Cumbu Sigil
Sabtu! Anjing!
Sebuah Catatan
Mungkin karena sepanjang minggu aku menjelma menjadi gelandangan emosional, hari Sabtu dan Minggu ini justru terasa seperti liang kubur tempat aku berbaring. Hari Minggu itu hari jenuh yang tak lagi butuh perkenalan, sedangkan Sabtu adalah hari duka yang punya akta.
Sabtu: hari yang hambar, tanpa gigitan, tanpa sengatan. Hari yang lahir tanpa tulang belakang, tanpa sikap, tanpa alasan untuk bangun dari tempat tidur. Hari ketika pertikaian domestik berbuah subur, dan setiap pesta mabuk-mabukan di malam minggu terdengar lebih muram dari ratapan De profundis (Oscar Wilde). Jakarta adalah kota yang membisu seperti orang yang baru saja kehilangan iman. Kota di negeri-negeri tropis yang puritan memang kadang begitu, khususnya di bulan Desember. Kehadiran matahari menjadi gosip alam yang jarang terbukti, selalu mendung, selalu abu-abu. Bila hujan turun, tak ada tempat yang nyaman untuk berteduh. Orang-orang memilih kembali ke sarangnya masing-masing, memandangi televisi, mengabaikan interaksi, seperti orang yang bersembunyi dari dirinya sendiri. Bagiku, Sabtu hanyalah hadiah modern yang jatuh di pangkuanku tanpa persetujuan. Bukankah satu kali hari Minggu itu terbilang cukup untuk menyia-nyiakan moral? Aku ini, yang tanpa uang, tanpa tujuan, tanpa gairah ke mana pun… Aku tak butuh hari Minggu tambahan!
Kata orang, Tuhan beristirahat di hari Minggu karena letih menciptakan “dunia”, mesin berkarat yang terus dipaksa berjalan. Tapi bagaimana dengan para musafir yang tak punya arah sepertiku? Apa yang mereka lakukan selama enam hari, sehingga merasa pantas beristirahat pada hari ketujuh? Siapa yang mengizinkan kemalasan massal dijadikan kewajiban? Siapa yang memintanya?
Kemanusiaan, katanya, butuh satu hari tanpa apa-apa. Hari Sabat, hari beribadah, dari tradisi Yudaisme; hak pekerja, dari dampak revolusi industri. Baiklah. Tapi kemanusiaanku terlanjur menguap bosan. Satu hari kosong saja sudah cukup membuat isi kepalaku berdesing tak karuan. Tradisi asing yang tak punya urusan denganku datang mengeroyok masuk ke dalam sambil berteriak: mari tambahkan satu hari lagi—Sabtu! Anjing!
Tak peduli berapa banyak beban kerja, tak peduli seberapa besar kebutuhan orang-orang untuk beribadah, aku benar-benar tak peduli. Satu hari libur itu sudah lebih dari cukup. Dua hari adalah hukuman yang disamarkan sebagai kemenangan. Maka biarlah aku menjadi orang yang mengaku kalah, musuh bebuyutan orang-orang relijius dan pekerja!