Ditulis oleh Cumbu Sigil di Jakarta pada tahun 1987, “Matahari Di Balik Bukit Partisan” sempat menjadi buah bibir dan menjadi semacam cult di kalangan intelektual dan aktivisme mahasiswa era Orde Baru, meskipun Cumbu sendiri berkali-kali menolak kenyataan tersebut dan tetap mengakui dirinya sebagai seorang anti-intelektual. Buku ini diarsipkan oleh Komite Hitam, lalu diterbitkan dan didistribusikan ulang oleh Nyorangan Books pada tahun 2025. Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).
Cumbu Sigil
Matahari di Balik Bukit Partisan
Sebuah Anti-Novel
Pembuka
[...]
Catatan: Potongan ini belum ditemukan. Yang tersisa hanya wawancara Cumbu Sigil dengan Komite Hitam, di mana pertanyaan Komite Hitam berhasil memancing Cumbu Sigil untuk menceritakan konteks penulisan bagian ini. Silakan dilengkapi jika ada yang menemukan.
Komite Hitam: Dalam pembuka novel pseudo-otobiografi Anda “Matahari di Balik Bukit Partisan”, Anda memberi hormat yang dalam kepada seorang Guntur Iskandar. Siapa dia sebenarnya?
Cumbu Sigil: Saya jadi ketua organisasi protes mahasiswa di Fakultas Sastra UI dulu. Saya sempat mengundang Thukul untuk baca puisi di aksi yang saya inisiasi. Saya punya pemahaman terhadap sejarah taktik guerilla dan satu-satunya yang pernah membaca Kapital dan Massa Actie, sedangkan Bonang jadi koordinator aksi karena dia lebih pandai berkelahi. Dulu saya Marxis-Leninis tulen. Di kepala saya cuma ada revolusi, atau mati. Belum ada itu hasrat dan komitmen lebih untuk puisi. Satu hari, sekitar tahun 1984, saya dapat kabar dari kawan saya. Katanya saya diundang untuk jadi pembicara diskusi di Bogor. Yang mengundang namanya Guntur Iskandar selaku pelaksana. Keturunan Cina, tapi asli Bogor. Dia alumni IPB, cerdas orangnya. Awalnya saya curiga, apa urusannya alumni mahasiswa pertanian mengundang saya? Jangan-jangan cuma akal-akalan plokis (intel)? Baru setelahnya saya ketahui dia aktivis Maois. Dia ingin menjadi pelopor gerakan revolusi agrikultural di Indonesia, katanya. Saya pikir, ini orang Cina ajaib.
Saya ketemu Guntur di Taman Kencana, sambil minum bajigur. Orangnya gemuk, tapi tinggi tegap dan karismatik. Lebih tua tiga atau empat tahun dari saya. Kacamata hitamnya dia gantung di sisi kantung celananya. Rambutnya lurus, dia biarkan tumbuh sebahu. Kita diskusi tentang banyak hal sampai malam, lalu kita pindah ke La Citra sambil menonton live music. Dia pengagum Charlie Parker dan Billie Holiday. Musik jazz menurutnya adalah bentuk musik yang paling komunal, santapan melankolik untuk para pencinta. Gaya bicaranya seperti sedang merayu saya. Tapi saya sadar dia cuma meniru Cortazar. Saya bilang saya pengagum Steely Dan dan Al Stewart. Dia terlihat kecewa, di matanya selera musik saya borjuis. Saya setuju untuk tidak setuju. Perbincangan lalu berubah jadi otokritik. Lalu dia menanyakan apa saya juga menulis puisi. Saya bilang sedikit-sedikit. Dia bilang jangan sedikit-sedikit. Apa urusanmu, saya bilang. Dia bilang puisi berpengaruh, seni itu sendiri berpengaruh, agar revolusi bisa berjalan. Bukan hal yang tidak saya ketahui. Dia pikir saya lebih bodoh darinya. Tapi bicaranya meyakinkan, seperti seorang salesman bintang empat. Dia juga yang mengenalkan saya pertama kali dengan penyair-penyair menglong. Semenjak itu saya mulai mendedikasikan waktu saya untuk menulis puisi, dan mendengarkan lebih banyak jazz.
Komite Hitam: Apa Anda masih berhubungan dengannya sampai sekarang?
Cumbu Sigil: Dia sekarang tinggal di Singapura. Jadi konglomerat asuransi. Omong-omong kenapa Anda begitu tertarik?[1]
***
Matahari di Balik Bukit Partisan
1
Asbak kaleng bekas biskuit Khong Guan ini sudah penuh lagi. Puntung-puntung kretek yang mati di dalamnya tampak seperti fosil dari jam-jam yang telah berlalu tanpa arti. Di luar, Jakarta mendidih di bawah matahari sore, aspal jalanan menguarkan bau lelehan yang samar. Suara knalpot PPD yang disiksa dan lolongan klakson yang tak sabar merembes masuk melalui celah-celah jendela kayu yang memuai karena panas. Di kamar ini, udaranya terasa padat, seperti terperangkap dalam paru-paru seorang perokok tua.
Mesin tik Remington di hadapanku terasa dingin saat kusentuh. Benda mati yang lebih hidup dari kebanyakan orang yang kutemui selama ini. Ia tidak pernah menuntut, tidak pernah menghakimi. Ia hanya menerima apa pun yang kuberikan padanya: keraguan, amarah, atau keheningan yang panjang di antara dua ketukan.
Pintu diketuk. Aku diam. Biasanya, jika diabaikan, suara itu akan pergi. Tapi ketukan ini berulang, lebih tegas. Seperti ketukan petugas sensus atau penagih utang. Dengan geraman dan rasa malas, aku bangkit dan membuka pintu.
Seorang anak muda. Wajahnya bersih, matanya menyiratkan kesungguhan yang membuatku ingin menertawainya. Ia menyodorkan selebaran yang dicetak stensilan, tintanya sedikit meluber.
"Sore, Bung," sapanya. "Kami dari lingkaran diskusi. Kami membaca tulisan-tulisan Anda. Kami pikir..."
Aku tidak mendengarkan sisa kalimatnya. Aku hanya menatap matanya. Mata yang sama yang kulihat pada puluhan anak muda lainnya. Mata yang telah menemukan sebuah “Kebenaran” dan ingin membagikannya seperti membagi-bagikan permen gratis. Mereka menemukan sebuah peta, dan mereka pikir semua orang tersesat.
"[...] dan kami ingin mengundang Bung untuk berbagi pandangan."
Aku mengambil selebaran dari tangannya. Gambar siluet seorang petani dengan cangkul terangkat, di bawahnya tertulis slogan tentang tanah dan perjuangan. Klise. Aku melipat kertas itu, menjadikannya seukuran bungkus rokok, lalu memasukkannya ke sakuku.
"Dapurmu masih mengepul?" tanyaku.
Ia tampak bingung. "Maksud, Bung?"
"Kau masih bisa makan tiga kali sehari?"
"Ya, tentu, tapi apa hubungannya..."
"Kalau begitu, kau tidak punya masalah," kataku, lalu menutup pintu pelan-pelan, tepat di depan wajahnya yang kebingungan.
Aku kembali ke mejaku. Aku tidak merasa menang, tidak juga merasa benar. Aku hanya merasa lelah. Lelah dengan semua orang yang ingin menyelamatkan dunia, padahal mereka bahkan tidak tahu cara menyelamatkan diri dari kebosanan mereka sendiri.
Aku menyalakan sebatang Gudang Garam, membiarkan asapnya yang berat memenuhi ruangan. Ingatan tentang Darman muncul begitu saja, seperti tamu tak diundang lainnya, tapi yang satu ini selalu kubiarkan masuk.
Kami pernah duduk di atap sebuah gedung bioskop tua di Senen, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti kunang-kunang buatan. Darman sedang mabuk, seperti biasa. Ia menunjuk ke arah gedung departemen Sarinah yang gemerlapan di kejauhan.
"Lihat itu," katanya. "Sebuah kuil. Orang-orang masuk ke sana, membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan, untuk membuat orangorang yang tidak mereka sukai terkesan. Mereka menyebutnya gaya hidup."
Ia tertawa, tawa serak yang khas. "Mereka semua mencari sesuatu untuk diimani. Ada yang mengimani gedung itu, ada yang mengimani buku-buku tebal, ada yang mengimani janji-janji di surat suara. Semuanya sama saja. Semuanya adalah cara untuk lari dari keheningan di kepala mereka sendiri."
Ia menoleh padaku. "Kau tahu apa yang kuimani, Cuk?"
Ia mengambil botol anggur kosong di sampingnya, lalu dengan sekuat tenaga melemparkannya ke bawah. Botol itu pecah di jalanan yang sepi, suaranya terdengar seperti tepuk tangan tunggal di tengah malam.
"Aku mengimani suara itu," katanya. "Suara sesuatu yang pecah. Itu satu-satunya hal yang jujur di kota ini."
Asap rokokku sudah hampir habis. Aku mematikannya di asbak yang penuh sesak. Aku menatap kertas kosong yang terpasang di mesin tikku. Aku tidak akan menulis tentang anak muda tadi. Ia tidak menarik. Ia hanyalah gema dari suara-suara lain.
Aku akan menulis tentang suara botol yang pecah. Tentang keindahan sesaat dari sesuatu yang hancur. Sebuah kebenaran kecil yang tidak mencoba menyelamatkan siapa pun. Sebuah kebenaran yang cukup untukku sendiri.
2
Beberapa hari aku membiarkan ingatan tentang anak muda itu membusuk, menjadi satu dengan tumpukan sampah lain di kepalaku. Aku mencoba bekerja. “Bekerja” dalam kasusku adalah menerjemahkan brosur-brosur teknis dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia untuk sebuah perusahaan impor. Mesin fotokopi, pendingin ruangan, pompa air. Kata-kata yang tidak memiliki jiwa, tidak memiliki gairah. Tapi mereka membayarku cukup untuk membeli rokok, kopi, dan yang terpenting: waktu. Waktu untuk duduk sendirian di kamar ini.
Suatu sore, saat sedang bergulat dengan manual pompa sentrifugal, aku merasa muak. Katakata itu terasa seperti pasir di mulutku. Aku mendorong kursiku ke belakang, menyambar jaket jinku, dan berjalan keluar tanpa tujuan yang tidak jelas.
Tujuanku yang tidak jelas ini berakhir di Blok M. Bukan karena ada sesuatu yang ingin kucari di sana, tapi justru karena di sana tidak ada apa-apa untukku. Blok M di tahun 1987 ini merupakan sebuah panggung besar tempat sebuah generasi memainkan drama konsumsi mereka. Aku berjalan melewati Aldiron Plaza, menatap eskalator yang bergerak naik-turun membawa orang-orang dengan tatapan kosong. Mereka mengenakan apa yang diperintahkan oleh majalah-majalah, mendengarkan apa yang diputar di radio, dan menertawakan lelucon-lelucon yang sama dari film-film Warkop.
Aku masuk ke sebuah toko kaset. Dindingnya dipenuhi oleh wajah-wajah tersenyum dari para penyanyi pop yang menjual mimpi-mimpi manis. Aku mengabaikan mereka, berjalan langsung ke rak yang berdebu di pojok, tempat kaset-kaset impor bekas teronggok seperti anak-anak yatim piatu. Tanganku bergerak di antara sampul-sampul kaset itu, merasakan tekstur plastiknya yang usang. Isinya musik-musik keras dari Barat. Musik untuk orang-orang yang merasa nyaman dalam ketidaknyamanan. Musik untuk orang-orang yang tahu bahwa pesta ini akan segera berakhir.
"Cari apa, Mas?" Suara seorang perempuan mengejutkanku.
Aku menoleh. Ia adalah penjaga toko itu. Wajahnya tidak seperti wajah-wajah lain di Blok M. Wajah yang tenang, yang seolah telah melihat semuanya dan tidak lagi terkesan oleh apa pun.
"Hanya melihat," jawabku.
Ia tersenyum tipis. "Orang yang “'hanya melihat' biasanya mencari sesuatu yang tidak ada."
Aku mengambil sebuah kaset secara acak. "Kau suka ini?" tanyaku.
"Morrissey terlalu banyak mengeluh," jawabnya. "Tapi setidaknya ia mengeluh dengan indah."
Percakapan yang aneh dan tak terduga di tengah lautan kepalsuan. Kami akhirnya tidak bicara lagi tentang musik. Kami bicara tentang betapa anehnya bentuk awan sore itu, tentang rasa es teh di kantin sebelah yang semakin hari semakin hambar, tentang seorang pengamen di bawah jembatan yang memainkan biolanya dengan mata terpejam. Percakapan tentang hal-hal kecil yang tidak penting, dan karena itu, terasa sangat penting.
Kami berjalan keluar dari toko itu bersamaan, kebetulan tokonya hendak tutup. Matahari sudah mulai turun, mewarnai langit Jakarta yang penuh polusi dengan warna oranye dan ungu yang sureal.
"Kau tahu," kata perempuan itu sambil kami berdiri di trotoar yang ramai. "Kadang aku merasa kota ini adalah sebuah akuarium raksasa. Kita semua ikan-ikan yang berenang dalam lingkaran, berpikir kita akan pergi ke suatu tempat, padahal kita hanya menabrak dinding kaca yang sama berulang-ulang."
Aku teringat Darman. Ia akan menyukai metafora itu. Ia akan menambahkan, "Dan beberapa dari kita mencoba melompat keluar, hanya untuk mendarat di lantai dan mati kehabisan napas. Mungkin, satu-satunya kemenangan adalah dengan menyadari bahwa kau berada di dalam akuarium, lalu berhenti mencoba berenang ke mana-mana. Cukup nikmati saja airnya yang keruh dan pemandangan ikan-ikan lain yang kebingungan."
Aku tidak mengatakan itu padanya. Aku hanya mengangguk.
"Aku harus pulang," katanya. Ia berjalan menjauh, lalu hilang di tengah kerumunan.
Aku berdiri di sana beberapa saat. Aku tidak mendapatkan namanya. Aku tidak mendapatkan nomor teleponnya. Aku tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sebuah percakapan singkat yang terasa seperti sebuah lubang angin di tengah hari yang pengap.
Aku berjalan pulang. Aku tidak lagi memikirkan manual pompa sentrifugal. Aku memikirkan tentang ikan-ikan di dalam akuarium. Aku memikirkan tentang suara biola seorang pengamen dengan mata terpejam. Malam itu, aku tidak menulis apa-apa. Aku hanya duduk dalam gelap, mendengarkan suara kota. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara itu tidak terdengar seperti sebuah ancaman. Ia terdengar seperti sebuah lagu pengantar tidur yang sumbang.
3
Kopi pagi ini terasa seperti lumpur. Ampasnya mengendap di dasar gelas, pahit dan tebal. Aku menatap keluar jendela, ke arah gang becek di mana seekor kucing kurap sedang menjilati bulunya yang kusut. Pagi datang tanpa permisi, tanpa janji, hanya pengulangan dari hari kemarin.
Aku tidak jadi pergi ke tempat anak muda itu, Bima. Aku merasa tidak perlu. Aku sudah pernah berada di ribuan ruangan seperti itu dalam kepalaku. Ruangan yang pengap oleh asap kretek dan keseriusan yang dipaksakan. Dindingnya ditempeli poster-poster para martir yang wajahnya dipuja, tapi ajarannya disederhanakan menjadi slogan-slogan mati. Di lantai, buku-buku fotokopian yang dilarang—Pramoedya, Tan Malaka, Lenin—tergeletak seperti kitab suci. Mereka duduk melingkar, bukan untuk berdiskusi, tapi untuk melakukan ritual pengukuhan. Mereka saling mengutip, saling mengangguk, saling meyakinkan bahwa mereka berada di sisi sejarah yang benar. Ruang gema tempat para calon penyelamat dunia saling menyuntikkan keyakinan agar tidak roboh di hadapan kebosanan mereka sendiri.
Aku pernah menjadi salah satu dari mereka. Dulu sekali. Sebelum aku bertemu Darman.
Ingatan itu datang lagi, kali ini lebih jelas. Bukan di atap gedung bioskop, tapi di sebuah lereng bukit di luar kota. Kami menamainya Bukit Partisan, sebuah lelucon pribadi, karena satu-satunya perang yang kami lakukan di sana adalah perang melawan nyamuk dan nyanyian-nyanyian sumbang kami sendiri yang diiringi gitar butut.
Malam itu, setelah seharian berdebat tentang strategi pengorganisasian buruh—sebuah debat yang absurd karena tak satu pun dari kami pernah benar-benar bicara dengan seorang buruh—semua orang tampak lelah dan frustrasi. Tapi Darman justru mengeluarkan sebotol tuak dari tasnya.
“Waktunya rapat dewan jenderal,” katanya sambil membuka tutup botol dan cengengesan.
Ia menuangkan sedikit ke tanah. “Untuk arwah-arwah yang kita bicarakan seharian,”
gumamnya. “Marx, Lenin, dan tokoh-tokoh menyebalkan lainnya.” Lalu ia menenggak isinya langsung dari botol.
“Kita ini lucu ya,” katanya sambil menyodorkan botol itu padaku. Aku menerimanya. Minuman itu membakar tenggorokanku. “Kita duduk di sini, di atas bukit, bicara tentang revolusi di pabrik-pabrik. Kita menggambar peta pertempuran, padahal kita bahkan tidak tahu di mana letak toilet umum di terminal."
“Ini proses, Man. Membangun kesadaran teoretis,” sahut salah satu dari kami, namanya aku sudah lupa.
Darman tertawa. “Teori itu seperti majalah porno. Gambarnya bagus, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan tubuh asli. Kalian terlalu sibuk membaca majalah sampai lupa caranya menyentuh daging yang asli.”
Ia bangkit, berjalan ke tepi jurang, dan menatap ke bawah, ke lampu-lampu desa yang berkelip di kejauhan. “Di bawah sana,” katanya, “ada orang-orang yang sedang bercinta, bertengkar karena uang belanja, menidurkan bayi mereka yang menangis. Kehidupan mereka nyata. Masalah mereka nyata. Sementara kita di sini, di atas bukit, kita hanya bicara tentang hantu-hantu. Hantu bernama proletariat, hantu bernama kapitalisme, hantu bernama revolusi.”
Ia berbalik menghadap kami. Di bawah cahaya bulan, matanya tampak liar. “Persetan dengan revolusi. Aku tidak mau menunggu dunia berubah. Aku mau duniaku berubah sekarang juga.”
Ia mengangkat botol tuak yang isinya tinggal seperempat itu tinggi-tinggi. “Untuk satu-satunya hal yang nyata malam ini!” teriaknya. “Untuk minuman keras murahan ini dan untuk bukit sialan ini!”
Lalu ia mulai menari. Tarian yang aneh, canggung, tanpa irama. Ia menari sendirian di tepi jurang, di bawah tatapan kami yang kebingungan. Itu adalah tarian paling jujur yang pernah kulihat. Tarian seseorang yang telah berhenti mencari jawaban dan memutuskan untuk menjadi jawabannya sendiri.
Aku tersadar dari lamunanku oleh suara tukang roti yang lewat di depan gang, membunyikan klaksonnya yang khas. Pagi telah beranjak siang. Kopi di gelasku sudah dingin.
Aku menatap mesin tikku. Aku tidak akan menulis tentang "kesadaran teoretis" atau "strategi pengorganisasian buruh". Aku akan menulis tentang tarian Darman di tepi jurang. Tentang keindahan yang putus asa dari seseorang yang menari untuk dirinya sendiri, saat semua orang lain sedang sibuk menunggu datangnya fajar.
4
Aku bertemu gadis yang menjaga toko musik itu secara tidak sengaja. Atau mungkin tidak ada yang namanya kebetulan, hanya ada dua orang yang berjalan di jalur yang sama tanpa menyadarinya. Aku sedang di Pasar Senen, bukan untuk mencari buku—aku sedang tidak punya uang—tapi untuk mencari wajah. Wajah-wajah yang belum dipoles oleh iklan televisi, wajah-wajah yang digurat oleh matahari dan kekecewaan. Pasar Senen adalah museum wajah-wajah seperti itu.
Ia sedang jongkok di depan tumpukan piringan hitam bekas, jemarinya yang ramping bergerak pelan di antara sampul-sampul yang sobek dan berdebu. Ia mengenakan kemeja kebesaran yang warnanya entah apa, mungkin dulu putih, dan rambutnya diikat asal-asalan dengan sebatang pensil. Ia tampak seperti sebuah pulau kecil yang tenang di tengah lautan manusia yang riuh.
Ia mendongak, merasakan kehadiranku, lalu tersenyum tipis. "Mencari kitab suci?" sindirnya, merujuk pada para mahasiswa yang sering berburu buku-buku kiri di tempat ini.
"Kitab suci ada di tempat lain," jawabku, menunjuk ke arah terminal bus yang bising. "Di dalam dompet-dompet tipis para penumpang."
Kami berjalan menjauh dari pasar, tanpa tujuan, seperti dua potong sampah yang terhanyut oleh arus kota. Perempuan itu bercerita bahwa ia baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai penjaga toko sekaligus sebagai ilustrator di sebuah majalah wanita.
"Mereka memintaku menggambar perempuan dengan senyum yang sempurna, kulit yang sempurna, dan kehidupan yang sempurna," katanya sambil menendang sebuah kaleng kosong. "Aku mencoba menggambar perempuan dengan lingkaran hitam di bawah mata karena kurang tidur, dengan bekas luka kecil di dagunya, dengan senyum yang sedikit miring dan lelah. Mereka menolaknya. Katanya itu tidak menjual mimpi."
"Mimpi adalah bisnis yang paling menguntungkan," kataku. "Dan juga yang paling kejam."
Kami berakhir di Stasiun Gambir. Kami duduk di salah satu bangku peron yang kosong, menatap papan jadwal kereta yang terus berputar, menampilkan nama-nama kota yang terdengar seperti janji petualangan. Bandung, Yogyakarta, Surbaya. Dari sini pula aku baru mengetahui namanya: Seruni.
"Kau pernah berpikir untuk pergi?" tanya Seruni, matanya menatap papan jadwal itu. "Setiap hari," jawabku. "Tapi kemudian aku sadar, aku hanya akan membawa penjaraku bersamaku. Di mana pun aku berada, aku akan tetap terjebak di dalam kepalaku sendiri."
"Mungkin penjara itu bukan untuk ditinggalkan," katanya pelan. "Mungkin ia hanya perlu dihias ulang. Diberi jendela baru. Dicat dengan warna yang berbeda."
Aku teringat Darman lagi. Ia tidak pernah bicara tentang pergi. Baginya, melarikan diri adalah bentuk kekalahan yang lain. "Kenapa harus pergi?" katanya suatu kali. "Semua yang kubutuhkan ada di sini. Kekacauan, kemunafikan, keindahan yang tak disengaja. Kota ini adalah sirkus terbaik di dunia, dan aku punya tiket barisan paling depan."
Seruni mengeluarkan sesuatu dari tas kainnya. Sebuah buku sketsa kecil dan sebatang arang. Ia tidak menggambar kereta api atau orang-orang yang lalu lalang. Ia mulai menggambar tanganku yang sedang memegang sebatang rokok yang belum kunyalakan. Gerakannya cepat, pasti, tanpa keraguan. Ia tidak sedang mencoba membuat sebuah "karya seni". Ia hanya sedang merekam sebuah momen. Menjadikannya miliknya.
"Tanganmu terlihat lelah," katanya tanpa menatapku.
"Ia memang lelah," jawabku.
Di peron seberang, sebuah kereta api mulai bergerak pelan, badannya yang panjang dan terbuat dari logam mendesah saat meninggalkan stasiun. Orang-orang melambaikan tangan dari jendela. Wajah-wajah yang penuh harapan dan kesedihan.
Seruni terus menggambar. Ia tidak peduli pada drama perpisahan di seberang sana. Dunianya, saat itu, hanya sebesar buku sketsanya, tanganku, dan sebatang rokok yang belum terbakar. Ia telah menghias ulang penjaranya. Ia telah melubangi dindingnya dan menciptakan jendelanya sendiri, di sini, saat ini.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya duduk di sana, membiarkan tanganku menjadi objeknya. Untuk sesaat, aku merasa seperti bagian dari lukisannya. Bukan sebagai diriku sendiri, tapi sebagai sebuah bentuk, sebuah garis, sebuah bayangan. Dan entah kenapa, perasaan menjadi objek, menjadi properti dalam dunia kecilnya, terasa lebih membebaskan daripada semua ilusi kebebasan yang pernah coba kujalani.
5
Kami mulai sering bertemu. Bukan karena janji, tapi karena semacam gravitasi aneh yang menarik kami ke tempat-tempat yang sama. Toko buku bekas, peron stasiun, warung kopi yang tersembunyi di gang-gang sempit. Kami adalah dua detektif yang menyelidiki kejahatan yang sama: kejahatan bernama kehidupan sehari-hari.
Percakapan kami jarang menyentuh hal-hal besar. Kami tidak bicara tentang politik, kami tidak bicara tentang masa depan. Kami bicara tentang hal-hal yang bisa kami sentuh, kami cium, kami rasakan. Tentang bagaimana kopi di warung A terasa lebih pekat daripada kopi di warung B. Tentang bagaimana cahaya matahari sore yang menembus dedaunan menciptakan pola yang aneh di atas trotoar. Tentang seorang anak kecil yang menangis karena balonnya lepas, sebuah drama kecil yang terasa lebih tragis dan nyata daripada semua berita utama di koran pagi.
Suatu hari, ia membawaku ke tempatnya. Sebuah kamar kos di lantai dua sebuah rumah tua di daerah Cikini, tidak jauh lebih besar dari kamarku. Tapi kamarnya terasa berbeda. Dindingnya tidak kosong. Dipenuhi oleh sketsa-sketsa arang yang ia tempel dengan selotip: wajah-wajah orang yang ia temui di jalan, potret seekor kucing yang sedang tidur, gambar sebuah cangkir retak. Kamarnya adalah sebuah arsip dari momen-momen yang telah ia curi dari waktu.
"Ini museumku," katanya sambil menyeduh teh di sebuah teko listrik kecil. "Koleksinya tidak berharga bagi siapa pun, kecuali aku."
Aku melihat sebuah lukisan cat minyak kecil di sudut, bersandar di dinding. Lukisan yang berbeda dari sketsa-sketsanya. Warnanya lebih gelap, lebih kelam. Gambar sebuah bianglala di pasar malam, tapi lampunya padam dan kursi-kursinya kosong. Terkesan menyeramkan, seperti kerangka seekor binatang purba yang terlupakan.
"Pasar malam seharusnya menyenangkan," kataku.
"Hanya saat sebelum dibuka dan setelah ditutup," jawabnya, menyerahkan secangkir teh panas padaku. "Saat semua lampu dimatikan dan para penjual mimpi itu pulang untuk menghitung uang mereka, saat itulah ia menunjukkan wajahnya yang asli. Sebuah mesin raksasa yang kesepian."
Aku teringat Darman. Ia benci pasar malam. "Tempat paling menyedihkan di dunia," katanya. "Orang-orang datang ke sana, membayar untuk diteriak-teriaki, diputar-putar sampai pusing, lalu pulang dengan membawa boneka jelek yang akan mereka buang minggu depan. Mereka menyebutnya hiburan."
Aku duduk di lantai kamarnya, menyeruput teh, dikelilingi oleh arsip dunianya. Untuk pertama kalinya, aku berada di dalam sebuah "ruang diskusi" yang tidak membuatku ingin melarikan diri. Di sini tidak ada slogan, tidak ada dogma. Yang ada hanya tatapan mata dari wajah-wajah di dinding dan keheningan yang nyaman di antara kami.
Seruni memutar sebuah kaset dari pemutar kaset bututnya. Sebuah musik yang aneh, tanpa lirik, hanya dentingan piano yang kadang terdengar merdu, kadang terdengar sumbang, seolah-olah sedang dimainkan oleh seseorang yang sedang ragu-ragu.
"Siapa ini?" tanyaku.
"Aku tidak tahu," jawabnya. "Aku menemukannya di tumpukan kaset obral. Tidak ada nama penyanyi, tidak ada judul lagu. Aku menyebutnya Musik untuk Kamar yang Kosong."
Kami duduk di sana, mendengarkan musik tanpa nama itu. Teh di tanganku mulai dingin. Di luar, suara azan magrib berkumandang, memanggil orang-orang untuk kembali ke iman mereka. Di dalam kamar ini, kami memiliki iman kami sendiri. Iman pada hal-hal yang tak bernama, tak berharga, dan tak bertujuan. Iman pada secangkir teh, pada sketsa arang, pada musik tanpa judul.
Saat aku hendak pamit, Seruni menahan lenganku sejenak. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil buku sketsanya, menyobek satu halaman—gambar tanganku yang sedang memegang rokok dari hari itu di stasiun—lalu memberikannya padaku.
Aku menerima kertas itu. Sebuah properti telah berpindah tangan. Sebuah momen yang telah ia curi, kini ia berikan padaku.
Aku berjalan pulang di bawah langit malam yang mulai gelap. Kertas di sakuku terasa hangat. Aku tidak akan menempelnya di dinding kamarku. Aku akan menyimpannya di antara halaman-halaman sebuah buku tebal yang tak pernah selesai kubaca. Ia akan menjadi penanda. Bukan penanda halaman, tapi penanda bahwa di tengah lautan keasingan ini, ada pulau lain yang pernah kusentuh. Dan itu, untuk malam ini, sudah lebih dari cukup.
6
Sketsa dari Seruni itu tergeletak di mejaku, di samping asbak yang penuh. Selembar kertas yang disobek dari buku, tapi terasa lebih berat dari semua buku tebal yang menopang mejaku yang reyot. Gambar tanganku. Garis-garis arang yang menangkap urat nadi yang menonjol, buku-buku jari yang sedikit kasar, cara jempol dan telunjukku menjepit sebatang rokok. Seruni tidak menggambar wajahku. Ia menggambar salah satu perkakasku, alat yang kugunakan untuk merasakan dunia—untuk memegang gelas kopi, untuk menekan tombol mesin tik, untuk mematikan puntung rokok. Ia telah mengambil sepotong diriku, menjadikannya miliknya, lalu mengembalikannya padaku dalam bentuk yang baru. Transaksi yang aneh.
Aku menatap gambar itu lama. Ini bukan “Seni”. Seni adalah kata yang digunakan oleh para kurator dan kritikus untuk menjual barang dagangan mereka di galeri-galeri yang dingin. Seni butuh bingkai, butuh dinding putih, butuh judul dan penjelasan. Gambar ini tidak butuh apa-apa. Ia adalah dirinya sendiri. Sebuah catatan cuaca dari satu sore di peron stasiun. Sebuah fosil dari sebuah momen.
Di luar, dari radio tetangga, terdengar suara seorang pejabat berpidato. Suaranya monoton, penuh dengan kata-kata yang telah kehilangan artinya karena terlalu sering diulang: pembangunan, stabilitas, persatuan, kesatuan. Kata-kata yang terdengar seperti dengung serangga, latar belakang yang tak terhindarkan dari kehidupan di negeri ini. Ia berbicara tentang bangsa dan negara, dua entitas gaib yang menuntut kesetiaan dan pengorbanan dari daging dan darah yang nyata.
Aku kembali menatap gambar di mejaku. Gambar tanganku. Ini lebih nyata dari semua pidato itu.
Aku teringat Darman lagi, tentu saja. Bagaimana mungkin tidak? Kami pernah duduk di sebuah warung di pelabuhan Tanjung Priok, dikelilingi oleh para kuli angkut yang sedang beristirahat. Darman memesan dua botol bir dan membaginya dengan seorang kuli yang duduk di sebelah kami, seorang lelaki tua dengan wajah yang keras seperti batu karang. Mereka tidak banyak bicara. Mereka hanya minum bir bersama, menatap kapal-kapal besar yang bersandar di dermaga.
Setelah lelaki tua itu pergi, aku bertanya pada Darman kenapa ia melakukannya. "Aksi solidaritas proletar?" tanyaku, dengan nada sinis yang kupelajari darinya.
Darman tertawa. "Persetan dengan solidaritas," katanya. "Aku hanya tidak suka minum bir sendirian. Dan wajahnya lebih menarik untuk diajak minum daripada wajahmu."
Itu saja. Tidak ada teori. Tidak ada ideologi. Hanya sebuah keinginan sederhana, sebuah transaksi kenikmatan sesaat antara dua manusia. Sebuah persekutuan yang lahir dan mati dalam dua botol bir. Itu adalah kejujuran yang tidak akan pernah ditemukan dalam pidato para pejabat atau diskusi para aktivis.
Aku mengambil sketsa dari Seruni itu. Kertasnya terasa tipis dan rapuh. Aku tidak akan membingkainya. Membingkainya berarti membunuhnya, mengubahnya menjadi “Seni”. Aku melipatnya dengan hati-hati dan menyelipkannya di antara halaman-halaman kamus Inggris-Indonesiaku, di bawah entri kata property. Bukan dalam artian hak milik yang diakui hukum atau negara. Tapi dalam artian sesuatu yang telah kusentuh, yang telah menjadi bagian dari duniaku, yang kini kumiliki dalam ingatanku.
Suara pidato di radio sudah berhenti, digantikan oleh lagu dangdut dengan kendang yang hingar bingar. Aku kembali ke mesin tikku. Aku tidak akan menulis tentang pejabat itu. Aku tidak akan menulis tentang bangsa. Aku akan menulis tentang tangan seorang lelaki yang lelah, digambar oleh seorang perempuan yang tenang, di sebuah stasiun kereta api yang ramai, di sebuah sore yang tak akan diingat oleh siapa pun kecuali kami berdua. Dan mungkin, hanya mungkin, oleh selembar kertas ini.
7
Keheningan setelah pertemuan dengan Seruni terasa berbeda. Dulu, keheningan di kamarku adalah sebuah benteng, dinding tebal yang kubangun untuk melindungi diri dari kebisingan dunia. Sekarang, keheningan ini terasa lebih seperti sebuah ruangan kosong yang menunggu untuk diisi. Gema dari percakapan kami, dari musik tanpa nama, dari suara arang di atas kertas, masih tertinggal.
Aku mencoba kembali ke rutinitasku, menerjemahkan diagram sirkuit listrik yang rumit. Tapi kata-kata seperti resistor, kapasitor, dan transformator terasa lebih asing dari biasanya. Aku menatap skema itu, garis-garis hitam yang saling bersilangan di atas kertas putih. Sebuah sistem yang logis, tertutup, dan bisa diprediksi. Segala sesuatu yang bukan kehidupanku.
Aku mendorong kertas-kertas itu menjauh. Aku butuh udara. Aku berjalan keluar, menyusuri rel kereta api di dekat kosku. Bantalan-bantalan kayu yang dilapisi tar berbau aneh di bawah panas matahari. Rel baja yang membentang lurus ke dua arah, seolah menawarkan pilihan, padahal keduanya menuju ke tempat yang sama-sama tidak kuketahui.
Di kejauhan, aku melihat sekelompok anak kecil bermain layang-layang di sebuah lapangan berumput liar. Layang-layang mereka, terbuat dari kertas minyak warna-warni, menari-nari di angkasa, ditarik oleh benang nilon yang nyaris tak terlihat. Mereka berlari, tertawa, berteriak saat layang-layang mereka menukik atau saat benang mereka saling terkait. Sebuah pertempuran kecil yang riang di bawah langit yang luas.
Aku duduk di atas sebuah rel yang tidak terpakai, menyalakan rokok, dan mengamati mereka.
Lagi-lagi, aku teringat Darman. Semua jalan di kepalaku pada akhirnya selalu berujung padanya. Kami pernah melakukan hal yang sama persis bertahun-tahun yang lalu, di lapangan yang sama. Tapi kami tidak sedang bermain. Kami sedang menunggu seseorang, seorang kurir yang seharusnya membawa beberapa buku selundupan dari luar kota.
Kurir itu tidak pernah datang. Kami menunggu berjam-jam, dari sore hingga senja. Yang lain mulai gelisah, mengumpat, menyalahkan sistem yang tidak pernah berpihak pada kami. Tapi Darman justru tampak tenang. Ia merebahkan dirinya di rumput, menatap langit dengan tangan di belakang kepala.
"Kalian ini aneh," katanya tiba-tiba. "Kalian menunggu sesuatu yang tidak pasti, dan kalian marah karena ketidakpastian itu. Padahal, satu-satunya hal yang pasti di dunia ini ya ketidakpastian itu sendiri."
Ia bangkit, lalu berjalan ke arah seorang anak kecil yang sedang menangis karena layang-layangnya putus. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk di samping anak itu, mengeluarkan sebatang permen dari sakunya, dan memberikannya. Anak itu berhenti menangis. Ia mengambil permen itu, membukanya, lalu memakannya sambil terus menatap langit, ke arah layang-layangnya yang telah hilang.
"Lihat," kata Darman saat ia kembali bergabung denganku. "Anak itu lebih pintar dari kalian semua. Ia tahu ia telah kehilangan sesuatu. Ia sedih. Lalu ia mendapatkan sesuatu yang baru, dan ia melanjutkan hidup. Ia tidak mencoba menulis analisis Marxis tentang mengapa layang-layangnya putus."
Anak-anak di depanku masih berlarian. Salah satu dari mereka, yang layang-layangnya paling tinggi, tiba-tiba benangnya putus. Layang-layang itu terombang-ambing sejenak, seperti ragu-ragu, lalu terbang bebas, semakin tinggi, hingga menjadi titik kecil dan lenyap ditelan awan. Anak itu tidak menangis. Ia hanya berdiri, menatap ke langit dengan mulut sedikit terbuka. Ada kekecewaan di wajahnya, tapi juga semacam kekaguman. Ia baru saja menyaksikan sesuatu miliknya menjadi bebas.
Aku menghabiskan rokokku. Aku tidak tahu di mana Seruni sekarang. Mungkin ia sedang menggambar wajah seorang pedagang asongan, atau mendengarkan kaset tanpa namanya. Aku tidak tahu di mana Darman sekarang. Mungkin ia sudah mati, atau mungkin ia sedang menertawakan sesuatu di belahan dunia lain.
Aku tidak tahu apa-apa. Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak terasa seperti sebuah kekurangan. Ia terasa seperti lapangan kosong. Seperti langit yang luas. Seperti layang-layang yang baru saja putus dari benangnya. Bebas, tak bertujuan, dan entah kenapa, utuh.
8
Malam itu hujan turun. Bukan hujan deras yang disertai guntur, tapi gerimis yang konstan dan dingin, yang membuat atap seng kamarku berbunyi seperti ribuan jari yang mengetik tanpa henti. Gerimis semacam ini selalu membuatku gelisah. Ia tidak cukup deras untuk menyucikan kota, hanya cukup untuk membuat semua jalanan becek dan semua kenangan terasa lebih lembap.
Aku sedang mencoba membaca lagi. Kali ini sebuah novel terjemahan dari seorang penulis Jepang, tentang seorang lelaki yang menghabiskan waktunya mencari seekor domba yang hilang. Omong kosong, tentu saja. Semua novel pada dasarnya adalah tentang seseorang yang mencari sesuatu yang hilang. Tapi aku menyukai kalimat-kalimatnya yang bersih dan aneh, yang berbicara tentang lubang-lubang di dalam diri manusia seolah itu adalah bagian dari anatomi yang wajar.
Suara ketukan di pintu terdengar lebih keras dari biasanya, nyaris menyaingi suara gerimis. Aku sudah menduganya. Hanya ada satu orang yang akan datang di malam seperti ini. Orang yang membawa masalahnya sendiri seperti membawa payung yang rusak.
Aku membuka pintu. Seruni berdiri di sana, basah kuyup. Rambutnya yang panjang menempel di pipi, dan air menetes dari ujung hidungnya. Ia tidak membawa tas sketsanya. Ia hanya membawa dirinya sendiri.
"Akuariumnya pecah," katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Aku tidak perlu bertanya apa maksudnya. Aku menyingkir dari pintu, membiarkannya masuk. Ia duduk di lantai, di tempatnya yang biasa, memeluk lututnya yang basah. Aku memberinya handuk kering dan membuatkan teh panas, dua hal yang selalu kusimpan untuk keadaan darurat semacam ini.
Kami duduk dalam diam untuk waktu yang lama. Hanya suara gerimis di atap dan desis teko yang mengisi ruangan. Aku tidak bertanya. Pertanyaan hanya akan memaksanya membangun kembali cerita yang mungkin sedang ingin ia lupakan. Aku hanya menemaninya dalam keheningan, membiarkannya memiliki ruangnya sendiri.
"Mereka datang ke tempatku," katanya akhirnya, menatap cangkir teh dengan tatapan kosong. "Dua orang. Berpakaian rapi. Tidak seperti polisi. Lebih buruk dari polisi."
Aku tahu siapa yang ia maksud. Orang-orang yang tidak berseragam, yang senyumnya ramah tapi matanya mati. Orang-orang yang tugasnya adalah memastikan tidak ada ikan yang mencoba melubangi kaca akuarium.
"Mereka tidak mengancam. Mereka hanya 'bertanya'. Bertanya tentang teman-temanku. Bertanya kenapa aku berhenti dari pekerjaanku. Bertanya kenapa aku suka menggambar hal-hal yang 'muram'. Mereka bilang, di masa pembangunan ini, semua orang seharusnya optimis."
Ia tertawa kecil, tawa yang kering dan tanpa humor. "Optimis. Mereka memintaku untuk optimis sambil menggeledah buku-buku sketsaku, membolak-balik setiap halaman seolah mencari kode rahasia di antara gambar-gambar wajah orang tua dan cangkir retak."
Mereka tidak mencari kode. Mereka mencari penyimpangan. Bagi mereka, setiap hal yang tidak bisa mereka pahami, setiap keindahan yang tidak melayani “tujuan nasional”, adalah sebuah potensi ancaman. Sebuah sketsa arang bisa sama berbahayanya dengan sebuah pamflet, karena keduanya lahir dari seorang individu yang berani melihat dunia dengan matanya sendiri.
"Mereka mengambil beberapa sketsaku," lanjut Seruni. "Katanya hanya untuk 'dokumentasi'. Lalu mereka pergi. Sebelum pergi, salah satu dari mereka tersenyum dan berkata, 'Mbak ini kan seniman, ya? Melukislah yang indah-indah saja. Yang bisa bikin hati adem'."
Ia menirukan suara orang itu dengan sempurna. Suara ramah tamah yang menyembunyikan sebilah pisau.
Ia meletakkan cangkir tehnya. Tangannya sedikit bergetar. "Mereka tidak menyentuhku. Tapi aku merasa lebih telanjang daripada jika mereka menelanjangiku. Mereka masuk ke duniaku, ke museumku, dan mereka menodainya dengan tatapan mereka. Mereka mengubah semua propertiku menjadi barang bukti."
Aku tidak punya kata-kata untuk menghiburnya. Penghiburan adalah kebohongan lain. Aku hanya bangkit, berjalan ke arah meja, dan mengambil sesuatu dari laci. Sebuah botol tuak yang isinya tinggal sepertiga, warisan terakhir dari Darman yang kusimpan untuk saat-saat seperti ini.
Aku mengambil dua gelas, menuangnya, dan memberikan satu padanya. Ia menatap minuman berwarna kecoklatan itu, lalu menatapku.
"Ini bukan jawaban," kataku. "Ini bahkan bukan pertanyaan. Ini hanya... minuman keras murahan." Ia mengambil gelas itu. Kami tidak bersulang. Kami hanya minum dalam diam, membiarkan cairan itu membakar jalan di tenggorokan kami. Gerimis di luar masih turun. Malam masih panjang. Dan kami berdua, dua ikan yang akuariumnya telah retak, duduk di lantai sebuah kamar kos yang sempit, mencoba menemukan cara untuk bernapas di udara yang tiba-tiba terasa sangat tipis.
9
Alkohol tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Ia hanya menciptakan jarak. Jarak antara dirimu yang sekarang dan dirimu lima menit yang lalu. Jarak antara kepanikan dan kebas. Untuk beberapa jam, kami mengapung di dalam jarak itu, di atas rakit darurat yang terbuat dari arak (yang aku curiga pastinya dioplos sesuatu oleh Darman) dan keheningan.
Gerimis akhirnya berhenti menjelang tengah malam, menyisakan bau tanah basah dan udara yang terasa lebih bersih. Seruni tertidur di lantai, dengan pipi beralaskan lengannya sendiri. Tidur yang gelisah, napasnya tidak teratur. Aku menyelimutinya dengan sarungku satu-satunya. Melihatnya tidur di kamarku terasa aneh, seperti menemukan sebuah patung rapuh di tengah medan perang yang berantakan.
Aku tidak bisa tidur. Kepalaku terlalu ramai. Aku duduk di depan mesin tik, tapi aku tidak menyentuhnya. Aku hanya menatap dinding di hadapanku, dinding yang sama yang kutatap setiap hari. Tapi malam ini dinding itu terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar pembatas. Ia terasa seperti kulit. Kulitku, kulit kamar ini, kulit kota ini. Dan aku baru saja menyadari betapa tipisnya kulit itu.
Orang-orang seperti Haris dan kelompok studinya, mereka pikir musuh mereka jelas. Negara, kapitalisme, militer. Mereka menggambar monster itu dengan garis-garis yang tebal, memberinya nama, lalu menyusun strategi untuk melawannya. Pertarungan mereka, meskipun naif, setidaknya memiliki bentuk.
Tapi musuh yang baru saja mengunjungi Seruni berbeda. Ia tidak memiliki wajah yang jelas. Ia datang dengan senyum, dengan pertanyaan-pertanyaan sopan. Ia tidak menghancurkan pintu, ia mengetuknya. Ia tidak merampok, ia hanya “mendokumentasikan”. Ia tidak membunuh tubuh, ia membunuh ruang. Ia merupakan teror yang bekerja seperti gas, tidak terlihat, tidak berbau, meresap ke dalam celah-celah terkecil dalam hidupmu, ke dalam kamarmu, ke dalam buku sketsamu, hingga kau tidak tahu lagi di mana batas antara dirimu dan pengawasannya. Hingga kau mulai mengawasi dirimu sendiri.
Aku teringat Darman. Kali ini, ingatan yang muncul bukan tentang tarian atau tawa gilanya. Ingatan ini lebih gelap. Malam terakhir aku melihatnya. Ia tidak mabuk. Justru itu yang menakutkan. Matanya jernih dan sangat lelah.
Kami duduk di sebuah warung kopi 24 jam di dekat stasiun Jatinegara. Ia baru saja “dibebaskan” setelah beberapa minggu “diamankan”. Mereka tidak menuduhnya dengan pasal subversi. Mereka hanya menahannya, memindahmindahkannya dari satu kantor ke kantor lain, menanyakan pertanyaan yang sama berulangulang, hingga waktu dan identitasnya terasa meleleh.
"Mereka tidak memukulku," katanya sambil mengaduk kopinya yang tidak ia minum. "Mereka hanya... membuatku bosan sampai hampir mati. Mereka menunjukkan padaku foto-fotoku sendiri. Foto-fotoku sedang minum bir, sedang bicara denganmu, sedang berjalan sendirian. Mereka tahu di mana aku membeli rokok, mereka tahu aku suka sate kambing. Mereka telah mengubah hidupku menjadi sebuah berkas laporan."
Ia menatapku. "Mereka tidak ingin menghancurkanku. Itu terlalu merepotkan. Mereka hanya ingin aku merasa bahwa tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Bahkan di dalam kepalaku sendiri. Mereka ingin aku tahu bahwa aku adalah properti mereka."
Setelah itu ia pergi. Katanya ia akan pergi ke pelabuhan, mencari kapal apa saja yang akan berlayar ke mana saja. Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku tidak tahu apakah ia berhasil naik ke atas kapal, atau apakah lautan menelannya, atau apakah ia hanya lenyap ditelan oleh berkas-berkas laporan itu.
Aku bangkit dari kursiku, berjalan pelan agar tidak membangunkan Seruni. Aku membuka laci mejaku, mengeluarkan semua naskah yang pernah kutulis, semua terjemahan yang sedang kukerjakan, semua fragmen cerita tentang Darman. Tumpukan kertas yang kuanggap sebagai satu-satunya duniaku.
Aku membawanya ke dapur kecil di belakang kamar kos. Satu per satu, aku membakar kertas-kertas itu di atas tungku kompor minyak tanahku. Aku melihat kata-kataku sendiri menggulung, menghitam, lalu menjadi abu. Api kecil itu melahap semua ingatanku, semua teoriku, semua propertiku. Bau kertas terbakar memenuhi ruangan.
Ini bukan tindakan putus asa. Ini adalah tindakan penjernihan.
Jika mereka bisa mengubah duniamu menjadi barang bukti, maka kau tidak bisa lagi memiliki dunia. Jika ingatanmu bisa menjadi laporan intelijen, maka kau harus belajar untuk melupakan.
Satu-satunya cara untuk bebas dari pengawasan adalah dengan tidak memiliki apa pun yang layak untuk diawasi. Menjadi kosong. Menjadi hantu di dalam mesin mereka.
Aku kembali ke kamarku. Tumpukan abu di dapur adalah satu-satunya tulisan terbaruku. Seruni masih tidur. Di luar, fajar mulai menyingsing, tapi langit Jakarta masih berwarna kelabu, seolah ragu-ragu untuk memulai hari yang baru. Aku menatapnya. Aku tidak tahu apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Aku tidak punya rencana.
Aku tidak punya apa-apa. Dan dalam ketiadaan itu, untuk pertama kalinya, aku merasa siap untuk bertarung.
10
Fajar tidak membawa pencerahan. Ia hanya mengganti gelap dengan warna abu-abu. Seruni bangun dengan gerakan pelan, seperti orang yang baru sadar ia tertidur di tempat yang asing. Ia melihatku duduk di kursi, lalu matanya tertuju pada tumpukan abu dingin di dapur. Ia tidak bertanya. Ia mengerti.
"Jadi, kau membakar semuanya," katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
"Hanya kertas," jawabku. Kami minum kopi pagi dalam keheningan. Kopi terakhirku. Setelah ini, aku harus mencari cara untuk membeli sebungkus lagi. Roda kehidupan yang banal terus berputar, tidak peduli seberapa retak akuariummu.
"Aku tidak bisa kembali ke kamarku," kata Seruni. "Bukan karena aku takut pada mereka. Tapi karena tempat itu sudah terasa asing. Seperti rumah orang lain yang pernah kudatangi."
"Lalu kau mau ke mana?"
"Aku tidak tahu."
Tiga kata itu menggantung di udara. Aku tidak tahu. Bukan lagi sebuah pengakuan yang menakutkan, tapi sebuah dataran baru yang terbentang di hadapan kami. Sebuah peta buta.
"Darman pernah bilang," aku memulai, "saat kau tidak tahu harus pergi ke mana, pergilah ke tempat yang paling tidak masuk akal."
"Di mana itu?"
"Stasiun kereta," jawabku.
Kami tidak membawa apa-apa selain pakaian yang kami kenakan dan sisa uang receh di saku kami. Kami berjalan kaki ke stasiun Gambir, seolah kami adalah dua peziarah yang telah kehilangan agamanya.
Stasiun di pagi hari adalah sebuah teater yang sibuk. Teater tentang perpisahan dan pertemuan kembali. Orang-orang menyeret koper-koper yang seolah berisi seluruh kehidupan mereka. Para calo tiket berbisik seperti ular, menawarkan jalan pintas ke kota-kota yang jauh. Pengeras suara mengumumkan jadwal keberangkatan dan kedatangan dengan suara yang sama datarnya, tidak peduli pada drama manusia yang terjadi di peron.
Kami tidak membeli tiket. Kami hanya duduk di salah satu bangku, di tengah-tengah arus manusia, dan mengamati. Kami adalah dua hantu yang menonton pertunjukan orang-orang yang masih percaya bahwa mereka akan pergi ke suatu tempat. "Lihat mereka," kata Seruni, menunjuk sepasang suami-istri tua yang sedang kesulitan membawa sebuah kardus besar berisi oleh-oleh. "Mereka percaya pada 'pulang'. Mereka percaya ada tempat yang akan menyambut mereka kembali."
"Kepercayaan adalah kemewahan," kataku.
Kami duduk di sana selama berjam-jam. Kami melihat kereta api Argo Bromo berangkat ke Surabaya, membawa serta para pebisnis dan mahasiswa. Kami melihat kereta Parahyangan tiba dari Bandung, menurunkan para pelancong akhir pekan dengan wajah lelah. Setiap kereta yang datang dan pergi adalah sebuah cerita yang tidak akan pernah kami ketahui. Kami hanya penonton di peron.
Saat sore tiba dan perut kami mulai terasa kosong, Seruni bangkit. "Tunggu di sini," katanya. Ia pergi, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan dua bungkus nasi rames yang dibelinya dari sebuah warung di luar stasiun.
Kami makan dalam diam, menggunakan tangan kami. Nasi, tempe orek, dan sedikit sambal. Makanan paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku. Bukan karena rasanya, tapi karena kejujurannya. Meski ini bukan makanan untuk merayakan apa pun. Ini hanya bahan bakar. Energi untuk melewati beberapa jam ke depan.
Setelah makan, Seruni mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebatang arang kecil, sisa-sisa yang mungkin ia lupakan. Ia tidak punya kertas. Jadi ia mulai menggambar di lantai stasiun yang kotor. Bukan wajah, bukan pemandangan. Ia hanya menggambar garis-garis yang saling bersilangan, bentuk-bentuk geometris yang aneh, seolah sedang mencoba memetakan kebingungan kami.
Beberapa orang yang lewat menatapnya dengan aneh. Seorang petugas kebersihan sempat berhenti, hendak menegurnya, tapi kemudian ia hanya menggelengkan kepala dan berjalan pergi. Mungkin ia pikir kami sudah gila. Mungkin ia benar.
Gambar itu semakin besar, menutupi sebagian lantai peron. Garis-garis hitam di atas semen abu-abu. Sebuah karya seni yang fana, yang akan terhapus oleh ribuan langkah kaki dan sapuan petugas kebersihan besok pagi. Dan justru karena itu, ia terasa sempurna.
Saat malam tiba dan lampu-lampu stasiun dinyalakan, Seruni berhenti menggambar. Tangannya kotor oleh arang. Ia menatap karyanya yang terhampar di lantai, lalu ia menatapku.
"Sudah jadi," katanya.
"Jadi apa?" tanyaku.
"Aku tidak tahu," jawabnya sambil tersenyum. "Sebuah peta, mungkin. Peta ke tempat yang tidak ada."
Seorang petugas keamanan menghampiri kami. "Sudah malam, Mas, Mbak. Tidak baik dilihat orang," katanya dengan nada yang dibuat ramah. Sebuah pengusiran yang halus.
Kami bangkit. Kami berjalan meninggalkan gambar itu tanpa menoleh ke belakang. Kami berjalan keluar dari stasiun, kembali ke jalanan Jakarta yang tidak peduli. Kami tidak punya tujuan. Kami tidak punya uang. Kami tidak punya apa-apa.
Kami hanya punya malam ini. Dan sebuah peta ke tempat yang tidak ada. Untuk saat ini, itu sudah cukup untuk membuat kami terus berjalan.
11
Malam tidak memiliki nama jalan. Setelah kami berjalan menjauh dari cahaya stasiun, Jakarta berubah menjadi labirin yang hanya terdiri dari gang-gang gelap, bayangan, dan bau yang berbeda di setiap tikungan—bau sampah basah, bau masakan dari warung yang sudah tutup, bau comberan yang tak pernah kering.
Kami tidak banyak bicara. Kata-kata terasa terlalu berat, terlalu mewah untuk situasi kami. Kami hanya berjalan, bahu kami sesekali bersentuhan. Gerak kaki kami menjadi satu-satunya percakapan. Sebuah irama yang menyatakan: aku di sini, kau di sana, kita masih bergerak maju.
Dunia malam adalah dunia yang berbeda. Para penghuninya adalah mereka yang tidak cocok dengan jadwal matahari. Para penjual nasi goreng yang mendorong gerobak mereka dengan wajah lelah, para perempuan yang berdiri di sudut-sudut remang dengan tatapan kosong, para penjaga malam yang duduk di gardu-gardu sambil membakar rokok untuk melawan kantuk. Mereka tidak bicara tentang “bangsa” atau “perjuangan”. Percakapan mereka adalah tentang harga sewa kontrakan, tentang anak yang sakit, tentang mimpi-mimpi kecil yang terus-menerus ditunda. Mereka adalah para filsuf sejati kota ini, karena filsafat mereka lahir dari perut yang lapar dan kaki yang pegal.
Kami lapar. Kelaparan adalah sebuah kejujuran yang brutal. Ia menelanjangi semua ide besar dan meninggalkanmu hanya dengan satu kebenaran: kau adalah seekor binatang yang butuh makan.
Aku teringat Darman, lagi-lagi. Suatu kali, kami benar-benar tidak punya uang sepeser pun selama dua hari. Perut kami melilit. Yang lain mulai bicara tentang “ketidakadilan sistem” dan “eksploitasi”. Darman hanya diam, matanya mengawasi sebuah restoran Padang di seberang jalan.
Tiba-tiba ia bangkit. "Tunggu di sini," katanya.
Ia berjalan santai ke arah restoran itu. Tepat di depan, seorang pelayan sedang membawa nampan penuh berisi piring-piring sisa makanan dari meja pelanggan—gulai yang tinggal kuahnya, rendang yang tinggal separuh. Darman mencegatnya. Ia tidak merampok. Ia hanya menatap pelayan itu dengan senyumnya yang paling menawan dan berkata, "Mas, daripada dibuang, boleh untuk kami? Kami belum makan dari kemarin."
Ia tidak memelas. Ia tidak meminta belas kasihan. Ia hanya menyatakan sebuah fakta dan sebuah keinginan. Pelayan itu tampak bingung, lalu ia menatap ke dalam restoran, memastikan bosnya tidak melihat. Kemudian ia mengangguk, dan memberikan dua piring berisi nasi dan sisa lauk kepada Darman.
"Lihat," kata Darman saat ia kembali dengan membawa "harta karun" itu. "Kadang, kau hanya perlu meminta apa yang kau inginkan. Dunia tidak sejahat yang kalian kira. Ia hanya pelit dan perlu dibujuk."
Aku tidak punya pesona seperti Darman. Aku hanya punya keheningan. Kami berjalan terus, hingga kami menemukan sebuah kompleks pertokoan yang sudah tutup. Di bagian depannya, ada kanopi lebar yang menjorok ke depan, melindungi teras dari hujan. Tempat itu relatif bersih dan terlindung dari angin.
"Istana kita untuk malam ini," kataku.
Kami duduk bersandar di pintu sebuah toko yang tertutup teralis besi. Lantai keramiknya terasa dingin menembus celanaku. Dingin yang nyata. Seruni mengeluarkan sisa arang dari sakunya dan kembali menggambar di lantai, melanjutkan petanya yang tak bertujuan. Aku hanya duduk, mengawasinya, menjadi penjaganya.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Seruni berhenti menggambar dan mendekat, duduk di sampingku. Ia tidak mengatakan apaapa. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahuku. Tubuhnya sedikit menggigil. Aku merapatkan jaket jinku, mencoba melindunginya dari angin malam, meskipun aku tahu itu sia-sia.
Ini bukan keintiman. Ini bukan romantisme. Ini adalah sesuatu yang lebih purba. Dua mamalia yang saling berbagi kehangatan tubuh untuk bertahan hidup. Sebuah persekutuan yang tidak didasari oleh ide, tapi oleh suhu. Di tengah kota yang dingin dan tak peduli, di teras sebuah toko yang menjual barang-barang yang tak kami butuhkan, kami menemukan satu-satunya properti kami yang tersisa: kehangatan tubuh kami sendiri.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin kami akan ditangkap gelandangan. Mungkin kami akan menemukan cara untuk mendapatkan uang dan makan. Mungkin kami akan berpisah. Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli. Malam ini, di bawah kanopi pertokoan ini, dengan kepala Seruni di bahuku dan peta arang yang mulai memudar di lantai, aku merasa memiliki segalanya. Karena aku tidak memiliki apa-apa selain saat ini. Dan saat ini adalah milikku.
12
Matahari datang tanpa permisi, cahayanya yang pucat menembus celah-celah kanopi. Aku terbangun karena suara sapu lidi yang diseret di atas aspal. Seorang petugas kebersihan dengan seragam oranye sedang memulai ritual paginya, membersihkan sampah-sampah yang ditinggalkan oleh malam. Ia menatap kami sejenak, tatapan yang tidak menghakimi, hanya lelah. Ia telah melihat terlalu banyak pemandangan seperti kami.
Seruni menggeliat, lalu duduk tegak. Rambutnya berantakan, dan ada bekas garis keramik di pipinya. Ia menatap ke sekeliling, ke jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas memulai hari mereka. "Pagi," bisiknya.
"Pagi," jawabku.
Rasa lapar semalam telah kembali, kini lebih tajam, lebih menuntut. Tubuh tidak peduli pada puisi atau keindahan fana. Tubuh hanya peduli pada bahan bakar.
Kami bangkit, merapikan pakaian kami yang kusut. Gambar arang di lantai sudah hampir lenyap, hanya menyisakan noda-noda hitam samar, seperti ingatan yang memudar. Kami berjalan tanpa tujuan, membiarkan arus pagi membawa kami.
Aroma kopi yang kuat menuntun kami ke sebuah warung kecil di pinggir rel kereta. Warung itu hanya sebuah bangunan semi-permanen dari papan dan terpal, tapi dari dalamnya terpancar kehangatan dan kehidupan. Para supir bajaj, kuli panggul, dan pekerja serabutan lainnya duduk di bangku-bangku panjang, menyantap nasi uduk dan menyeruput kopi panas.
Kami berdiri di luar, hanya mengamati. Menjadi penonton adalah satu-satunya kemewahan kami.
Tiba-tiba, seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan kaus singlet yang sudah melar keluar dari warung. Ia menatap kami, dari atas ke bawah, lalu berdeham.
"Nungguin kereta, Dek?" tanyanya. Suaranya serak, khas perokok berat.
"Keretanya belum datang," jawabku sekenanya. Ia tertawa. "Di sini keretanya selalu terlambat." Ia menunjuk ke dalam warung. "Masuk dulu. Ngopi."
"Kami tidak punya uang," kata Seruni, suaranya pelan tapi tegas. Kejujuran yang lugas.
Lelaki itu kembali menatap kami, kali ini lebih lama. Ia mungkin sedang mencoba membaca cerita kami dari wajah kami yang kuyu dan pakaian kami yang kusut. Lalu ia menghela napas.
"Siapa yang ngomongin uang?" katanya.
"Saya cuma nawarin kopi. Kalau perut kosong, pikiran nggak beres." Ia adalah pemilik warung itu.
Kami ragu sejenak. Tapi rasa lapar dan aroma kopi adalah argumen yang lebih kuat daripada harga diri. Kami masuk.
Lelaki itu memberi kami dua piring nasi uduk dengan bihun dan tempe orek, dan dua gelas kopi hitam panas. Kami makan seperti serigala. Kami tidak bicara. Kami hanya fokus pada tugas suci mengisi perut kami. Setiap suap nasi terasa seperti sebuah kemenangan.
Setelah selesai, lelaki itu duduk di hadapan kami, menyalakan sebatang kretek. "Jadi," katanya. "Kabur dari rumah?"
"Rumah itu apa?" jawab Seruni, sebuah pertanyaan yang lebih dalam dari yang mungkin disadari oleh lelaki itu.
Lelaki itu tertawa lagi. "Benar juga." Ia menatap tangan Seruni yang masih kotor oleh sisa arang. "Kalian seniman, ya?"
"Kami bukan apa-apa," jawabku.
"Orang yang bilang dirinya bukan apa-apa biasanya justru apa-apa," katanya. "Begini saja. Saya butuh bantuan. Dinding di belakang warung ini kosong, jelek dilihatnya. Kalau kalian mau, gambari saja sesuka kalian. Anggap saja sebagai bayaran untuk nasi dan kopi ini. Dan mungkin untuk beberapa hari ke depan, kalau kalian masih di sekitar sini."
Sebuah tawaran. Sebuah transaksi. Bukan belas kasihan. Lelaki ini, dengan kaus singlet dan kumis tebalnya, memahami dunia lebih baik daripada para aktivis atau penyair. Ia tidak menawarkan “solusi” atau “harapan”. Ia menawarkan pertukaran yang begitu purba. Tenaga kami untuk makanannya.
Seruni menatapku. Aku melihat kilatan di matanya. Bukan lagi kilatan ketakutan atau kebingungan. Ini kilatan seorang perajin yang baru saja menemukan bahan baku.
"Kami tidak punya cat," kata Seruni.
Lelaki itu tersenyum. "Di belakang ada sisa cat tembok warna putih dan hitam dari waktu saya ngecat warung. Pakai saja itu. Kalau butuh arang, di tungku banyak."
Hari itu, dinding seng berkarat di belakang sebuah warung kopi di pinggir rel kereta menjadi kanvas kami. Seruni tidak menggambar pemandangan indah atau potret realistis. Dengan arang dan kuas seadanya, kami mulai menggambar. Kami menggambar ikan-ikan yang berenang di antara rel kereta, menggambar layang-layang yang tersangkut di kabel listrik, menggambar wajah-wajah orang yang kami temui di stasiun, yang semuanya menyatu menjadi satu mosaik besar yang kacau dan aneh.
Aku bukan pelukis. Aku hanya membantunya, mengecat latar belakang, mencampur cat, menjadi asistennya. Tapi saat aku melihat garis-garis hitam yang ia buat di atas dinding itu, aku merasa sedang ikut menulis. Kami tidak sedang menciptakan “karya seni”. Kami sedang memetakan perjalanan kami, meninggalkan jejak kami di dinding sebuah kota yang selalu berusaha menghapus semua jejak.
Kami bekerja hingga sore. Tangan kami, wajah kami, pakaian kami, semuanya kotor oleh cat dan arang. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bersih.
13
Keesokan paginya, kami kembali ke warung itu. Bukan untuk sarapan, tapi untuk melihat karya kami di bawah cahaya matahari. Mural di dinding seng itu tampak berbeda di siang hari. Garis-garis arang yang semalam terlihat tegas, kini tampak lebih lembut. Cat putih dan hitamnya yang murah sudah sedikit retak karena panas. Beberapa anak kecil menunjuk-nunjuk gambar kami sambil tertawa. Seorang supir bajaj yang sedang makan menatapnya sekilas, lalu kembali menyeruput kopinya, tidak peduli. Karya kami sudah menjadi bagian dari pemandangan, menyatu dengan dinding yang berkarat dan bau got di sebelahnya. Sebentar lagi ia akan dilupakan, tertutup debu jalanan, atau mungkin ditimpa dengan cat baru. Dan itu tidak apa-apa. Kami tidak menciptakannya untuk dikenang. Dan mungkin hanya demi makanan.
Pemilik warung, Bang Udin, memberi kami kopi gratis dan sepiring gorengan. "Banyak yang suka," katanya sambil menunjuk mural itu dengan dagunya. "Katanya aneh, tapi bagus." Ia tidak bertanya apa arti gambar itu. Ia hanya menerimanya sebagai apa adanya. Bang Udin lebih punya kepekaan seni daripada semua kurator di TIM.
Kami menghabiskan beberapa hari berikutnya dalam ritme yang aneh dan tanpa rencana. Pagi kami habiskan di warung, membantu Bang Udin membersihkan piring atau sekadar duduk-duduk, dan sebagai imbalannya kami mendapatkan makan. Siang hari kami menyusuri kota, menjadi hantu yang mengamati kehidupan orang lain. Sore hari kami kembali ke dinding seng itu, menambahkan detail-detail baru pada mural kami. Malamnya kami kembali ke istana kami di teras pertokoan, tidur di bawah tatapan lampu jalan. Kami telah menciptakan sebuah siklus, sebuah dunia kecil yang hanya terdiri dari kopi, nasi, cat, dan berjalan kaki.
Tapi aku tahu dunia seperti ini tidak bisa bertahan lama. Dindingnya terlalu tipis.
Aku mulai merasakannya. Sebuah tatapan. Bukan tatapan ingin tahu dari para pejalan kaki, bukan pula tatapan lelah dari para pekerja. Ini tatapan yang berbeda. Tatapan yang terlatih untuk tidak terlihat seperti sedang menatap.
Aku pertama kali menyadarinya saat kami sedang di dekat stasiun Gondangdia. Seorang lelaki duduk di sebuah bangku, membaca koran. Tidak ada yang aneh. Tapi koran yang ia pegang terbalik. Keesokan harinya, saat kami sedang di Pasar Cikini, aku melihatnya lagi. Kali ini ia sedang berpura-pura menawar harga mangga, tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari kami. Ia mengenakan kemeja yang berbeda, tapi sepatunya sama. Sepatu kulit hitam standar, sepatu yang biasa dipakai oleh orang-orang yang pekerjaannya adalah mengikuti orang lain.
Aku tidak memberitahu Seruni. Aku tidak ingin meracuni dunianya yang baru saja ia bangun kembali. Aku hanya menyimpan kewaspadaan itu untuk diriku sendiri. Aku mulai berjalan dengan kesadaran yang berbeda. Aku memperhatikan setiap wajah yang kami lewati, setiap mobil yang melambat di dekat kami.
Paranoia adalah teman lama. Di negeri ini, jika kau tidak merasa diawasi, itu artinya kau tidak cukup memperhatikan.
Aku teringat Darman, lagi dan lagi. Ia punya cara sendiri untuk menghadapi hal ini. Ia mengubah pengawasan menjadi sebuah permainan, sebuah pertunjukan teater. Suatu kali, kami sadar kami sedang dibuntuti oleh dua orang intel selama berhari-hari. Yang lain panik, menyarankan kami untuk bersembunyi. Darman justru punya ide lain.
Ia mengajak kami ke Taman Lapangan Banteng. Di tengah taman, ia tiba-tiba berhenti, berbalik, dan berjalan langsung ke arah dua orang yang membuntuti kami. Ia mengulurkan tangannya.
"Kenalkan, saya Darman," katanya dengan senyum lebar. "Kalian pasti capek mengikuti kami terus. Ayo, saya traktir es kelapa muda."
Dua intel itu tampak kaget luar biasa. Mereka tergagap, mencoba menyangkal, tapi Darman terus memaksa. Akhirnya, kami berempat duduk di bawah pohon, minum es kelapa muda dalam keheningan yang paling canggung di dunia. Darman mengobrol dengan santai tentang cuaca, tentang pertandingan sepak bola, seolah mereka adalah kawan-kawan lamanya.
Setelah itu, dua orang itu tidak pernah lagi membuntuti kami. Darman telah merusak permainan mereka dengan cara menelanjanginya. Ia telah menunjukkan kepada mereka bahwa ia tahu mereka ada, dan ia tidak takut. Ia mengubah mereka dari predator yang mengancam menjadi dua penonton yang canggung dalam pertunjukannya sendiri.
Aku tidak punya keberanian atau kegilaan seperti Darman. Aku hanya punya insting untuk bertahan hidup. Malam itu, saat kami kembali ke teras pertokoan, aku merasakan kehadiran orang itu lagi. Ia berdiri di seberang jalan, di kegelapan, berpura-pura sedang menunggu angkutan.
Aku menarik lengan Seruni. "Malam ini kita tidak tidur di sini," kataku.
Ia menatapku, melihat sesuatu di mataku. Ia tidak bertanya. Ia hanya mengangguk.
Kami berjalan menjauh, kembali masuk ke dalam labirin gang-gang yang gelap. Malam itu, kami tidur di sebuah masjid tua yang pintunya tidak pernah dikunci. Kami tidur di serambi belakang, di atas ubin dingin yang dialasi kardus bekas. Istana kami telah direbut. Permainan kami telah diinterupsi. Dinding tipis dunia kami mulai retak, dan aku tahu, cepat atau lambat, dunia luar akan kembali menerobos masuk dengan segala kebisingan dan kekerasannya.
14
Tidur di masjid tidak membawa ketenangan surgawi. Hanya dingin ubin yang meresap ke tulang dan perasaan menjadi penyusup di rumah Tuhan. Kami bangun sebelum azan subuh, saat beberapa jamaah tua mulai berdatangan. Mereka menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara iba dan curiga. Kami menyelinap pergi sebelum cahaya pertama menyentuh menara.
Kami tidak kembali ke warung Bang Udin. Tempat itu sudah tidak aman. Tatapan di seberang jalan semalam adalah sebuah pesan: kami tahu di mana kalian tidur, kami tahu di mana kalian makan. Mereka tidak perlu menangkap kami. Mereka hanya perlu membuat kami terus bergerak, terus waspada, hingga kami lelah dan membuat kesalahan. Ini adalah perang gesekan, dan kami adalah pihak yang pasti kalah.
"Kita harus berpisah," kataku pada Seruni saat kami duduk di sebuah halte bus yang kosong di pagi hari. Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan rasa yang aneh, seperti mengucapkan bahasa asing.
Ia menatapku, matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh sesuatu yang tidak bisa kubaca. "Berpisah ke mana?"
"Ke mana saja," jawabku. "Mereka mengincar kita berdua. Jika kita bersama, kita menjadi target yang lebih besar, lebih mudah dilihat. Jika kita sendiri-sendiri, kita menjadi lebih kecil, lebih sulit dilacak." Ini adalah logika yang dingin dan brutal, logika seorang yang sedang diburu.
"Dan setelah itu?"
"Tidak ada setelah itu," kataku. "Hanya ada 'sekarang'. Dan sekarang, kita harus lenyap." Dan, aku teringat Darman lagi. Pada malam terakhir aku melihatnya, ia mengatakan hal yang sama. "Jangan pernah berkelompok terlalu lama," katanya. "Kelompok menciptakan pola. Pola bisa dipelajari. Dan apa pun yang bisa dipelajari, bisa dihancurkan. Jadilah acak. Jadilah air. Mengalir ke tempat yang tak terduga."
Seruni terdiam lama. Ia menatap tangannya sendiri yang masih sedikit ternoda cat hitam. "Jadi, mural kita di warung itu," katanya pelan, "itu adalah karya terakhir kita bersama."
"Semua karya memang karya terakhir," jawabku.
Ini adalah perpisahan yang paling aneh. Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Janji adalah rantai lain. Kami hanya duduk di sana, di halte bus yang bau pesing, sementara kota di sekitar kami mulai terbangun dengan raungannya yang biasa. Dua orang asing yang kebetulan telah berbagi beberapa halaman dalam buku catatan yang sama.
Sebuah bus kota berwarna biru, reyot dan penuh asap, berhenti di depan kami. Jurusan Blok M.
"Aku naik yang ini," kata Seruni, sebuah keputusan yang dibuat dalam sepersekian detik. Acak. Seperti air.
Ia bangkit. Sebelum naik, ia menoleh padaku. "Jika kau suatu saat melihat gambar ikan yang berenang di atas aspal," katanya, "mungkin itu aku."
Lalu ia naik ke dalam bus itu, dan lenyap di antara tubuh-tubuh lain. Aku duduk di sana, menatap bus itu menjauh hingga menjadi titik biru kecil dan hilang di tikungan.
Aku sendirian lagi.
Keheningan yang datang kali ini berbeda dari semua keheningan sebelumnya. Bukan keheningan benteng, bukan pula keheningan ruangan yang menunggu diisi. Ini adalah keheningan yang bergema. Gema dari langkah kakinya, gema dari tawanya, gema dari suara arang di atas lantai.
Aku merasakan sesuatu di sakuku. Sketsa tanganku yang ia berikan. Aku mengeluarkannya. Selembar kertas yang rapuh. Satu-satunya properti yang kumiliki.
Bus lain datang, jurusan Tanjung Priok. Tanpa berpikir, aku bangkit dan naik. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di pelabuhan. Mungkin aku akan mengikuti jejak Darman, mencari kapal yang berlayar ke mana saja. Mungkin aku hanya akan duduk di dermaga, menatap laut, dan mencoba mengingat seperti apa rasanya tidak diawasi.
Aku duduk di dekat jendela, membiarkan angin pagi yang kotor menerpa wajahku. Kota bergerak di luar jendelaku, pemandangan yang sama, pertunjukan yang sama. Tapi sekarang aku melihatnya dengan mata yang berbeda. Aku melihat setiap wajah di jalanan, dan aku bertanya-tanya: mana dari mereka yang sedang bermain peran? Mana dari mereka yang menjadi penonton, dan mana yang menjadi mata-mata?
15
Bus membawaku ke utara, ke tempat di mana daratan menyerah pada lautan. Udara di sini terasa berbeda, asin dan berat oleh bau solar, ikan busuk, dan karat. Suara derek raksasa yang mengangkat peti kemas, peluit kapal yang serak, dan teriakan para kuli angkut menyatu menjadi sebuah simfoni industri yang menyebalkan dan tanpa jeda. Ini adalah mulut Jakarta, tempat kota ini menelan dan memuntahkan barang-barang dari seluruh dunia.
Aku berjalan menyusuri dermaga. Kapal-kapal kargo raksasa bersandar seperti binatang-binatang logam yang sedang tidur, badan mereka penuh dengan luka dan goresan dari perjalanan jauh. Di bawah bayangan mereka, manusia-manusia bergerak seperti semut. Para kuli panggul dengan punggung yang melengkung oleh beban, kulit mereka mengkilat karena keringat, otot-otot mereka menonjol seperti akar pohon.
Inilah “kaum proletar” yang sering dibicarakan dalam diskusi-diskusi di ruangan pengap. Di sini mereka bukan sebuah konsep teoretis. Mereka adalah daging dan tulang yang sedang ditukar dengan beberapa lembar rupiah. Mereka tidak punya waktu untuk membaca buku tentang “kesadaran kelas”. Kesadaran mereka ada di otototot mereka yang sakit, di perut mereka yang lapar, di panggilan untuk sif berikutnya. Mereka tidak berjuang untuk “masa depan”; mereka berjuang untuk melewati hari ini.
Aku duduk di atas sebuah tumpukan ban bekas, mengamati mereka. Ada semacam keindahan yang mengerikan dalam pemandangan ini. Kejujuran dari sebuah pertarungan yang telanjang antara manusia dan beban. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada slogan. Hanya kerja keras yang mematikan.
Pikiranku beralih kepada Darman, lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ingatan yang muncul bukan lagi tentang tawa atau tariannya. Ingatan ini terasa seperti bisikan di malam terakhir aku melihatnya.
"Semua orang ingin lari," katanya waktu itu, matanya menatap kosong ke dalam cangkir kopinya. "Mereka pikir jika mereka naik kereta atau kapal, mereka bisa meninggalkan masalah mereka. Bodoh. Kau adalah masalahmu sendiri. Kau adalah penjara yang kau bawa ke mana-mana. Lari dari kota ini hanya berarti menemukan penjara baru dengan pemandangan yang berbeda."
Ia menatapku. "Jangan pernah lari, Cuk. Itu terlalu mudah. Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin kau lenyap. Bertahanlah. Jadilah batu di sepatu mereka. Jadilah noda di kemeja putih mereka. Jadilah pengingat yang menyebalkan bahwa tidak semua orang bisa dijinakkan. Itu satu-satunya kemenangan yang tersisa."
Aku mengeluarkan sketsa dari sakuku. Gambar tanganku. Garis-garis arang di atas kertas rapuh. Sebuah pengingat. Bukan pengingat tentang Seruni. Tapi pengingat tentang diriku sendiri. Pengingat bahwa aku ada, bahwa tanganku nyata, bahwa aku pernah disentuh oleh dunia dan meninggalkan jejak, betapapun kecilnya.
Lautan terbentang di hadapanku, menawarkan janji kelupaan dan jarak. Sebuah kapal membunyikan peluitnya, bersiap untuk berangkat ke sebuah pelabuhan yang tak kuketahui namanya. Untuk sesaat, aku merasakan godaan itu. Godaan untuk menjadi salah satu penumpang, untuk lenyap, untuk menjadi tidak lebih dari sebuah nama dalam daftar manifes.
Tapi kata-kata Darman masih bergema di kepalaku. Jangan pernah lari.
Aku melipat kembali sketsa itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam sakuku. Aku bangkit dari tumpukan ban bekas. Aku tidak berjalan ke arah loket tiket. Aku tidak berjalan ke arah kapal-kapal yang akan berangkat.
Aku berbalik, dan mulai berjalan kembali ke arah kota.
Aku tidak punya tujuan. Aku tidak punya rencana. Aku tidak punya rumah. Aku tidak punya apa-apa. Tapi aku punya diriku sendiri. Dan aku tidak akan membawa diriku ini pergi bersembunyi.
Aku akan membawanya kembali ke jantung sirkus. Kembali ke tengah-tengah para penyembah hantu, para penjual mimpi, dan para mata-mata yang lelah. Aku tidak akan melawan mereka. Aku tidak akan bergabung dengan mereka. Aku hanya akan ada di sana. Berjalan di antara mereka, bernapas di udara yang sama, menjadi sebuah banalitas yang tidak bisa mereka kategorikan.
Aku berjalan menuju halte bus terdekat. Aku akan kembali ke Rawamangun, ke Senen, ke Cikini. Aku akan kembali ke jalanan yang kukenal. Ini bukan kepulangan, melainkan sebuah pernyataan. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan diriku sendiri, mengusirku dari satu-satunya wilayah yang kumiliki: keberadaanku di sini, saat ini.
16
Kembali ke kota setelah mengucapkan selamat tinggal pada lautan terasa seperti dengan sengaja masuk kembali ke dalam ruangan yang pengap setelah menghirup udara segar. Bus yang kunaiki berjalan merayap, terjebak dalam kemacetan sore. Wajah-wajah di luar jendela masih sama, terburu-buru, lelah, atau kosong. Tapi kini aku melihatnya dengan cara yang baru. Aku bukan lagi seorang pengamat yang sinis. Aku adalah salah satu dari mereka, terjebak dalam mesin yang sama, tapi dengan kesadaran penuh akan jeruj-ijeruji tak terlihat yang mengurung kami.
Aku turun di dekat stasiun Cikini, bukan karena ada tujuan, tapi karena di sanalah Seruni pernah membawaku ke kamarnya. Aku berjalan menyusuri jalan yang sama, melewati rumah tua dengan paviliun di belakangnya. Aku berhenti sejenak di seberang jalan, menatap ke arah jendela kamarnya di lantai dua. Jendelanya tertutup. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mungkin sudah ada penghuni baru di sana, seseorang yang tidak menggambar bianglala yang kesepian atau menempelkan sketsa arang di dinding. Atau mungkin kamar itu masih kosong, menyimpan gema dari kehadiran kami. Aku tidak mencoba mencari tahu. Itu bukan lagi duniaku. Itu hanya sebuah stasiun yang pernah kusinggahi.
Rasa lapar kembali datang, sebuah pengingat yang setia akan kebutuhan dasar tubuh. Kali ini aku tidak punya Bang Udin atau sisa lauk dari Darman. Aku hanya punya diriku sendiri. Aku berjalan terus, melewati restoran-restoran yang memajang makanan lezat di balik etalase kaca. Aku melewati mereka tanpa rasa iri, hanya dengan pengakuan sederhana akan sebuah fakta: makanan itu bukan untukku.
Aku berakhir di Taman Ismail Marzuki. Tempat yang sama di mana aku pernah menertawakan para penyair. Malam ini, aku datang bukan sebagai kritikus, tapi sebagai seorang yang butuh tempat untuk duduk tanpa diusir. Aku duduk di salah satu bangku beton, di bawah cahaya lampu taman yang redup.
Di pelataran, sebuah kelompok teater sedang latihan. Gerakan mereka kaku, dialog mereka diucapkan dengan penekanan yang berlebihan. Mereka sedang mencoba menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Mereka sedang “berkesenian”. Aku mengamati mereka, tapi kali ini tanpa sinisme. Aku hanya melihat sekumpulan manusia yang mencoba mencari cara untuk bersuara, betapapun canggungnya cara itu.
Seorang lelaki tua duduk di bangku yang sama denganku, menjaga jarak. Ia mengenakan kemeja batik yang warnanya sudah kusam dan celana pantalon. Ia membuka bekal dari sebuah rantang kecil: nasi dan sepotong ikan asin. Baunya yang khas menguar di udara malam.
Ia melihatku melirik ke arah rantangnya. Aku cepat-cepat membuang muka, merasa malu karena telah menunjukkan rasa laparku.
"Belum makan, Mas?" tanyanya. Suaranya pelan dan serak.
Aku hanya menggeleng.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menggeser rantangnya sedikit ke arahku. Sebuah undangan tanpa kata. Aku ragu. Tapi perutku membuat keputusan untukku. Aku menggeser tubuhku mendekat.
Kami makan bersama dalam diam, dari satu rantang. Nasi dan ikan asin. Aku tidak pernah tahu nama lelaki tua itu. Aku tidak bertanya pekerjaannya apa atau di mana ia tinggal. Ia juga tidak bertanya apa-apa padaku. Kami hanya dua orang asing yang berbagi makanan di sebuah bangku taman. Sebuah transaksi kehangatan yang paling purba dan paling jujur.
Setelah makan, lelaki tua itu membereskan rantangnya, mengangguk sedikit ke arahku, lalu pergi, lenyap di antara kerumunan. Ia datang dan pergi seperti hantu yang baik.
Aku duduk di sana sendirian, rasa lapar di perutku telah berganti dengan kehangatan yang aneh. Aku tidak tahu apakah ini kebetulan, atau apakah ini cara alam semesta mempermainkanku. Memberiku pertolongan-pertolongan kecil yang tak terduga, hanya agar aku terus berjalan, terus bertahan di dalam sirkus ini.
Aku teringat kata-kata terakhir Darman. Jadilah batu di sepatu mereka.
Malam itu, aku menemukan cara untuk menjadi batu. Di dekat Planetarium, ada dinding besar yang kosong. Aku berjalan ke sana. Aku tidak punya cat, tidak punya arang. Aku hanya punya kuku jariku.
Dengan ujung kuku-ku, aku mulai menggores dinding yang berlumut itu. Aku tidak menggambar ikan atau layang-layang. Aku hanya menulis satu kata, berulang-ulang, hingga memenuhi sebagian dinding itu.
AKU. AKU. AKU. AKU. AKU
Tulisan itu nyaris tak terlihat di bawah cahaya lampu yang redup. Goresan-goresan dangkal di atas permukaan yang kotor. Mungkin besok pagi tidak akan ada yang menyadarinya. Mungkin hujan akan menghapusnya. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah aku telah melakukannya. Aku telah meninggalkan jejak. Aku telah mengklaim sebuah ruang, betapapun kecilnya, betapapun fananya.
17
Aku menghabiskan hari berikutnya dengan berjalan kaki. Sebuah ziarah tanpa tujuan suci, melewati jalan-jalan yang sama yang membentuk peta penjaraku. Aku kembali ke Pasar Senen, bukan untuk mencari wajah, tapi untuk mencari kebisingan. Kebisingan pasar adalah jenis kebisingan yang jujur. Teriakan para pedagang, tawar-menawar yang sengit, derit gerobak dorong. Itu adalah suara kehidupan yang direduksi menjadi bentuknya yang paling dasar: transaksi.
Di tengah kerumunan itu, sebuah suara memanggil namaku. Bukan namaku yang sekarang, tapi nama lamaku. Sebuah nama yang sudah lama kukubur, sebuah fosil dari zaman lain.
"Amir?"
Aku berbalik. Untuk sesaat, aku tidak mengenali wajah di hadapanku. Wajah seorang pria berusia akhir tiga puluhan, sedikit buncit, dengan rambut yang mulai menipis dan kemeja lengan pendek yang disetrika rapi. Tapi matanya... mata itu tidak berubah. Mata yang sama yang dulu pernah menyala-nyala dengan api keyakinan.
"Guntur?" jawabku, lebih sebagai pertanyaan retoris.
Ia tersenyum, senyum seorang pramujual yang lelah. "Luar biasa. Kukira kau sudah hilang ditelan bumi." Guntur. Dulu ia adalah orator terbaik di kelompok kami. Suaranya bisa membuat slogan-slogan paling basi terdengar seperti wahyu dari surga. Sekarang, suaranya terdengar seperti suara pegawai negeri yang menunggu jam pulang kantor.
"Bumi belum menginginkanku," kataku.
Kami berdiri dalam keheningan yang canggung, terpisah oleh arus orang-orang yang membawa kantong-kantong belanjaan. Ia telah menjadi bagian dari mereka. Aku masih menjadi penonton.
"Kau... kerja di mana sekarang?" tanyanya, sebuah pertanyaan standar untuk mengisi keheningan.
"Di mana saja yang membayarku," jawabku.
"Kau sendiri?"
"Aku di departemen perdagangan," katanya, sedikit terlalu cepat. "Bagian statistik. Banyak angka, sedikit makna. Tapi cukup untuk menyekolahkan anak."
Anak. Keluarga. Angka. Ia telah menukar satu set hantu dengan set hantu yang lain. Hantu yang lebih kecil, lebih domestik, tapi sama-sama menuntut.
"Aku masih sering memikirkan masa-masa dulu," katanya, matanya menerawang. "Masa-masa di bukit itu. Kita gila waktu itu, ya?"
"Kau yang gila," kataku. "Aku hanya ikut-ikutan."
Aku menatapnya. Ia tidak mengerti. Ia tidak akan pernah mengerti. Baginya, Darman adalah sebuah banalitas yang mengganggu keseriusan perjuangan mereka. Baginya, disiplin dan organisasi adalah segalanya. Ia tidak melihat bahwa “disiplin” yang ia agung-agungkan itu hanyalah nama lain untuk kepatuhan, untuk penyerahan diri yang begitu buta.
"Disiplin untuk apa, Guntur?" tanyaku pelan. "Untuk gagal secara teratur?"
Wajahnya mengeras. Aku telah menyentuh luka lamanya. "Kita punya potensi. Seandainya saja semua orang, terutama Darman, mau mengikuti garis komando..."
"Darman tidak percaya pada garis," kataku. "Dia percaya pada lingkaran. Dan kadang-kadang, pada botol yang pecah."
Kami kembali terdiam. Kami adalah dua veteran dari perang yang sama, tapi kami pulang dengan cerita yang sama sekali berbeda. Baginya, itu adalah kisah heroik yang gagal. Bagiku, itu adalah lelucon yang panjang dan menyedihkan.
"Aku harus pergi," katanya, sembari melihat jam tangannya. "Ada rapat. Kau tahu, angka-angka tidak akan menunggu."
Ia menepuk pundakku. Sebuah gerakan yang canggung dan asing. "Jaga dirimu, Mir. Jangan terlalu banyak berpikir. Tidak baik untuk kesehatan."
Lalu ia berjalan pergi, menghilang di antara kerumunan, kembali ke dunianya yang penuh dengan angka dan tenggat waktu. Aku berdiri di sana, di tengah bisingnya Pasar Senen. Pertemuan itu tidak meninggalkan rasa rindu atau nostalgia. Ia hanya meninggalkan rasa hampa yang dingin.
Aku baru saja melihat hantu dari masa laluku. Dan hantu itu ternyata jauh lebih menakutkan dari yang kuingat. Bukan karena jahat, tapi karena ia telah menjadi begitu biasa. Ia telah berdamai dengan penjaranya, bahkan meng-hiasnya dengan foto keluarga dan slip gaji.
18
Pertemuanku dengan Guntur meninggalkan endapan aneh di dasar pikiranku, seperti ampas kopi yang tidak mau turun. Aku melihat hantu, bukan dari masa lalu, tapi dari sebuah masa depan yang berhasil kuhindari. Masa depan yang penuh dengan cicilan rumah, rapat-rapat membosankan, dan senyum yang disetrika rapi.
Aku duduk di kamarku selama dua hari, hampir tidak keluar. Aku tidak menulis. Aku tidak membaca. Aku hanya menatap dinding. Aku membiarkan ingatan-ingatan itu datang, tidak lagi melawannya. Dan ingatan yang paling kuat, yang paling menuntut, adalah ingatan tentang malam terakhir di Bukit Partisan.
Saat itu kami masih percaya. Percaya pada kata-kata, pada sejarah, pada peran yang kami berikan pada diri kami sendiri. Kami akan melakukan “aksi” terbesar kami. Sebuah pabrik sepatu di pinggir kota, yang buruhnya sedang bergolak karena upah yang tidak dibayar. Rencananya sempurna, setidaknya di atas kertas. Kami akan menyusup saat pergantian sif malam, menyebarkan pamflet-pamflet yang telah kami tulis dengan darah dan keringat (atau lebih tepatnya, dengan tinta stensil dan kopi pahit), lalu memprovokasi pemogokan massal. Kami akan menjadi percikan api yang menyulut padang ilalang. Kami merasa seperti para pahlawan dalam novel-novel yang kami baca.
Malam itu, di bukit, udara terasa dingin dan tegang. Guntur, dalam versi mudanya yang kurus dan berapi-api, memberikan pengarahan terakhir. Ia bicara tentang “momentum historis”, tentang “solidaritas kelas”, tentang “keberanian”. Ia adalah seorang pendeta yang sedang memberkati pasukannya sebelum perang salib. Kami semua mendengarkan dengan khidmat.
Kecuali Darman.
Ia duduk agak jauh dari kami, di dekat api unggun kecil, memanggang sepotong ubi yang ia curi dari kebun penduduk. Ia tidak mendengarkan Guntur. Ia hanya menatap api, sesekali menyuap ubi panas itu dengan mulutnya, lalu meniup-niup jarinya yang kepanasan. Di sampingnya, sebotol anggur merah cap Orang Tua tergeletak miring.
Setelah Guntur selesai berpidato, suasana menjadi hening. Hanya suara jangkrik dan desis api. Semua orang tegang, menunggu jam “H”.
"Jadi," kata Darman tiba-tiba, suaranya memecah keheningan. "Setelah kita menjadi pahlawan malam ini, apa selanjutnya? Apakah nama kita akan dicatat dalam buku sejarah?"
"Ini bukan tentang nama, Man. Ini tentang membebaskan kaum tertindas," jawab Guntur, nadanya jengkel.
Darman tertawa. "Membebaskan mereka? Dari apa? Dari gaji kecil? Lalu setelah itu apa? Mereka akan tetap pulang ke istri yang cerewet, ke anak-anak yang minta jajan, ke tagihan listrik yang harus dibayar. Mereka hanya akan berganti masalah. Kau tidak membebaskan siapa-siapa, Guntur. Kau hanya ingin merasa menjadi dewa."
Ia bangkit, berjalan ke tengah-tengah kami. Ia mengambil setumpuk pamflet yang tergeletak rapi, siap untuk didistribusikan. Pamflet yang berisi analisis tajam dan seruan-seruan heroik.
"Ini," katanya sambil mengangkat tumpukan pamflet itu. "Ini adalah penjara kalian. Kalian pikir kata-kata ini akan membebaskan orang lain, padahal kata-kata inilah yang memenjarakan kalian. Kalian terkurung di dalam ide-ide kalian sendiri."
Sebelum ada yang bisa mencegahnya, ia melemparkan seluruh tumpukan pamflet itu ke dalam api unggun.
Kami semua terperangah. Api seketika menyala lebih besar, melahap kertas-kertas itu. Aku bisa melihat huruf-huruf yang kami ketik dengan susah payah menggulung, menghitam, lalu lenyap menjadi abu yang beterbangan ke langit malam. "Momentum historis" kami berubah menjadi asap.
Guntur melompat, mencoba menyelamatkan beberapa lembar yang tersisa, tapi sudah terlambat. Wajahnya merah padam karena marah, karena tidak percaya. "Apa yang kau lakukan, gila?!" teriaknya.
Darman hanya berdiri di sana, menatap api dengan tenang. Wajahnya yang tersorot dengan cahaya api tampak seperti topeng seorang dewa pagan yang kejam sekaligus damai.
"Aku melakukan satu-satunya aksi yang nyata malam ini," katanya pelan. "Aku membebaskan kalian. Bukan dari negara, bukan dari kapitalisme. Tapi dari ilusi kalian sendiri. Dari beban menjadi pahlawan."
Ia menatap kami satu per satu. "Perjuangan yang sesungguhnya tidak ada di pabrik itu. Perjuangan yang sesungguhnya ada di sini," ia menunjuk kepalanya sendiri. "Perjuangan untuk tidak menjadi budak dari ide-ide yang kalian puja. Sekarang, kita tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada rencana, tidak ada misi suci. Kita hanya sekumpulan anak muda di atas bukit, di tengah malam, dengan api unggun dan sebotol anggur. Tidakkah ini lebih indah?"
Malam itu, kelompok kami pecah. Guntur dan beberapa lainnya pergi dengan sumpah serapah, menyebut Darman pengkhianat. Yang lain hanya duduk terpaku dalam kebingungan.
Aku? Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Tapi aku tidak pergi bersama Guntur. Aku tetap di sana, duduk di dekat api, menatap abu dari perjuangan kami. Darman duduk di sampingku, menyodorkan botol anggurnya.
"Minumlah," katanya. "Ini rasa abu dari sebuah ide yang mati. Rasanya tidak enak, tapi setidaknya jujur."
Aku menenggak anggur itu. Rasanya memang tidak enak. Tapi itu adalah rasa paling jujur yang pernah kucecap. Rasa dari sebuah kebebasan yang begitu banal. Sebuah kebebasan dari tujuan.
Lamunanku buyar. Aku masih di kamarku. Dinding di hadapanku masih sama. Tapi aku melihatnya dengan lebih jelas sekarang. Pertemuanku dengan Guntur tempo hari bukan hanya pertemuan dengan masa lalu. Itu adalah pertemuan dengan diriku sendiri di persimpangan jalan itu. Ia memilih jalan yang satu. Aku, tanpa kusadari, telah memilih jalan yang lain. Jalan yang ditunjukkan oleh Darman. Jalan yang tidak menuju ke mana-mana, tapi setidaknya, jalan itu adalah milikku sendiri.
19
Kesadaran itu tidak membawa kelegaan. Ia hanya membawa kejernihan yang dingin. Aku telah memilih sebuah jalan, atau lebih tepatnya, sebuah ketiadaan jalan. Dan konsekuensinya adalah kesendirian yang absolut. Tidak ada lagi kelompok, tidak ada lagi Seruni, bahkan tidak ada lagi Darman kecuali sebagai hantu di dalam kepala. Yang ada hanya aku, kamar ini, dan kota di luar yang terus berputar dengan aturannya sendiri.
Aku butuh uang. Kopi sudah habis, rokok tinggal beberapa batang. Perutku mulai mengirimkan sinyal-sinyal purbanya. Kejernihan filosofis tidak bisa mengisinya. Aku berjalan keluar, kembali ke dunia transaksi.
Aku mendatangi sebuah kantor penerbit kecil di daerah Kramat, tempat aku kadang mendapatkan pekerjaan terjemahan lepas. Kantornya sempit dan berantakan, berbau kertas tua dan debu. Pemiliknya, Pak Suryo, seorang pria tua berkacamata tebal yang selalu tampak lelah oleh dunia, sedang memeriksa naskah dengan kening berkerut.
"Ah, kau," katanya saat melihatku, tanpa mengangkat kepala. "Kukira kau sudah jadi pertapa."
"Pertapa juga butuh makan," jawabku.
Ia menghela napas, lalu mendorong setumpuk kertas tebal ke arahku. "Ini. Terjemahkan. Biografi seorang jenderal. Penuh dengan kebohongan dan pujian diri. Tapi mereka membayar mahal untuk itu." Aku mengambil naskah itu. Di sampulnya, foto seorang jenderal yang kukenali wajahnya dari koran-koran. Wajah yang sama yang pernah ditunjuk Darman di warung, wajah hantu besar itu. Sekarang aku harus menghabiskan hari-hariku menerjemahkan kebohongannya, menjadi corong bagi propagandanya, hanya untuk beberapa lembar rupiah. Ironi adalah makanan sehari-hari di negeri ini.
"Satu bulan," kata Pak Suryo. "Dan jangan terlalu jujur dalam terjemahanmu. Mereka tidak suka itu."
Aku membawa pulang naskah itu. Rasanya lebih berat dari kamus mana pun. Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah sebuah kompromi, sebuah transaksi di mana aku menjual sebagian kecil dari diriku. Aku akan mengubah kebohongan dari satu bahasa ke bahasa lain.
Malam itu, aku mulai bekerja. Aku duduk di depan mesin tik, dengan biografi sang jenderal di sebelah kiriku dan kamus di sebelah kananku. Kata-kata sang jenderal begitu muluk, begitu penuh dengan heroisme dan pengorbanan diri. Ia berbicara tentang “cintanya pada rakyat”, tentang “dedikasinya pada nusa dan bangsa”. Aku mengetiknya ulang dalam bahasa Indonesia, dan jari-jariku terasa kotor.
Setiap kalimat adalah sebuah kebohongan kecil. Setiap paragraf adalah sebuah konstruksi mitos. Aku adalah seorang kuli yang sedang ikut membangun sebuah monumen palsu.
Di tengah malam, saat aku sedang menerjemahkan bagian tentang bagaimana sang jenderal dengan “gagah berani” menumpas sebuah “pemberontakan”, aku berhenti. Aku merasa mual. Aku bangkit, berjalan ke jendela, dan menyalakan sebatang rokok.
Hujan baru saja reda. Udara malam terasa bersih. Dari kejauhan, aku mendengar suara sirene sayup-sayup. Sebuah suara yang selalu mengingatkanku bahwa di balik kedamaian yang dipaksakan ini, ada kekerasan yang terus bekerja.
Aku teringat pada mural kami di warung Bang Udin. Gambar-gambar aneh yang tidak berarti apa-apa, tapi setidaknya jujur dalam keanehannya. Aku teringat pada goresan kuku di dinding dekat Planetarium. Sebuah aksi vandal yang sia-sia, tapi lahir dari dorongan yang murni.
Lalu aku menatap kembali tumpukan kertas di mejaku. Biografi sang jenderal. Ini adalah kebalikan dari semua itu. Ini adalah ketidakjujuran yang diproduksi secara massal, dicetak di atas kertas yang bagus, dan akan dijual di toko-toko buku besar.
Sebuah pikiran gila melintas di kepalaku. Sebuah pikiran yang diilhami oleh Darman.
Aku kembali ke mesin tikku. Aku melanjutkan terjemahan, tapi dengan cara yang berbeda. Aku tidak mengubah substansinya. Aku tetap menerjemahkan kebohongan-kebohongan itu. Tapi di antara kalimat-kalimat sang jenderal, aku mulai menyelipkan kata-kataku sendiri.
Di tengah paragraf tentang “pertumbuhan ekonomi”, aku menyelipkan satu kalimat: seorang anak menangis karena balonnya lepas. Di antara puja-puji tentang “stabilitas politik”, aku mengetik: lantai keramik terasa dingin saat kau tidur di atasnya. Di bagian akhir bab tentang “kepahlawanan militer”, aku menambahkan: ia hanya ingin secangkir kopi panas.
Kalimat-kalimat itu adalah penyusup. Virus-virus kecil di dalam sebuah program besar. Mereka tidak akan mengubah narasi utama. Mungkin tidak akan ada yang menyadarinya. Editor mungkin akan mengira itu hanya kesalahan ketik yang aneh. Tapi aku tahu mereka ada di sana.
Aku bekerja hingga pagi dengan semangat yang baru, semangat seorang penyabot. Aku tidak lagi merasa seperti seorang kuli. Aku merasa seperti seorang teroris. Teroris semantik. Aku menanam bom-bom kecil yang terbuat dari kejujuran di tengah ladang kebohongan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin naskahku akan ditolak. Mungkin aku akan masuk daftar hitam. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Itu tidak penting. Yang penting adalah aku telah menemukan cara untuk bertarung. Bukan dengan pamflet, bukan dengan demonstrasi. Tapi dengan caraku sendiri. Dengan menyelundupkan dunia kecilku—dunia anak yang menangis, lantai yang dingin, secangkir kopi panas—ke dalam monumen besar mereka. Aku menjadi batu di sepatu mereka, dengan cara yang paling tidak terduga. Dan dalam sabotase sunyi itu, aku menemukan kembali kepemilikanku.
20
Sebulan kuhabiskan hidupku dalam dunia paralel. Siang hari, aku adalah Amir, penerjemah patuh yang mengubah kebohongan sang jenderal menjadi prosa bahasa Indonesia yang (agak) indah. Aku mengetik tentang “visi strategis”-nya, tentang “kebijaksanaannya” dalam mengambil keputusan, tentang “kerendahan hatinya” di hadapan rakyat. Aku adalah seorang pemalsu profesional.
Tapi di malam hari, setelah kopi dan rokok terakhir, aku menjadi diriku yang lain. Aku menjadi penyabot. Di antara baris-baris pujian itu, aku menanam ranjau-ranjau kecilku. Kalimat-kalimat yang tidak pada tempatnya, yang muncul seperti bisikan dari dunia lain.
Jenderal itu meninjau barisan pasukan dengan tatapan tajam, memastikan setiap detail sempurna. Lantai stasiun terasa kotor saat kau menggambar di atasnya. Disiplin adalah kunci kemenangan, tegasnya dalam hati.
Dengan keberanian luar biasa, ia memimpin operasi penumpasan di daerah pedalaman. Seorang lelaki tua berbagi ikan asinnya di bangku taman. Keutuhan wilayah negara adalah harga mati.
Di masa tuanya, ia gemar merawat kebun anggreknya, sebuah bukti dari jiwanya yang halus. Musik tanpa nama dari sebuah kaset bekas. Ia sering berkata bahwa bunga adalah puisi Tuhan.
Aku melakukannya dengan hati-hati. Aku menempatkan kalimat-kalimat itu di tempat yang paling tidak terduga, memisahkannya dari konteks, membuatnya terdengar seperti gangguan sinyal atau kesalahan cetak yang puitis. Aku tahu kemungkinan besar semua ini akan dihapus oleh editor yang jeli. Tapi kemungkinan itu tidak penting. Yang penting adalah prosesnya. Tindakan sabotase itu sendiri adalah kemenangannya. Aku telah menggunakan alat mereka—bahasa—untuk mencemari pesan mereka.
Tepat satu bulan kemudian, aku menyerahkan naskah itu kepada Pak Suryo. Tumpukan kertas yang tebal, rapi, dan penuh dengan kebohongan yang telah kuracuni. Pak Suryo hanya meliriknya sekilas, mengangguk, lalu memberiku sebuah amplop cokelat berisi uang. Transaksi selesai. Ia tidak membaca naskahku. Ia hanya memenuhi pesanan.
Dengan uang di saku, aku merasa seperti seorang agen rahasia yang baru saja menyelesaikan misinya. Aku berjalan keluar dari kantor penerbit itu, kembali ke jalanan Jakarta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa seperti seorang korban atau buronan. Aku merasa seperti seorang pemain. Seorang pemain yang curang, tentu saja, tapi tetap seorang pemain.
Aku tidak langsung pulang. Aku berjalan ke arah Cikini. Aku membeli sebungkus kopi dan sebungkus rokok. Kemewahan kecil yang terasa seperti medali. Lalu, karena dorongan yang tak bisa kujelaskan, aku berjalan ke arah jalan tempat kamar kos Seruni dulu berada.
Aku tidak mengharapkan apa-apa. Tapi saat aku berbelok ke gang itu, aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti. Di dinding sebuah rumah kosong di ujung gang, sebuah gambar baru telah muncul. Bukan mural besar seperti di warung Bang Udin. Hanya sebuah gambar kecil yang dibuat dengan arang, di tempat yang tidak mencolok.
Gambar seekor ikan.
Ikan itu tidak berenang di air. Ia seolah melayang di udara, di atas retakan-retakan dinding. Sisiknya digambar dengan detail, matanya menatap kosong ke depan. Gayanya khas, aku langsung mengenalinya. Itu tangan Seruni.
Ia ada di sekitar sini. Ia masih hidup. Ia masih meninggalkan jejak.
Aku berdiri di sana lama, menatap gambar ikan itu. Ini adalah sebuah pesan. Bukan untukku secara pribadi, mungkin. Tapi sebuah pesan untuk dunia, atau untuk dirinya sendiri. Sebuah pernyataan bahwa ia masih ada, masih bernapas, masih mengubah permukaan kota yang kotor ini menjadi halaman buku sketsanya. Aku di sini.
Aku tidak mencoba mencarinya. Menemukannya akan merusak segalanya. Pertemuan kembali hanya akan melahirkan ekspektasi dan kekecewaan. Kami lebih baik menjadi seperti ini: dua satelit yang mengorbit di kota yang sama, sesekali menangkap sinyal samar dari satu sama lain, sebuah bukti bahwa kita tidak sendirian dalam kesunyian kita.
Aku menyalakan sebatang rokok. Aku menatap gambar ikan di dinding, lalu aku teringat pada kalimat-kalimat yang kutanam di dalam biografi sang jenderal. Kami berdua, dengan cara kami masing-masing, sedang melakukan hal yang sama. Kami adalah para penyelundup. Ia menyelundupkan keindahan kecil ke dalam keburukan kota. Aku menyelundupkan kejujuran kecil ke dalam kebohongan besar.
Kami adalah para partisan yang tak terlihat, berperang dalam perang yang tak pernah diumumkan. Perang kami bukan untuk merebut kekuasaan atau mengubah dunia. Perang kami lebih sederhana, dan mungkin lebih penting. Perang untuk merebut kembali hak milik atas sepotong dinding, sebaris kalimat, sebuah momen. Perang untuk membuktikan bahwa di antara semua hantu besar yang berkuasa, suara-suara kecil kami masih merengek, atau tidak berguna sama sekali.
Aku mengembuskan asap rokok ke udara. Aku tersenyum. Permainan ini ternyata jauh lebih menarik dari yang kukira.
21
Uang dari terjemahan itu memberiku kemewahan yang langka: beberapa minggu tanpa perlu memikirkan cara menyambung hidup. Aku bisa kembali menjadi seorang pengamat, seorang filsuf jalanan yang modalnya hanya sebatang rokok dan sepasang sepatu yang solnya mulai menipis.
Aku menghabiskan hari-hariku dengan menyusuri kembali peta kota ini, tapi kali ini dengan sebuah misi rahasia. Aku menjadi seorang pemburu. Pemburu ikan.
Aku tidak mencarinya setiap hari. Aku membiarkan diriku tersesat, berjalan ke mana pun kakiku ingin membawaku. Tapi di setiap sudut, di setiap dinding, mataku selalu awas. Mencari jejaknya.
Dan aku menemukannya lagi. Di tempat-tempat yang paling tidak terduga. Sebuah ikan kecil yang digambar dengan arang di balik halte bus di dekat Glodok. Seekor ikan yang lebih besar, seolah sedang melompat, di pintu sebuah ruko tua yang sudah bangkrut di Jatinegara. Seekor ikan yang nyaris abstrak, hanya beberapa garis lengkung, di tiang jembatan layang di Grogol.
Setiap gambar adalah sebuah penemuan, sebuah konfirmasi. Ia ada di luar sana. Ia masih bergerak. Ia masih mengubah kota ini menjadi kanvasnya. Gambar-gambar itu adalah surat kalengnya untuk dunia, atau mungkin hanya untuk dirinya sendiri. Aku hanyalah pembaca yang tak sengaja melihatnya.
Perburuan ini memberiku sebuah tujuan yang aneh. Sebuah narasi pribadi di tengah hiruk pikuk Jakarta. Orang lain mungkin mengejar karier, mengejar cinta, mengejar kekayaan. Aku mengejar gambar ikan di dinding.
Suatu sore, perburuanku membawaku ke sebuah kawasan pemakaman tua di Tanah Abang. Bukan pemakaman mewah, tapi pemakaman rakyat biasa. Nisan-nisan semen yang sederhana, beberapa sudah retak dan ditumbuhi lumut. Di sini, kebisingan kota terasa jauh, diredam oleh pohon-pohon kamboja dan keheningan para arwah.
Aku berjalan di antara nisan-nisan, membaca nama-nama dan tanggal-tanggal yang tertera. Setiap nisan adalah sebuah novel yang telah tamat. Kisah-kisah yang tak pernah ditulis, tentang cinta dan kehilangan, tentang kemenangan-kemenangan kecil dan kekalahan-kekalahan besar. Ini adalah perpustakaan yang paling jujur.
Dan di sanalah aku menemukannya. Di dinding belakang sebuah mausoleum kecil yang catnya sudah mengelupas. Gambar ikan terbesar yang pernah kulihat. Dibuat bukan dengan arang, tapi dengan cat semprot hitam. Ikan itu tampak sedang berenang naik, menuju langit. Matanya tidak kosong seperti gambar-gambar lainnya. Di matanya, ada semacam kilatan, semacam tantangan.
Di bawah gambar ikan itu, ada sebuah tulisan kecil. Goresan cat semprot yang hampir tidak terbaca.
DI SINI TIDUR SEORANG LELAKI YANG MENCOBA MENELAN LAUTAN.
Aku berdiri terpaku. Jantungku berdebar lebih kencang. Ini bukan sekadar jejak. Ini adalah sebuah alamat. Sebuah penanda.
Aku menatap ke sekeliling. Pemakaman itu sepi. Hanya ada beberapa orang penggali kubur yang sedang beristirahat di bawah pohon, merokok dan tertawa. Aku berjalan mendekati mereka.
"Permisi, Pak," kataku pada salah satu dari mereka, seorang lelaki tua dengan kulit legam. "Mau tanya. Ada yang tahu makamnya Darman?"
Lelaki tua itu menatapku, matanya yang berpengalaman menyipit. "Darman yang mana, Dik? Di sini yang namanya Darman lebih banyak dari pohon kamboja."
"Saya tidak tahu nama lengkapnya," kataku. "Dia... dia orang yang berbeda."
Seorang penggali kubur lain yang lebih muda tertawa. "Di sini semua orang juga dulunya berbeda, Bang. Sekarang sama saja, jadi tanah."
Aku hampir menyerah, saat lelaki tua itu tibatiba berkata, "Tunggu dulu. Darman yang suka bawa botol itu, ya? Yang kalau datang ke sini bukan ziarah, tapi malah ngobrol sama kita-kita?"
"Iya, Pak. Itu dia," jawabku, suaraku sedikit bergetar.
Lelaki tua itu menghela napas. Ia menunjuk ke arah sebuah gundukan tanah yang tidak terawat di sudut pemakaman, di dekat pagar pembatas. Tidak ada nisan, hanya sebatang kayu yang ditancapkan seadanya.
"Di situ," katanya pelan. "Sudah hampir setahun. Ditemukan mengambang di kali dekat pelabuhan. Tidak ada keluarga yang mencari. Jadi kami kuburkan saja di sini."
Duniaku berhenti berputar. Suara tawa para penggali kubur, suara angin yang berdesir, suara lalu lintas dari kejauhan, semuanya lenyap. Yang ada hanya aku, dan gundukan tanah itu.
Jadi begini akhirnya. Lelaki yang mencoba menelan lautan, akhirnya ditelan oleh sebuah kali yang kotor. Pahlawan anti-heroku, filsuf pemabukku. Ceritanya telah tamat. Ditutup dengan cara yang paling banal, paling tidak puitis. Tidak ada ledakan. Tidak ada pertempuran terakhir. Ia hanya... lenyap, dengan konyol.
Aku berjalan ke arah makamnya. Aku berjongkok di samping gundukan tanah itu. Aku tidak menangis. Aku tidak berdoa. Aku hanya menatap batang kayu yang tertancap di sana.
Seruni pasti sudah tahu. Gambar ikan dan tulisan di dinding mausoleum itu... itu adalah nisannya untuk Darman. Nisan yang lebih megah dan lebih jujur daripada semua marmer di pemakaman ini.
Aku duduk di sana hingga senja tiba. Aku tidak memikirkan apa-apa. Kepalaku kosong. Semua teori, semua sinisme, semua ingatan, semuanya terasa tidak berguna di hadapan fakta yang sederhana dan brutal ini: sebuah gundukan tanah.
Hantu yang selama ini menemaniku, yang menjadi kompas moral dan intelektualku, ternyata sudah lama menjadi tanah. Aku selama ini berbicara dengan orang mati.
Saat aku akhirnya bangkit untuk pergi, aku merasakan sesuatu yang baru. Bukan kesedihan. Bukan pula kemarahan. Tapi sebuah kebebasan yang aneh.
Aku bebas dari Darman.
Aku tidak lagi punya panutan.
Aku tidak lagi punya masa lalu untuk dijadikan standar. Aku benar-benar sendirian sekarang. Peta terakhirku telah terbakar.
Aku berjalan keluar dari pemakaman. Malam turun dengan cepat. Aku menatap ke arah kota, ke lampu-lampu yang mulai menyala. Aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu terasa seperti sebuah awal yang sesungguhnya. Cerita Darman telah tamat. Sekarang, aku harus mulai menulis ceritaku sendiri.
22
Aku tidak kembali ke makam itu. Ziarah adalah ritual untuk orang-orang yang masih percaya pada dialog dengan masa lalu. Bagiku, masa lalu telah menjadi gundukan tanah yang bisu. Darman tidak lagi ada di sana. Ia tidak lagi ada di mana pun, kecuali sebagai abu di dalam kepalaku, abu yang perlahan mulai mendingin dan mengeras menjadi batu.
Aku kembali ke kamar kosku. Ruangan itu terasa sama, tapi juga sama sekali berbeda. Dinding yang dulu seolah menjadi saksi bisu dari percakapan imajinerku dengan Darman, kini hanya dinding biasa. Mesin tik yang dulu terasa seperti alat untuk berdebat dengan hantu, kini hanya sebuah benda dari logam dan plastik. Aku telah kehilangan lawan bicaraku. Aku sendirian dalam arti yang paling telanjang.
Uang dari terjemahan biografi jenderal itu mulai menipis. Aku harus kembali ke dunia transaksi. Tapi aku tahu aku tidak bisa kembali ke Pak Suryo. Aku tidak bisa lagi menjadi penerjemah kebohongan, bahkan dengan sabotase-sabotase kecilku. Pekerjaan itu mengikatku pada dunia kata-kata, dunia ide-ide, dunia yang telah kutinggalkan di pemakaman.
Aku butuh pekerjaan yang berbeda. Pekerjaan yang tidak membutuhkan pikiranku. Pekerjaan yang hanya membutuhkan tubuhku, kehadiranku yang pasif. Pekerjaan yang membiarkan kepalaku kosong.
Aku menemukannya di sebuah pengumuman lusuh yang ditempel di tiang listrik: Dicari Penjaga Malam untuk Kompleks Pergudangan Marunda.
Marunda. Ujung Jakarta. Tempat di mana kota menyerah pada rawa-rawa dan laut. Tempat yang sempurna untuk menghilang.
Aku naik bus reyot ke sana. Perjalanan memakan waktu berjam-jam, melewati kawasan industri yang berasap, jalan-jalan yang rusak, dan perkampungan nelayan yang berbau amis. Ini adalah sisi lain Jakarta yang tidak pernah muncul di majalah atau film. Sisi yang nyata, yang bekerja, yang menderita dalam diam.
Kantor pengelola gudang itu hanya sebuah bilik kecil yang panas. Seorang pria gempal dengan bekas luka di pelipisnya mewawancaraiku. Ia tidak bertanya tentang ijazahku atau pengalaman kerjaku. Ia hanya menatapku lama, lalu bertanya, "Bisa berkelahi?"
"Tergantung siapa lawannya," jawabku.
Ia tertawa. "Di sini lawanmu hanya nyamuk, anjing liar, dan kantuk. Kau diterima."
Malam itu, aku memulai kehidupan baruku. Aku diberi sebuah senter besar, sebuah pentungan karet, dan sebuah pos jaga kecil yang terbuat dari seng. Tugasku sederhana: berjalan mengelilingi kompleks gudang yang luas ini setiap dua jam, dan memastikan semua pintu tetap terkunci.
Gudang-gudang itu menjulang di kegelapan seperti katedral-katedral kosong. Di dalamnya tersimpan ribuan benda yang tidak kumengerti: gulungan tekstil, tumpukan suku cadang mobil, karung-karung berisi bahan kimia yang berbau aneh. Benda-benda ini adalah dewa-dewa kecil dalam agama perdagangan. Siang hari, mereka dipuja, diangkut, ditransaksikan. Malam hari, mereka hanya tidur dalam gelap, dan aku adalah penjaganya.
Di antara patroli, aku duduk di pos jagaku. Aku tidak membaca. Aku tidak menulis. Aku hanya mendengarkan. Suara angin yang berembus dari laut, membawa serta bau garam. Suara lolongan anjing liar yang berebut teritori. Desis nyamuk di dekat telingaku.
Ini adalah keheningan yang berbeda. Bukan keheningan kamar kosku yang introspektif. Bukan pula keheningan pemakaman yang berat. Ini adalah keheningan industri. Keheningan mesinmesin yang sedang beristirahat.
Terkadang, aku berjalan ke ujung dermaga pribadi milik kompleks itu, menatap ke arah laut yang gelap. Aku tidak melihat wajah Seruni atau Darman di sana. Aku tidak melihat apa-apa selain kegelapan yang menyatu dengan langit.
Aku tidak lagi mencari jejak ikan di dinding. Aku tidak lagi berdebat dengan hantu. Aku telah berhenti menjadi seorang pemburu dan seorang arkeolog.
Sekarang, aku hanya seorang penjaga malam. Aku tidak memiliki apa-apa selain malam itu sendiri. Setiap malam adalah sebuah halaman kosong. Dan aku tidak punya kewajiban untuk menulis apa pun di atasnya. Aku hanya perlu melewatinya, dari senja hingga fajar, dengan mata terbuka. Menjadi saksi bisu dari tidur para dewa perdagangan. Menjadi hantu di antara katedral-katedral mereka yang kosong. Dan dalam kehampaan itu, dalam ketiadaan peran itu, aku menemukan sebuah kedamaian yang aneh. Kedamaian dari seseorang yang telah berhenti mencari
23
Malam-malam di Marunda mulai melebur menjadi satu, dibedakan hanya oleh fase bulan dan arah angin. Rutinitas adalah sebuah anestesi yang efektif. Patroli jam sepuluh. Kopi di pos jaga. Patroli jam dua belas. Melawan kantuk. Patroli jam dua. Suara jangkrik. Patroli jam empat. Langit timur mulai memucat. Fajar. Pulang. Tidur. Bangun. Kembali ke Marunda. Siklus ini menghapus ingatan, menghapus pemikiran. Tubuhku menjadi mesin yang diatur oleh jam. Kepalaku menjadi ruangan kosong yang hanya diisi oleh suara angin laut.
Kedamaian ini, kedamaian dari kehampaan, terasa seperti sebuah kemenangan. Tapi aku tahu, kedamaian seperti ini juga rapuh.
Suatu malam, kedamaian itu pecah. Bukan oleh perampok atau penyusup. Tapi oleh sebuah mobil sedan hitam yang berhenti di gerbang utama, tepat saat aku akan memulai patroli jam dua belas. Lampunya yang terang menyorotku, membutakan sesaat. Dari dalam mobil keluar dua orang. Mereka tidak mengenakan seragam, tapi cara mereka berjalan, cara mereka berdiri, semuanya berteriak: kekuasaan. Mereka adalah jenis orang yang sama yang pernah mengunjungi Seruni.
Salah satu dari mereka, yang berperawakan lebih kurus dan berkumis tipis, menghampiriku. "Kau penjaga malam di sini?" tanyanya. Suaranya datar, tanpa emosi.
"Benar," jawabku. Pentungan karet di tanganku tiba-tiba terasa sangat berat dan tidak berguna.
"Kami hanya ingin memeriksa salah satu gudang. Gudang nomor tujuh," katanya. Ia tidak meminta izin. Ia menegaskan.
Aku tahu gudang nomor tujuh. Isinya tumpukan kayu gelondongan yang berbau apek. Tidak ada yang istimewa. "Kuncinya ada di kantor," kataku.
Pria yang lebih kekar, yang sedari tadi hanya diam di belakang, melangkah maju. "Tidak perlu," katanya. Ia mengeluarkan sebuah linggis kecil dari balik jaketnya. Dengan sekali sentak yang kuat dan efisien, ia membobol gembok gudang itu. Suara logam yang patah terdengar sangat keras di tengah malam yang sunyi.
Mereka masuk ke dalam gudang, meninggalkanku di luar. Aku tidak diajak, juga tidak dilarang. Aku hanya menjadi penonton yang canggung. Aku bisa saja lari. Aku bisa saja pura-pura tidak melihat. Tapi aku tetap di sana. Rasa ingin tahu, atau mungkin kebodohan, menahanku.
Dari dalam gudang terdengar suara-suara benda yang digeser. Beberapa menit kemudian, mereka keluar. Di antara mereka, ada seorang pria ketiga. Wajahnya babak belur, salah satu matanya bengkak dan hampir tertutup. Ia berjalan tertatih, diapit oleh dua orang itu. Aku pernah melihat wajahnya. Di selebaran-selebaran stensilan, di poster-poster buram. Ia adalah seorang aktivis buruh yang dicari-cari, yang tulisannya sering kami baca di kelompok studi dulu. Seorang pahlawan bagi orang-orang seperti Guntur.
Saat mereka melewaku di bawah cahaya lampu pos jaga, mata pria itu bertemu dengan mataku. Matanya yang tidak bengkak. Di dalamnya tidak ada rasa takut. Tidak ada pula keberanian. Yang kulihat hanyalah kelelahan yang luar biasa. Kelelahan seseorang yang telah berlari terlalu lama. Ia melihatku, penjaga malam dengan seragam seadanya, dan mungkin ia melihat gambaran lain dari kekalahannya sendiri.
Mereka memasukkan pria itu ke dalam mobil. Sebelum masuk, pria berkumis tipis itu menoleh padaku.
"Kau tidak melihat apa-apa malam ini," katanya. Itu bukan ancaman. Itu adalah penghapusan. Ia baru saja menghapus lima belas menit terakhir dari hidupku. "Kau hanya menjaga gudang seperti biasa. Mengerti?"
Aku mengangguk.
Mobil itu pergi, lenyap ditelan kegelapan jalanan Marunda. Aku ditinggal sendirian dengan suara jangkrik, angin laut, dan sebuah gembok yang rusak.
Kedamaianku telah pecah. Ruangan kosong di kepalaku kini telah dimasuki oleh pemandangan itu: wajah babak belur seorang pahlawan yang kelelahan. Aku mencoba menghapusnya. Aku melanjutkan patroliku, mencoba fokus pada suara langkah kakiku di atas kerikil, pada cahaya senterku yang menyorot pintu-pintu gudang yang terkunci.
Tapi bayangan itu menempel. Aku bisa melihatnya di mana-mana. Di kegelapan antara dua gudang. Di pantulan cahaya di atas genangan air.
Aku telah menjadi saksi bisu. Bukan lagi saksi dari tidur para dewa perdagangan, tapi saksi dari sebuah penculikan, dari sebuah kekerasan yang sunyi. Dunia yang telah coba kutinggalkan, dunia para hantu besar—Negara, Perjuangan, Penindasan—telah datang mencariku di tempat persembunyianku yang paling terpencil.
Malam itu, saat aku kembali ke pos jaga, aku melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan. Aku mengeluarkan secarik kertas lusuh dari dompetku—bon pembelian kopi dari berbulan-bulan yang lalu. Di baliknya, dengan sebatang pensil yang kutemukan di laci, aku mulai menulis.
Aku tidak menulis tentang “keadilan” atau “hak asasi manusia”. Aku menulis tentang suara gembok yang patah. Tentang bau apek kayu gelondongan. Tentang cara pria babak belur itu berjalan. Tentang tatapan matanya yang lelah. Aku menulis bukan untuk melaporkan apa pun. Bukan untuk melawan.
Aku menulis hanya untuk mencatat. Untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak gila. Bahwa apa yang kulihat tadi benar-benar terjadi.
Tembok keheningan yang kubangun di Marunda telah runtuh. Dan di atas reruntuhannya, aku menemukan diriku kembali menjadi seorang penulis. Bukan karena pilihan. Tapi karena keterpaksaan. Karena ada beberapa hal yang terlalu berat untuk disimpan sendirian di dalam kepala.
24
Aku tidak melaporkan kejadian itu. Melaporkan kepada siapa? Kepada polisi? Itu sama saja dengan menyerahkan diri pada kawanan serigala yang berbeda. Kepada atasanku di perusahaan keamanan? Ia akan memecatku karena telah membawa masalah. Dunia bekerja dengan aturan yang sederhana: jangan melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat.
Tapi aku tidak bisa menghapusnya. Setiap malam, saat aku memulai patroli, bayangan sedan hitam itu seolah terparkir di sudut mataku. Suara gembok yang patah seolah menjadi bagian dari simfoni malam Marunda.
Catatan yang kutulis di balik bon kopi itu menjadi temanku. Setiap malam, setelah patroli terakhir, aku menambahinya. Bukan lagi hanya tentang malam itu. Aku mulai menulis tentang hal-hal lain. Tentang wajah lelah Bang Udin saat subuh. Tentang bentuk awan yang aneh di atas laut saat fajar. Tentang seekor kucing belang yang sering datang ke pos jaga, tapi tidak pernah mau disentuh.
Aku tidak sedang menulis cerita. Aku mungkin sedang membuat sebuah arsip. Arsip dari hal-hal kecil dan nyata, sebagai penyeimbang dari sebuah kenyataan besar dan mengerikan yang telah kulihat. Ini adalah caraku untuk tetap waras.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, sesuatu yang aneh terjadi. Sebuah paket datang untukku, diantar oleh kurir ke pos jaga. Tidak ada yang pernah mengirimiku paket. Paket itu terbungkus kertas koran, tanpa nama pengirim. Hanya ada namaku yang tertulis dengan huruf-huruf yang dipotong dari majalah dan ditempel.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membukanya. Di dalamnya, ada sebuah buku sketsa kecil yang baru dan beberapa batang arang berkualitas bagus. Tidak ada surat. Tidak ada pesan.
Hanya itu. Aku langsung tahu dari siapa paket ini. Seruni.
Bagaimana ia menemukanku di sini, di ujung dunia? Aku tidak tahu. Mungkin ia melihat pengumuman lowongan kerja yang sama. Mungkin ia punya kenalan yang bekerja di pelabuhan. Mungkin ini hanya salah satu dari keajaibankeajaiban kecil yang kadang dilemparkan oleh kota ini.
Tapi yang lebih penting dari pertanyaan “bagaimana” adalah pertanyaan “mengapa”. Kenapa ia mengirimiku ini?
Aku membuka buku sketsa kosong itu. Halaman-halamannya yang putih bersih terasa seperti sebuah tantangan. Ia tidak mengirimiku surat. Ia mengirimiku ruang kosong. Ia tidak memberiku pesan. Ia memberiku alat untuk menciptakan pesanku sendiri.
Ini adalah percakapan kami yang baru. Percakapan tanpa kata. Ia telah melihat karyaku di dinding warung Bang Udin, karya yang kami buat bersama. Dan sekarang, ia memberiku kanvasku sendiri.
Malam itu, setelah berhari-hari hanya menulis di balik bon bekas, aku mulai menggambar. Tanganku kaku pada awalnya. Arang itu terasa asing. Aku bukan Seruni. Aku tidak punya bakatnya untuk menangkap jiwa dari sebuah wajah atau sebuah benda.
Jadi aku tidak menggambar apa yang kulihat. Aku menggambar apa yang kurasakan.
Aku menggambar sebuah gembok yang rusak, tapi dari dalamnya keluar sulur-sulur tanaman. Aku menggambar sebuah senter yang sinarnya tidak lurus, tapi berkelok-kelok seperti ular. Aku menggambar sebuah pos jaga yang melayang di atas rawa-rawa. Gambar-gambar yang sureal, yang tidak masuk akal. Gambar-gambar dari duniaku yang baru, dunia di mana hal-hal yang kukenal telah berubah bentuk karena sebuah peristiwa.
Menggambar terasa berbeda dari menulis. Menulis adalah upaya untuk memberi nama, untuk menjelaskan. Menggambar adalah upaya untuk menunjukkan sesuatu tanpa perlu menjelaskannya. Aku tidak sedang bercerita. Aku hanya sedang memuntahkan bayangan-bayangan dari kepalaku ke atas kertas.
Hari-hari berikutnya, pos jagaku serasa berubah menjadi sebuah studio mini. Siang hari aku tidur, malam hari aku menjaga gudang dan menggambar. Buku sketsa itu mulai terisi. Halaman demi halaman. Menjadi sebuah arsip visual dari kegelisahanku.
Aku tidak pernah melihat Seruni. Aku tidak tahu apakah ia masih di Jakarta atau sudah pergi. Tapi aku merasakan kehadirannya. Paket itu adalah sebuah penegasan. Ia tahu aku di sini. Dan ia, dengan caranya sendiri, sedang menjagaku. Ia memberiku alat untuk tidak menjadi gila.
Kami adalah dua partisan yang kini berperang dari dua pos yang berbeda. Ia dengan ikan-ikan misteriusnya di dinding-dinding kota. Aku dengan gambar-gambar anehku di dalam sebuah buku sketsa, di sebuah pos jaga di ujung dunia. Kami tidak saling bertemu. Tapi kami saling tahu.
Dan di dalam kesendirian Marunda yang luas dan sunyi, pengetahuan itu terasa seperti api unggun kecil yang terus menyala, menjagaku dari dinginnya kegelapan.
25
Kehidupan di Marunda menemukan ritmenya yang baru: patroli, kopi, menggambar. Buku sketsa itu menjadi satu-satunya temanku, sebuah dunia portabel yang bisa kubuka dan kututup sesuka hati. Halaman-halamannya mulai terisi dengan bestiari pribadiku: kucing-kucing dengan sayap serangga, derek-derek pelabuhan yang tampak seperti kerangka dinosaurus, wajah-wajah tanpa mata yang menatap dari permukaan air rawa. Ini adalah peta dari lanskap batinku, sebuah geografi yang hanya aku yang mengerti.
Lalu, suatu malam di akhir bulan, saat aku mengambil gajiku di kantor pengelola, aku melihat sebuah wajah baru. Seorang penjaga malam lain, sedang duduk di ruang tunggu. Badannya kurus, usianya mungkin tidak jauh diatasku, tapi matanya... matanya tampak jauh lebih tua. Mata seseorang yang telah melihat terlalu banyak hal, tapi memilih untuk tidak membicarakannya. Namanya Jaka.
Kami mulai sering berpapasan saat pergantian sif. Percakapan kami pada awalnya hanya basa-basi standar: cuaca yang panas, nyamuk yang ganas, kopi yang semakin mahal. Tapi di antara kata-kata yang tak berarti itu, ada semacam pengakuan diam. Kami berdua adalah penghuni pulau yang sama, pulau orang-orang yang memilih pekerjaan ini bukan karena pilihan, tapi karena ketiadaan pilihan.
Suatu malam, saat hujan deras turun dan kami berdua terjebak di pos jaga utama, Jaka akhirnya bicara.
"Kau pernah lihat hal-hal aneh di sini?" tanyanya tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah hujan yang menderu.
"Aneh itu relatif," jawabku. "Aku melihat seekor biawak sebesar anak anjing kemarin. Itu cukup aneh bagiku."
Jaka tersenyum tipis. "Bukan itu maksudku." Ia menyalakan sebatang rokok kretek, tangannya sedikit bergetar. "Maksudku... mobil-mobil yang datang di tengah malam. Tamu-tamu yang tidak pernah mengisi buku tamu."
Aku diam. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat.
"Aku sudah bekerja di sini hampir dua tahun," lanjutnya, suaranya pelan, nyaris tertelan oleh suara hujan. "Aku sudah belajar untuk tidak melihat. Aku sudah belajar untuk melupakan apa yang kulihat besok paginya. Itu cara untuk bertahan hidup."
Ia menatapku. "Tapi kadang-kadang, bayangannya tetap menempel." Ia menunjuk kepalanya sendiri. "Di sini."
Aku tidak mengiyakan atau menyangkal. Tapi ia tahu dari keheninganku. Ia tahu bahwa aku juga adalah anggota klub para saksi bisu itu.
"Beberapa bulan yang lalu," bisiknya, "sebelum kau datang. Ada satu orang yang mereka bawa. Masih muda. Aktivis, katanya. Mereka menyimpannya di gudang nomor tujuh selama beberapa hari. Aku bisa mendengar suaranya kadang-kadang. Bukan teriakan. Hanya... nyanyian."
Nyanyian. Kata itu terasa seperti sebuah pukulan di perutku.
"Ia menyanyikan lagu Internationale. Suaranya pelan, sumbang. Tapi ia terus menyanyi. Terutama di malam hari. Seolah-olah ia sedang mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia masih di sana."
Jaka menghisap rokoknya dalam-dalam. "Lalu suatu malam, mereka membawanya pergi. Dan setelah itu, tidak ada lagi nyanyian. Hanya sunyi."
Kami terdiam lama. Suara hujan di atap seng menjadi satu-satunya musik. Aku teringat pada pria babak belur yang kulihat. Apakah itu dia? Apakah sebelum matanya lelah, ia masih punya kekuatan untuk bernyanyi di dalam kegelapan gudang itu?
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanyaku akhirnya.
Jaka mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin karena aku melihat buku sketsamu." Ia mengangguk ke arah tasku. "Mungkin karena aku pikir, kau adalah orang yang tahu apa yang harus dilakukan pada bayangan-bayangan seperti itu."
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bukan pahlawan. Aku bukan penyelamat. Aku hanya seorang penjaga malam yang menggambar monster-monster di buku catatan.
Malam itu, setelah Jaka pergi dan hujan reda, aku kembali ke pos jagaku. Aku membuka buku sketsaku. Tapi aku tidak menggambar monster. Aku tidak menggambar pemandangan sureal.
Dengan tangan yang gemetar, aku mencoba menggambar sebuah wajah dari ingatan. Wajah seorang pria babak belur. Wajah seorang aktivis yang menyanyi sendirian di dalam gudang yang gelap. Aku mencoba memberinya mata yang tidak lelah. Mata yang masih menyala, yang masih bernyanyi.
Aku tidak bisa. Gambarku gagal. Yang bisa kugambar hanyalah kelelahan itu.
Aku menyobek halaman itu, meremasnya menjadi bola, dan melemparkannya ke sudut. Malam itu, aku tidak menggambar apa-apa lagi. Beberapa bayangan terlalu gelap untuk diubah menjadi gambar. Beberapa keheningan terlalu berat untuk diisi dengan nyanyian. Dan beberapa kekalahan, memang hanya kekalahan. Tidak ada puisi di dalamnya.
26
Kegagalan menggambar wajah itu meninggalkan jejak. Selama beberapa malam, buku sketsa itu terasa seperti sebuah tuduhan. Halaman-halaman putihnya seolah mengejek ketidakmampuanku. Aku kembali hanya menjadi penjaga malam, seorang mekanik waktu yang tugasnya memastikan malam berjalan sesuai jadwal.
Percakapanku dengan Jaka menciptakan sebuah ikatan yang aneh di antara kami. Ikatan para pembawa rahasia. Kami tidak pernah membahasnya lagi, tapi setiap kali kami berpapasan saat pergantian sif, ada anggukan kecil yang berbeda, sebuah pengakuan diam. Kami adalah anggota dari sebuah klub yang tidak pernah kami inginkan.
Suatu malam, Jaka tidak muncul untuk sifnya. Penggantinya adalah seorang anak muda yang gugup, yang lebih banyak bertanya tentang jadwal patroli daripada hal-hal lain. Saat aku bertanya di mana Jaka, kepala keamanan hanya berkata, "Dia berhenti. Mendadak. Katanya mau pulang kampung."
Aku tahu itu bohong. Orang seperti Jaka tidak “pulang kampung”. Kampung halaman adalah sebuah kemewahan bagi orang-orang yang masih punya tempat untuk kembali. Orang seperti Jaka hanya lenyap. Sama seperti pria yang bernyanyi di gudang nomor tujuh. Sama seperti Darman. Mereka adalah para pelancong yang dihapus oleh sistem karena telah melihat terlalu banyak.
Kepergian Jaka membuatku merasa lebih terisolasi. Sekarang aku adalah satu-satunya anggota klub itu di sini. Rahasia yang ia bagikan kini sepenuhnya menjadi milikku, sebuah warisan yang tidak kuinginkan.
Paranoia mulai merayap kembali. Setiap mobil yang melambat di dekat gerbang, setiap suara yang tidak kukenali di kejauhan, semuanya terasa seperti sebuah ancaman. Aku mulai lebih sering melihat ke belakang saat berpatroli. Pos jagaku tidak lagi terasa seperti sebuah studio; ia terasa seperti sebuah sangkar.
Aku tahu aku tidak bisa tinggal di Marunda lebih lama lagi. Tempat ini sudah ternoda. Kedamaian palsunya telah terkoyak, dan aku bisa melihat mekanisme gila yang bekerja di baliknya. Aku telah menjadi saksi, dan dalam permainan ini, saksi mata adalah korban berikutnya.
Aku harus pergi. Tapi tidak seperti Jaka. Aku tidak akan lenyap begitu saja.
Aku mengambil gajiku yang terakhir. Aku tidak pamit pada siapa pun. Suatu sore, aku hanya berjalan keluar dari gerbang kompleks pergudangan itu dan tidak pernah kembali. Aku naik bus pertama yang kulihat, tidak peduli jurusannya ke mana.
Bus itu membawaku ke pusat kota, kembali ke jantung kebisingan. Aku turun di dekat Lapangan Banteng. Monumen Pembebasan Irian Barat yang gagah berdiri di tengah taman, tangan sosok perunggu itu terangkat ke langit dengan ekspresi kemenangan yang dipalsukan.
Aku teringat pada Darman dan aksi gilanya meneraktir para intel es kelapa muda di tempat ini. Aku tersenyum. Aku tidak punya keberanian seperti itu. Tapi aku punya caraku sendiri.
Aku berjalan ke sebuah wartel yang ramai. Di dalamnya, orang-orang berbicara di dalam bilikbilik kaca, suara mereka teredam, seolah sedang mengaku dosa. Aku masuk ke salah satu bilik, mengangkat gagang telepon, dan memasukkan beberapa koin.
Aku menekan sebuah nomor yang kuhafal di luar kepala. Nomor kantor sebuah lembaga bantuan hukum kecil yang sering disebut-sebut dalam diskusi-diskusi di kelompok studi dulu. Lembaga yang terdiri dari para pengacara muda idealis yang mencoba melawan buldoser dengan tusuk gigi.
Seseorang mengangkat telepon. Suara seorang perempuan. "Lembaga Bantuan Hukum, selamat siang."
Aku berdeham. Suaraku terasa asing setelah sekian lama jarang digunakan.
"Saya tidak akan menyebutkan nama saya," kataku pelan. "Dengarkan saja. Ada sesuatu yang terjadi di sebuah kompleks pergudangan di Marunda. Gudang nomor tujuh. Cari tahu tentang seorang aktivis buruh yang hilang beberapa bulan lalu. Cari tahu tentang seorang penjaga malam bernama Jaka yang baru saja 'pulang kampung'. Terima kasih."
Aku berhenti sejenak. Perempuan di seberang sana diam, mendengarkan.
"Saya tidak punya bukti," lanjutku. "Saya hanya punya cerita. Cerita tentang nyanyian di dalam gudang yang gelap."
Sebelum ia sempat bertanya, aku menutup telepon.
Aku berjalan keluar dari wartel itu, kembali ke panasnya jalanan Jakarta. Aku merasa ringan. Beban rahasia yang diberikan Jaka telah kulepaskan. Bukan kepada polisi, bukan kepada media. Tapi kepada orang-orang yang mungkin tahu apa yang harus dilakukan dengan cerita seperti itu. Mungkin mereka tidak akan melakukan apa-apa. Mungkin mereka akan mengabaikannya sebagai telepon iseng dari orang gila.
Tapi itu tidak penting. Aku telah melakukannya. Aku telah mengubah ceritaku, cerita Jaka, cerita pria yang bernyanyi itu, menjadi sebuah tanggung jawab publik. Aku telah melemparkan sebuah batu kecil ke dalam kolam yang keruh. Mungkin tidak akan menimbulkan riak sama sekali. Tapi batu itu telah kulempar.
Aku tidak tahu apakah ini sebuah tindakan kepahlawanan atau kebodohan. Mungkin keduanya. Tapi rasanya jujur. Ini bukan lagi sabotase sunyi seperti menyelipkan kalimat di dalam terjemahan. Ini adalah sebuah transmisi. Sebuah sinyal yang kukirimkan ke luar dari pulau kesendirianku.
Aku menatap Monumen Pembebasan Irian Barat, lagi. Sosok perunggu itu masih tampak sama heroiknya. Tapi sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. Ia tidak sedang merayakan kemenangan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang berteriak minta tolong, tapi suaranya membeku menjadi logam, dan tidak ada yang mendengarnya.
27
Telepon itu adalah sebuah titik. Setelahnya, aku merasa harus menghapus jejakku sendiri. Aku tidak kembali ke kamar kosku. Barang-barangku tidak ada yang berharga—hanya beberapa helai pakaian usang dan mesin tik yang berat. Biarlah mereka menjadi fosil di sana. Mulai malam itu, aku menjadi seorang nomaden di kotaku sendiri.
Aku tidur di mana saja malam menurunkanku. Di emperan toko, di stasiun-stasiun kereta yang tidak pernah benar-benar tidur, di bangku-bangku taman kota. Aku menjadi salah satu dari bayangan-bayangan yang dilihat orang lain dengan sekilas pandang, lalu segera dilupakan. Menjadi tak terlihat adalah sebuah keahlian, dan aku mempelajarinya dengan cepat.
Siang hari aku berjalan. Aku tidak lagi berburu ikan di dinding. Aku tidak lagi mencari apa pun. Aku hanya berjalan, membiarkan kota ini mengalir melewatiku. Aku menjadi penonton murni. Aku melihat para pegawai yang bergegas, para pedagang yang berteriak, para kekasih yang bertengkar di sudut jalan. Aku adalah sebuah kamera yang terus merekam, tanpa rol film di dalamnya.
Untuk makan, aku melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak membutuhkan nama atau identitas. Membantu menurunkan barang di pasar, menjadi kuli angkut dadakan, atau kadang, jika beruntung, menemukan sisa makanan dari warung yang baik hati. Perutku jarang terisi penuh, tapi selalu cukup untuk membuatku terus berjalan.
Aku menjadi lebih kurus. Kulitku menghitam karena matahari. Pakaianku semakin lusuh. Aku mulai terlihat seperti orang-orang yang dulu hanya kuamati dari kejauhan. Batas antara aku dan mereka mulai mengabur.
Suatu sore, saat aku sedang berteduh dari hujan di bawah sebuah jembatan layang di Cawang, aku melihatnya. Seruni.
Ia berdiri di seberang jalan, di bawah sorotan lampu sebuah warung rokok. Ia tampak berbeda. Rambutnya dipotong pendek, dan ia mengenakan jaket kulit yang terlalu besar untuknya. Ia tidak sedang menggambar. Ia hanya berdiri di sana, merokok, sembari menatap hujan dengan tatapan yang sama, yang pernah kulihat di matanya dulu—tatapan yang tenang dan menantang.
Jantungku berhenti sejenak. Ada keinginan yang kuat untuk menyeberang, untuk memanggil namanya. Untuk bertanya, bagaimana kau bertahan? Di mana kau tidur? Apakah kau masih menggambar ikan?
Tapi aku menahan diriku.
Apa yang akan kukatakan padanya? Bahwa aku sekarang menjadi salah satu dari wajah-wajah gelandangan yang dulu sering ia gambar? Bahwa aku telah melempar sebuah batu ke dalam kolam dan sekarang aku bersembunyi dari riaknya? Pertemuan itu hanya akan melahirkan pertanyaan, dan aku tidak punya jawaban apa pun, bahkan untuk diriku sendiri.
Ia tidak melihat diriku. Aku hanyalah bayangan lain di bawah jembatan. Setelah rokoknya habis, ia mematikkannya dengan ujung sepatunya, lalu berjalan menyusuri jalan yang basah, lenyap di tikungan.
Aku tidak merasa sedih. Aku juga tidak merasa lega. Aku hanya merasakan sebuah pengakuan. Ia masih di luar sana. Ia bertahan dengan caranya sendiri. Aku di sini, bertahan dengan caraku sendiri. Kami adalah dua partikel yang bergerak acak di dalam kotak yang sama. Mungkin kami tidak akan pernah bertabrakan lagi. Dan itu tidak apa-apa.
Malam itu, di bawah jembatan yang bergetar setiap kali sebuah truk besar lewat di atasnya, aku tidak merasa sendirian. Aku tahu di suatu tempat di kota yang sama, ada seseorang yang juga sedang menatap kegelapan, yang juga tahu rasanya menjadi miliknya sendiri.
Pengetahuan itu tidak memberiku kehangatan. Ia tidak memberiku makanan. Ia tidak memberiku tempat tidur yang layak. Tapi ia memberiku sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir menyerupai harapan. Bahwa selama masih ada satu atau dua orang yang menolak untuk menjadi hantu, kota ini belum sepenuhnya mati.
28
Hidup di bawah jembatan memiliki iramanya sendiri. Pagi hari adalah tentang menghindari sapuan petugas kebersihan dan tatapan para pegawai yang bergegas ke kantor. Siang hari adalah tentang mencari tempat berteduh dari matahari yang menyengat. Malam hari adalah tentang berdamai dengan nyamuk dan dinginnya beton.
Aku tidak lagi sendirian di sana. Ada komunitas tak terucap di antara para penghuni kolong jembatan. Ada Pak Tua, seorang mantan sopir metromini yang batuknya tak pernah berhenti. Ada sepasang suami-istri muda yang diusir dari kontrakan mereka, yang selalu bertengkar dengan suara berbisik. Ada beberapa anak jalanan yang matanya terlalu tua untuk usia mereka.
Kami tidak banyak bicara tentang masa lalu. Masa lalu adalah sebuah kemewahan yang tidak kami miliki. Percakapan kami adalah tentang hal-hal yang paling mendasar: di mana bisa mendapatkan air bersih, di mana ada pembagian nasi bungkus, di mana tempat yang aman untuk tidur tanpa diganggu preman atau aparat.
Aku belajar dari mereka. Aku telah belajar cara membaca kota dengan cara yang berbeda. Bukan lagi melalui buku atau teori, tapi melalui insting.
Aku belajar di mana tempat sampah restoran yang biasanya masih menyisakan makanan layak. Aku belajar membedakan suara langkah sepatu polisi dan sepatu orang biasa. Aku belajar cara membuat diriku sekecil mungkin, agar tidak menarik perhatian.
Suatu hari, saat sedang mengais-ngais di tumpukan koran bekas yang akan dijual kiloan, aku menemukan sebuah berita. Berita kecil, terselip di halaman dalam, diapit oleh iklan obat kuat dan berita kriminal biasa.
Judulnya: LBH Soroti Dugaan Malapraktik Keamanan di Kawasan Industri Marunda.
Jantungku berdebar kencang. Aku membaca artikel itu dengan tangan gemetar. Isinya tidak banyak. Hanya disebutkan bahwa sebuah lembaga bantuan hukum menerima laporan anonim tentang “aktivitas mencurigakan” dan “hilangnya beberapa individu” di sekitar kompleks pergudangan di Marunda. Pihak kepolisian, saat dikonfirmasi, menyatakan bahwa situasi “aman dan terkendali” dan menganggap laporan itu hanya “isu tak berdasar yang ingin menciptakan keresahan”.
Itu saja. Tidak ada nama. Tidak ada detail. Ceritaku, cerita Jaka, cerita pria yang bernyanyi itu, telah direduksi menjadi beberapa paragraf berita yang kering dan ambigu. Batu yang kulempar hanya menimbulkan riak yang sangat kecil, yang mungkin sudah lenyap saat koran ini dicetak.
Perasaanku campur aduk. Ada kekecewaan, tentu saja. Aku mengharapkan sesuatu yang lebih. Sebuah ledakan, mungkin. Tapi yang kudapat hanya desis yang nyaris tak terdengar.
Tapi ada juga perasaan lain. Perasaan yang aneh. Sesuatu telah tercatat. Sesuatu telah diarsipkan di luar kepalaku. Laporan anonim itu, berita kecil ini, mereka adalah goresan kuku di dinding yang lebih besar. Mereka adalah bukti bahwa aku pernah berteriak, meskipun suaraku hanya terdengar seperti rengekan kecil.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Bukan karena dinginnya beton atau suara truk. Tapi karena kebisingan di dalam kepalaku. Berita itu telah membangunkan sesuatu yang kukira sudah lama mati. Keinginan untuk meninggalkan jejak.
Aku berjalan menjauh dari kolong jembatan, menyusuri jalanan yang sepi. Aku menemukan sebuah dinding seng yang membatasi sebuah proyek konstruksi yang mangkrak. Aku tidak punya arang. Aku tidak punya cat.
Aku mengambil sebuah batu bata yang pecah dari tumpukan puing. Dengan ujungnya yang kasar, aku mulai menggores dinding seng itu. Suaranya melengking dan tidak menyenangkan.
Aku tidak menulis AKU lagi.
Aku menulis cerita.
Aku menulis tentang seorang penjaga malam bernama Jaka yang takut pada bayangannya sendiri. Aku menulis tentang seorang aktivis yang menyanyikan lagu Internationale di dalam gudang yang gelap.
Aku menulis tentang dua orang yang menggambar peta ke tempat yang tidak ada di lantai sebuah stasiun. Aku menulis dengan goresan-goresan kasar, huruf-huruf yang tidak beraturan. Seperti bukan tulisan untuk dibaca. Hanya sebuah luka yang kubuat di kulit kota. Sebuah kesaksian.
Aku menulis hingga ujung batu bata itu tumpul dan jari-jariku lecet. Aku mundur beberapa langkah, menatap karyaku. Goresan-goresan di atas seng itu nyaris tak terlihat di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Mungkin besok pagi para pekerja proyek akan menimpanya dengan cat, atau hujan akan membuatnya berkarat dan lenyap.
Tapi itu tidak penting. Malam ini, dinding ini adalah milikku. Cerita-cerita ini adalah milikku. Aku telah menjadi seorang penulis lagi. Seorang penulis dinding.
29
Aksi vandal di dinding seng itu terasa seperti sebuah demam. Setelahnya, aku merasa kosong dan lelah. Aku kembali ke kolong jembatan dan tidur lebih lelap dari biasanya. Aku telah memuntahkan semua hantu yang memberatkan perutku.
Keesokan harinya, saat aku melewati tempat itu, dinding seng itu sudah ditutupi oleh sebuah spanduk besar bergambar seorang politisi yang sedang tersenyum, dengan slogan tentang “Masa Depan yang Lebih Cerah”. Ceritaku telah dihapus, digantikan oleh kebohongan yang lebih besar dan lebih berwarna. Aku hanya tersenyum. Tentu saja. Begitulah cara kerja dunia.
Hidup kembali ke ritmenya yang monoton. Mengais, berjalan, tidur. Tapi sesuatu telah berubah di dalam diriku. Aku tidak lagi merasa seperti seorang buronan. Aku telah menghadapi ketakutanku, telah menyuarakan ceritaku dengan caraku sendiri, dan dunia tidak kiamat. Aku masih di sini. Aku masih bernapas.
Kepercayaan diri yang aneh ini membuatku berani melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang nyata. Bukan sebagai penjaga malam atau kuli angkut, tapi pekerjaan yang berhubungan dengan satu-satunya keahlian yang kumiliki: bahasa.
Dengan sisa uang terakhir yang berhasil kukumpulkan, aku pergi ke seorang penjajal koran di Jatinegara. Aku membelinya dengan harga murah untuk mencari lowongan kerja.
Aku melihat lowongan-lowongan untuk posisi manajer, akuntan, insinyur. Dunia yang terasa begitu asing. Lalu aku menemukannya. Sebuah lowongan kecil, nyaris tersembunyi.
Dibutuhkan: Penerjemah/Editor untuk Penerbit Alternatif. Syarat: Menguasai Bahasa Inggris, mencintai dunia buku, dan tidak takut pada naskah-naskah aneh. Kirim contoh tulisan ke alamat di bawah ini...
Penerbit Alternatif. Kata-kata itu menarikku. “Aneh”. Aku menyukai kata itu.
Aku tidak punya contoh tulisan. Semua karyaku telah menjadi abu atau goresan di dinding seng. Jadi, di sekitar tempat yang bising ini, aku mulai menulis.
Aku tidak menulis tentang diriku. Aku menulis tentang seorang lelaki tua bernama Pak Tua yang tinggal di kolong jembatan, yang batuknya terdengar seperti mesin diesel yang rusak, tapi matanya masih bisa tersenyum saat melihat anak-anak kecil bermain. Aku menulis tentang bagaimana ia merawat seekor anak kucing yang ia temukan di tempat sampah, memberinya sisa makanan, dan memberinya nama “Presiden”.
Aku menulis cerita itu dengan cepat, tanpa banyak berpikir. Aku tidak mencoba membuatnya puitis atau filosofis. Aku hanya mencoba menangkap kejujuran dari pemandangan yang kulihat setiap hari.
Aku mengirimkan cerita pendek itu ke alamat yang tertera. Aku tidak mencantumkan nama asliku. Aku hanya menggunakan sebuah nama samaran, sebuah nama yang kuambil dari ingatan yang paling jauh. Aku menggunakan nama: Darman.
Setelah menulisnya, aku berjalan dari tempat itu menuju kantor pos. Aku tidak berharap apaapa. Itu hanya sebuah botol berisi pesan yang kulempar ke lautan yang luas.
Beberapa hari kemudian, ketika sedang membantu seorang pedagang buah di pasar demi keuntungan yang tidak besar, ada sebuah surat yang ditujukan untukku yang tersimpan di atas meja milik si pedagang. Si pedagang itu, yang sudah kuanggap teman, sering membiarkanku menggunakan alamat tokonya di pasar untuk keperluan-keperluan darurat.
Isi surat itu singkat:
Yth. Sdr. Darman
[...]
Kami sudah membaca cerita tentang “Presiden”. Kami menyukainya. Bisakah Darman datang ke kantor kami besok pukul 10 pagi?
[...]
Di bawahnya tertera sebuah alamat. Alamat di sebuah jalan kecil di belakang Taman Ismail Marzuki. Alamatnya berbeda dari alamat pos yang tertera di kolom lowongan kerja yang aku baca. Tetapi aku tidak curiga.
Keesokan harinya, aku membersihkan diri sebaik mungkin di toilet umum sebuah SPBU. Aku mengenakan kemeja terbaikku, yang meskipun sudah kusam, setidaknya tidak sobek. Aku datang ke alamat itu tepat waktu.
Kantor penerbit itu tidak seperti kantor Pak Suryo. Tempat ini lebih mirip markas para pemberontak. Dindingnya penuh dengan semacam poster-poster konser musik bawah tanah dan kutipan-kutipan dari penulis-penulis yang tidak akan pernah kau temukan di toko buku besar. Udara di dalamnya berbau kopi, rokok, dan semangat.
Aku bertemu dengan editornya. Seorang perempuan berusia dua puluhan, dengan rambut dicat ungu dan tindikan di alisnya. Ia menatapku dari atas ke bawah, mungkin sedikit terkejut dengan penampilanku yang tidak cocok dengan nama “Darman” yang mungkin ia bayangkan.
"Jadi, kau Darman," katanya. Bukan pertanyaan. "Ceritamu... jujur. Kami suka kejujuran. Di zaman ini, kejujuran adalah bentuk subversi yang paling langka."
Kami bicara lama. Aku tidak menceritakan semua rahasiaku. Aku hanya mengatakan bahwa aku telah hidup di jalanan selama beberapa waktu. Ia tidak banyak bertanya. Ia lebih tertarik pada caraku melihat dunia.
"Kami tidak bisa memberimu gaji besar," katanya di akhir pembicaraan. "Kami adalah penerbit kecil yang selalu diintai untuk dibredel. Tapi kami bisa memberimu sebuah meja, sebuah mesin tik tua, dan kebebasan untuk menulis tentang apa pun yang kau anggap penting."
Ia mengulurkan tangannya. "Selamat datang di keluarga."
Aku menjabat tangannya. Tangannya terasa hangat. Aku tidak tahu apakah aku telah menemukan sebuah “keluarga”. Kata itu masih terasa asing. Tapi aku tahu aku telah menemukan sesuatu. Sebuah dermaga. Sebuah tempat untuk menambatkan kapalku yang rasanya telah terlalu lama terombang-ambing.
Aku keluar dari kantor itu, kembali ke cahaya matahari yang menyilaukan. Aku masih gelandangan. Aku masih tidak punya rumah. Tapi sekarang aku punya sebuah meja. Sebuah mesin ketik. Dan sebuah nama baru yang kupinjam dari seorang hantu.
Mungkin, pikirku, ini bukan akhir dari pelarianku. Mungkin ini baru saja dimulai. Tapi kali ini, aku tidak berlari sendirian. Aku berlari bersama cerita-cerita yang menunggu untuk kutulis.
30
Namaku Darman sekarang.
Aku mengucapkan nama itu dalam hati setiap pagi saat aku berjalan menuju kantor penerbit kecil yang kini menjadi pusat duniaku. Darman. Sebuah nama yang kupinjam dari orang mati. Sebuah topeng. Tapi semua orang di dunia ini memakai topeng, bukan? Guntur memakai topeng pegawai negeri yang patuh. Para aktivis memakai topeng pahlawan rakyat. Para politisi memakai topeng negarawan. Setidaknya, topengku adalah milikku sendiri, kupilih dari reruntuhan ingatanku.
Kantor kami adalah sebuah anomali di jantung Jakarta. Hanya beberapa ruangan di sebuah bangunan tua yang disewa murah, terjepit di antara toko onderdil mobil dan sebuah warung makan. Tidak ada papan nama yang megah. Dindingnya tidak dicat putih bersih, tetapi malah ditempeli poster-poster acara musik bawah tanah, sampul-sampul buku yang provokatif, dan sobekan-sobekan puisi. Udara di dalamnya selalu pekat oleh tiga hal: asap kretek, aroma kopi basi, dan semacam kegelisahan kreatif yang nyaris bisa kau sentuh.
Tempat ini adalah sebuah Hacienda, sebuah katedral yang dibangun oleh orang-orang yang terusir dari gereja-gereja lain. Di sini berkumpul para penyair yang sajaknya dianggap terlalu gelap untuk majalah sastra, para pemikir yang analisisnya terlalu tajam untuk koran-koran, para novelis yang ceritanya tidak memiliki “pesan moral”.
Dan aku adalah salah satu dari mereka.
Tugasku adalah membaca. Aku membaca naskah-naskah yang masuk, tumpukan kertas yang penuh dengan amarah, kebingungan, dan harapan. Aku membaca koleksi puisi tentang kesepian di kota besar, yang ditulis oleh seorang mahasiswa yang mungkin tidak pernah benar-benar merasa kesepian. Aku membaca analisis politik tentang keruntuhan sistem, yang ditulis oleh seorang dosen tua yang merupakan bagian dari sistem itu sendiri. Aku membaca zine-zine fotokopian yang dibuat dengan gunting dan lem, penuh dengan gambar-gambar kolase yang acak-acakan dan tulisan tangan yang sulit dibaca.
Aku melihat ketulusan di dalamnya. Tapi aku juga melihat penjara-penjara baru.
Orang-orang di sini, mereka menolak hantuhantu besar seperti “Negara” atau “Moralitas”. Tapi mereka menciptakan hantu-hantu kecil mereka sendiri. Hantu bernama “Seni Alternatif”, “Pikiran Kritis”, “Gerakan Bawah Tanah”. Mereka punya seragam tak resmi mereka sendiri— kaus hitam, sepatu bot, tatapan yang dibuat sinis. Mereka punya nabi-nabi mereka sendiri—Foucault, Derrida, Zizek—yang kutipannya mereka sebar seperti ayat-ayat suci. Mereka adalah jemaat dari sebuah gereja yang mengaku anti-gereja.
Aku tidak bergabung dengan mereka. Aku bekerja untuk mereka. Ada perbedaan besar di sana. Aku mengambil uang mereka, menggunakan mesin tik mereka, meminum kopi mereka. Tapi pikiranku tetap menjadi milikku. Saat mereka berdiskusi tentang “dekonstruksi” atau “pascastrukturalisme” sambil merokok, aku hanya diam dan mengangguk, sementara di dalam kepalaku, aku memikirkan rasa nasi uduk Bang Udin atau cara cahaya matahari jatuh di atas rel kereta.
Suatu hari, sang editor—perempuan dengan rambut ungu itu, namanya Sari—meletakkan sebuah naskah di mejaku. "Coba lihat ini, Man," katanya. "Kiriman baru. Aneh."
Naskah itu tidak diketik. Ditulis tangan, di atas kertas-kertas bekas yang berbeda-beda. Isinya bukan cerita. Hanya fragmen-fragmen. Deskripsi tentang bau hujan di atas aspal. Refleksi tentang keheningan di dalam akuarium yang kosong. Pengamatan tentang bagaimana orang-orang di bus kota tidak pernah saling menatap mata. Dan diselingi oleh gambar-gambar sketsa arang yang dibuat dengan cepat: sebuah sepatu butut, seekor kecoa yang mati terbalik, bayangan sebuah kursi di dinding.
Aku tidak perlu melihat nama pengirimnya. Aku tahu tangan siapa yang telah membuat ini.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sari.
"Ini bukan apa-apa," jawabku. "Dan karena itu, ini segalanya."
Sari menatapku dengan aneh, lalu tertawa. "Jawaban yang paling 'Darman' yang pernah kudengar."
Aku menyimpan naskah itu di mejaku. Aku tidak langsung mengeditnya. Selama beberapa hari, aku hanya membiarkannya di sana, seperti sebuah kompas atau sebuah jimat. Ini adalah sinyal asap dari pulau lain itu. Sebuah bukti bahwa Seruni juga telah menemukan bahasanya sendiri, bahasanya yang terfragmentasi, yang menolak untuk menjadi sebuah “cerita” utuh.
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku duduk sendirian di kantor yang gelap. Aku menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu kota. Di suatu tempat di luar sana, Seruni sedang berjalan, mengumpulkan fragmen-fragmen. Di tempat lain, Guntur sedang memeriksa angka-angka statistik. Di kolong jembatan, Pak Tua mungkin sedang batuk. Di pemakaman, gundukan tanah di atas Darman semakin diratakan oleh hujan.
Semuanya adalah partikel-partikel yang bergerak sendiri-sendiri. Dan aku, di sini, di depan mesin tik yang dingin, adalah seorang pemalsu, seorang pencuri nama, seorang editor untuk gereja anti-gereja.
Aku menyalakan sebatang rokok. Permainan ini semakin rumit. Dan entah kenapa, aku semakin menyukainya.
31
Aku mulai bekerja pada naskah Seruni. “Bekerja” adalah kata yang salah. Aku lebih merasa seperti seorang arkeolog yang sedang menyusun kembali pecahan-pecahan tembikar dari peradaban yang tak dikenal. Aku tidak mengedit. Aku tidak mengubah satu kata pun. Tugasku hanya menyusun fragmen-fragmen itu, mencoba menemukan sebuah ritme, sebuah alur yang tersembunyi di dalam kekacauannya.
Aku menyalin tulisan tangannya ke mesin tik, satu per satu. Setiap kalimat terasa seperti sebuah benda yang memiliki bobot dan tekstur.
Bau got di musim kemarau adalah bau kejujuran yang paling brutal.
Di dalam Metromini, semua wajah menjadi sama. Wajah seseorang yang telah menyerah, tapi masih harus tiba di suatu tempat.
Aku menggambar bayangan kursi, bukan kursinya. Karena bayangan lebih abadi. Ia akan tetap ada bahkan setelah kursinya lapuk dan hancur.
Saat aku mengetik, aku merasa sedang melakukan percakapan dengannya. Bukan percakapan langsung, tapi percakapan melalui benda-benda yang kami amati. Melalui kelelahan kota yang kami rasakan bersama di sebuah tempat yang berbeda. Naskah ini bukan tentang dirinya. Ini tentang matanya. Tentang cara matanya melihat dan membedah dunia.
Sari, sang editor, sesekali mengintip dari balik bahuku. "Naskah yang aneh," katanya. "Tidak ada alur, tidak ada karakter. Hanya potongan-potongan gambar. Apa ini bisa dijual?"
"Mungkin tidak," jawabku. "Tapi beberapa hal tidak dibuat untuk dijual. Hanya perlu untuk hadir."
Ia tersenyum, seolah jawaban itu sudah cukup memuaskannya. Di tempat ini, “tidak bisa dijual” kadang-kadang justru menjadi sebuah stempel kualitas. Seminggu kuhabiskan waktuku dengan naskah itu. Ia menjadi duniaku. Aku lupa pada biografi jenderal, pada patroli malam di Marunda, pada rasa dingin lantai beton. Aku hanya tenggelam di dalam dunia Seruni yang terfragmentasi.
Saat aku selesai menyusunnya, naskah itu hanya setebal tiga puluh halaman. Tapi terasa lebih padat dari novel seratus halaman mana pun. Aku memberinya judul, sebuah judul yang kuambil dari salah satu kalimatnya: Arsip Benda-Benda Terlupakan.
Aku menyerahkannya pada Sari. Ia membacanya dalam sekali duduk, di mejanya, sambil merokok tanpa henti. Setelah selesai, ia hanya diam untuk waktu yang lama.
"Kita akan mencetaknya," katanya akhirnya. "Meskipun mungkin kita akan rugi. Persetan. Buku seperti ini memang harus hadir."
Malam itu, untuk merayakan “kemenangan” kecil ini, Sari mengajakku dan beberapa kru penerbit lainnya minum-minum di sebuah bar kecil di dekat TIM. Bar itu penuh sesak oleh para seniman, aktivis, dan mahasiswa yang mencoba terlihat seperti keduanya.
Aku duduk di sudut, hanya mengamati. Mereka bicara dengan berapi-api tentang situasi politik, tentang sensor, tentang gerakan bawah tanah. Mereka adalah orang-orang yang baik, orang-orang yang masih percaya bahwa teriakan mereka bisa mengubah sesuatu. Mereka adalah versi Guntur yang lebih modis dan lebih banyak membaca Foucault.
Aku merasa seperti seorang mata-mata. Seorang alien. Aku tersenyum, mengangguk di saat yang tepat, sesekali meneguk birku. Tapi aku tidak di sana. Aku masih di dalam naskah Seruni. Aku masih memikirkan bayangan sebuah kursi.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dari belakang. "Darman?"
Aku menoleh. Seorang perempuan muda dengan rambut cepak dan mata yang tajam menatapku. Aku pernah melihatnya di suatu tempat. Di paviliun Haris. Ia adalah salah satu pengikutnya. Salah satu dari mereka yang menatapku dengan curiga saat aku makan sate di tengah diskusi serius mereka.
"Kau Darman, kan? Dari Penerbit Alternatif?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Aku Ratih," katanya. Matanya menyiratkan kebingungan. "Maaf, wajahmu... sepertinya tidak asing."
Jantungku berdebar sedikit lebih kencang. Ratih. Nama yang hampir kulupakan. Tentu saja. Ini dia. Wajahnya lebih tirus, matanya tidak lagi membawa kesedihan puitis, melainkan semacam kekerasan yang terkendali. Ia bukan lagi gadis naif yang bertanya tentang penindasan. Ia telah menjadi seorang prajurit.
"Mungkin kita pernah bertemu di acara sastra," jawabku, sebuah kebohongan yang lancar.
"Mungkin," katanya, masih menatapku dengan curiga. "Aku membaca buku-buku kalian. Tajam. Berbahaya." Ia tersenyum tipis. "Teruslah bekerja. Kita butuh lebih banyak suara seperti kalian."
Lalu ia pergi, kembali bergabung dengan kelompoknya di meja lain. Mereka sedang merencanakan sesuatu, aku bisa melihatnya dari keseriusan di wajah mereka.
Aku menghabiskan birku. Dunia ini ternyata lebih kecil dari yang kukira. Semua hantu dari masa laluku, entah bagaimana, selalu menemukan cara untuk kembali. Mereka berubah bentuk, berganti nama, tapi mereka masih di sana, mengorbit di lingkaran yang sama.
Aku menatap Sari yang sedang tertawa keras di meja bar. Aku menatap Ratih yang sedang berbisik serius dengan kawan-kawannya. Aku menatap para penyair yang sedang mabuk dan mendeklamasikan sajak. Mereka semua adalah bagian dari sirkus ini. Masing-masing dengan perannya, masing-masing dengan topengnya.
Dan aku? Siapa aku di antara mereka? Darman? Amir? Si penulis dinding? Si penyabot terjemahan?
Mungkin aku bukan siapa-siapa. Mungkin aku adalah semua itu. Sebuah kumpulan fragmen, sama seperti naskah Seruni. Dan mungkin, itu tidak apa-apa. Mungkin, menjadi tidak utuh adalah satu-satunya cara untuk tetap waras di dunia yang sudah gila ini.
32
Aku kembali ke kantor yang kosong malam itu, bau bir dan asap rokok dari bar masih menempel di bajuku. Aku tidak mabuk. Aku hanya lelah. Lelah oleh wajah-wajah yang penuh dengan kesungguhan, lelah oleh percakapan-percakapan yang terasa seperti manuver militer.
Pertemuanku dengan Ratih meninggalkan jejak yang aneh. Aku melihatnya, dan aku melihat hantu dari diriku sendiri di masa lalu, hantu yang masih percaya pada kemungkinan untuk mengubah dunia dengan cara berteriak lebih keras dari orang lain. Ia telah mene-mukan gereja barunya, sebuah gereja yang lebih radikal, yang mungkin akan berakhir dengan cara yang sama—dengan kekecewaan atau dengan sebuah nama di nisan. Aku tidak merasakan simpati. Aku hanya merasakan jarak yang semakin jauh.
Di mejaku, naskah Seruni masih tergeletak. Arsip Benda-Benda Terlupakan. Aku mengambilnya. Di tengah keheningan kantor, aku membacanya lagi. Kata-katanya terasa seperti air dingin di wajah.
Sebuah puntung rokok yang mati di genangan air hujan. Bentuknya seperti sebuah pertanyaan yang tak akan pernah terjawab.
Aku melihat seorang lelaki tua tertidur di dalam bajajnya, mulutnya sedikit terbuka. Aku bertanya-tanya apa yang sedang ia mimpikan. Mungkin ia tidak sedang bermimpi. Mungkin tidur adalah satu-satunya istana yang ia miliki.
Bekas stiker di kaca jendela toko. Gambarnya sudah lama hilang, tapi lemnya masih di sana, membentuk peta dari sesuatu yang pernah diinginkan.
Ini adalah dunia yang lain. Dunia yang tidak peduli pada “perjuangan” atau “revolusi”. Dunia yang hanya peduli pada apa yang ada, di sini, saat ini. Dunia yang diamati oleh mata yang tidak menghakimi, yang hanya mencatat. Ratih ingin membakar dunia. Seruni hanya ingin mengarsipkannya sebelum ia lenyap. Keduanya adalah bentuk perlawanan, tapi yang satu menggunakan api, yang lain mengguna-kan kaca pembesar.
Aku sekarang adalah “Darman”. Aku menggunakan nama seorang lelaki yang telah menjadi tanah untuk bisa hidup. Saat Ratih memanggilku dengan nama itu, aku tidak merasa seperti seorang penipu. Aku merasa seperti seorang pencuri yang berhasil. Aku telah mencuri identitas seorang hantu. Aku telah menjadikannya sebagai milikku. Darman, yang menertawakan semua nama dan semua label, mungkin akan menyukai ironi ini. Ia mungkin akan tertawa terbahak-bahak dari dalam kuburnya.
Aku teringat ia pernah berkata, saat kami sedang bersembunyi dari razia di sebuah gudang kosong. "Orang-orang takut mati," katanya. "Padahal mereka sudah mati sejak lama. Mereka mati saat mereka mulai percaya bahwa nama mereka, pekerjaan mereka, atau agama mereka, lebih penting daripada diri mereka sendiri. Aku bukan ‘Darman’. ‘Darman’ hanyalah suara yang digunakan orang lain untuk memanggilku. Aku adalah aku. Aku adalah seekor binatang yang kebetulan bisa menulis."
Aku meletakkan naskah Seruni. Aku mengambil beberapa lembar kertas kosong dan mulai membuat catatan tentang tata letaknya. Aku memutuskan bahwa setiap fragmen tulisannya harus dipisahkan oleh ruang kosong yang luas, halaman-halaman yang hampir putih bersih. Pembaca harus merasakan keheningan di antara kata-katanya. Mereka harus merasakan jarak. Buku ini bukan untuk ditelan bulat-bulat. Buku ini adalah sebuah ruangan yang harus dimasuki dengan perlahan.
Ini adalah pekerjaanku sekarang. Menjadi arsitek untuk dunia orang lain. Menjadi kurator untuk museum benda-benda terlupakan. Sebuah pekerjaan yang sunyi, yang tak terlihat. Pekerjaan untuk seorang hantu.
Di luar, sebuah ambulans melintas, sirenenya memecah keheningan malam. Seseorang sedang menuju rumah sakit, menuju kelahiran atau kematian. Drama-drama besar terus berjalan. Tapi di sini, di dalam kantor yang gelap ini, di bawah cahaya lampu meja yang redup, perkaraku hanyalah tentang seberapa besar seharusnya spasi antara dua paragraf. Dan entah kenapa, perkara kecil ini terasa jauh lebih penting dan lebih nyata.
33
Buku Seruni, Arsip Benda-Benda Terlupakan, akhirnya naik cetak. Prosesnya sunyi dan tanpa gembar-gembor. Kami mencetaknya hanya lima ratus eksemplar, dengan sampul dari kertas daur ulang berwarna cokelat kusam. Di bagian depan, hanya ada judul yang diketik dengan fon mesin tik, dan sebuah gambar ikan kecil di sudut bawah. Tidak ada nama penulis. Seruni, melalui Sari, meminta agar buku itu diterbitkan secara anonim. "Penulisnya tidak penting," begitu pesannya. "Yang penting adalah apa yang dilihat."
Saat tumpukan buku itu tiba di kantor, berbau tinta cetak yang masih segar, aku merasakan sensasi yang aneh. Sebuah kebanggaan yang dingin. Aku memegang salah satu buku itu. Ia terasa nyata. Fragmen-fragmen yang dulu hanya ada di atas kertas bekas dan di dalam kepalaku, kini telah menjadi sebuah objek. Sebuah benda. Siap untuk dilempar ke dunia, untuk dilupakan atau ditemukan oleh orang lain.
Kami tidak mendistribusikannya ke toko-toko buku besar. Itu akan sia-sia. Buku seperti ini akan tenggelam di antara novel-novel cinta dan buku-buku motivasi. Kami hanya menyebarkannya dari tangan ke tangan, menitipkannya di beberapa kedai kopi independen, galeri-galeri seni kecil, dan tentu saja, di markas-markas kelompok aktivis.
Dan reaksi yang datang pun terbelah. Para kritikus sastra resmi mengabaikannya sama sekali. Para penyair di TIM menyebutnya “bukan sastra”, hanya “catatan harian yang pretensius”. Tapi dari tempat-tempat lain, dari dunia bawah tanah, responsnya berbeda.
Beberapa zine memujinya sebagai “pukulan telak bagi narasi besar”. Beberapa mahasiswa menulis ulasan panjang di mading-mading kampus mereka, menyebutnya “sebuah fenomenologi dari yang terabaikan”. Mereka mulai menganalisisnya, membedahnya dengan pisau-pisau teori yang mereka pinjam dari Derrida atau Baudrillard. Mereka mengubahnya menjadi objek studi. Mereka mencoba menangkap ikan itu dengan jaring-jaring intelektual mereka.
Aku membaca semua ulasan itu dengan senyum geli. Mereka semua salah. Mereka tidak mengerti. Buku itu bukan sebuah “teks”. Buku itu bukan sebuah “pernyataan politis”. Buku itu hanyalah sebuah jendela. Sebuah jendela yang dibuka oleh Seruni, dan aku hanya membantunya membersihkan kacanya.
Suatu malam, Sari melemparkan sebuah majalah stensilan ke mejaku. Majalah yang dibuat oleh kelompoknya Ratih. Isinya penuh dengan artikelartikel yang berapi-api tentang perlawanan, seruan untuk turun ke jalan, dan analisis tajam tentang korupsi rezim. Dan di halaman belakang, ada sebuah tulisan singkat tentang buku Seruni.
Ulasan itu ditulis oleh Ratih sendiri.
Tulisannya berbeda dari yang lain. Ia tidak mencoba menganalisisnya. Ia hanya menceritakan pengalamannya membaca buku itu.
"Membaca buku ini," tulisnya, "tidak membuatku ingin mengangkat kepalan tangan. Justru sebaliknya. Ia membuatku ingin duduk diam di sebuah halte bus dan benar-benar melihat wajah-wajah orang yang lewat. Ia tidak menawarkan harapan atau solusi. Ia hanya menawarkan sebuah jeda. Sebuah ruang untuk bernapas di tengah sesaknya perjuangan. Buku ini tidak menyuruh kita untuk melawan penjara. Ia hanya mengingatkan kita bahwa di dalam sel penjara yang paling gelap sekalipun, masih ada retakan di dinding tempat cahaya bisa masuk, masih ada seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya dengan tekun. Mungkin, perlawanan yang paling mendasar adalah dengan tidak melupakan hal-hal kecil itu. Mungkin, mengingat seekor laba-laba adalah sebuah tindakan politis."
Aku meletakkan majalah itu. Aku harus mengakui, Ratih telah sampai pada pemahaman yang paling mendekati. Ia tidak mencoba menangkap ikan itu. Ia hanya menggambarkan air tempat ikan itu berenang.
Aku berjalan ke luar kantor untuk merokok. Malam Jakarta terasa seperti biasanya. Sibuk, bising, dan tidak peduli. Tapi sekarang aku tahu, di tengah kebisingan ini, ada lima ratus eksemplar buku kecil berwarna cokelat yang sedang beredar dari tangan ke tangan. Ada sebuah arsip dari keheningan yang sedang dibaca.
Dan aku tahu, di suatu tempat di kota ini, Seruni mungkin sedang duduk di bawah lampu jalan, menggambar seekor kecoa yang mati dengan detail yang sama seperti saat ia menggambar tanganku. Dan di tempat lain, Ratih mungkin sedang mengetik pamflet berikutnya, tapi kali ini, mungkin, ia akan berhenti sejenak untuk melihat laba-laba di sudut kamarnya.
Aku menghisap rokokku dalam-dalam. Aku tidak lagi merasa sendirian. Aku adalah bagian dari sebuah konspirasi. Konspirasi para pengamat benda-benda terlupakan. Konspirasi mereka yang tahu bahwa kadang-kadang, cara terbaik untuk melawan sebuah monumen raksasa adalah dengan memperhatikan sebutir debu yang menempel di atasnya.
34
Buku itu mulai memiliki kehidupannya sendiri, sebuah kehidupan bawah tanah yang sunyi. Aku mendengarnya disebut-sebut dalam bisikan-bisikan di kedai kopi. Aku melihat sampul cokelatnya yang khas menyembul dari tas kain seorang mahasiswa di dalam bus kota. Ia telah menjadi semacam objek pengkultusan, sebuah jimat bagi mereka yang merasa lelah dengan slogan-slogan, baik dari pemerintah maupun dari oposisi.
Ironisnya, kesuksesan kecil ini membuat kantor kami berada di bawah pengawasan yang lebih ketat. Aku mulai merasakan kembali tatapan-tatapan yang terlatih di jalanan. Beberapa kali, sebuah mobil yang sama terparkir di seberang kantor selama berjam-jam. Telepon di kantor kadang-kadang mengeluarkan bunyi klik yang aneh. Sari dan yang lainnya menyadarinya, tapi mereka menghadapinya dengan semacam fatalisme yang riang. "Kalau mereka mau menangkap kita," kata Sari suatu kali, "setidaknya pastikan kantor ini sedang dalam keadaan bersih."
Bagiku, ini adalah pengulangan dari sebuah siklus yang sudah kukenal. Setiap kali kau mencoba menciptakan sebuah ruang kecil yang jujur, cepat atau lambat, dunia luar dengan segala aparatnya akan datang mengintip, mencoba memahami, dan jika perlu, menghancurkannya.
Aku menjadi lebih berhati-hati. Aku tidak lagi tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama. Aku kembali menjadi nomaden, berpindah dari satu kamar kos murah ke kamar kos murah lainnya, tidak pernah meninggalkan jejak lebih dari beberapa puntung rokok dan tumpukan buku yang kubaca. Identitas “Darman” adalah sebuah topeng yang kupakai saat bekerja. Di luar itu, aku berusaha menjadi tidak ada.
Suatu malam, Sari memberiku sebuah tugas. "Ada peluncuran zine baru di sebuah galeri di Kemang," katanya. "Datanglah. Lihat-lihat saja. Tulis apa yang kau lihat." Kemang di malam hari adalah dunia yang lain lagi. Dunia anak-anak muda kaya yang mencoba bermain menjadi bohemian. Mereka mengenakan pakaian-pakaian mahal yang dirancang agar terlihat seperti pakaian bekas. Mereka bicara tentang seni dan filsafat dengan aksen yang dibuat-buat.
Galeri itu kecil, penuh sesak, dan panas. Dindingnya ditempeli karya-karya fotokopian yang provokatif. Sebuah band memainkan musik noise yang memekakkan telinga. Semua orang tampak saling kenal, atau berpura-pura saling kenal. Aku berdiri di sudut, merasa seperti seorang ahli antropologi yang sedang mempelajari ritus sebuah suku yang aneh.
Lalu aku melihatnya.
Di seberang ruangan, sedang bicara dengan beberapa orang, adalah Ratih. Ia tampak berbeda lagi. Lebih keras, lebih tajam. Matanya bergerak dengan waspada, memindai ruangan. Di sebelahnya, berdiri seorang lelaki yang wajahnya langsung kukenali dari berita kecil di koran tempo hari. Pengacara muda dari lembaga bantuan hukum yang kuhubungi.
Jadi, lingkaran itu telah terhubung. Batu yang kulempar telah menciptakan riak yang sampai ke sini. Kelompok Ratih kini bekerja sama dengan para pengacara idealis itu. Mereka tidak lagi hanya melempar pamflet. Permainan mereka telah naik level.
Dan kemudian, aku melihat wajah lain. Wajah yang membuat darahku terasa dingin. Berdiri tidak jauh dari kelompok Ratih, berpura-pura mengamati sebuah karya seni, adalah pria berkumis tipis yang pernah datang ke pos jagaku di Marunda. Salah satu dari mereka yang menculik aktivis buruh itu. Ia tidak sedang menyamar. Ia di sini, di tengah-tengah kami, dengan senyum tipis di wajahnya. Ia bukan sedang mengawasi. Ia sedang berburu.
Aku harus memperingatkan Ratih.
Ini bukan lagi tentang ideologi. Ini bukan tentang aku setuju atau tidak dengan perjuangannya. Ini adalah sesuatu yang lebih mendasar. Ini tentang seekor kelinci yang tidak sadar bahwa seekor serigala sedang mengamatinya dari balik semak-semak.
Aku mulai bergerak perlahan, mencoba mendekatinya tanpa menarik perhatian. Ruangan itu terlalu ramai, musiknya terlalu keras. Saat aku hampir dekat, Ratih tiba-tiba menoleh, seolah merasakan sesuatu. Matanya bertemu dengan mataku. Kali ini, tidak ada kebingungan di matanya. Yang ada hanya pengakuan. Pengakuan yang dingin.
Pada saat yang sama, si pria berkumis tipis itu juga menoleh ke arahku. Matanya menyipit. Ia mengingatku. Penjaga malam dari Marunda. Saksi mata yang seharusnya lenyap. Sialan.
Dunia seolah melambat. Tiga titik dalam sebuah segitiga. Ratih, aku, dan si pemburu.
Aku tahu aku tidak punya banyak waktu. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menatap Ratih, lalu dengan gerakan mata yang nyaris tak terlihat, aku melirik ke arah si pria berkumis. Aku berharap ia mengerti. Aku berharap ia cukup berpengalaman untuk membaca sinyal bahaya yang paling halus sekalipun.
Wajah Ratih tidak berubah, tapi aku melihat sesuatu bergeser di matanya. Sebuah kewaspadaan baru. Ia mengerti. Lalu semuanya terjadi dengan cepat. Listrik di galeri itu tiba-tiba padam. Kegelapan total. Terdengar teriakan kaget, lalu kepanikan. Seseorang di dekat panggung berteriak, "Razia! Keluar! Keluar!"
Kekacauan pecah. Orang-orang saling mendorong, mencoba mencari jalan keluar. Ini bukan razia biasa. Ini adalah sebuah operasi. Dan aku terjebak di tengah-tengahnya.
Di dalam kegelapan dan kekacauan itu, aku tidak mencoba mencari Ratih. Aku hanya mencoba keluar. Aku membiarkan arus massa membawaku ke pintu belakang. Saat aku berhasil keluar ke sebuah gang yang gelap, aku tidak berhenti berlari.
Aku berlari tanpa menoleh ke belakang. Aku berlari bukan lagi sebagai seorang pengamat, bukan sebagai seorang hantu. Aku berlari sebagai seorang target. Permainan telah berakhir. Aku tidak lagi bisa menjadi batu di sepatu mereka. Karena sekarang, mereka datang dengan palu godam untuk menghancurkan batu itu.
35
Pelarian. Kata itu memiliki ritmenya sendiri. Detak jantung yang memompa terlalu cepat, napas yang tersengal, dan suara langkah kaki di atas aspal basah. Aku berlari menyusuri gang-gang belakang Kemang, labirin yang tidak kukenali. Di belakangku, aku masih bisa mendengar teriakan-teriakan yang samar dan suara sirene yang mendekat.
Aku tidak tahu apakah mereka mengejarku secara spesifik. Mungkin tidak. Dalam kekacauan seperti itu, target utama mereka pastilah Ratih dan kelompoknya. Aku hanyalah seekor ikan teri yang kebetulan ikut terjaring. Tapi aku tidak mau mengambil risiko. Aku telah melihat wajah si kumis tipis, dan ia telah melihat wajahku. Kami telah saling mengakui keberadaan masing-masing. Dalam permainannya, itu sudah cukup untuk menjadi sebuah vonis.
Aku terus berlari hingga paru-paruku terasa seperti akan terbakar. Aku berhenti di sebuah jembatan penyeberangan yang sepi di dekat Jalan Antasari, mencoba mengatur napas. Dari atas sini, aku bisa melihat lampu-lampu mobil yang bergerak di bawah, sebuah sungai cahaya yang tak peduli pada drama kecilku.
Kantor penerbit sudah tidak aman. Kamar kosku, di mana pun itu saat ini, juga tidak aman. Mereka tahu namaku sekarang, nama samaranku. “Darman”. Dari sana, tidak akan sulit bagi mereka untuk melacak jejak-jejak lain.
Aku sendirian. Benar-benar sendirian. Tidak ada Seruni, tidak ada Darman sang hantu, tidak ada Jaka. Hanya ada aku dan kota yang tiba-tiba terasa begitu memusuhi.
Aku teringat sesuatu. Sesuatu yang pernah dikatakan Darman saat kami sedang mabuk, sebuah lelucon yang saat itu terdengar seperti omong kosong. "Jika suatu saat kau benar-benar terjepit," katanya, "jangan bersembunyi di tempat yang gelap. Bersembunyilah di tempat yang paling terang. Pergilah ke jantung musuhmu. Mereka tidak akan pernah mencarimu di sana."
Jantung musuh. Di mana itu? Markas besar militer? Istana negara? Itu konyol, dan tolol.
Lalu aku teringat pada biografi jenderal yang kuterjemahkan. Di dalamnya, ada satu bab yang menceritakan tentang “sisi humanis” sang jenderal. Tentang hobinya. Tentang tempat favoritnya untuk menenangkan pikiran. Sebuah tempat yang ia bangun dengan uang negara, tapi ia anggap sebagai milik pribadinya. Sebuah taman anggrek raksasa di pinggiran kota, yang dibuka untuk umum sebagai kedok. “Taman Anggrek Cendana Sari”.
Itu adalah ide paling gila, paling bodoh yang pernah kupikirkan. Tapi justru karena itulah, ide itu terasa benar. Tidak akan ada yang mencariku di sana. Di sebuah taman yang didedikasikan untuk hobi seorang jenderal besar, aku akan menjadi anonimitas yang sempurna.
Dengan sisa uang terakhir di sakuku, aku naik bus ke arah selatan, menuju tempat yang ditunjukkan oleh peta di kepalaku, peta yang kuhafal dari halaman-halaman biografi penuh kebohongan itu.
Perjalanan itu terasa seperti perjalanan menuju dunia lain. Aku meninggalkan Jakarta yang padat dan bising, masuk ke kawasan yang lebih hijau, lebih tenang, di mana rumah-rumah besar berdiri di balik pagar-pagar yang tinggi.
Taman anggrek itu lebih besar dan lebih megah dari yang kubayangkan. Sebuah kompleks rumah kaca raksasa, dikelilingi oleh taman yang ditata dengan sempurna. Di pintu masuk, foto sang jenderal yang sedang tersenyum sambil memegang setangkai anggrek dipajang dalam bingkai emas. Aku membayar tiket masuk yang harganya tidak seberapa. Di dalam, udaranya lembap dan hangat. Ribuan anggrek dari berbagai jenis tergantung di mana-mana, mekar dengan warnawarna yang nyaris tidak nyata. Ungu, putih, kuning, dengan corak-corak yang rumit dan eksotis. Keindahan di sini adalah keindahan yang terkontrol, yang direkayasa, yang dipaksa untuk mekar sesuai jadwal.
Pengunjungnya tidak banyak. Hanya beberapa keluarga kaya dan turis-turis Jepang yang memotret setiap bunga dengan kamera mereka yang canggih. Aku berjalan di antara mereka, mencoba terlihat seperti salah satu dari mereka, seorang penikmat bunga yang tak berdosa.
Di salah satu sudut taman, ada sebuah kafe kecil. Aku duduk di sana, hanya memesan segelas air putih, dan mengamati. Dari sini, aku bisa melihat sebagian besar taman. Aku bisa melihat pintu masuk dan pintu keluar. Ini adalah pos pengamatan yang sempurna.
Aku duduk di sana selama berjam-jam. Aku melihat para tukang kebun yang merawat bungabunga itu dengan sangat hati-hati. Aku melihat para petugas keamanan yang berpatroli dengan langkah santai. Semuanya tampak damai. Teratur. Sempurna.
Ini adalah jantung musuh. Sebuah surga buatan yang dibangun di atas penderitaan dan kebohongan. Dan di sinilah aku, sang penyabot terjemahan biografinya, sang saksi mata dari operasi rahasianya, duduk di kafenya, meminum airnya.
Darman akan tertawa terbahak-bahak jika ia bisa melihatku sekarang.
Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di sini. Sehari? Dua hari? Aku tidak punya rencana. Aku hanya mengikuti insting gilaku. Bersembunyi di tempat yang paling terang. Menjadi anggrek liar di tengah-tengah kebun yang paling terawat.
Malam mulai turun. Para pengunjung terakhir mulai pergi. Kafe akan segera tutup. Aku harus mencari tempat untuk tidur malam ini. Mungkin di salah satu sudut taman yang gelap, di belakang rumpun bambu, di mana para tukang kebun tidak akan melihatku.
Saat aku hendak bangkit, seorang pelayan menghampiriku. "Mas, mau tutup," katanya sopan.
Aku mengangguk. Tapi saat aku menatapnya, aku merasakan sesuatu yang familier. Wajahnya kurus, matanya tampak lelah, tapi ada semacam ketenangan di sana. Wajah yang sama yang pernah kutemui di sebuah warung kopi di pinggir rel kereta.
Wajah Jaka.
36
Dunia seolah berhenti berputar selama sepersekian detik. Jantungku yang tadinya berdebar karena pelarian, kini berdebar karena alasan yang sama sekali berbeda. Jaka. Di sini. Di tempat terakhir di bumi yang tidak akan kuduga.
Ia juga mengenaliku. Matanya yang biasanya tampak lelah, kini melebar karena kaget. Tapi ia adalah seorang profesional dalam bertahan hidup. Dalam sekejap, ekspresinya kembali datar. Ia hanya mengangguk sedikit, seolah aku adalah pelanggan biasa yang ia suruh pergi.
"Baik, Mas," kataku, mencoba menjaga suaraku agar tetap normal. Aku bangkit dan berjalan keluar dari kafe, kembali ke taman yang mulai remang.
Aku tidak langsung pergi. Aku bersembunyi di balik sebuah patung semen berbentuk angsa, jantungku masih berdebar kencang. Apakah ini jebakan? Apakah mereka menangkap Jaka dan memaksanya bekerja di sini untuk memancingku? Atau ini hanyalah salah satu dari lelucon kosmik kejam yang sering di-mainkan oleh kota ini?
Aku menunggu. Setengah jam kemudian, Jaka keluar dari kafe. Ia tidak lagi memakai seragam pelayannya. Ia berjalan santai ke arah gerbang keluar, seperti karyawan lain yang akan pulang. Tapi sebelum berbelok, ia berhenti sejenak di bawah sebuah lampu taman, menyalakan sebatang rokok. Ia mengembuskan asapnya ke atas, lalu dengan sengaja menjatuhkan sesuatu yang kecil dan berkilau ke dalam pot bunga besar di dekatnya. Kemudian ia berjalan pergi, lenyap ditelan kegelapan.
Itu adalah sebuah sinyal. Aku tahu itu.
Aku menunggu beberapa menit lagi, memastikan keadaan aman. Lalu aku berjalan perlahan ke arah pot bunga itu. Di antara tanah yang gembur, aku melihatnya. Sebuah kunci. Kunci kecil dan sederhana, seperti kunci gudang atau pintu belakang.
Aku mengambilnya. Kunci itu terasa dingin di tanganku. Ini adalah sebuah pertaruhan. Bisa jadi ini jebakan. Tapi instingku menga-takan hal lain. Instingku mengatakan bahwa ini adalah sebuah uluran tangan dari sesama hantu.
Aku berjalan menyusuri taman yang kini sudah sepi, hanya diterangi oleh lampu-lampu yang ditempatkan secara strategis. Aku menuju ke bagian belakang kompleks, ke area servis yang tidak dibuka untuk umum. Di sana ada beberapa bangunan kecil: gudang pupuk, rumah genset, dan sebuah mes kecil untuk para tukang kebun.
Aku mencoba kunci itu di salah satu pintu mes. Pintu paling ujung, yang paling gelap. Klik. Kunci itu pas. Pintunya terbuka.
Aku masuk ke dalam, menutup pintu dengan pelan di belakangku. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk satu ranjang sempit dan sebuah lemari. Baunya seperti campuran tanah dan keringat. Ini adalah kamar Jaka.
Aku tidak menyalakan lampu. Aku hanya duduk di tepi ranjang, membiarkan mataku terbiasa dengan kegelapan. Aku aman, setidaknya untuk malam ini.
Aku tidak tahu bagaimana Jaka bisa sampai di sini. Mungkin setelah ia “lenyap” dari Marunda, ia menggunakan semua koneksinya untuk mendapatkan pekerjaan yang paling tidak mencurigakan, di tempat yang paling tidak terduga. Bekerja di surga milik sang jenderal. Bersembunyi di tempat yang paling terang. Ia menggunakan logika Darman.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidur di atas sebuah ranjang. Kasurnya tipis dan keras, tapi terasa seperti ranjang paling mewah di dunia. Aku tidak lagi tidur di bawah jembatan atau di teras toko. Aku tidur di jantung wilayah musuh, di sebuah kamar yang kuncinya diberikan oleh seorang kawan tak terduga.
Keesokan paginya, aku tidak keluar dari kamar itu. Aku mendengar suara-suara para tukang kebun yang mulai bekerja. Aku menunggu. Menjelang siang, seseorang mengetuk pintu dengan pola yang aneh: tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang. Sebuah kode.
Aku membukanya. Jaka berdiri di sana, tidak lagi memakai seragam pelayannya, hanya kaus oblong biasa. Ia membawa sebungkus nasi dan sebotol air.
"Selamat datang di istana," bisiknya dengan senyum tipis.
Kami duduk di lantai, makan nasi bungkus dalam diam. Setelah selesai, ia baru bicara.
"Aku tahu kau akan datang ke sini suatu saat," katanya. "Orang sepertimu, yang lari, cepat atau lambat akan mencari tempat yang paling mustahil."
"Bagaimana denganmu?" tanyaku.
"Aku punya kawan lama yang bekerja jadi mandor kebun di sini," jawabnya. "Setelah kejadian di Marunda, aku menghubunginya. Dia butuh orang untuk kerja di kafe, tidak banyak tanya. Jadilah aku di sini." Ia menghela napas. "Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah di perut buaya. Buaya tidak akan berpikir untuk memakan isi perutnya sendiri."
"Telepon itu... kau yang melakukannya?" tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangguk.
Ia terdiam sejenak, menatap ke luar jendela kecil kamar itu. "Batu yang kecil, tapi lemparannya bagus," katanya. "Berita itu membuat mereka sedikit panik. Mereka memindahkanku ke sini agar aku tidak banyak bicara."
Jadi, lemparanku tidak sia-sia. Ia memang menimbulkan riak.
"Kau tidak bisa tinggal di sini selamanya," kata Jaka. "Mereka punya data semua karyawan. Cepat atau lambat, mereka akan tahu ada penyusup."
"Aku tahu," kataku. "Aku hanya butuh tempat untuk bernapas."
"Aku bisa memberimu beberapa hari," katanya. "Setelah itu, kau harus pergi. Aku sedang mengurus sesuatu. Sesuatu yang bisa membawamu keluar dari akuarium ini. Untuk selamanya."
"Apa itu?"
Jaka tersenyum, senyumnya kali ini penuh dengan misteri. "Kau ingat kapal-kapal di pelabuhan? Tidak semua kapal tercatat dalam manifes resmi. Ada kapal-kapal hantu, yang berlayar di malam hari, membawa barang-barang yang tidak seharusnya dibawa."
Ia menatapku lekat. "Aku punya koneksi. Sebuah kapal akan berangkat ke Singapura lusa malam. Mereka bisa membawamu. Tapi ongkosnya mahal."
"Aku tidak punya uang," kataku.
"Aku tahu," jawab Jaka. "Karena itu, kita harus mengambilnya."
"Mengambil dari mana?"
Jaka tersenyum lagi. "Dari buaya itu sendiri. Malam ini, saat sang jenderal dan keluarganya sedang makan malam di vilanya di puncak, kita akan mengunjungi kantor pengelola taman ini. Kata mandor kebun, brankas di sana selalu terisi penuh di akhir pekan."
Aku menatapnya. Kegilaan ini... ini adalah kegilaan tingkat Darman. Merampok brankas di jantung kekuasaan musuh. Ini bukan lagi sekadar bertahan hidup. Ini adalah sebuah serangan balik. Sebuah lelucon terakhir yang berbahaya.
"Kau gila," bisikku.
"Di dunia yang gila," jawab Jaka, "menjadi waras adalah bentuk kegilaan yang paling menyedihkan."
37
Kegilaan itu menular. Aku tidak tahu apakah itu karena putus asa, atau karena aku sudah terlalu lama hidup di ujung tanduk hingga kehilangan rasa takut, tapi aku berkata, "Aku ikut."
Jaka hanya mengangguk, seolah ia sudah tahu jawabanku. Rencananya sederhana, yang membuatnya semakin menakutkan. Tidak ada senjata. Tidak ada kekerasan. Hanya kecepatan, waktu, dan pengetahuan tentang medan. Jaka, selama berbulan-bulan bekerja di sana, telah memetakan segalanya: jadwal patroli keamanan internal, letak kamera pengawas yang rusak, dan yang terpenting, kebiasaan kepala pengelola yang selalu meninggalkan kunci brankas di laci mejanya yang tidak terkunci. "Orang yang merasa paling aman," kata Jaka, "adalah orang yang paling ceroboh."
Malam itu, taman anggrek terasa berbeda. Bukan lagi surga buatan yang damai. Ia terasa seperti sebuah panggung opera yang megah, di mana kami akan melakukan pertunjukan tunggal kami yang paling berbahaya. Kami menunggu hingga lewat tengah malam, saat patroli terakhir telah lewat dan kompleks itu jatuh ke dalam keheningan yang paling dalam.
Kami bergerak dalam bayang-bayang. Jaka memimpin, langkahnya ringan dan tanpa suara, seperti hantu di kebunnya sendiri. Aku mengikutinya, jantungku berdebar seperti genderang perang. Kami menyelinap masuk ke gedung pengelola melalui sebuah jendela di toilet belakang yang engselnya sudah lama rusak, sebuah detail yang hanya diketahui oleh para karyawan rendahan.
Kantor itu gelap dan sunyi. Bau pendingin ruangan yang dimatikan dan kertas-kertas tua memenuhi udara. Jaka langsung menuju ke ruangan kepala pengelola. Benar saja, kunci brankas itu ada di sana, di laci paling atas, di bawah setumpuk formulir cuti.
Brankas itu sendiri tersembunyi di balik sebuah lukisan pemandangan murahan. Jaka membukanya dengan tangan yang mantap. Di dalamnya, tidak ada emas atau berlian. Hanya tumpukan amplop-amplop cokelat berisi uang tunai, gaji para karyawan untuk minggu berikutnya.
"Jangan ambil semua," bisik Jaka. "Ambil secukupnya dari beberapa amplop. Biar terlihat seperti perampokan kecil yang panik, bukan pekerjaan orang dalam."
Ia menyerahkan beberapa amplop kepadaku. Tanganku gemetar saat aku mengambil beberapa gepok uang dari dalamnya. Uang ini terasa panas, seolah ia bisa membakar kulitku. Ini adalah uang dari keringat para tukang kebun, uang dari kebohongan sang jenderal, uang dari perut buaya itu sendiri.
Kami menutup kembali brankas itu, mengunci pintu, lalu mengembalikan kuncinya persis di tempatnya semula. Kami keluar melalui jendela yang sama, dan dalam beberapa menit, kami sudah kembali ke dalam kamar mes Jaka yang sempit.
Kami menghitung uangnya di bawah cahaya senter kecil. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar ongkos kapal hantu itu.
"Besok pagi," kata Jaka, sambil membagi uang itu menjadi dua. "Kau pergi sebelum matahari terbit. Jangan lewat gerbang depan. Lewat pagar di ujung timur, ada bagian yang kawatnya sudah kendor. Dari sana, langsung cari ojek ke pelabuhan. Temui seseorang bernama Kapten Naga di Warung Pojok. Berikan ini padanya." Ia memberiku separuh sobekan dari sebuah kartu remi, bergambar naga. "Dia akan memegang separuh sobekan lainnya. Jangan bicara pada siapa pun selain dia."
Ia memasukkan bagian uangnya ke dalam sebuah tas kecil. "Aku akan tetap di sini seminggu lagi, untuk berjaga-jaga. Lalu aku akan lenyap juga."
"Kau mau ke mana?" tanyaku.
Ia tersenyum. "Ke tempat di mana tidak ada jenderal, tidak ada aktivis, dan tidak ada pahlawan. Mungkin tempat seperti itu tidak ada. Tapi aku akan terus mencarinya."
Kami berjabat tangan. Sebuah jabat tangan yang singkat namun erat. Jabat tangan dua orang konspirator, dua orang yang telah mengunjungi perut buaya dan berhasil keluar dengan membawa sebagian isinya.
Sebelum fajar, aku menyelinap keluar dari kompleks itu. Pagar kawat di ujung timur memang sudah kendor. Aku merangkak di bawahnya, kembali ke dunia luar, dengan saku yang berat oleh uang haram dan sebuah sobekan kartu remi.
Aku berjalan di jalanan yang masih sepi menuju jalan raya. Udara pagi terasa dingin dan segar. Aku menoleh ke belakang, menatap siluet rumah-rumah kaca raksasa di taman anggrek itu. Aku telah masuk ke sarang musuh, dan aku keluar bukan hanya sebagai korban, tapi sebagai seorang pencuri.
Aku teringat Darman dan tawa seraknya. Ia pasti akan sangat menyukai cerita ini. Ini adalah lelucon terakhirnya, yang dieksekusi olehku dan seorang pelayan kafe yang pendiam. Sebuah aksi yang tidak akan pernah tercatat di buku sejarah mana pun. Sebuah sabotase kecil yang terasa seperti kemenangan terbesar di dunia.
Aku sampai di jalan raya. Aku tidak menunggu bus. Aku menyetop taksi pertama yang lewat.
"Pelabuhan Sunda Kelapa," kataku pada sopirnya. "Cepat."
38
Taksi melaju menembus Jakarta yang mulai menggeliat. Aku bersandar di jok belakang, merasakan setiap getaran mesin. Uang di sakuku terasa seperti sebuah pemberat, menarikku ke bawah, ke dunia baru yang penuh dengan ketidakpastian. Aku bukan lagi seorang gelandangan atau penjaga malam. Aku adalah seorang buronan dengan modal nekat.
Sunda Kelapa di pagi hari adalah sebuah portal waktu. Kapal-kapal pinisi kayu yang megah bersandar di dermaga, tali-temalinya yang kokoh menjerit setiap kali diterpa angin laut. Udara di sini pekat oleh bau ikan, garam, dan kayu basah. Di sini, waktu terasa berjalan lebih lambat, tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk gedung-gedung pencakar langit di kejauhan.
Warung Pojok ternyata persis seperti namanya: sebuah warung reyot yang terjepit di sudut antara dua gudang tua. Asap dari dapur arangnya mengepul, menyebarkan aroma kopi dan mi instan. Di dalamnya, hanya ada beberapa orang pelaut dan kuli panggul yang sedang sarapan.
Aku masuk dan duduk di sebuah bangku panjang yang lengket. Seorang pria besar dengan wajah yang dipenuhi bekas luka dan tato naga pudar di lengannya menatapku dari balik meja kasir. Matanya tajam, seperti mata seekor elang. Ini pasti Kapten Naga.
Aku memesan segelas kopi. Ia membuatnya tanpa banyak bicara, lalu meletakkannya di hadapanku. Aku membiarkan kopi itu mendingin sejenak, lalu aku mengeluarkan sobekan kartu remi dari sakuku dan meletakkannya di atas meja, di samping gelasku.
Kapten Naga melirik kartu itu, lalu menatapku. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet kulit yang tebal, dan dari dalamnya ia mengambil separuh sobekan kartu lainnya. Ia meletakkannya di samping sobekanku. Gambar naga itu kembali utuh.
"Jaka?" bisiknya, suaranya serak dan berat.
Aku mengangguk.
"Dia masih hidup rupanya," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. Ia mengambil kembali sobekan kartunya. "Kapal berangkat setelah tengah malam. Saat air pasang. Kau tunggu di ujung dermaga C. Jangan bicara pada siapa pun. Seseorang akan menjemputmu dengan perahu kecil."
Ia menatapku lekat. "Kau bawa barangnya?"
Aku mengerti maksudnya. Aku mengeluarkan segulung uang dari sakuku dan menyelipkannya di bawah cangkir kopiku. Ia mengambilnya dengan gerakan cepat, tanpa menghitungnya, lalu memasukkannya ke dalam laci kasir.
"Tunggu di sini sampai sore," katanya. "Lebih aman. Setelah gelap, baru kau bergerak ke dermaga."
Transaksi selesai. Aku menghabiskan sisa hariku di warung itu. Aku memesan mi instan, membaca koran bekas yang ada di meja, mendengarkan percakapan para pelaut tentang badai dan perempuan di pelabuhan-pelabuhan jauh. Aku mencoba untuk tidak berpikir.
Saat senja tiba dan langit di atas pelabuhan mulai berwarna jingga, aku berjalan keluar dari warung itu. Aku mencari sebuah masjid kecil di dekat sana untuk membersihkan diri. Lalu aku berjalan ke Dermaga C.
Dermaga itu sepi dan gelap, hanya diterangi oleh beberapa lampu temaram dari kapal-kapal yang bersandar. Aku duduk di ujung dermaga, di atas tumpukan tali tambang yang berbau laut. Aku menatap ke seberang, ke arah lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang-bintang buatan.
Di suatu tempat di antara lampu-lampu itu, ada Sari dan kawan-kawannya di penerbit, mungkin sedang merencanakan buku berbahaya berikutnya. Di tempat lain, Ratih dan kelompoknya mungkin sedang menyusun strategi perlawanan mereka. Dan di tempat lain lagi, Seruni mungkin sedang menggambar sesuatu yang indah di atas dinding yang kotor.
Mereka semua adalah para pejuang, dengan caranya masing-masing. Mereka bertarung dengan kata-kata, dengan pamflet, dengan gambar.
Dan aku? Aku melarikan diri.
Apakah ini sebuah pengkhianatan? Apakah aku seorang pengecut? Mungkin. Tapi aku teringat kata-kata Darman. Jadilah air. Mengalir ke tempat yang tak terduga.
Mungkin pelarian ini bukanlah sebuah akhir. Mungkin ini hanyalah cara lain untuk bertarung. Bertarung dengan cara menghilang. Menolak untuk menjadi target, menolak untuk menjadi korban, menolak untuk menjadi nama lain dalam daftar orang hilang. Dengan melarikan diri, aku menjaga ceritaku tetap hidup, meskipun hanya untuk diriku sendiri.
Tengah malam tiba. Lautan di hadapanku tampak seperti hamparan tinta hitam yang tak berujung. Lalu, dari kegelapan, aku melihat sebuah cahaya kecil mendekat. Sebuah perahu dayung tanpa suara. Seseorang di dalamnya melambaikan lentera.
Ini adalah jemputanku.
Aku bangkit. Aku menatap kembali ke arah kota untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak merasakan kesedihan atau nostalgia. Aku hanya merasakan kelegaan yang luar biasa.
Aku melompat turun ke dalam perahu kecil itu. Pendayungnya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mulai mendayung, membawa kami menjauh dari dermaga, menuju sebuah kapal barang besar yang menunggu dalam gelap seperti seekor monster laut yang sabar.
Perjalanan baru telah dimulai. Aku tidak tahu apa yang menantiku di seberang lautan. Mungkin penjara yang lain, dengan bahasa dan aturan yang berbeda. Mungkin juga tidak.
Aku mengeluarkan sketsa tangan dari sakuku, satu-satunya propertiku yang tersisa. Aku menatapnya di bawah cahaya bulan yang pucat. Lalu, dengan sebuah gerakan tiba-tiba, aku melemparkannya ke laut.
Kertas itu melayang sejenak, lalu jatuh di atas permukaan air yang gelap dan lenyap ditelan ombak.
Tamat.
[1] Penggalan wawawancara ini diambil dari arsip Catatan Muslihat. [[https://catatanmuslihat.wordpress.com/2017/07/01/potongan-transkrip-wawancara-cumbu-sigil-dengan-komite-hitam-forum-majalah-batubata-edisi-8-2001/][Arsip Catatan Muslihat]]