Kinky Ninja
Anarkis #9.0
Lomba Lawak Kontemporer
“Is he really an anarchist?” I asked, when out of ear-shot.
“I don’t care a hang what he is,” answered the humorous official of the B.O.S. Co. “I gave him the name because it suited me to label him in that way. It’s good for the company.”
“For the company!” I exclaimed, stopping short.
—Joseph Conrad, “An Anarchist: A Desperate Tale” 1987
Emang enya cenah rumor barudak Bandung kurang anarkis?
Pesan itu masuk melalui Whatsapp. Begitu saja. Tanpa pembukaan, tanpa apapun. Aku baru saja menginjakkan kaki di Stasiun Tugu, Yogyakarta, kala pesan tersebut masuk. Masih pukul 4 pagi. Hari masih gelap, tentu saja, dan selain kami, para penumpang kereta yang turun, para pengangkut barang yang berebutan menawarkan jasanya pada para penumpang, dan petugas stasiun yang sibuk menunjukkan kemana kami harus berjalan, sisanya nyaris tak ada apa-apa. Kafe-kafe lampunya menyala namun tanpa pengunjung, jajaran UKM dalam bilik-bilik kecil masih belum beroperasi. Ada seekor kucing berwarna putih duduk di sudut salah satu pintu kafe. Terkantuk-kantuk. Entah mengapa ia tak memilih tidur.
Respon pertamaku adalah tertawa. Sungguh-sungguh tertawa. Spontan. Beberapa orang menoleh. Oh ya, masih subuh, tawa spontanku tadi pasti mengganggu, walau bukan tawa yang terbahak keras. Lebih seperti terkekeh.
Aku berjalan menuju sofa. Iya, di stasiun ini kini ada sofa di ruang tunggu umumnya. Tak melulu hanya kursi logam yang keras itu. Kuhempaskan tubuhku ke atas sofa nan empuk setelah sebelumnya menaruh ransel di kakiku. Baru kuperhatikan kembali Whatsapp dari kawan lamaku tadi dan kurespon.
Aku tak terlalu ingat, namun kuperkirakan perbincangan kami yang awalnya melalui Whatsapp, dan lalu berlanjut dengan aku memutuskan untuk menelfonnya, memakan waktu nyaris satu jam lamanya. Lawak memang. Dan aku juga terus terang tak menyangka bahwa untuk soalan seperti itu akan perlu aku respon dan tanggapi. Kalau saja si pengirim tadi itu bukan kawan lamaku, mungkin aku tak akan merasa perlu untuk merespon dan mendiskusikannya secara lebih serius.
Lawak.
Kuulangi, itu lawak.
Jelas itu lawakan. Pertama, karena kenapa juga mesti ada pertandingan soal siapa yang paling anarkis di antara para anarkis? Kedua, kalau memang terpilih dan ada yang dinobatkan sebagai ia yang paling anarkis, lalu apa setelahnya? Bayangkan seperti ini, setelah melalui debat-debat yang tak saling memiliki pijakan serta definisi yang sama, yang tentu saja melelahkan dan menguras energi, lalu terpilih salah satu sang paling anarkis. Apa sih yang ia akan dapatkan dari posisinya sebagai pemenang? Uang milyaran rupiah? Jalan-jalan ke Barcelona selama satu minggu untuk mengenang kejayaan CNT/FAI dengan dipandu oleh seorang anarkis kawakan berdarah Spanyol?
Tidak?
Kalau tidak begitu lantas apa? Mendapat pengakuan sosial bahwa diri atau kelompoknya lah yang paling anarkis dari mereka-mereka yang mengaku diri anarkis? Kalau iya, itu mengherankan bagiku, karena apalah gunanya mendapat pengakuan dari mereka yang secara sosial tidak terkoneksi dengan baik denganmu?
Mungkin bagi para anarkis ini pengakuan seperti itu menjadi penting. Bisa jadi. Hanya bagiku jelas tidak berguna. Perlombaan soal siapa yang lebih anarkis dari siapa saja sudah amat konyol. Apalagi sampai membahas para calon pemenangnya. Memangnya ini partai yang sibuk berebut massa demi menyambut Pemilu?
Oh, kecuali benar, bahwa kaitannya kenapa mendapat pengakuan sebagai yang paling anarkis itu menjadi penting, tentu karena kebutuhan untuk mendapatkan massa. Pengakuan publik jelas diharapkan untuk berbuah menjadi ketertarikan publik, bukan? Dan berujung pada keterlibatan publik ke dalam kubu salah satu dari beberapa yang saling berseteru. Dan dengan premis seperti ini, maka, perlu digarisbawahi, bahwa mereka yang sibuk berkompetisi soal siapa yang paling anarkis, adalah mereka yang membutuhkan massa.
Lawak, seperti kubilang tadi dan juga kuutarakan pada kawanku.
Kupikir anarkis itu tak membutuhkan preseden manis dari publik, tak mengharapkan pengakuan massa, tak peduli nama baik juga, bahkan tak peduli juga apakah dirinya disebut sebagai bukan anarkis oleh publik. Namun lebih jauhnya lagi, kenapa juga aku harus peduli, sebetulnya. Itu kan bukan urusanku, bukan tanggungjawabku juga. Bukan tanggungjawab kawanku tadi itu juga, tentu saja.
Ah, ini gara-gara Whatsapp kawanku yang berkisah soal perlombaan lawak para anarkis tadi, tentunya. Lagipula, hal ini sungguh merupakan sebuah Keajaiban Dunia ke-8: mengakunya sih anarkis tapi kok ideologis. Ya, tidak apa-apa juga kalau pun demikian, terserah, hanya saja dalam pandanganku itu seperti mengaku muslim tetapi menyembah berhala.