Title: Anak Panah Max Stirner
Subtitle: Kata Pengantar Penerjemah Esai-Esai Max Stirner dalam Buku “Keberanian Merusak”
Author: Syihabul Furqon
Publication Date: 2021, 2024
Language: Indonesia
Source: Keberanian Merusak (Public Enemy Books, 2021 & Talas Press, 2024)
Notes: Diterjemahkan oleh Syihabul Furqon. Riwayat Publikasi sebagai buku kumpulan esai “Keberanian Merusak”—Public Enemy Books (cetakan 1, 2021), Talas Press (Cetakan 3, 2024). Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ali Moris Najam (Archipelago Anarchist Archive).

Bicara mengenai Max Stirner, sama artinya dengan bicara mengenai negasi puncak. Karena dalam apa yang menjadi inti doktrin Max Stirner kita akan dibawa pada satu negasi ke negasi paling pinggir—jika tidak dikatakan sebagai kekosongan. Jika harus ada afirmasi tentu tidak lebih dari sekadar kepatutan. Itupun kepatutan yang tidak lebih dari olok-olok.

Sebagai seorang Hegelian muda (sekalipun kategori ini juga tidak perlu), Stirner berhadap-hadapan dengan gagasan mengenai Hegelianisme yang kadung telah menjadi monumen. Hanya saja, yang menarik adalah bahwa landasan Hegelianisme bagi Stirner tak lebih dari sekadar obrolan mengenai hantu-hantu (spook). Hantu di sini adalah suatu entitas yang disangka ada, tapi tidak ada. Demikian kira-kira Hegelianisme dalam benak Stirner.

Dasarnya adalah bahwa dalam Hegel, gagasan mengenai Ide, sebagaimana juga mengenai Roh—yang analog dengan seluruh struktur eksternal dalam manifestasi Agama (Eropa abad 19)—mencuat sedemikian rupa, mengganti dan memanipulasi lapisan subjek, mendongkelnya sehingga ia terlepas bagai kerikil berhamburan dari cangkang-cangkang wadagnya. Bagi Stirner, kenyataan ini harus diwaspadai. Saat kepalsuan—dalam bentuk esensi yang mengatasi eksistensi—bertahkta, kehidupan tak lagi mendalam dan orang hanya tinggal menunggu masa di mana bermunculannya para agamawan hipokrit dan para filsuf megalomania yang anti kritik.

Dalam Seni dan Agama (salah satu esai dalam kumpulan ini) kita akan melihat gugatan-gugatan tajam Stirner. Memang tidak selugas dan setajam dalam Ego and Its Own, tapi pandangannya yang menolak esensi melampaui eksistensi manusia sangat kuat. Bahwa manusia di satu sisi adalah jasmani (wadag), dan gerak-gerik batinnya berkisar antara apa yang nyata dan apa yang diangankannya atas Kenyataan. Fusi ini baru bisa terejawantah melalui tangan seniman.

Melalui kriya seniman itulah manusia kemudian mengagak-agak sesuatu yang ia personalisasi sebagai yang Ideal. Suatu aksiden yang lepas dari substansinya, dari dirinya sendiri. Yang ideal, karenanya adalah replika yang dari yang ditirunya. Sebab ia memiliki sifat ambigu. Di satu sisi itu tercipta dari yang tidak sempurna, tapi kemudian tiruannya itu dianggap lebih sempurna—lebih Ideal. Apa ini namanya jika bukan sejenis simptom gering batin? Bukankah tidak ada yang lebih presisi dari kenyataan?

Gering ini pulalah yang dijangkitkan oleh Agama—melalui para pengkhotbahnya. Bahwa wadag harus menempuh nyeri dan penebusan dosa. Bahwa tubuh adalah hina dan hanya patut didisplinkan takhta, lembing, cambuk, atau dingin titah Tuhan: beku serupa kristal es. Tidak bisakah manusia lepas dari belenggu objek ganda yang ada di sekitarnya dan yang diciptakannya? Sementara manusia mengejar objek, subjek dirinya ditinggalkan.

Seruan Stirner adalah seruan pada nalar yang aktif. Tidak beku dan tidak berdiam pada satu posisi gagasan yang mengental, mengkristal (fixed idea). Sebab semakin nalar tumpul dan kewaspadaan hilang, orang akan mudah kembali pada Esensi manusia yang Ideal tadi ketimbang pada eksistensinya yang menyejarah, di sini dan aat ini. inilah program detoksifikasi Stirner atas filsafat Hegel. Bahwa tidak ada Aku, selain aku yang di sini dan saat ini, yang tak absolut dalam jenis Ideal apa pun, yang riil, yang imanen, yang mana dari sinilah Aku Egois muncul. Jadi, memang sudah benar saat Stirner menulis bahwa jalan pembebasannya adalah jalan filsafat. Tapi filsafat dalam kategori: tidak berada terikat dengan Objek. Nalar, sang roh filsafat, hanya mengurusi dirinya sendiri, dan membebankan dirinya sendiri dengan tidak ber-Objek (h. 16).

Di hadapan manusia, tersedia objek-objek. Relasi subjek atas objek ini disebut sebagai property. Properti di sini bermakna ganda, pertama dia objek eksternal dari sisi subjek, kedua dia adalah ‘sifat’ sehubungan dengan relasi dengan subjek. Dalam metafisika[1] kedudukan properti sangat menentukan subjek. Sebab properti yang mewujud sebagai objek pada gilirannya bisa mengobjektivikasi subjek. Artinya subjek bisa tunduk pada objek dan objek jadi tuan atas subjek. Ini terjadi lantaran subjek meninggalkan wadagnya dan ego-dirinya mengering bersama yang Ideal.

Dalam konteks dewasa ini, ego-diri yang mengering dan terjajah objek properti (di sini objek properti bentuknya macam-macam, selain agama, paham waham filsafat, atau sikap fanatik tertentu pada apa pun, anime, gundam, wibu, k-pop, dll., dll.,) sehingga pada gilirannya wadag dan tindakan aksidentalnya tak lagi otentik. Jauh sebelum segala macam alter-ego-alter-ego seperti yang jadi waham di dunia maya (cyberspace) dan psikologi modern memetakannya, Stirner telah melesatkan anak panahnya dan tepat mengenai batok kepala orang-orang post-truth yang cengeng dan fragile itu.

Akibat yang ditimbulkan oleh pemikiran Stirner ini tampak dalam Sang Reaksioner Filosofis. Selain Stirner menyerang Fichte and kukuh menghindari Hegel, ia sendiri diserang Kuno Fischer. Di antara kesalahpahaman Fischer dalam membaca Stirner, diungkapkan Stirner sendiri: “Karena itu apakah dikatakan bahwa stirner dengan ‘egoisme’-nya hendak menyangkal segala sesuatu yang universal, untuk melihat semua karakteristik organisme kita yang tidak dapat diambil oleh individu mana pun sebagai tidak ada, untuk membersihkannya melalui penyangkalan semata?”

Tidak begitu. Hanya karena Stirner menolak Humanisme Fichte dan kukuh menghindari Hegel, tidak lantas ia hendak menguliti diri dari cangkang masyarakat dan individualitasnya. Justru, demi otentisitas individu dan membumikan manusia yang kadung Ideal dan universallah subjek egois Stirner maju ke depan tidak sekadar jadi anti-tesis dalam pola Hegellian, melainkan jadi argumen puncak yang singular, sejak bahwa diktum ‘antitesis’ tak lagi berlaku. Bahkan, pada titik tertentu, subjek Egois ala Stirner tak bisa (selain haram) dinobatkan jadi dogma. Lingkaran-lingkaran saling menuduh ini akan tampak lebih meyakinkan dalam gambaran berikut ini:

-

Ada anggapan minor bahwa filsafat Stirner sebenarnya bukan filsafat. Atau gagasannya tidak cukup untuk bisa disebut sebagai fondasi anarkisme individual. Boleh jadi anggapan itu benar. Mengingat bahwa ada lebih banyak aspek yang butuh dialami daripada dipikirkan dalam gagasan Stirner. Memang agaknya sia-sia belaka jika orang bicara Stirner tanpa sekali pun gagasan itu dijalaninya sebagai bagian dari kehidupan yang niscaya.

Keterlepasan antara pemahaman dan tindakan ini pulalah yang telah bercokol lama dalam sistem pendidikan. Seakan-akan pikiran adalah satu hal dan tindakan adalah hal yang lain. pendidikan praktis jadi sekadar pabrik, dan perenungan semata-mata jadi akrobat dan bonsai pemikiran yang hanya elok dan pelik, sekaligus pada saat yang sama tak terjangkau. Kegelisahan sekaligus kritik atas pendidikan secara umum inilah yang disoroti Stirner dalam Prinsip Palsu Pendidikan Kita.

Dalam banyak aspek lain selain kesenjangan pikiran dan tindakan, juga terjadi kesenjangan antara pendidikan dan kehidupan. Bagaimana pun pendidikan selalu identik dengan sumber daya. Sementara itu banyak orang-orang awam yang tidak terdidik toh lebih mampu menjalani kehidupan. Pendidikan artinya tidak melulu mengenai kehidupan sekalipun kehidupan yang pada hakikatnya adalah kolam pendidikan tidak dianggap sebagai arena pendidikan oleh orang-orang terdidik. Ini kesenjangan yang sangat besar. Stirner memasalahkan sikap dikotomis ini. Tawarannya menarik: membakar altar pengetahuan—termasuk sistem pedagogik yang bermasalah itu. Lemparkan diri pada kawah kehidupan, pada realitas yang sebenar-benarnya. Dalam kata-kata Stirner sendiri: “pengetahuan musti mati dan bangkit kembali sebagai kehendak dan setiap hari menciptakan dirinya sendiri yang baru sebagai manusia yang bebas” (h. 68).

Lengkaplah inti doktrin Stirner mengenai pemberontakan (insurrection): sebuah praktik menghancurkan sebuah tatanan secara radikal. Tatanan yang tidak bergantung pada aksiden-aksiden objek yang menyertai penghancuran itu. Dalam konteks pendidikan, yang dihancurkan adalah pengetahuannya, esensinya, atau yang Ideal dalam pendidikan—dan pedagogi. Dengan penghancuran ini tidak pula kemudian syarat akhir diperlukan demi sebuah tatanan baru. Tidak begitu alurnya.

Dari kehancuran totalnya muncul probabilitas total dari diri manusia. Inilah yang disebut sebagai manusia bebas. Sejenis kebebasan tanpa limitasi (tapi juga bukan berarti kebebasan total) atau dalam bahasa Stirner disebut Owness. Kebebasan jenis ini, agaknya, lebih tepat jika disebut sebagai kebebasan spontan. Sebuah kebebasan singular. Tapi, apa pun itu, merupakan kekeliruan besar mengkategorikan pemikiran Stirner. Sebab dia adalah anak panah yang melesat dan jatuh tepat di tengah-tengah dialektika pemikiran filsafat abad 19 yang seolah kebal. Sampai di sini, sekaligus khatimah, tidak ada yang dapat merepresentasikan struktur sekaligus doktrin filsafat Stirner selain gambar berikut:

-

[1] Dalam metafisika kedudukan properti sangat erat kaitannya dengan subjek. Entah subjek berpikir, ataupun subjek yang tidak memiliki ciri berpikir seperti manusia.