Title: Waktu dan Idiosinkrasi
Subtitle: Sebuah Catatan
Author: Cumbu Sigil
Publication: Arsip Catatan Muslihat
Publication Date: 1998
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

… Time indeed passes, and we pass with it.

— Jacques-Bénigne Bossuet

Sekitar tiga bulan yang lalu, ia mulai menyadari bahwa ia merasa terlalu memanjakan fase prokrastinasi yang dilaluinya. Ia mulai menelusuri kembali masa lalunya, jauh ke masa kecilnya, tentang seberapa banyak waktu yang telah ia lewatkan dengan sia-sia. Dalam benaknya, tidaklah mudah untuk mengakui bahwa hampir dari setengah waktu yang ia lewati semasa hidupnya, terbuang begitu saja tanpa arti. Setelah ia, secara mental, menyusun daftar inventaris yang panjang mengenai aktivitas-aktivitas yang membuang waktunya, ia entah bagaimana, berhasil menemukan sumber masalahnya. Ia kini percaya bahwa semua ini pasti disebabkan oleh kebiasaan yang ia lakukan di pagi buta dan siang bolong, membuang waktu memandangi jam mekanik di dinding kamarnya.

Kadang, ia melamun, menatap kosong, dan lalu tersentak sadar; kadang, pikirannya mengawang liar tak terkendali, dari rekoleksi ingatan tanpa arti ke kegelisahan yang antisipatif, dan imajinasi-imajinasi konyol. Tetapi seringnya, yang ia lakukan hanyalah menghitung setiap detik dan menit yang terlewat, senada dengan bunyi detak konstan jam dinding yang menyerupai metronom.

Dalam masa-masa itulah, ia semasa kecil menyadari potensi waktu yang tak berbalik. Ia mulai mengalami nuansa-nuansa kehancuran, penuh dengan rasa pesimisme, melihat setiap momen yang ia lewati sedari ia lahir, sampai ia tumbuh besar, sebagai proses pembusukan yang tidak dapat lagi terelakkan. Meskipun jam bergerak dengan cara sirkular—dibuat dengan mekanisme praktis, dengan rotasi jarum yang disiplin dan seolah-olah tak akan pernah lelah untuk berputar—putaran jam mengindikasikan pola linear yang temporal: waktu sebagai jalan satu arah. Pengalaman ini adalah sebuah antipoda, atas rasa kehancuran yang Nietzsche rasakan ketika ia menyadari nosi ‘rekurensi kekal’ (eternal recurrence). Mungkin ada kaitannya dengan hal-hal medioker yang terkait dengannya, atau dengan ketidak mampuannya untuk menalar ide tersebut, tetapi ia tidak bisa sepenuhnya merengkuh pemahaman seorang filsuf Jerman yang pada akhirnya menjadi gila tersebut. Ia tidak bisa mengerti mengapa seseorang mau mengabaikan dan menolak kembalinya momen-momen terbaik, hanya karena jika itu berarti kembalinya juga momen-momen terburuk.

Mengamati waktu adalah memang menyia-nyiakan waktu, bahkan dalam keadaan-keadaan lain yang jauh lebih praktis. Dua hari yang lalu, ketika ia datang lebih awal dalam sebuah janji pertemuan (datang lebih awal adalah pengalaman yang tidak biasa bagi dirinya) ia mengecek jam tangannya berulang kali… menunggu agar waktunya segera tiba. Tetapi, betapa sia-sia, mengurangi rasa cemas hanya dengan melihat jam menunggu waktu janji tiba, ketika tindakan tersebut tidak lalu mempengaruhi waktu kedatangan orang yang mempunyai janji, dalam bentuk apapun, di situasi yang sebenarnya. Kedatangan waktu janji, bukanlah berarti kedatangan orang yang mempunyai janji… ia berpikir kepada dirinya sendiri.

Pencarian yang sifatnya tidak produktif ini tentu saja menghadirkan perasaan bersalah, jika bukan kebodohan. Cara termudah dan yang paling menyimpang, agar seseorang dapat mengurangi perasaan bersalah seperti ini, adalah untuk menemukan orang lain yang mempunyai kesalahan atau pola indulgensi yang sama (meskipun aku yakin ia kini sudah tidak lagi merasa bersalah). Mungkin ini sebabnya mengapa ia berkata kepadaku bahwa ia merasa begitu terkonsolidasi oleh karakter protagonis dalam novel karya Raymond Queneau, dengan segala aktivitas malasnya.

… All he had left now was the very vacuity of time. Then he tried to see how time passed, an undertaking just as difficult as that of catching yourself falling asleep. Sitting at his cash desk he would watch the big clock above Meussieu Poucier’s shop, and follow the progress of the big hand. He would manage to see it jump once, twice, three times, and then he suddenly found it was a quarter of an hour later and the big hand had taken advantage of this to move without noticing it. Where had he been all that time? Sometimes he had been back in Madagascar, sometimes he had relived an episode from Flash Guy or Mandrake, his favourite heroes, sometimes he had merely re-eaten a meal or re-seen a film, more or less fragmentarily.

At the end of two months of application, he managed to register three jumps of the big hand, but he never got up to four, not remembering this occupation until much later, being then lost in a fun-jungle, or repeating to himself like a scratched record some conversation he had had with Housette, Virole, or one of his other neighbours. He couldn’t manage to make his mind a blank.

— Raymond Queneau, “The Sunday of Life (Le Dimanche de la vie)”, hal. 113.

Bentuk konsolidasi yang sama seperti ketika engkau menemukan wajah-wajah bingung yang sama diantara teman-temanmu di kelas, ketika seorang guru Matematika dengan caranya yang hambar, menjelaskan rumus-rumus kompleks: bentuk keyakinan terhadap kapasitas mentalnya, atau terhadap kebodohan massal.