Mikhail Bakunin
Pendirian Internasionale
Kebangkitan Buruh Saat Kelahiran Asosiasi Buruh Internasionale.
Seksi Sentral Hanyalah Pengelompokkan Ideologis.
Pendekatan Empirik yang Diterapkan Buruh untuk Memahami Permasalahan Mereka.
Penjelasan Konkrit Adalah Satu-satunya Cara Efektif untuk Mendekati Massa Buruh.
Solidaritas Anggota Serikat Buruh Berakar dari Aktualitas.
Internasionalisme Tumbuh dari Pengalaman Sebenarnya, dari Perjuangan Kaum Proletar.
Masalah Internasionalisme Lahir dari Pengalaman Hidup Proletariat.
Kebangkitan Buruh Saat Kelahiran Asosiasi Buruh Internasionale.
Pada tahun 1863 hingga 1864, dalam masa-masa pendirian Internasionale, hampir seluruh penjuru Eropa, khususnya di negeri-negeri dengan industri modern berkembang pesat—Inggris, Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss-dua kenyataan terungkap dengan sendirinya. Kenyataan-kenyataan tersebut memudahkan dan secara praktis memaksa pembentukan Internasionale. Kenyataan pertama adalah bangkitnya kesadaran, keberanian dan semangat kaum buruh serentak di seluruh penjuru Eropa setelah 12 atau 15 tahun terpuruk akibat kegagalan besar pada tahun 1848 dan 1851. Kenyataan kedua adalah pertumbuhan pesat harta kekayaan borjuasi dan— pasangan wajibnya-kemiskinan buruh di seluruh dunia. Inilah dua kenyataan yang mendorong buruh bertindak sementara bangkitnya jiwa dan kesadaran membekali mereka dengan keyakinan yang asasi.
Seksi Sentral.
Namun, seperti juga pada masa sebelumnya, keyakinan yang terlahir kembali ini tidak muncul dengan sendirinya dalam himpunan-himpunan buruh yang berjumlah besar. Dari seluruh Eropa, pada mulanya keyakinan ini baru muncul di dua tempat, setelah itu disusul tempat-tempat lain tak lama sesudahnya. Namun, di negeri-negeri Eropa yang makmurpun, keyakinan tersebut tidak menjadikan satu himpunan besar buruh yang utuh, tetapi segelintir asosiasi-asosiasi buruh yang tersebar di sana-sini, yang merasakan gejolak keyakinan yang tumbuh kembali, gejolak yang cukup kuat untuk menjadi alasan untuk melanjutkan perjuangan. Di asosiasi-asosiasi tersebut pada mulanya muncul individu-individu langka: individu yang lebih cerdas, lebih giat dan lebih setia daripada individu lainnya. Seringkali individu-individu tersebut adalah orang-orang yang sudah lulus uji dan sudah terbentuk oleh perjuangan terdahulu. Individu-individu — tersebut—penuh harapan dan keyakinan-memupuk keberanian untuk memulai gerakan baru.
Individu-individu tersebut berkumpul di London pada tahun 1864, sehubungan dengan “masalah Polandia”: suatu masalah politik penting tetapi tidak ada hubungannya dengan masalah solidaritas internasional. Di bawah bimbingan langsung para pendiri Internasionale, mereka membentuk inti utama dari asosiasi ini. Kemudian, setelah pulang ke negeri masing-masing (Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss), mereka membentuk inti kedua di negeri masing-masing. Demikianlah terbentuknya seksi sentral Internasionale.
Seksi sentral tidak mewakili jenis-jenis pekerjaan. Seksi sentral beranggotakan buruh-buruh yang mempunyai pemikiran paling maju dari berbagai jenis pekerjaan. Jika demikian, seksi sentral mewakili apa? Seksi sentral mewakili ide Internasionale itu sendiri. Apa misi dari Internasionale? Misinya adalah mengembangkan dan mempropagandakan gagasan Internasionale. Apa gagasan Internasionale? Gagasan Internasionale adalah emansipasi semua buruh tak pandang jenis pekerjaan atau tempat tinggal, bukan sekedar buruh dari negara tertentu dan dari jenis pekerjaan tertentu. Hal ini adalah emansipasi umum untuk mereka yang susah payah mencari upah tak seberapa untuk memenuhi kebutuhan hidup yang melarat dengan jalan kerja produktif apapun. Gagasan ini adalah emansipasi umum bagi mereka yang secara ekonomi tereksploitasi dan secara politik tertindas oleh modal, atau lebih tepatnya pemilik modal dan makelar modal yang diistimewakan oleh sistem sosial yang berlaku saat ini.
Demikianlah aspek negatif, militan atau revolusioner dari gagasan ini. Apakah aspek positifnya? Aspek positifnya adalah pendirdian dunia sosial baru yang semata-mata berlandaskan pada buruh yang teremansipasi dan spontan tercipta dari puing-puing dunia lama oleh organisasi dan federasi bebas asosiasi buruh, yang terbebaskan dari belenggu ekonomi dan politik dari kelas-kelas sosial yang diistimewakan oleh sistem sosial.
Demikianlah dua aspek dari satu permasalahan—satu positif dan satu negatif. Keduanya tak bisa dipisah satu sama lain.
Seksi Sentral Hanyalah Pengelompokkan Ideologis.
Seksi sentral adalah pusat organisasi yang hidup dan aktif dimana keyakinan baru ini dilestarikan, dikembangkan dan dimurnikan. Tak satupun buruh bergabung ke dalam seksi sentral dalam kapasitas sebagai buruh khusus dari suatu jenis pekerjaan tertentu dengan pandangan untuk membentuk serikat buruh jenis pekerjaan tertentu. Buruh yang bergabung ke dalam seksi sentral adalah buruh pada umumnya, buruh yang punya pandangan menuju emansipasi umum, organisasi buruh dan dunia sosial baru yang berlandaskan pada buruh. Buruh-buruh yang bergabung ke dalam seksi sentral melupakan jati dirinya sebagai buruh khusus atau buruh tulen.
Buruh tersebut tampil dalam organisasi sebagai buruh pada umumnya. Buruh untuk apa? Buruh untuk gagasan, propaganda dan organisasi dari kekuatan ekonomi dan militan dari Internasionale: buruh untuk revolusi sosial.
Seksi sentral menampilkan karakter yang sama sekali berbeda atau malah bertolak belakang dengan seksi bidang pekerjaan. Seksi bidang pekerjaan mengikuti cara olah pikir alami, yaitu berangkat dari kenyataan untuk sampai ke gagasan. Sebaliknya, seksi sentral mengikuti cara olah pikir abstrak atau ideal. Seksi sentral berangkat dari gagasan untuk sampai ke kenyataan.
Jelas bahwa dalam perbedaan bak langit dan bumi ini, jika dibandingkan dengan metode positivistik atau realistik penuh yang diterapkan oleh seksi bidang pekerjaan, metode yang dipakai seksi sentral nampak artifisial dan abstrak. Cara olah pikir dari gagasan menuju kenyataan adalah persis dengan cara yang digunakan oleh para idealis dari semua mazhab filsafat, tokoh agama atau ahli metafisik yang puncak impotensinya kini hanya tinggal sejarah.
Menjadi impoten karena kenyataan bahwa mereka tak mampu mencapai kenyataan yang nyata dan konkrit dengan menempatkan gagasan absolut sebagai titik berangkat untuk berpikir.
Jika Sendiri, Seksi Sentral Takkan Berdaya untuk Menghimpun dalam Jumlah Besar Massa Buruh. Jika Internasionale hanya terdiri dari seksi sentral saja, tak perlu diragukan jika Internasionale takkan bisa menghimpun—jangankan seluruh, seperseratus pun takkan bisa-kekuatan sejati buruh yang menakjubkan dan dibangga-banggakan. Seksi sentral hanya akan terdiri dari buruh-buruh terpelajar dimana semua persoalan hanya akan didiskusikan dan hanya didiskusikan saja. Sudah tentu mereka juga membicarakan masalah organisasi buruh, tetapi tanpa sedikitpun berusaha untuk mewujudkannya. Bahkan sekedar untuk membuka peluang untuk mewujudkannya pun takkan sempat dilakukan oleh mereka.
Jika Internasionale hanya terdiri dari seksi sentral saja, Internasionale mungkin sudah berhasil menyusun rencana untuk menggulingkan tatanan yang ada sekarang ini. Tetapi rencana seperti ini hanya tinggal rencana, karena hal tersebut terlalu lemah untuk mencapai tujuan, Internasionale hanya mampu mengumpulkan segelintir buruh paling cerdas, paling giat, paling yakin dan paling setia. Mayoritas—berjuta-juta proletar-akan tetap di luar rencana ini. Sedangkan untuk menggulingkan dan menghancurkan tatanan sosial dan politik yang sedang menghimpit buruh saat ini, penting artinya untuk menjalin kerja sama dengan jutaan buruh tersebut.
Pendekatan Empirik yang Diterapkan Buruh untuk Memahami Permasalahan Mereka.
Hanya orang-orang tertentu dan segelintir buruh bisa terpengaruh oleh ide-ide murni dan abstrak. Sisanya, berjuta-juta orang—massa buruh-bukan cuma proletar, tetapi juga kelas yang tercerahkan dan kelas sosial yang distimewakan oleh sistem sosial hanya percaya logika dan kekuatan dari kenyataan. Setiap saat mereka hanya melihat dan memikirkan kepentingan sesaat atau bergerak hanya karena nafsu akan uang.
Karena itu, untuk menarik minat dan menghimpun seluruh proletariat ke dalam kegiatan-kegiatan Internasionale, perlu dilakukan pendekatan masalah bukan dengan gagasan abstrak atau umum, tetapi dengan pemahaman nyata sehari-hari.
Dari kacamata pemikir sosial, kesulitan hidup sehari-hari tampak sebagai masalah yang bersifat umum dan dalam kenyataannya hanya efek khusus dari suatu sebab umum dan permanen, Kenyataannya masalah tidak terhingga ragamnya serta punya begitu banyak aspek berbeda, terbentuk dari kumpulan penyebab sementara dan dipengaruhi oleh berbagai alasan.
Demikianlah realita sehari-hari dari malapetaka tersebut. Tetapi, massa buruh—dipaksa bekerja keras membanting tulang dan sulit mencari waktu senggang untuk memikirkan hari esok, mereka memahami malapetaka yang sedangmereka derita hanya dalam konteks realita khusus dan jarang sekali atau malah tidak pernah dalam aspek umum.
Penjelasan Konkrit Adalah Satu-satunya Cara Efektif untuk Mendekati Massa Buruh.
Selanjutnya, untuk menyentuh hati dan meraih kepercayaan, kesepakatan, keakraban dan kerjasama dari berjuta-juta bala tentara buruh buta huruf—sayangnya sebagian besar proletar masuk ke dalam golongan ini-penting untuk bicara pada mereka bukan tentang penderitaan umum proletariat internasional sebagai keseluruhan, tetapi tentang kemalangan khusus yang sehari-hari dialami oleh orang-perorang. Penting untuk bicara pada mereka mengenai urusan dan kondisi kerja mereka, di lokasi spesifik tempat mereka tinggal, mengenai beratnya kondisi kerja, mengenai panjangnya jam kerja yang dijalani setiap hari, mengenai upah yang kecil, mengenai kejamnya majikan mereka, mengenai biaya hidup yang tinggi dan mengenai betapa tidak mungkin bagi mereka untuk menopang dan membina rumah tangga secara layak.
Pada saat membeberkan cara-cara melawan malapetaka tersebut sekaligus untuk memperbaiki posisi buruh, sama sekali tidak penting dari sejak awal untuk membicarakan cara-cara umum dan revolusioner yang sudah menjadi program aksi Internasionale, seperti penghapusan hak milik turun temurun, kolektivisasi properti, penghapusan hak yuridis negara dan penggantian korporasi dengan organisasi dan federasi bebas asosiasi produsen. Buruh, dilihat dari segala kemungkinan, nampaknya sulit untuk memahami itu semua. Ada juga kemungkinan bahwa mereka sudah dipengaruhi oleh paham keagamaan, sosial dan politik yang sudah ditanamkan oleh negara dan tokoh agama. Mereka akan melengos marah dan menyangkal omongan para propagandis sembrono yang berusaha mempengaruhi mereka dengan argumen-argumen tersebut.
Jangan menggunakan metode seperti itu. Mereka harus didekati hanya dengan jalan menjelaskan cara-cara perlawanan, suatu tindakan yang bermanfaat langsung yang tak mungkin tidak mereka pahami, yang sangat mungkin mereka terima karena menyentil akal sehat dan pengalaman hidup mereka seperti yang sudah disebutkan tadi. Cara paling mendasar pertama adalah membangun solidaritas bulat dengan kawan sesama buruh di tempat kerja dalam membela diri, dalam berjuang melawan majikan dan menyebarluaskan solidaritas ini kepada semua buruh pada jenis pekerjaan dan wilayah yang sama dalam usaha bersama melawan para majikan, yaitu dengan cara bergabung secara resmi sebagai anggota aktif seksi jenis pekerjaan yang mereka geluti, seksi yang terafiliasi langsung dengan Internasionale.
Kenyataan ekonomi, kondisi pada pekerjaan dan kondisi eksploitasi nan dahsyat pada suatu jenis pekerjaan oleh para pemilik modal, solidaritas bulat dalam kepentingan, kebutuhan, penderitaan dan aspirasi diantara semua anggota buruh suatu seksi jenis pekerjaan—semua itu membentuk basis riil dari ikatan mereka. Gagasan tentang perlawanan akan muncul dengan sendirinya seiring dengan penjelasan atau penuturan yang cukup memadai dari olah pikir dan renungan atas kenyataan ini dalam kesadaran kolektif.
Solidaritas Anggota Serikat Buruh Berakar dari Aktualitas.
Seorang buruh sama sekali tak butuh persiapan intelektual untuk bergabung ke seksi jenis pekerjaan sebagai wakil dari jenis pekerjaan yang dia tekuni. Secara alami dia sudah menjadi anggota bahkan sebelum dia sadar. Yang perlu dia tahu hanyalah bahwa dia sudah berkerja keras setengah mati dan pekerjaan yang membunuhnya pelanpelan ini hanya memberi upah tak seberapa hingga hampir-hampir dia tak bisa menafkahi anak-istrinya dan hanya memperkaya majikannya. Semua itu berarti bahwa sang majikan adalah pengeksploitasi yang kejam, penindas yang tak kenal lelah, orang yang memperalat dirinya seperti budak, pada siapa dia tak punya perasaan selain benci dan hasrat memberontak seorang budak, pada saatnya nanti akan dia tinggalkan setelah dia taklukkan dalam puncak perlawanan, untuk mendapat keadilan dan untuk merasakan rasa persaudaraan kepada bekas majikan sebagai orang yang kini sudah bebas.
Buruh tersebut juga harus mengerti—dan ini tak sulit untuk dilakukan—bahwa jika seorang diri dia takkan berdaya melawan majikannya. Supaya tidak ditindas hancur oleh majikannya, pertama-tama dia harus bergabung dengan kawan-kawan sesama buruh di tempat kerja dan setia dengan mereka dalam setiap perjuangan melawan majikan.
Internasionalisme Tumbuh dari Pengalaman Sebenarnya, dari Perjuangan Kaum Proletar.
Buruh tersebut juga harus tahu bahwa persatuan buruh di satu tempat kerja saja tidaklah cukup. Semua buruh di jenis pekerjaan yang sama yang bekerja di wilayah yang sama haruslah bersatu. Segera setelah sadar— kecuali buruh itu benar-benar bodoh-pengalaman hidup akan memberi pelajaran tentang masalah ini. Dia akan secara sadar menjadi anggota setia dari seksi korporatif sesuai jenis pekerjaan yang dia geluti.
Kemudian seksi korporatif lahir. Walau demikian, seksi ini belum memiliki kesadaran internasional. Seksi korporatif masih bersifat lokal. Tetapi pengalaman sama yang kini dirasakan secara bersama-sama akan segera mengatasi sempitnya cakupan solidaritas yang masih bersifat lokal pada buruh yang paling kurang cerdas sekalipun.
Ketika timbul krisis: pemogokan. Buruh-buruh di suatu wilayah yang bekerja di bidang yang sama mempunyai keinginan sama: menuntut majikan untuk menaikkan upah atau mengurangi jam kerja. Majikan tidak mau mengabulkan tuntutan tersebut. Karena tidak bisa berproduksi tanpa adanya buruh, maka majikan tersebut menggunakan buruh di wilayah lain atau provinsi lain atau malah di luar negeri. Akan tetapi, di luar negeri tersebut buruh bekerja lebih lama dengan upah lebih sedikit. Dengan demikian, majikan tersebut bisa menjual barang lebih murah hingga berhasil mengalahkan saingannya yang berasal dari negeri yang buruhnya bekerja lebih singkat tetapi diupah lebih banyak. Hal ini mendorong para majikan yang kalah saing untuk mengurangi upah dan menambah jam kerja buruh.
Dengan demikian, dalam jangka panjang, posisi buruh yang bisa ditoleransi di suatu negara bisa dipertahankan jika posisi tersebut kurang lebihnya sama dengan posisi buruh di negara lain. Seringkali kasus seperti ini terulang dengan sendirinya hingga luput dari pengamatan buruh yang paling bodoh sekalipun. Lalu, mereka mulai sadar bahwa—untuk melindungi diri sendiri dari eksploitasi yang terus meningkat oleh para majikantidaklah cukup untuk mengorganisir solidaritas dalam skala lokal saja, tetapi juga perlu untuk menyatukan semua buruh dari jenis pekerjaan yang sama. Bukan hanya dari satu provinsi saja dan bukan dari satu negara saja, tetapi dari seluruh negara dan utamanya dari negara-negara yang terjalin dalam hubungan dagang atau hubungan industri. Saat semua buruh menyadari itu semua, maka, suatu organisasi akan terbentuk bukan hanya pada skala lokal atau nasional saja, tetapi sungguh-sungguh organisasi internasional yang merangkul semua buruh dalam satu bidang pekerjaan.
Tetapi, organisasi ini belum merupakan organisasi buruh secara umum, ini baru sebuah organisasi internasional dari suatu jenis pekerjaan. Supaya buruh yang tak berpendidikan menyadari dan melihat solidaritas sejati ada diantara semua serikat buruh di seluruh negara di dunia, buruh yang mempunyai kemampuan intelektual lebih dari yang lain dan punya sedikit pengetahuan tentang ilmu ekonomi perlu untuk memberi bantuan penjelasan kepada yang lain. Bukan karena buruh biasa kurang memiliki pengalaman hidup di bidang tersebut, tetapi fenomena ekonomi yang menimbulkan solidaritas ini luar biasa ruwet, sehingga mungkin saja arti yang sebenarnya sulit dipahami oleh buruh yang belum tercerahkan.
Seandainya solidaritas internasional dibangun pada suatu jenis pekerjaan saja, maka, pada jenis pekerjaan itu, gaji buruh akan lebih tinggi dan jam kerja lebih pendek dari buruh pada jenis pekerjaan yang lain. Sementara itu, sudah terbukti bahwa karena persaingan dagang antar majikan dan pemilik modal, sumber laba sejati adalah gaji dan jam kerja yang lebih panjang.
Jelas bahwa pada jenis pekerjaan yang buruhnya terorganisir secara internasional, pemilik modal dan majikan akan mendapat hasil yang lebih sedikit dari pemilik modal dan majikan di tempat lain.
Akibatnya, para pemilik modal akan pelan-pelan memindahkan modal atau kredit sementara para majikan akan memindahkan aktivitas eksploitasinya pada jenis pekerjaan yang kurang terorganisir atau malah tidak terorganisir sama sekali.
Situasi seperti ini akan mengakibatkan menurunnya permintaan akan buruh pada jenis-jenis pekerjaan yang terorganisir secara internasional. Sudah tentu ini berakibat pada menurunnya situasi perburuhan yang bekerja pada jenis pekerjaan tersebut. Buruh-buruh tersebut mau tidak mau menerima upah yang lebih kecil supaya tidak kelaparan. Oleh karena itu, pada suatu jenis pekerjaan, kondisi buruh tak boleh lebih baik atau lebih buruk tanpa serta merta mempengaruhi buruh pada jenis pekerjaan yang lain dan buruh dari semua bidang pekerjaan harus terjalin dalam ikatan solidaritas sejati yang tak terputuskan.
Masalah Internasionalisme Lahir dari Pengalaman Hidup Proletariat.
Solidaritas ini sudah dibuktikan dengan pengalaman maupun ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimaksud hanyalah pengalaman yang berlaku universal, yang bisa dipaparkan dengan jelas dan bisa dijelaskan secara tepat dan sistematis. Solidaritas ini lahir sendiri ke dunia buruh buah dari rasa simpati yang kental, mendalam dan timbal balik dari kaum buruh dan kaum proletar. Simpati ini semakin kental akibat faktor ekonomi dan konsekuensi ekonomi, sosial-politiknya yang kian berkembang serta semakin menindas buruh tanpa pandang bulu.
Berkat dukungan moral dan material dari kawan sesama buruh saat berjuang maupun ejekan dan tentangan yang sistematis dan menularkan kebencian dari majikan, buruh dari jenis pekerjaan lain dan dari borjuasi secara keseluruhan, buruh akan sangat memahami situasi yang sedang mereka hadapi maupun kondisi yang diperlukan untuk mendapat emansipasi. Buruh kemudian bisa melihat bahwa dunia terbagi menjadi 3 kelompok besar:
1. Berjuta-juta buruh yang dieksploitasi
2. Ratusan ribu majikan (pengeksploitasi) kelas teri dan kelas menengah.
3. Ribuan pemangsa kelas kakap, pemilik modal besar yang jadi gemuk karena mengeksploitasi golongan kedua secara langsung dan mengeksploitasi golongan pertama secara tidak langsung. Golongan ini mengantongi paling sedikit setengah dari hasil keuntungan dari seluruh kerja umat manusia.
Begitu melihat kenyataan yang mencekam tetapi tak kunjung berubah ini, buruh segera sadar bahwa— meski terasa sebagai langkah mundur-jika ada jalan keselamatan, jalan itu tentunya ada pada mendirikan dan mengorganisir solidaritas seerat mungkin antar seluruh proletardian di seluruh dunia tanpa pandang bulu dalam usaha bersama melawan borjuasi yang sedang mengeksploitasi mereka.
Pertimbangan Historis yang Penting dari Internasionale.
Maka, demikianlah kerangka kerja yang siap pakai untuk Internasionale. Kerangka kerja ini bukan berasal dari teori di kepala pemikir-pemikir hebat, tetapi dari mengolah pikir kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi, dari perdebatan-perdebatan sengit karena kenyataan tersebut mempengaruhi kaum buruh dan dari renungan serta pemikiran yang secara alami timbul di alam pikiran para buruh.
Supaya Internasionale berdiri langgeng, penting supaya unsur-unsur yang terkait dengan penciptaan — Internasionale—faktor ekonomi, pengalaman, kerja keras dan pemikiran para proletar-dikembangkan hingga taraf yang kokoh untuk dijadikan dasar bagi Internasionale.
Di antara proletariat di seluruh dunia, penting juga terdapat kelompok atau asosiasi buruh yang berpemikiran maju dan bisa memancing inisiatif-inisiatif akan munculnya gerakan besar emansipasi buruh. Setelah itu tentu akan lahir inisiatif pribadi dari beberapa orang cerdas dan setia pada cita-cita rakyat.
Bagi massa buruh, mulai menyadari bahwa solidaritas internasional adalah jalan tunggal menuju emansipasi buruh saja tidaklah cukup. Penting juga supaya buruh mempunyai keyakinan akan kemanjuran dan kepastdian dari jalan keselamatan ini serta yakin akan peluang datangnya kebebasan nanti.
Keyakinan ini hanyalah sifat, kecenderungan kolektif dan keadaan mental. Alam semesta menganugrahkan sifat ini kepada manusia, tetapi kemunculannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan historis dari manusia itu sendiri. Kecenderungan kolektif para proletariat adalah hasil dari 2 hal: pengalaman historis dan, khususnya, keadaan ekonomi-sosial masa kini.