Cumbu Sigil
Isu Perihal Puisi dan Penyair Cina
Sebuah Korespondensi
Desember 19
Karibku Bonang,
Aku minggat sukarela dari forum! Jauh-jauh pergi ke ke sana, cuma buang-buang ongkos dan waktuku saja!
Daripada mempertanyakan ke mana puisi kita, lebih baik mempertanyakan ke mana nyali kita. Itu lebih penting! Dan seperti yang sudah kuduga, isinya itu-itu saja. Kau masih ingat Yosi? Aktivis oportunis dari Kendal itu? Si brengsek itu datang juga. Seolah-olah insiden di Padang belum cukup. Bagi orang-orang semacam ini, ingatan, pengalaman, sejarah, tak lebih dari sekedar pedestal. Sayang bagiku, pedestal itu tak berdiri sejajar dengan tiang gantung.
Aku sejujurnya tidak tahu apa yang kuharapkan dari forum itu. Mungkin kali ini, rasa bosan menyalahi akal sehatku.
Baru juga kemarin aku pulang dari Lampung, menemui Reynaldi di rumahnya. Ia dan Maryamah sedang sibuk menyiapkan pameran kita Juli nanti. Pamflet sudah banyak disebar. Sekitar seribu pamflet disebar dan dikoyak di depan Masjid Agung. Agitasi dan interupsi situasionis dilakukan di mana-mana. Termasuk di acara diskusi Meretas Akal Budaya Selasa kemarin di Teater Tertutup (yang sudah kuduga dipenuhi dengan cendol dan preman-preman bayaran). Aku, Reynaldi, Maryamah dan beberapa kawan lain diincar. Kami dihimbau untuk berpencar untuk menghindari kejaran. Reynaldi dan Maryamah bersembunyi ke sekretariat FDM Lampung, yang letaknya sekitar 12 km dari Teater Tertutup. Mereka dijemput oleh salah seorang mahasiswa menggunakan mobil. Sedangkan aku dilarikan ke rumah salah seorang aktivis di Tanjung Karang naik motor. Aku sebenarnya tak keberatan untuk tinggal dan adu jotos dengan preman-preman berseragam itu, tapi sektor Lampung berpikiran lain. Ini kemunduran strategis. Ratusan pamflet disita dan dibakar di tempat. Kabar terakhir, dua orang mahasiswa ditangkap dan diinterogasi, tapi sudah dibebaskan. Melawan otoritas negara dan kritik, resiko semacam ini harus dihadapi. Sektor Lampung mulai bergerak aktif semenjak hilangnya Vito. Memang harusnya begitu. Kita tinggal menunggu kabar dari Surabaya.
Haryanto (Yanto “Picek”) dari Komunitas Warung Pelog dan Ibrahim Mufdi, anggota solidaritas petani Tapos (kita sempat bertemu dengannya sebentar di Jakarta, di rumah Effendi bulan Juni lalu, masih ingat, kan?), sudah mengabariku lewat milinglis sekitar tiga hari yang lalu, mereka punya beberapa laporan mengenai insiden penculikan di Yogya, dan dampaknya pada peluncuran jurnal kita. Yang artinya, kau tetap harus berangkat ke sana minggu depan untuk mengkoordinasi langkah selanjutnya. Kalau akomodasi masalahnya, biar Effendi yang mengurus keberangkatanmu. Aku sudah menelponnya tadi siang.
Kembali ke masalah forum. Aku pulang ke Jakarta dengan catatan baik, semangat dan amarah yang terbaharui. Kalau bukan karena permintaanmu seorang, aku tak akan datang ke forum konyol semacam itu sedari awal. “Siapa tahu bisa membantu menyegarkan dan memantik pikiranmu,” katamu. Aku baru sadar kau menipuku. Gerakan reformasi semestinya juga meliputi gerakan mereformasi wajah dan narasi sumbing para penjaga pintu yang masih mengoceh itu. Semenit lebih lama di dalamnya, aku lebih dari mampu untuk bikin bonyok beberapa wajah panel, buang hajat di tempat, sambil menggoyang-goyangkan pantatku di atas meja. Persetan dengan agitasi dan propaganda. Bilang saja itu performans, aksionisme, atau apa. Toh, seniman punya semacam impunitas—impunitas artistik—setidaknya dalam kasus unik seperti Mapplethorpe di tahun 1989, atau, masih ingat skandal Yepetus (anggota Grup 12) beberapa tahun silam di Forum Dialog Sastra Nusantara? Di hadapan khalayak sipil liberal, mereka (seniman) bisa saja terbebas dari apapun. Beruntung bagi panitia dan panel forum, mulutku keburu pahit. Kecanduanku terhadap nikotin menyelamatkan mereka dari pertunjukan mewahku itu.
Aku juga bertemu seseorang tadi. Ia kenalanku. Barangkali kau juga kenal. Namanya Satrio, mantan kekasih Arum, primadona di kelasmu? Aku tahu karena ia tak henti-hentinya membicarakan hal itu sambil membuat dirinya terlihat bodoh. Aku pertama kali mengenalnya di pameran Biennale Yogyakarta tahun lalu. Kau batal datang karena berbentrokan dengan aksi FAMI di Jakarta kalau aku tidak salah ingat. Ia menghampiriku dan menanyakan apa aku masih mengingatnya. Kita berbicara panjang lebar soal puisi. Ia meminta pendapatku mengenai polemik puisi modern dan kontemporer di Indonesia, terlebih jika dibandingkan dengan polemik di negara Asia lain terutama India, Jepang dan Cina. Kau tahu ketertarikanku dengan sastra India dan Cina, sama halnya denganmu. Kita juga sering berdiskusi tentang itu.
Maka dari itu, ada beberapa poin obrolannya yang ingin kubagi dan kubahas juga denganmu, mengingat ini juga ada kaitannya dengan metode dan proyek artistik kelompok kita di sini:
1.) Satrio bersikeras bahwa zaman keemasan puisi di Cina dimulai pada era post-misty. Aku bilang padanya dengan keras bahwa aku tidak setuju dan ia keliru. Tren Puisi Baru di Cina adalah antitesis dari kejayaan puisi Cina di era Dinasti Tang, yang aku percaya adalah era keemasan puisi Cina. Antitesis. Ini kata kuncinya. Ia hanya timbul sebagai respon perlawanan terhadap gaya bahasa intelektual (kebukuan) dari Dinasti Tang dengan menggunakan “bahasa hambar” (vernakular), tanpa melampauinya dan mengelevasinya ke tingkatan yang lebih tinggi (sintesis). Yang ada justru dekadensi. Banyak dari sastrawan dan pengamat sastra modern Barat seperti Ezra Pound (yang ironisnya adalah pengaruh terbesar dari gaya Puisi Baru, mengingat Puisi Baru bergerak secara paralel dengan tradisi modernisme Barat) juga setuju mengenai hal ini. Mereka beranggapan bahwa Puisi Baru tidak mampu memanfaatkan dengan baik tradisi sastra mereka sendiri.
Ini menimbulkan pertanyaan kritis bagi proses artistik kita di sini sebagai kelompok: bahasa seperti apa yang tepat bagi kelompok kita? Penggunaan bahasa awam (vernakularisme) rentan terhadap vulgarisme, lantas apakah jalan keluarnya hanya dengan menjinjit-jinjit di dalam relasi kuasa bahasa? Dengan merevisi, sekaligus mengadopsi gaya bahasa puitik nan liris tradisi sastra Indonesia? Kita butuh penemuan-penemuan baru!
2.) Satrio berargumen bahwa kelahiran Republik Cina menandakan juga kelahiran baru bagi kebudayaan Cina. Sentimen yang populer, menurutnya, adalah positivisme, yang menolak dengan gencar pandangan metafisik kesusastraan Dinasti Tang. Ini klaim menarik, sekaligus ahistoris. Aku separuh setuju dengannya.
Saat Ezra Pound menerbitkan bukunya yang berjudul Cathay di tahun 1915, yang di dalamnya terdapat beberapa versi sastra (puisi) Cina klasik, para intelektual di Cina justru beramai-ramai memeluk dan mempromosikan filsafat dan budaya Barat. Tahun 1917, saat T. S. Elliot menerbitkan bukunya Prufrock […] di London, Hu Shi kembali ke Cina setelah masa studinya di Amerika dan mengajar di Universitas Beijing. Di tahun itu juga, ia menerbitkan delapan puisi baru menggunakan teknik ‘frasa bebas‘ (aku pernah meminjamkan kumpulan puisi ini kepadamu), untuk memperkenalkan bahasa dan pemikiran baru sambil mengayakan tradisi klasik kesusastraan Cina, yang menandakan awal mula gaya Puisi Baru—bentuk yang blasteran dari awal!
Di sinilah menurutku klaim Satrio agak meleset. Sebab pada mulanya, seperti yang kubilang tadi, Puisi Baru berangkat dari semacam pengawinan antar tradisi. Sastra dan filsafat Cina seperti Konfusianisme dan Taoisme tak pernah sepenuhnya ditinggalkan. Bahkan Ruh-nya berkali-kali dibangkitkan selama keberlangsungan periode modernisme dan kontemporer di Cina. Klaim kegencaran yang Satrio sebut itu terlalu berlebihan.
Walaupun Hu Shi memang bukan penyair terbaik di masanya, ia cukup berpengaruh terhadap perkembangan sastra modern Cina. Koleksi puisi ‘frasa bebas’ nya itu adalah yang pertama di Cina. Ia juga yang bertanggung jawab terhadap terjemahan awal Tagore di Cina, dan yang mendirikan sekolah/sanggar sastra New Moon (yang melahirkan penyair modernis termahsyur seperti Mu Dan) bersama Xu Zhimo. Jadi, agaknya sembrono kalau warisannya sengaja diabaikan. Barangkali Satrio hanya kurang membaca. Atau malas saja.
Ini mengingatkanku pada rapat/diskusi yang terjadi beberapa bulan lalu dengan Air, Didit dan Karin di indekos. Tulisan Air yang lucunya malah “berapi-api” untuk jurnal Ex Novo edisi pertama, Masa Muda dan Tesis Kebudayaan Lima Jurus memvisualkan pandangan yang ketar-ketir terhadap perubahan zaman. Aku ingat kau mengkritik Air dengan analogi sempurna, bahwa peran penyair bukan hanya sebagai pembobol gawang, tapi sekaligus penjaga gawang. Karin menangkap analogimu mentah-mentah, dan menganggap dirimu ultras. Tapi aku mengerti maksudmu.
Pembaharuan memang problematis. Kita butuh kosakata yang lebih banyak dan tepat. Apakah pembaharuan artinya dekonstruksi tanpa menghiraukan pencapaian-pencapaian (pemikiran dan estetika) dari generasi terdahulu? Ambil contohnya gaya simbolisme Angkatan ’45 dan gaya realisme-sosial Lekra. Terlepas dari polemik sengit seputar estetika dan politik yang meliputinya, generasi-generasi tersebut menghasilkan suatu pencapaian. Lantas pembaharuan seperti apa yang sebenarnya kita yakini? Apa sebenarnya makna dari pembaharuan itu sendiri dewasa ini? Kita tetap harus menanggapi dengan kritis sentimen avant-gardis semacam ini, tanpa harus terjatuh pada revisionisme budaya tentunya. Bagaimana pendapatmu?
3.) Satrio mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap gaya puitik propagandis. Menurutnya, gaya tersebut tidak berselera. Slogan bukanlah puisi. Aku mesti setuju dengannya.
[...]
(Lanjutan transkrip surat ini masih dalam proses pengetikan ulang.)