Cumbu Sigil
Surat Terakhir untuk Dumas
Sebuah Korespondensi
Halo,
Apa kabarnya, Dumas? Semoga baik saja.
Aku hanya ingin berbagi beberapa pemikiran denganmu:
1. Aku ingat kita suka berkata bahwa sebenarnya karya tulisan Bolaño itu ‘tidak mempunyai plot’, dan temanya selalu mengenai ‘ketiadaan’. Tetapi tetap saja menarik, setidaknya bagi kita berdua. Mungkin alasannya justru karena ‘ketiadaan’ itu, yang bisa dibilang adalah kata lain dari ‘kehidupan’, kehidupan kita.
2. Baudelaire pernah berkata bahwa setiap orang haruslah menjadi pemabuk! Aku mabuk ketika mengingat-ingat “Paper Tiger” karya Olivier Rolin, Dum. Aku dimabukkan oleh rasa kecewa dan putus asa, mabuk oleh rasa nostalgia terhadap Mei ’68 yang tak pernah ku alami. Jika aku masih mempunyai waktu dan tenaga lebih, aku ingin membacanya lagi dan lagi. Jika tidak, maka aku akan menghabiskannya dengan membaca “The Ogre” karya Michel Tournier. Setiap kali aku merasa lelah dan terbebani oleh pekerjaanku, dengan hanya memikirkan tentang “Hopscotch”, maka segala haus dan dahaga ku hilang, mengembalikan senyum di wajahku yang kusimpan apik di sudut otakku. Tetapi kadang, memang sulit untuk sepenuhnya tenggelam ke dalamnya. Tulisannya, teks nya, bisa diibaratkan seperti bar-bar populer di Jakarta yang sesak, dipenuhi dengan kompleksitas emosi dan pikirannya. Aku tidak suka hanya menunggu di luar. Aku membacanya sebagai bentuk penolakan. Andai saja aku bisa dengan mudah menenggak seluruh isi tulisannya, seperti minuman gratis yang kudapat sebagai kompensasi di tempatku bekerja.
3. Aku sangat menikmati bagian di dalam buku Paul Auster yang berjudul “Brooklyn Follies”, tentang sekte Kristiani. Bukan, bukan bagian dimana saat sang Pendeta meminta Aurora untuk menghisap penisnya, bukan. Meskipun tata cara sang Pendeta, membujuk, menggunakan retorika-retorika teologis memanglah lucu, sekaligus membuatku frustasi. Dasar penipu! Tetapi yang mencuri perhatianku di dalam buku ini adalah ide-ide tentang kesucian, tentang kedamaian dalam keheningan, tanpa telefon, dan tanpa televisi… dan diskusi di Bab pertama, mengenai kalimat pertama dari Kitab Injil St. John (Sabda, Tuhan, permulaan) Bukankah sekarang kita pun tidak jauh dari bentuk-bentuk kemunafikan, dan ideologi-ideologi sok suci semacam itu?
4. Aku berkata kepada Amlan kemarin, bahwa cinta dan kebosanan itu sama kontra-revolusioner nya seperti paket tur berlibur, atau backpacking untuk melihat ‘dunia’. Atau dalam hal ini, para pencari ‘evental site’ (Badiou) yang bodoh. Aku ditanyai soal masalah ‘percintaan’ (klise) kemarin olehnya. Harus kuakui memang, bahwa kami berdua tidak bisa menghindari kata tersebut untuk bisa menyampaikan ide ke kepala masing-masing. Aku bisa berkata bahwa percikan hasrat di awal-awal hubungan, adalah memang apa yang mungkin dinamakan cinta. Romansa. Terlebih lagi, True Event; komitmen terhadap aktivitas-aktivitas banal di setiap harinya, bagiku justru jauh lebih ‘romantis’. Jika Brecht berkata “What is a bank robbery compared to the opening of a bank?”, maka aku berkata: apalah artinya hasrat dan gairah yang sekilas, jika dibandingkan dengan pernikahan? Saat dimana kita melewati kejadian-kejadian hidup dengan pola singular yang non-evental. Membangun kehampaan, dari sesuatu—dari keber-ada-an. Topik yang kau ajarkan kepada murid-murid Seni Rupa mu juga kan, Dum?
5. Engkau berkata kepadaku bahwa Tolstoy mengutuk Baudelaire karena ia adalah seorang dandy. Beberapa hari setelahnya, aku menemukan artikel dari Louis Althusser tentang Lenin yang mengkritisi kepercayaan Tolstoy; seni sebagai alat untuk mengubah dunia. Yah, Lenin memang lah orang yang ‘sulit’. Yang kutahu, ia juga menolak ajakan dari Gorky untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan filosofis dengan beberapa filsuf lain, karena menurutnya, isu-isu revolusioner tidak sepantasnya hanya berlabuh pada diskusi dan wacana, tetapi pada praktik. Kalau aku tidak salah, Althusser memperdalam dan menggunakan anekdot ini sebagai landasan teorinya (theoretical practice). Ah, hari ini kebetulan adalah hari ulang tahun Lenin, meskipun itu tidak ada kaitannya dengan surat ini, atau kita berdua.
Akhir dari surat ini, aku hanya ingin berkata, bahwa engkau akan selalu menjadi tempat dimana matahariku terbenam, Dum.
Salam,
Cumbu Sigil.