Title: Thanatos
Subtitle: Sebuah Catatan
Author: Cumbu Sigil
Publication: Arsip Catatan Muslihat
Publication Date: 2004
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

Tulisan ini diambil dari diari dan buku catatan Cumbu Sigil paska kematiannya di bulan Agustus tahun 2004. Tulisan ini juga diduga adalah peninggalan terakhir, “surat bunuh diri” dari Cumbu Sigil yang diperuntukkan untuk kerabat-kerabat terdekatnya, meskipun ada tulisan-tulisan lain yang mengindikasikan hal yang serupa, seperti “Senja Merah di Karawang” yang merupakan ode atas kematiannya sendiri.

Apabila di dalam setiap tindakan harus selalu disertai dengan alasan, atau paling tidak, alasan yang selalu menjadi sebab di dalam setiap insan, maka alasan yang kupunya ketika aku memutuskan untuk menulis tulisan ini mengandung dua sebab. Dua-duanya datang dari ketakutanku yang paling dalam. Yang pertama adalah ketakukanku akan tendensi yang kupunya untuk segera melompat dari parapet di lantai tertinggi, dan yang kedua adalah, ketakutanku akan kesalah pahaman yang akan timbul setelahnya mengenai tendensiku ini. Karena bisa dipastikan, jika aku memang benar melompat, aku tidak akan hidup setelahnya dan mempunyai waktu lagi untuk menjelaskan tindakanku.

Yang paling disayangkan adalah jika tindakan melompat (bunuh diri) ini disalah artikan sebagai tindakan keputus asaan. Seperti tindakan bunuh diri seorang TKW yang dianiaya di Arab Saudi; seorang ibu yang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri (serta anak-anaknya) dengan meminum racun yang dilarutkan, karena terbelit hutang keluarga; remaja-remaja naif yang menyayat urat nadinya dan pada akhirnya membunuh dirinya sendiri karena urusan cinta; korban pemerkosaan yang membunuh dirinya sendiri karena rasa malu yang membebaninya; tindakan bunuh diri anak-anak muda yang sebagian besar digerakkan oleh fanatisme buta dan kegelisahan, persis seperti pelaku-pelaku bom bunuh diri; seorang seniman, atau penyair melankolis yang begitu ingin segera mengakhiri hidupnya; atau bahkan tindakan logical suicide yang dilakukan oleh seorang eksistensialis…

Orang tuaku khususnya, mungkin lebih ingin mempercayai bahwa tindakan yang dilakukan oleh anaknya yang bodoh ini adalah murni karena persoalan cinta. Dan mungkin juga, beberapa kawan terdekatku lalu akan menyesali mengapa mereka tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar Don Quixote—yaitu membakar buku-buku yang sering kubaca. Tetapi yang perlu diketahui disini, niatanku yang berujung kepada terbunuhnya, atau jika keberuntungan berada di pihakku, cacatnya diriku (semua tergantung dari ketinggian dan dimana tempat aku terjatuh) sama sekali tidak disebabkan oleh alasan-alasan yang telah kusebutkan tadi. Meskipun tentu, bisa jadi, ada beberapa pengaruh dari buku, lagu, atau film yang selama ini telah ku serap, tetapi aku tidak sepenuhnya sadar akan hal-hal itu ketika niatan ini muncul ke dalam pikiranku. Aku bahkan sebenarnya tidak ingin menyebut hal ini sebagai niatan, saat sebenarnya yang kualami ini lebih merupakan sebuah tendensi. Hasrat, seperti apa yang dimiliki oleh sang Eros, hanya saja, apa yang kupunya lebih mempunyai unsur dan tujuan moral yang grandeur, dan yang sudah sepantasnya merupakan hal yang tabu bagi setiap orang yang merasa masih mempunyai martabat dan wibawa.

Dorongan serupa yang memaksaku, dan yang pernah kualami dulu, kira-kira pada umur sepuluh tahun, ketika aku menancapkan staples ke jariku saat duduk di meja kelas, atau ketika aku mencoba untuk menyentuh api lilin dan mendekatkan wajahku ke panasnya permukaan kaca petromaks diatas meja makan orang tuaku[1]. Inklinasi penuh dosa yang kukembangkan sedari kecil, ketika aku berpikir dan lalu merespon khotbah-khotbah Jum’at dengan pernyataan-pernyataan kontradiktif dalam hati ketika aku duduk di sebelah Ayahku yang terlihat khusyuk. Dorongan dalam diri ini, tawa yang lepas, dan gestur-gestur non-sensikal yang menunggu untuk mencuat ke permukaan ketika aku terjebak dalam sebuah wawancara lamaran pekerjaan, yang bagiku terasa amat teatrikal. Atau bahkan ketika aku menghadiri upacara pemakaman yang penuh dengan nuansa duka. Adalah apa yang terus mendorong batinku untuk segera saja menyentuh dan meremas dada gadis-gadis asing yang banyak kutemui di jalan, bukan dikarenakan oleh impuls seksual, melainkan hanya karena aku terdorong untuk melakukan segala perilaku yang tidak senonoh. Adalah dosa, tindakan kriminal, dan perasaan bersalah yang menyelimuti ketika aku diam-diam berniat untuk menyakiti nenekku dulu karena ia terlihat begitu tak berdaya, dengan kondisi fisiknya yang terus melemah karena usia, saat kunjungan akhir tahun yang biasanya membuat suasana keluarga menjadi begitu bahagia, termasuk diriku, yang terpaksa harus meredam segala perasaanku dan ikut berpartisipasi dalam euphoria kegembiraan tersebut. Adalah pengkhianatan, ketika engkau meniduri istri dari saudara kandungmu sendiri saat engkau tahu betul bahwa engkau tidak mempunyai gairah, atau perasaan apapun terhadapnya. Adalah sebuah kesalahan dimana aku harus menjukstaposisi segala hal yang paling kuhormati, dengan apa yang profan, di hari Sabtu Suci seperti ini, dan yang artinya juga alasan mengapa aku benar-benar harus melompat, mengambil langkah besar itu.

Tetapi sebelumnya, biarkan aku kembali menjelaskan perihal pengaruh-pengaruh yang kudapat. Aku tidak akan menyangkal bahwa ide untuk melompat itu adalah ide yang benar-benar murni, tanpa pengaruh apapun. Sifat impulsif yang dimiliki oleh Georg Bendemann[2], karakter di dalam “The Judgment” karya Kafka, terus mengawang di satu sudut otakku. Terlebih lagi, di dalam edisi terbitan yang terbaru, elemen tragis dalam adegan tersebut diperkaya dalam bentuk ilustrasi, sehingga tidak mudah untuk begitu saja dilupakan. Walaupun begitu, kita semua tahu bahwa agar seseorang dapat sepenuhnya terpengaruh oleh suatu ide, orang tersebut harus paling tidak pernah mengalami hal yang serupa, sesuatu yang dapat menimbulkan perasaan nostalgi, atau hal apapun yang dapat berreaksi terhadap ide tersebut. Tendensiku untuk menyentuh dan melampaui batasan, titik akhir, menyakiti jemariku dengan butir-butir staples di usia sepuluh tahun sebagai kegemaran, kurang lebih menunjukkan bahwa sifat yang kupunya ini bersifat lahiriah. Sedangkan, penemuanku akan kisah-kisah atau ide-ide di dalam buku-buku yang kubaca, atau misal apa yang kubaca baru-baru ini, essai Bataille tentang Kafka, adalah sebuah bentuk klarifikasi, sebuah proses penamaan: nama seseorang yang memang sudah ada, terminologi baru untuk menjelaskan ekspresi atau gestur yang telah lama kuperbuat, realisasi atas apa yang dinamakan di sudut ruangan itu, dimana segala pemikiran dan tendensi diceritakan dengan pola naratif, menjadi kata, istilah, kalimat, paragraf, halaman, buku, atau ide yang lebih koheren dan terorganisir.

Salah satu kepuasan yang didapat ketika engkau menemukan buah pikiran baru entah itu dalam buku yang kau baca, atau film yang kau tonton, adalah tentu saja perasaan senang ketika engkau menemukan ide-ide yang sebelumnya telah lama kau pikirkan, diceritakan dengan versi yang berbeda, lebih tertata dan lebih mendalam, dan juga dari posisi yang lebih kredibel. Ini adalah satu cara untuk seseorang memilih penulis yang ia gemari, atau politisi yang ia pilih untuk menyuarakan suaranya. Maka dari itu, pengaruh-pengaruh eksternal yang kudapat, alih-alih merubah cara berpikirku, atau merubah segala tindakan yang kuperbuat, malah sebenarnya hanya memantik dan memelihara apa yang sudah menjadi bagian dari diriku. Seperti yang dikatakan dalam teori bercocok tanam, benih yang tepat di tanah dan iklim yang cocok.

Yang penting dari pembacaan Bataille terhadap kisah Kafka tersebut, bagaimana ia telah membantuku menamai dan mengklarifikasi, untuk melakukan lompatan ke arah obliviun, melampaui melankoli, dan yang bisa jadi baginya, terlihat jelas dari apa yang Kafka katakan kepada Max Brod, ‘violent ejaculation’[3], yaitu relasi antara erotisme dan kedaulatan individual (meskipun Bataille membantah klaim tersebut). Entah kenapa, semua ini lalu membuatku berpikir kembali tentang lompatan-lompatan yang telah terjadi di masa lalu. Lompatan tragis yang dilakukan oleh karakter dalam cerita pendek Dostoevsky, lompatan yang kusaksikan secara langsung di gardu listrik belakang tempat tinggalku, lompatan yang kulihat di televisi (orang-orang yang melompat dari gedung saat peristiwa 9/11) dan sekarang satu-satunya yang dapat bertahan melalui Kejatuhan ini adalah ia yang mempunyai sayap seperti Ikarus. Tendensi dan ketakutanku untuk melompat, ketinggian yang juga merupakan bagian dari rasa takut, sekaligus godaan...

[1] Cumbu Sigil menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dalam kemelaratan, kadang ia harus terpaksa hidup tanpa listrik selama beberapa bulan hingga orang tuanya dapat membayar tagihan listrik. Dalam masa ini juga lah kondisi matanya mulai memburuk dikarenakan kebiasaannya membaca di dalam gelap.

[2] Dalam novel karya Kafka yang berjudul “The Judgment”, Georg Bendemann, seorang saudagar yang berbakti secara tulus kepada ayahnya, secara impulsif melompat terjun ke dalam sungai dari jembatan dan mati, karena perlakuan dan tekanan dari ayahnya yang penuh dengan perasaan curiga, menuduhnya sebagai seorang anak yang durhaka: berbuat baik kepadanya hanya agar (pada akhirnya) ia bisa mengambil alih bisnisnya.

[3] Bataille mengunakan istilah ‘violent ejaculation’ sebagai cara untuk menggambarkan sensasi erotis yang nyaris mendekati kematian: entah itu melalui seks, sadomasokisme (ekstasi fisik), atau murni mengenai kebengisan animalistik. Sensasi yang nampaknya terus dieksploitasi oleh Clara, karakter dalam novel karya Mirbeau “Torture Garden”; atau mereka para komplotan fasis dalam film Pasolini “Salo: 120 Days of Sodom” yang diadaptasi dari novel karya Marquis de Sade dengan judul yang sama.