Wieke Purnamasari

Ketika Seni Digempur Kepanikan

Ancaman Bom di Pembukaan Pameran (Antara Teror, Gagasan, dan Kekacauan Estetika)

2009

SARASVATI — 7 November 2009

Rubrik: Sorotan Peristiwa

Laporan Khusus: Wieke Purnamasari

Sebuah tas selempang hitam berisi benda mirip bom ditemukan di sebuah galeri seni komersial yang berlokasi di Gedung MICA, hanya beberapa menit sebelum pembukaan pameran seorang pelukis lokal senior, 5 November 2009 lalu. Waktu menunjukkan pukul 18.05 ketika suasana pra-acara yang semula hiruk-pikuk berubah menjadi cemas dan panik.

Staf galeri yang menemukan tas tersebut mengisahkan kembali momen tak terduga itu.

“Saya sedang dikejar waktu, tamu-tamu hampir datang. Lalu saya melihat tas hitam di sudut, saya kira itu tas fotografer. Begitu terdengar suara detikannya, dan fotografer bilang itu bukan tasnya, rasa curiga langsung muncul. Saya teringat peringatan ‘benda mencurigakan’ sejak insiden bom JW Marriott. Tapi tidak pernah terpikir saya akan mengalaminya sendiri… dan bukan di tempat umum, tapi di galeri seni. Saat saya membuka tas dan melihat benda seperti bom itu, saya langsung berteriak.”

Tim Densus 88 yang diterjunkan ke lokasi segera melakukan pemeriksaan. Penyidik Wayan Sukma memastikan bahwa objek tersebut adalah perangkat analog rakitan yang tidak berpotensi menimbulkan korban jiwa.

“Hasil analisa menunjukkan perangkat ini berisi jumlah besar cat enamel hitam dan merah, beserta bahan kimia lain yang dapat bereaksi secara eksplosif. Nampaknya alat ini dibuat untuk memercikkan cat secara dramatis, bukan untuk melukai.”

Dari beberapa barang bukti, polisi kemudian mengidentifikasi pemilik tas sebagai seorang keturunan Tionghoa berinisial LW (diduga nama samaran). Ia diyakini memiliki keterkaitan dengan Front Kebebasan Estetika (FKE), sebuah sel dari organisasi bawah tanah Intervensi Barok Hitam (IBH), organisasi yang terinspirasi dari tulisan-tulisan seorang penulis obskur Indonesia bernama Cumbu Sigil. IBH sejak lama berada dalam radar intelijen dan satuan anti-terorisme.

Tas tersebut juga memuat sejumlah benda pribadi dan bacaan: sebuah buku sketsa, buku catatan, novel Setan karya Dostoevsky, serta majalah independen Antologi Puisi dan Prosa Barok Hitam. Sketsa yang ditemukan di dalam tas berisi gambar-gambar figuratif, sementara buku catatannya dipenuhi komentar kritis terhadap perkembangan seni kontemporer Indonesia. Di dalamnya, LW menuliskan frustrasinya terhadap maraknya seni video dan repetisi gaya Ekspresionisme Abstrak. Salah satu catatan yang paling menonjol berbunyi:

“Setiap kali saya datang ke pembukaan seni yang katanya ‘avant-garde’, atau melihat tetesan-tetesan cat ala Ekspresionisme Abstrak yang telah diulang selama 50 tahun, dengan kerumunan yang selalu sama, saya merasa mual. Coretan grafiti di tembok tetangga saya jauh lebih intens.”

Dalam catatan yang sama, penyidik juga menemukan panduan merakit bahan peledak—diduga diambil dari internet—serta daftar pameran yang hendak disabotase dan daftar seniman yang tidak disukai LW. Beberapa nama telah dicoret, mengindikasikan perubahan rencana atau evaluasi target.

Namun yang paling mengundang tanda tanya adalah, fakta bahwa pameran tempat perangkat mirip bom itu ditemukan tidak termasuk dalam daftar hitam tersebut—baik daftar target sabotase maupun daftar seniman yang FKE sasar. Pameran tersebut justru menampilkan lukisan figuratif karya seorang pelukis sosial-realis senior dari lingkaran LEKRA.

Pertanyaan pun bergulir: apakah ini salah sasaran, pesan simbolik, atau justru tindakan yang didesain untuk membingungkan penyidik? Hingga kini, LW masih dalam pencarian, sementara dunia seni—yang biasa bergulat dengan gagasan dan provokasi—mendadak harus berhadapan dengan bentuk ekstrem dari “intervensi estetika” yang tak pernah dibayangkan.


Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).