan ideologi paling ekstremnya. Perang ini juga berguna dalam memperkuat semua rezim Arab yang tidak terlibat dalam perjuangan bersenjata. Itu karenanya mengapa Boumediene, dari jarak 3000 mil, bisa ikut serta dalam panduan suara kesombongan politik dan mendapat tepuk tangan dari kerumunan orang Aljazair di depannya, di mana dia bahkan tidak berani tampil sehari sebelumnya, dan akhirnya memperoleh dukungan dari ORP yang sepenuhnya ter-stalinisasi (“karena kebijakan anti-imperialisnya”). Faisal, dengan beberapa juta dolar, mendapatkan penarikan mundur Mesir dari Yaman yang memperkuat takhtanya. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Seperti yang selalu terjadi, perang, jika bukan perang sipil, hanya membekukan proses revolusi sosial. Di Vietnam Utara, perang telah mendatangkan dukungan dari para petani, yang sebelumnya tidak pernah diberikan, kepada birokrasi yang mengeksploitasi mereka. Di Israel, sejak lama perang telah membunuh segala bentuk oposisi terhadap Zionisme, dan di negara-negara Arab, sementara itu, memperkuat—sementara—lapisan paling reaksionernya. Tidak ada cara apapun bagi arus revolusioner untuk menemukan sesuatu dalam reaksi akibat perang yang dapat mereka identifikasi sebagai bagian dari mereka. Tugas mereka adalah berada di kutub yang berlawanan dari gerakan saat ini, semenjak arus revolusioner harus menjadi negasi mutlak terhadap gerakan tersebut.
Saat ini, jelas tidak mungkin mencari solusi revolusioner untuk perang Vietnam. Yang pertama-tama perlu dilakukan adalah mengakhiri agresi Amerika Serikat agar memberi peluang bagi perjuangan sosial sesungguhnya di Vietnam untuk berkembang secara alamiah, yaitu, membiarkan para pekerja dan petani Vietnam untuk menemukan sendiri musuh-musuh mereka di dalam negeri: birokrasi di Utara dan kaum berpunya serta golongan penguasa di Selatan. Begitu Amerika Serikat menarik diri, birokrasi Stalinis pasti akan menguasai seluruh negeri—tak ada pilihan jalan lain. Karena para penjajah tidak dapat melanggengkan agresi mereka, bahkan sejak zaman Talleyrand, sudah menjadi hal umum bahwa seseorang dapat melakukan apa saja dengan sebilah bayonet kecuali duduk di atasnya. Poinnya karenanya bukan memberikan dukungan tanpa syarat (atau bahkan bersyarat) kepada Vietcong, melainkan berjuang secara konsisten dan tanpa kompromi melawan imperialisme Amerika. Peran paling efektif yang saat ini dimainkan oleh para revolusioner Amerika, menganjurkan dan mempraktikkan perlawanan dan penolakan wajib militer dalam skala besar (dibandingkan dengan perlawanan terhadap perang Aljazair di Prancis yang begitu kecil). Perang Vietnam berakar di Amerika dan di sana jugalah hal tersebut dapat dicabut akarnya.
Tidak seperti perang Amerika, pertanyaan Palestina tidak memiliki solusi yang langsung kelihatan. Tidak ada solusi jangka pendek yang dirasa layak. Rezim-rezim Arab hanya akan runtuh di bawah beban kontradiksi mereka dan Israel akan semakin menjadi tawanan logika kolonialnya sendiri. Semua kompromi yang berusaha digabungkan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia telah dikutuk menjadi kontra-revolusioner dengan cara yang satu atau yang lain. Status quo hibrida—damai bukan atau perang juga bukan—kemungkinan besar akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, di mana rezim-rezim Arab akan menghadapi nasib yang sama dengan para pendahulu mereka pada 1948 (kemungkinan pada awalnya akan menguntungkan kekuatan yang terang-terangan reaksioner. Masyarakat Arab, yang telah menghasilkan segala jenis kelas penguasa, sekarang harus menghasilkan kekuatan-kekuatan yang akan membawa subversi totalnya. Mereka yang disebut sebagai borjuis nasional dan birokrasi Arab telah mewarisi semua cacat dari kedua kelas tersebut tanpa pernah mengetahui pencapaian-pencapaian sejarah yang telah diraih oleh kelas-kelas tersebut di masyarakat lain. Kekuatan revolusioner Arab masa depan yang akan muncul dari reruntuhan kekalahan Juni 1967 harus tahu bahwa mereka tidak memiliki kesamaan dengan rezim Arab yang eksis saat ini dan tidak ada kekuatan-kekuatan yang menguasai dunia saat ini yang layak dihormati. Mereka akan menemukan modelnya dalam diri mereka sendiri dan dalam pengalaman-pengalaman sejarah revolusioner yang selama ini direpresi. Pertanyaan Palestina terlalu serius untuk diberikan begitu saja kepada negara-negara, yaitu kepada para kolonel. Ini terlalu mirip dengan dua pertanyaan dasar revolusi modern—internasionalisme dan negara—sehingga tidak ada kekuatan yang dapat memberikan solusi yang memadai. Hanya gerakan revolusioner Arab yang tegas dalam sikap internasionalis dan anti-negara-nyalah yang dapat melumerkan negara Israel sekaligus mendapatkan dukungan dari massa yang dieksploitasi oleh negara tersebut. Dan hanya melalui proses yang samalah maka kekuatan tersebut akan mampu melumerkan semua negara Arab yang ada dan menciptakan persatuan Arab melalui kekuatan dewan-dewan.
[1] Mandat Inggris: Posisi Inggris sebagai protektorat atas Palestina (1920-1948). Perjanjian Sykes-Picot: Perjanjian rahasia yang disusun oleh Inggris, Prancis, dan Rusia pada 1916 untuk membagi-bagi bekas Kekhalifahan Otoman di antara mereka sendiri persis pasca Perang Dunia I.
[2] Agresi Tripartrit: Inggris, Prancis, dan Israel yang bersama-sama menyerang Mesir selama Krisis Suez 1956.
[3] Partai Baath: Partai Pan-Arabia, faksi rival yang telah memerintah Suriah dan Irak sejak 1960-an (hingga invasi Amerika Serikat 2003 lalu). Kassem: Pimpinan Irak pada 1958-1963. Hussein: Raja Yordania. Faisal: Raja Saudi Arabia.
[4] Nama panggilan bagi Michalis N. Baptis, ketua umum sebuah kelompok Trotskist Tendencies, Prancis.