Title: Imaji
Subtitle: Sebuah Catatan
Author: Cumbu Sigil
Publication: Arsip Catatan Muslihat
Publication Date: 19??
Language: Indonesia
Notes: Diunggah ke Perpustakaan Anarkis oleh Ester Aprillia (Archipelago Anarchist Archive).

Aku mendengar kabar tentang kematian seorang diktator dari seorang kawan yang entah bagaimana caranya, telah melihat langsung rekaman proses eksekusinya dalam format VCR. Di dalam kepalaku, aku hanya ingat sayup-sayup foto detik-detik kematiannya yang terpampang di halaman depan surat kabar. Foto tersebut agak mengingatkanku akan eksekusi sebuah keluarga pembelot di Cina beberapa tahun lalu. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kecuratan dari gambar-gambar kematian tersebut bisa dibandingkan dengan momen-momen close-up dari film-film porno, atau truisme tentang kebahagiaan, atau hidup dan mati di dalam khotbah pornografik yang dibalut dengan jargon-jargon spiritual dari biksu atau guru New Age dengan senyum yang penuh ‘ilham’. Menjijikan, tetapi di saat yang sama, ironis, karena gambar-gambar kematian tersebut bisa dipublikasikan tanpa adanya sensor sama sekali di surat kabar pagi, saat kita di sisi lain terus menerus memperdebatkan dan mempermasalahkan bahaya dari adegan-adegan seks dan kematian yang notabene sifatnya fiktif di dalam sebuah film atau drama.

Tetapi entah mengapa, semua ini terdengar agak menggelikan dan sia-sia. Memikirkan hal-hal tersebut disaat aku sedang terduduk di bangku kayu tua yang reot di depan klinik tetangga, sambil merokok. Bahkan seorang armchair critic pun paling tidak benar-benar duduk di kursi berlengan kala ia berpikir. Klinik sedang tutup hari ini—atau mungkin tutup pada waktu ini. Wanita separuh baya berjalan melewatiku. Terbingkai oleh rambut kusutnya yang ia biarkan jatuh sebahu, fitur wajahnya terlihat agak terdistorsi, tidak proporsional, mungkin lebih mirip dengan foto-foto yang menunjukkan kegagalan operasi plastik, daripada kecacatan lahiriah. Aku pikir, wajah dari muka bumi ini pun juga nampaknya lebih dari hanya sekedar kasus kegagalan operasi plastik. Apa yang terjadi padanya mungkin, bisa juga disebabkan oleh kecelakaan. Wanita itu menyadari bahwa aku memperhatikannya. Aku memalingkan muka.

Kucing hitam tua menghampiriku dan duduk dibawah kursi plastik berwarna biru tepat disebelah bangku kayu yang kududuki. Meskipun bulunya sudah kian menipis, dan ada sedikit corak abu-abu di dalamnya, aku pikir, kucing tersebut tetaplah seekor kucing hitam. Kucing itu memperhatikan seekor burung Javan Myna yang sedang mematuk tulang ayam yang tergeletak di sebelah tong sampah hijau dengan tulisan “RT 06/RW 06”. Burung itu terlihat botak. Kepalanya tidak lagi dipenuhi bulu abu yang biasanya menjadi ciri khasnya. Aku pernah berkata kepada kawanku yang melihat rekaman eksekusi tadi, bahwa pemandangan dimana ada seekor burung memakan sisa-sisa dari tulang ayam, adalah pemandangan kanibalistik. Kawanku, setelah melihat burung Javan Myna botak yang lain, lalu berkata kepadaku dengan nada sedikit berkabung, “Lihat apa yang biasa kita makan, bahkan burung pun kehilangan bulu-bulunya.” Tidak masalah apakah pernyataannya valid secara saintifik atau tidak. Saat aku membuang puntung rokok ke lantai dan berdiri, kucing hitam itu lari, dan burung Javan Myna, melihat rentetan manuver yang mendadak, pun ikut terbang entah kemana, meninggalkan tulang ayam yang tergeletak, kembali kepada status ‘sampah yang tak diinginkan’. Penasaran, aku mengintip ke dalam melalui jeruji besi jendela klinik, dan lalu melihat papan jadwal jam konsultasi yang dipajang diluar. Mengapa seorang dokter membutuhkan jam istirahat makan siang yang begitu panjang? Ini sudah jam setengah dua siang! Dan disebelahnya terdapat poster iklan paket layanan kesehatan berikut harganya yang ditulis dengan huruf yang lebih besar, setidaknya lebih besar dari huruf-huruf jadwal konsultasi.