Title: Transkrip Wawancara Cumbu Sigil Dengan Komite Hitam
Subtitle: Potongan
Publication Date: 2001, 2004
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

Percakapan ini terjadi di kediaman rahasia salah satu anggota Komite Hitam di tahun 2001. Direkam dengan tape recorder VSC dan transkripnya dipublikasikan pertama kali secara online lewat forum Majalah Batubata di tahun 2004. Nama dan lokasi kediaman anggota sengaja tidak dicantumkan untuk menjaga anonimitas dan keutuhan organisasi.

[…]

k-h-komite-hitam-cumbu-sigil-transkrip-wawancara-c-1.jpg
Kiri: Cumbu Sigil; Kanan: Komite Hitam

Komite Hitam (KH): Apakah Anda sadar seberapa besar pengaruh diri Anda, atau setidaknya, karya-karya Anda bagi pembaca? Apa Anda pernah menyangka atau memprediksi sebelumnya bahwa karya-karya Anda akan menjadi besar dan memengaruhi hidup banyak orang?

Cumbu Sigil (CS): Sadar, tentu. Menyangka, saya pikir tidak. Saya ini bukan penjudi handal, yang gemar mempertaruhkan apa-apa saja. Makanya saya tidak pernah kena tipu iming-iming bandar togel, atau program investasi masa depan dari agen finansial merangkap gangster, tidak seperti banyak dari kawan-kawan saya yang terpaksa menjual kelaminnya karenanya. Borjuis-borjuis kerdil itu. Saya tidak pernah meminta lebih dari apa yang saya punya. Yang saya pikirkan hanya menulis. Apa yang terjadi setelahnya, di masa depan, itu di luar kuasa saya. Bukan urusan saya. Ada keindahan tersendiri dari keinginan untuk tidak mengantisipasi segala hal.

KH: Anda tak takut kehilangan simpati pembaca karena terkesan terlalu indiferen terhadap apresiasi yang Anda dapat dari pembaca setia Anda?

CS: Saya ini penulis, bukan pengemis. Saya tak butuh simpati. Perkara membaca dan mengapresiasi, itu urusan mereka. Hak mereka. Saya tak ada sangkut pautnya di situ.

KH: Menikmati hidup sederhana tanpa dikenal, tanpa kekhawatiran?

CS: Itu kebohongan. Tak ada yang lebih sederhana dari hidup yang penuh dengan kekhawatiran.

KH: Mengapa begitu?

CS: Karena kekhawatiran memaksa kita untuk berpikir. Kemewahan adalah indikasi dari kemalasan berpikir. Hidup sederhana itu banyak pikiran.

KH: Bisa jadi. Tapi sependengaran saya, kesederhanaan tetap tak menghalau Anda berteman dengan orang-orang kaya?

CS: Iya. Saya memang punya beberapa kawan orang kaya. Atau setidaknya, yang kebetulan terlahir di keluarga kaya dan hidup relatif mewah. Salah satunya adalah kawan baik saya semenjak SMA. Tinggalnya di Menteng, di Jalan Lembang. Cucu mantan menteri perhubungan. Punya anjing tiga, warnanya hitam dan cokelat kehitaman. Tak seperti majikannya, tiga-tiganya miskin semua, kurus dan masih saya curigai rabies. Yang satu dia namai Tolstoy, yang satu lagi dia namai Hemingway, dan yang cokelat kehitaman dia namai Fitzgerald. Ketika saya tanya mengapa dia menamakan anjing-anjingnya seperti itu, dia bilang karena itu adalah nama dari penulis-penulis yang tak disukainya. Si idiot itu. Kalau saya punya anjing, saya kasih nama yang mudah dipanggil. Meski pada akhirnya saya harus setuju dengannya.

KH: Kelihatannya teman Anda orang yang menarik. Apakah dia sesama penulis?

CS: Tidak. Cuma sekedar dilettante. Orang sok tahu. Dan bodohnya, dia bangga dengan statusnya itu. Terdengar keren, katanya. Dia sekarang wiraswasta, punya ternak ayam dan ikan lele, ikut Bapaknya. Dia berapa kali mengajak saya investasi. Duitnya banyak, katanya. Saya bilang saya tidak butuh duit banyak. Dasar komunis, katanya. Dia juga punya tempat cuci mobil, warung internet dan fotokopi/penjilidan di dekat UKI.

KH: Lalu dari mana dia tahu nama-nama penulis itu kalau paling tidak pernah membacanya?

CS: Dari dulu dia memang hobi koleksi buku, ada yang dia dapat dari warisan kakeknya yang neolib, buku-buku ekonomi pembangunan, tips-tips investasi dan sampah loak lainnya, dan ada yang dia kumpulkan sendiri. Biasanya cuma ikut-ikutan, referensi dari majalah Horison, atau majalah Djaja, yang kita sama-sama tahu paling banter medioker. Tapi pada dasarnya dia filistin. Saya yakin dia tidak pernah membaca habis semua isi buku dalam rak-raknya. Dia merasa cukup hanya dengan meninjau halaman sampul belakang buku, atau dengan mengapresiasi desain sampul tanpa benar-benar membacanya. Si idiot itu. Setiap hari, yang kami lakukan hanyalah beradu mulut, mengadu pengetahuan siapa yang lebih tahu nama-nama penulis Amerika Latin, dari A sampai Z. Isinya asal saja. Nama Antonio Banderas pun ia sebut. Bahkan baru-baru ini muncul nama Ricky Martin. Ia tak pernah peduli bila dirinya salah, asalkan ia berada berada di posisi yang berlawanan dengan saya. Apabila saya menggunakan nama depan Felisberto, dia segera memprotes agar sebaiknya menggunakan nama belakangnya. Selalu begitu. Kita jarang setuju. Dulu waktu kuliah, ketika saya dan Bonang masih aktif menulis di mading kampus Sastra (Kolom Jelaga), dia esoknya dengan sengaja mencoret-mencoretnya dengan gambar kontol, lengkap dengan tanda tangan. Orang idiot mana yang mencoret gambar kontol dengan tanda tangan seolah itu karya seni? Dan kawan-kawan satu fakultas mengaguminya seolah itu keren. Ia selalu kontradiktif, mentalnya oposan, suka memberontak, tapi tanpa alasan. Mungkin dia terlalu banyak menonton James Dean, dan mungkin itu pula sebabnya mengapa saya menyukainya. Bonang naik pitam, dia jumpalitan seperti kerasukan jin melihat kelakuan kawan saya, sampai ingin menginisiasi leng t’che di pohon dekat kantin sastra. Tapi saya bilang percuma. Buang-buang tenaga. Saya dikenal pedantik, tapi kawan saya ini berada di tingkatan yang berbeda. Ia punya mulut sebesar kolam ternak ikan lele, tapi pengetahuan sebesar tahi ikan lele.

KH: Siapa nama kawan Anda ini, kalau boleh tahu?

CS: Lebih baik saya rahasiakan.

KH: Begitu, ya. Rasanya tidak mungkin kalau pertengkaran, apalagi yang bisa dibilang bersifat prinsipil semacam itu tak pernah berbuntut buruk. Kecuali Anda berdua pasifis, yang saya sendiri sangsi.

CS: Memang pernah. Terlalu banyak kejadian bahkan… [interupsi] Sekali waktu, saya pernah menggebuk kepalanya dengan remote TV sampai hancur karena ia ngotot ingin memplesetkan lirik lagu Internasional dan menggatinya dengan teks Kama Sutra. Bajingan mesum. Darahnya mengucur lewat keningnya dan dia mengelapnya dengan majalah Playboy sambil mendumel lantaran tisunya habis dia pakai untuk merancap malamnya. Maklum, zaman itu, tak mudah mendapatkan dan membeli majalah Playboy, cuma privilese orang-orang kaya saja.

KH: [tertawa] Lalu apa yang terjadi? Apa dia marah dan membalas?

CS: Tidak. Dia malah tertawa mengumpat sambil meringis kesakitan, saya pun ikut tertawa. Dia sebenarnya takut sama saya, cuma karena saya orang miskin. Katanya orang miskin yang tidak punya apa-apa cenderung jauh lebih nekat.

KH: Bisa jadi, buktinya Anda memukulnya seolah itu hal yang biasa saja. Apa itu tidak terlalu berlebihan? Bagaimanapun dia tetap kawan Anda.

CS: Dia pernah melempari punggung saya dengan gunting karena saya memaki kakeknya bajingan neolib. Jadi saya rasa itu adil.

KH: [tertawa] Jarang sekali ada orang-orang seperti Anda dan kawan Anda sekarang. Mengingatkan saya dengan hubungan destruktif dan penuh hasrat antara Rimbaud dengan Verlaine.

CS: Bedanya, dia tak setampan dan sebrilian Rimbaud, tak sepanas Verlaine, dan saya tak begitu penasaran untuk menjilati kontolnya dan menyodoknya dari belakang.

KH: [tertawa]

[…]

KH: Apa yang pertama kali menginspirasi Anda menulis puisi?

CS: Saya membaca Le Fleurs du Mal karya Baudelaire pertama kali di awal semester kuliah kira-kira tahun 1981 dalam bahasa inggris, terjemahan David Folley. Bentuk puitik dan ekspresinya yang berani menstimulasi saya untuk mulai menulis puisi. Itu pertama kalinya saya membaca puisi yang benar-benar “modern”. Tidak, saya tidak membeli bukunya. Orang miskin seperti saya tidak mampu beli buku impor. Saya meminjamnya tapi tak saya kembalikan. Itulah untungnya punya kawan orang kaya yang mudah dibodoh-bodohi. Setiap kawan saya ke luar negeri saya hasut supaya dia beli buku. Dia sih mau-mau saja karena katanya semakin penuh rak buku semakin mudah dapat perempuan. Naasnya, dia tidak tahu kalau perempuan saat itu lebih suka disko ajojing di Tanamur ketimbang baca Baudelaire.

KH: Bagaimana dengan penulis dan penyair di Indonesia? Apa opini Anda soal mereka? Apa ada yang menarik perhatian Anda?

CS: Saya tidak banyak membaca penulis Indonesia. Melelahkan. Kalau jelek saya pasti membencinya, kalau bagus saya makin membencinya. Saya baca sedikit Chairil Anwar, sedikit Rivai Apin, sedikit Sitor Situmorang, sedikit Sobron Aidit, dan lainnya, tapi saya tidak membaca mereka karena saya menyukainya, saya membaca mereka biar tetap waspada, seperti nelayan yang membaca angin dan tinggi ombak.

KH: Tapi perasaan jengkel itu tidak Anda temukan ketika membaca penulis-penulis asing?

CS: Tentu saya temukan. Tapi setidaknya membaca penulis asing, saya tahu saya tidak akan punya kesempatan untuk menyakiti mereka. Niat saya terpenjara. Ada derik keputusasaan di situ. Kalau saya rajin baca karya “sastrawan” Indonesia segenerasi, bisa gawat urusannya. Ketemu si Remy (Sylado), Sutardji (Calzoum Bachri) atau Kurniawan Junaidi di jalan, bisa saya tantang kelahi. Meski saya kurus dan tak pandai kelahi, saya cukup bernyali.

KH: Jadi Baudelaire adalah pengaruh terbesar?

CS: Dia hanya satu dari banyak penulis yang memengaruhi saya. Waktu SMA, saya terbilang bandel. Ketika banyak dari kawan saya aktif mengikuti kegiatan sekolah, saya malah bergaul dengan preman-preman kampung sekitar yang usianya relatif lebih tua dari saya. Di gang belakang sekolah, ada warung nasi namanya warung Ibu Sunda. Tapi masakannya khas Manado. Di situ setiap hari kita kumpul, karena kebetulan anaknya senior di sekolah saya. Namanya Adin, panggilannya Nonok. Jangan tanya saya kenapa panggilannya Nonok. Kadang dia juga dipanggil Kura, karena kaki kanannya mirip kura-kura, jari tengahnya hilang, putus akibat tawuran. Jari kaki tengah putus gara-gara tawuran. Jangan tanya saya bagaimana bisa.

Di warung Ibu Sunda kami boleh bicara macam-macam, asalkan tidak ketangkap main judi, apalagi main perempuan. Tapi percuma bicara budaya, kami cuma sekumpulan pemuda lumpen-prolet, tak punya opini soal budaya, paling banter gosip pedangdut pendatang baru di RW tetangga yang konon toketnya besar sebelah…

[interupsi]

Nonok dan komplotannya pernah mencuri empat karung buku dari toko eceran untuk dijual kembali di Kwitang. Karena dia tahu saya suka baca, dia diam-diam memberi saya satu dus buku. Bayangkan, satu dus. Yang sampulnya menarik saya pilihi, sisanya saya kembalikan. Dia tersinggung, karena orang miskin biasanya tidak pilih-pilih. Saya bilang, saya memang orang miskin, tapi saya lebih punya selera dibanding dia. Saya kena gaplok. Saya membaca Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Joseph Heller, Yasunari Kawabata, Franz Kafka, sampai Karel Capek semenjak SMA. Mereka memengaruhi saya. Kemajuan pesat setelah sebelumnya hanya bisa membaca komik Lucky Luke, kisah-kisah detektif anak karya Enid Blyton dan Dwianto Setyawan dan novel kriminal Agatha Christie. Saya belajar bahasa inggris secara otodidak. Hampir setiap malam saya diam-diam habiskan untuk baca di kamar rusun gelap dengan satu biji petromak, takut ketahuan Ibu karena baca buku-buku curian. Selera saya bisa dibilang terbentuk dari masa-masa itu. Pengalaman ini juga yang bikin saya percaya bahwa sastra baik adalah sastra yang mempunyai kekuatan misterius, yang membuat kita seolah merasa terlibat dalam aktivitas bawah tanah.

KH: [tertawa] Anda selalu punya cerita masa remaja yang menarik.

CS: Tidak seperti Perec, saya punya ingatan hampir sempurna menyangkut masa lalu saya.

KH: Dari begitu banyak penulis yang Anda baca dan jadikan pengaruh, apa Anda tidak pernah takut kehilangan “suara” Anda sendiri? Banyak penulis mempunyai ketakutan semacam ini.

CS: Saya tidak punya keresahan itu. Saya justru suka dipengaruhi. Bahkan saya terbuka saja bila ada yang bisa memengaruhi saya. Siapapun yang bisa memengaruhi saya, akan saya balik pengaruhi dengan intensitas dobel. Saya tidak terlalu suka dengan seruan-seruan “pemikiran independen”, yang “orisinil” dan tetek bengek lain. Itu bentuk pemuasan ego. Dan bagi saya itu luar biasa menyebalkan. Menulis adalah kegiatan kolektif. Saya suka apa yang Roland Barthes ungkapkan: dia lebih ingin seorang Brecht bekerja di dalam kepalanya. Saya pun tak akan keberatan apabila ketika saya sedang menulis puisi, Dante atau Khlebnikov tiba-tiba merasuki kepala saya dan mengambil alih pikiran saya. Saya tak pernah kuatir suara individual saya hilang.

[…]

KH: Dalam pembuka novel pseudo-otobiografi Anda “Matahari di Balik Bukit Partisan”, Anda memberi hormat yang dalam kepada seorang Guntur Iskandar. Siapa dia sebenarnya?

CS: Saya jadi ketua organisasi protes mahasiswa di Fakultas Sastra UI dulu. Saya sempat mengundang Thukul untuk baca puisi di aksi yang saya inisiasi. Saya punya pemahaman terhadap sejarah taktik guerilla dan satu-satunya yang pernah membaca Kapital dan Massa Actie, sedangkan Bonang jadi koordinator aksi karena dia lebih pandai berkelahi. Dulu saya Marxis-Leninis tulen. Di kepala saya cuma ada revolusi, atau mati. Belum ada itu hasrat dan komitmen lebih untuk puisi. Satu hari, sekitar tahun 1984, saya dapat kabar dari kawan saya. Katanya saya diundang untuk jadi pembicara diskusi di Bogor. Yang mengundang namanya Guntur Iskandar selaku pelaksana. Keturunan Cina, tapi asli Bogor. Dia alumni IPB, cerdas orangnya. Awalnya saya curiga, apa urusannya alumni mahasiswa pertanian mengundang saya? Jangan-jangan cuma akal-akalan plokis (intel)? Baru setelahnya saya ketahui dia aktivis Maois. Dia ingin menjadi pelopor gerakan revolusi agrikultural di Indonesia, katanya. Saya pikir, ini orang Cina ajaib.

Saya ketemu Guntur di Taman Kencana, sambil minum bajigur. Orangnya gemuk, tapi tinggi tegap dan karismatik. Lebih tua tiga atau empat tahun dari saya. Kacamata hitamnya dia gantung di sisi kantung celananya. Rambutnya lurus, dia biarkan tumbuh sebahu. Kita diskusi tentang banyak hal sampai malam, lalu kita pindah ke La Citra sambil menonton live music. Dia pengagum Charlie Parker dan Billie Holiday. Musik jazz menurutnya adalah bentuk musik yang paling komunal, santapan melankolik untuk para pencinta. Gaya bicaranya seperti sedang merayu saya. Tapi saya sadar dia cuma meniru Cortazar. Saya bilang saya pengagum Steely Dan dan Al Stewart. Dia terlihat kecewa, di matanya selera musik saya borjuis. Saya setuju untuk tidak setuju. Perbincangan lalu berubah jadi otokritik. Lalu dia menanyakan apa saya juga menulis puisi. Saya bilang sedikit-sedikit. Dia bilang jangan sedikit-sedikit. Apa urusanmu, saya bilang. Dia bilang puisi berpengaruh, seni itu sendiri berpengaruh, agar revolusi bisa berjalan. Bukan hal yang tidak saya ketahui. Dia pikir saya lebih bodoh darinya. Tapi bicaranya meyakinkan, seperti seorang salesman bintang empat. Dia juga yang mengenalkan saya pertama kali dengan penyair-penyair menglong. Semenjak itu saya mulai mendedikasikan waktu saya untuk menulis puisi, dan mendengarkan lebih banyak jazz.

KH: Apa Anda masih berhubungan dengannya sampai sekarang?

CS: Dia sekarang tinggal di Singapura. Jadi konglomerat asuransi. Omong-omong kenapa Anda begitu tertarik?

KH: Saya hanya berusaha memastikan mana yang nyata dan tidak. Karya-karya Anda kebanyakan menggunakan nama dan tempat yang familiar.

CS: Banyak pewawancara bertanya apakah saya berbohong atau tidak. Memangnya kenapa kalau saya berbohong? Dan kenapa kalau saya bicara jujur?

KH: Apa Anda tidak suka dipertanyakan seperti itu?

CS: Sejujurnya tidak.

KH: Tetapi menghindari tetap tidak menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul.

CS: Bukan urusan saya.

KH: Apa ada alasan di balik keputusan Anda mengaburkan garis batas antara fiksi dan realitas? Khususnya bagaimana Anda kerap merekayasa nama individu, atau kejadian dengan yang asli?

CS: Ini trik yang dipakai juga oleh Sebald, hanya saja dalam bentuk dokumentasi foto. Saya kagum dengan bagaimana Sebald menyatukan fungsi esai dan fiksi dalam karya-karyanya. Saya pernah melihat trik semacam ini dalam karya Claudio Magris, tapi Sebald lebih berkesan di mata saya. Prosa-prosanya dekat dengan gaya prosa Nietzsche, yang tidak terpaku pada genre tertentu. Kesan yang ditinggalkan cuma perasaan melankolis total—seolah-olah kita tak punya tempat di dunia ini…

Saya melantur. Bisa tolong diulang pertanyaannya?

KH: Tentang biografi rekayasa dan kecenderungan Anda merekayasa diri.

CS: Oh, ya. Maksud saya, dalam karya-karya saya, nama-nama rekayasa dan nama-nama asli penulis itu bekerja seperti foto-foto dalam karya Sebald. Menulis cerita yang realistis dan bisa dipercaya itu bukan pekerjaan mudah. Setiap penulis saya rasa tahu itu. Kecuali penulis medioker dan penulis gadungan. Sebald mengambil langkah lebih jauh dengan menyantumkan foto-foto ke dalam karya-karyanya. Tujuannya supaya terkesan lebih “dokumentatif”, punya efek otentik, sehingga pembaca benar-benar percaya kalau apa yang dinarasikannya adalah kejadian yang sesungguhnya, benar-benar terjadi. Memberi nama karakter-karakter dalam novel saya dengan nama orang betulan terkadang memberikan efek tersebut. Seolah-olah saya sedang bercerita tentang kejadian yang benar-benar saya alami.

KH: Padahal tidak?

CS: Pembaca yang menilai sendiri.

KH: Jadi bagi Anda, penggunaan nama-nama dan kejadian (palsu) dalam latar familiar adalah bagian dari teknik kesusastraan itu sendiri?

CS: Hal itu datang secara alami, terutama ketika menulis karya fiksi. Setiap penulis fiksi pasti dihadapkan pada pilihan tersebut. Itu sebabnya saya pernah bilang kalau dalam karya-karya saya, pembaca tak akan pernah tahu dengan pasti kapan kenyataan itu dimulai dan berakhir. Saya tidak akan sejauh menyebutnya sebagai “teknik”, seperti sastrawan-sastrawan gedongan, ini cuma cara saya menyampaikan cerita. Bisa jadi saya sebenarnya bercerita tentang hal-hal banal yang memang benar terjadi, seperti bagaimana saya makan sate di pinggir jalan Sudirman di malam Natal, misalnya, tapi tampak seperti rekayasa karena caranya diceritakan. Mungkin jadi terdengar fantastis atau apa. Diksi sedikit banyak berpengaruh di sini.

Di sini lah menurut saya kekuatan fiksi. Fiksi memberi kita akses yang jauh lebih dinamis dalam membaca kenyataan.