#title Distribusi Teks-Teks Radikal #subtitle Sebuah Wawancara Eksklusif dengan Penerbit Anarkis, Talas Press #author Talas Press #LISTtitle D #date 2025 #source [[https://archive.org/details/distribusi-teks][Archipelago Anarchist Archive]] #lang id #pubdate 2026-10-26T02:37:23 #authors Talas Press; Contemplative Publishing #publication Contemplative Publishing #publicationdate 2025 #language Indonesia #topics Penerbitan Anarkis #notes Pertama kali diunggah oleh Contemplative Publishing (2025) di Instagram, lalu diarsipkan oleh Archipelago Anarchist Archive dalam format PDF dan diunggah ke Internet Archive. Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive). Pengantar oleh Contemplative Publishing Di tengah arus utama industri penerbitan yang coraknya kini makin berorientasi profit, nampaknya masih ada kelompok-kelompok penerbit unik yang justru bergerak ke arah sebaliknya—melawan arus. Salah satunya adalah Talas Press, penerbit buku yang konsen pada gagasan anarkis. Menariknya, ketika ditilik-tilik lebih dekat, Talas Press tidak sekadar cocok dianggap publisher, malag gerak-geriknya lebih mirip organisasi politik dari pada penerbit buku. LOL. Dalam wawancara ini, seorang mahasiswa dari salah satu universitas di Malang berkesempatan berbincang langsung dengan Talas Press untuk mengeksplorasi lebih jauh cara kerja mereka, pandangan mereka tentang ekosistem penerbitan mandiri, serta bagaimana nilai-nilai anarkisme diterapkan dalam setiap aspek operasional penerbitan mereka. Percakapan ini membuka wawasan tentang upaya membangun ruang diskursus yang menurut hemat kami “berbeda” dari yang kami amati pada penerbit buku yang kami tahu. Tidak luput pula dibahas kritik mereka terhadap sistem penerbitan arus utama, dan kesinisan mereka tentang ini dan itu dalam dunia perbukuan. Kami menerbitkan wawancara ini (tentu saja) tanpa izin, mendapat izin atau tidak, bagi kami tidak lebih penting dan menarik dari isi perbincangan yang dapat kita simak dalam wawancara ini. Terakhir, wawancara ini dapat menjadi pintu masuk (atau pintu keluar) untuk setiap kutu buku dalam memahami bagaimana penerbit-penerbit yang mencetak salah satu buku dari penulis favoritnya bekerja!
***
Bagaimana Talas Press membangun posisi dalam arena produksi kultural? Apakah ada persaingan dengan penerbit lain yang juga fokus pada literatur anakis, atau Talas Press menempati posisi unik
TPress tidak pernah merasa bersaing atau tersaingi penerbit anarkis lain. Kami malah senang dengan keberadaan mereka, lebih senang lagi jika inisiatif-inisiatif untuk membangun penerbitan itu juga makin meningkat gairahnya di kalangan anarkis atau non-anarkis sekalipun. Anarkisme itu satu gagasan besar, atau jika pun anarkisme itu dianggap kecil, itu dapat dipastikan ada di dalam setiap gagasan yang dianggap besar. anarkisme memiliki banyak sekali corak, corak-corak yang ada ini saling menguatkan, bahkan dalam kondisi tertentu saling mengkritik satu sama lain. Perdebatan yang terjadi di (antara) sesama anarkis bukan sebuah masalah, itu justru fenomena yang baik, mencirikan bahwa anarkisme sedang terus berkembang, itu dinamis, itu tidak statis! Banyak sekali kecenderungan, dari yang menitikberatkan perjuangan individual hingga ke komunal dari yang antitech hingga ke transhuman, dan lain-lain. memahami hal itu, kami sering sekali berkata kepada diri sendiri: “Banyak sekali yang akan kita kerjakan, kawan”. Tapi, tentu saja, kita selalu memiliki keterbatasan, ibarat begitu banyak sekali buku bagus di dunia ini, tapi tidak pernah ada cukup waktu untuk membaca buku-buku itu seluruhnya, seumur hidup pun takkan pernah cukup. Itulah yang terjadi, akhirnya TPress memilih, menggarap, dan membahas beberapa hal saja. Tema yang tidak kami kerjakan akan kami percayakan kepada penerbit lain, TPress pikir, penerbit anarkis lain pun akan berpikiran sama seperti kami. Alih-alih bersaing (atau) berkompetisi, hubungan di antara penerbit-penerbit anarkis lebih tepat disebut sebagai saling melengkapi dan memercayakan diri ke satu sama lain. Isu-isu tentang sindikalisme sedang kami percayakan pada Penerbit Daun Malam, begitu pun isu-isu tentang sastra dan seni secara umum dalam tradisi anarkisme, sedang Penerbit Daun Malam percayakan kepada kami. Meski satu sama lain dari kami (TPress dan Daun Malam) tidak intens dan tidak berbagai agenda penerbitan secara mendetail, tapi TPress percaya perasaan semacam itu tidak hanya kami rasakan sendiri, itu juga dirasakan penerbit anarkis lain. Bahkan TPress yakin, dalam etos kerja penerbitan ini, tiap penerbit anarkis yang ada telah saling berterima kasih satu sama lain. Bagaimana Talas Press memposisikan diri dalam struktur penerbitan arus utama dan independen?
Kalian pasti tahu bagaimana posisi kami. Kami tidak sibuk untuk menyesuaikan diri dengan pasar, berorientasi profit, dan produksi massal ala-ala penerbit arus utama. Kami juga tidak sibuk dengan idealisme yang dijual penerbit-penerbit independen atau penerbit indie, yang katanya berbicara banyak tentang sikap, dedikasi pada kualitas terbitan seperti memprioritaskan nilai literer atau relevansi dan kebermanfaatan, tapi yang kami lihat, penerbit(-penerbit| yang melabeli diri mereka indie di lingkungan perbukuan indonesia justru sedang bergerak ke arah yang lain (menuju arus yang mereka tentang). Nilai literer yang sibuk mereka bicarakan kadangkala hanyalah hal-hal teknis seperti pembelian/pengurusan hak terbit sebuah buku (misalnya), relevansi dan kebermanfaatan yang mereka angkat untuk, katakanlah “mensejahterakan penulis” (misalnya 2), dititikberatkan pada kampanye anti pembajakan yang sebetulnya hanyalah cangkang atas alasan “bisnis dibandingkan untuk betul-betul memikirkan kesejahteraan penulis, dan alasan mengada-ada lainnya yang kami pikir picik. Jadi kalau TPress menyebut diri kami bagian dari penerbit arus utama, itu jelas keliru, tapi menyebut juga kami sebagai bagian dari penerbit indie, etos kerja penerbit indie dalam konteks perbukuan di sini, dalam beberapa hal tidak cocok dengan kami. Jika boleh menyebutkan diri, mungkin kami lebih cocok disebut penerbit micro saja atau penerbit “tak terlihat? karena kami benar-benar kecil seperti kuman. Modal apa saja yang digunakan Talas Press untuk memperkuat posisinya sebagai penerbit di arena kultural? Apakah Talas Press menggunakan “moda? budaya (pengetahuan atau kualitas karya), modal sosial (jejaring dan komunitas anarkis), atau modal simbolik (citra dan kredibilitas dalam penerbitan anarkis)? Kami menggunakan beragam “modal, yang lebih nyaman kami sebut sebagai “kekuatan”. Akan kami bahas satu per satu. Dalam kekuatan budaya, kami betul-betul memaksimalkan kekuatan ini. Pengetahuan dan kualitas karya adalah satu hal yang sebetulnya saling terintegrasi satu sama lain, yang terus kami coba perdalam. Kami belajar dari tiap terbitan kami sendiri—termasuk mengevaluasinya—selain juga belajar dari banyaknya referensi yang kami temukan terus-menerus. Pengetahuan adalah kekuatan yang terus menunjang kualitas karya yang kami garap. Dalam memperkuat kekuatan ini, kami memaksimalkan potensi literatur yang dapat kami akses dari korespondensi kami dengan kelompok anarkis lain, mengakses kanal-kanal ilegal untuk mendapatkan literatur terbaru, teks kritik, dan analisis yang lebih koheren dan terkini, baik yang secara tegas berkonteks anarkis, anarkistik, atau non-anarkis sekalipun. Meski, pengetahuan adalah kekuatan yang mendasari peningkatan kualitas karya garapan kami. Namun, kami yakin, hal paling mendasar yang membuat kami ingin terus memperkuat kekuatan budaya adalah kebodohan dan ketidakpuasan kami terhadap ilmu pengetahuan. Jadi kekuatan budaya yang sesungguhnya kami miliki bukanlah pengetahuan dan kualitas karya, tapi kebodohan. Kekuatan sosial. kami tentu saja memiliki kekuatan ini, TPress terhubung dengan lingkaran-lingkaran anarkis lain, lokal maupun internasional. Sebagaimana sebuah hubungan, kekuatan sosial tidak hanya mengisyaratkan bahwa kami menjalin komunikasi, tapi menunjukkan bahwa kami juga bertukar, baik itu pengetahuan, akses, konteks dan polemik yang sedang dihadapi satu sama lain. Kekuatan sosial memiliki dampak yang terasa sekali pengaruhnya pada perluasan pendistribusian gagasan yang kami produksi. Meluasnya jangkauan pembaca adalah salah satu manfaat paling kecil yang menguatkan alasan kami untuk terus memperbesar kekuatan sosial yang kami miliki. Kekuatan simbolik yang TPress miliki cukup lumayan, kami cukup percaya diri untuk mengakui itu sebab kami (tim yang ada di dalamnya) betul-betul tahu persis dan merancang masak-masak, ingin dikenal dan dilihat dengan cara seperti apa TPress oleh audiens. TPress dikonsep sebagai penerbit yang memiliki persona individual, tidak kaku seperti akun-akun penerbit lain. TPress sengaja dibuat norak, memiliki kesadaran humor, memiliki rutinitas yang sebenarnya dibuat-buat. Itu hanya konsep. Tapi konsep yang berdampak cukup besar, kami merasa citra yang cukup cair membantu kami untuk dapat lebih mudah dalam mengomunikasikan gagasan serius dengan cara yang lebih menyenangkan. Begitu pula audiens, kami melihat mereka lebih leluasa dalam mengomunikasikan banyak hal dengan TPress karena citra yang dimilikinya. Kamu juga pasti memahaminya kan? Dari ketiga kekuatan yang ada, kami tidak benar-benar tahu mana yang sungguh-sungguh unggul, tapi kami ingin berharap kekuatan budaya kami nampak lebih unggul daripada kekuatan kami yang lainnya. Para pembaca dan teman-teman yang menyimak aktivitas TPress mungkin punya pandangan berbeda. Bagaimana peran setiap jenis modal ini dalam strategi produksi dan distribusi Talas Press? Kekuatan budaya yang TPress miliki berperan strategis dalam pertimbangan-pertimbangan pemilihan teks yang akan diterbitkan. Dalam beberapa kali pengalaman penggarapan buku, buku-buku yang kami produksi jauh lebih mudah didistribusikan karena punya banyak perbedaan, khususnya secara tema dengan terbitan-terbitan dari penerbit anarkis maupun non-anarkis yang kami tahu. Kekuatan budaya yang kami miliki jga memberikan semacam sudut pandang untuk tidak mengulang-ngulang tema. Pengulangan tema yang kami maksud itu contohnya seperti menerbitkan buku tetang pengantar anarkisme, apa itu anarkisme, dan teks-teks serupa yang sebetulnya telah dirilis begitu banyak ketika gagasan masih populer didistribusikan daam (bentuk| pamflet, selebaran, atau zine daripada rilisan berbentuk buku pada era tahun 90-an. Kekuatan sosial yang terbangun lewat jaringan yang luas berpengaruh pada strategi produksi yang kami lakukan. Beberapa kali kami mempertimbangkan jaringan kami dalam memproduksi buku, kerja-kerja kolaboratif sering sekali kami lakukan dengan kolektif atau penerbi anarkis lain yang terhubung dengan kami. Pengalaman bekerja sama dengan penerbit lain membantu kami mempelajari pola kerja yang baru, strategi pemasaran yang belum pernah kami coba lakukan, dan hal lainnya yang berguna untuk proses pendewasaan TPress sebagai penerbit buku. Kami merasakan bukan hanya pendistribusian yang tentunya menjadi lebih luas dari hubungan yang terjalin, tetapi kekuatan sosial membantu kami untuk dapat memahami, menyesuaikan cara, dan mencari siasat-siasat licik dan kreatif dalam pendistribusian terbitan kami, seperti pemanfaatan marketplace untuk memanipulasi biaya pengiriman paket yang mahal. Karena audiens telah dikondisikan untuk terbiasa menyimak TPress sebagai penerbit yang penuh kelakar, santai, dan akun yang akan mereka lihat sebagai akun pribadi dari seorang teman yang mereka ikuti. Citra individual dan personal itu mempermudah penyampaian alasan kami dalam memproduksi teks. Sumpah, kami tidak pernah pusing untuk cape-cape menjelaskan kenapa satu teks penting untuk kami garap karena alasan sepele seperti karena kami menyukainya saja sudah cukup bagi audiens kami. Walaupun sebetulnya gesekan atau konflik dalam pemilihan teks yang hendak akan kami garap itu berlangsung sangat sengit di dapur redaksi. Selain itu, strategi pendistribusian terbitan yang kami lakukan juga akhirnya mengikuti pola-pola individual, tapi itu bukan hal buruk sih, bahkan bagi kami itu keunggulan. Lebih mudah rasanya menawarkan produk yang kita buat denga cara seperti saat kita menawarkan itu pada teman kita sendiri. Bagaimana Talas Press menghadapi tekanan dari struktur dominan di arena kultural? Apakah ada tantangan atau hambatan dari norma-norma atau standar penerbitan mainstream, misalnya dalam hal akses pasar, distribusi, atau sensor? Jangan bercanda, pertanyaan apa itu? Tentu saja kami bermasalah dengan norma-norma penerbitan pada umumnya. Kami pro pembajakan buku, membagikan pdf dari buku-buku yang kami terbitkan secara gratis, kami tidak menempuh prosedural seperti pendaftaran ISBN, kami meloloskan diri dari sistem — sensor, menganjurkan — orang-orang — untuk menyebarluaskan terbitan kami untuk keperluan kampanye, penggalangan dana kolektif, bahkan untuk kepentingan pribadi. Kamu bertanya soal hambatan norma? Ya, tentu saja. halhal yang kami lakukan membuat kami dimusuhi (secara langsung dan tidak langsung) oleh aktivis-aktivis literasi. Tapi, kami tidak khawatir dengan hal semacam itu, sebab dukungan yang kami terima dari kalangan yang memiliki kesamaan nilai dan mampu memahami makna pentinga dari aktivitas yang kami lakukan jauh lebih banyak dari penolakan yang kami terima. Bagaimana Talas Press mengatasi tekanan yang ada dan tetap relevan dengan audiensnya?
Jujur saja, kami tidak ambil pusing dengan tekanan yang kami terima, dan saat kami menerima tekananm yang kami pikirkan bukan berhenti melawan atau bersembunyi. Kami malah mendapat semacam motivasi untuk terus konsisten melakukan aktivitas yang telah biasa kami lakukan. Karena lambat laun beberapa orang bahkan memahami maksud dari apa yang kami lakukan, mereka bahkan sampai pada kesimpulan tentang pembebasan ilmu pengetahuan, padaha sama sekali kami tidak pernah menyampaikan maksud itu secara terbuka dan terang-terangan dari aktivitas kami. Bagaimana Talas Press menegosiasikan konsep “anarkisme” dalam produksi kulturalnya? Apakah ada persaingan dengan penerbit lain yang juga fokus pada literatur anarkis, atau Talas Press menempati posisi unik? Kami memproduksi terbitan buku fisik kami seccara terbatas. Rilisan terbanyak yang pernah kami produksi dari satu judul buku itu tidak sampai di angka 100 copy. Itu kami lakukan bukan tanpa sebab, kami melakukannya agar produksi teks bisa terus berlanjut, agar penerjemah, penulis, dan orangorang yang terlibat di dalam proyek bisa kami beri uang saku. Selebihnya kami fokus pada pendistribusian PDF secara gratis.
Kami membayar dengan layak para kontributor kami, bahkan saat penerbit besar hanya mampu memberikan royalty kepada penulisnya di kisaran hitungan tidak lebih dari 206, kami mampu membagi 50”6 dari hasil penjualan buku kepada penulis yang karyanya kami terbitkan. Sama seperti penerbit, kami juga punya semacam kriteria tidak baku tentang penulis dan teks macam apa yang kami terima. Sejauh ini kriterianya cukup sederhana, penulis yang kami terima adalah seorang anarkis, atau seorang non-anarkis tapi menulis tema-tema yang kami sukai. Kami sebetulnya menerima segala macam bentuk teks, tapi kami lebih memprioritaskan teks yang membicarakan banyak soal keterkaitan sastra dan seni pada umumnya dengan gagasan anarkisme, juga teks individualisme, nihilisme, egoisme, gueer, dan ragam kecenderungan lainnya. Satu lagi, kami menerima teks dari penulis yang bersedia karyanya dibagikan gratis setelah buku fisiknya, yang kami cetak tidak lebih dari 100 copy itu habis. Apakah nilai-nilai anarkisme ini tercermin dalam cara Talas Press berinteraksi dengan penulis dan pembaca? Menurutmu? Atah deui atah deui (nanya lagi nanya lagi). Oke, kami tambahkan. Dalam berinteraksi dengan pembaca, kami tidak hanya berusaha menjangkau pembaca umum, tapi juga pembaca kami yang memiliki akses terbatas, seperti narapidana misalnya. Kami mendistribusikan beberapa buku rilisan kami ke dalam lapas, biasanya secara langsung lewat keluarga atau lewat pengacaranya, ini rutin kami lakukan. Interaksi kami dengan pembaca kami juga tidak hanya sebatas hubungan antara penerbit buku dan pembaca langganannya. Tapi ikatakan yang terhubung dalam beberapa kasus menjadi lebih intens dan mendalam. Khususnya dengan para pembaca yang memilii kesamaan nilai secara ideologis dengan kami dan terlibat dalam titik api di wilayahnya masingmasing. Karena itulah TPress sering ikut menjadi penjamin untuk kasus-kasus yang mereka hadapi. Kami dari jauh membantu menjamin mereka yang tertangkap saat terlibat dalam aktivitas ilegal, ikut mengkampanyekan dan mencari sumber bantuan dan pendanaan solidaritas bagi para pembaca kami—yang lambat laun relasinya berkembang lalu kami anggap sebagai saudara kami sendiri. Sejauh mana strategi pemasaran dan distribusi Talas Press mencerminkan modal simbolik mereka? Bagaimana strategi pemasaran Talas Press, sesuai atau bertentangan dengan citra Talas Press sebagai penerbit anarkis? Sejauh ini kami pikir strategi yang kami gunakan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang kami pegang, meski kami tidak terlalu selektif dalam memilih rekan untuk mendistribusikan buku yang kami terbitkan. Kami terbuka dengan toko buku yang secara langsung meminta dirinya menjadi pendistribusi dari terbitan kami, dan toko buku besar belum pernah ada yang meminta dirinya menjadi pendistribusi rilisan TPress. Ya itu bagus sih, dengan kemampuan cetak yang sengaja dibatasi, kami bukan hanya pasti tidak akan setuju dengan pola-pola toko besar, kami juga pasti tidak akan cocok dengan mereka yang akan menuntut kami untuk produksi dalam skala besar.
Apakah Talas Press menggunakan metode distribusi alternatif (misalnya, kolektif atau jaringan informal) untuk menjaga konsistensi dengan nilai-nolao yang Talas Press pertahankan? Tentu saja kami memakai jalur kolektif dan jaringan informal yang memiliki kesamaan nilai dengan kami dalam pendistribusian terbitan. Terhubung dengan lingkaranlingkaran yang memiliki kecenderungan sama dengan TPress, membuat kami merasa bobot dari bentuk distribusi yang kami lakukan lebih bermakna daripada sekadar mendistribusikan karya terhadap mereka yang penasaran dan tertarik dengan teks-teks yang kami terbitkan. Bagaimana proses produksi di Talas Press mempengaruhi bentuk dan isi karya yang diterbitkan? Bagaimana kebijakan editorial—termasuk pilihan tema dan gaya—membentuk karakteristik karya yang diterbitkan? Seperti yang kami katakan sebelumnya, TPress menerima tulisan dari penulis anarkis maupun non-anarkis, asalkan tema yang diangkat sesuai dengan minat kami. Meski terbuka pada berbagai jenis teks, kami memprioritaskan karya yang mengeksplorasi hubungan antara sastra dan seni secara umum dengan gagasan anarkisme, juga tema-tema seperti individualisme, nihilisme, dan lain-lain. Fokus ini secara tidak langsung membentuk reputasi Tpress sebagai penerbit anarkis yang serius dalam menggarap tema-tema seni. Itu bukan wajah yang buruk bagi kami karena orang-orang dalam tim memang meminati tema itu, meski satu-dua orang lebih tertarik pada sinema, dan sisanya pada kritik dan sastra. Apakah ada mekanisme khusus yang menjaga kualitas dan tujuan ideologis dalam karya yang dipilih? Kami memastikan karya yang masuk ke dapur redaksi adalah karya-karya seperti yang kami utarakan sebelumnya. Kami juga mencari penulis yang bersedia membagikan karya mereka secara gratis setelah buku fisiknya dirilis. Bagaimana hubungan Talas Press dengan komunitas dan kolektif anarkis berperan dalam produksi budaya? Apakah komunitas anarkis secara aktif dilibatkan dalam proses editorial, distribusi, atau promosi karya? Kami sering sekali secara terbuka meminta bantuan kepada anarkis lain, bentuk permintaan bantuan itu bisa beragam, itu disesuaikan dengan kebutuhan yang kami cari. Dalam penggarapan naskah, kami pernah mendapatkan bantuan dari anarkis yang kami kenal secara langsung dan tidak langsung untuk membantu membuatkan desain sampul. Dalam proses distribusi dan promosi karya, kami sangat sering menautkan postingan di antara satu sama lain, sehingga jangkauan dan wawasan audiens yang menyimak berita karya yang diterbitkan jauh lebih luas lagi. Sejauh mana Talas Press berfungsi sebagai perpanjangan suara komunitas ini? Sering kami merenungkan tentang posisi kami sebagai penerbit. Sering juga kami heran karena dalam beberapa situasi kami tidak hanya menjadi kanal informasi dan penyedia bacaan lingkaran anarkis, tapi menjadi wadah bagi gagasan-gagasan yang tidak mendapat tempat. Dalam banyak hal, TPress adalah suara atau keresahan banyak orang. Kami juga hadir untuk mendorong dan menginisiasi sebuah diskusi. Bahkan berfungsi menjadi semacam support sistem untuk proyek anarkis, dan pusat penyediaan bantuan, meski itu dilakukan dalam skala dan manfaat yang terbats bagi para anarkis dan kolektif-kolektif yang ada. Ini klaim kami, kami merasa demikian, pandangan audiens mungkin akan berbeda, itu tidak masalah. Tidak ada yang sungguh-sungguh sama di dunia ini.
Terima kasih sudah memilih Talas Press sebagai subjek dalam proyek penelitian yang sedang kalian lakukan, semoga jawaban-jawaban kami—setidaknya, sedikit saja—memenuhi harapan. LLA!