Title: 10 Langkah Menuju Revolusi
Author: Lucas Amilcar
Translator: Temcy Commune
Publication: Dipo Resist Pub
Publication Date: 2026
Language: Indonesia
Source: Dipo Resist Pub
Notes: Pertama kali dipublikasikan di Instagram @dipo.resist. Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Agung Bagol (A[l]ttext Syndicate).

Teks pendek ini ditulis baru-baru ini dalam konteks mobilisasi di Prancis, yang digerakkan oleh gerakan pelajar sekolah menengah yang telah berlangsung sejak akhir September, dan sejak saat itu bergabung dengan gerakan mahasiswa serta koordinasi antar-serikat pekerja. Gerakan Rompi Kuning telah menyerukan mobilisasi nasional besar-besaran pada tanggal 17 Oktober. Semua sektor tersebut bersiap untuk bersatu dalam aksi.

***

0. Jangan anggap remeh revolusi

Belakangan ini, kata "revolusi" semakin sering diperbicangkan. Alih-alih menjadikannya sekadar slogan performative yang diulang-ulang, kami yakin kita harus menyikapi kata tersebut dengan serius dan bertanya pada diri sendiri: seperti apa sebenarnya arti sebuah revolusi di negeri ini?

Untuk itu, mari kita belajar dari pengalaman mereka yang pernah melewati momen-momen pemberontakan dan revolusi nyata di Prancis maupun di tempat lain selama dekade terakhir.

1. Perluas berbagai lini perjuangan

Pemuda kelas pekerja dari wilayah pinggiran telah menyalakan sumbu perlawanan, yang kemudian disambut oleh kawan-kawan mereka di pusat-pusat kota. Mereka yang dipinggirkan memang telah menyumet api revolusi, namun tanpa sokongan massa yang luas dari sesama kelompok tertindas dan para pembangkang dari pusat-pusat kota, kemenangan sejati mustahil digapai.

Jika kita tak mampu bergabung bersama, maka revolusi ini, bagaimanapun swag dan kewes citranya, akhirnya akan gagal meruntuhkan tembok-tembok kekuasaan yang masih mampu merepresi dan mengisolasi kita hingga kita lelah kemudian menyerah, seperti yang terjadi dengan revolusi-revolusi terdahulu.

2. Partisan harus menjadi seorang yang revolusioner

Karena ketakutan, penguasa akan menghalalkan segala cara untuk meretakkan persatuan kita yang baru tumbuh ini dengan cara mengeksploitasi tindakan, kepentingan, dan identitas dari berbagai kelompok yang berbeda. Persatuan yang kita miliki, persatuan kaum yang baru mulai bangkit, memang rentan, dan karena itu harus kita pertahankan sekuat tenaga.

Sekalipun kita berhasil merajutnya, ikatan itu akan tetap terancam begitu gelombang perlawanan mulai surut. Di saat-saat seperti itu, kita harus mampu:

- Membuka ruang diskusi tanpa mengabaikan perbedaan realitas di lapangan,

- Mengurai berbagai kontradiksi di antara barisan yang memberontak, dan

- Mengingat kembali dari mana api perlawanan ini bermula.

Jangan sampai lupa siapa musuh utama kita: simpul-simpul pusat kekuasaan negara, para konglomerat, baron media nasional, dan kelas menengah borjuis yang rasis dan klasis.

3. Letakkan organisasi sebagai motor gerakan

Partai, serikat buruh, kelompok revolusioner, jaringan, dan lain-lain—semuanya harus mengerahkan sumber daya finansial, markas, akun media sosial, tenaga, hingga panggung media mereka untuk keberhasilan revolusi. Tidak ada yang mempunyai hak maju ke depan sendirian untuk memimpin atau mewakili gerakan tanpa ada yang meminta.

Sebuah organisasi, akun media sosial, atau influenser, baru bisa disebut benar-benar revolusioner jika mereka menempatkan kepentingan gerakan di atas kepentingan mereka sendiri.

4. Sumber kekuatan dan legitimasi gerakan adalah kita yang berani memberontak

Artinya, gerakan ini bermula dari aksi blokade di sekolah-sekolah, pendudukan kampus, hingga majelis warga di berbagai sudut pemukiman. Melampaui ruang-ruang yang sudah ada atau generasi yang saat ini telah bergerak, kita harus mulai mengorganisir diri dari sekarang untuk membangun semakin banyak ruang perjuangan mandiri seperti ini.

Dari ruang-ruang inilah kita menghimpun kekuatan, merajut koordinasi, menyiapkan kemenangan perlawanan, sekaligus merancang masa depan setelahnya. Inilah wujud nyata kekuasaan rakyat yang sedang tumbuh.

5. Jangan terkejut jika menang

Kita tidak turun ke jalan sekadar untuk meramaikan selingan radikal: yang kita tuju adalah sebuah titik balik revolusioner. Jika kita ingin merasakan revolusi, maka targen kita haruslah revolusi itu sendiri.

Berlawanan dengan anggapan kaum sinis dan putus asa, kita pasti bisa menang. Sebelum gerakan Rompi Kuning dan tanggal 1 Desember 2018, tak seorang pun mengira kita bisa sampai pada titik pemberontakan rakyat yang sesungguhnya. Karena itu, kita harus mengincar dan bersiap untuk menjatuhkan Macron, lalu menumbangkan rezim ini.

Kita harus mempersiapkan rencana untuk menghadapi situasi luar biasa tersebut dan mencegah jangan sampai kita justru terkejut dan kemudian terpukau hingga tak mampu beraksi jika hal yang kita harapkan terjadi, seperti yang sudah terjadi dalam sejarah.

Jangan sampai kita lagi-lagi membiarkan sekelompok oportunis mengeksploitasi kemenangan yang kita raih untuk keuntungan mereka sendiri.

6. Remuknya rezim bukan akhir dari revolusi

Jika rezim ni ambruk dan kekuasaan mengalami kekosongan, ancaman terbesar justru datang dari kalangan moderat di dalam gerakan sendiri—partai politi, tokoh-tokoh karbitan, pimpinan serikat, dan sejenisnya—yang kini sibuk menjajakan jalan kompromi demi "menjinakkan" perlawanan kita. Para politikus dan kaum borjuis, baik kiri maupun kanan, akan selalu memilih perubahan kosmetik dan secuil konsensi murahan ketimbang menghadapi revolusi yang benar-benar merontokkan kekuasaan serta tumpukan harta mereka. Pemilu diulang, status darurat, atau dewan konstituante: mereka punya segudang cara untuk segera memadamkan api perlawanan ini secepat kilat.

Kerena itu kita harus memastikan, terutama saat gerakan ini masih pada puncak kekuataannya, untuk menghindari jebakan-jebakan mereka dan berjuang mencapai revolusi total dengan hasil jangka panjang: revolusi yang mencerabuti akar-akar jahat dari sistem yang selama ini membelenggu kita—ketidaksetaraan, ketidakadilan, dan penghinaan.

7. Hanya kita yang patut merencanakan masa depan

Alih-alih memaksaan program siap saji atau gagasan yang diracik para pemikir di balik meja, masa depan revolusi justru sedang ditempa di ruang-ruang yang lahir langsung dari rahim gerakan—lewat titik-titik pengorganisiran mandiri seperti blokade, okupasi, majelis warga, pengambil alihan ruang terbuka, dan sebagainya.

Namun, agar buah perlawanan kita tidak lagi dicatut oleh orang lain, ruang-ruang ini harus berdiri otonom sebagai pusat kekuasaan rakyat. Artinya, mereka tidak hanya mampu mengelola denyut perjuangan, tetapi juga merawat kekuatan serta wilayah teritorial mereka, sekaligus merumuskan arah revolusioner dari jantung perlawanan untuk menghadapi hari-hari setelah rezim ambruk.

Bentuk-bentuk kekuasaan rakyat inilah yang sekaligus menjadi sarana sekaligus tujuan akhir dari revolusi itu sendiri.

8. Lindungi revolusi bersama

Jika kita benar-benar berhasil memenangkan suara ini—suara kekuasaan rakyat—maka revolusi akan langsung diserang dari segala penjuru. Bahaya terbesar tentu datang dari aparat penindas, bahkan saat mereka berpura-pura memihak kita. Kita tidak akan menang dalam adu senjata secara langsung; karena itu, begitu rezim jatuh, kita harus melucuti militer dan kepolisian.

Ambil alih barak dan pos polisi; jangan beri angkatan bersenjata celah untuk melancarkan serangan balasan setelah situasi kembali normal. Dukungan internasional juga akan kita perlukan untuk mencegah represi berdarah.

9. Kegigihan berbuah kemenangan

Penguasa tidak pernah serapuh ini. Momen ini adalah kesempatan langka yang mungkin tidak akan terulang dalam waktu dekat. Inilah pemberontakan keempat terhadap rezim Macron sejak awal masa kepresidenannya. Rezimnya retak di segala penjuru, lumpuh dihantam krisis; kelas politiknya terbelah dan saling jegal demi pemilu. Ini adalah peluang emas yang tak disangka-sangka untuk memperhitungkan segala utang politik dan meremukkan rezim ini untuk selamanya.

Menjadi kewajiban partisan untuk menggunakan segala kekuatan kita untuk berjuang. Siapkan semua yang kita punya dan mari saling membantu memenengkan revolusi ini: dapur umum, kolektif dan komunitas, jaringan, pengalaman, alat berat maupun ringan. Mari sumbangkan semuanya untuk keperluan gerakan. Hanya satu hal yang perlu kita sadari: kita semua sedang mengambil lompatan besar ke medan yang asing, kita semua harus siap menanggung risiko yang mungkin terjadi.

***

Masa depan yang djanjikan kepada kita jauh lebih berbahaya daripada sebuah revolusi

Long live Temcy Commune