Title: Tiga Pidato yang Disampaikan Pada Pekerja di Val Saint-Imier
Author: Mikhail Bakunin
Translator: Tim Daun Malam
Publication: Penerbit Daun Malam
Publication Date: 2016
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Jejen Muslihat (Serikat Buruh Percetakan).

        Pidato Pertama

        Pidato Kedua

        Pidato Ketiga

Bakunin menggelar tiga kuliah di kota Sonvilier di Val Saint-Imier, Jura, Swiss, di hadapan para pekerja pabrik jam. Tanda kurung dalam teks menandakan pemotongan dan tambahan yang muncul di antara tanda kurung dalam dokumen asli.

Pidato Pertama

Teman-teman,[1]

Sejak Revolusi Agung 1789-1793 (Revolusi Prancis. penj), tidak ada peristiwa setelahnya di Eropa yang begitu penting dan besar yang terjadi pada kita sedemikian rupa, dan sekarang ada drama Paris. Dua fakta sejarah, dua revolusi bersejarah membentuk apa yang kita sebut dunia modern, dunia peradaban borjuis. Pertama, yang dikenal sebagai Reformasi[2] pada awal abad 16 telah mematahkan tulang punggung bangunan raksasa feodal, kuasa tak terbatas gereja. Dengan hancurnya kekuasaan gereja, Reformasi mengawali runtuhnya kekuasaan independen dan yang tampaknya mutlak dari tuan-tuan feodal seperti raja dan bahkan kerap mengawali perlawanan menentang raja. Gereja melindungi dan memberkati tuan-tuan feodal itu. Reformasi bahkan terkadang menentang raja-raja untuk mendapat hak-haknya langsung dari rahmat ilahi. Maka, Reformasi memberi bahan bakar baru pembebasan kelas borjuis. Dua abad sebelum revolusi agama tersebut, bahan bakar itu dengan perlahan telah disiapkan oleh pembangunan kebebasan komunal dan secara berturut-turut oleh perdagangan dan industri yang berada pada kondisi iklim serupa dan secara niscaya terdampak.

Revolusi itu melahirkan kekuasaan baru, bukan kekuasaan borjuis melainkan kekuasaan Negara, Inggris yang monarki, aristokratik dan konstitusional, kekuasaan monarki, birokratik, kebangsawanan mutlak, militer dan birokratik di sepanjang benua eropa, dua republik kecil, Swiss dan Belanda.

Mari blak-blakan, kita kesampingkan terlebih dulu dua republik dan membahas monarki. Bayangkan hubungan kelas, situasi politik dan sosial setelah Reformasi.

Mari kita beri penghargaan pada orang yang tepat, kita mulai dengan para pastur, dan pastur yang saya maksud tidak hanya dari gereja Katolik, tetapi juga pelayan-pelayan Protestan. Singkatnya, semua orang yang hidup melalui pemujaan ilahi dan yang menjual Tuhan, baik eceran ataupun borongan. Perbedaan teologis yang memisahkan mereka itu sangat tidak masuk akal dan halus, hanya membuang-buang waktu membahasnya.

Sebelum Reformasi, gereja dan para pastur, Paus sebagai kepala, merupakan tuan sejati dari bumi. Menurut doktrin gereja, semua negara, monarki, kaisar dan raja paling berkuasa memiliki kekuasaan sementara. Mereka memiliki hak-hak asalkan diakui dan direstui gereja. Kita tahu, dua abad menjelang akhir abad pertengahan diisi oleh perjuangan yang semakin bersemangat dan kemenangan kedaulatan raja melawan negara-negara Paus dan gereja. Reformasi mengakhiri pertarungan itu, memproklamirkan kemerdekaan negara-negara. Hak kedaulatan diakui didapat secara langsung dari Tuhan, tanpa campur tangan Paus. Tentu saja, berkat asal usul surgawinya, hak kedaulatan itu dinyatakan mutlak. Maka, keruntuhan kelaliman gereja[3] membangkitkan kelompok kelaliman monarki. Setelah menjadi tuan atas negara, Gereja menjadi pelayan negara, alat pemerintah di tangan monarki.

Tidak hanya di negara-negara Protestan, gereja mengambil sikap seperti itu. Tidak terkecuali Inggris dan termasuk semua Gereja Anglikan, monarki dinyatakan sebagai kepala gereja, tetapi juga di semua negara-negara Katolik, bahkan Spanyol tidak terkecuali. Kekuasaan Gereja Roma yang berantakan oleh pukulan mengerikan akibat Reformasi tidak dapat menyokong dirinya sendiri. Untuk menjaga keberlangsungannya, gereja membutuhkan bantuan negara-negara yang untuk sementara waktu berdaulat. Tetapi yang berdaulat, seperti kita tahu, tidak pernah membantu tanpa pamrih. Negara-negara itu tidak pernah tulus beragama. Negara-negara itu memuja kuasa dan uang mereka. Keuangan mereka pada saat yang sama merupakan alat kekuasaan dan tujuan kekuasaan. Jadi, untuk membeli dukungan dari pemerintahan monarki, gereja harus membuktikan pada mereka bahwa gereja mau dan mampu melayani. Sebelum reformasi, gereja berulangkali membangkitkan rakyat melawan raja-raja. Setelah Reformasi, gereja di semua negara, tak terkecuali di Swiss, menjadi sekutu pemerintah melawan rakyat. Gereja menjadi semacam polisi lalim di tangan negarawan dan kelas penguasa dengan tujuan untuk mengkotbahkan kepasrahan, kesabaran dan ketundukan membabibuta serta mengkotbahkan penolakan harta dan kenikmatan akan tanah. Gereja bersabda, rakyat harus memberikan bumi yang bahagia dan kuat, untuk memastikan harta surgawi bagi dirinya. Anda tahu, bahkan hingga hari ini semua gereja Kristen, Katolik dan Protestan, terus berkotbah dengan cara seperti ini. Untunglah, kini mereka kurang didengar, dan kita dapat memperkirakan mereka akan terpaksa tutup karena kekurangan jemaat, atau, dengan kata lain, tanpa korban penipuan.

Kini, lihatlah perubahan yang dipaksa dalam kelas feodal, para bangsawan, setelah Reformasi. Kelas bangsawan tetap pemilik bumi yang terpilih dan nyaris eksklusif. Namun, kelas bangsawan telah kehilangan kemerdekaan politik mereka. Sebelum Reformasi, kelas bangsawan, seperti gereja, musuh dan lawan negara. Setelah revolusi, kelas bangsawan menjadi pelayan, seperti gereja, dan pelayan dengan hak istimewa, seperti gereja. Semua jabatan militer dan sipil negara, kecuali yang paling tidak penting, diduduki oleh para bangsawan. Monarkis besar dan bahkan yang lebih kecil di Eropa terisi. Tuan-tuan feodal yang paling agung, sebelumnya begitu merdeka dan bangga, menjadi pelayan-pelayan dengan gelar kedaulatan. Meskipun kehilangan kebanggaan dan kemerdekaan, mereka mempertahakan semua kepongahannya. Kepongahan itu bahkan bisa dikatakan tumbuh. Para kacung ini memilih kepongahan sebagai sifat buruk mereka. Rendah, merangkak, bersikap merendahkan diri dalam kehadiran kedaulatan itu, mereka hanya menjadi semakin marah ketika berhadapan dengan warga negara dan rakyat. Mereka terus terjerembab baik atas nama mereka sendiri ataupun hukum ilahi, tetapi dengan izin dan layanan tuan-tuan mereka, dan di bawah alasan untuk kebaikan negara yang lebih tinggi.

Sifat dan situasi khusus kaum bangsawan itu hampir dipertahankan seluruhnya, bahkan hingga hari ini. Jerman, negara yang aneh dan tampaknya memiliki keistimewaan untuk memimpikan hal-hal yang paling indah, yang paling ningrat, harus mengakui hal itu sebagai yang paling memalukan dan keji. Bukti kebar-baran tercela, kekejaman perang terakhir, bentuk terkini kekaisaran Jerman-Knouto (Kekaisaran ini mengacu pada perjanjian Rusia dan Jerman pada waktu itu.pent) tidak diragukan lagi merupakan tantangan yang diajukan pada semua umat manusia oleh sersan kaisar brutal yang lalim.[4] Kota dan perang dalam satu zaman, dan keangkuhan rombongan bangsawan yang bodoh.

Setelah Reformasi, borjuis harus membebaskan diri sepenuhnya dari tirani dan penjarahan tuan-tuan feodal, sebagai bandit atau perampok independen dan swasta, tetapi borjuis mendapati kelas itu terikat dalam tirani dan perampasan baru, dan kini diatur atas nama pajak negara umum dan khusus,[5] tuan-tuan ini menjadi pelayan, itulah yang dapat dikatakan, dari negara yang sah merampok dan menjarah.

Peralihan dari feodal ke penjarahan yang lebih beraturan dan perampasan sistematis oleh negara pada awalnya tampak memuaskan kelas menengah ini. Singkatnya, ini adalah kelegaan situasi sosial dan ekonomi. Tetapi, sudah terlanjur basah, mandi sekalian, seperti kata pepatah. Pajak negara, pada awalnya wajar, setiap tahunnya bertambah dalam jumlah yang mencemaskan, walaupun tidak sebanyak negara monarki sekarang. Perang, dapat kita katakan tidak ada hentinya, negara-negara ini menjadi mutlak. Sejak Reformasi hingga Revolusi 1789, kebutuhan untuk menjaga tentara dalam jumlah banyak dibuat dengan dalih keseimbangan nasional. Tentara itu, kini bertugas sebagai pijakan utama ketahanan negara karena kedaulatan semakin mewah. Tentara itu diubah menjadi pesta permanen. Tentara merupakan tempat bangsawan pengacau, semua tugas mendapat hiasan gelar, mendesak uang pensiun pada tuannya, kebutuhan memberi makan semua kerumunan dengan hak istimewa yang mengisi jabatan tertinggi dalam tentara, birokrasi dan polisi menuntut pengeluaran besar. Biaya itu dibayar, tentu saja, pertama dan utama oleh rakyat, tetapi juga oleh kelas borjuis yang hingga Revolusi masih baik. Kelas borjuis mungkin sama derajatnya dengan apa yang orang anggap sebagai sapi perah, yang tiada lain dirancang untuk mempertahankan kedaulatan dan memberi makan gerombolan petugas dengan hak istimewa yang tak terbilang jumlahnya. Terlebih lagi, Reformasi menghilangkan kebebasan kelas menengah dua kali lipat lebih banyak daripada rasa aman yang ditimbulkan. Sebelum Reformasi, kelas menengah biasanya bergabung dan mendapat dukungan yang sangat diperlukan dari raja-raja dalam perjuangan mereka melawan gereja dan melawan tuan-tuan feodal, dan kelas menengah itu dengan cerdas memanfaatkan kesempatan untuk merenggut kebebasan dan kemerdekaan hingga derajat tertentu. Tetapi, sejak gereja dan tuan feodal menyerah pada negara, raja tidak lagi membutuhkan jasa kelas menengah. Raja secara bertahap menarik semua kebebasan yang sebelumnya dia berikan pada kelas sosial ini.

Dengan kelas menengah yang mengalami keadaan seperti itu setelah Reformasi, kita dapat membayangkan dengan jelas seperti apa massa petani dan pekerja kota. Para petani Eropa Tengah, Jerman, Belanda, bahkan sebagian di Swiss, seperti kita tahu, pada awal abad 16 dan Reformasi, membuat gerakan besar untuk merdeka dengan menyerukan “Damai di gubuk dan perang di Kastil” Gerakan ini, dikhianati oleh kelas borjuis, dan dikutuk oleh pimpinan protestanisme borjuis, Luther[6] dan Melanchthon[7]. Puluhan ribu petani mengalir dalam arus pemberontakan. Maka, para petani semakin melihat keterikatan pada tanah, melihat hukum secara langsung, seperti pemberontakan para budak, dan mereka tetap dalam kondisi itu hingga revolusi 1789-1793 di Prancis, di Prusia hingga 1807, dan hingga 1848 di sebagian besar Jerman. Di sebagian besar wilayah utara Jerman, khususnya di Mcklenburg, perbudakan masih ada hingga hari ini, meskipun perbudakan sudah sirna bahkan di Rusia. Kelas pekerja kota tidak jauh lebih bebas daripada para petani. Mereka dibagi menjadi dua golongan, para pekerja yang menjadi bagian perusahaan dan para pekerja yang tidak terorganisir. Gerakan dan produksi golongan pertama itu dibatasi dan diikat dengan segepok peraturan yang memperbudak, para mandor dan para bos. Golongan kedua, yang semua haknya dicabut, ditindas dan dihisap oleh semua orang. Pajak terbesar, seperti biasa, secara niscaya, dibebankan pada rakyat.

Keruntuhan ini dan penindasan umum terhadap kelas pekerja dan sebagian kelas menengah pada gilirannya harus dimaafkan. Ukuran luar biasa dari negara monarki, aristokrasi, birokrasi dan negara militer juga harus diakui. Negara menggantikan gereja, dan diproklamasikan sebagai institusi ilahi. Jadi, negara hukum, sepenuhnya berbeda, atau bahkan agak berbeda dalam menentang moralitas pribadi seseorang. Dalam moralitas pribadi, ketika seseorang tidak terikat oleh dogma, ada landasan abadi, diakui atau tidak, dimengerti, diterima dan disadari dalam setiap masyarakat manusia. Landasan itu tidak lain kecuali rasa hormat manusia, hormat akan martabat manusia, hak dan kebebasan semua individu manusia.

Hormat, itulah tugas semua orang, cinta dan kepemimpinan, itulah kebajikan, sebaliknya, melanggar hal itu merupakan suatu kejahatan. Moral negara bertentangan dengan moralitas manusia tersebut. Negara tegak di hadapan rakyatnya sebagai tujuan utama. Menggunakan kekuasaannya, kebesarannya, dengan segala cara yang mungkin dan tidak, dan bahkan tidak seperti semua hukum manusia dan kebaikan manusia, yaitu kebajikan. Segalanya yang bersumbangsih pada kekuasaan dan perluasan negara itu baik, dan segala yang bertentangan dengan kedua hal itu adalah jahat, meskipun tindakan paling bajik dalam perspektif umat manusia yang paling mulia. Itulah kenapa negarawan, diplomat, menteri, dan semua pegawai negeri selalu menggunakan kejahatan, dusta dan penghdianatan keji untuk melayani negara. Ketika kekejian dilakukan untuk tugas negara, tindakan itu menjadi kebajikan. Itulah moral negara. Moralitas itu adalah penghapusan sempurna moralitas manusia dan kemanusiaan.

Ada pertentangan dalam gagasan dasar negara. Negara dunia tidak pernah terwujud, setiap negara pasti dibatasi dengan wilayah terbatas dan kurang lebih terbatas sebagai subyek. Sebagian besar umat manusia tetap di luar negara, dan semua umat manusia terbagi antara penduduk negara-negara besar, menengah atau kecil. Setiap negara, meskipun memiliki sebagian kecil umat manusia, memproklamirkan dan berdiri sebagai perwakilan semua manusia dan sebagai sesuatu yang mutlak. Maka, semua yang berada di luarnya, semua negara lain, dengan subjek dan ciri dari subyek mereka, dianggap oleh setiap negara tercerabut oleh semua sanksi hukum, dan maka setiap negara mengizinkan penyerangan, penaklukan, pembantaian. Anda tahu, teman-teman saya tersayang, kita tidak pernah berhasil mendirikan hak internasional, dan kita tidak akan pernah dapat melakukannya karena sudut pandang negara, semua yang di luar negara tercerabut haknya. Seperti ketika negara menyatakan perang pada negara lain untuk memungkinkan pencabutan hak itu, apa yang saya katakan? Ketika negara memerintahkan warganya untuk melakukan semua kejahatan yang mungkin untuk melawan warga yang menjadi musuh negara: Pembunuhan, perkosaan, pencurian, penghancuran, pembakaran, perampasan. Semua kejahatan itu dianggap mendapat berkat Tuhan Kristen, bahwa setiap negara penggemar perang percaya dan memproklamirkan (sebagai) pendukung Tuhan Kristen untuk menyingkirkan yang lain. Tentu saja ini mengakibatkan Tuhan yang terkenal malang menjadi malu karena kejahatan yang paling heboh di muka bumi telah dan terus dilakukan atas namanya. Itulah kenapa kita adalah musuh Tuhan, dan kita percaya fiksi ini, roh ilahi, sebagai sumber utama kejahatan yang mewabah pada manusia.

Itulah kenapa kita melawan negara ini dan semua negara-negara dengan penuh hasrat. Karena, selama ada negara, tidak akan ada kemanusiaan, dan selama ada negara, perang dan kejahatan perang, penghancuran, kesengsaraa rakyat, yang merupakan dampak tidak terhindarkan akan menjadi abadi.

Selama negara ada, massa, bahkan dalam republik-republik paling demokratis, akan menjadi budak-budak, karena mereka tidak bekerja untuk kebahagiaan dan kemakmuran mereka sendiri, melainkan untuk kekuasaan dan kemakmuran negara. Apa itu negara? Negara diklaim sebagai ekspresi dan perwujudan nilai watak dan hak kebebasan semua orang. Baiklah, klaim itu bohong seperti ketika mereka mengklaim Tuhan adalah pelindung semua orang. Sebab, fantasi makhluk ilahi membentuk imajinasi orang, Tuhan, semua dewa-dewi, dan di antaranya yang terutama adalah Tuhan Kristen, selalu memihak yang kuat dan kaya untuk melawan orang yang menderita dan rakyat dungu. Berkat pastur, hak istimewa paling menjanjikan, penindasan dan kepemilikan dengan nama buruk. Jadi, negara tidak lain merupakan penjamin semua tanah untuk sekelompok kecil orang yang memiliki hak istimewa dan bahagia di atas penderitaan rakyat. Negara menggunakan kekuatan kolektif dan kerja semua orang untuk menjamin kebahagiaan, kemakmuran dan hak istimewa dari segelintir orang itu dengan mengorbankan hak-hak manusia di seluruh dunia. Negara adalah tempat minoritas memainkan peran martil dan landasannya pada mayoritas.

Hingga Revolusi Prancis, kelas borjuis, meskipun dalam kadar yang lebih sedikit dibanding massa, menjadi fondasi bangunan. Karena itulah kelas borjuis revolusioner. Ya, kelas borjuis sungguh revolusioner. Kelas ini berani memberontak melawan semua otoritas manusia dan ilahi, dan mempertanyakan Tuhan, raja-raja, paus. Kelas borjuis khususnya, ingin kebangsawanan. Bangsawan menduduki tempat di negara yang dibakar kelas borjuis dengan tidak sabar dan kelas borjuis itu ingin menggantikan mereka. Tetapi tidak, saya tidak ingin tidak adil, dan saya tidak memberi kesan bahwa dalam protes besarnya melawan tirani ilahi dan manusia, kelas borjuis mendorong dan didorong oleh pemikiran egois. Tak dapat dihindarkan, sifat pengorganisasian tertentu secara insting adalah untuk merenggut kekuasaan. Tetapi, kelas borjuis ini belum memiliki kesadaran akan jurang yang memisahkan massa yang bekerja itu dan bagaimana jurang itu sebenarnya beroperasi, karena kesadaran ini tidak terbangun lebih maju lagi dalam kelas pekerja itu sendiri, borjuis, terwakili dalam perjuangan menentang gereja dan negara, melalui semangat mulia dan karakter terbesarnya, percaya dengan tulus bahwa mereka juga bekerja bagi pembebasan semua orang.

Dua abad yang memisahkan perjuangan Reformasi religious dari Revolusi Prancis merupakan masa-masa heroik kelas borjuis. Mereka menjadi kuat melalui kekayaan dan kecerdasan, borjuis dengan blak-blakan menyerang semua institusi yang dihormati dari gereja dan negara. Serangan itu melemahkan semua, pertama-tama, melalui kritik filsafat dan sastra, dan kemudian borjuis melancarkan revolusi terbuka. Borjuis merupakan peracik revolusi 1789 dan 1793. Tidak diragukan lagi, borjuis dapat melakukan itu dengan menggunakan kekuatan popular, tetapi borjuis adalah organisatoris dari kekuatan itu dan mengarahkan kekuatan itu berhadapan dengan gereja, menentang monarki dan melawan kebangsawanan. Borjuis adalah yang memikirkan, dan yang memulai semua gerakan yang dilaksanakan rakyat. Borjuis percaya diri, mereka merasa berkuasa karena mereka tahu di belakang mereka, dengannya, ada rakyat.

Jika kita membandingkan keagungan pemikiran dan tindakan kelas menengah pada abad 18, dengan orang paling mahsyur sekarang, dengan kurcaci-kurcaci yang sekarang terkenal angkuh, kita bisa yakin ada kemunduran, kejatuhan mengerikan yang terjadi di kelas ini. Pada abad ke delapan, borjuis pintar, berani dan heroik. Kini mereka tampak bodoh dan pengecut. Dengan penuh keyakinan, borjuis sebelumnya menantang semua, dengan semua kemampuannya. Kini, keraguan mewabah, dilemahkan oleh ketidakadilan mereka sendiri, yang lebih karena situasi, pada tekad mereka. Hal itu memberi gambaran tentang kelemahan mereka yang paling memalukan. Kejadian barubaru ini di Prancis membuktikan dengan telak. Para borjuis mempertontonkan ketidakmampuan telak untuk menyelamatkan Prancis. Borjuis lebih suka invasi Prusia daripada revolusi populer. Revolusi itu sendiri dapat menyelamatkan Prancis. Tangan lemah borjuis menjatuhkan bendera kemajuan manusia, pembebasan universal. Kelas pekerja Paris membuktikannya hari ini bahwa hanya kelas pekerja yang dapat mengenakan bendera kemajuan manusia, pembebasan universal.

Dalam sesi berikutnya, saya akan coba membuktikan.

Pidato Kedua

Teman-teman terkasih,

Saya menceritakan pada Anda sebelumnya dua peristiwa bersejarah besar yang menengakkan kekuasaan borjuis: Revolusi relijius abad 16, juga dikenal sebagai Reformasi[8], dan Revolusi Politik Besar[9] abad lalu. Saya menambahkan, itu semua tentunya dicapai melalui kekuatan bersenjata rakyat yang telah dimulai dan diarahkan secara khusus oleh kelas menengah. Saya akan membuktikan juga pada Anda sekarang bahwa hal itu hanya menguntungkan kelas menengah.

Namun, program Revolusi, pada awalnya, tampak agung. Bukankah Revolusi dilakukan atas nama Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan umat manusia, tiga kata yang tampaknya mencakup semuanya yang hanya bisa diinginkan dan dicapai umat manusia di masa kini dan masa depan? Bagaimana mungkin Revolusi yang menyerukan sikap luas seperti itu menghasilkan pembebasan yang sayangnya ekslusif, terbatas dan mengistimewakan satu kelas di atas penderitaan jutaan pekerja yang hari ini dilindas oleh ketidakadilan dan kemakmuran yang kurang ajar dari kelas ini?

Ah! Revolusi itu merupakan revolusi politik. Borjuis dengan terang-terangan menghancurkan semua belenggu, semua tirani politik tetapi secara utuh meninggalkan dasar ekonomi masyarakat. Borjuis bahkan memproklamirkan dasar ekonomi itu sebagai yang suci dan tidak dapat dilanggar—yang merupakan sumber abadi, landasan utama semua kesenjangan politik dan sosial dari semua omong kosong beragama soal masa lalu dan sekarang. Revolusi memproklamirkan kebebasan bagi semua orang, atau lebih tepatnya hak untuk bebas bagi semua orang. Tetapi, borjuis tidak sepenuhnya memberikan sarana untuk mencapai kemerdekaan ini dan menikmati sebagai pemilik, pemodal, yang kaya.

“Kemiskinan adalah perbudakan!”[10]

Kata-kata mengerikan dari suara akrab teman kita Clement yang berlandaskan pengalaman dan hati[11]. Kita telah mengulang beberapa kali beberapa hari terakhir. Saya memiliki kesempatan baik untuk menghabiskannya di tengah-tengah Anda sekalian, teman dan rekan saya.

Ya, kemiskinan adalah perbudakan. Orang miskin harus menjual kerjanya, dan dia bekerja pada seseorang, para pemodal memberi Anda jalan agar tidak kelaparan. Para tuan borjuis pasti cukup tertarik dan berpikir untuk berani berbicara tentang kebebasan politik bagi massa pekerja! Kebebasan yang cantik yang menjadi subjek tingkah modal dan menjembatani keinginan para kapitalis yang lapar! Teman-teman terkasih, saya tentu tidak perlu membuktikan pada Anda yang telah datang untuk memahami pengalaman panjang dan pahit penderitaan kerja. Selama modal dan pekerja terpisah, pekerja akan menjadi budak modal dan menderita karena kerja tuan-tuan borjuis, yang dengan mengejek memberi Anda semua hak-hak politik, semua yang nampak bebas, untuk melestarikan kenyataan yang secara khusus untuk mereka sendiri.

Hak untuk bebas, tanpa sarana untuk mencapainya, hanyalah hantu, dan kita mencintai kebebasan sejati bukan? Kita ingin kenyataan. Tetapi (apa) yang merupakan inti kenyataan dan kondisi positif kebebasan? Hal itu adalah pembangunan penuh dan kenikmatan penuh semua kemampuan tubuh, intelektual dan moral bagi semua. Maka, semua sumber jasmaniah adalah niscaya bagi keberadaan semua orang. Kemudian, pendidikan dan pelatihan. Orang yang mati kelaparan, karena dilindas kemiskinan, setiap hari sekarat kelaparan dan kedinginan, dan, melihat penderitaan semua yang dia cinta, tidak dapat memberi bantuan, bukanlah manusia bebas, melainkan budak. Orang yang dikutuk untuk tetap terus menjadi brutal, kekurangan pendidikan manusiawi, orang yang memberi instruksi secara pribadi, angkuh, secara niscaya merupakan budak dan jika dia menggunakan hak politik, Anda dapat yakin, dengan satu atau lain cara, dia akan menggunakannya untuk melawan dirinya sendiri, demi membela tuannya yang menghisap.

Kebebasan tanpa syarat adalah: Tidak ada orang yang patuh pada yang lain, kebebasan ada jika semua tindakan ditentukan, tidak oleh keinginan orang lain, tetapi oleh keinginan dan keyakinannya sendiri. Tetapi, seorang yang lapar dipaksa menjual kerjanya, dan dirinya, dijual dengan harga serendah mungkin pada kapitalis yang berkenan untuk menghisap, seseorang memiliki kebrutalan dan kebodohan, terimakasih untuk terlibat dalam penghisapan akademis, yang akan secara niscaya dan selalu menghasilkan budak.

Bukan itu saja, merupakan fakta bahwa kebebasan individu-individu bukanlah sebuah fakta tunggal, melainkan produk kolektif. Tidak ada orang yang bebas dan tanpa bantuan masyarakat manusia dari sisi luar. Dalam semua Kongres pekerja kita memerangi individualistis atau kesalahan saudara seiman sosialis, bersama moralis dan ekonom borjuis. Mereka mengklaim orang dapat bebas, dia dapat hidup di luar perusahaan. Mereka mengatakan perusahaan didirikan dengan kontrak sukarela oleh mereka yang sebelumnya adalah manusia merdeka.

Teori ini diprkolamirkan oleh Rousseau[12], yang paling jahat dari abad lalu, orang sesat yang mengilhami semua penulis borjuis revolusioner, teori ini menandakan kedunguan lengkap akan sifat sejarah. Kita harus mencari kebebasan massa, tidak dalam masa lalu atau masa kini, melainkan pada masa depan—masa depan yang dekat: Dalam masa depan itu kita perlu menciptakan diri kita sendiri, melalui kekuatan pikiran, kehendak kita, tetapi juga melalui lengan-lengan kita. Di belakang kita, tidak pernah ada perjanjian bebas, hanya ada kebrutalan, kebodohan, ketidakadilan dan kekerasan-dan bahkan hari ini, Anda tahu sangat baik, yang disebut perjanjian bebas mensyaratkan kelaparan, perbudakan kelaparan massa dan penghisapan yang lapar bagi minoritas yang melahap dan menindas kita.

Teori kontrak suka rela juga salah menurut sudut pandang alam. Orang tidak dengan suka rela menciptakan perusahaan: Perusahaan-perusahaan itu muncul dengan paksaan. Manusia pada kenyataannya adalah binatang sosial. Manusia tidak dapat sepenuhnya menjadi manusia, katakanlah, binatang yang berpikir, mencintai dan berkehendak dalam suatu masyarakat. Bayangkan, orang yang dikaruniai oleh alam kemampuan luar biasa, sejak bayi dilempar ke gurun, tanpa masyarakat manusia. Jika tidak sirna dengan tragis, yang sepertinya kemungkinan terbesar seperti itu, orang itu pasti akan menjadi kasar, keras, tidak mampu berbicara dan berpikir—karena berpikir tidak dapat dipisahkan dari kata-kata, tidak ada yang dapat berpikir tanpa kata-kata. Bahkan ketika terisolasi dengan sempurna, Anda berbicara sendiri dengan Anda, karena Anda harus menggunakan kata-kata untuk berpikir, Anda mungkin memiliki imajinasi yang mencerminkan ihwal dengan baik, tetapi begitu Anda ingin berpikir tentang satu hal, Anda harus menggunakan kata-kata, karena hanya kata-kata yang menentukan pikiran dan memberikan kemampuan kilasan, insting, sifat pikiran. Pikiran tidak ada sebelum kata atau kata sebelum berpikir, dua bentuk itu adalah tindakan sama yang lahir berbarengan dari otak manusia. Jadi, tidak ada pikiran tanpa kata-kata[13]. Tetapi apa itu kata? Kata adalah komunikasi, perbincangan individu manusia dengan orang lain yang banyak. Manusia binatang menjadi manusia, yang artinya berpikir, berpikir melalui percakapan, dalam percakapan ini. Keindividuan sebagai seorang manusia, kebebasannya, merupakan produk komunitas.

Orang yang merdeka dari penindasan tirani menekankan setiap kerja kolektif sebagai sifat eksternal, karena kerja individual, tidak berdaya dan mandul, tidak pernah dapat menaklukan alam. Kerja produktif itu, yang menciptakan semua kemakmuran dan semua peradaban kita selalu merupakan kerja sosial suatu kelas, sayangnya telah dihisap secara tidak adil oleh individu di atas penderitaan massa pekerja. Pendidikan dan pelajaran serupa yang membangun manusia, bahwa pendidikan dan pelajaran yang sangat dibanggakan Me(essieu)rs[14] borjuis, dan yang sangat pelit mereka bagikan pada massa merupakan produk seluruh masyarakat juga. Kerja, saya dapat mengatakan tetap sama, rakyat memiliki naluri untuk menciptakan, tetapi sejauh ini mereka telah menciptakan hanya untuk mendukung individu borjuis. Kerja kolektif masih dihisap oleh individu yang tidak memiliki hak.

Semua yang manusiawi pada manusia, dan kebebasan, lebih dari segalanya, merupakan hasil kerja sosial suatu kelas. Bebas dalam keterpisahan absolut adalah omong kosong yang diciptakan teolog dan metafisis. Omong kosong itu menggantikan masyarakat manusia dengan masyarakat roh mereka, Tuhan. Semua orang, kata mereka, merasa bebas dalam kehadiran Tuhan, itu artinya, benar-benar kosong. Di bawah kerak bumi, begitulah kebebasan dari ketiadaan, atau ketiadaan kebebasan, yang adalah perbudakan. Tuhan, khayalan tentang Tuhan, dalam sejarah telah menjadi sumber dari semua dorongan moral, atau yang lebih tepat immoral.

Bagi kita, yang tidak ingin roh atau apapun selain kenyataan hidup manusia, kita mengakui manusia dapat merasa bebas dan tahu—dan maka tidak dapat mencapai kebebasannya-tanpa manusia di sekitar. Menjadi bebas, saya perlu melihat pada sekeliling saya, dan diakui sedemikian rupa oleh manusia bebas. Saya tidak bebas ketika kepribadian saya tercermin, seperti pada banyak cermin, juga dalam nurani yang bebas dari semua orang di sekitar saya, ketika pengakuan semua orang berbalik memaksa saya. Kebebasan semua, sama sekali tidak membatasi kebebasan saya, seperti dituding oleh individualistis, bertentangan dengan bukti, penafsiran , dan perluasan tanpa batas. Keinginan akan kebebasan dan martabat manusia di hadapan semua orang, untuk melihat dan mendukung kebebasan membenarkan, menghukum, meluas secara tak terbatas persetujuan semua orang, itulah kebahagiaan, surga manusia di atas bumi.

Tetapi, kebebasan ini hanya mungkin dalam persamaan. Jika ada yang lebih bebas dari saya, saya secara tak terhindarkan menjadi budaknya, jika saya lebih tua dari dia, dia akan menjadi milik saya. Jadi, persamaan secara mutlak merupakan syarat niscaya kebebasan. Revolusioner borjuis pada 1793 memahami dengan jelas keniscayaan logis tersebut. Juga, kata persamaan, berada sebagai istilah kedua dalam rumusan revolusioner: Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan. Tetapi apa itu persamaan?

Persamaan di depan hukum, persamaan hak-hak politis, persamaan warga dalam negara. Perhatikan dengan baik istilah ini, persamaan warga negara, bukan persamaan manusia karena negara tidak mengakui manusia, negara tahu warga negara. Bagi negara, manusia ada ketika negara membutuhkan—atau, secara khayal, negara dipercaya mengarahkan—hak-hak politis. Orang yang dilindas oleh kerja paksa, karena kemiskinan, lapar, orang yang secara sosial tertindas, secara ekonomi dihisap, diganyang, dan menderita, tidak hadir. Sebab, negara mengabaikan penderitaan mereka, serta perbudakan sosial dan ekonomi. Negara menyembunyikan kepatuhan aktual di balik topeng kebebasan politik yang salah. Hal itu merupakan persamaan politik, tetapi bukan persamaan sosial.

Teman-teman saya yang terkasih, Anda semua tahu dari pengalaman bagaimana yang dituding persamaan politik itu, yang tidak berlandaskan pada persamaan ekonomi dan sosial, menyesatkan. Dalam negara demokratik yang luas, contohnya, semua orang mencapai usia dewasa, tidak termasuk yang terpidana, berhak dan bahkan turut bertugas untuk menggunakan hak politik secara penuh dan melakukan semua fungsi yang dapat disebut keyakinan rekan warga negara mereka. Rakyat yang paling akhir, yang miskin, yang dungu, dapat dan pasti menggunakan semua hak seperti itu dan (menggenapi) semua fungsi-fungsi tersebut. Dapatkah kita membayangkan persamaan yang lebih luas dari ini? Ya, persamaan itu seharusnya dapat, secara legal, tetapi dalam kenyataannya, itu tidak mungkin. Orang-orang yang menjadi bagian dari massa dapat memilih berkuasa hanya jika ada perubahan radikal landasan ekonomi masyarakat, sebutlah kata itu, revolusi sosial. Tanpa itu, orang-orang tidak dapat memilih berkuasa. Yang disebut hak-hak politik yang dinikmati rakyat hanyalah isapan jempol belaka.

Kita lelah dengan semua sandiwara, baik itu agama atau politik. Rakyat lelah memakan roh dan dongeng. Makanan itu tidak membuat gemuk. Sekarang, rakyat mendesak kenyataan. Mari kita lihat apa yang nyata bagi rakyat dalam penggunaan hak-hak politik.

Untuk memenuhi tugas dengan cermat, khususnya fungsi yang lebih tinggi dalam negara, seseorang harus sudah sangat terpelajar. Rakyat tentunya tidak cukup terpelajar seperti itu. Apakah ini salah rakyat? Tidak, kesalahan itu terletak pada institusi negara. Tugas agung semua negara-negara demokrasi sejati adalah untuk mendidik rakyat sebanyak mungkin. Apakah ada negara yang sudah melakukannya? Tidak perlu menyebut negara-negara monarki, yang memiliki perintah jelas untuk tidak menyebarkan kepentingan, melainkan racun katekisme Kristen pada massa. Bicaralah tentang negara-negara republik dan demokratis seperti Amerika Serikat dan Swiss. Tentunya, kita harus mengakui bahwa kedua negara itu melakukan lebih banyak daripada negara-negara lain dalam hal pendidikan untuk rakyat. Tetapi, apakah mereka mencapai tujuan, meskipun niatan mereka baik? Apakah mungkin bagi Amerika Serikat dan Swiss memberikan pendidikan setara bagi semua anak-anak yang lahir di dalam negara-negara itu tanpa diskriminasi? Tidak, itu tidak mungkin. Bagi anakanak borjuis, pendidikan tinggi, bagi rakyat hanya pendidikan dasar, dan dalam kesempatan terbatas, sejumlah pendidikan menengah. Kenapa berbeda? Karena alasan sederhana bahwa orang biasa, pekerja di kota dan desa, tidak memiliki jalan untuk memperoleh, katakanlah, pangan, sandang, papan bagi anak-anak mereka sepanjang masa belajar anak-anak tersebut. Pelajaran sains membutuhkan pembelajaran hingga usia 21 tahun, dan terkadang mencapai 25 tahun. Saya tanyakan pada Anda, pekerja mana yang mampu membiayai anak mereka begitu lama? Pengorbanan ini melampaui batas kekuatan mereka, karena mereka tidak memiliki modal atau barang, dan karena mereka tidak cukup untuk hari esok, gaji mereka jarang mencukupi untuk membiayai keluarga besar.

Namun, harus dikatakan, rekan-rekan terkasih, Anda, pekerja di pegunungan, pekerja dalam perdagangan tempat produksi kapitalis, dapat dikatakan bahwa pergerakan uang dalam jumlah besar, belum menggapai kalian. Kalian sangat bahagia jika dibandingkan dengan daerah yang sudah digapai produksi kapitalis. Bekerja dalam kelompok kecil di bengkel Anda, dan seringkali bekerja di rumah Anda, Anda mendapat jauh lebih banyak daripada yang Anda dapat di perusahaan industri besar dan mempekerjakan ratusan buruh, kerja Anda cerdas, artistik, tidak membodohi seperti dikerjakan oleh mesin. Kemampuan dan kecerdasaan Anda memiliki arti. Anda memiliki relatif lebih banyak waktu luang dan kebebasan, itulah kenapa anda lebih berpendidikan, lebih bebas dan lebih bahagia daripada yang lainnya.

Dalam pabrik besar yang mapan, dikelola dan dijalankan oleh modal besar, yang di dalamnya mesin memainkan peran utama, pekerja secara pasti menjadi budak yang sengsara. Para pekerja lebih sering dipaksa untuk mengutuk anak kecil malang mereka yang baru berumur 6 tahun, bekerja 12, 14, 16 jam sehari dalam keadaan yang menyedihkan. Mereka tidak melakukannya karena keserakahan, tetapi karena kebutuhan. Jika tidak, mereka tidak mampu membiayai keluarga mereka.

Itulah pelajaran yang dapat mereka berikan pada anak-anak mereka. Saya kira tidak perlu mengucapkan lebih panjang lebar lagi untuk menunjukan pada Anda. Rekan-rekan terkasih, Anda tahu dengan sangat baik dari pengalaman dan sudah sangat yakin bahwa selama rakyat tidak bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memperkaya pemilik harta dan modal, pelajaran yang dapat dia berikan bagi anak-anaknya selalu lebih rendah daripada pelajaran anak-anak kelas menengah.

Jadi, dalam landasan organisasi yang sama dari negara, Anda akan secara pasti menemukan kesenjangan sosial yang lebar dan membawa malapetaka: massa yang secara niscaya dungu, minoritas dengan hak istimewa, jika tidak selalu sangat pintar, paling tidak sangat terdidik jika dibandingkan dengan rakyat. Kesimpulannya mudah ditarik. Minoritas terdidik akan selamanya memerintah massa yang dungu.

Hal ini tidak hanya kesenjangan alami individu, kita terpaksa menyerah terhadap kesenjangan itu. Seseorang lebih beruntung daripada yang lain, orang yang dilahirkan dengan kemampuan alami lebih cerdas dan lebih luas dari orang lain. Tetapi saya bergegas menambahkan, perbedaan-perbedaan ini tidak terlalu besar untuk dapat kita percayai. Bahkan dari sudut pandang alam, orang secara alami hampir sama, mutu dan kekurangan saling melengkapi hampir semua orang. Hanya ada dua perkecualian bagi hukum alam persamaan itu: Yaitu yang jenius dan idiot. Tetapi pengecualian bukanlah aturan, dan secara umum, kita dapat mengatakan semua orang setara, dan jika ada perbedaan-perbedaan berarti antar individu dalam perbedaan-perbedaan masyarakat sekarang, itu karena bersumber pada kesenjangan dahsyat dari pendidikan dan pelatihan, bukan pada alam.

Anak berbakat dengan kecerdasan tinggi, tetapi lahir di keluarga miskin dan keluarga pekerja yang hidup tanpa hari esok serta terus bekerja keras, dikutuk untuk bodoh. Bakat dan kecerdasannya bukannya berkembang, namun keadaan malahan membunuh semua kecerdasan alaminya: Pekerja, buruh, perawat dan yang dipaksa menyuapi borjuis yang tentu saja, lebih bodoh daripada borjuis. Anak-anak borjuis, sebaliknya, anak-anak orang kaya, meskipun tentunya seperti binatang buas, menerima pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk dapat membangun kecerdasan yang sedikit itu: Akan menjadi majikan, penghisap kerja, tuan, bos besar, anggota parlemen, pemerintah. Meskipun bodoh, anak orang kaya akan membuat hukum bagi rakyat, melawan rakyat, dan dia akan memerintah massa.

Dalam negara demokrasi dikatakan rakyat akan memilih yang baik. Tetapi, bagaimana rakyat mengenali yang baik? Rakyat tidak cukup terpelajar untuk menghakimi yang baik dan yang buruk, atau memiliki waktu luang untuk mengetahui orang yang maju dalam pemilihan umum. Terlebih lagi, orang-orang itu hidup dalam masyarakat yang berbeda dengan rakyat. Baru ketika pemilihan umum mereka memberi hormat pada rakyat berdaulat Yang Mulia, kemudian begitu terpilih, mereka memalingkan muka. Terlebih, karena berasal dari kelas dengan hak istimewa, kelas penghisap, betapapun luar biasa mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat mereka, mereka akan selalu buruk bagi rakyat, karena mereka pasti ingin selalu menjaga hak khusus sebagai landasan keberadaan sosial mereka, dan mengutuk rakyat pada perbudakan abadi.

Tetapi, kenapa rakyat tidak maju sendiri mengirimkan orangnya dalam parlemen dan pemerintahan, orang yang merakyat?—Pertama, karena orang yang merakyat, hidup dengan kerja dari tangan mereka sendiri, tidak memiliki waktu untuk secara khusus dicurahkan pada politik, dan tidak dapat melakukannya, sebagian besar waktu mereka acuh tak acuh terhadap pokok masalah politik dan ekonomi. Kedua, karena seiring berjalannya waktu, orang yang merakyat itu memasuki pemerintahan dan berbalik menjadi borjuis, terkadang bahkan lebih penuh kebencian dan penghinaan daripada mereka yang lahir sebagai borjuis itu sendiri.

Anda melihat bahwa persamaan politik, bahkan di negara-negara paling demokratik, adalah kebohongan. Persamaan itu sebatas persamaan hukum, persamaan di depan hukum. Hukum dibuat oleh warga negara, bagi warga negara dan diterapkan oleh borjuis untuk melawan rakyat. Negara dan hukum menampakan kehadirannya hanya untuk melestarikan perbudakan rakyat untuk keuntungan negara.

Selain itu, Anda tahu, ketika kepentingan Anda, kehormatan Anda, hak-hak Anda terganggu dan Anda menghendaki pengadilan, untuk itu Anda pertama-tama harus membuktikan bahwa Anda mampu membayar, artinya, Anda harus mendepositkan sejumlah...Dan jika Anda tidak siap untuk membayar, Anda tidak mendapatkan pengadilan. Tetapi bagi rakyat, apakah mayoritas pekerja punya sejumlah uang untuk didepositkan di pengadilan? Sering kali, tidak. Jadi, orang kaya akan menyerang Anda, menghina dengan kekebalan hukum— karena tidak ada keadilan bagi rakyat.

Ketika tidak ada persamaan ekonomi dan sosial, sejauh minoritas pemodal dapat menjadi pemilik kaya, tidak melalui kerja mereka sendiri, tetapi melalui warisan, persamaan politik adalah kebohongan. Tahukah Anda makna sebenarnya dari harta warisan? Itu adalah hak warisan untuk menghisap kerja kolektif rakyat dan memperbudak massa.

Pahlawan-pahlawan besar Revolusi 1793, baik itu Danton, atau Robespierre atau Saint-Just tidak mengerti akan hal ini. Mereka tidak ingin kebebasan sosial dan ekonomi serta kebijakan persamaan. Itulah kenapa kebebasan dan persamaan berlandaskan konstitusi mereka dan duduk di atas dasar baru, yaitu dominasi borjuis atas rakyat.

Mereka percaya meletakan Persaudaraan dalam istilah ketiga rumusan revolusioner mereka menyembunyikan kontradiksi ini. Lagi, itu hanya kebohongan! Saya bertanya, apakah persaudaraan itu mungkin antara penghisap dan yang dihisap, antara penindas dan yang ditindas? Bagaimana? Saya akan membuat Anda menderita dan berkeringat seharian penuh dan pada malamnya, ketika saya mengumpulkan buah penderitaan dan keringat Anda, menyisakan hanya bagian kecil sehingga Anda dapat hidup, dan mengatakan kembali esok hari keringat dan penderitaan menguntungkan saya -pada malamnya, saya akan mengatakan pada Anda sambil berpelukan, kita saudara!

Itulah persaudaraan revolusi borjuis.

Teman-teman terkasih, kita ingin Persamaan, Persaudaraan suci dan kebebasan bermartabat. Tetapi kita ingin hal-hal indah, agung tersebut tidak lagi menjadi khayalan, kebohongan, tetapi menjadi benar dan nyata!

Inilah makna dan tujuan dari apa yang kita sebut revolusi sosial.

Revolusi sosial dapat dirangkum secara singkat: Revolusi sosial ingin kita, ingin semua orang yang lahir di atas bumi menjadi manusia dalam pengertian sepenuhnya dari kata itu, manusia tidak hanya memiliki hak, tetapi juga seluruh sarana untuk membangun kemampuan mereka sepenuhnya, dan menjadi bebas, bahagia, dalam persamaan dan persaudaraan! Itulah yang benar-benar kita inginkan, dan kita semua siap mati untuk mencapai tujuan ini.

Saya meminta pada Anda, teman-teman, pertemuan ketiga dan terakhir untuk menyajikan pikiran saya sepenuhnya pada Anda.

Pidato Ketiga

Teman-teman Terkasih,

Saya menceritakan pada Anda pada pertemuan terakhir tentang bagaimana borjuis, tanpa sepenuhnya sadar akan dirinya sendiri, tetapi sebagian juga, dan paling tidak seperempat dengan sadar menggunakan lengan rakyat yang kuat sepanjang Revolusi Agung 1789-1793, untuk bertahta dalam reruntuhan dunia feodal, untuk kekuasaannya. Sekarang, borjuis menjadi kelas berkuasa. Sesuatu yang salah adalah membayangkan bahwa bangsawan dan pastur imigran yang mengkudeta negara melalui reaksi Thermidor[15], yang menggulingkan dan membunuh Robespierre dan Saint-Just, dan memenggal atau mendeportasi sekelompok pendukung mereka. Tidak diragukan lagi, banyak anggota dari dua institusi yang hancur itu mengambil peran aktif di dalam plot, merasa senang melihat mereka yang terguncang dan memenggal kepala mereka tanpa rasa iba. Tetapi, mereka tidak akan melakukan apapun jika sendiri. Terampas, mereka tidak berdaya. Bagian kelas borjuis ini yang diperkaya oleh pembelanjaan barang-barang rumah tangga, dipasok oleh perang dan pengelolaan anggaran publik, mengambil dari kesengsaraan publik dan kebangkrutan itu sendiri untuk menambah daya kantong mereka, merekalah, perwakilan kebajikan moralitas dan tatanan publik, yang merupakan penghasut reaksi tersebut. Mereka mendapat dukungan hangat dan kuat dari massa penjaga toko, keturunan yang selamanya pengecut dan jahat, yang menipu rakyat dengan racun eceran, menjual barang-barang dengan curang dan memanfaatkan kebodohan rakyat tanpa memiliki hati yang besar, semua kesombongan aristokrasi borjuis tanpa memiliki uang banyak, keluar sepanjang revolusi, bereaksi dengan tajam.

Bagi mereka semua gagasan yang mendebarkan hati massa—prinsip-prinsip utama, kepentingan agung kemanusiaan-tidak ada. Borjuis bahkan mengabaikan patriotisme, atau hanya mengetahui kesombongan dan gertakan. Tidak ada perasaan yang dapat menyita perhatian para pedagang tersebut kecuali kesulitan yang dari hari ke hari mencemaskan. Setiap orang melihat, dan orang dari berbagai pihak membenarkan, sepanjang pengepungan Paris yang mengerikan[16], — ketika rakyat bertarung dan ketika itu pula kelas kaya dan licik menyiapkan penghianatan dengan memberikan Paris pada Prusia, ketika proletariat yang baik hati, perempuan dan anak-anak rakyat kelaparan-perhatian para pemilik toko hanya berpusat pada satu, yaitu menjual barang-barang mereka, makanan mereka, kebutuhan sehari-hari yang paling penting bagi rakyat dengan harga tertinggi.

Para pemilik toko dari semua kota-kota besar di Prancis melakukan hal yang sama. Di kota-kota yang diserang oleh Prusia, mereka membuka pintu bagi orang Prusia. Di kota-kota yang tidak diserang, mereka menyiapkan untuk para pekerja, melumpuhkan pertahanan nasional, dan di mana saja mereka dapat menentang pemberontakan sertagerakan bersenjata yang merupakan satu-satunya cara untuk dapat menyelamatkan Prancis. Para pemilik toko di kota, seperti petani-petani di desa, merupakan tentara reaksioner. Para petani harus dapat diubah menjadi revolusioner, tetapi para pemilik toko itu tidak akan pernah dapat diubah.

Sepanjang Revolusi Agung, para borjuis terbelah dalam dua golongan, salah satunya (termasuk), yang beranggotakan minoritas kecil, merupakan borjuis revolusioner, yang dikenal umum dengan nama Jacobins. Kita jangan mengaburkan Jacobins hari ini dengan mereka pada 1793. Jacobins hari ini hanyalah hantu-hantu pucat dan kurcaci konyol, pahlawan pelawak abad lampau. Para Jacobins pada 1793 merupakan orang-orang besar[17], mereka memiliki api suci, memuja keadilan, kebebasan dan persamaan. Bukan salah mereka kalau tidak memahami sejumlah kata-kata yang bahkan kini meringkas dengan baik semua aspirasi kita. Jacobins dulu dianggap sebagai wajah politik, bukan dalam pengertdian ekonomi dan sosial. Tetapi, saya ulang, bukan salah mereka, seperti kini tidak baik bagi kita untuk mengerti hal itu hari ini. Hal tersebut merupakan kesalahan dan harga sebuah zaman.

Kemanusian berkembang dengan lambat, terlalu lambat, sangat disesalkan! Hanya melalui serangkaian kesalahan dan kekeliruan, khususnya percobaan yang kejam, yang selalu merupakan dampak pasti bagi manusia untuk menemukan kebenaran.

Para Jacobin pada 1793 merupakan orang-orang yang tulus, orang-orang yang terilhami oleh gagasan, berdedikasi pada gagasan mereka. Mereka pahlawan! Jika tidak, jika mereka tidak memiliki ketulusan agung dan suci itu, mereka tidak akan menuntaskan tindakan agung revolusi. Kita dapat dan harus memerangi kesalahan teoritikus Danton, Robespierre, Saint-Just, tetapi ketika memerangi kesalahan ekonomi sosial borjuis yang salah konsep, sempit dan ekslusif, kita harus menghormati kekuatan revolusioner mereka. Mereka adalah pahlawan terakhir kelas menengah, yang dulu penuh berlimpah pahlawan.

Terlepas dari minoritas yang heroik tersebut, ada massa besar borjuis yang menghisap secara materi, bagi mereka, gagasan dan prinsip revolusi hanya kata-kata yang bernilai dan bermakna sepanjang dapat digunakan untuk mengisi kantong mereka yang begitu tebal serta dihargai.[18] Begitu pula yang paling kaya juga paling berpengaruh di antara mereka sudah cukup mengisi pundi melalui revolusi, mereka menemukan revolusi melangkah terlalu jauh, tiba waktunya untuk mengakhiri dan memulihkan kekuasaan hukum dan tatanan publik. Mereka menggulingkan Komite Keselamatan Publik (Comité de Salut Public), membunuh Robespierre, Saint-Just dan teman-temannya. Mereka kemudian mendirikan Dewan Direktori (Directoire), yang merupakan penjelmaan kerusakan moral borjuis pada akhir abad lalu, kemenangan dan pemerintahan emas memperoleh serta mengumpulkan pundipundi beberapa ribu orang setiap bertarung.

Tetapi Prancis tidak memiliki waktu untuk bermanja-manja, dan masih sangat tertarik pada peristiwa-peristiwa besar revolusi, tidak dapat menahan skema ini lama-lama. Ada dua protes, salah satunya gagal, lainnya berhasil. Pertama, jika protes itu berhasil, jika saja, akan menyelamatkan Prancis dan dunia, kemenangan yang kedua melantik kekejaman raja dan perbudakan rakyat. Maksud saya adalah kebangkitan Babeuf[19] dan perebutan kekuasaan Bonaparte pertama.

Pemberontakan Babeuf merupakan upaya revolusioner terakhir abad lalu. Babeuf dan teman-temannya kurang lebih merupakan teman Robespierre dan Saint-Just. Mereka merupakan sosialis Jacobins. Mereka memuja persamaan, bahkan dengan mengorbankan kebebasan. Rencana mereka sederhana: kekuasaan untuk merebut alat-alat kerja dan modal lainnya dari semua pemilik untuk negara republik, demokratik dan sosial, sehingga negara menjadi satu-satunya pemilik dari semua kekayaan baik yang dapat bergerak maupun tidak dapat bergerak, menjadi majikan bersama, pemilik tunggal perusahaan, pada saat yang sama menyediakan kekuasaan politik tak terbatas, negara merupakan satu-satunya penyelenggara pendidikan yang setara bagi semua anak-anak, memaksa semua orang dewasa bekerja dan hidup dengan setara serta adil. Otonomi ditingkat kota praja, inisiatif individu, kebebasan hilang dilindas kekuasaan tak terbendung. Seluruh masyarakat tidak lagi harus mewakili gambaran keseragamaan monoton dan paksaan. Pemerintah dipilih melalui hak pilih universal, tetapi begitu terpilih, dan dia tetap berkuasa, dia melayani kekuasaan semua anggota masyarakat yang absolut.[20]

Menegakkan teori persamaan dengan memperkuat[21] kekuasaan negara tidak diciptakan oleh Babeuf. Landasan pertama teori diletakan oleh Plato, berabad-abad sebelum Kristus, dalam buku karyanya yang berjudul Republik, tempat pemikir besar kuno ini menggambarkan garis besar masyarakat egaliter. Kristen purba yang tentunya menerapkan komunisme praktis dalam perkumpulan, mereka dianiaya oleh semua penguasa dalam masyarakat. Akhirnya, pada saat awal revolusi relijius pada kuartal pertama abad 16 di Jerman, Thomas Muenzer[22] dan para pengikutnya membuat upaya pertama untuk menegakkan persamaan sosial dengan dasar yang kuat. Persekongkolan Babeuf merupakan penerapan praktis kedua dari gagasan persamaan di antara massa. Semua upaya ini, tidak terkecuali yang terakhir gagal karena dua alasan: Pertama, karena massa cukup terbangun untuk mengembalikan kemungkinan perwujudan itu, dan kemudian khususnya, karena dalam semua sistem tersebut, persamaan dikombinasikan dengan kekuasaan, otoritas negara, maka dari itu menyingkirkan kebebasan. Kita tahu, teman-teman terkasih, persamaan hanyalah yang paling mungkin dan kebebasan: tidak melalui kebebasan borjuis yang ekslusif, berlandaskan pada perbudakan massa dan itu bukanlah kebebasan, tetapi hak istimewa, dengan kebebasan umat manusia seluruhnya, setiap orang yang bangkit dengan martabat manusia. Namun, kita juga tahu kebebasan ini hanya mungkin dalam persamaan. Tidak hanya pemberontakan teoritis tetapi juga praktis melawan semua institusi dan menentang semua hubungan sosial yang diciptakan oleh kesenjangan pendirian, persamaan sosial dan ekonomi melalui kebebasan bagi semua: Inilah program terkini kita, yang kita harus menangkan meskipun ada Bismarck[23], Napoleon, Thiers[24], meskipun semua Cossacks dari kekaisaran Agustus, Tsar dari semua Rusia.

Semua yang terkumpul dalam persekongkolan Babeuf setelah pembunuhan dan pengusiran kudeta negara reaksioner Thermidor, tetap berdedikasi pada revolusi untuk warga negara di Paris, khususnya kebanyakan pekerja. Persekongkolan ini gagal, banyak anggotanya yang dipenggal dengan guillotine, tetapi banyak yang beruntung kabur. Di antara warga negara itu ada Buonarroti, manusia besi, memiliki sifat kuno, yang begitu bermartabat yang dia tahuharus menghormati orang-orang dari partai yang paling bertentangan. Dia tinggal di Belgia, tempatnya menjadi pendiri utama kelompok rahasia komunis-Carbonari, dan jarang disebut dalam buku sekarang, tetapi saya akan coba menjelaskan teman kita Adhemar[25]. Sejarah Adhmear itu suram, perlindungan heroik terakhirnya dari revolusi menentang reaksi, dikenal sebagai persekongkolan Babeuf.[26]

Protes lain melawan kerusakan masyarakat borjuis yang merenggut kekuasaan atas nama Dewan Direktori, seperti sudah saya katakan, adalah perampasan kekuasaan oleh Bonaparte pertama[27]. Cerita ini seribu kali lebih muram, Anda semua tahu. Ini adalah pelantikan kekuasaan pedang yang brutal dan keji, yang pertama terjadi pada awal abad ini kemurkaan orang kaya baru memberi cap tamparan pada pipi kemanusiaan. Napoleon menjadi pahlawan semua penguasa lalim, bersama militer, kekuasaan itu menjadi terror. Meskipun kalah, dia mewariskan bencana, prinsip keji Napolen: Menjijikan bagi kemanusiaan dan penindasan oleh pedang.

Saya tidak akan berbicara tentang restorasi[28]. Merupakan upaya konyol untuk membangkitkan kekuatan politik pada dua tempat dan institusi yang tengah runtuh: kebangsawanan dan pastur. Selama Restorasi, ada hal yang luar biasa, serangan yang mengancam kekuasaan ini yang borjuis pikir sudah selamanya dia taklukan, borjuis menjadi revolusioner semu. Begitu tatanan publik tegak, musuh tatanan publik bukanlah dirinya sendiri, begitulah dikatakan, segera setelah ini berdiri dan terjamin, jika tidak menjembatani kepentingan suatu kelompok borjuis, akan terjadi persekongkolan. MM. Guizot[29], Perier[30], Thiers, dan banyak lainnya, yang berada di bawah Louis-Philippe membedakan diri mereka (seperti) pendukung dan pembela paling fanatik dari pemerintahan penindas, korup, tetapi borjuis. Maka dari itu, di mata mereka sempurna. Semua jiwa terkutuk dari reaksi borjuis itu, bersekongkol di bawah Restorasi. Mereka menang pada Juli 1830 dan pemerintahan liberalisme borjuis dilantik.

Sejak 1830, di Eropa benar-benar merupakan zaman dominasi kepentingan borjuis dan politik borjuis yang ekslusif, khususnya Prancis, Inggris, Belgia, Belanda dan Swiss. Di negara-negara lain seperti Jerman, Denmark, Swedia, Italia, Spanyol dan Portugal, kepentingan borjuis mengalahkan semua kepentingan lainnya, tetapi tidak pemerintahan politik borjuis. Saya (tidak) berbicara pada Anda tentang keagungan dan kenestapaan Kekaisaran Seluruh Rusia, yang tetap menjadi subjek kekejian mutlak Tsar, dan tanpa institusi politik borjuis yang layak untuk menjadi titik penengah kelas politik, dan tempat “sungguh satu keberpihakan, dunia para petugas, organisasi birokrat, militer, dan polisi mematuhi cambuk Tsar, di seluruh negeri, puluhan juta ditelan oleh Tsar dan pegawai-pegawainya. Di Rusia, revolusi akan langsung datang dari rakyat, seperti telah saya paparkan secara menyeluruh dalam sebuah pidato panjang, saya memberikan pidato itu beberapa tahun lalu di Bern dan saya tanpa ragu menyampaikannya[31]. Saya juga tidak berbicara tentang Polandia yang malang dan heroik, berjuang, selalu tercekik lagi, tetapi tak pernah mati, dalam keluarnya tiga elang keji: Kekaisaran Rusia, Kekaisaran Austria dan Kekaisaran Jerman baru, diwakili oleh Prusia. Di Polandia, seperti di Rusia, tidak ada kelas menengah yang layak untuk mendukung kebangsawanan, birokrasi yang diwariskan budak Tsar di Rusia, maka dari itu birokrasi tersebut dominan yang kini kacau dan runtuh di Polandia, dan di sisi lain, budak serta para petani diganyang, kini dilindas, tidak oleh bangsawan, yang kehilangan kekuasaan tetapi oleh negara, oleh pegawai negara yang tak terhitung banyaknya, oleh Tsar. Saya tidak akan berbicara juga tentang negara yang lebih kecil, Swedia dan Denmark, yang baru menjadi sungguh-sungguh konstitusional sejak 1848 dan tetap kurang lebih di belakang keseluruhan pembangunan Eropa atau Spanyol dan Portugis, tempat gerakan industdial dan politik borjuis begitu lama lumpuh karena kekuasaan ganda pastur dan tentara. Namun, saya juga mengamati bahwa Spanyol, yang tampaknya begitu terbelakang, hadir pada kita sekarang sebagai salah satu organisasi paling luar biasa dalam Asosiasi Pekerja Internasional alias Internasionale yang ada di dunia.

Saya berhenti sejenak di Jerman. Jerman sejak tahun 1830 terus dan terus hadir pada kita sebagai negara aneh, tempat kepentingan borjuis mendominasi, tetapi kekuasaan politik tidak berada pada borjuis melainkan monarki absolut di bawah topeng daftar konstitusi, militer, organisasi birokratis dan melayani kaum bangsawan semata.

Kita sangat perlu mempelajari pemerintahan borjuis di Prancis, Inggris, dan Belgia. Karena persatuan Italia di bawah hantu Victor Emmanuel[32], kita juga dapat mempelajari Italia. Tetapi, tidak ada satu negarapun yang memenuhi semua sifat seperti Prancis sehingga negara inilah yang terutama kita pikirkan.

Sejak tahun 1830, prinsip borjuis bebas sepenuhnya untuk diwujudkan dalam sastra, politik dan ekonomi sosial. Prinsip itu dapat diringkas dalam satu kata, individualisme.

Yang saya maksud kecenderungan individualisme[33] ini adalah—menganggap seluruh masyarakat, massa individu, secara acuh tak acuh, pesaing, musuh, seperti musuh alami, singkatnya, ketika semua orang dipaksa hidup tetapi saling menghalangi jalan masing-masing-mendorong individu menaklukkan dan menegakkan kemakmuran dan kekayaan sendiri, kebahagiaan meskipun dengan mengorbankan semua orang dan di atas punggung orang lain. Ini merupakan pacuan kuda halang rintang, sebuah kekacauan yang biasanya memungkinkan semua orang berlomba menjadi yang pertama. Jika yang lemah menderita karena berhenti, mereka terus maju. Jika yang lelah karena letih menderita, jatuh di jalan, mereka kini terlindas. Kompetisi tidak memiliki hati, tidak memiliki rasa iba. Menderitalah yang musnah dalam perjuangan ini, secara niscaya, banyak kejahatan dilakukan, semua perjuangan yang berkaitan dengan pembunuhan saudara di mana saja terus berlanjut. Itu merupakan kejahatan melawan solidaritas kemanusiaan yang merupakan landasan tunggal semua moralitas. Negara, yang menurut perkataan mereka, perwakilan dan pembela keadilan tidak mencegah tindakan kriminal itu, melegalkan kejahatan itu dan melestarikan yang bertentangan dengan keadilan. Negara mewakili dan memihak bagi keadilan hukum, bukan keadilan manusia. Keadilan hukum tidak lain hanyalah pengabdian kemenangan yang kuat atas yang lemah, yang kaya atas yang miskin. Negara hanya memerlukan piranti-piranti yang menjadikan kejahatan—kejahatan itu legal. Saya dapat menghancurkan Anda, melindas Anda, membunuh Anda tetapi saya harus sesuai hukum. Jika tidak, saya dianggap kriminal dan diancam sedemikian rupa. Itulah prinsip kata individualisme tersebut.

Kini, mari kita melihat bagaimana prinsip itu diutarakan dalam sastra, dalam sastra yang dikarang oleh Victor Hugo, Dumas, Balzac, Jules Janin[34] dan banyak pengarang buku-buku dan artikel koran borjuis lainnya yang sejak tahun 1830 membanjiri Eropa, membangkitkan kerusakan moral dan keegoisan anak muda tanpa memandang jenis kelamin, dan sialnya bahkan pada rakyat. Ambilah novel yang Anda inginkan: Selain perasaan menggebu dan palsu, kata-kata mutiara, apa yang Anda temukan? Selalu sama. Orang muda miskin, tidak pasti masa depannya, dia memiliki semua ambisi dan nafsu. Dia ingin hidup di istana, memakan hidangan mewah, meminum sampanye, menggunakan kereta kuda, dan tidur dengan bangsawan cantik. Dia berhasil, berkat upaya kepahlawanan dan petualangan luar biasa, sementara yang lainnya menyerah. Di sini, tokoh utamanya mencerminkan invidualisme murni.

Lihatlah kebijakan politik. Menyampaikan prinsipprinsip itu? Massa, kata mereka, perlu dikendalikan, diperintah, mereka tidak dapat bertindak tanpa pemerintah, seperti halnya mereka tidak mampu memerintah diri mereka sendiri. Siapa yang memerintah? Ada keistimewaan kelas. Semua orang berhak menduduki posisi dan fungsi sosial tertinggi. Tetapi, untuk mencapainya Anda harus pintar, cerdas, Anda harus kuat dan beruntung, kita harus tahu dan dapat mengalahkan semua saingan. Seperti dalam lomba lari rintang lainnya: Lomba itu menghendaki individu yang terampil dan kuat yang memerintah, mengecualikan rakyat.

Kini pertimbangkanlah prinsip yang sama dalampersoalanekonomi, yang pada dasar utamanya, mungkin bisa dikatakan satu-satunya persoalan. Ekonom borjuis memberi tahu kita bahwa mereka pendukung kebebasan tak terbatas individu dan kompetisi merupakan syarat kebebasan ini. Tetapi, mari kita lihat apa kebebasan itu? Dan pertanyaan pertama: apakah itu kerja terpisah, tersendiri, yang menghasilkan dan terus menghasilkan semua harta menawan ini yang mengelembungkan abad kita? Kita tidak tahu. Pekerja individu sendiri tidak dapat memberi makan dan pakadian bangsa penyamun kecil, bangsa besar menjadi kaya dan hanya dapat bertahan dengan bekerja bersama, tergabung secara terorganisir. Kerja (bagi) memproduksi kemakmuran yang dibagi, tampaknya logis bukan? Bahwa kenikmatan sumberdaya juga harus seperti itu. Baiklah, itu yang tidak diinginkan, yang ditekan dengan kebencian oleh ilmu ekonomi borjuis. Borjuis menginginkan kenikmatan individu semata. Tetapi, bagaimana dengan rakyat? Itu saja? Oh, tidak, tidak itu saja. Borjuis ingin kenikmatan bagi yang kuat, pintar, cerdas, bahagia. Ah! Ya, yang paling beruntung. Karena organisasi sosial ini, dan sesuai dengan hukum warisan sebagai landasan utama, lahir untuk menguntungkan segelintir individu yang kurang lebih kaya, dan jutaan orang sangat kekurangan, tidak beruntung. Kemudian masyarakat borjuis mengatakan pada semua orang tersebut: Bertarunglah, apakah engkau memperdebatkan harga, kemakmuran, kesejahteraan, kekuasaan politik? Para pemenang akan beruntung. Apakah ada setidaknya persamaan dalam perjuangan saling tikam antar saudara tersebut? Tidak, tidak ada sama sekali. Beberapa, sedikit, dilengkapi dengan senjata dari kepala hingga kaki, dengan warisan pendidikan mereka dan kekayaan mereka, dan jutaan orang rakyat hadir di arena hampir telanjang, dengan warisan kebodohan dan penderitaan juga. Apakah hasil niscaya dari yang disebut kompetisi bebas itu? Rakyat menyerah, kemenangan bagi borjuis dan proletariat dalam rantai kerja paksa seperti budak bagi pemenang abadi, borjuis.

Para borjuis terutama, dilengkapi dengan senjata untuk melawan kelas pekerja yang tidak akan mungkin selalu bertahan, karena senjata ini, modal—yang kini menjadi, di semua negara beradab, pelaku utama produksi industri-sebagai umpan akan berbalik melawan borjuis.

Modal, seperti terbentuk dan kini relevan, tidak hanya menggilas kelas pekerja, tetapi juga menghujam, merampas dan mengurangi (secara menyedihkan) sebagian besar borjuis. Penyebab fenomena ini, borjuis kecil dan jahat tidak cukup mengerti, mereka tidak mengetahui meskipun sederhana. Melalui kompetisi, melalui perjuangan hidup dan mati, berkat kebebasan yang dimenangkan oleh rakyat untuk keuntungan warga negara, kini perindustrian dan perdagangan memerintah, semua manufaktur dipaksa menjual produk mereka, atau lebih tepatnya produk buruh yang mereka pekerjakan, mereka bekerja pada harga serendah mungkin. Anda tahu dari pengalaman, produk mahal kini semakin tersingkir dari pasar oleh produk murah, meskipun produk murah itu kurang sempurna dibanding yang mahal. Jadi, hal tersebut merupakan akibat mematikan dari kompetisi ini, perjuangan dalam produksi borjuis[35]. Persaingan diperlukan untuk tujuan penggantian produk-produk baik dengan produk-produk menengah, pekerja trampil dengan pekerja tidak trampil. Pada saat yang sama, akibat itu menurunkan mutu produk dan penghasilnya.

Dalam kompetisi ini, ada pertarungan untuk pasar yang lebih rendah, uang yang banyak secara niscaya harus menggilas modal kecil, borjuis besar pasti menghancurkan borjuis kecil. Karena pabrik besar secara alami dapat membuat produknya dan memberi harga lebih murah dibanding pabrik menengah dan kecil. Pendirian pabrik besar secara alami membutuhkan modal besar, tetapi dalam perbandingan yang dapat dihasilkan pabrik besar, pabrik besar memiliki biaya lebih rendah daripada yang kecil dan menengah: Rp. 250 juta tentu lebih banyak dari Rp. 25 juta, tetapi Rp. 250 juta mengakibatkan pekerja pabrik menghasilkan 20-30% hasil produksi, sementara pekerja Rp. 25 juta dengan cara yang sama hanya 1096. Pabrik yang lebih besar menghemat ruangan, bahan mentah, mesin, mempekerjakan lebih banyak buruh daripada pabrik menengah atau kecil, mereka berhemat, atau menang melalui pengorganisiran yang lebih baik dan pembagian kerja yang lebih besar. Singkatnya, dengan Rp. 250 juta berpusat pada pabrik besar dan tangan para buruh di dalam perusahaan serta organisasi proses manufaktur yang unik, proses itu akan lebih banyak menghasilkan dibanding dengan sepuluh pabrik yang pada setiap proses produksi berbiaya Rp. 25 juta, jadi jika setiap dari mereka menyadari, Rp. 25 juta yang mereka gunakan menghasilkan pendapatan bersih Rp. 5 juta contohnya, pabrik yang berdiri dan mengorganisir perusahaan yang luas dengan biaya Rp. 250 juta, setiap Rp. 25 juta akan mendapat Rp. 12 atau 13 juta, atau menghasilkan 5 hingga 6 (kali lipat) barang-barang. Karena dalam perbandingan pabrik besar menghasilkan lebih banyak dalam proporsi, produk-produk mereka secara alami dapat dijual jauh lebih murah daripada pabrik berukuran menengah atau kecil. Namun, dengan menjual barang-barang lebih murah, pabrik besar juga memaksa pabrik berukuran menengah dan kecil menurunkan harga, jika tidak produk-produk mereka tidak dibeli. Tetapi seraya produksi produk-produk tersebut jatuh lebih mahal daripada pabrik-pabrik besar, harga jual barang dari pabrik manufaktur ternama akan menghancurkan mereka. Maka, modal besar akan membunuh modal kecil dan modal besar jika menghadapi modal yang lebih besar lagi, pada gilirannya akan hancur.

Hari ini, modal besar cenderung berpura-pura bekerjasama untuk membentuk modal yang sangat banyak. Hal ini memang sangat benar. Penggunaan perdagangan dan industri oleh perusahaan-perusahaan terbatas mulai menggantikan operasi pemodal individu besar. Ini terjadi di sebagian besar negara-negara industri, Inggris, Prancis dan Belgia. Seraya peradaban kekayaan bangsa dari negara-negara yang paling berkembang meningkat pendapatannya, kekayaan pemodal besar semakin naik, tetapi jumlah pemodal semakin sedikit. Hal itu berarti kelompok borjuis akan memendam borjuis kecil, dan sebagian besar rombongan yang masih menjadi borjuis kecil secara tak terhindarkan, dalam nestapa, tengah didorong menjadi kelas pekerja.

Fakta itu tidak dapat dibantah, fakta di atas ditemukan oleh statistik semua negara dengan pembuktikan matematika yang paling pasti. Dalam organisasi ekonomi masyarakat terkini, terus menghilangnya massa borjuis, pemodal yang luar biasa menjadi sedikit, hal tersebut merupakan hukum yang tidak dapat dihindari. Tidak ada obat penyembuh kecuali revolusi sosial. Jika borjuis kecil cukup cerdas dan memiliki akal sehat untuk mengerti hal tersebut, mereka sejak lama sudah bersekutu dengan kelas pekerja untuk melaksanakan revolusi ini. Tetapi borjuis kecil biasanya sangat bodoh, kebodohannya yang angkuh dan keegoisan menutup pikirannya. Mereka tidak melihat dan mengerti apa-apa. Mereka di satu sisi tergilas oleh borjuis besar dan di sisi lain terancam oleh kelas pekerja. Mereka memandang rendah, membenci dan takut terhadap kelas pekerja. Mereka dengan bodoh berakhir di mulut jurang.

Hal itu berdampak pada persaingan borjuis yang penuh bencana untuk memperebutkan kelas pekerja[36]. Dipaksa menjual produk-produk mereka —atau produk-produk mereka yang menghisap pekerja-dengan harga paling rendah, pabrik-pabrik secara niscaya harus membayar pekerja semurah mungkin. Maka, mereka tidak dapat membayar pekerja yang berbakat dan jenius. Mereka harus mencari sembarang pekerja, yang dipaksa menjual jasa dengan harga pasar terendah. Perempuan dan anak menyelesaikan persoalan upah rendah tersebut. Mereka mencoba mempekerjakan perempuan dan anak daripada memilih kaum laki-laki, dan pekerja tak cakap lebih dipilih daripada pekerja terampil. Mereka tidak dapat menggaji selain pekerja tidak terampil, anak dan perempuan. Para ekonom borjuis mengaku dan membuktikan bahwa ukuran upah pekerja selalu ditentukan oleh harga biaya hidup harian. Contohnya, jika pekerja dapat memiliki rumah, pakaian, makanan dengan gaji Rp. 1 juta sebulan, upahnya akan segera turun mengikuti sejumlah itu. Ini karena alasan yang sangat sederhana. Pekerja, tertekan oleh lapar, dipaksa bersaing satu sama lain dan pabrik, tidak sabar untuk secepat mungkin menjadi kaya dengan menghisap kerja pekerjanya. Di lain sisi, pabrik dipaksa oleh kompetisi borjuis untuk menjual produk-produk mereka dengan harga serendah mungkin, secara alami para pekerja akan menawarkan kepada borjuis jam kerja yang semakin panjang dengan upah yang semakin rendah.

Kesimpulan itu tidak hanya logis, fakta itu terjadi setiap hari di Inggris, Prancis, Belgia, Jerman dan sebagian Swiss, tempat industri besar berada, industri terhisap dalam pabrik besar oleh pemodal besar. Dalam kuliah terakhir saya, saya mengatakan bahwa Anda semua adalah pekerja dengan hak istimewa. Walaupun Anda jauh dari menerima upah penuh dari jumlah nilai produksi harian Anda, walaupun Anda tanpa diragukan dihisap oleh bos Anda, (bagaimanapun), dibandingkan pekerja-pekerja di perusahaan-perusahaan industri besar, Anda dibayar cukup baik, Anda memiliki waktu luang ketika Anda bebas, Anda beruntung. Saya segera mengakui, lebih bernilai bagi Anda masuk dalam Internasionale ini dan menjadi berdedikasi dan anggota yang tekun dari organisasi kerja besar ini untuk memberdayakan pekerja dunia. Anda mulia dan dermawan. Dengan begitu, Anda membuktikan Anda tidak hanya memikirkan diri Anda, tetapi juga berjuta-juta saudara yang jauh lebih tertindas dan jauh lebih malang daripada Anda. Dengan senang hati saya memberikan kesaksdian ini pada Anda.

Tetapi, pada saat yang sama ketika Anda bertindak dermawan dan bersolidaritas layaknya saudara, izinkan saya mengatakan pada Anda bahwa Anda juga mengingat untuk berpandangan ke depan dan bijaksana, Anda tidak melakukannya hanya untuk saudara seiman yang malang di negara-negara dan industri lain, Anda melakukannya juga, jika tidak cukup untuk diri Anda, paling tidak untuk anak Anda. Anda tidak benar-benar, tetapi relatif bahagia, bebas, dibayar cukup. Kenapa Anda? Karena alasan sederhana modal besar belum menyerbu negara Anda. Tetapi Anda mungkin tidak percaya serbuan itu akan terjadi. (Modal) besar, karena hukum yang terkandung di dalamnya, secara tak terhindarkan didorong untuk menyerbu segalanya. Modal besar secara alami, mulai dengan menghisap cabang-cabang perdagangan dan industri yang menjanjikan laba lebih besar, yang berjalan dengan lebih sederhana, dan secara niscaya akan berujung, setelah menghisap dengan cukup, dan persaingan dalam operasi itu segera kembali pada cabang-cabang yang sebelumnya tidak terpengaruh. Bukankah kita sekarang sudah punya mesin tenun, sepatu bot, tali? Percayalah, cepat atau lambat, dan lebih cepat daripada sebelumnya, kita juga akan memiliki mesin jam, pegas, knalpot, kotak, mangkuk, penyemiran, ukiran perhdiasan akan dikerjakan oleh mesin. Produk-produk itu tidak akan sempurna seperti yang dikerjakan oleh tangan terampil Anda, tetapi mereka memiliki harga lebih murah, dan mereka lebih laku dijual daripada produk-produk Anda yang lebih sempurna, mereka sungguh berada di bawah harga pasar. Kemudian Anda, atau paling tidak anak Anda akan menjadi budak-budak, nestapa seperti pekerja di pabrik-pabrik industri besar sekarang. Jadi, Anda melihat bahwa bekerja untuk saudara seiman Anda, pekerja miskin di negara-negara dan industri-industri lain, Anda juga bekerja untuk diri Anda, atau paling tidak untuk anak-anak Anda sendiri.

Anda bekerja untuk kemanusiaan. Kelas pekerja kini menjadi perwakilan tunggal perjuangan kemanusiaan yang agung dan suci. Masa depan kini milik kelas pekerja: pekerja lapangan, pekerja di pabrik-pabrik dan kota-kota. Semua kelas-kelas berakhir, penghisap tenaga kerja massa yang abadi: bangsawan, pastur, borjuis dan semua petugas militer dan sipil banyak sekali yang mencerminkan ketidakadilan dan kekuasaan lalim negara, kelas-kelas yang korup, terpukul tak berdaya, kini tidak mampu memahami dan menghasrati harta dan kekuasaan hanya untuk kejahatan.

Pastur dan bangsawan ditelanjangi dan dikalahkan pada 1793. Revolusi 1848[37] menelanjangi dan membuktikan ketidakberdayaan dan penyalahgunaan jabatan borjuis. Sepanjang hari-hari pada bulan Juni 1848, kelas menengah menanggalkan jauh-jauh agama ayah-ayah mereka: prinsip-prinsip dan landasan agama revolusioner, yaitu kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Begitu rakyat menganggap persamaan dan kebebasan dengan serius, borjuis, yang hadir hanya dalam operasi itu, yang bisa dikatakan melalui kesenjangan ekonomi dan perbudakan sosial rakyat, mengeluarkan reaksi.

Para penghianat ini, yang ingin kembali menyesatkan Prancis hari ini, para pengikut Thiers, Jules Favre tersebut[38], dan sebagian besar Majelis Nasional pada 1848, bekerja untuk memenangkan reaksi terbodoh sebagaimana masih mereka kerjakan hingga hari ini. Mereka mulai menghancurkan hak pilih universal, dan kemudian mendapuk kepresidenan Louis Bonaparte. Ketakutan akan revolusi sosial, kengerian akan persamaan hak, sentimen jahat mereka dan takut terhadap peradilan kelas pekerja, melemparkan kelas yang tengah runtuh ini dari tadinya begitu cerdas dan heroik, hari ini menjadibegitu bodoh dan pengecut di bawah tangan kediktatoran Napoleon III.[39] Mereka, di bawah kediktatoran militer selama 18 tahun. Jangan percaya Me(essieu)rs Borjuis yang sangat buruk. Mereka yang sangat ingin memainkan pemberontakan dan liberalisme, sedemikian rupa berisiknya, yang tidak terlalu nyaman terhadap rezim imperial, secara alamiah tersingkir dari lembaran. Namun semua lainnya yang meninggalkan omong kosong politik pada rakyat, secara ekslusif diterapkan pada diri mereka, seperti banyak kasus pada borjuis, penghisapan rakyat, yang dilindungi dan didorong dengan kuat. Tidakkah pada umumnya ada hak pilih universal yang parlemennya memilih Kaisar? Jadi, semuanya berjalan baik sesuai dengan kehendak borjuis. Hanya ada nila setitik. Itu adalah ambisi menaklukan kedaulatan, yang menyebabkan pengeluaran sia-sia bagi Prancis dan sebenarnya menghancurkan kekuasaan lama Prancis. Tetapi, nila setitik itu bukanlah kecelakaan, melainkan keniscayaan sistem.

Rezim lalim, absolut, meskipun tampak bebas, secara niscaya harus bersandar pada tentara yang kuat. Tentara yang berjumlah banyak cepat atau lambat mengakibatkan perang luar negeri untuk ambisi utama hirarki militer: semua ingin menjadi letnan kolonel, dan semua orang ingin menjadi letnan jenderal, karena para tentara secara sistemis rusak moralnya di barak. Mereka mengimpikan kepuasan bermartabat dari perang: pembunuhan, perampasan, perampokan, pemerkosaan,—bukti: eksploitasi tentara Prusia di Prancis. Baiklah, jika semua hasrat terhormat ini, secara cermat dan sistematis dijejalkan dalam hati para petugas dan tentara yang terus bermimpi tanpa mendapat kepuasan. Mereka menjadi getir dan semakin tidak puas menjadi tentara, dan ketidakpuasan itu bisa menimbulkan pemberontakan. Jadi, penting bagi mereka untuk pergi berperang. Maka, semua perjalanan ke luar dan perang yang dilakukan oleh Napoleon III bukanlah ciri kelakukan pribadi Napoleon, seperti yang M(essieu)rs sekarang klaim. Hal tersebut niscaya bagi sistem imperial yang lalim. Mereka membuat diri mereka takut terhadap revolusi sosial. Penyebab kemalangan mengerikan yang menimpa Prancis adalah kelas-kelas dengan hak istimewa ini, pastur tinggi dan rendah, para bangsawan yang tengah runtuh tersebut, dan akhirnya terutama borjuis yang jujur dan berbudi, kelas-kelas lain (juga) dan Napoleon III itu sendiri.

Anda semua menyaksikan, teman-teman, untuk membela Prancis yang malang ini, ada di penjuru negeri sekelompok massa, massa pekerja kota, tepatnya yang dikhianati dan digiring oleh borjuis pada Kekaisaran dan Kekaisaran mengorbankan penghisapan borjuis. Di seluruh negeri, tidak ada pekerja dermawan di pabrik-pabrik dan di kota-kota yang ingin melakukan pemberontakan rakyat untuk menyelamatkan Prancis. Pekerja dan petani desa berpihak pada Prusia dan aksi-aksi melawan Prancis. Mereka lemah semangat, dibodohi oleh pendidikan agama yang mereka terima sejak awal hingga Napoleon. Hal ini sebenarnya bisa menghasilkan kondisi revolusioner.

Dalam sebuah brosur yang banyak dibaca di antara Anda, berjudul Surat untuk Prancis[40], saya menjelaskan bagaimana borjuis harus menggunakan pekerja untuk memimpin Revolusi. Tetapi, untuk melakukannya, dia pertama-tama harus bangkit dan kota-kota diorganisir oleh kaum revolusioner. Para pekerja ingin: mereka bahkan mencoba di banyak kota-kota di Prancis Selatan, Lyon, Marseille, Montpellier, Saint-Etienne, Toulouse. Tetapi di mana saja mereka ditekan dan dilumpuhkan oleh borjuis-borjuis radikal atas nama Republik.

Ya, untuk kebaikan Republik, para borjuis pembela republik mereka ditakuti oleh rakyat, atas nama Republik, seperti Gambetta[41], pendosa tua Jules Favre dan serigala yang tak tenar, Their, dan Picard[42], Ferry[43], Jules Simon[44], Pelletan[45] dan banyak lainnya, atas nama Republik mereka membunuh Republik dan Prancis.

Para borjuis adalah hakim. Borjuis adalah kelas paling kaya dan banyak di Prancis—setelah massa, tentunya—jika mereka ingin, mereka dapat menyelamatkan Prancis. Tetapi, untuk itu mereka harus mengorbankan uang dan hidup mereka. Mereka juga harus dengan terbuka mengandalkan kelas pekerja, seperti yang dilakukan nenek moyang borjuis mereka pada 1793. Baiklah, borjuis tidak akan mengorbankan uangnya, apalagi hidupnya, dan borjuis lebih memilih penaklukan Prancis oleh Prusia daripada menyelamatkan Prancis melalui revolusi rakyat.

Pokok masalah antara pekerja kota dan borjuis cukup banyak dikemukakan. Para pekerja mengatakan: Kita lebih baik lompat dari ketinggian rumah bertingkat daripada menyerahkan kota kita pada Prusia. Para borjuis menanggapi, kita lebih baik membuka pintu kota kita pada Prusia daripada mengizinkan Anda merusuh di tempat umum, dan kita ingin menjaga rumah kita yang mahal dengan segala cara, bahkan jika kita harus mencium pantat tuan-tuan Prusia.

Camkanlah bahwa mereka kini merupakan warga negara yang berani menghina Komune Paris, Rakyat bermartabat yang menyelamatkan kehormatan Prancis dan harapannya, kemerdekaan dunia pada saat yang sama, mereka adalah borjuis yang sama yang hari ini menghina atas nama apa? Atas nama patriotisme![46]

Sungguh, para borjuis ini bermuka tembok! Mereka sudah sebegitu jeleknya sehingga kehilangan kesopanan sebagai benteng terakhir. Mereka tidak tahu malu. Sebelum terbunuh, mereka sudah membusuk dengan sempurna.

Hal itu tidak hanya di Prancis teman-teman, bahwa para borjuis itu membusuk, secara moral dan intelektual hancur, hal sama terjadi di mana saja di Eropa, dan semua negara-negara Eropa (hanya kelas pekerja) mempertahankan api suci. Kelas pekerja kini sendirian mengibarkan bendera kemanusiaan. Apa motto para pekerja, prinsip mereka? Solidaritas. Semua untuk satu dan satu untuk semua dan untuk semua. Ini adalah slogan dan prinsip mendasar Internasionale kita yang besar, yang melampaui batas-batas bangsa dan maka menghancurkan negara-negara, cenderung menyatukan para pekerja di dunia menjadi satu keluarga manusia, atas dasar kerja dan kewajiban bagi semua dan demi kebebasan setiap orang dan semua. Solidaritas dalam ekonomi sosial, disebut kerja dan kepemilikan bersama, dalam politik, disebut penghancuran negara dan kebebasan individu dengan kebebasan bagi semua. Ya, teman-teman terkasih, Anda para pekerja, solidaritas dengan teman-teman Anda, para pekerja di seluruh dunia, baru kini Anda mewarisi misi pembebasan kemanusiaan. Anda punya sesama pewaris misi itu, pekerja seperti Anda, meskipun keadaannya berbeda dengan Anda. Para petani. Tetapi para petani tidak memiliki kesadaran misi kerakyatan yang agung. Para petani diracuni, dan masih diracuni oleh pendeta dan tindakan-tindakan menentang diri mereka sebagai cara untuk bereaksi. Anda harus belajar, Anda harus menyelamatkan para petani, bukan memaksanya, dengan menjelaskan apa itu revolusi sosial.

Pada saat ini, khususnya di awal, pekerja industri harus dan hanya mengandalkan diri mereka sendiri. Tetapi mereka akan sangat digdaya jika mereka menginginkannya. Syaratnya, mereka harus dengan serius menginginkannya. Untuk mencapai hasrat ini, mereka hanya punya dua alat. Pertama, mendirikan di dalam kelompok-kelompok mereka dan kemudian di antara semua kelompok, solidaritas persaudaraan seiman yang sejati, tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan, tidak hanya selama hari libur, percakapan dan kegiatan minumminum, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anggota Internasionale harus merasa, secara praktis yakin semua anggota lainnya adalah saudaranya.

Cara lain adalah organisasi revolusioner, organisasi untuk aksi. Jika pemberontakan rakyat di Lyon, Marseille dan kota-kota lain di Prancis gagal, ini karena tidak ada organisasi. Saya dapat berbicara dengan sepenuhnya mengetahui fakta-fakta itu, karena saya di sana dan kalah[47]. Jika Komune Paris[48] tegak begitu berani hari ini, adalah karena sepanjang pengepungan, para pekerja terorganisir dengan serius. Bukan tanpa alasan bahwa koran borjuis menuding Internasionale menghasilkan pemberontakan yang luar biasa di Paris. Ya, katakanlah dengan bangga, mereka saudara kita, Internasionale yang dengan kerja tekun, mengorganisir rakyat Paris dan memungkinkan Komune Paris.

Mari kita menjadi saudara dan kawankawan yang baik dan mengorganisir diri kita. Jangan berpikir kita ada di penghujung Revolusi, kita masih di awal Revolusi. Revolusi kini adalah agenda berpuluh-puluh tahun. Revolusi akan menemui kita, cepat atau lambat, kita kemudian siap membersihkan diri kita, menjadi lebih nyata, mengurangi bicara mengurangi berteriak, mengurangi slogan-slogan, mengurangi mabuk, mengurangi hura-hura. Ambilah ancang-ancang[49] dan siapkan diri kita dengan pantas dalam perjuangan untuk menyelamatkan semua rakyat dan pada akhirnya membebaskan kemanusiaan.

Hidup Revolusi Sosial! Hidup Komune Paris!


[1] Dalam naskah, “Warga Negara” disilang dan diganti oleh Bakunin.

[2] Reformasi. Reformasi Protestan adalah nama yang diberikan oleh Martin Luther dan banyak teolog lainnya pada abad ke-16 untuk mempertanyakan kepercayaan dan praktek gereja Katolik Roma. Tantangan ini berbuntut pada terbelahnya Gereja Katolik Roma dan pembentukan gereja-gereja Protestan.

[3] Dalam naskah, kata “spiritual” dicoret.

[4] 4Willdiam I dari Jerman (Bahasa Jerman: Wilhelm Friedrich Wilhelm I dan Ludwig von Preußen), lahir pada 22 Maret 1797 and meninggal pada 09 Maret 1888 di Berlin merupakan raja kelima Prusia dari 1861 hingga 1888 dan Kaisar pertama Jerman sejak 1871 hingga 1888.

[5] Kata dengan sistematis dicoret dari naskah.

[6] Martin Luther (10 November 1483, Eisleben - 18 Februari 1546, Eisleben) adalah pastur Jerman yang menentang Katolik Roma dan merupakan inisdiator Protestan (Lutheran). Dia menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman, “bahasa rakyat.” Pada 1517, dia memaparkan 95 thesis menentang peredaran surat pengakuan dosa. Penerbitan itu paling tidak secara simbolis menandakan awal Reformasi.

[7] Philip Melanchthon (16 Februari 1497 di Bretten, Jerman - 19 April, 1560 di Wittenberg)memiliki nama aslinya Philipp Schwartzerd. Dia merupakan bekas orang Jerman yang relijius. Sebagai murid Martin Luther, dia paling dikenal karena menulis Pengakuan Ausburg pada 1520.

[8] Dalam manuskrip, Bakunin menyebut dengan lebih pasti.

[9] Revolusi Prancis 1789.

[10] Ini adalah refrain lagu populer Lachambeaudie Pierre (1807-1872), diterbitkan dalam Fables , Paris, 1851.

[11] Sylvain Clement adalah fotografer di Saint-Imie. Kita berhutang padanya foto Bakunin yang diambil pada Mei 1871, yaitu ketika “Tiga Konferensi” Di bulan Juli di tahun yang sama, dia bergabung dalam komiter Juri.

[12] Jean-Jacques Rousseau (Lahir di Jenewa 28 Juni, 1712 dan meninggal di Ermenonville 2 Juli 1778) adalah penulis dan filsuf. Teori politik tentang kehendak umum dan kontrak sosial berguna sebagai landasan teoritis untuk demokrasi totalitardian negara baru-baru ini dan Bakunin memperingatkannya satu abad sebelum Karl Popper memberi penafsiran yang sama terhadap pemikiran Rousseau dalam The Open Society and Its Enemies.

[13] Di sini, Bakunin mengantisipasi gagasan Lev Vygotsky dan Ludwig Wittgenstein tentang pertautan niscaya dan dekat antara pikiran dan kata-kata.

[14] Bakunin menggunakan permainan kata dalam m(essieu)rs. Kata essieu dapat diterjemahkan sebagai poros, dalam hal ini poros borjuis dan kata messieurs berarti bentuk jamak dari monsieur yang berarti tuan atau mr dalam bahasa Inggris. Dengan memainkan tanda kurung, Bakunin sekaligus mengacu pada poros dan orang-orang borjuis. (penerjemah).

[15] Thermidor adalah kudeta pada tanggal 9 bulan Thermidor (salah satu bulan dalam penanggalan Prancis) atau (27 Juli 1794) setelah Maximilien Robespierre dipenggal kepalanya dan (tanggal 10 Thermidor) dan Rezim Teror berakhir.

[16] Bakunin mengacu pada pengepungan Paris oleh Prusia (September 1870 - Maret 1871) yang terjadi sebelum Komune Paris dan pengepungan kedua oleh tentara pemberontak Prancis terhadap warga Paris.

[17] Bakunin merasa tertarik pada daya hidup Jacobin meskipun kekuasaan mereka bersifat diktator.

[18] Dalam naskah, “Mereka dapat menggunakan untuk mengisi kantung mereka”

[19] Frangois-Noel Babeuf (23 November 1760, St. Quentin, Picardy - 27 Mei 1797, Paris), juga dikenal sebagai Gracchus Babeuf sebagai penghormatan kalangan reformis Roma yang termasuk dalam keluarga Gracchi. Dia seorang propaganda masyarakat. Dia dihukum mati oleh pemerintah (Eksekutif) dan dipenggal pada 27 Mein 1797 atas tuduhan berencana mengorganisir yang dikenal sebagai Persengkokolan Kesetaraan (Societé des égaux) (1796).

[20] Di sini, sebuah variasi pembukaan paragraf selanjutnya dihapus: “Ini merupakan pengejawantahan praktik sosialisme. Gagasan ini perlahan membangun pikiran orang cerdas dan membakar sejumlah hati dengan cinta akan keadilan selama berabad-abad, sejak Plato yang meletakan dasar pertama teori persamaan, hidup dalam insting massa yang selalu tertindas, digilas oleh kekejian brutal penghisap mereka. Ini menginspirasi persamaan, teori kesetaraan.

[21] Dalam naskah: “Yang secara niscaya membutuhkan”.

[22] Thomas Muenzer (1489 or 1490-1525) pastur pengelana dari keluarga borjuis ini merupakan pimpinan religius dalam perang petani melawan pangeran di Jerman pada abad 16 dan salah satu protagonis besar dari Reformasi.

[23] Otto von Bismarck (1815-1898) Kanselir Prusia sejak 1862 hingga 1890. Dia merupakan kaselir Kekaisaran jerman Pertama (1870-1890). Dia menentang gerakan sosialis yang cukup penting pada 1880an dengan penerapan kebijakan atau hukum (pelarangan sejumlah organisasi pekerja) atau paternalistic (institusi untuk jaminan terhadap kecelakaan dan kesehatan) meski tidak cukup berhasil dan statis.

[24] Adolphe Thiers (1797-1877) adalah presiden pertama dari Republik Ketiga dan bertanggungjawab untuk pengganyangan Komun Paris sepanjang Minggu Berdarah (22-28 Mei 1871). Dalam pekan itu, dia menghukum mati lebih dari 25 ribu anggota komun.

[25] Schwitzguebel Adhemar (1844-1895), adalah pemahat, yang merupakan anggota kelompok rahasia komunis-Carbonari sejak berdiri pada Maret 1866. Carbonari merupakan bagian dari AIT Sonvilier (Asosiasi Pekerja Internasionale)

[26] Buku yang dibahas Bakunin tersebut: Philippe Buonarroti, Persekongkolan untuk Persamaan yang menyebut Babeuf mengikuti proses peradilan dan pemindahan, serta merinci proses peradilan, dan sebagainya - Librairie Romantigue, Bruxelles, 1828, volume 2.

[27] Perebutan pertama kekuasaan oleh Bonaparte adalah kudeta 18 Brumaire (9 November 1799) yang memulai kediktatoran Napoleon.

[28] Restorasi dalam sejarah Prancis adalah kurun waktu antara kejatuhan Kekaisaran Pertama pada 6 April 1814 dan revolusi 29 Juli 1830. Restorasi merupakan kembalinya kedaulatan monarki yang dijalankan dalam kerangka Piagam 1814, sepanjang rezim monarki Louis XVIII dan Charles X, saudara Louis XVI.

[29] François Guizot (1787-1874), politikus yang memiliki kecenderungan sosial konservatif dan sejarawan Prancis dan antiliberal.

[30] Casimir Perier (1777-1832), bergabung pada 1817, merupakan bupati Bangue de France. Selama restorasi, Perier bergabung dengan oposisi liberal dan turut berdemonstrasi, setelah lama mengalami keraguan cukup lama, mendukung revolusi 1830. Pada 1830, dia menjadi Kepala Pemerintahan dan Menteri Dalam Negeri. Dia menekan pemberontakan pertama Canut (para penenun sutera) di Lyon (November 1831). Dia mati ketika wabah kolera melanda pada Mei 1832.

[31] Bakunin kembali mengulang dalam pidatonya pada Kongres Perdamaian dan Kebebasan kedua, diterbitkan pada 2 September 1868 di Bern, ibukota Swiss.

[32] Victor Emmanuel II of Savoy (1820-1878) adalah raja pertama Italia.

[33] Tentang individualism, Bakunin merupakan perwakilan visi sosial anarki yang menentang setiap bentuk egoism (Bakunin menjelaskan bentuk ini dengan nama individualisme) yang dapat dilacak dalam gagasan lain yang berasal dari Anarkis besar lainnya, seperti Max Stirner.

[34] Jules Janin (1804-1874) adalah novelis, jurnalis dan kritikus teater Prancis.

[35] Kompetisi dan Industri besar. Di sini Bakunin memiliki pandangan kehancuran dan nyaris Marxian tentang persaingan. Sejumlah kecil industi besar akan menelan semua keuntungan. Sebenarnya, monopoli merupakan bdiang kerok di balik pembatasan perlindungan negara dan atas dasar permintaan pemodal nasional yang takut oleh persaingan global. Bahkan hari ini, persaingan takut pada birokrasi yang tambun dan tidak fleksibel seperti halnya pada pengusaha kecil yang dapat memunculkan gagasan dan mewujudkannya dalam proyek dengan keuntungan yang disalurkan bagi kelompok jejaring dunia.

[36] Proteksionisme negara-negara danbukannyapersaingan (seperti perdagangan bebas global) merupakan bencana bagi kelas pekerja. Pasalnya, hal itu mengakibatkan, selain kerusakan lainnya, krisis ekonomi 1929 yang membawa Sosialisme Nasional (Nazi) berkuasa di Jerman.

[37] Revolusi 1848 di Prancis yang mengakhiri monarkis Louis dOrleans Pilippe dan melantik Republik Kedua.

[38] Jules Favre (1809-1880), memulai karir sebagai pengacara dan politikus Prancis, sekarang menjadi Republikan moderat. Sikap nyinyir Bakunin berangkat dari fakta bahwa dia merupakan salah satu lawan yang paling gigih menentang Komun Paris.

[39] Charles Louis Napoleon Bonaparte, disebut Louis-Napoleon Bonaparte (1808-1873). Dia terpilih sebagai presiden Republik Prancis pada 1848 dan menjadi kaisar Prancis sebagai Napoleon III pada 1852. Dia terus berkuasa hingga September 1870 ketika dia kalah di tangah tentara Prusia. Kebijakan Napoleon III bercirikan liberalisme ekonomi hingga derajat tertentu dan otoritarianisme dalam hak-hak sipil (kebebasan berkumpul, kebebasan berpendapat, dan sebagainya).

[40] Bakunin menulis Surat untuk Prancis pada 1870 ketika terjadi krisis negara di Prancis karena perang Prancis-Prusia.

[41] Léon Gambetta (1838-1882) adalah politikus dan pengacara Prancis.

[42] Ernest Picard (1821-1877) adalah pengacara dan politikus. Dia menentang secara langsung Komune Paris dan itulah kenapa Bakunin menempatkannya dalam daftar orang yang “membunuh Republik.”

[43] Jules Ferry (1832-1893) adalah politikus dan pengacara Prancis. Penentang Komun ini merupakan pendukung perluasan jajahan Prancis dan memainkan peran penting dalam konsolidasi kekuasaan negara di Prancis.

[44] Jules Simon (1814-1896) adalah professor filsafat, anggota parlemen, Menteri Pendidikan dan setelahnya menjadi senator.

[45] Eugene Pelletan (1813-1884) adalah politikus dan jurnalis Prancis.

[46] DrJohnson (7 April 1775) yang tenar mengatakan, “Patriotisme merupakan benteng terakhir bajingan.” Kalimat ini mengkoreksi kata-kata Ambrose Bierce yang menyatakan “patriotism merupakan benteng pertama bajingan.

[47] Bakunin turut serta dalam kekalahan pemberontakan di Lyon pada 1870.

[48] Komune Paris merupakan pemerintahan revolusioner Paris sejak 26 Maret hingga 20 Mei 1871. Untuk periode ini lihat History of the Commune of 1871 karangan Prosper-Olivier Lissagaray.

[49] Dalam naskah: “Mari kita tutup”.