Tentang Perpustakaan Anarkis
Ucapan Terima Kasih:
Terima kasih kepada Marco (Anarchist Libraries Network), tanpa bantuannya proyek Perpustakaan Anarkis (id.anarchistlibraries.net) tidak akan pernah terwujud.
Kontak:
Perpustakaan Anarkis?
1. Apa dan Bagaimana Perpustakaan Anarkis Itu?
Perpustakaan Anarkis adalah proyek pengarsipan sekaligus pendistribusian materi-materi anti-otoritarian berbasis teks polos (plain text). Teks polos dipilih, karena dapat memudahkan penulis dan penerjemah untuk mendistribusikan karyanya, memudahkan penerbit untuk mereproduksinya, dan memudahkan pihak-pihak yang ingin mengarsipkannya[1]. Perpustakaan Anarkis memahami anti-otoritarianisme secara luwes, meski bukan berarti tak terbatas. Karenanya, dapat dikatakan: Perpustakaan Anarkis menerima dan memasukkan baik itu materi-materi anarkisme (dari segala kecenderungan, kecuali anarko-kapitalisme dan anarko-nasionalisme), maupun materi-materi yang dapat memperkaya anarkisme seperti avant-garde(isme) yang tidak hanya menentang batasan seni tetapi juga negara dan kekuasaan tersentral, marxisme-libertarian, otonomisme, konfederalisme demokratis, dan seterusnya. Selain itu, Perpustakaan Anarkis juga menerima dan memasukkan materi-materi reportase dari garis depan (konfrontasi) maupun garis belakang (perawatan) titik-titik api perjuangan dan perlawanan warga, pemogokan buruh, dan lain-lain.
2. Mengapa Perpustakaan Anarkis dan Tidak Tetap di Southeast Asian Anarchist Library?
Karena dalam anarkisme, desentralisasi dan prefigurasi itu penting. Dan dengan mempraktikkan desentralisasi dan prefigurasi, kami (dan kita) tidak perlu lagi menunggu untuk bertindak dan terlalu bergantung pada satu titik sentral.
3. Kepada Siapa Perpustakaan Anarkis TIDAK Ditujukan?
Selain kepada anarko-kapitalisme dan anarko-nasionalisme, Perpustakaan Anarkis juga tidak ditujukan kepada para marxis-otoriter, individu misantropis, teknologiisme yang mengekstraksi (otomatisasi yang mensubordinasi), avant-garde(isme) yang mengarah pada fasisme, dan kecenderungan otoriter serta kekuasaan tersentral lainnya.
[1] Penulis dan penerjemah dapat mendistribusikan karya-karyanya tanpa perlu repot-repot melakukan penataan letak, penyuntingan, merancang sampul, dan kerja-kerja teknis lainnya. Sebaliknya, para penerbit tidak lagi perlu bersusah payah mengurusi penulisan dan penerjemahan karya. Dan para pengarsip—selain menjadi lebih mudah dalam mengarsipkan—akan menerima beragam versi dari karya tersebut.