W.H. Utsman

Perpustakaan Jalanan Sebagai Arena Kritis Penciptaan Situasi

Barangkali Cara Menggulingkan Repetisi Sehari-Hari adalah dengan Tidak Meninggalkan Buku-Buku

2026

Seorang kawan dengan honda vario meletakkan satu “barrel bag” berisikan buku-buku yang tak lekang zaman di selasar tugu jam delapan malam. Secara spesifik, tas tersebut berisikan zine fotokopian, buku-buku terjemahan, kamus usang sampai tafsiran Al-Quran yang bahkan lembarnya sudah tercecer. Di selasar juga terkapar “banner bekas", bendera sebagai tanda bertuliskan “Perpustakaan Jalanan", beberapa coretan propaganda di atas kanvas bertuliskan, seperti “135+ dibunuh polisi", “Free Palestine”, “Dimulai dengan Jatuh Cinta”, dan lain sebagainya.

Banyak yang mengira kita jualan buku. Malam ini seorang Ibu datang dengan anaknya dan lalu membuka buku. Ibu bertanya “ini di jual?” Kami menjawabnya “Gratis, Bu." lalu si anak bertanya "1354 dibunuh polisi ini maksudnya gimana, Bu?” Si Ibu lalu menjelaskan sekaligus menimpalinya pada kita. Dan kita berdiskusi terkait itu.

Tak lama, seorang Bapak datang memberikan brosur pengobatan alternatif. Pengobatan yang ia tawarkan bukan hanya penyakit fisik, seperti saraf kejepit, ambeien atau mendeteksi penyakit dalam, tapi juga Bapak itu menyediakan pengobatan bagi kesejahteraan holistik seperti membuka aura, mempermudah rezeki, dan lain sebagainya. Hal-hal yang kita dijumpai di sini jelas terjadi begitu saja. Barangkali, sesuatu yang kecil, hampir tak penting, tapi keberadaannya tampak, dan tentu tak dapat ditiadakan bagi kesan yang tidak direncanakan.

Perpustakaan jalanan bukanlah proyek. Kegiatan ini tidak diajukan ke pemerintah daerah, kemendikbud—apalagi dinas kebudayaan. Kehadirannya hanya murni beranjak dari kebosanan, yang kemudian terolah secara sadar menjadi kemungkinan. Bahkan misalnya kita melihat lebih dalam lagi, dari setiap individu dengan motif unik dan khasnya masing-masing, mungkin ada yang karena muak, lelah dengan ruang-ruang peraturan, yang selalu dibersihkan dan dikontrol atas nama baik. Ya, bisa jadi juga ada seseorang yang tak ingin membawa pulang kembali buku-bukunya dan sengaja meninggalkannya di sana. Dengan paling tidak selemah-lemahnya harap, dunia dapat dibaca dengan cara yang berbeda.

Apa yang membedakan perpustakaan jalanan dengan perpustakaan konvensional yang dikelola sponsor? Mudah saja, yaitu ketidakterbacaan. Barangkali perpustakan jalanan dapat juga bebas dari citra. Dengan motif-motif kesukarelaan: tanpa penjaga, maksud baik, mungkin juga tanpa slogan perubahan. Cukupkah motif itu di kemudian hari, dan seterusnya? Justru karena itulah, tanpa ada prolog, penataan dan antisipasi, perpustakaan jalanan dapat menjadi tawaran penciptaan situasi menggulingkan repetisi dari kehidupan — harian dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Di depan sedikit ke kiri gelaran lapak buku itu terdapat Pos Polisi berukuran 4x2,5 meter. Seorang kawan membentangkan senar nylon yang belum digunakan, ia menggantungkan bendera yang bertuliskan “Ambil satu buku Sisakan satu Cerita” di sebelah kiri kanan bendera, juga ikut tergantung buku dan zine kumpulan prosa dan puisi.

Tetapi hal yang paling penting diketahui dalam tulisan ini, bahwa situasi bukanlah sebuah program. Situasi adalah keadaan yang tidak bisa diproduksi ulang. Situasi dalam konteks ini bersifat spontan dan prefiguratif. Tidak mempunyai orientasi sebuah perubahan, apalagi mengubah dunia. Situasi di sini, benar-benar upaya paling tidak dari mengubah hari kita dalam repetisi sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat hari ini. Bayangkan saja, bagaimana caranya ia dapat menyelinap di sela pertarungan hebat kita dengan realitas, yang membosankan, memuakkan, melelahkan, bahkan sampai rela gantung diri—di tengah kondisi itu, dengan penciptaan situasi ini, bahkan kita mampu membajak keteraturan yang tanpa sadar kita akui sebagai hambatan.

Biasanya setelah ini, saat kembali pulang, memeluk keterasingan dan mencumbunya dengan hebat, kita menjadi tersadar akan itu dan tahu bahwa sebelum situasi diciptakan, tidak ada satupun yang kita pahami. Tetapi saat situasi datang, kita tidak lagi menyadari kesendirian, bahkan tidak ada yang menunjukan jalan menuju kesadaran itu. Tapi kita benar-benar ada. Dengan begitu, kemungkinan penciptaan situasi menjadi jalan tak bertuan dan rumah tak berpenghuni yang bisa kita lewati dan tinggali kapan saja. Bukan dengan mengelola atau mengaturnya, tapi cukup membiarkannya untuk tetap ada.

Situasi bisa bermula dari hal-hal seperti dibawah ini:

- Meletakkan buku dan jajanan sekaligus di tempat yang sama. Membuat orang bingung: mana yang harus dikonsumsi terlebih dahulu?

- Menuliskan catatan tangan di sampul buku, bukan sebagai petunjuk, tapi sebagai potongan hidup: “aku menangis sebanyak 27 kali, setelah membaca Laut Bercerita.”

- Membuat rak dari kardus bekas, meletakkan buku klenik di bawah pohon ceri dekat pemakaman. Tanpa tanda apapun.

- Menyalin bagian dari buku ke bungkus gorengan lalu memberikannya ke pelanggan. Kalimat itu akan dimakan bersamaan dengan Bala-bala hangat.

- Membiarkan buku-buku terbuka di bangku-bangku taman kota saat jam sibuk. Membuat orang melangkah hati-hati agar tidak menginjaknya. Dan dari situ, kesadaran pun dilumat pelan-pelan.

Apa yang terjadi kemudian takkan bisa diprediksi. Tidak semua orang akan tertarik dengan kondisi-kondisi—yang—telah diterangkan sebagaimana adanya. Kemungkinan besar, setiap tindakan beresiko untuk diabaikan, bahkan ditertawakan. Meskipun rangkaian setiap situasi tersebut tak dapat kita kontrol, tapi ia tak pernah kehabisan ruang kemungkinan, bahwa sesuatu yang dianggap berada di luar logika konsumsi, situasi tersebut akan terus berpotensi menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dan saat tepat waktunya nanti, barangkali semua orang akan mulai bertanya-bertanya, “apa gunanya?". Tetapi ketahuilah, perbedaan itu begitu buram, dan sulit diprediksikan, dari siapa pertanyaan itu berasal. Perpustakaan jalanan secara kronik dan pertumbuhan ekosistemnya, tentu dapat menemukan celah dari setiap pseudo-kekeliruan—yang ditemukan. Sebagai gerakan afinitas secara spontan dan prefiguratif, perpustakaan jalanan jelas tidak mencatat peristiwa itu, maka sebab itu ia terus hidup. Tapi apakah ia tumbuh? Selagi tidak terlacak dan dibanggakan, tentu ia akan tumbuh mengikuti kondisi, dan situasi yang akan terus tercipta.

Lalu, kemungkinan jelas, terukir di langit sore. Lahir dari buku-buku yang dibaca ketika badai dan petir datang, dimana ketiadaan dan keberadaan saling bertemu. Kita juga menyaksikannya secara nyata, puisi-puisi di pamilet kotor bergerak dan mengeluarkan suara, dari deru mesin pasar dan isak tangis seseorang.

Barangkali kita berupaya menyatakannya, jika tidak ada satupun jawaban yang dapat diharapkan dari perpustakaan jalanan. Anda hanya akan menemukan borok berlumur nanah. Saat anda membersihkannya, dan menunggunya kering, itu hanya akan memperdalam lukanya—semakin dalam, menembus tulang. Mungkin satu-satunya jawaban yang termanifestasikan adalah demikian. Bertemu putih di kedalaman, yang terdalam. Saat kita pulang dari lapakan Tertidur. Terlelap. Terjaga dengan tubuh yang utuh juga hasrat yang penuh dalam menggulingkan repetisi sehari-hari dari masyarakat tontonan.

Sleman, 2025.


Diterbitkan oleh Rise Above Media (2026) dan dimuat dalam Newsletter Rise Above Media (Buletin Ekslusif untuk Bandung Zine Fest 2026). Diunggah oleh Wahono Karyadi ke Perpustakaan Anarkis (Archipelago Anarchist Archive)