Title: Anarkis #6.0
Subtitle: Swakelola
Author: Kinky Ninja
Publication: Catatan Pelipur Lara
Publication Date: 2018
Topic: Anarkisme
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Abecedarium Alchemists Committee.

Marx mungkin benar pada beberapa sisi termasuk pada bagaimana ia melihat penghisapan antar kelas dan asal muasal kekayaan. Ia juga berhasil dalam menelusuri proses akumulasi kapital hingga pada masa-masa pra peradaban, membaginya menjadi beberapa pembabakan sejarah perkembangan ekonomi. Berdasar temuannya tersebutlah ia mulai mempersenjatai dirinya dengan hasil risetnya yang dapat disarikan dalam teori nilai lebih. Senjata itulah yang lantas ia distribusikan kemana-mana dengan harapan penghisapan antar kelas dapat diakhiri pada satu titik di satu masa.

Pada satu masa aku juga mempercayainya, membekali diriku dengan teori dan pengalamannya, demi membangun wawasan dan visi akan duniaku sendiri.

Namun seperti kubilang, satu masa, artinya masa tersebut telah berganti, masa tersebut telah berlalu. Atasanku mengajariku untuk membuka mata terhadap perkembangan dunia kontemporer, dunia yang kutinggali pada saat ini, di sini. Dari sekian diskusi yang kulakukan bersamanya, aku menemukan sekian banyak titik yang rasanya tak masuk dalam perhitungan Marx. Dari sekian buku karya Marx yang telah kulahap, dari Kapital, kitab suci yang diagung-agungkan kebenarannya oleh kaum Kiri, hingga Grundrisse yang tak diakui oleh mayoritas dari kaum yang sama, hingga beberapa biografi dan kisah cinta yang mengharukan antara ia dengan isterinya, ada beberapa hal yang luput. Tentu saja, aku tak menyalahkannya, Marx, dengan berbagai kelebihannya, toh tetap saja tak lebih dari manusia sepertiku, sepertimu, seperti siapapun yang hidup di atas muka bumi ini. Ia tetap saja tak sempurna dan memang tak seharusnya sempurna.

Pertanyaannya lagi, mengapa hal tersebut terlintas, lagi, dalam kehidupanku? Jawabannya mudah, diawali debat antara Jerinx versus Via Valen.

Terlepas dari debat antara Jerinx dengan Via Valen tersebut, yang celakanya merembet ke berbagai hal yang semakin tidak kontekstual, dan terus terang mulai mengganggu, ada satu topik yang cukup menarik perhatianku—walau hanya sesaat karena perdebatan tersebut juga tak lebih dari debat lainnya di tataran media sosial: fokus utama hanya pada bagaimana menjatuhkan lawan tetapi juga sayangnya nyaris tak pernah berujung pada perkelahian fisik. Salah satu pihak pasti membeberkan berbagai alasan yang pada intinya hanya menunjukkan bahwa mereka menghindari perkelahian fisik. Membosankan, bukan? Begitulah. Namun sekelumit debat tersebut adalah debat mengenai swakelola versus fair trade. Kubu swakelola ini digawangi oleh grup di Yogyakarta, sementara kubu fair trade digawangi oleh Jerinx—yang pada satu titik tampaknya bosan dan memilih tak merespon lagi—dan kawan-kawannya.

Topik swakelola tersebutlah yang membawaku pada perenunganku lagi, karena topik tersebut juga yang pernah akrab dalam benakku pada satu masa dalam hidupku, masa-masa aku juga akrab dengan Marx.

Berdasar hal tersebut, aku awalnya berpikir, sudah sejauh mana hal tersebut kini berkembang, apakah sudah melampaui kritik atas kapitalisme yang diajukan Marx, ataukah masih tak berubah semenjak aku tak lagi menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang penting? Hal pertama yang kulakukan—yang mungkin keliru, namun karena aku juga tak sepenuhnya tertarik untuk mendalaminya lagi maka ini adalah pilihan terbaik—adalah dengan membuka internet dan menelusuri forum-forum Kiri yang memperdebatkan mengenai teori nilai lebih. Mengapa aku memilih menelisik soal perdebatan teori ini di lingkaran Kiri, jelas karena bagiku pemahaman, eksperimentasi, dan pengaplikasiannya akan menentukan bagaimana sebuah kelompok kelas pekerja memilih strategi perjuangannya dalam meraih emansipasi. Dan dalam soal tersebut, kelompok-kelompok pekerja seperti demikian sejauh ini rasanya masih didominasi oleh lingkaran Kiri. Dugaan pesimisku sayangnya benar, dari sekian forum daring, hanya segelintir saja yang membahas mengenai teori tersebut. Aku terhenti pada satu forum yang tidak banyak dihuni oleh aktivis non-pekerja—setidaknya dari hasil pengamatanku yang sepintas lalu. Aku memang menghindari aktivis non-pekerja karena jarak antara pengalaman harian dan pengetahuan terlalu luas, sementara bagiku pengalaman harian amat memegang peranan dalam penentuan pandangan dan putusan.

Pada forum tersebut, seorang pekerja memaparkan teori nilai lebih dengan cara yang menarik dan lebih berhasil menjelaskan pada yang lain, yaitu dengan perhitungan matematika. Dengan menggunakan contoh seperti demikian, tiap hitungan akan dapat diketahui dan menjadi jelas—tidak seperti grup pro-swakelola oposan Jerinx yang menjelaskan teori nilai lebih dengan sebuah gambar yang sayangnya sama sekali tak menjelaskan apapun.

Sang pekerja memaparkan seperti ini:

Contoh: Seorang buruh di pabrik garmen dibayar Rp25.000 untuk kerja 8 jam sehari. Dalam 8 jam kerja ia bisa menghasilkan 10 potong pakaian dengan mengelola kain seukuran 30 meter. Harga kain sebelum menjadi pakaian adalah Rp 5.000 atau Rp 150.000 untuk 30 meter kain. Biaya benang dan biaya-biaya produksi lainnya (listrik, penyusutan mesin, dsb.) dihitung oleh pengusaha sebesar Rp 50.000. Total biaya produksi adalah Rp25.000 (untuk upah buruh) + Rp150.000 (untuk kain) + Rp50.000 (biaya produksi lainnya) = Rp225.000.

Setelah barang jadi, pengusaha dapat menjual harga satu kainnya sebesar Rp50.000 untuk satu potong pakaian atau Rp500.000 untuk 10 potong pakaian di pasaran. Perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp500.000 – Rp225.000 = Rp275.000.

Dalam bekerja 8 jam, seorang buruh tadi telah menciptakan nilai baru sebesar sebesar Rp275.000. Tetapi ia hanya dibayar sebesar Rp25.000. Ia dihitung seperti benda mati, sejajar dengan mesin (padahal, mesin pun dihitung penyusutannya secara periodik). Laba yang banyak ini diakumulasi oleh perusahaan. Inilah yang disebut nilai lebih.

Jika seorang buruh dibayar Rp25.000, ia seharusnya cukup bekerja tak lebih dari 1 jam dan dapat pulang ke rumahnya, mengerjakan hal lain. Tetapi tidak, ia tetap harus bekerja selama 8 jam karena ia telah disewa oleh pengusaha untuk bekerja selama 8 jam. Jadi buruh pabrik garmen tadi bekerja kurang dari satu jam untuk dirinya (untuk menghasilkan nilai Rp25.000 yang ia dapatkan) dan selebihnya ia bekerja selama 7 jam lebih untuk pengusaha dengan keuntungan Rp275.000.

Sejauh yang kutemukan dalam waktu singkat, pekerja yang menulis paparan di atas cukup baik—terlihat dari caranya membuat paparan yang runut, artinya kalau cara memaparkan pikirannya runut, cara berpikirnya juga runut. Terlepas dari beberapa error dalam perhitungannya.

Berdasar contoh tersebut, dalam konteks swakelola yang dipahami secara umum oleh pekerja, maka apabila pekerja dan pengusaha membagi rata penghasilannya, akan didapatkan angka pendapatan Rp150.000 dengan penghitungan seperti ini:

Pertama, pekerja tidak dihitung sebagai bagian produksi agar perhitungan bersih, artinya biaya produksi 10 baju adalah Rp150.000 (untuk kain) + Rp50.000 (untuk alat produksi) = Rp200.000 (untuk biaya produksi minus pekerja). Apabila dihitung pendapatan dengan asumsi 10 baju terjual semua, sebesar Rp500.000 dan dikurangi biaya produksi Rp200.000, maka akan tersisa Rp300.000. Kedua, menurut logika umum para pendukung swakelola, pendapatan itulah yang seharusnya dibagi rata antara pekerja dan pengusaha—dalam artian ia yang memiliki alat produksi. Dalam kasus ini berarti tiap pihak mendapatkan Rp150.000.

Aku sedikit penasaran soal apakah para pendukung swakelola masih terlalu menyederhanakan persoalan ataukah tidak, karena sepanjang pengetahuanku para pendukung swakelola yang rata-rata anarkis, seringkali juga mendukung kebebasan hasrat dan sebegitu menolak kekangan apapun, termasuk kekangan waktu yang memaksa tiap individu untuk bersikap disiplin. Sebenarnya ini hitungan sederhana, yang sayangnya masih banyak diabaikan oleh para pendukungnya. Dalam perhitungan pembagian tersebut sama sekali tidak menyentuh elemen-elemen pemasaran yang dalam bahasa Inggris biasa disebut 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Packaging) di mana setiap poin P tersebut dibutuhkan orang yang mumpuni di bidangnya. Itupun masih luput dalam perhitungan: resiko produksi (siapa yang paling tinggi menanggung resiko?), jalur koneksi dan relasi (siapa yang paling banyak memilikinya dan seberapa banyak waktu serta uang yang dihabiskan untuk membangun dan menjaga relasi?), jumlah jam kerja (siapa yang paling banyak menghabiskan waktu untuk berjalannya roda produksi dari hulu hingga hilir dalam satu hari?). Artinya ada 7 poin dan 3 poin tambahan yang luput dari perhitungan sang pekerja saat memaparkan teori nilai lebih dan juga banyak dilupakan oleh para pendukung swakelola. Paling akhir, ada pertanyaan lagi, apakah kemampuan melihat peluang, visi, dan sensibilitas bisnis tidak dihitung? Sepanjang pengetahuanku hal tersebut tidak dimiliki oleh semua orang, yang artinya ada kemampuan individu yang seharusnya diberi nilai juga dalam pembagian keuntungan. Artinya juga, kedisiplinan diri, kerajinan, kemauan untuk berkorban lebih dibanding yang lain, kerelaan untuk mengekang hasrat demi berjalannya roda produksi, harus diberi nilai lebih.

Apabila seorang pro-swakelola begitu menghargai perbedaan dan keragaman individu, ia seharusnya tahu bahwa ada kualitas-kualitas tertentu seperti di ataslah yang membuat tiap individu berbeda dan seharusnya juga mendapatkan nilainya sendiri. Bahwa tidak semua orang memiliki kualitas yang sama. Bahwa apabila dalam satu konteks produksi saja, menyamakan semua orang secara setara tapi menihilkan poin-poin lain yang sebetulnya menjadi motor berjalannya produksi dengan baik, berarti bahwa mereka tak lebih baik dari sistem ekonomi yang mereka klaim mereka lawan.

Satu hal lagi, masih dengan merunut contoh di atas, apabila dalam sehari 8 jam kerja hanya menghasilkan uang senilai Rp150.000 dengan menjual 10 buah baju, maka agar dapat hidup tanpa kekurangan elemen dasar untuk bertahan hidup (sandang dan pangan), belum lagi mempertimbangkan perusahaan saingan, sebuah bisnis baju tersebut akan dituntut memproduksi dan menjual lagi dan lebih banyak lagi, yang artinya akan mendorong konsumsi. Rasanya para pro-swakelola sepanjang pengetahuanku ingin mengurangi kebiasaan konsumsi, yang karenanya dengan keberadaan bisnisnya maka mereka akan harus melakukan hal yang mereka ingin kurangi. Rumit, memang, tetapi hal seperti itu tak dapat dinihilkan begitu saja. Ada sekian banyak variabel yang sebaiknya masuk dalam agenda pembahasan, karena bagaimana pun hal-hal seperti itulah yang akan menentukan strategi.

Akhir kata, aku tidak tahu bagaimana metoda yang dikembangkan oleh para pro-swakelola di Jogja yang berseteru dengan Jerinx—karena seperti kataku tadi, aku tak berniat mendalami hal ini selain sekedar mendapat gambaran umum saja, yang memang amat mungkin keliru. Mungkin di sana sudah sedemikian maju, entahlah. Namun apabila gambaran sepintas yang kudapat soal kemampuan pekerja dalam mencari alternatif masih seperti kutipan di atas, mungkin para pekerja harus membaca lebih banyak lagi buku-buku pemasaran, finansial, manajemen, dan berbagai teknik menjalankan sebuah alur produksi—bukannya sekedar buku-buku bertajuk ideologi. Marx telah mati, demikian juga Kropotkin, EZLN mendukung seorang kandidat kepresidenan, sementara Rojava masih berada dalam pusaran konflik yang berarti belum dapat sepenuhnya mencoba menerapkan corak produksi alternatif, yang lebih jauhnya lagi berarti bahwa dunia terus berjalan dan berubah. Di masa kontemporer inilah, di tempat di mana kita hidup dan berpijak ini, seharusnya manusia menghidupi hidupnya, bukan lembaran buku-buku ideologi.